Artikel Mengajarkan Pemerintahan Pusat Pada Sd

Makanya Hendrizal SIP MPd | Sungkap Publikasi: 24 Oktober 2017
Mencermati hakikat Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), seharusnya engkau menjadi pelajaran utama. Bukannya dipandang indra penglihatan pelajaran sampingan. PKn lain kalah berfaedah dibanding mata pelajaran lainnya.

Tapi mengapa selama ini PKn cenderung kurang diminati siswa? Mengapa PKn rendah berbahagia perasaan sama dengan pelajaran matematika, IPA dan bahasa Indonesia? Apakah karena PKn tidak di-UN-centung di tingkat sekolah pangkal (SD)?

Pertanyaan itu muncul bila melihat kenyataan bahwa sebagian segara siswa bahkan orangtua sepertinya menganggap remeh pelajaran ini. Sesuatu nan dianggap remeh akan berdampak remeh juga sreg hasilnya. Alhasil, pencapaian maksud PKn pun rendah maksimal.

Apakah kita lalu menyalahkan siswa? Tentu tidak. Sudah saatnya kita sebagai pendidik melakukan introspeksi. Apakah selama ini kita sudah mengajar secara baik? Mengapa siswa kurang terpincut sparing PKn? Cak kenapa sparing PKn katanya menjemukan? Dan masih banyak pertanyaan yang dapat menembakkan kita me-review cara mengajar.

Masalah yang dialami setiap penelaahan memang amat kegandrungan. Ki aib itu datangnya bisa terbit kurikulum, guru, siswa, kendaraan prasarana, sumber belajar, dan lainnya. Tapi sayangnya banyak pendidik invalid peka terhadap permasalahan nan dihadapi. Bersendikan pengalaman di tanah lapang, di sini coba diidentifikasi persoalan yang pernah dihadapi, yang menyebabkan penataran PKn condong kurang menarik, dianggap sepele, membosankan, dan kesan negatif lainnya. Kelainan itu antara lain:

Mula-mula, kurikulum nan terlalu berat. Menurut katib, konten kurikulum PKn cak bagi tingkat SD terlalu panjang dibandingkan kemampuan anak usia SD. Misalnya, untuk materi kelas VI SD semester II. Ambil transendental Standar Kompetensi (SK) 2 Memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia, Kompetensi Dasar (KD) 2.1 Menjelaskan proses Pemilu dan Pilkada, 2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga negara sesuai UUD 1945 hasil amandemen, 2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi tadbir sendi dan provinsi.

Materi-materi itu selain terlalu hierarki bagi siswa, juga belum n kepunyaan urgensi dan kegunaan bagi roh siswa. Jikapun materi itu dipelajari siswa, karenanya sasarannya doang pada aspek kognitif, tidak menyentuh kehidupan konkret siswa.

Kedua, kurangnya kemampuan dalam merajut pengenalan sosi n domestik SK dan KD. Dalam mengerjakan penelaahan terhadap SK dan KD selama ini, guru masih banyak salah tafsir. Alhasil, apa yang disampaikan menjadi riuk sasaran.

Kesalahan itu misalnya terjadi puas SK kelas VI semester I. SK 1 Menghargai nilai-ponten juang privat proses perumusan Pancasila sebagai asal negara, KD 1.1 Mendeskripsikan nilai-biji juang internal proses perumusan Pancasila bak bawah negara, 1.2 Menceritakan secara singkat ponten kesetiakawanan dalam proses perumusan Pancasila andai dasar negara, 1.3 Meneladani nilai-nilai juang para biang kerok yang berperan dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara dalam jiwa sehari-hari.

Karena kesalahan menangkap esensi SK dan KD, pembelajaran mengarah semata-mata mengarah pada pencapaian aspek serebral. Seperti contoh SK dan KD di atas, selama ini guru cenderung hanya menekankan pada bagaimana proses formulasi Pancasilanya (kognitif), sehingga ketika evaluasi, pertanyaan yang muncul ya sekitar proses perumusan Pancasila-nya. Misalnya, �siapa tokoh yang menyusun, tanggal berapa, bagaimana obstulen rumusannya�.

Kondisi itu menyebabkan kompetensi yang diharapkan dicapai siswa malah terabaikan. Misalnya bagaimana siswa kreatif menghargai arwah para pejuang privat merumuskan Pancasila, bagaimana menghargai perbedaan pendapat dalam suatu ura-ura, dan bagaimana meneladani nilai juang para tokoh yang maka dari itu siswa boleh diaplikasikan internal belajar. Dan ternyata ini juga terjadi pada skuat penyusun soal ujian tingkat kabupaten. Padahal introduksi ki akal dari SK dan KD itu �menghargai dan nilai-poin juang�, sehingga semestinya pembelajaran menitikberatkan pada aspek afektif dan perilaku siswa.

Ketiga, mengajar bersendikan buku teks (textbook centre). Buku teks sepanjang ini menjadi pegangan terlazim. Kalau kita mengajar cuma mengandalkan kancing bacaan (sonder memperalat RPP), jihat dan sasaran pembelajaran menjadi tidak fokus.

Keempat, praktek mengajar PKn sepanjang ini bertambah banyak berlangsung dengan pendekatan konvensional. Selama mengajar, guru makin banyak menggunakan metode khotbah dan tanya jawab. Siswa cuma menjadi mustami di privat kelas, kemudian menjawab tanya. Pembelajaran berlangsung monoton, dan suhu menjadi satu-satunya sumber informasi. Selain itu, mengajar PKn sukar memperalat media nan merebeh. Pembelajaran sebagai halnya ini jelas amat melelapkan.

Kelima, pembelajaran lain kontekstual. Materi PKn sebetulnya banyak yang dapat diajarkan sesuai realita hidup siswa. Tapi, dalam prakteknya, karena sudah terbiasa mengajar dengan lektur, kesannya semua materi disajikan dalam susuk ceramah dan tanya jawab. Risikonya, segala yang diperoleh siswa sekadar apa nan disampaikan gurunya. Itupun jikalau bisa terserap semua.

Rebut contoh materi kelas I semester II. SK 4 Menerapkan kewajiban anak di rumah dan di sekolah, KD 4.1 Mengikuti tata tertib di rumah dan di sekolah, 4.2 Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat. Materi ini sebetulnya amat dekat dengan kehidupan siswa. Sekiranya materi ini disajikan dengan ceramah doang, yang terjadi kemudian kompetensi yang terdapat kerumahtanggaan SK itu tidak akan tergapai. Tujuan penerimaan lagi-lagi cuma condong pada pencapaian kemampuan kognitif. Padahal, materi ini menuntut adanya aplikasi, tidak sekadar teori atau hapalan.

Keenam, evaluasi mengarah condong puas aspek kognitif. Sebagai dampak mulai sejak kesalahan merenda pati SK dan KD serta pendayagunaan metode ceramah yang menjadi andalan, hasil belajar hasilnya cuma bermuara pada pengetahuan. Padahal, hasil belajar semestinya menutupi semua domain: kognitif, afektif dan psikomotor.

Menghadapi masalah itu, ada bilang solusi berikut ini. Pertama, kurikulum disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa SD. Takdirnya berbicara masalah kurikulum, karena ini menyangkut kebijakan sosi, di sini penyadur cuma dapat menghimbau agar kurikulum PKn bakal tingkat SD disesuaikan dengan kemampuan anak vitalitas SD. Materi yang disajikan setidaknya memiliki kesesuaian dengan tingkat usianya, punya urgensi dan maslahat bagi umur siswa. Misalnya, materi tentang Pemilu dan Pilkada, materi itu belum waktunya diberikan di tingkat SD, apalagi anak semangat SD belum terkebat berbarengan dalam kegiatan Pemilu dan Pilkada.

Kedua, menangkap esensi atau kata buku intern SK dan KD secara benar. Kesalahan kerumahtanggaan menyirat bibit dari SK dan KD akan amat mempengaruhi penyusunan tujuan dan evaluasi. Kesalahan ini juga akan berdampak plong pencapaian kompetensi itu sendiri.

Dalam menelaah SK dan KD, kita harus mampu melihat dan mendaras secara cermat barang apa yang diinginkan dalam SK dan KD tersebut. Jikalau kita sudah mampu menangkap kata kuncinya, maka akan kita rumuskan indeks barang apa nan menunjukkan pencapaian kompetensi itu. Seperti contoh di depan, untuk SK kelas VI semester I adalah menghargai nilai-angka juang internal proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara.

Kalau kita dapat menangkap kata kunci internal SK ini, penekanannya bukan pada sejarah proses perumusan Pancasilanya, tapi kian mementingkan bagaimana pelajar mampu menghargai nilai-nilai juang para pentolan tersebut dan meneladaninya. Segala indikator dari �menghargai� dan �apa saja kredit-ponten juang� yang dapat dicontoh siswa, misalnya tentang angka kebersamaannya, semangatnya, menghargai perbedaan pendapat.

Terkait dengan itu, bentuk penilaiannya tidak harus tes tertulis. Sehingga tak akan terjadi pula saat evaluasi, pertanyaan yang muncul sekitar proses perumusan Pancasila, misalnya �kali tokoh yang merumuskan, copot berapa, bagaimana bunyi rumusannya�, nan semata-mata bersifat kognitif. Biji-angka afeksilah yang sebetulnya menjadi sisi dalam SK ini.

Ketiga, mengajar harus punya persiapan RPP. RPP memegang peranan terdahulu bagi suhu kerumahtanggaan mengajar. RPP bisa diibaratkan kompas bakal hawa lakukan menentukan ke mana pengajian pengkajian akan dibawa. Jika seorang suhu mengajar tanpa menggunakan RPP dan cuma mengandalkan buku bacaan, yang akan terjadi adalah proses belajar nan lain terarah, fokusnya tidak jelas. Sebab, barang apa yang disampaikan guru sekadar barang apa yang ada internal buku teks tersebut. Segalanya wajib dipersiapkan.

Keempat, mengajar dengan pendekatan konstruktivisme. Melaksanakan pendekatan konstruktivisme akan banyak menyerahkan kesempatan pada siswa untuk mengeksplor potensi dirinya. Pendekatan ini pun akan memberikan ruang bagi siswa bikin mengkonstruk koteng pengetahuannya, tidak diberi, sehingga belajar akan lebih bermanfaat bagi dirinya. Siswa akan berpartisipasi aktif privat pembelajaran. Tak cuma menjadi pendengar.

Dengan menunggangi multimetode, multimedia dan multisumber, pengajian pengkajian akan lebih menganjur, menantang dan bermakna bagi petatar. Penyaringan metode, alat angkut dan sumber nan tepat lagi akan amat mempengaruhi kebermaknaan dan kejayaan pembelajaran. Misalnya bikin mengajarkan materi adapun menghargai nilai-poin juang dalam proses perumusan Pancasila laksana dasar negara. Materi ini akan lebih tepat diajarkan dengan Metode Bermain Peran maupun menggunakan wahana film ketimban pidato. Atau lakukan melatih kemampuan nanang kritis, kita boleh memperalat peta konsep, berlatih berdasarkan masalah, atau problem solving.

Kelima, belajar berdasarkan realita. Belajar akan bermakna bagi siswa kalau apa yang dipelajari itu bermanfaat bagi kehidupannya. Peristiwa ataupun fenomena nan terjadi di lingkungan sekeliling siswa dapat menjadi topik menghela untuk dipelajari. Dan ini akan bisa mengintensifkan kepedulian sosial siswa. Misalnya kasus �kenakalan muda� yang kerap terjadi, bisa diangkat menjadi topik diskusi nan tepat untuk mengajarkan KD 4.3.

Sebagai halnya KD menentukan sikap terhadap yuridiksi globalisasi yang terjadi di lingkungannya. Dengan memasalahkan masalah ini siswa akan terbimbing berpikir dalam-dalam reaktif terhadap fenomena di lingkungannya. Dengan kemampuan berpikirnya itulah diharapkan petatar akan fertil menghadapi semua permasalahan, baik kini maupun bagi kehidupannya di tahun mendatang. Semua bermula berpokok realita.
Keenam, evaluasi berwatak total (kognitif, afektif, psikomotor). Hasil belajar tidak cuma diukur berpunca kemampuan kognitif. Sebagaimana dicontohkan di depan, bahwa kerjakan mengevalusi materi pada SK 4 Menerapkan pikulan anak di rumah dan di sekolah, tak cukup dievaluasi dengan membuat tanya �apa yang dimaksud kewajiban?� Lebih dari itu, siswa diharapkan mempunyai sikap dan perilaku �bertanggung jawab� terhadap kewajibannya.

Dalam mata pelajaran PKn, pengembangan nilai-skor afeksi dan khuluk harus menjadi prioritas. Apalah artinya pandai secara akademik tanpa diimbangi fiil dan akhlak indah. Dalam gambar pengembangan nilai-nilai afeksi dan karakter ini, peran guru amat terdahulu. Sebab, hawa adalah figur nan banyak dicontoh muridnya, terutama untuk tingkat SD. Guru tidak memadai membagi arketipe, hanya harus dapat menjadi contoh.

Karenanya, notulis menegaskan, pendidik perlu menerapkan metode dan model penelaahan yang bineka serta media pendedahan yang inovatif. Dengan sedemikian itu, murid jaga tidak akan merasa bosan dalam mengikuti proses pembelajaran PKn.

Penyalin adalah Dosen Prodi PGSD Universitas Bung Hatta Padang dan mahasiswa S3/Doktor Aji-aji Pendidikan UNP.

Source: https://fkip.bunghatta.ac.id/index.php/en/88-home/203-pkn-sd-masalah-dan-solusinya

Posted by: skycrepers.com