Ayat Tentang Menjaga Lingkungan Hidup Untuk Mengajarkan Kepada Siswa Sd

Konsep Perencanaan Tata Ira Di Dalam Islam

“Dialah (Almalik) yang meniupkan kilangangin kincir (sebagai) pemandu kabar gembira sebelum keberadaan kasih-Nya (hujan abu); dan kami turunkan terbit langit air nan amat tulen, semoga kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, kiranya kami member meneguk dengan air itu sebagian besar berpangkal makhluk kami, binatang-binatang ternak dan anak adam yang banyak”. ( Al-Furqan : 48-49)

Penjelasan bermula Al-Furqan 48-89 adalah bahwa orang haruslah selalu mensyukuri atas nikmat yang mutakadim diberikan Makanya Allah SWT. Tentunya nikamat tersebut senantiasa kita jaga kita rawat dan kita lestarikan agar besok lusa anak cucu kita masih dapat menikmati atas apa yang telah diberikan-Nya. Serta merencanakan pembangunan tata ruang yang bukan mudarat awam, bercita-cita pembangunan dan perkembangan kota menuju Button Up Top Down yaitu perekembangan kota mengarah kepada masyarakat lapisan pangkal.

Terkadang kebijakan Pembangunan tata urat kayu yang tidak didasari dengan lever dorongan hati dan enggak berpedomana lega ramalan Islam kedepannya akan menimbulkan suatu permasalahan yang kian samudra, sudah banyak kasus-kasus Manajemen Ruang kota yang perencanaannya tidak berpedomana pada nilai-nilai islam, akhirnya nan terjadi yakni kerusakan, dan bencana.

Konsep perencanaan Tata ira didalam Islam sudah lama terkonsep dengan baik terbukti bahwa adanya konstruksi bernuansa Islam misalnya di Majene koteng terdapat situs Masjid tua di Lingkungan Salabose Kelurahan Banggae Kecamatan Banggae dan di Negara luar misalnya di Iskandariah, Madinah, Andalusia ( Spanyol), Basrah, Kufah, Baitul Maqdis, Baitul Laham (Bethelem), Darussalam (Yerussalem), artinya hasil karya Islam tersebut telah menjadi sejarah dunia (Drs Dyayadi MT, Penyelenggaraan Ruang kota menurut Islam). Sehingga bak generasi penerus senantiasa bakal tetap berdasar teguh kepada ajaran Islam tentunya dalam kontek penataan ruang.

Sepanjang ini masih banyak kita temui penataan ruang dalam susuk mempercantik estetika ruang dengan menggunakan Arca-patung, sedangkan intern islam pembuatan patung dilarang oleh Halikuljabbar, sebagai Hadist Rosullullah ”barang siapa mewujudkan patung maka sesungguhnya halikuljabbar akan menyiksanya sehingga ia memberi nyawa lega patung untuk sejauh-lamanya” (HR. Al Bukhari).

Pembangunan penyelenggaraan ira setidaknya menuding pula akan kondisi sosial umum, kelanggengan kalimantang, dan rasam-aturan yang berperan suatu lengkap : Pembangunan tata ruang yang telah melanggar aturan,misalnya alih arti persil, serta pembangunan daerah tingkat yang keluar semenjak biji-poin Islam misalnya : Merebaknya gemerlapan semangat kota yang tidak Islami dengan adanya beberapa tempat lokalisasi dengan fasilitas-fasilitas seperti itu suasana kota semakin rangka, rumit karena telah keluar jauh sekali berbunga tatanan poin-nilai selam.

Dari paparan diatas dapat kita simpulkan bahwa pembangunan kota yang sememangnya merusak moral bangsa, merusak prinsip islam, tunggu saatnya kehancuran dan bencana akan menanti. Suatu contoh yang pernah terjadi adalah , sebagai halnya Sang pencipta sudah lalu pernah menimpakan rayuan kepada dua buah kota Zaman nabi Luth yaitu kota Sadum dan Gamuroh karena mereka mengamalkan Homo sexual (Liwath) demikian pula daerah tingkat Aad dan Iram yang juga dihancurkan Halikuljabbar karena penduduknya nan Zhalim dan melakukan maksiat. Seperti mana halnya firman Sang pencipta “Berapalah banyaknya kota nan kami telah membinasakannya, yang penduduknya n domestik kedaan Zalim, maka (tembok-tembok) kota roboh menutupi sengkuap-atapnya dan (bilang banyak pula) mata air yang telah ditinggalkan dan Keraton yang hierarki enggak cak semau penghuninya ( Al-Hajj:45). Azab nan diberikan maka itu Allah banyak bentuknya bisa berupa air ampuh bandang (Nabi Nuh, ), penyakit menular(zaman utusan tuhan Musa), hujan batu(zaman nabi Luth) dan gempa bumi sebagaimana termaktub dalam AL Quran.

Friman Allah”Dan janganlah kamu membuat fasad dimuka dunia sesudah (halikuljabbar)memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa mengirik(bukan akan dipedulikan) dan harapan (akan dipedulikan). Sepantasnya rahmat Allah tinggal damping kepada orang-orang yang berbuat baik.( Al- A’raf :56). Namun pada kenyataannya yang terjadi di Negara Indonesia selama ini masyarakatnya banyak merusak lingkungan. Sehingga persoalan tata urat kayu kota yang semakin komplek.

Suatu ketika kita akan melihat bencana dan kebinasaan-kerusakan di suatu negeri, daerah maupun daerah nan sudah ingkar apa nan diberikan Oleh Halikuljabbar. Di Indonesia kita dapat melihat rayuan nan terjadi selama ini yakni bentuk terbit peringatan Allah SWT kepada manusia lakukan senantiasa menjaga lingkungan jangan ada nan mengekploitasi dan menyalahgunakannya.

Memperbaiki Lingkungan

Kita Sebagai Umat Islam mudahmudahan menjadi pelopor dalam menjaga abadiah dan keselarasan Lingkungan, sebab dalam berbagai ayat Al-Quran sudah melarang umat Islam merusak ekosistemnya atau lingkungan hidupnya. Kalau hal ini kita musala, kita bukan sahaja mengerjakan dosa besar, tetapi kita lagi akan menyengsarakan mahajana banyak (Publik) nan harus menerima social cost akibat ulah individu-hamba allah yang tidak berkewajiban.

Dikaitkan dengan hal ini Allah SWT merenjeng lidah “oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang kelihatannya nan telah membunuh sendiri manusia, bukan karena hamba allah itu (menyembelih) orang lain, alias bukan karena mewujudkan kehancuran dimuka dunia, maka seakan-akan ia sudah lalu membunuh bani adam seluruhnya. Dan siapa pun memiara nasib seorang manusia, maka seolah-olah dia telah membudidayakan jiwa seorang insan semuanya. Dan sesungguhnya telah hinggap kepada mereka utusan tuhan-rasul kami dengan (membawa) keterangan-makrifat yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampui senggat dalam berbuat kerusakan-kehancuran di roman mayapada.” ( Al-Ma’idah : 32 ).

Berusul ayat tersebut diatas jelaslah Allah membolehkan menyalibkan orang-orang yang melakukan pengrusakan di muka dunia. Perusakan dimuka marcapada dengan arti luas yakni mengerjakan pemboman sonder alasan, mengebom umum sipil ketika bergumul (bombardier ), subversif hutan, menghinakan daratan, samudra dan sungai dengan target berbisa dan berhaya, pembocoran radio aktif (reactor nuklir) mengepras bukit lakukan kepentingan pribadi dan sebagainya. Artinya perbuatan merusak mileu, selain pengeboman nan jelas-jelas merupakan kesejahteraan perang sangat bertentangan dengan konferensi jenewa, maka perusakan lingkungan selain karena perang akan sangat membahyakan masyarakat pada umunnya. Sebab hal ini bisa menyebabkan banjir, tanah longsor, keracunan masal (terkontaminasi)keburukan menular dan sebagainya.

Ketika ini kita terbiasa berbenah diri bikin senantiasa mengharap ridho kepada Almalik SWT, selalu bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan-Nya.jangan melanggar aturan-aturan kerumahtanggaan syaria’at Islam, mengetahui posisi kita ada dimana sehingga kita tidak akan salah dalam melangkah. N domestik ilham Islam bisa jadi yang mengamalkan baik maka kelak hidupnya akan berarti, tetapi apabila siapa yang curang, culas, serakah maka kelak akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Balasan yang sifatnya boncel hingga balasan yang manusia lain dapat memperhitungkan, kerusakan material dan kematian nan dasyat.. Jika secara hukum enggak bisa membuat mereka jera(pengambil keputusan) maka penolakan dari Allah SWT lah yang akan mewujudkan mereka jera. wallahu alam.

Mata air
=====



Ayat-ayat al-Qur’an tentang Abadiah Mileu

Dokumen Ar Rum [30] ayat 41-42 tentang Larangan Membentuk Kehancuran di Tampang Bumi
Artinya : “Sudah lalu tampak kehancuran di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, moga mereka kembali (ke jalan nan ter-hormat). Katakanlah : Adakanlah perjalanandimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan manusia-hamba allah yang habis. Kebanyakan terbit mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)

Isi kandungan
Selain untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, anak adam mempunyai tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan membudidayakan pataka semesta. Allah telah menciptakan umbul-umbul semesta bakal guna dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia.

Kelobaan dan perlakuan buruk sebagian khalayak terhadap alam dapat menyusahkan manusia itu seorang. Tanah longsor, banjir, kesuntukan, tata ulas daerah yang tidak pasti dan awan serta air yang tercemar adalah biji zakar kelakuan orang yang justru merugikan insan dan makhluk roh lainnya.

Islam mengajarkan agar umat khalayak senantiasa menjaga mileu. Hal ini seringkali tercermin dalam beberapa pelaksanaan ibadah, seperti ketika menunaikan ibadah haji. Dalam haji, umat Islam dilarang menebang tumbuhan-tumbuhan dan membunuh hewan. Apabila larangan itu dilanggar maka engkau berdosa dan diharuskan membayar denda (pengembang). Lebih bermula itu Allah SWT melarang khalayak mengerjakan kerusakan di tampang dunia.

Tentang memelihara dan melestarikan lingkungan hayat, banyak upaya yang bisa dilakukan, misalnya rehabilitasi SDA berupa rimba, tanah dan air nan rusak perlu ditingkatkan lagi. N domestik mileu ini acara penyelamatan alas, persil dan air perlu dilanjutkan dan disempurnakan. Pengusahaan area pantai, wilayah laut dan kawasan udara teristiadat dilanjutkan dan makin ditingkatkan minus subversif mutu dan kelestarian lingkungan hidup.

Surah Al A’raf [7] Ayat 56-58 tentang Peduli Mileu

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di wajah marcapada sehabis (Halikuljabbar) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa redup (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat hampir kepada orang-orang nan berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin ibarat pembawa berita gembira sebelum keikhlasan rahma Nya (hujan angin) hingga apabila kilangangin kincir itu telah mengangkut mega mendung, kami halau ke satu daerah yang kering, lampau kami turunkan hujan abu di daerah itu. Maka kami buang dengan sebab hujan itu bermacam-macam diversifikasi buah-buahan. Seperti mana itulah kami membangkitkan basyar-orang nan telah sunyi, seyogiannya kamu cekut pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan persil yang tidak berbenda, pohon-tanamannya hanya bertaruk merana. Demikianlah kami mengulangi isyarat mahamulia (Kami)buat orang-basyar nan bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58)

Isi Kandungan :
Bumi sebagai tempat tinggal dan palagan hidup anak adam dan makhluk Allah lainnya sudah dijadikan Allah dengan penuh rahmat-Nya. Pegunungan, lembah-lembah, sungai-wai, lautan, daratan dan lain-bukan semua itu diciptakan Allah untuk terjamah dan dimanfaatkan dengan sesudah-sudahnya maka itu manusia, bukan sebaliknya dirusak dan dibinasakan.

Namun doang ada sebagian kaum yang mengerjakan kebinasaan di paras bumi. Mereka enggak hanya destruktif sesuatu nan berupa materi atau benda, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela ataupun maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan belaka, lakukan meliputi keburukan tersebut caruk kali mereka menganggap diri mereka sebagai kaum yang mengamalkan perbaikan di paras mayapada, padahal justru merekalah yang berbuat kerusakan di roman bumi.

Allah SWT melarang umat khalayak melakukan kerusakan dimuka marcapada karena Ia mutakadim menjadikan hamba allah umpama khalifahnya. Larangan berbuat kebinasaan ini mencakup semua rataan, tersurat dalam hal muamalah, seperti mengganggu penghidupan dan perigi-sumur penghidupan makhluk lain (lihat QS Al Qasas : 4).

Almalik menegasakan bahwa salah satu karunia besar nan dilimpahkan kepada hamba-Nya yaitu Dia memprakarsai angin sebagai tanda kedatangan rahmat-Nya. Kilangangin kincir nan mengirimkan gegana baplang, dihalau ke kawasan nan kering dan telah rusak tanamannya karena bukan suka-suka air, sumur nan menjadi gersang karena tidak ada hujan angin, dan kepada penduduk yang menderita lapar dan haus. Lalu Dia meletakkan hujan yang lebat di area itu sehingga negeri nan intim senyap tersebut menjadi makmur juga dan penuh berisi air. Dengan demikian, Sira mutakadim memarakkan penduduk tersebut dengan mumbung kepadaan dan hasil tumbuhan-tanaman yang berlimpah ruah.

Surat Sad [38] Ayat 27 tentang Perbedaan Amalan Orang Beriman dengan Bani adam Kafir
Artinya : “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan barang apa yang cak semau diantara keduanya tanpa hikmah. Nan demikian merupakan anggapan manusia-orang kafir, maka celakalah orang-sosok kufur itu karena mereka akan turut neraka.” (QS Sad : 27)
Isi kas dapur

Allah SWT menjelaskan bahwa dia menjadikan langit, bumi dan bani adam apa semata-mata yang berada diantaranya tidak sia-sia. Langit dengan segala bintang nan menghiasi, rawi yang menyiarkan sinarnya di periode siang, dan bulan yang menampakkan bentuknya yang berubah-tukar mulai sejak malam kemalam serta dunia medan lewat insan, baik nan tampak dipermukaannya maupun yang tersimpan didalamnya, sangat besar artinya bagi nasib anak adam. Kesemuanya itu diciptakan Halikuljabbar atas supremsi dan kehendak-Nya umpama rahmat yang tak terhingga harganya.

Allah menyerahkan pertanyaan puas manusia. Apakah sederajat orang yang berkeyakinan dan beramal saleh dengan cucu adam yang berbuat fasad di muka manjapada dan kembali apakah sama antara manusia nan bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat? Allah SWT menjelaskan bahwa diantara ketatanegaraan Allah ialah tidak akan menganggap sekufu para hamba-Nya yang melakukan kebaikan dengan khalayak-manusia yang terjerumus di lembah kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa bukan patutlah bagi zat-Nya dengan segala apa keagungan-Nya, menganggap ekuivalen antara hamba-hamba-Nya nan berkeyakinan dan mengamalkan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsu.

Mereka ini tidak kepingin mengikuti keesaan Allah, keabsahan petunjuk, terjadinya hari kebangkitan dan yaumudin. Maka dari itu karena itu, mereka jauh dari hadiah Allah sebagai akibat dari melanggar larangan-larangan-Nya. Mereka bukan meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan lagi pecah dalam kuburnya dan akan dihimpun dipadang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga mereka berani zalim terhadap lingkungannya.

Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya sekadar untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan-Nya bagi menjadi khalifah di durja dunia ini sehingga terlazim untuk menjaga apa nan telah dikaruniakan Allah SWT.

Sendang
=====

Mendatangi Arsitektur Rumah Tinggal Islami

Peran arsitek dihadapkan dalam perencanaan dan perancanngan arsitektur dituntut untuk lebih teliti dan tanggap terhadap mileu, kepuasan arsitek enggak sekedar wujud akhir disain justru tujuannya sahaja materi semata. Tetapi produktif memberikan kepuasan pemakai secaa khalayak maupun kelompok. Walaupun proses yan

Penyelesaian onderdil bangunan burung laut disesuaikan dengan fungsi, lingkungan, perkembangan teknologi dan tata kredit yang ada pada umum.

Karakter atau sifat suatu bangunan akan memberi dampak pada perkembangan pola usia kebutuhan khalayak dan lingkungannya.

Kenyataan adanya dialog antara bangunan dan mileu, mengharuskan para arsitek bakal dapat menjadi perencana setidak-tidaknya boleh tanggulang atau mengerti komplikasi-masalah mileu kota maupun wilayah.

Karenanya perancangan suatu gedung tidak bisa dilepaskan dari perancangan mileu alias kota dan bila siapa wilayahnya.

Seringkali karya arsitektur tidak cocok untuk satu tempat berkiblat dipaksakan dengan lingkungan yang ada, lebih lagi merubah tata ruang kawasan, kasus ini caruk kali unjuk disekitar kita pada konstruksi berskala kecil alias besar.

Semoga  arsitek mampu membaca latar bokong sosial dan budaya, tuan dapat membentangkan siaran sejelas-jelasnya dengan konsep pada surat Al-Alaq ayat 1 ”Iqro’ bismi-robbikal ladzii khalaq artinya Bacalah, dengan menyapa nama Tuhanmu yang menciptakan”.

Kendatipun arsitek dan pemilik mempunyai persepsi yang beda, diharapkan arsitek mampu menjadi komunikator yang baik dan  objektif, untuk dapat menghasilkan suatu karya baik sekali lagi.

Galibnya manusia seumpama pemilik dan pemakai yaitu berpikir dalam-dalam secara oral, cuma menilai obyek pada segi estetika belaka, sedangkan arsitek belalah memperalat bahasa rancangan sebagai wujud akhir disain agar lebih mudah dicerna, Allah SWT besar perut mengingatkan puas surat Al-Alaq ayat 5 “Allamal insaanaa maa lam ya’lam artinya Dia mengajarkan kepada hamba allah apa yang tidak diketahui(nya)” disadari bahwa orang sebenarnya tidak n kepunyaan kemampuan jika Allah SWT tak berkehendak (Al-Alaq ayat 2 “Khalaqal insaana min alaq artinya Dia mutakadim menciptakan manusia dari segumpal pembawaan”), belum tentu menjamin kerjakan diwujudkan semua karya-karya tersebut seandainya Tuhan SWT  belum meridhoi dengan sparing berusul  pengalaman sebagai proses agar hasil akhir disain mempunyai jatidiri yang Islami.

Lingkungan nan baik tentunya akan menghasilkan prilaku manusia yang baik lagi, bisa memberikan rasa kesepakatan dan nyaman secara psikologi demikian sebaliknya. Peran arsitek ternyata bukan cukup sekedar dapat melakukan tahap proses sebatas terwujud, belaka sejauh bangunan masih berfungsi, kokoh yakni menjadi barang bawaan jawab arsitek.

Sebagai home base, rumah adv amat mempunyai makna laksana gelanggang qolbu dalam kondominium tangga nan berfungsi tempat menenangkan vitalitas, lever, dan fisik manusia.

Penyelenggaraan ruang dalam rumah adv amat Islami boleh mencerminkan nilai-nilai sukma kerjakan selalu berupaya menjaga dan memperindah lingkungannya, baik fisik maupun spirit ibadahnya, baik yang menyangkut tata mandu, cita-cita  dan ponten-nilai budaya Islami.

Rumah tinggal bagian berpangkal arsitektur nan oleh manusia dibangun melalui proses budaya yang dimiliki, proses tersebut menunjukkan juga bahwa kondominium tidak merecup dengan sendirinya melainkan oleh khalayak yang mendapat aqidah dan moral yang baik berasal Allah SWT, hal ini nan mendasari proses rancang tumbuhnya rumah tinggal bakal orang dengan segala penutup auratnya.

Kebutuhan akan papan adalah penting disamping kebutuhan sandang dan pangan yang tidak dapat dipisah, karena rumah tinggal sebagai arena pertemuan anggota batih suami, istri gelap dan anak asuh-anaknya, medan peristirahatan mencari ketenangan lahir batin yang memiliki kegadisan sesuai dengan ajaran hukum dan gelanggang cak bagi mencari ridho melangkaui ibadah kepada Sang pencipta SWT.

Dalam Dokumen An-Nahl:80, Allah berfirman yang artinya :“Dan Allah menjadikan bagimu flat-rumahmu ibarat tempat lewat..” Terbentuknya rumah lalu tentunya lain sekedar adanya struktur-gedung yang mendukung dinding, lantai dan tarup, cuma dibuat serangkaian maksud yang sangat kompleks, sehingga peran serta pemilik, arsitek tentunya kreatif mewujudkan rancangan lebih kemanusiaan karena berfungsi untuk manusai.

Dengan  ide, gagasan dan imajinasi internal pengupayaan ruang dan rangka lebih terkonsep bersendikan pendirian-cara  Islami.

Apartemen sangat sekali lagi sebagai kehormatan untuk pemiliknya, bagaikan contoh seseorang tak bisa masuk rumah orang bukan tanpa ijin tuan dan penghuninya. Bila lain diijinkan ataupun minta ijin tiga boleh jadi tetapi tidak dijawab hendaklah ia menjauhi rumah tersebut, Allah SWT berucap :

“Hai orang-insan nan beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum harap ijin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu kerap ingat. Jika kamu enggak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah engkau timbrung sebelum kamu mendapat ijin. Dan jika dikatakan kepadamu”pula (sahaja)lah”, maka hendaklah beliau pula. Itu kian bersih bagimu, dan Tuhan Maha Mengetahui segala apa yang kamu untuk” (An-Nur :27-28)

Demikian terhormat dan santunnya prilaku bagi cucu adam yang bukan haknya  masuk rumah orang lain tanpa seijin pemilik, hal ini semata bikin ganti menjaga ketenteraman dan keamanan bermasyarakat yang diinginkan semua cucu adam. Penyelenggaraan cara nan diajarkan Allah SWT untuk memberikan pendidikan privat etika moral secara Islami lakukan kemaslahatan bagi manusia juga.

Siaran bahwa di bilang rumah tinggal disekitar lingkungan kita yang mayoritas kaum muslim belum menampakkan jatidiri jasmani yang Islami, menuju mementingkan diri berbunga segi tampilan yang berlebihan, egois.

Diingatkan dalam Surat Al-‘Alaq ayat 6 “Kal-laa in-nal insaana layadh-ghaa”, artinya ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” memang sulit membedakan antara rumah tinggal dengan konstruksi bercorak “keraton” rubrik-kolom yang menjulang tinggi, dengan atap dan cukilan semenjak Spanyol (sparo-nyolong?).

Memilih tetangga sekitar kondominium adv amat bertambah utama, dibanding menentukan lokasi tulang beragangan flat sangat. Keberadaan tetangga n kepunyaan pengaruh besar terhadap kekerabatan antar tetangga, cak bagi bersilaturrahim lega kegiatan sehari-hari dalam bersosialisasi dan budaya.

Memilih lokasi kondominium dengan baik dan memperindah rancangannya, tidak diragukan bahwa koteng muslim nan sebenarnya akan menempatkan perhatian lega cara pemilihan kondominium dan merancangnya, yaitu perkara yang tidak akan diperhatikan mereka.

Sebaiknya lokasinya damping masjid, dalam hal ini terdapat bermacam ragam kemujaraban yang amat ki akbar nilainya. Akan lebih  memungkinkan para lelaki melaksanakan shalat jamaah dan para wanita buat mendengarkan tilawah Al-Alquran dan dzikir melalui pengeras suara.

Peristiwa ini jika dilihat dari keadaan apartemen-apartemen tinggal sekarang yang semakin berdekatan, seperti kompleks perumahan tentunya terlampau berbeda n domestik kegiatan sosial lega hunian rumah atau kondominium. Berbeda jauh jika di perkampungan relatif sikap gotong-royongnya yang tinggi.

Mudahmudahan rumah tinggal tidak berada puas konstruksi yang ada kefasikan padanya, atau bernas puas obsesi perumahan nan ada bani adam-turunan kufur atau palagan maksiat.

Pelajari lebih semula kerjakan menentukan dimana lahan yang akan dibangun dengan majemuk piagam resmi. Diharapkan tidak menimbulkan penyakit dikemudian hari, kemudahan mendapatkan bahan bangunan, ki alat dan prasarana urut-urutan bukan mengganggu diseminasi publik.

Sebelum membangun, mudahmudahan arsitek kreatif membuat bagan yang matang baik mulai sejak segi teknis, bukan non teknis yang bersatu klenik terutama plong ketika menentukan perian menggali tanah, pasang gedung tarup dan sebaginya karena sama sekali tidak suka-suka hubungan dengan kekuatan konstruksi dan keindahan arsitekturnya.

Memasrahkan saran-saran yang baik dan netral kepada tuan dengan harapan pikulan jawab teknis, keadaan ini di dukung dengan sabda Rasulullah saw:

“Barangsiapa membangun satu bangunan melebihi keperluannya (artinya bermegah-megahan) maka Allah akan menyuruhnya memikulnya di atas pundaknya pada hari kiamat” (HR.Thabrani)

Membangun kondominium diharapkan dananya harus dari harta yang halal dan steril, bukan menggunakan persen riba nan akan mengakibatkan murka Allah SWT. Dan yang ini akan bertelur fatal terhadap ujian dunia kasatmata sakit dan sayang timbul konflik intern membangun rumah tangga.

Perencanaan konstruksi majuh bersuara tentang konsep pangsa dan massa gedung. Rupanya sejak filsuf Lao-Tzu dan Dataran tinggi memulai mempersalahkan konsep ruang dan konsep massa bangunan, sejak itu  perbedaan pendapat itu gegares diperhatikan dengan teliti maka dari itu arsitek.

Lao-Tzu bertolak pada pangkal TAO (The way of becoming) yang mengistimewakan bahwa “nan tiada itu, ialah terdahulu dalam membentuk sesuatu bentuk nyata”, sedangkan Plato mendasarkan filsafatnya puas pesiaran bahwa “hanya sesuatu nan dapat diraba yang dianggap nyata” ini menjadi pemberontakan antara makulat timur dan barat, bagaikan umum timur dan Islami tentunya bisa menerapakan konsep tersebut diatas bahwa “yang tiada itu..” justru Allah SWT selalu ada nan lebih dekat dan mempunyai ruang disegala tempat melalui qalbu dan otak nan diciptakan untuk menggerakkan setiap langkah manusia.

Penataan ruang dalam adalah penting ditinjau dari segi hirarki dan khuluk diantaranya (hal ini setinggi sekali tidak ada hubungan dengan fengsui atau hongsui!, karena lain faham Islami, walaupun sebagian manusia Islam masih menganut ini); terras depan, ruang tamu, ruang tidur penting (ibu bapak), ruang tidur momongan (masih lajang), ruang sholat dengan tempat wudhu, ira makan (urat kayu anak bini), dapur, ruang tidur pembantu, garasi, dan gudang ira ajudan, dan kamar mandi/wc.

Luas tanah yang ada dibangun jumlah alasannya demi keamanan pandangan kiri-kanan, sehingga tampilan samping bangunan lain menyatu. Kurangnya memperhatikan ruang mendelongop, izzah bangunan nan nyaris menjadi tidak seimbang dengan mileu sekitarnya pada akhirnya disain arsitekturanya  tidak kuantitas plong setiap durja bangunannya,

Wujud akhir bangunan mewah berdampak timbulnya kecemburuan sosial, karena pemilik tidak sekedar fertil membangun sekadar bagaimana menciptakan keserasian ekologi mileu.

Terlebih belum terpikirkan dari segi perawatan, penempatan material bangunan diharapkan tidak mengganggu halaman orang tidak alias fasilitas umum, perlunya proses ijin tetangga kidal-kanan dan muka-belakang guna menjaga ketentraman bermasyarakat.

Islam tak antagonistis dengan apa yang sudah lalu dicapai makanya perkembangan Ipteks mengenai seni arsitektur, lebih lagi Islam menuntut tiap muslim agar mengikuti teknologi dan syarat-syarat ilmiah dan alamnya bikin pembangunan kondominium tinggal untuk menguasai dan menyurutkan bagi penghuninya.

Posisi letak bangunan sangat berkarisma terhadap kondisi udara di n domestik pangsa, plong disain tata ruang n domestik tentunya tidak ekuivalen dengan posisi sisi aklimatisasi bangunan ke arah lor, selatan, timur dan barat.

Dalam memegang hari Idul Fitri 1427 H kali ini, dapatlah menjadi evaluasi qalbu dalam berprilaku pula bagaimana susunan dengan evaluasi purna huni yang cak semau, tidaklah harus renovasi total plong penataan ruang, cukup ada perubahan posisi tata letak perabotan yang ada, perlu cak semau pengumbahan atau pengecatan.

Moga diversifikasi dan kebutuhan perabotan menyetarafkan ulas nan terhidang karena hubungan dengan tata letak perabotan dan persebaran ruang dalam.

Hal ini semata cak bagi memasrahkan suasana beda dan lahir  fitrah kembali dengan kebersihan, ketenteraman dan kepelesiran dalam mengakuri kunjungan silaturrahim bermasyarakat untuk saling menerima dan mengasihkan pemaafan sepanjang usia bertetangga.

Persiapan-anju menyandang datangnya Idul Fitri tidak harus suka-suka pergantian total, tentunya sesuai dengan kemampuan ekonominya, walhasil bererak dengan beban vitalitas semakin bertambah setelah Idul Fitri hanya mengejar martabat dan merembah dianggap miskin.

Terpenting adalah bagaimana menciptakan suasana didalam lever dan rumah adv amat bak salah satu wujud kesuksesan ibadah kepada Allah SWT sejauh sebulan penuh beribadah ramadhan.

Dalam perencanaan bangunan agar diperhatikan :a). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kenyaman dan kemampuan mental dan awak pemukim : radiasi matahari, kesilauan, temperatur dan pertukaran temperatur, curah hujan angin, aksi udara, pencemaran peledak; b). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keselamatan bangunan : gempa bumi, badai, hujan abu deras dan banjir, gelombang listrik pasang; c). Faktor-faktor nan dapat menyebabkan kebinasaan konstruksi dan pelapukan bulan-bulanan bangunan makin awal : faktor-faktor pada butir (b), intensitas radiasi rawi yang abadi, kelembaban mega dan kondensasi yang tinggi, badai abuk dan pasir, dan nafkah garam dalam peledak.

Demikian halnya rumah ialah nikmat Tuhan SWT, ketenangan jiwa merupakan tujuan adanya medan lalu dengan perencanaan manajemen ulas dalam yang tercalit dengan kebutuhan ruang karena jumlah anggota keluarga, seleksian jumlah perabot dan peralatan apartemen tahapan juga untuk menunjang kesenangan dan ketahanan. Bisakah ketenangan maupun ketentraman terbantah bila di dalamnya banyak perselisihan dan kebencian, ataupun terisi maka dari itu tata cara jahiliyah?.

Agar dapat diterima secara universal maka perlu diperhatikan : a). Menyamakan antara wujud wajah bangunan (kecondongan arsitektur) dengan disain pengelolaan ruang dalam, sehingga suasana ruang dalam akan menyatu dengan pilihan model perabotan; b). Berlebihan pada tampilan ruang dalam karena tidak terencana dengan baik, karena adakalanya jika bosan mudah dirubah; c). Terwalak beberapa bentuk perabotan dari merek nan terkenal, ternyata kurang nyaman puas format dengan besaran ira; d). Ketagihan pada produk serba mekanis, sehingga terjadinya krisis energi yang sememangnya untuk kenyamanan semata.

Intensi Wujud Rumah Dahulu Secara Arsitektur Islami antara enggak: a). Orientasi atau murang imajiner gelanggang sholat diutamakan menghadap QIBLAT, sehingga garis tersebut siku 90 derajat terhadap perencanaan tata ruang n domestik apartemen tinggal. (Yunus ayat 87 ”…dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu gelanggang buat shalat…”; b). Ketinggian pagar halaman depan sebaiknya tidak terpejam penuh tampang bangunan (solusi disain), sepatutnya dapat menunjuk-nunjukkan wujud bangunan dengan ciri rumah adv amat secara jelas (bukan intensi riya’). Perlu terserah perbedaan yang tegas pada disain antara sogang bangunan seumpama pewatas alias pengaman; c). Secara abstrak luas bangunan berkisar antara 40%-60% dari luas persil dengan bilangan : ada sempadan depan dan belakang dengan halaman; lebih asri takdirnya halaman di rencanakan adanya taman, sehingga setiap pungkur tanah tidak terpejam konstruksi nan berfungsi sebagai serapan air hujan abu; sekiranya memungkinkan ada jarak bangunan minimum 1 meter pada kiri-kanan bangunan, bagi rotasi udara dan kemudahan jika terjadi kebakaran.

Penaruhan septicktank dan sumur peresapan di intern halaman sendiri; sungai buatan air kotor depan rumah lewat selalu di perhatikan kebersihan dan kelancaran air pembuangan; saluran air kotor harus tertutup dan enggak rusak; Bukan menggunakan pekarangan umum dan tetangga bikin keperluan penempatan objek gedung jika saatnya ada pelaksanaan.

Ketinggian konstruksi sebaiknya menyetarafkan kebutuhan ruang di n domestik semoga proses pelaksanaan enggak mengganggu tetangga, apalagi dinding konstruksi nan bersebelahan sengaja dibuat gua angin atau perputaran udara; Penempatan jemuran yang kaya di tegel ke 2 mudah-mudahan nyaman dan lega dada rukyah tetangga; Penempatan tempat sampah hendaknya terecana, tertutup terbit rukyah dan dihalaman koteng.

Pembagian ruang terdiri atas daerah (zonning), guna kejelasan posisi dan fiil saban ruang  diantaranya urat kayu publik : akses kronologi utama; ira tunas masyarakat : halaman dan terras depan; pangsa semi private : pangsa tamu; ruang private sedang : ruang tanggungan, ruang makan; ira private : ruang tidur terdahulu dan anak; ruang sakral dan: ulas sholat; ruang profan : kamar mandi dan wc .

Posisi penempatan Water Closed (urinoar) dihindari untuk lain  mengarah dan membelakangi kiblat. (HR. Muslim: “Jika kamu jongkok untuk mengamalkan cerih, maka janganlah menghadap dan membelakangi jihat kakbah”).

Jika perlu?, urat kayu tidur utama dekat dengan km/wc  atau (direncanakan km/wc dalam) sepanjang boleh menjaga kebersihan dan peredaran udara nyaman, atau dapat direncanakan lega bagian birit.

Ruang makan mudahmudahan dihindari pandangan serentak dari ruang tamu atau dengan penyekat transparan. Posisi pintu utama kondominium lalu sebaiknya tidak menghadap langsung ke kronologi umum faedah menghindarkan pandangan kontan pecah urut-urutan umum. Alternatif penaruhan bisa dilakukan dengan pesong maupun kesamping.

Hal ini memang harus diwujudkan dengan bahasa disain, karena tiap-tiap empunya memiliki konsep lampau arsitek harus mampu menjawab keingingan pemilik.

Semua pintu ulas tidur agar tidak menghadap langsung ke ruang tamu, demikian gapura km/wc kalau wajib ada penutup tambahan atau tirai. (HR. Abu Daud : Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi Muhammad SAW, bersabda “Barangsiapa melaksanakan hajatnya, maka hendaklah bertutup-tutup”.

Penerangan ruang internal sebaiknya lebih banyak sinar alami, jika ada penerangan sintetis secukupnya. Penaruhan jendela dan lubang arus disesuaikan dengan luas ruang yang di pakai, hendaknya ada distribusi udara sebagai pergantian awan sekaligus cak bagi mengeringkan ira yang lembab.

Manajemen ira n domestik apartemen tinggal sangat terkait dengan karakter si pemilik, sehingga pilihan perabotan tidak semudah dipilih berdasarkan selera hasil disain produk biarpun tanda terkenal dan rani membeli.

Pencantuman asesoris gambar andai pelengkap urat kayu mudah-mudahan dengan kaligrafi untuk mengutarakan ciri sebagai anak adam Islam, kalau dpilih rang pemandangan sebaiknya suasana lebih sejuk. “Utusan tuhan Muhammad SAW merenjeng lidah:” Telah datang malaikat Jibril kepadaku; “tadi malam aku cak bertengger kepadamu, belaka aku terhalang untuk masuk karena di gapura rumahmu suka-suka gorden bertato patung-reca dan didalam rumah suka-suka anjing” HR. Bukhari dan Muslim).

Dekorasi masing-masing ruang tentunya disesuaikan dengan karakter ruangnya. Penyortiran warna sreg finishing intiha dinding dan asesoris moga dipikirkan bertambah teliti seyogiannya terhindar semenjak warna yang gempita.

Setiap mengawali plong semua aktifitas lakukan do’a dan flat pelahap digunakan bakal sholat berjama’ah sekeluarga.



Daftar Pustaka

1. Abidin, Zainal Wajih.,(1997) Kebutuhan Mukmin, Gema Insani Press
2. Al-Munajjid, Muhammad.,(1998) 40 Cara Hingga ke Keluarga Bahagia,Gema Insani Press
3. Perkembangan Arsitektur dan Pendidikan Arsitek Di Indonesia., (1997) Gadjah Mada University Press

Sumur
=====

Perencanaan Tata Ruang Berbasis Islam dan Kerakyatan

Jalan kota di barengi dengan kenaikan penduduk nan terjadi sejauh ini menjadikan semakin sempitnya lahan di perkotaan, berambisi pembangunan dan perkembangan kota mendatangi Button Up Top Down yaitu perekembangan kota cenderung kepada masyarakat salutan bawah, harapannya perkembangan ii kabupaten merupakan investasi masa depan yang diperuntukkan untuk generasi 10-30 tahun ke depan, tetapi terkadang hal itu menjadi sebuah konsep masturbasi belaka, artinya hangat-hangat tai ayam. Kebijakan Pembangunan kota yang tak didasari dengan  lever dorongan hati dan tidak berpedomana pada ajaran Islam terkadang akan menimbulkan suatu permasalahan yang lebih besar, sudah banyak kasus-kasus Tata Ulas daerah tingkat nan perencanaannya lain berpedomana lega poin-skor islam, akhirnya yang terjadi adalah kerusakan, bencana .

konsep perencanaan Penyelenggaraan ruang didalam Islam sudah lama terkonsep dengan baik manjur bahwa adanya kerajaan-kekaisaran Islam dengan arsitekturnya, konstruksi Masjid, Portal, gedung-gdung perjumpaan bernuansa Islam misalnya di Iskandariah, Madinah, Andalusia ( Spayol), Basrah, Kufah, Baitul Maqdis, Baitul Laham(Bethelem), Darussalam(Yerussalem), artinya hasil karya Islam tersebut telah menjadi ki kenangan dunia (Drs Dyayadi MT, Penyelenggaraan Ruang kota menurut Islam). Di Indonesia konsep penataan ruang dengan nilai Islamnya dapat kita tatap wewaktu kita masuk di kota Serang  ( Ibu kota Wilayah Banten) Daerah nan bermotto “Iman dan Taqwa” ini menghiasi sepanjang median jalannya dengan 99 asmaul Khusna(stempel-nama Allah yang baik)sehingga kota Serang terkesan Islami (relegius) dan menentramkan jiwa bakal nan mengaji aslamul khusna tersebut. Selama ini di Indonesia kian banyak menghiasi ii kabupaten dengan Reca-patung di setiap bundaran alias patung internal rencana menghormati momen sejarah tempo dulu, sementara itu intern islam pembuatan patug dilarang maka itu Allah, sebagai Hadist Rosullullah”siapa saja membuat reca maka sepantasnya allah akan menyiksanya sehingga engkau membagi sukma sreg reca untuk selama-lamanya(HR. Al Bukhari) Pengelolaan Ruang di jajah oleh Investor nan kemanfaatannya bertambah menguntungkan Investor dari pada Masyarakat umum. pembangunan penyelenggaraan ulas yang telah melanggar aturan,misalnya alih keistimewaan kapling, exploitasi sumber daya tunggul serta pembangunan kota nan keluar dari nilai-nilai Islam. Merebaknya kedipan kehidupan kota nan enggak Islami dengan adanya Lokali sasi PSK, lokali sasi para Banci, night club, diskotik, karaoke terselubung pertaruhan, pijat sesak yang sebenarnya adalah panti mesum, dengan kemudahan-kemudahan sejenis itu suasana kota semakin buram, runyam karena sudah lalu keluar jauh sekali dari tatanan nilai-angka islam.

Pecah paparan diatas bisa kita simpulkan bahwa pembangunan kota yang sebenarnya negatif moral bangsa, merusak kaidah selam, tunggu saatnya kehancuran dan batu akan menanti. Suatu hipotetis yang sangkut-paut terjadi adalah , sebagaimana Yang mahakuasa telah pernah menimpakan alai-belai kepada dua biji kemaluan kota Zaman nabi Luth yaitu daerah tingkat Sadum dan Gamuroh karena mereka melakukan Homo sexual (Liwath) demikian pun daerah tingkat Aad dan Iram yang pun dihancurkan Almalik karena penduduknya yang Zhalim dan berbuat maksiat. Seperti halnya firman Allah “Berapalah banyakmya kota yang kami sudah membinasakannya, yang penduduknya intern kedaan Zalim, maka (tembok-tembok) kota roboh menutupi atap-atapnya dan (beberapa banyak juga) sumur yang telah ditinggalkan dan Istana yang tinggi tak suka-suka penghuninya ( Al-Hajj:45). Azab nan diberikan makanya Sang pencipta banyak bentuknya bisa berupa air sebak bandang(Rasul Nuh, ), keburukan rembet(zaman nabu musa), hujan abu gangguan(zaman nabi Luth) dan gempa marcapada sebagaimana termaktub dalam AL Quran.

Firman Almalik”Dan janganlah dia membentuk kerusakan dimuka bumi selepas (allah)memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa merembas(lain akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sepantasnya rahmat Sang pencipta terlampau rapat persaudaraan kepada orang-manusia yang berbuat baik.( Al- A’raf :56). Namun pada kenyataannya yang terjadi di Negara Indonesia begitu gerenyau telah destruktif lingkungan. sejenis itu banyak permasalahan tata ruang kota yang semakin komplek(alih keefektifan lahan), jenggala lindung djadikan lahan produktif, pantai direklamasi menancapkan bangunan diatasnya, kapling retensi(resap air) dijadikan perumahan, bukit/gunung di kepras dijadikan perumahan dan permukiman, rusaknya DAS (Kawasan Aliran Sungai) kawasan pendidikan dijadikan negeri bisnis, kawasan pariwisara dijadikan kawasan mesum, pembangunan gedung dipusat kota yang tidak mengindahkan estetika lingkungan, garis haluan  pemerintah yang melanggar tata ruang, penggundulan hutan dimana-mana. Nantinya kita akan mengaram bencana dan fasad-kerusakan di suatu wilayah, daerah maupun kawasan.banjir bandang, angin putting beliung,premanisme, kemiskinan, permukiman Slum and Aquter dikota-kota yang sudah ingkar apa nan diberikan Oleh  Yang mahakuasa. Mereka sesenangnya sendiri mencuil kebijakan sonder memperdulikan kelebihan rakyat kecil.bukan main ironis sekali apabila kita melihat di resep ii kabupaten, dengan panjang dan megahnya bangunan dikota ternyata masih saja menyisakan adanya persil Slum and Squater (cemar dan Haram) yang roh dipinggiran kota karena mereka telah terseingkirkan makanya strategi-politik kota yang tidak populis.

Masih banyaknya pengangguran, kemiskinan, pendidikan yang rendah serta kualitas mileu yang rendah kejadian ini. Yusuf Al-Qaradhawi pada bukunya Kemiskinan kerumahtanggaan Islam 1996, ada dua kata yang merujuk kepada bani adam miskin, pertama adalah Fakir dimana kondisi seseorang sudah kerumahtanggaan posisi putus tebak tak ada tujuan (hopeless)buat berkarya, karena apapun yang dilakukananya akan loyal miskin. Mode makhluk sama dengan ini akan mengambil awalan terkahir yaitu mengemis sebagai sebuah solusi dan adat. Kedua merupakan Masakin(miskin)kondisi dimana orang tersebut sudah lalu berusaha payah berpugak-pugak, tetapi taat belaka enggak boleh mencukupi kebutuhannya. Cuma mereka lain putus asa karena putus asa adalah anju setan.

Kemiskinan yang selama ini terjadi lebih disebabkan plong persoalan struktural dan malfungsi garis haluan, baik nan berdimensi Regional, Kewarganegaraan maupun Internasional.  yang terjadi pembangunan didunia Islam yang bercorak kepada liberalistik dan kapitalistik sehingga strategi pilihannya yakni pertumbuhan bukan kemakmuran rakyat boncel. Situasi ini ditakutkan adanya sekenario bahwa adanya orang yang dikorbankan untuk tetap miskin kemudian kejadian ini ditambah dengan intensi penetrasi dan rekayasa didunia Internasional seperti IMF dan Bank mayapada yang menngunakan global views sebagai format tolok nan plong akibatnya akan menabrak kebijakan lokal, kasus begini sudah banyak dan sering terjadi di Indonesia misalnya penggusuran PKL sonder ada solusi, mencangam tanah penghuni karena akan dikembangkan pembangunan kota, kurang masksimalnya upya pemerintah internal penyediaan lapangan jalan hidup, upah buruh yang tekor, ketatanegaraan pemerintah nan menggunakan politiknya, yang masyarakatnya belum siap secara sosial, ekonomi, budaya tetapi tetap dipaksakan, misalnya konfersi patra ke Gas, BBM dinaikkan, sembako harganya melambung tinggi, harga gabah ketika pengetaman nan anjlok, jamur yang mahal dan selit belit, susu nan lain terbeli sehingga anak minus Gizi. Ternyata benar adanya bahwa sebuah sekenario global masuk di Indonesia semacam inilah yang mengakibatkan kemelaratan semakin bertambah. Data BPS meyebutkan pada tahun 2006, menunjukkan kuantitas penduduk miskin, penduduk yang berada digaris kemiskinan mencapai 39,05 juta umur. Jumlah ini berarti naik 3,95 persen dari masa sebelumnya, merupakan sreg februari 2005, yang semata-mata berjumlah 35,10 miliun individu(15,97 persen).

Pemberitaan UU RI No. 26 masa 2007

Didalam UU RI nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Urat kayu pada Bab XI ketentuan perbicaraan pasal 69 (1) setiap cucu adam yang tidak menaati tata ulas yang sudah lalu ditetapkan sebagai halnya dimaksud n domestik pasal 61 aksara a yang mengakibatkan perubahan fungsi-kemujaraban ruang, dipidana penjara paling kecil lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,- . pasal 73 (1) setiap kepala pemerintah yang berwenang yang menerbitkan izin tidak sesuai dengan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud kerumahtanggaan pasal 73 (7), dipidana lembaga pemasyarakatan paling lama lima tahun atau denda sebanyak 500.000.000,-. Namum kenyataannya yang terjadi masa ini yakni lemahnya supremasi hokum sehingga belum ada tindakan nan jelas kepada majikan nan merebeh UU pengelolaan pangsa sebagaimana halnya artikel di tulis staf pembimbing Planologi Ir. Tjoek Sueroso Hadi tempo lalu.

Kedepan dan saat ini yang sudah lalu terjadi provokasi, kerusakan problem sosial, budaya, ekonomi, politik dan Tata ruang, perlu ada sebuah renungan kepada pejabat masyarakat pemegang pengaruh yang sebaiknya bertambah berhati-hati dalam setiap pengambilan keputusan. Dalam ajaran Islam siapa yang mengerjakan baik maka kelak hidupnya akan berjasa, tetapi apabila kali yang curang, culas, serakah maka akan datang akan mendapatkan balasan terbit Allah SWT. Balasan yang sifatnya katai sampai tangkisan yang manuaisa bukan bisa memperhitungkan, keruskan material dan mortalitas yang dasyat..  Jika secara hukum enggak dapat membentuk mereka jera(pengambil keputusan) maka balasan bersumber Allah SWT lah yang akan membuat mereka lasi. wallahu kalimantang.

Setiawan Widiyoko, ST, SH
=====

I. PENDAHULUAN

Sebagaimana yang telah terjadi di sekeliling kita pengunci-akhir ini mengenai lingkungan, telah menjadi isu yang hangat diperbincangkan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat. Persoalan ini mengingatkan makhluk agar gelojoh menjaga lingkungannya meski masalah-ki aib global yang membahayakan lapisan bumi dan hidup sosok hidup nantinya.

Al-Qur’an telah menyatakan bahwa segala tipe kerusakan yang terjadi di parasan bumi merupakan akibat berbunga ulah tangan anak adam dalam berinteraksi terhadap mileu hidupnya. Sebagaimana yang tertumbuk pandangan kerusakan sudah lalu terjadi di darat dan di laut karena perbuatan orang itu sendiri, kerusakan-kehancuran tersebut merupakan teguran yang diberikan maka itu Allah kepada manusia sebaiknya mereka ingat bahwa barang apa sesuatu yang diciptakan oleh Yang mahakuasa perlu dijaga kelestariaanya.
Makalah ini akan membahas mengenai pengertian lingkungan hayat serta segala saja ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang mileu hidup.

II. RUMUSAN Problem

A. Apakah denotasi lingkungan hidup?
B. Apa saja ayat-ayat Al-Qur’an nan menjelaskan tentang lingkungan?

III. PEMBAHASAN

A. Konotasi Lingkungan Hidup

Mileu atau sering disebut dengan lingkungan hidup merupakan jumlah semua benda yang semangat dan mati serta seluruh kondisi nan suka-suka intern ruang nan kita tempati. Mengenai beralaskan UU No. 32 perian 2009, lingkungan atma adalah keesaan pangsa dengan semua benda, daya, peristiwa dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, nan mempengaruhi alam itu koteng, perturutan perikehidupan, dan kesejahteraan cucu adam serta makhluk usia lain. Internal persoalan lingkungan hidup, turunan memiliki peranan yang lewat penting. Karena penyelenggaraan mileu hidup itu sendiri puas karenanya ditujukan buat keberlangsungan manusia di bumi ini.

Menurut Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-kodrat pokok pengelolaan lingkungan hidup, Undang-Undang Nomor 10 Musim 1992 adapun urut-urutan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 adapun pengelolaan lingkungan spirit, menyatakan bahwa mileu hidup merupakan keekaan pangsa dengan semua benda, resep, keadaan, dan orang kehidupan, termasuk individu dan perilakunya yang mempengaruhi perturutan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta insan hidup lainnya.[1]

Kehancuran mileu umur terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak serta merta sifat fisik dan maupun hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi internal menunjang pembangunan kontinu. Kerusakan lingkungan nyawa terjadi di darat, udara, maupun di air.[2]

B. Ayat-ayat Al-Qur’an nan Berkaitan tentang Lingkungan Umur

1. Surat Al-Mulk ayat 3-4

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

Artinya:
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-bisa jadi tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu nan tidak seimbang. Maka lihatlah iteratif-ulang, adakah kamu tatap sesuatu yang tidak seimbang?” (QS: Al-Mulk Ayat: 3)

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
Artinya:
“Kemudian pandanglah sekali sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam kejadian penat.” (QS: Al-Mulk Ayat: 4)

a. Asbab an-nuzul
Pemakalah tak menemukan.

b. Penafsiran
(3) Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan tujuh langit berkelim-lapis yang tak suka-suka satu makhluqpun dapat melakukannya. Tiap-tiap benda alam itu seakan-akan terapung kokoh ditengah-tengah antarbangsa raya, tanpa ada kusen-tiang yang memayang dan tanpa tali-temali yang mengikatnya. Tiap-tiap langit itu menempati ruangan yang sudah ditentukan baginya di tengah-tengah alam semesta raya dan sendirisendiri lapisan itu terdiri atas begitu banyak planet yang tidak terhitung jumlahnya. Makanya benar bahwa Allah SWT berbicara namun Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Tinggi.

Guna mufrodat:
Tibaaqo artinya: Berlapis-lapis maksudnya susunan langit keatas. Selanjutnya Allah SWT menunjukkan ke Maha Sempurnaannya, Ma taroo fii kholqi rohmaan: taroo disini bikin semua manusia (sira enggak akan boleh melihat) terhadap ciptaan-Nya, yaitu min tafaawuts artinya: bukan beres, kacau, tidak cacat, tidak kokoh (tak saling berkait), dan tidak sesuai.

Jadi semua penciptaan langit silam rapi, kokoh, tukar berkait kokoh dan seimbang. Bandingkan dengan invensi cucu adam. Disini Allah SWT menantang bahwa Allah SWT tidak pertautan main-main menciptakan langit ini, Sang pencipta SWT serius menciptakan semua ini. Sehingga kalau umur dibawah langit Allah SWT jangan main-main. Lebih jauh ulangi sekali lagi pandanganmu ke langit, teliti lagi agar anda bisa menyaksikan secara serempak, barang apa nan sudah lalu Aku beritahukan kepadamu bahwa tidak ada cacat sama sekali dari apa yang mutakadim Aku ciptakan sehingga sira tidak merasa ragu pula. Subhanallah.[3]

(4) Soal Allah kepada manusia puas ayat diatas dijawab sendiri maka itu Sang pencipta pada ayat ini dengan mengatakan bahwa sekalipun manusia tautologis-ulang memperhatikan, mempelajari, dan merenungkan seluruh ciptaan Allah, pasti ia lain menemukan kehabisan dan cacat, walau sedikitpun. Kalau mereka terus-menerus melakukan yang demikian itu, bahkan seluruh hidup dan kehidupannya digunakan cak bagi itu, akhirnya kamu hanya akan merasa dan tidak akan menemukan kesuntukan, sampai ia lengang dan juga kepada Tuhannya.

Dari ayat ini, dapat difahami bahwa tidak ada seorangpun diantara manusia yang sanggup mencari kekurangan lega ciptaan Allah. Jikalau ada diantara manusia nan sanggup, hal ini berarti bahwa dia mengetahui seluruh aji-aji Allah. Sampai detik ini belum suka-suka seorangpun yang mengetahuinya dan tidak ada seorangpun yang dapat memilik seluruh hobatan Allah. Kalau suka-suka diantara basyar yang dianggap paling luas ilmunya, maka mantra nan diketahuinya itu hanyalah merupakan sebagian kecil dari ilmu Almalik. Akan sahaja, banyak diantara manusia yang tidak ingin mengingat-ingat kelemahan dan kekurangannya, sehingga mereka tetap ingkar kepada-Nya.[4]

2. Surat Al-A’raf ayat 56

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“Dan janganlah sira membuat kerusakan di paras bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa merembah (enggak akan dikabulkan) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya kasih Allah amat dekat kepada insan-orang yang mengamalkan baik.” (QS: Al-A’raf Ayat: 56)
a. Asbab an-nuzul
Pemakalah tidak menemukan
b. Penafsiran
Privat ayat ini Allah melarang bani adam agar enggak takhlik kerusakan di permukaan bumi. Kerusakan ini mencakup:
1. Fasad nyawa, dengan kaidah membunuh dan memotonga anggota raga.
2. Kerusakan harta, dengan cara ghoshob dan maling.
3. Kebinasaan agama dan kafir, dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.
4. Kebinasaan anak cucu, dengan mengamalkan zina.
5. Kerusakan akal busuk, dengan meminum-minuman yang memabukkan.

Kesimpulannya, bahwa kerusakan itu mencengap kerusakan terhadap akal bulus, akidah, tata kesopanan, pribadi, maupun sosial, alat angkut-ki alat penghidupan, dan kejadian-situasi yang bermanfaat bakal umum, seperti lahan-persil perkebunan, perindustrian, perdagangan dan sarana-sarana kerjasama untuk sesama manusia.[5]
Pelecok suatu bentuk perbaikan yang dilakukan Allah adalah dengan mengutus para Rasul kerjakan meluruskan dan mengoreksi atma yang kacau dalam awam. Siapa yang enggak menyambut keberadaan Rasul, atau menghambat misi mereka, dia sudah lalu mengerjakan salah satu gambar perusakan di bumi. [6]

3. Akta Ar-Kepala susu ayat 41-42

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبِرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan turunan, supaya Tuhan merasakan kepada mereka sebagian semenjak (akibat) kelakuan mereka, kiranya mereka kembali (ke jalan nan moralistis).” (QS: Ar-Rum Ayat: 41)

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُ قلى كَانَ أَكْثُرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Adakanlah perjalanan di roman bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-sosok yang dahulu.’ Kebanyakan mereka itu merupakan orang-cucu adam yang mempersekutukan (Allah).” (QS: Ar-Rum Ayat: 42)
a. Asbab an-nuzul
Pemakalah tidak menemukan.
b. Penafsiran
Telah unjuk bineka kehancuran di dunia ini sebagai akibat dari penangkisan dan penyerbuan tentara-bala, pesawat-pesawat terbang, kapal-kapal perang, dan kapal-kapal selam. Hal itu tiada tidak karena akibat dari apa yang dilakukan oleh umat individu berupa kebrutalan, banyaknya lenyapnya perasaan dari pengawasan Nan Maha Pembentuk. Dan mereka melupakan terkadang akan hari hisab, master nafsu copot bebas dari pematang sehingga menimbulkan bermacam-macam kebinasaan di muka manjapada. Karena tidak ada lagi kesadaran yang timbul dari dalam diri mereka, dan agama tidak dapat berfungsi lagi untuk mengekang kebinalan suhu nafsunya serta mencegah keliarannya. Karenanya Allah SWT merasakan kepada mereka perlawanan berpangkal sebagian apa yang sudah lalu mereka untuk riil kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan habis yang berdosa. Barangkali mereka mau kembali dari kesesatannya lalu bertaubat dan kembali kepada perkembangan petunjuk. Dan mereka kembali ingat bahwa pasca- umur ini terserah hari yang pada hari itu semua manusia akan menjalani penghisaban darmabakti perbuatannya.

Sesudah Allah menguraikan bahwa timbulnya kerusakan sebagai akibat mulai sejak perbuatan tangan manusia sendiri. Lalu Dia menyerahkan petunjuk kepada mereka, bahwa turunan-orang sebelum mereka telah melakukan hal yang selevel sebagaimana apa yang telah dilakukan makanya mereka. Akhirnya mereka tertimpa hukuman dari jihat-Nya, sehingga mereka dijadikan pelajaran kerjakan khalayak-orang sehabis mereka dan bagaikan ibarat-perumpamaan lakukan generasi selanjutnya.[7]

IV. Analisis

Lingkungan hidup yaitu segala sesuatu nan ada di tampang bumi baik yang riil benda hidup maupun benda lengang.
Pada surat Al-Mulk ayat 3-4 dapat dianalisa bahwa sesungguhnya Halikuljabbar menciptakan jagat rat ini secara komplet tanpa terkecuali. Maksudnya, jika ada seseorang atau suatu golongan yang meremehkan atau meragukan akan ciptaan Sang pencipta maka makhluk tersebut diperkenankan bagi menuduh berkali-siapa akan ciptaan-Nya dan hal tersebut hanya akan sia-sia belaka.

Pada surat Al-A’raf ayat 56 dapat dianalisa bahwa sesungguhnya Allah telah melarang makhluknya untuk mengamalkan kerusakan di muka bumi ini. Kerusakan-kerusakan tersebut meliputi: a) Kerusakan jiwa, b) Kebinasaan harta, c) Kerusakan agama, d) Kerusakan nasab, e) Kerusakan akal.

Pada sertifikat Ar-Rum ayat 41-42 dapat dianalisa bahwa ayat ini menginginkan seorang muslim dapat menyadari pentingnya menjaga serta melestarikan tunggul lingkungan, dan juga tidak membuat kerusakan terhadap duaja lingkungan. Dengan artian jika akan melakukan sesuatu harus melalui pertimbangan pemikiran yang matang akan akibat yang ditimbulkannya agar tidak terjadi hal-peristiwa nan sifatnya merusak lingkungan.

[1] http://updatecampuran.blogspot.com/2013/07/signifikasi-lingkungan-spirit.html, diunduh tanggal 28 November 2013, pukul 10.23 WIB.
[2] http://odesboges.blogspot.com/2012/10/penyebab-kerusakan-lingkungan-dan.html, diunduh tanggal 28 November 2013, pukul 10.20 WIB.
[3] http://ibutina.com/islamia/alquran/adverbia-al-mulk-1-5/ . Diunduh 28 November 2013 pengetuk 11.16 WIB
[4] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid X Juz 28-29-30, Jakarta: Lampion Abadi, 2010, hlm. 230.
[5] Ahmad Mushtafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi Juz VIII, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993, hlm. 314
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Loleng Hati, 2010, hlm. 144
[7] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Kata tambahan Al-Maraghi 21, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993, hlm. 101-102

Perigi
=====

Referensi Akademisi

Setiawan, Muhammad Aris (2015) Konsep daerah tingkat layak huni (livable city) dalam al-Qur’an. Undergraduate (S1) thesis, UIN Walisongo. – http://eprints.walisongo.ac.id/4451/
Isnaini, Andra (2014) Sanitasi lingkungan internal Al-Qur’an. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Walisongo. – http://eprints.walisongo.ac.id/2835/

Perigi FOTO

quran.jpg (1600×900)

Source: https://bappedalitbang.banjarmasinkota.go.id/2016/06/al-qur-tentang-tata-ruang-dan.html

Posted by: skycrepers.com