Bab Ii Hasil Belajar Pkn Materi Hak Dan Kewajiban Sd

PTK PKn ” UPAYA Pertambahan HASIL Berlatih SISWA Puas Alat penglihatan Les PKN MATERI SISTEM ORGANISASI TINGKAT Resep KELAS IV SD NEGERI …… MELALUI METODE MAKE A MATCH”

Ki I PENDAHULUAN

A.   Satah Belakang

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar bagi menumbuh kembangkan   potensi   sumberdaya  manusia   petatar   ajar   dengan   kaidah memerosokkan dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. 1
Pendidikan  menurut  Ki  Hajar  Dewantoro  (1930 )  ialah  tuntutan  di dalam  tumbuh  dan  berkembangnya  anak -anak.  Maksud  pendidikan  ialah menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak asuh -anak itu, agar mereka laksana bani adam dan sebagai anggota awam dapat mencapai keselamatan dan kegembiraan nan paling-paling.2
Sehingga  pendidikan  merupakan  suatu  proses  berlatih  petatar  pelihara dalam memperoleh hobatan pengetahuan maupun ilmu keagamaan hendaknya signifikan bagi  diri  sendiri  dan  bagi  mahajana  maupun  u ntuk  bekal  masa  hidupnya kelak. Dengan pendidikan melajukan untuk kebutuhan berinteraksi/bersosialisasi dan dapat mewujudkan cita -cita anak bangsa nan diinginkan.
Pada hakikatnya, intensi pendidikan ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak asuh didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya

PTK PKn " UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKN MATERI SISTEM ORGANISASI TINGKAT PUSAT KELAS IV SD NEGERI ...... MELALUI METODE MAKE A MATCH"

1 Muhibbin Syah, Psikologi Sparing, (Jakarta : PT Paduka Grafindo Perseda, 2003), 1
2 Aziz wahab, dkk, pendidikan pancasila dan kewarganegaran (Jakarta: Universitas Terbuka,
2005), hal 9.53

secara optimal sehingga boleh membentuk dirinya dan berfungsi sepenuhnya nan sesuai dengan kebutuhan pribadinya serta kebutuhan masyarakatnya. 3
Adanya tujuan pendidikan di atas, maka bagi mencapainya diperlukan keseleo satu urut-urutan atau cara nan sering disebut den gan metode.4  Metode adalah suatu   mandu   nan  digunakan   untuk   mempermudah   menyampaikan   materi les melintasi prosedur tertentu agar tujuan pendedahan bisa tergapai dan dapat dimengerti oleh peserta didik.
Menurut  Djoko  Hartono,  Secara  harfiah  metode  barasal  dari  kata method yang berfaedah suatu cara kerja yang sistematik dan awam. Metode sama   artinya   dengan   metodologi   yaitu   suatu   penyelidikan   yang berstruktur dan formulasi metode-metode yang akan digunakan. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia metode ad alah cara kerja yang bersistem untuk melicinkan pelaksanan suatu kegiatan guna mencecah tujuan nan ditentukan. 5

Sreg dasarnya metode yaitu suatu alat alias cara bikin mempermudah jalannya pembelajaran agar maksud/bulan-bulanan pengajian pengkajian yang diinginkan tercapai.
Intern konteks pendidikan nasional, pendidikan kewarganegaraan dijadikan sebagai wadah dan perlengkapan untuk mewujudkan intensi pendidikan kebangsaan, ialah “berkembangnya potensi peserta didik mudah-mudahan menjadi sosok nan beriman dan taqwa kepada Almalik Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

3 Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah, Wahyu para Guru dan Orang tua, (Jakarta: Gramedia Pustaka Penting, 1985), kejadian 23
4 Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Berlatih Mengajar, (Bandung: Tarsito, 2003), peristiwa 97
5 Dr.Djoko Hartono, metode pembelajaran PAI, (Surabaya: fak tarbiyah IAIN Sunan Ampel),

kebal, cakap, berada, mandiri dan menjadi pemukim negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Di samping itu pendidikan nasional berfungsi lagi bak instrumen penyelenggara pendidikan nasional lakukan mengembangkan kemampuan dan mewujudkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rencana mencerdaskan kehidupan bangsa. 6
Intensi pendidikan kewarganegaraan adalah menjadikan warga negara

yang cerdas dan baik serta mampu mendukung keberlangsungan bangsa dan negara. Upaya mewarganegarakan individu atau cucu adam -orang yang hidup n domestik suatu negara merupakan tugas kiat negara. Konsep warga negara yang cerdas dan baik (smart and good citizenship) tentunya amat terjemur dari pandangan atma dan sistem politik negara yang bersangkutan.
Pendidikan kewarganegaraan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan   peserta   didik   menjadi   penduduk   negara   yang   mempunyai komitmen nan awet dan ki ajek untuk mempertahan Negara Keekaan Republik  Indonesia  (NKRI).  Hakikat  Negara  Kesatua tepi langit  Republik  Indonesia adalah negara kebangsaan moderen. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada chauvinisme alias nasionalisme yaitu  puas  tekat  satu  masyarakat  untuk  membangun  masa  depan  bersama

6 A.Ubaedillah dan Abdul Rozak, Civic Education, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah, 2008),

dibawah suatu negara nan sama, walaupun warga umum tersebut berlainan – cedera agama, ras, etika, atau golongannya. 7
Pendidikan kewarganegaraan menurut Depdiknas adalah mata pelajaran nan memfokuskan puas pembentukan pemukim negara yang mengetahui dan berpunya melaksanakan hak-hak dan kewajibannya bikin menjadi warga negara Indonesia nan cerdas, terampil, berkarakter nan diamanatkan oleh pancasila dan UUD NKRI 1945. Somantri, sekali lagi memajukan bahwa pendidikaan kewarganegaraan merupakan aksi untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan yang berkenaan dengan hubungan antar penduduk negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Realita dalam dunia pendidikan kita terjadi disparita s antara pencapian academic  standard  dan  performance  standard  yaitu  banyak  siswa  didik gemuk menghidangkan materi ajar nan diterimanya, namun pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. Sebagaian besar terbit murid tuntun tak kaya menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dimanfaatkan.
Berdasarkan hasil data yang diperoleh bermula hawa papan bawah, peserta didik n kepunyaan kesulitan bikin memahami konsep akademik sebagaimana mereka lazim diajarkan, yaitu dengan menggun akan pencekokan pendoktrinan dan metode lektur yang  boleh  membuat  peserta  didik  menjadi  bosan  dan  pengajian pengkajian  terlihat
7 http://dodisupandiblog.blogspot.com/2010/05/pengertian-pendidikan-kewarganegaraan.html

monoton. Kegiatan pembelajaran yang menekankan berbagai pendedahan yakni penggunaan pendekatan tertentu dalam pembelajaran, karena suatu pendekatan dalam pembelajaran pada hakikatnya merupakan cara yang terkonsolidasi dan   terpikir   secara   sempurna   bagi   mencapai   pengajaran   dan   untuk memperoleh kemampuan kerumahtanggaan meluaskan efektifitas membiasakan yang dilakukan guru dan peserta didik. Pendekatan ini yakni p eran nan sangat penting untuk menentukan berbuah tidaknya pembelajaran yang diinginkan tercapai. Hasil penelaahan merupakan perubahan perilaku secara keseluruhan enggak hanya salah satu aspek atau potensi kemanusiaan saja nan dilihat secara frakmentaris melaikan komprehensif.
Berdasarkan  berpunca  hasil  data  yang penyelidik  terima  kepada  hawa  indra penglihatan latihan PKn kelas IV SD Negeri ……………………… Kecamatan ……………………… Kabupaten ………………………, kompetensi radiks dari materi tentang Organisasi Pemerintahan  Tingkat Anak kunci, seperti Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri. Terlihat bahwa siswa papan bawah IV mengalami kesulitan dalam memahami cak bimbingan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ulangan buletin peserta yang sebelum dilakukan penelitian cacat memuaskan. Dari 22 peserta, cuma 10 murid nan memenuhi barometer  Tolok Ketuntasan Maksimal, sedangkan 12 siswa lainnya masih dibawah standar Tolok Ketuntasan Maksimal. Angka patokan Kriteria Ketuntasan Maksimal mata latihan PKn ialah 70.
Dari   permasalahan   di   atas   terlazim   adanya   garis haluan   baru   dalam pembelajaran siswa secara aktif. Agar KKM mata pelajaran PKn puas materi

Organisasi Tingkat Pusat yang di inginkan teraih pemeriksa merasa terdorong cak bagi mendiskripsikan proses bersumber hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) nan peneliti kerjakan dengan target hasil belaja r pesuluh dengan menunggangi metode kooperatif tipe make a match.
Berdasarkan bidang birit di atas, peneliti mengambil judul penelitian tindakan kelas ini, yaitu :
“Eskalasi Hasil Belajar Siswa Plong Mata Pelajaran PKN Materi Sistem Organisasi Pemerintahan Tingkat Pusat Kelas IV SD Kawasan ……………………… Melalui Metode Make a Match”.

B.  Rumusan Masalah

Dari parasan belakang di atas maka boleh di simpulkan menjadi rumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana hasil belajar siswa kelas IV sreg pembelajaran PKN di SD ……….
b. Bagaimana  cara  penerapan  metode   Make  a  Match  materi  Organisasi

Pemerintahan Tingkat Pusat pada inferior IV SD Provinsi ………………………?

c. Bagaimana  peningkatan  hasil  belajar  siswa  kelas  IV  SD  ………………………

Bungurasih plong pembelajaran PKN melalui metode Make a Match?

C.   Tindakan yang Dipilih

Tindakan yang diambil n domestik Pendalaman Tindakan Kelas yang berkolaborasi dengan guru kelas IV adalah memilih pengoptimalisasian pengusahaan sarana penerimaan kooperatif tipe Make a Match n domestik meningkatkan hasil belajar murid SD Negeri ……………………….
Dengan demikian, penggunaan media pengajian pengkajian Make a Match akan takhlik ciri khusus n domestik penelaahan materi Organisasi Tingkat Muslihat ain cak bimbingan PKn ini, dengan pembelajaran PAIKEM, tukar menyundak gembira, sparing dengan nyawa.

D.   Tujuan Pengkajian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka peneliti bisa merumuskan tujuan pengkhususan umpama berikut :
a.
Mengerti hasil belajar siswa kelas IV sreg penerimaan PKN di  SD Provinsi ……………………….
b.    Mengetahui  cara  penerapan  metode  Make  a  Match  materi  Organisasi

Pemerintahan Tingkat Siasat puas kelas IV SD Negeri ……………………… .

c.    Mencerna  peningkatan  hasil  berlatih  pesuluh  kelas  IV  SD  ………………………

Bungurasih pada pengajian pengkajian PKN melangkahi metode Make a Match?

E.  Kebaikan Penekanan

a. Bagi Murid

Hasil penelitian dengan metode Make a Match diharapkan hasil belajar pesuluh di papan bawah meningkat.
b. Bagi Guru

Apabila  hasil  penelitian  dirasakan  dapat  dijadikan  sebagai  bahan pertimbangan  para  guru  agar  boleh  menerapkan  metode  Make  a  Match sebagai usaha meningkatkan hasil berlatih petatar.
c. Bagi Sekolah

Dapat dijadikan misal bahan masukan bagi sekolah dalam upaya meningkatkan hasil membiasakan pesuluh.
d. Bakal Pemeriksa

Dapat menjadi suatu pengalaman praktis yang berfaedah sebagai realisasi da ri teori-teori yang diperoleh.
e. Buat Pembaca

Riset ini diharapkan dapat dijadikan sebagai mangsa reverensi bagi melakukan penelitian berikutnya.

F.   Ruang Lingkup Studi

Untuk    memencilkan    pembahasan    yang    melebar,    maka    peneliti menekankan  keburukan  ini  plong  pemakaian  metode  Make  a  Match  internal

Meningkatkan Hasil Sparing Sreg Pendedahan PKN Inferior IV SD …………

G.   Definisi Operasional

Tajuk penelitian tindakan papan bawah nan penulis angkat merupakan berjudul “Kenaikan Hasil Sparing Pesuluh Plong Mata Pelajaran PKn Materi Sistem Organisasi Pemerintahan Tingkat Kancing Papan bawah IV SD Kawasan ……………………… Melalui Metode Make a Match”.
Agar tidak terjadi salah maslahat dalam penulisan, perlu penulis menguraikan bilang istilah sebagai berikut :
Eskalasi                     :  Tolak  ukur  atau  hasil  berlatih  petatar   pada  mata tutorial PKn.
Hasil membiasakan                    : Hasil   belajar   diperoleh   dari   nilai   kognitif   yang dilakukan lega setiap siklus ialah siklus I dan siklus II.
PKN                                : Mata pelajaran yang mengarah pada materi tentang sistem organisasi tingkat buku.
Make a Match                 : Metode yang digunakan untuk menampilkan materi PKn dengan ancang-langkah sebagai berikut: (1) penyiapan beberapa kartu soal dan jawaban (2) pembagian keramaian (3) suhu menguraikan cara kerja tiap
kelompok.    (4)    pencarian    antitesis    kartu cak bertanya   dan   jawaban   (5)   penyerahan   kepada

kelompok penilai (6) pembagian kelompok ulang, agar kelompok penilai bisa merasakan seperti mana gerombolan 1 dan 2 kelompok pengetes dipecah menjadi dua padahal keramaian 1 dan kelompok dua  gabung menjadi satu dan main-main menjadi kerubungan tester.

H.  Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dalam skripsi ini penulis susun secara sistematik bermula bab ke gapura yang terdiri dari lima antara bab satu ke bab yang lainnya merupakan integritas atau keesaan yang tidak terpisah serta menyerahkan gambaran secara lengkap dan jelas tentang eksplorasi dan hasil -jadinya.
Akan halnya sistematika pembahasan selengkapnya sebagai berikut :

BAB I                  :  Pendahuluan  meliputi:  Parasan  Bokong  Problem,  Rumusan Ki aib, Tindakan Nan Dipilih, Maksud Penekanan, dan Sistematika Pembahasan.
Gapura II                :  Kajian  teori  menutupi:  Hakikat  Pengajian pengkajian  PKN,  yaitu Pengertian Pendidikan Kebangsaan, Tujuan PKN Tingkat SD/Misoa, Ira Lingkup PKN Tingkat SD/MI.  Hasil Belajar yaitu Pengertian Berlatih, Signifikasi Hasil Belajar. Pengertian Pembelajaran Kooperatif, Metode Make a Match merupakan membentangi Pengertian Metode Make a Match, Tujuan   Metode Make a Match,  Arti  dan  Kekeringan  Metode  Make  a  Match,

Tahap Pemakaian Metode Make a Match. Materi Organisasi

Tingkat Kunci meliputi Presiden, Wakil Presiden dan Nayaka.

BAB III              :  Prosedur  Pengkhususan  menghampari:  Metode  Penekanan,  Setting Penelitian, Karakteristik Subjek Penelitian, Variabel Yang Diselidiki, Rencana Tindakan, dan Data Mandu Peng umpulan.
BAB IV               :Hasil Eksplorasi dan Pembahasan menutupi: Hasil Penelitian, Pembahasan , Siklus I dan Siklus II.
BAB V                : Intiha meliputi: Simpulan dan Saran.

BAB II

Kajian TEORI

A.   Hakikat pembelajaran PKN

1.    Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah  civic education  mempunyai banyak pengertian dan istilah. Henry Randall Waite (1886) sebagaimana dikutip oleh Ubaidillah merumuskan konotasi civics sebagai berikut : “The science of citizenship, the relation of man, the individual, to man in organized collections, the tunggal in his relation to the state” (hobatan pengetahuan kewarganegaraan, hubungan  seseorang dengan  makhluk  lain  dalam  perkumpulan -perserikatan yang terorganisir, susunan seseorang orang dengan negara). Sementara itu Muhammad Numan Somatri, mengartikan civics merupakan bagaikan mantra kebangsaan yang menggosipkan hubungan antara manusia dengan institut-universitas yang terorganisir (organisasi sosial, ekonomi, garis haluan), dan ikatan sosok-individu dengan negara.
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan  untuk  mempersiapkan  warga  masyarakat  berpikir  kritis  dan
bermain  demokratis,  melalui  aktifitas  ki memasukkan  kognisi  kepada

generasi baru, tentang kesadaran bahwa demokrasi merupakan rajah umur masyarakat nan paling menjamin hak -hak umum.8
Adapun yang menyorongkan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah persuasi sadar untuk menyiapkan peserta didik yang diarahkan untuk menjadi patriot pembela nasion dan negara (warga negara yang baik). Pasal yang  berkaitan  dengan  pendidikan  kebangsaan  yaitu  pasal  3  UUD
1945 yang berbunyi hak dan muatan warga negara bagi turut serta intern pembedaan  negara  pasal  30  ayat  1  dan  hak  setia p  pemukim  negara  untuk memperoleh pengajaran pasal 31 ayat 1. 9

2.    Tujuan PKN Tingkat SD/Mi

Berlandaskan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Adapun Standar Isi Kurikulum Nasional, Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ditingkat SD/Misoa bermaksud mudah-mudahan pesuluh didik punya kemampuan sebagai berikut.10 a. Berpikir  secara  kritis,  rasional,  dan  kreatif  dalam  menanggapi  isu
kewarganegaraan.

b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas  n domestik  kegiatan  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara,  serta anti-korupsi.

8 Tim konsorsium 7 PTAI, Objek Perkuliahan Penataran PKN Mi (Surabaya: LAPIS PGMI, 2009), hal, 1-10
9 Zainul Ittihad Amin, Materi Pokok Pendidikan  Kebangsaan, (Jakarta : Sekolah tinggi
Terbuka, 2006) situasi, 1.24
10 PERATURAN Menteri Pendidikan Nasional  No. 22 Tahun 2006

c. Berkembang  secara   positif   dan   demokratis   bakal   membentuk   diri berdasarkan karakter-fiil publik Indonesia agar jiwa bersama dengan nasion-bangsa lainnya.
d. Berinteraksi dengan bangsa-nasion lain intern percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

3.    Ruang Lingkup PKN Tingkat SD/MI

Urat kayu   lingkup   ain   pelajaran   pendidikan   kewarganegaraan membentangi aspek-aspek sebagai berikut11 :
a. Persatuan dan ahadiat nasion, membentangi: semangat rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, tulah bujang, keutuhan
Negara   Kesatuan   Republik   Indonesia,   partisipasi   intern pembelaan negara, sikap positif terhadap Negara Kesendirian Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keseimbangan.
b. Norma,  hukum  dan  peraturan,  menutupi:  tata  tertib  dalam  kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di mahajana, qanun-peraturan  daerah,  norma-norma  dalam  kehidupan  berbangsa dan bernegaraan, sistem hukum dan kehakiman n asional.

11 Tim konsorsium 7 PTAI, Bahan Perkuliahan Penelaahan PKN MI, (Surabaya: LAPIS PGMI,2009), peristiwa 1-9

c. Nasib baik asasi cucu adam, meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan bahara masyarakat anggota publik, instrumen kebangsaan dan radas HAM, pemajuan, sanjungan dan preservasi HAM.
d. Kebutuhan  warga  negara,  meliputi:  semangat  gotong -royong,  harga  diri misal warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemandirian mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasidiri, kemiripan geta warga negara
e. Konstitusi  negara,  menutupi:  proklamaasi  kemandirian  dan  konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, sangkutan dasar negara dengan konstitusi.

B.   Hasil Belajar

1. Konotasi Sparing

Secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan, merupakan perubahan tingkah laku misal hasil dari interaksi dengan lin gkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.  Perubahan -peralihan tersebut akan nyata intern seluruh aspek tingkah laku.12
Menurut John Dewey, seorang ahli pendidikan Amerika Konsorsium berpangkal

peredaran  behavioural  approach,  mengemukakan  bahwa  belajar  yaitu proses peralihan nan terjadi plong diri seseorang melalui penguatan (reinforcement),  sehingga  terjadi  perubahan  nan  berperilaku  permanen  dan
12 Slameto, Sparing Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, ( Jakarta: Rineka Cipta, 1995), 2.

ersisten  pada  dirinya  laksana  hasil  pengalaman  ( learning  is  a change  of behaviour as a result of experience).13
Beberapa   pakar   pendidikan  juga   mendefinisikan   belajar   sebagai berikut:14
a. Robert M. Gagne

Belajar   adalah   perubahan   disposisi   atau   kemampuan   yang   dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiyah.
b. Robert M.W Travers

Belajar merupakan proses menghasilkan penyesuaian tingkah laris. c. Lee J. Cronbach
Sparing adalah perubahan perilaku umpama hasil dari camar duka d. Harold Spears
Dengan  kata  lain,  bahwa  sparing  ialah mengamati, membaca,  men iru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengimak sisi tertentu.
e. M C. Geoch

Belajar adalah perubahan performance sebagai hasil latihan.

13 Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar,  (Bandung: Terang Baru Algesindo,
1985), hal 14
14Agus Supriono, Cooperative Learning Teori Dan Apikasi Paikem, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2009), peristiwa 2

f.  William G. Morgan

Belajar adalah pergantian perilaku yang berwatak permanen laksana hasil dari pengalaman.
Dari penjelasan beberapa ahli, pengertian belajar di atas boleh disimpulkan   bahwa   membiasakan   merupakan   persilihan   tingkah   laku   yang diperoleh dari proses mendapatkan pemberitahuan yang sebelumnya belum tau menjadi tau serta camar duka sosok itu sendiri dengan proses berinte raksi lega lingkungan.

2. Pengertian Hasil belajar

Hasil membiasakan adalah sempurna-pola perbuatan, poin-nilai, signifikasi- konotasi, sikap-sikap, apresiasi dan kelincahan.15 Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa :
¾

Informasi verbal  yakni kapabilitas men gungkapkan pengetahuan dalam rencana bahasa, baik lisan alias tertulis.
¾

Ketangkasan  jauhari  yaitu  kemampuan  mempresentasikan  konsep maupun lambang.
¾

Politik kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri.

15 Ibid hal 5

¾

Keterampilan  motorik merupakan kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani  dalam  urusan  dan  koordinasi,  sehingga  terwujud  otomatisme gerak tubuh.
¾

Sikap  adalah  kemampuan  memufakati  atau  memurukkan  objek  berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Menurut Nana Sudjana, hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, adalah nyata testimoni nan disusun secara terancana, baik testimoni termaktub, tes lisan maupun pengecekan perbuatan. Padahal S. Nasution, berpendapat bahwa hasil belajar yaitu suatu p erubahan pada bani adam yang berlatih, tidak semata-mata akan halnya deklarasi, tetapi juga mewujudkan  kecakapan  dan  penghayatan  internal  diri  pribadi  bani adam  yang
belajar.16   Menurut Bloom, Untuk mengarifi hasil belajar dibedakan menjadi

tiga ranah yakni bagaikan beri kut:17

a.   Ranah Kognitif

Ranah  serebral  yaitu  berkenaan  dengan  hasil  sparing  intelektual yang terdiri dari enam aspek ialah siaran, perhatian, pemahaman, aplikasi, análisis, síntesis, dan evaluasi.

16 Kunandar, Anju Mudah Investigasi Tindakan Kelas Sebagi Dam Profesi Guru, (Jakarta, PT Emir Grafindo Perseda : 2010), 276
17 Agus Supriono, Cooperative Learning Teori Dan Apikasi Paikem, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2009), situasi 6-7

b.   Sepi Afektif

Sunyi afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yaitu pengajian pengkajian, jawaban, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Contoh hasil belajar afektif yaitu, kemauan untuk menerima pelajaran pecah guru, pikiran siswa terhadap apa yang dijelaskan guru, bertanya, dan lain -enggak.
c.   Hening Psikomotor

Hening psikomotor yaitu hasil membiasakan kecekatan, dan kemampuan bertindak  individu.  Ada  enam  tangga  keterampilan,  yakni:  aksi sekalian  (kecekatan  pada  operasi  nan  tidak  sadar),  keterampilan aksi-persuasi   dasar,   kemampuan   perseptual   (melepaskan   optis, auditif, dan motoris), kemampuan dibidang jasmani (misalnya kekuatan, ketepatan), gerakan-kampanye skill, dan kemampuan nan berkenaan dengan gerakan ekspresif dan interpreatif.
Lindgren  sekali lagi  membentangkan  bahwa  hasil  belajar  dapat  dilihat melintasi kecakapan, informasi signifikasi dan sikap. 18
Hasil belajar merupakan kemampuan siswa yang dilakukan pada saat proses penerimaan dan boleh dilihat semenjak nilai ulangan harian ( formatif), biji  ulangan  perdua  semester  ( subsumatif),  dan  nilai  ulangan  semester (sumatif).  Dalam  pengkhususan ini  yang dimaksud  dengan  hasil  belajar  murid

18 Agus Suprijono, Kooperatif Learning Teori Dan Aplikasi Paikem, (Yogyakarta, pustaka pelajar : 2009), keadaan 6-7

adalah    hasil  nilai  ulangan  harian  yang  diperoleh  semenjak  petatar  dalam  mata pelajaran PKn khususnya materi Organisasi Pemerintahan Tingkat Kiat.
Ulangan buletin ini terdiri berpangkal  seperangkat tanya yang harus dijawab makanya pelajar, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang sedang dibahas.
Adapun faktor-faktor  yang dapat mempengaruhi hasil belajar petatar antara lain yaitu faktor internal dan eksternal 19.
1.   Faktor Internal

Belajar  yang merupakan proses kegiatan untuk menidakkan tingkah larap pelajar jaga, ternyata banyak faktor nan mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi proses membiasakan petatar adalah faktor yang dari berpunca dalam atau pada diri turunan masing -masing.
Secara  spesifik faktor-faktor  internal  yang mempengaruhi  aktifitas belajar adalah misal berikut :
a.   Motivasi

Cemeti akan muncul dan bertelur apabila seseorang itu cak hendak berusaha, mempunyai keinginan dan memperbaiki diri untuk belajar lebih baik.
b.   Konsentrasi

Konsentrasi memusatkan pikiran terhadap membiasakan nan dicapai.  Di  intern  aktifitas  sparing  pemfokusan  sangat  diperlukan
19 Anissatul Mufarokah, M. Pd, kebijakan belajar mengajar, (Yogyakarta: Teras, 2009) peristiwa 31

karena apabila seseorang itu tidak pemusatan dengan barang apa nan dihadapinya  maka  belajar  tidak  maksimal.  Oleh  karena itu  dengan konsentrasi aktivitas nan dilakukan akan memenuhi sasaran bagi mencapai tujuan belajar itu sendiri.
c.   Reaksi

Dalam kegiatan berlatih diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental, sebagi wujud reaksi. Dengan adanya diri siswa maka proses belajar mengajar akan menjadi umur, siswa tidak hanya duduk, diam,  mendengarkan  atau  obyek  dalam  penelaahan  melainkan sebagi subyek dalam belajar.
2.   Faktor eksternal

Selain faktor-faktor di atas juga terwalak faktor tidak yang boleh mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor so sial :
a.    Faktor Keluarga

Batih yang tidak kontributif bisa mengakibatkan siswa menjadi indolen untuk belajar. Misalnya, cara orang tua  mendisiplinkan maupun ki melatih anak internal belajar, adanya hubungan antar   anggota keluarga  yang tidak  baik,  suasana  rumah,  hal  ekonomi  internal apartemen tangga, pengertian ibu bapak dan latar bokong belakang keluarga.

   Faktor Sekolah

Kondisi sekolah yang kurang memadai lagi berpengaruh buruk terhadap belajar petatar. misalnya metode dalam pengajian pengkajian abnormal, kurikulum pembelajaran, hubungan antara master dengan pesuluh tekor, kedisiplinan, peralatan sekoalah kurang.
c.   Faktor Masyarakat

Mahajana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian anak asuh. Bentuk-rajah awam, media masa (tv, radio, bioskop)  mandu  bergaul  anak  dengan  publik  akan  berkarisma n domestik belajar siswa.20

C.   Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning).
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja keramaian teragendakan bentuk-rancangan nan lebih dipimpin makanya suhu atau diarahkan oleh guru. Secara awam pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan -soal serta menyediakan korban-bulan-bulanan dan maklumat yang dirancang cak bagi membantu peserta didik menyelesaikan masalah.21

20 Ibid hal 32
21Agus Supriono, Cooperative Learning Teori dan Apikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2009), keadaan 55

D.   Metode Make a Match

1. Pengertian Metode Make a Match
Metode make a match ialah metode pembelajaran aktif bagi mendalami atau melatih materi yang telah dipelajari.  Hal-keadaan  yang wajib diperhatikan dalam penggunaan metode Make a Match adalah sebuah kartu. Kartu  tersebut  terdiri  dari  kartu  yang  berisi  pertanyaan  dan  jawaban, demikian salah satu metode yang dikembangkan maka dari itu Lorna Curran, sreg tahun 1994.22

Rancangan 2.1 Contoh make a match

2. Pamrih Metode Make a Match

Tujuan  yang  cak hendak  dicapai  dalam  pembelajaran  sangat mempengaruhi dalam memilih metode pembelajaran. Setidaknya, ada tiga

22  Miftahul huda, M.Pd, cooperatif learning metode, teknik, struktur dan komplet penerapan,
(Yogyakarta: Pustaka Peserta, 2011), hal 135

tujuan penerapan metode make a match, yaitu: (1) studi materi (2)

menggali materi dan (3) bagi selingan. 23

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Make a Match.

Tidak   ada   metode   penelaahan   terbaik   nan   semupakat   untuk digunakan internal proses berlatih mengajar. Setiap metode pembelajaran mempunyai  kekuatan  dan  kekurangan.  suatu  metode  pembelajaran  nan baik adalah sesuai kerjakan materi dan tujuan pendedahan yang disampaikan makanya pengajar. Seperti halnya metode make a match yang mendalami materi dengan menggunakan kartu berisi soal dan jawaban sehingga membantu siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Metode ini n kepunyaan guna dan kehilangan sebagai berikut:
a)  Kelebihan metode Make a Match

Adapun fungsi dari metode make a match yaitu ibarat berikut:

1)  Dapat  meningkatkan  aktivitas  belajar  siswa,  baik  secara  kognitif maupun fisik.
2)  Metode  yang  menyurutkan,  karena  terdapat  permai nan  kerumahtanggaan pendedahan.
3)  Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi nan dipelajari.

4)  Dapat meningkatkan motivasi berlatih siswa.

23     http://s4iful4min.blogspot.com/2011/02/metode-make-match-tujuan-persiapan-dan.html,   3
April 2012.

5)  Efektif  laksana   alat angkut  melatih   kepahlawanan   peserta   untuk   tampil presentasi.
6)  Efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai hari un tuk membiasakan.

b)  Kekurangan metode make a match

Selain   arti,   metode   make   a   match   sekali lagi   mempunyai kelemahan bagaikan berikut:
1)  Kurangnya waktu intern pembelajaran.

2)  Kalau  tidak  menujukan  pesuluh  dengan  baik,  saat  penyajian  banyak siswa yang kliyengan dalam pembelajaran.
3)  Hukuman  yang  digunakanan  harus  hati-lever  dan  bijaksana  karena boleh mewujudkan siswa sipu.
4)  Timbul  rasa  bosan  apabila  metode  tersebut  privat  pembelajaran dilakukan secara terus-menerus.
Dilihat dari kelebihan dan kelemahan di atas dapat disimpulkan bah wa metode make a match boleh meningkatkan aktifitas peserta dalam belajar serta melatih kewiraan siswa dalam proses belajar mengajar. Tetapi apabila metode   tersebut   tidak   dipersiapkan   dengan   baik   maka   pada   saat penataran akan banyak waktu yang tersepak dan apabila metode tersebut dilakukan secara terus menerus siswa akan timbul rasa bosan.

4. Tahap Eksploitasi Metode Make a Match

Menurut  Agus  Suprjono,  tahap  pendayagunaan  metode   make  a  match

diterapkan dengan menggunakan langkah -langkah perumpamaan berikut:24

a.   Guru membagi gerombolan

Temperatur   menjatah   komunitas   kelas   menjadi   tiga   kelompok. Kelompok pertama yaitu kelompok pembawa kartu nan berisikan soal. Keramaian kedua mengangkut karcis yang berisikan jawaban, sedangkan kelompok ketiga andai keramaian pengetes atau panitia. Posisi kerumunan takhlik huruf U, dimana kelompok purwa dan kelompok kedua sebabat dan saling berhadapan sedangkan kerubungan ketiga berada diantara gerombolan satu dan dua.
b.   Membunyikan peluit

Guru membunyikan alarm mudahmudahan kelompok permulaan atau keramaian kedua saling bergerak untuk beradu, mencari pasangan soal-jawaban nan sekata. Hawa mengasihkan kesempatan kepada peserta kerjakan berdiskusi, hasil diskusi ditandai oleh pasangan-pasangan antara kelompok pengusung kartu jawaban.
c.   Penilai

Pasangan-dagi yang sudah terlatih wajib menunjukkan pertanyaan-jawaban kepada kelompok pengetes. Kerubungan ini kemudian

24  Agus Supriono, Cooperative Learning Teori Dan Apikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka
Pesuluh, 2009), hal 94

membaca   apakah   pasangan   soal -jawaban   itu   cocok.   Setelah penilaian dilakukan diatur sedemikian rupa antara kelompok pertama dan kedua kiranya bersatu kemudian memposisikan dirinya menjadi kelompok penguji.
d.   Penyedia

Guru bertugas memfasilitasi diskusi karena peserta belum mengetahui   karuan   apakah   penilaian   mereka   ter-hormat   atas   cak bertanya – jawaban.  Fasilitator  ini  dilaksanakan  untuk  memberikan  kesempat an kepada seluruh peserta jaga mengkonfirmasikan hal -hal  yang mereka bagi   yaitu   mematangkan   pertanyaa -jawaban   dan   melaksanakan penilaian.
Berdasarkan uraian di atas adapun langkah -langkah nan dilakukan privat pengkajian secara singkat bagaikan berikut :
1) Guru melakukan apresiasi sebelum melakukan penerimaan

2) Suhu  memberikan  penjelasan  secara  singkat    yang  berkaitan  dengan materi yang dipelajari maka dari itu siswa.
3) Guru menyiapkan beberapa karcis nan mandraguna tanya dan jawaban yang cocok dengan materi.
4) Temperatur membagi petatar menjadi 3 keramaian. Kerubungan 1 pengiring tiket jawaban kelompok 2 pembawa tiket pertanyaan dan kelompok 3 penilai.
5) Siswa  mencari  pasangan  yang  mempunyai  kartu  yang  seia  dengan kartunya. Setelah siswa mendapatkan pasangan karcis yang sejadi, kartu tersebut diberikan kepada kelompok 3 atau kelompok tester.
6) Guru melihat hasil pasangan tiket sambil menilai kerja sama. Kegiatan tersebut dilakukan sebatas sejumlah keramaian secara bergilir disesuaikan dengan waktu nan tersuguh.
7) Guru  mengakhiri  kegiatan  sparing  dengan  membimbing  peserta  bagi menyimpulkan materi yang sudah lalu dipelajari dan memberikan tugas rumah.

E.   Materi Organisasi Pemerintahan Tingkat Ki akal
Organisasi rezim di tingkat daya sangatlah penting bakal diketahui anak sejak dini. Kiranya anak kian memaklumi tentang rangka barang apa saja yang berhubungan dalam pemerintahan. Rezim merupakan organ nan menjalankan kekuatan pemerintah. Sistem pemerintahan adalah keseluruhan atau kebulatan yang utuh dari komponen-komponen pemerintahan yang terdiri dari lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. 25

Organisasi  pemerintahan  di  tingkat  pusat  adalah  lembaga -tulangtulangan negara yang duduk dalam pemerintahan siasat ialah presiden, wakil presiden dan para menteri.
Berikut  ialah  bagan  kawin  pemerintahan  sebelum  dan  sesudah

Amandemen UUD 1945.

25 Sri wilujeng dyah, PKN Sekolah Sumber akar Kelas IV (Jakarta: Erlangga, 2006), 58

Bagan 2.I

Buram 2.2

1. Presiden

Kerangka 2.1

Gambar  2.1  di  atas  adalah  bagan  sekaligus  tera  yang  pernah
menyambut  seumpama  presiden  Indonesia.  Berikut  adalah  presiden  dan  wakil presiden yang menjaban sreg perian saat ini.

Gambar 2.2

Presiden Republik Indonesia yaitu kepala negara serampak kepala tadbir Republik Indonesia. Presiden dan konsul presiden dipilih intern satu n antipoda secara sekaligus oleh rakyat. Jodoh calon presid en dan wakil kepala negara diusulkan maka dari itu organisasi politik politik atau perkariban partai garis haluan peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilahan mahajana.

Calon koteng presiden dan wakil kepala negara harus pemukim negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan tak, lain  pernah  mengkhianati  negara,  serta mampu  secara  jasmani  dan  rohani untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai presiden dan wakil presiden. Laksana presiden dan atasan pemerintahan kepala negara n kepunyaan kekuasaan antara tak :
a. Kekuasaan legislatif

Yakni sebuah bagan negara yang memegang kekuasaan menciptakan menjadikan undang-undang. Yang terdiri berpangkal dari DPR, MPR, dan DPD.
b. Kekuasaan eksekutif

Gambar yang memegang kekuasaan pemerintahan. Yang terdiri berpangkal presiden, wakil presiden, dan para menteri.
c. Kekuasaan sebagai kepala negara

Adalah buram yang memegang kekuasaan dibidang kehakiman. Yang terdiri dari mahkamah agung (MA), meja hijau kontitusi (MK), uang lelah yudisial (KY).

2.    Duta Presiden

Wakil kepala negara adalah orang yang dipilih sebaga i pembantu presiden intern masa jabatan.

Tulang beragangan 2.3 Wakil kepala negara

Dalam menjalankan tugasnya presiden dibantu oleh wakil kepala negara. Wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat yang sejodoh dengan kepala negara melalui pemilu. Tugas duta presiden sama beratnya dengan tugas kepala negara.

Jika presiden sesekali meninggal dunia, nangkring, diberhentikan alias tidak boleh menjalankan kewajibannya kerumahtanggaan  masa jabatan yang telah ditentukan maka konsul kepala negara akan menggantikannya. Presiden dan konsul presiden harus dapat bekerjasama dengan baik. UUD 1945 tidak menentukan makin lanjut tentang tugas konsul presiden. Pasal 4 ayat 2 UUD 1945 sahaja menamakan bahwa tugas wakil kepala negara adalah kontributif presiden intern melaksanakan tugasnya.
3. Menteri

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya presiden juga dibantu oleh menteri-menteri negara yang membidangi urusan tertentu intern pemerintahan. Menteri-nayaka tersebut diangkat, diberhentikan, dan bertanggung jawab kepada presiden. Padahal pembentukan, pengubahan, dan pembubaran departemen negara diatur dalam undang-undang. Kepala negara juga punya kewenangan untuk membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberi kan nasihat kepada presiden.
Bangsa Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial. Privat kabinet presidensial, menteri dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu menteri koordinator, nayaka departemen, dan menteri negara.

Ki III

PROSEDUR Riset TINDAKAN Papan bawah

A.   Metode Penelitian
Penelitian   ini   adalah   penelitian   tindakan   kelas   ( Classroom   Action Research) dengan penerapan metode make a match, yang bisa dijadikan cara buat  mengerjakan  pembelajaran.  Investigasi  tindakan  papan bawah  ini  menggunakan gambar  kooperasi,  yang  mana  master  merupakan  mitra  kerja  pemeriksa.  Masing – masing menunggalkan  perhatiannya  pada  aspek –aspek  penelitian tindakan  kelas nan sesuai dengan keahliannya, master sebagai praktisi pembelajaran, peneliti sebagai perancang dan pengamat yang kriti s.26

Privat  pelaksanaannya,  Penelitian  Tindakan  Kelas  (PTK)  ini menggunakan sempurna Kemmis dan Taggart, yang menyatakan bahwa dalam satu siklus terdiri berbunga empat langkah anak kunci adalah: (1) perencanaan ( planning), (2) aksi  atau  tindakan     (acting),  (3)  observasi  (observing),  dan  (4)  refleksi (reflecting)  atau  evaluasi.  Secara  keseluruhan,  empat  tahapan  dalam  PTK tersebut membentuk satu siklus PTK yang digambarkan dalam bentuk spiral. Seperti mana pada gambar dibawah ini.

26 Mohammad Asrori, Investigasi Tindakan Inferior (Bandung: CV Bacaan Prima, 2007), 158.

Gambar 3.1: Alur Penelitian Tindakan Kelas

Gambar 3 di atas dapat dijelaskan bahwa rangka/rencana tadinya, merupakan kegiatan nan dilakukan sebelum mengadakan penyelidikan. Peneliti menyusun rumusan masalah, intensi dan membuat rencana tindakan tersurat di dalamnya instumen pengkhususan dan perkakas pembelajaran. Kemudian pelaksanaan kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan maka dari itu

peneliti andai upaya meningkatkan hasil berlatih peserta dengan diterapkannya model penelaahan kooperatif macam Make a Match (mengejar pasangan). Selanjutnya  refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan menimang hasil atau dampak dari tindakan nan telah dilakukan. Hasil berpokok refleksi tersebut di susun lembaga berikutnya. Bentuk/kerangka yang direvisi, beralaskan hasi l refleksi  dari  pengamat  membentuk  rancangan  nan direvisi  cak bagi  dilak sanakan lega siklus berikutnya.

B.   Setting Penelitian dan Subjek Penelitian

1. Setting Pendalaman

a.    Kancah Penelitian

Riset dilakukan di SD Area ………………………, Waru -Sidoarjo. Tempat yang politis yang mudah dijangkau untuk dilakukan penelitian dan pencarian data.
b.   Waktu dan Lama Penekanan

Setiap siklus terdiri bersumber 2 kali pertemuan/tatap muka dan setiap pertemuan berlangsung 2X35 menit sesuai jadwal tuntunan di SD Darul Bungurasih, Waru-Sidoarjo. Penelitian dilakukan plong wulan Mei penutup sampai dengan wulan Juni semester genap hari latihan 2012/2013.
Tentang jadwal pelaksanaan setiap siklus yakni sebagai berikut :

¾  Tanggal 14 Juni 2018 mata pelajaran PKn kelas IV siklus I

¾  Tanggal 19 Juni 2018 mata pelajaran PKn kelas IV siklus II

c.    Siklus PTK

Pengkhususan Tindakan Papan bawah ini dilaksanakan melampaui dua siklus, bagi mengawasi penerapan metode make a match terhadap materi adapun organisasi tingkat ki akal kelas IV n domestik mengikuti pelajaran PKn. se tiap siklus dilaksanakan membentangi prosedur perencanaan ( planing), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflektion) atau evaluasi.
2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah Siswa kelas IV SD Negeri ………………………, Waru-Sidoarjo. Yang berjumlah 22 peserta, yang terdiri berbunga 12 kuntum dan 10 laki-laki.

C.   Plastis nan Diselidiki

Sehubungan  dengan  masalah  yang  sudah lalu  dikemukakan,  maka  pada penelitian ini variabel penelitiannya dibedakan menjadi tiga variasi yaitu :
a. Variabel input              : Pesuluh kelas IV SD Daerah ………………………
b. Luwes output            : Hasil belajar siswa.

c. Elastis proses            : Metode pembelajaran Make a Match.

D.   Rancangan Tindakan

Adapun rencana tindakan pada setiap siklus diuraikan sebagai berikut :

1) Siklus I

a. Tahap Perencanaan.

N domestik tahap perencanaan ini, pemeriksa sudah lalu mempersiapkan susuk tindakan yang dilakukan ialah:
1. Membuat    bentuk    pembelajaran    dengan    metode    pendedahan kooperatif tipe Make a Match (mencari pasangan).
2. Membuat instrumen pembelajaran (RPP, lawe kerja pelajar pre test dan post test).
b. Tahap Pelaksanaan.

Sreg tahap pelaksanaan ini, pemeriksa telah menyusun langkah -awalan kegiatan pembelajaran yaitu seumpama berikut:
1. Temperatur menyiagakan bilang kartu yang berisi materi tentang organisasi tingkat pusat, satu bagian kartu cak bertanya dan bagian lainnya tiket jawaban.
2. Suhu   meminta   siswa   membentuk   kerubungan   sesuai   dengan   keberagaman kelamin. Dan terbentuk menjadi tiga keramaian. Kelompok pertama pemegang cak bertanya pertanyaan, gerombolan kedua pemegang jawaban, dan kerumunan ketiga sebagai penilai berusul hasil dari kelompok 1 dan 2.
3. Setiap   kelompok   satu   dan   dua   mendapatkan   sebuah   kartu   yang bertuliskan soal/jawaban.
4. Siswa ki memenungkan jawaban/tanya dari kartu yang dipegang.
5. Siswa mencari teman tiket yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan Susilo Bambang Yudhoyono dengan tiket yang bertuliskan pertanyaan “taukah kamu, siapakah yang memimpi ketua pemerintahan di Indonesia sekarang?”.
6. Setiap  pelajar  yang  boleh  mencocokkan  kartunya  kepada  kelompok penilai sebelum batas waktu diberi poin dan dorpres nyata buku dan pensil.
7. Apabila   murid   bukan   dapat   mencocokkan   kartunya   dengan   karcis temannya (lain dapat menemukan kartu soal ataupun kartu jawaban) akan mendapatkan ikab, yang telah disepakati bersama.
8. Setelah satu babak radu, kartu dikocok lagi dan gerombolan suatu, dua gabung menjadi suatu penukar bermula kerubungan tiga kelompok pengevaluasi sedangkan kelompok pengevaluasi dipecah menjadi dua kerjakan melakukan sebagai halnya gerombolan 1 dan 2 yakni pemegang kartu pertanyaan dan kartu jawaban.
c. Tahap Pengamatan.

Dalam  tahap  pengamatan  ini,   peneliti  akan  mengamati  kegiatan penelaahan yang sudah tersusun yakni:
1. Situasi   kegiatan   membiasakan   mengajar   dengan   memperalat   metode penelaahan kooperatif tipe Make a Match.
2. Aktifitas petatar sejauh proses pembelajaran.

3. Kemampuan pesuluh privat mengemukakan ide, pendapat ataupun jawaban
4. Kemampuan peserta internal berkomunikasi (berpendapat) dengan bahasa yang baik dan benar.

d. Tahap Refleksi.

Internal tahap refleksi ini, adapun yang perlu dilakukan oleh peneliti yaitu:
1. Merefleksi proses pembelajaran yang mutakadim terlampiaskan.

2. Mencatat kendala-kendala yang dihadapi sepanjang proses pembelajaran.

2) Siklus II

Apabila privat siklus I hasil penerimaan nan diberikan belum tercapai,  maka  dilakukan  pengkolaborasian  dengan  master  buat menindaklanjuti penelaahan siklus II dan menutupi kekurangan pada siklus I dengan menerapkan awalan–langkah bagaikan berikut:
1) Tahap Perencanaan.

Pengkaji membuat lembaga pembelajaran berdasarkan hasil berlatih refleksi lega siklus pertama. Yang mana pada siklus pertama belum dapat teratasi dan pada siklus kedua guru dengan peneliti mengamalkan pemecahan persoalan  nan  belum  dapat  teratasi  pada  siklus  pertama.  Misalnya dalam  kejadian  pembuatan  RPP,  menyiagakan  bahan  ajar,  ekspansi program tindakan (action) siklus II.

2) Tahap Pelaksanaan.

Guru atau peneliti melaksanakan pembelajaran kooperatif jenis Make a  Match  (mengejar  tampin)  berdasarkan  rencana  pembelajaran  hasil refleksi lega siklus mula-mula.
3) Tahap Pengamatan.

Pengkaji melakukan pengamatan terhadap aktifitas penataran metode kooperatif tipe Make a Match seperti pada siklus pertama.
4) Tahap Refleksi.

Pemeriksa dan guru mengerjakan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua seperti pada siklus permulaan, serta menganalisis bagi takhlik konklusi  atas  pelaksanaan  pembelajaran  da lam  meningkatkan  hasil sparing   siswa   pada   pembelajaran   PKN   papan bawah   IV   SD   Darul   Ulum Bungurasih, Waru-Sidoarjo.

E.   Data dan Pendirian Pengumpulannya

1.  Amatan Data

Data adalah suatu hal nan diperoleh dilapangan ketika melakukan penelitian dan belum dikerjakan. Data men urut jenisnya dibagi menjadi dua yaitu: data kualitatif dan data kuantitatif.
a.   Data Kualitatif

Data  yang disajikan  dalam bentuk ferbal,  bukan  dalam rancangan biji.   Dalam   penajaman   ini   data   kualitatif   termasuk   suplemen,
dikarenakan studi ini tersurat pe nelitian kuantitatif. Yang termasuk data kualitatif yakni:
¾  Cerminan umum SD Kawasan ……………………… Waru-Sidoarjo.

¾  Pelaksanaan   penerimaan   make   a   match   di   SD   ………….

b.  Data Kuantitatif

Data yang terbentuk angka statistik. Data inilah yang menjadi data utama dalam penelitian ini. Yang termasuk data kuantitatif adalah:
¾  Administrasi pembelajaran koopera tif varietas make a match di SD Darul

Ulum Bungurasih Waru-Sidoarjo.

¾  Hasil membiasakan petatar di SD Negeri ……………………… Waru -Sidoarjo.

2.  Teknik Pengumpulan Data

Pada penumpukan data nan dilakukan makanya penyelidik dengan bantuan hawa papan bawah umpama kolaborasi dijadikan landasan untuk mengerti tingkat kemenangan  dan  prestasi  hasil  belajar  pelajar  dalam  proses  pembelajaran melalui metode make a match yang terkait dengan materi jaga sistem pemerintahan  tingkat pusat ain pelajaran PKn  papan bawah IV  SD Kawasan ……………………… Waru-Sidoarjo. Mengenai teknik pengumpulan data yang digunakan oleh pemeriksa sebagai berikut: Observasi dan Wawancara, tes dan dokum entasi.

a.   Observasi

Observasi dilakukan lakukan mengupas kondisi, situasi, proses dan perilaku pada detik proses penataran berlangsung, yaitu dari tahap sediakala hingga tahap intiha. Dalam hal observasi dipergunakan untuk mengetahui data  adapun  aktivitas  siswa  yang  dilaksanakan  oleh  peneliti  melalui rayon pengamatan aktifitas siswa.
Observasi juga dilakukan penyelidik dalam hal ini mahasiswa untuk mengamati guru mata kursus selama penerimaan berlangsung melangkahi lembar pengamatan temperatur.
b.  Interviu

Metode  ini  digunakan  kerjakan  memperoleh  data  mengenai  hasil belajar dalam pengajian pengkajian PKn selama ini, serta menemukan kesulitan apa cuma yang dihadapi suhu selama proses penataran.
c.   Validasi

Pemberian tes dilakukan bagi memperoleh data hasil belajar siswa. tes hasil belajar ini digunakan kerjakan mencerna peningkatan hasil belajar siswa. Peneliti menciptakan menjadikan tes riil tes tulis dalam bentuk objektif seleksian ganda pada siklus I dan siklus II nan diberikan kepada pelajar setiap penghabisan siklus.
d.  Dokumentasi

Metode  ini  digunakan  untuk  memperoleh  data  adapun  hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn. Dan juga sebagai data penunjang

seperti halnya dokumentasi adapun memoar SD Distrik ………………………, visi dan misi sekolah, rekaman sekolah, struktur organisasi sekolah.

3.  Teknik Analisis Data

Analisis data yaitu satu proses mengolah dan menginterpretasi data dengan tujuan untuk mendudukan   berbagai laporan sesuai dengan fungsinya sehingga memiliki makna dan arti nan jelas sesuai dengan harapan penelitian.
Menurut Sudjana, bahwa bagi menghitung presentase menggunakan rumus andai berikut :27
P = f  x 100%

Falak

Maklumat :

P = Prosentase yang akan dicari

f = Jumlah seluruh kredit jawaban yang diperoleh
Cakrawala = Jumlah item pengamatan dikalikan skor nan diperoleh peserta. Sementara itu rata – rata kelas dihitung dengan menggunakan rumus : X = ∑x
N

27 Sudjana, Evaluasi Hasil Belajar (Bandung: Pustaka Martiana, 1988), 131.

Informasi :

X = Rata – rata (mean)

∑x = Jumlah seluruh skor

Falak = Banyaknya subjek

Hasil  penajaman  yang  telah  diperoleh  tersebut  diklasifikasikan  dalam bentuk   penyekoran   angka   siswa   dengan   menggunakan   Kriteria   Tolok Penilaian SD Darul Ulum Bungurasi sebagai berikut :
90 – 100          : Sangat baik

70 – 89            : Baik

50 – 69            : Cukup

0 – 49              : Lain baik28

F.  Indikator Kinerja

Indikator kinerja yaitu satu kriteria nan digunakan untuk melatih tingkat keberhasilan dari kegiatan PTK intern meningkatkan ataupun memperba iki mutu PMB di kelas bawah.29
Dalam   hal   ini   nan   digunakan   bakal   menentukan   keberhasilan pelaksanaan metode penelaahan yakni hasil belajar siswa setelah mengikuti pengajian pengkajian dengan metode pembelajaran nan dikembangkan.

40-41

28 Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hal

29 Kunandar, Ancang Mudah Penelitian Tindakan Kelas umpama Pengembangan Profesi Suhu,

(Jakarta, PT Sinuhun Grafindo Perseda : 2010), keadaan 127

G. Tim Peneliti dan Tugasnya

Penelitian tindakan inferior ini dilakukan oleh peneliti dengan bantuan guru inferior yaitu Saraswati S.Pd. SD ibarat kolaborasi, kerumahtanggaan proses penerimaan yang berguna untuk meningkatkan hasil belajar siswa papan bawah IV terkait dengan materi pengajaran akan halnya organisasi ufuk ingkat kunci, ain cak bimbingan PKn di SD Kawasan ……………………… melalui metode kooperatif tipe make a match.
Guru dan pengkaji merupakan kesatuan cak regu yang bertugas kerjakan mengincarkan proses kegiatan pembelajaran agar berjalan efektif dan juga diharapkan bisa meningkatkan motifasi serta semangat belajar pelajar buat timbrung aktif privat kegiatan belajar mengajar. Sehingga akan dapat diketahui sepanjang mana pemahaman siswa akan materi pembelajaran.
Peneliti di sini bertugas untuk melakukan penggalian terhadap kinerj a guru privat melaksanakan proses pembelajaran siswa, selain itu peneliti merupakan orang  yang  menyediakan  perangkat  pengajian pengkajian  (RPP),  sedangkan  guru bertugas bakal mempraktikkan apa yang mutakadim tertera dalam RPP yang mutakadim disediakan maka itu peneliti. Selai n itu peneliti bersama hawa bertugas melakukan evaluasi terhadap hasil belajar peserta, sehingga nantinya peneliti dan guru dapat mengetahui sejauh mana prestasi berlatih siswa, apakah sudah mengalami peningkatan ataupun tidak.

BAB IV SILAHKAN DOWNLOAD Plong LINK BERIKUT karena banyak sekali tabel-tabel dan grafik

BAB V

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Kesimpulan berusul hasil eksplorasi ini adalah ibarat berikut:

1. Hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri ……………………… UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan ………………………  sreg pengajian pengkajian PKn belum menyentuh ketuntasan. Situasi ini dikarenakan metode plong pelaksanaan pengajian pengkajian yang sudah lalu dilakukan masih monoton.
2. Penerapan  penelaahan  kooperatif  varietas  make  a  match  menggunakan  6 langkah yaitu (1) penyiapan sejumlah kartu tanya dan jawaban (2) pembagian gerombolan (3) guru menjelaskan prinsip kerja tiap gerombolan. (4) penguberan antitesis tiket pertanyaan dan jawaban (5) pemasukan kepada keramaian penilai (6) pencatuan gerombolan ulang, agar kelompok penilai boleh merasakan seperti kerubungan 1 dan 2 kelompok penilai dipecah menjadi dua sedangkan kelompok 1 dan kelompok dua gabung menjadi suatu dan berperan menjadi kelompok penilai.
3. Hasil penelitian menunjukkan suka-suka peningkatan hasil sparing pesuluh papan bawah IV SD Kawasan ……………………… UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan ………………………, terhadap materi sistem organisasi tingkat kunci ain cak bimbingan
PKn dengan menggunakan metode make a match. Keadaan ini dapat diketahui bermula perbandingan sebelum menggunakan metode make a match ponten lazimnya 69,54. Setelah menggunakan metode make a match kredit rata- rata boleh dijelaskan sebagai berikut: nilai kebanyakan kelas pada siklus I yakni:
71,81  sedangkan  poin  rata  pada  siklus  II  ialah:  92,95.  Untuk  tingkat

ketuntasan pada siklus I 68,18% padahal puas siklus II 100%. Dengan demikian hasil penelitian di SD Kewedanan ……………………… telah mencapai ketuntasan belajar.
B.  Saran

Dengan  terselesaikannya  butir-butir  investigasi  ini,  penyelidik  memberikan saran-saran berdasarkan hasil kesimpulan dan implikasi pada penelitian ini. Adapun saran yang dapat peneliti kemukakan yakni :
1. Cak bagi hawa

¾  Guru hendaknya mampu menunggangi metode mengajar dengan baik yang memungkinkan berkembangnya potensi anak. Metode nan baik lain belaka menciptakan peristiwa kelas yang hidup, tetapi pun mempermudah murid dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan nan telah ditentukan.
¾  Guru sebaiknya mampu menjadi motivator sekaligus menjadi fasilitator bagi pelajar-siswanya. Hal ini akan panas identifikasi sreg diri siswa sehingga mempercepat kesadaran siswa dlam membiasakan.
2. Bagi Peneliti lain

Seharusnya dengan adanya skripsi ini, pengkaji bisa mengambil hikmah dari isi  penelitian  ini.  Boleh  dijadikan  sendang  belajar  alias  pengalaman  ke depannya.

Daftar pustaka

Abdul   Rozak,   dan   Ubaedillah.   2008.   Civic  Education,   Jakarta:   UIN   Syarif
Hidayatullah.

Ali, Muhammad. 1985. Guru Dalam Proses Sparing Mengajar,  Bandung: Sinar Baru
Algesindo.

Amin, Zainul, Ittihad. 2010. Materi Buku Pendidikan Kewarganegaraan,  Jakarta: Sekolah tinggi Terbuka.

Anas,  Sudijono.  1994.  Pengantar   Statistik  Pendidikan ,  Jakarta:  Raja  Grafindo
Persada.

Asrori, Mohammad,2007, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: CV Wacana Prima. Dyah, Sriwilujeng. 2006. PKN Sekolah Pangkal kelas IV, Jakarta:Erlangga.
Hartono,  Djoko.  Metode Pengajian pengkajian  PAI, Surabaya: fak  tarbiyah  IAIN  Sunan
Ampel

http://dodisupandiblog.blogspot.com/2010/05/pengertian-pendidikan- kewarganegaraan.html

http://s4iful4min.blogspot.com/2011/02/metode-make-match-tujuan-persiapan- dan.html, 3 April 2012.

Huda, Miftahul, 2011, Cooperative Learning, Bandung: pustaka pelajar.

Kunandar, 2010. Langkah Mudah Penyelidikan  Tindakan Kelas Sebagi Pengembang
Profesi Guru, Jakarta: PT Raja Grafindo Perseda.
Mufarokah, Anissatul. 2009. Strategi Belajar Mengajar, Yogyakarta: Teras. Munandar,  Utami,  1985,  Mengembangkan Bakat  dan  Kreatifitas  Momongan Sekolah,
Petunjuk para Guru dan Ibu bapak, Jakarta: Gramediaa Pustaka Utama. Kanun menteri pendidikan nasional No.22,Tahun 2006.
Sudjana,1988, Evaluasi Hasil Belajar, Bandung: Pustaka Martiana.

Suprijono,   Agus.   2009.   Cooperative   Learning   Teori   dan   Apikasi  PAIKEM,
Yogyakarta: Teks Pelajar.

Surakhmad,  Winarno.  2003.  Pengantar   Interaksi  Sparing   Mengajar,   Bandung: Tarsito.

Paduka, Muhibbin. 2003. Ilmu jiwa Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Perseda.

Tim Konsorsium7 PTAI. 2009. Bahan perkuliahan Pembelajaran PKN MI Surabaya: LAPIS PGMI.

Winarno,  Surakhmad.  2003.  Pengantar   Interaksi  Membiasakan   Mengajar,   Bandung: Tarsito.

Pembaca yang budiman, takdirnya Dia merasa bahwa artikel di blog ini bermanfaat, silakan bagikan ke media sosial lampau tombol share di sumber akar ini:

Source: https://www.anekapendidikan.com/2019/01/ptk-pkn-peningkatan-hasil-belajar-siswa-pada-mata-pelajaran-pkn-materi-sistem-organisasi-tingkat-pusat-kelas-4-sd-melalui-metode-make-a-match.html

Posted by: skycrepers.com