Bab Iv Pembelajaran Ipa Kelas 2 Sd Metode Mind Mapp

1
Gapura IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Lega bab ini akan dipaparkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai proses dan hasil meningkatkan perebutan kosakata bahasa Jawa melalui penerapan metode mind mapping peserta pelihara kelas V SDN Tunge 2 Wates Kediri. A. Hasil Penelitian Peneliti melakukan penelitian tindakan kelas sreg proses pembelajaran sebanyak 2 siklus, satu siklus terdiri dari 2 persuaan. Hasil penelitian nan akan dipaparkan berikut ini berupa proses berlatih dan hasil berlatih melalui metode pembelajaran mind mapping plong kelas bawah V SDN Tunge 2 Wates Kediri. Materi yang disampaikan lega semua siklus yaitu Menulis garitan dengan pikiran sendiri n domestik majemuk polah bahasa dan jenis garitan sesuai kaidah bahasa, yakni KD 5. Penelaahan dilaksanakan sesuai dengan karakteristik metode mind mapping. Alokasi waktu pada setiap perjumpaan yakni 4 x 35 menit. Pemaparan hasil pengkajian Peningkatan Ketangkasan Menulis Kosakata bahasa Jawa Melalui Penerapan Metode Mind Mapping Pesuluh Kelas V SDN Tunge 2 Wates Kediri adalah umpama berikut: 1. Bayangan Data Pra Tindakan Setelah mengadakan seminar prasaran pada tanggal 2 November 2016 dan disetujui maka itu pembimbing, maka peneliti segera mengajukan surat ijin penelitian 62

2
63 yang produktif dikantor Fakultas Tarbiyah dan Guna-guna Keguruan. Lega copot 7 November 2016 peneliti berinisiatif untuk mengadakan lawatan ke SDN Tunge 2 Wates Kediri bikin mengadakan pertemuan dengan kepala sekolah. Lega kunjungan mula-mula peneliti mengedepankan rencana untuk melaksanakan penelitian di sekolah. Lega saat itu juga ibu superior sekolah Binti Dwi Astuti, S.Pd menerimakan pembebasan kepada pengkaji untuk mengadakan studi di rang tersebut. Peneliti kembali menangkap basah pengampu kelas V ibu Ririn Puji Utami, S.Pd bakal meminta izin mengadakan penelitian di kelas yang beliau ajar. Pada kunjungan ke dua, tepatnya puas tanggal 10 November 2016 peneliti pun mengadakan kunjungan ke SDN Tunge 2 Wates Kediri lakukan melaksanakan pengamatan pendahuluan, pengamatan dilakukan dengan cara pengamatan lapangan meliputi aktivitas guru, aktivitas peserta didik, pengusahaan media pembelajaran, penggunaan sumber membiasakan, wawansabda dengan guru, dan mengkaji nilai peserta didik. Bersendikan hasil pengamatan pendahuluan selama proses penataran menggambar diketahui bahwa kegiatan yang dilakukan guru merupakan (1) master menjelaskan materi dengan metode ceramah; (2) guru membacakan pustaka sekaligus soal yang terwalak pada anak kunci LKS; (3) guru menunjuk peserta didik untuk menjawab cak bertanya di LKS; (4) master menyuruh peserta didik bikin mengamalkan kiat pak; (5) guru menunjuk pelajar didik untuk menuliskan jawaban di pusat kelongsong ke papan tulis; dan (6) temperatur enggak menggunakan media dalam proses pembelajaran.

3
64 Sedangkan hasil pengamatan pendahuluan terhadap kegiatan pelajar didik yaitu (1) peserta didik yang duduk di angkatan depan mencela ketika guru sedang membaca wacana LKS; (2) sebagian pesuluh didik kurang mencamkan hawa, yang ditandai dengan adanya siswa yang bercengkerama dengan teman, memandangi ke asing inferior, bermain pensil, dan melamun; (3) siswa asuh bungkam ketika tidak bisa menjawab soal; (4) peserta asuh kurang merespon pertanyaan guru; dan (5) peserta didik bukan cak hendak ketika ditunjuk guru untuk mendaras teks. Sejauh proses kegiatan pengamatan pendahuluan, peneliti mendapatkan data adapun kemampuan menulis pelajar didik, yaitu (1) pesuluh tuntun sedikit dapat saat diperintah untuk takhlik goresan; (2) murid tuntun masih kebingungan bakal menulis sesuai tema yang terserah; (3) pelajar pelihara kurang mengkritik keunggulan baca; dan (4) ada bilang pesera didik yang belum berpunya menulis kata sesuai dengan tema. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa Jawa SDN Tunge 2 Wates Kediri diketahui bahwa (1) hasil kemampuan menulis pesuluh asuh masih invalid. Hal tersebut ditandai dengan nilai umumnya menulis adalah 65, kemampuan peserta didik kerumahtanggaan menulis rendah dikarenakan guru jarang menerimakan soal nan berkaitan dengan menggambar karangan; (2) sekolah belum mengadakan kebijakan untuk batik, baik menulis deskripsi, ataupun catatan bebas petatar didik; (3) guru cacat berlimpah menciptakan proses penelaahan yang congah dan inovatif. Sesuai dengan saran berasal penasihat sekolah, pada tanggal 14 November 2016 peneliti kembali kembali bakal menemui wali papan bawah V di ruang guru. Rencana

4
65 penelitian yang telah mendapatkan ampunan dari kepala sekolah, dan kembali pengampu kelas bawah. Balasannya peneliti membelakangkan bikin mengadakan Penelitian Tindakan Papan bawah (PTK) puas penelaahan bahasa Jawa khususnya keterampilan menulis kosakata gubahan deskripsi. Berdasarkan data nan diperoleh berpangkal inferior V, jumlah murid didik kelas V cak semau 30 peserta tuntun. Dengan komposisi 19 pria dan 11 peserta didik perempuan. Hari itu juga akan diadakan pre tes. Pelaksanaan pre test ini berniat untuk memahami kemampuan awal peserta didik sebelum dilakukan penekanan tindakan kelas dengan memperalat metode mind mapping. Gambar 4.1 Peserta Didik Melakukan Pretest Tes mulanya diikuti oleh 30 siswa ajar. Sreg konfirmasi awal ini pemeriksa mengasihkan cak bertanya membuat karangan deskripsi tentang suatu tema nan sudah lalu di tentukan yakni lingkungan sebagaimana terlampir. Hasil membiasakan berwujud keterampilan menulis kosakata Jawa dihitung dengan menotal besaran kosakata yang ditemukan peserta didik terkait dengan tema

5
66 yang diberikan. Hasil Pre test penguasaan vokabuler peserta didik dipaparkan pada tabel 4.1 berikut. Tabel 4.1 Hasil Pre test Peserta Didik No. Kategori Penilaian Jumlah Kebanyakan Kategori 1. Besaran temuan kosakata 86 71,66 Baik 2. Ketepatan penulisan kata 83 69,16 Cukup 3. Kualitas isi karangan 87 72,5 Baik 4. Pemakaian bahasa 81 67,5 Sepan Rata-rata Hasil Pre test Peserta Jaga 70,20 Baik Beralaskan tabel hasil amatan Pre Test temuan kosakata tersebut diketahui bahwa rata-rata total temuan daftar kata 71,66 dan rata-rata kualitas isi catatan 72,5 dengan kategori baik (70-84). Rata-rata ketepatan penulisan kata 69,16 dan biasanya penggunaan bahasa 67,5 dengan kategori cukup (55-69), hasil umumnya pre test peserta pelihara 70,20 dengan kategori baik. Petatar didik tidak tuntas 17 anak, dan peserta asuh tuntas 13 anak asuh dengan prosentase ketuntasan 43,33%. Ketuntasan tersebut masih jauh belum memenuhi tolok indikator keberhasilan yang telah ditetapkan merupakan dengan ketuntasan berlatih sekurangkurangnya 80%. Karena hasil belajar peserta didik masih jauh belum mencapai ketuntasan berlatih klasikal maka pendalaman tindakan kelas dengan penerapan metode mind mapping ini perlu dilakukan, hendaknya hasil belajar peserta didik meningkat. 2. Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus I a. Perencanaan Sebelum organ pendedahan diterapkan peneliti mengkonsultasikan kepada Dosen Penyuluh, bagi di koreksi apakah perangkat bikin penelitian

6
67 telah layak dan tepat bagi dilaksanakan, pasca- itu plonco peneliti melaksanakan Pengkajian Tindakan Inferior. Siklus I dilaksanakan pada tahun Peparu, sungkap 16 November 2016 (pertemuan I), dan Kamis, 17 November 2016 (persuaan II), di pangsa kelas V SDN Tunge 2 Wates Kediri, dengan alokasi perian 4×35 menit.. Tulangtulangan pelaksanaan pembelajaran dirancang dengan menggunakan metode pengajian pengkajian mind mapping dengan materi batik kosakata dan karangan deskripsi. b. Pelaksanaan Pertemuan Pertama 1) Kegiatan Semula Kegiatan pembelajaran ini diawali dengan pemeriksa menyabdakan salam dan mengajak seluruh peserta bimbing cak bagi berdo a bersama. Selanjutnya pemeriksa mengabsen peserta jaga spontan mengidentifikasi wajah mereka. Peneliti mengkondisikan murid tuntun agar siap belajar. Berikut dialog peneliti dengan murid pelihara. Pengkaji : Selamat pagi, anak-anak! Petatar didik : Selamat pagi, bu! (peserta jaga menjawab dengan malu-malu) Peneliti : Kok belum semangat (peneliti mengulangi pula) Selamat pagi, anak-anak! Peserta didik : Selamat pagi, bu! (petatar asuh menjawab sekaligus) Peneliti : Bagaimana kabarnya musim ini? Petatar ajar : Baik Penyelidik : Kalau bu Ilma beberapa, bagaimana kabarnya hari ini? Kalian menjawab: Alhamdulillah.. luar normal.. Allahu Akbar.. Ya.. siap! Siswa asuh : Iya bu, siap! (peserta didik nampak antusias) Dialog 4.1 Dialog Pengenalan Lamar Maklumat Petatar Asuh Seluruh peserta didik nampak mulai fokus dan siap cak bagi belajar, peneliti start menarik perhatian murid didik dengan melakukan apersepsi. Kegiatan

7
68 apersepsi dilaksanakan dengan menanya kepada pelajar didik terkait tema kosakata hari ini, yaitu lingkungan. Pemeriksa : (Peneliti menanya) Bocah-bocah, coba perhatekna sekitarmu. Ana apa wae ing sekitarmu? Peserta didik : (Peserta didik menjawab) Ana meja, geta, lemari, tiang catat, gelas,… Peneliti : iya pener, kui mahu sing ana ing lingkungan kelas. Saiki coba gatekna opo wae sing ana ing lingkungan sekolah? Peserta didik : huma, papan bawah, lapangan, kantor, koperasi, parkiran,… Peneliti : iya pinter kabeh, dina iki mengko awake dewe arep sinau babakan lingkungan. Bocah-bocah wis siap kabeh? Peserta didik : Siap bu!!! Dialog 4.2 Peneliti Mengamalkan Apersepsi Lebih lanjut peneliti menyampaikan pamrih pembelajaran terkait pentingnya mempelajari materi dalam hayat sehari-hari dan mempersiapkan murid ajar. Selain itu, peneliti pun menggelorakan roh dan mempersiapkan petatar didik bikin menirukan proses pembelajaran. Peneliti : Bocah-bocah, dina iki awake dewe arep sinau babakan kosakata sing ana ing lingkungan sekolah, sakdurunge kui, bu Ilma arep nerangake opo sing diarani leksikon. Sapa sing wis ngerti, apa iku kosakata? (sambil menjelaskan di papan catat, prnrliti menarik perhatian peserta pelihara) Pesuluh jaga : pengenalan-kata bu.. kata sing di gawe awake dewe bu.. (beberapa peserta jaga berusaha menjawab) Peneliti : Bu Ilma arep jelasne, coba perhatekna. (peneliti berusaha memancing manah peserta asuh) Dialog 4.3 Peneliti Mengklarifikasi Materi Daftar kata

8
69 Gambar 4.2: Peneliti Melakukan Kegiatan Semula Pengajian pengkajian 2) Kegiatan Inti Memasuki kegiatan inti, pembelajaran di mulai dengan peneliti menyuruh salah suatu pelajar didik buat berbudaya ke depan dan berkisah adapun lingkungan. Lembaga 4.3: Peserta Pelihara Merencana Adapun Lingkungan Selanjutnya peneliti menunjukkan contoh Mind Mapping kepada peserta didik, dan mengklarifikasi cara membuatnya. Setelah peneliti menjelaskan pendirian

9
70 membuat Mind Mapping, peneliti memberikan tema Mileu dan menyuruh semua siswa didik bikin mewujudkan Mind Mapping. Peneliti membimbing dan mengawasi semua peserta didik kerjakan membuat Mind Mapping. Lebih jauh peneliti menyuruh salah suatu murid tuntun, yaitu Aldike untuk menunjukkan Mind mapping nan di buat, dan menyebutkan temuan kata nan di dapat. Peserta ajar tersebut berhasil menemukan 20 kata plong Mind Map yang dibuatnya. Lebih lanjut peneliti mempersilahkan bagi peserta didik tidak yang kepingin menanggapi. Gambar 4.4 : Pengkaji Membimbing Peserta Didik Membuat Mind mapping

10
71 Gambar 4.5: Aldike Memperlihatkan Temuan Glosari Dalam Mind Mappingnya dan Murid Tuntun yang Tidak Menanggapi 3) Kegiatan Penutup kegiatan akhir pembelajaran, pemeriksa bersama petatar didik meringkas pembelajaran yang telah disampaikan melintasi dengar pendapat sehingga siswa asuh berkujut aktif dalam proses pembelajaran. Peneliti sekali lagi menyerahkan motivasi kepada murid tuntun lakukan lebih bersemangat internal sparing. Pemeriksa menyerahkan reward kepada peserta tuntun yang telah terlibat secara aktif kerumahtanggaan kegiatan pengajian pengkajian. Lebih lanjut, pemeriksa bersama siswa pelihara mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan Hamdalah bersama, dan peneliti menutup dengan salam. Persuaan Kedua 1) Kegiatan Awal Pembelajaran diawali dengan peneliti memberikan salam, dan menyuruh salah satu peserta tuntun untuk menganjuri do a, selanjutnya peneliti berbuat

11
72 absensi. Pemeriksa menggiatkan sukma pesuluh didik dengan meminta siaran. Peneliti : Selamat pagi, momongan-anak.. (Pengkaji menegur peserta pelihara) Peserta bimbing : Selamat pagi bu guru.. Pemeriksa : Bagaimana kabarnya hari ini? Peserta didik : Alhamdulillah.. luar biasa.. Allahu Akbar.. Yes yes yes.. Pemeriksa : Pintar sekali, sudah semangat.. sudah siap untuk belajar? Petatar didik : Siap bu! Apakah hari ini kita akan membuat Mind Mapping lagi bu? (Tanya salah satu peserta pelihara, Salma) Pengkaji : iya, hari ini kita akan membuat Mind mapping lagi tapi dengan cara bergerombol. Apa kalian siap? Peserta didik : Siap bu! (Jawab peserta didik dengan bukan sabar) Dialog 4.4 Pemeriksa Berdialog Dengan Siswa Ajar kerjakan Memulai Penataran Kegiatan dilanjutkan dengan peneliti melakukan apersepsi dengan bertanya akan halnya lingkungan nan mereka jumpai semalam kapan pulang sekolah. Salah suatu pesuluh didik merencana tentang perjalanannya ketika pulang sekolah, dan kosakata apa saja yang dia bisa. 2) Kegiatan Inti Peneliti Proses pembelajaran kosakata pertemuan kedua dilaksanakan dengan mengulang kembali materi yang telah di sampaikan oleh peneliti pada pertemuan pertama. Peneliti di bantu guru kelas V berwenang menentukan anggota kelompok berdasarkan tingkat kemampuan tangga, sedang, dan adv minim. Pada proses pembentukan kerubungan, terjaga 6 (enam) kelompok yang dapat di tatap lega diagram 4.2 berikut. Tabel 4.2 Merek Anggota Gerombolan Permainan Kosakata Siklus I No Kerumunan Nama Kerumunan Nama Anggota Kelompok 1. Keramaian I Ajak 1. Eni 2. Arya 3. Adib 4. Lina 5. Naela 2. Kelompok II Singa 1. Fitri 2. Ahmad 3. Era 4. tofa 5. Rendy

12
73 3. Kelompok III Macan 4. Kelompok IV Ular 5. Kelompok V Elang 6. Kerumunan VI Bengkunang 1. Aldike 2. Dika 3. Dinda 1. Irma 2. Udin 3. Taifiq 1. Naela 2. Dila 3. Almas 1. Imam 2. Irfan 3. Hafid 4. Salma 5. Dwi 4. Aldo 5. Agus 4. Dian 5. Rasyid 4. Bintoro 5. Nafisa Setelah semua kerumunan terjaga, dan peserta tuntun sudah berkumpul bersama kelompoknya. Peserta didik diberi penjelasan oleh peneliti tentang peraturan permainan kosakata dan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh siswa tuntun bilamana bertindak. Pengkaji juga memberikan kesempatan kepada pesuluh jaga lakukan bertanya peristiwa-hal yang belum dimengerti tentang permainan kosakata. Lebih lanjut, peneliti membagikan spidol, dan 1 benang kertas pada masingmasing kerubungan untuk nanti menggambar jawaban kerumunan. Selepas masing-masing kelompok mendapat media masing-masing, dan peneliti mereka bersiap-siap kerjakan memulai permainan. Peristiwa ini dapat dilihat dari dialog berikut ini: Pengkaji : Bocah-bocah, saiki sampean kabeh gawe Mind mapping tapi menyinkronkan-menyerempakkan sak keramaian. Bu Ilma ndue tema kaya dekwingi, yaiku apa cah? Peserta didik : Mileu bu..! Pemeriksa : Iya, Temane mileu. Bu Ilma arep mbagi sub tema, nenggone saban keramaian. Mengko, di catat sak akeh-akehe. Siap? Pelajar bimbing : Siap, bu.. Peneliti : Bocah-bocah kudu kerjasama tiap kelompok, bu Ilma menehi waktu 30 menit. Wis jelas? Pelajar jaga : Iya bu, jelas. Silakan di mulai bu.. peneliti : Iya, kedai minum itungan kaping telu, bocah-bocah isa ngawiti. Perhatekna kelompokmu lan gak makanya ana sing ngganggu kelompok liya. Siap berangkat! Dialog 4.5 Pengkaji Menjelaskan Aturan Permainan dan Memulai Permainan

13
74 Bilamana permainan berlangsung tampak peserta ajar adu cepat-lomba ingin menulis leksikon terbanyak. Peneliti memantau kegiatan peserta didik dengan sesekali gelintar mencaci kegiatan masing-masing kerubungan. Apabila cak semau kelompok yang bertanya, penyelidik berusaha menjelaskan. Pemeriksa membimbing apabila ada kelompok yang mengalami kesulitan privat melaksanakan permainan leksikon. Setelah waktu selesai, peserta bimbing menempelkan hasil vokabuler nan di dapatkannya di gawang pajangan nan sudah di sediakan. Peneliti mengumumkan kerumunan nan tercepat, terkompak, dan yang paling rapi. Lebih lanjut, pemeriksa membagikan tanda jasa andai poin untuk ditempelkan ke kayu ponten nan sudah terhidang di kelas. Kemudian secara bergantian, pelajar didik mengimlakan hasil glosari temuan mereka nan di bisa berpokok kerja gerombolan. 3) Kegiatan Akhir Kegiatan penghabisan, pengkaji memberikan umpan serong dan penguatan kepada peserta asuh dengan mengajukan beberapa tanya kepada peserta didik. Penyelidik juga memberikan pemantapan, penstabilan ini berujud untuk mengetahui sejauh mana peserta didik mengarifi apa nan telah di pelajarai. Seterusnya pengkaji membagikan soal Post test siklus I kepada murid didik. Adapun pertanyaan Post test siklus I pada lampiran 17. Setelah peserta pelihara selesai mengerjakan Post test siklus I peneliti menyuruh salah satu peserta bimbing buat ke depan inferior dan mengimlakan hasil pekerjaannya. Peserta tuntun lainnya memperhatikan. Lebih jauh peneliti

14
75 memberikan kepada peserta didik tak yang mau menanggapi hasil goresan tara mereka. Gambar 4.6 Peserta Didik Saat Mengerjakan Post test Siklus I Tulangtulangan 4.7 Aldo Membacakan Hasil Karangannya, dan Era Menanggapi

15
76 c. Pengamatan 1) Deskripsi Observasi Keterampilan Peneliti Evaluasi proses dilaksanakan dengan kaidah memperhatikan semua aktivitas peneliti selama pembelajaran berlangsung. Hasil dari observasi ketangkasan peneliti sreg penyelidikan tindakan kelas bawah siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut: Tabel 4.3: Data Observasi Kecekatan Pengkaji Siklus I Proses Pembelajaran Menulis Rata-rata Kategori Aspek Persuaan I Pertemuan II Tahap Pendahuluan ,5 Baik Tahap Inti ,5 Cukup Tahap Penutup ,5 Baik Umumnya Keterampilan Peneliti (%) 72,5 Baik Berdasarkan tabel 4.3 yang dipaparkan di atas dapat dilihat bahwa observasi keterampilan peneliti lega pengajian pengkajian pertambahan penundukan vokabuler bahasa Jawa melalui metode penelaahan Mind Mapping diperoleh rata-rata skor 72,5 dengan kategori baik (70-84). Dengan rincian bagaikan berikut, kegiatan tahap pendahuluan diperoleh galibnya skor 77,5 dengan kategori baik (70-84). Kegiatan tahap inti diperoleh skor 67,5 dengan kategori cukup (55-69), dan kegiatan tahap penutup diperoleh skor 72,5 dengan kategori baik (70-84). Bersumber jabaran di atas diperoleh gambaran mengenai tingkat kesuksesan penataran vokabuler melalui metode Mind Mapping sreg siklus I dari aspek peneliti. Dari tabulasi tersebut, banyak kegiatan nan hendaknya dilakukan penyelidik dengan maksimal dalam pendedahan, saja sreg kenyataannya belum boleh maksimal. Dengan demikian, presentase yang diperoleh dari hasil pengamatan aktivitas pemeriksa dalam pembelajaran vokabuler melangkaui metodemind Mapping siklus I merupakan 72,5 (kategori baik = berdampak).

16
77 2) Deskripsi Observasi Aktivitas Murid Jaga Kegiatan observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlanjut. Observasi digunakan bikin mengarifi aspek respon, antusiasme, keaktifan dan kerjasama pesuluh jaga selama mengikuti proses penerimaan vokabuler melalui metode Mind Mapping. Aspek peserta didik yang diamati meliputi aktivitas petatar didik dan interaksi siswa pelihara pada saat pembelajaran khazanah kata melalui metode Mind Mapping. Hasil observasi kajian proses pembelajaran kosakata melalui model pembelajaran Mind Mapping puas siklus I sebagaimana plong Tabel 4.3 berikut: Tabel 4.4: Hasil Observasi Aktivitas Peserta Didik Pada Proses Meningkatkan Penguasaan Glosari melalui Metode Mind Mapping Proses Penerimaan Menggambar Rata-rata Kategori Aspek Pertemuan I Pertemuan II Respon 62, ,75 Cukup Antusiasme 75 81,25 78,12 Baik Keaktifan 68, ,87 Baik Kerjasama 56,25 68,75 62,5 Memadai Rata-rata Aktivitas Peserta Didik 70,31 Baik Hasil observasi aktivitas peserta tuntun sreg proses meningkatkan penguasaan kosakata siklus I nan terjadwal puas tabel menunjukkan bahwa kerumahtanggaan peningkatan penguasaan khazanah kata memperoleh rata-rata skor 70,31 dengan kategori baik (70-84). Aspek antusiasme (78,12), dan aspek keaktifan (71,87) berkategori baik (70-84), aspek antusiasme ditandai dengan sikap mengerjakan Mind mapping dengan cepat, memperhatikan instruksi dari pengkaji, tetapi kurang runtut dan abnormal beres internal penulisannya. Aspek keaktifan ditandai dengan pelajar didik sudah aktif bertanya dan menjawab cak bertanya dari peneliti

17
78 Aspek respon (68,75) dan aspek kerjasama (62,5) dengan kategori layak (55-69). Aspek respon ditandai dengan peserta ajar menunjukkan ekspresi senang, dan gembira tetapi masih nampak kebingungan dalam mengerjakan soal latihan. Aspek kerjasama ditandai dengan pelajar jaga belum berada bekerjasama dengan baik dengan anggota kelompoknya pron bila pembelajaran kosakata melalui metode Mind Mapping. Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa dalam mengikuti pengajian pengkajian glosari dengan metode Mind Mapping antusias dan keaaktifan peserta didik dalam kategori baik, sedangkan bakal respon dan kerjasama peserta pelihara dalam kategori layak. 3) Hasil Belajar Murid Didik Siklus I Berdasarkan data hasil testimoni puas siklus I dengan materi kosakata melalui metode pembelajaran Mind Mapping, berikut ini adalah data hasil banyaknya temuan peserta ajar sebelum melakukan Mind Mapping (Pre test) dan selepas menggunakan Mind Mapping (Post test). Tabel 4.5: Perbandingan Total kata Pre test dan Siklus I No. Kategori Penilaian Kebanyakan Pre test Siklus I 1. Besaran temuan kosakata 71,66 79,16 2. Ketepatan penulisan prolog 69,16 77,5 3. Kualitas isi karangan 72,5 75,83 4. Pendayagunaan bahasa 67,5 78,33 Rata-rata Hasil Test Pelajar Didik 70,20 77,70 Kategori Baik Baik Berdasarkan data tabel tersebut dapat dilihat bahwa banyaknya alas kata yang ditemukan peserta didik sebelum dan sesudah menunggangi Mind Mapping

18
79 terpandang terjadi perbedaan kuantitas vokabuler yaitu dengan perbandingan jumlah kata nan meningkat pasca- mengamalkan Mind Mapping. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Mind Mapping dapat meningkatkan jumlah kata temuan peserta didik. Untuk hasil selengkapnya dapat dilihat sreg lampiran 6. d. Hasil Wawancara Peneliti kembali berbuat konsultasi dengan guru dan beberapa siswa bimbing. Hal ini dilakukan cak bagi mendapatkan informasi nan makin jelas tentang kemenangan sepanjang proses pembelajaran berlantas, serta untuk proses siklus II seyogiannya menjadi lebih baik dan mencapai tingkat keberuntungan yang maksimal. Wawancara ini dilakukan setelah pelaksanaan post test siklus I selesai. Wawancara dilakukan kepada subjek wawancara nan terdiri terbit suhu, teman sejawat, dan mulai sejak beberapa anak yang telah dipilih berdasarkan sejumlah pertimbangan pemeriksa, konsultasi dilaksanakan secara bersama dengan siswa asuh lain. Berikut transkrip wawanrembuk nan dilakukan oleh peneliti dengan suhu, dan beberapa petatar didik intern jangka periode yang farik: 1) Soal jawab dengan guru dan jodoh sejawat Wawancara ini dilakukan pada hari Kamis rontok 17 November 2016 pukul WIB yang bertempat di urat kayu master. Wawancara ini dilakukan setelah siklus I selesai dan data post test sudah lalu teridentifikasi. Berikut wawancara peneliti dengan bu Ririn. 86 Peneliti : Bagaimana menurut ibu, penelitian nan saya lakukan? Bu Ririn : Menurut saya sudah baik mbak, momongan-momongan telah dapat dikondisikan, tetapi masih cak semau beberapa yang ramai. Ada beberapa yang masih 86 Hasil wawancara dengan ibu Ririn Puji Utami selaku pengampu papan bawah V SDN Tunge 2 wates Kediri, puas tanggal 17 November 2016

19
80 berbicara dengan temannya momen pelajaran, di tegur tetapi enggak apaapa mbak. Peneliti : Untuk metode nan saya gunakan bagaimana bu? Bu Ririn : Kerjakan metode yang digunakan mutakadim lumayan bagus ning, hanya mungkin anak-anak masih tekor kegalauan karena metode seperti ini belum pernah saya gunakan untuk mengajar. Pengkaji : Menurut ibu, apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki cara mengajar saya plong siklus II? Bu Ririn : Ketika mengajar, lebih tegas tetapi mbak. Untuk medianya juga penggunaannya harus makin maksimal lagi. Juga alokasi waktunya sokong diperhatikan mbuk. Peneliti : Baik bu, terimakasih banyak bikin sarannya. Kiranya siklus II bisa kian maksimal. Bu Ririn : Iya mbak, sama-sama. Sepatutnya bermanfaat Dialog 4.5 Wawanrembuk Penyelidik dengan Suhu Kelas V Berikut wawancara peneliti dengan teman sejawat. 87 Peneliti : Na, bagaimana menurutmu penelitianku hari ini? Zayyina : Sudah lalu baik Ma, doang saja kamu masih belum boleh menguasai kelas seluruhnya. Tadi hanya sejumlah peserta tuntun saja yang kamu datangi. Peneliti : kalau untuk murid tuntun bagaimana? Zayyina : Respon petatar didik dahulu baik. Rasa ingin sempat mereka juga lewat tinggi ketika kamu mengklarifikasi materi tadi. Itu terlihat berpokok banyaknya pesuluh didik nan merespon ketika kamu mengajukan pertanyaan terkait materi. Peneliti : Menurut kamu, barang apa yang harus aku perbaiki bakal siklus II? Zayyina : Kamu harus bisalebih menguasai kelas lagi Ma. Dan perhatikan pelajar didik secara keseluruhan. Dialog 4.6 wawancara Peneliti dengan Teman Seprofesi 2) Wawancara dengan peserta didik Wawancara dengan peserta didik ini dilaksanakan pada waktu Jum at terlepas 18 November 2016, dan berlantas pasca- wawancara dengan suhu selesai. Wawancara ini dilakukan detik murid asuh inferior V sedang bernaung. Mereka adalah Era, Aldo, dan Rosyid. Berikut pernyataan bermula para siswa pelihara. 88 Peneliti : Menurut kalian, bagaimana cara bu Ilma mengajar? Aldo : Saya gemar dengan cara bu Ilma mengajar, lamun cacat 87 Hasil wawanrembuk dengan Zayyina Zahro selaku teman seprofesi bersumber Jurusan PGMI, pada tanggal 17 November Hasil temu ramah dengan Aldo, Era, dan Rosyid peserta didik kelas V SDN Tunge 2 wates Kediri, pada tanggal 17 November 2016

20
81 kebingungan dengan cara menciptakan menjadikan mind mapping. Era : Saya kembali suka bu, karena kami belum pernah membuat begitu juga ini momen diajar oleh bu Ririn. Rosyid : Saya mau diajar bu Ilma terus setiap hari, pelajarannya menentramkan dan saya bisa mngembangkan kebahagiaan saya batik jika sebagaimana ini. Pengkaji : Segala nan masih kalian bingungkan akan halnya pelajaran waktu ini? Aldo : Saya masih berpendar cara membuat mind mapping bu, bu Ilma tadi menjelaskan terlalu cepat. Jika mengajar lagi, sokong alun-alun-pelan ya bu. Era : Saya bingungnya ketika menciptakan menjadikan coretan deskripsi bu, tapi sehabis menemukan kata-alas kata menerobos mind mapping, saya abnormal terbantu. Rosyid : Saya kecemasan ketika harus menemukan kata-kata sesuai dengan tema bu. Dialog 4.7 Interviu Peneliti dengan Beberapa Pelajar Bimbing Berdasarkan amatan dari wawancara dengan guru, tandingan sejawat dan beberapa peserta didik, dapat dijabarkan umpama berikut: 1) Peneliti harus lebih tegas dalam mengkondisikan inferior, mudah-mudahan peserta didik mudah dikendalikan. 2) Menurut ibu Ririn, anak-anak terpandang kegalauan terhadap metode pembelajaran Mind Mapping yang diterapkan. Karena pron bila mengajar, beliau belum pernah menerapkan metode tersebut. 3) Menurut teman sejawat, peneliti terbatas bisa mnguasai kelas secara keseluruhan dan masih beberapa petatar yang di datangi. 4) Pelajar didik terlihat doyan n domestik penataran Bahasa Jawa setelah diterapkannya metode Mind Mapping. 5) Peserta didik masih belum memaklumi sesudah-sudahnya cara mewujudkan Mind Mapping.

21
82 e. Hasil Garitan Lapangan Coretan lapangan ini digunakan untuk mencatat hal-situasi penting yang terjadi dan tidak ada di lembar observasi sepanjang proses penelaahan berlantas. Hasil catatan lapangan pada siklus I yaitu: 1) Masih terserah peserta asuh nan minus mencamkan saat penyelidik menyampaikan materi. 2) Petatar didik banyak yang masih kegelisahan privat membentuk Mind Mapping meskipun sedah terserah sarana pendedahan. 3) Petatar didik nan tekor makmur, menjiplak model temannya dalam membuat Mind Map. 4) Siswa didik masih belum perlu bekerja bertepatan batik. 5) Saat berbuat Post test siklus I, masih suka-suka pelajar asuh yang mencontek karena kebingungan membuat gubahan deskripsi. f. Refleksi Tahap lebih lanjut yaitu tahap refleksi yang bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis data. Hasil dari refleksi akan digunakan sebagai alamat perencanaan tindakan untuk siklus lebih lanjut yaitu siklus II. Berlandaskan deskripsi dan hasil observasi puas siklus I, maka dalam pembelajaran ini ditemukan permasalahanpermasalahan perumpamaan berikut: 1) Kemampuan penyelidik dalam tata waktu masih teradat diperbaiki mudah-mudahan pembelajaran boleh berjalan dengan lampias. 2) Peneliti kurang membagi motivasi kepada petatar didik.

22
83 3) Bilang pesuluh asuh terbatas memperhatikan penjelasan peneliti sehingga kesulitan saat membuat Mind Mapping. g. Revisi Berdasarkan refleksi pada pembelajaran siklus I, ada beberapa hal nan harus direvisi bagi pelaksanaan lebih jauh yaitu: a) Peneliti perlu meningkatkan kemampuannya dalam mengurusi waktu agar waktu yang tersuguh dapat dikelola dengan maksimal sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan lancar dan efektif. b) Memotivasi dan membangkitkan minat peserta jaga dalam pembelajaran. c) Menuding peserta didik secara merata agar semua peserta ajar memahami barang apa yang dijelaskan peneliti sehingga peserta tuntun enggak kesulitan membentuk Mind Mapping. 3. Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pelaksanaan tindakan siklus II didasarkan puas hasil yang diperoleh plong siklus sebelumnya. Persoalan-permasalahan yang ditemukan lega siklus I yaitu: 1) Kemampuan pengkaji dalam penyelenggaraan waktu masih perlu diperbaiki seharusnya pembelajaran bisa berjalan dengan lancar. 2) Penyelidik kurang memberikan lecut kepada peserta didik. 3) Bilang murid bimbing kurang mencamkan penjelasan peneliti sehingga kesulitan saat membuat Mind Mapping.

23
84 Oleh sebab itu bikin meningkatkan keterampilan tersebut, peneliti mencoba lakukan mengubah kondisi belajar dan menerapkan metode Mind Mapping secara utuh cak bagi membantu meningkatkan kemampuan peserta tuntun. Cak bagi pelaksanaanya sendiri siklus II ini dilaksanakan persuaan I pada hari Rabu tanggal 23 November 2016 dan perjumpaan II plong tahun Kamis 24 November Secara lebih rinci masing-masing tahap dapat di jelaskan sebagai berikut: a. Perencanaan Melihat dari hasil siklus yang pertama maka pada siklus yang kedua ini strata ini yang dilakukan maka dari itu peneliti yaitu sebagai berikut: 1) Mengkaji hasil refleksi siklus I. 2) Memformulasikan rencana perbaikan dari siklus I. 3) Menyusun RPP dengan materi Perbendaharaan kata. 4) Menyiapkan perigi berlatih, objek ajar, dan media pembelajaran nan akan digunakan. 5) Menyiapkan benang observasi keterampilan guru dan aktivitas siswa didik. 6) Menyiapkan utas kerja dan verifikasi muncul kerja. 7) Menjerumuskan ki alat dan infrastruktur nan akan digunakan selama pembelajaran (sumur belajar, bahan tuntun, lungsin evaluasi, lembar observasi, RPP, alat peraga, dan lainnya).

24
85 b. Pelaksanaan Pertemuan Pertama 1) Kegiatan Mulanya Dalam kegiatan penelaahan ini, kegiatan diawali dengan pemeriksa menitahkan salam dan meminta ketua kelas bawah V cak bagi memimpin membaca do a, selanjutnya peneliti mengabsen peserta didik. Setelah mengabsen peserta jaga, peneliti melakukan tes konsentrasi dengan bertepuk-tepuk cak bagi menyalakan semangat peserta didik. Peneliti : Sakdurunge pelajaran di mulai, bu Ilma arep ngajak sampean kabeh tes pemusatan! Sampean kabeh gelem? Peserta didik : Mendong bu.. Pemeriksa : Lekne bu Ilma muni tepuk siji sampean kabeh tepuk kaping pisan. Lekne bu Ilma muni tepuk loro sampean kabeh tepuk kaping pindo. Tapi lekne bu Ilma muni siji sampean kabeh melu muni siji. Ngerti? Pelajar didik : Ngerti bu.. (pelajar jaga menjawab sambil kebingungan) Peneliti : Siap-siap! Saiki di jajal ya? Peserta pelihara : Iya bu.. Siap! Dialog 4.8 Peneliti Melakukan Testimoni Konsentrasi Gambar 4.8 Siswa Ajar Melakukan Pemeriksaan ulang Pemfokusan

25
86 Setelah pesuluh didik mulai konsentrasi dan bisa titik api serta siap lakukan belajar, peneliti mengerjakan apersepsi mengenai tema pada siklus II yaitu Preinan. Penyelidik : (Pengkaji bertanya) Bocah-bocah, pas preinan nyandi wae? Siswa didik : (Peserta didik menjawab) Nyang tepi laut, ardi Kelud, Silang Lima, nyang sawah bu.. Peneliti : Misale ing Cagak Lima, ana apa wae? Peserta didik : Ana monumen, taman, dalanan, wong-wong akeh Peneliti : Iya pener. Dina iki mengko awake dewe arep nyinauni kosakata babakan preinan. Bocah-bocah siap? Siswa didik : Siap bu! Dialog 4.9 Peneliti Melakukan Apersepsi Kutipan dialog di atas menunjukkan bahwa pengkaji melakukan apersepsi, peneliti berusaha menyampaikan intensi penataran dan memberikan tembung kepada murid didik lakukan meningkatkan hasil belajar, dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran tanpa rikuh jika dipersilahkan cak bagi ke depan kelas. 2) Kegiatan Inti Memasuki kegiatan inti, kegiatan penelaahan diawali dengan mengutarakan materi glosari kepada siswa didik. Dalam penyampaian materi kali ini, peneliti mengajak peserta didik kerjakan aktif dalam keiatan pembelajaran dengan sesekali melontarkan beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada peserta jaga. Selepas pemeriksa membentangkan materi, penyelidik menunjukkan mind mapping kepada peserta didik. Pengkaji mengklarifikasi secara rinci bagaimana cara membuat mind mapping kepada peserta jaga. Untuk peserta didik yang belum memaklumi kaidah membuat, ataupun seandainya masih ada yang merasa kesulitan, peneliti dengan senang hati membimbing.

26
87 Gambar 4.9: Penyelidik menguraikan cara takhlik mind mapping Setelah radu, penyelidik membagikan kertas kosong kepada siswa bimbing buat membentuk Mind Mapping secara manusia dengan tema yang sudah lalu ditentukan, yaitu Preinan. Lembaga 4.10 Peserta Didik Ikut Serta Membagikan Plano Kosong

27
88 Peneliti keliling sambil membantu dan membimbing peserta didik yang masih kesulitan dalam membuat Mind Mapping, siswa didik ada beberapa nan masih kepanikan dan peneliti luang keteteran untuk mendatangi satu persatu. Peneliti berkeliling serempak menguraikan secara iteratif-ulang tentang materi daftar kata kepada peserta didik, membuat pelajar didik berfikir, vokabuler apa sahaja yang ada di tempat yang murid jaga maksud. Setelah selesai membuat Mind mapping, pengkaji menunjuk bilang peserta ajar untuk ke depan kelas, dan menunjukkan hasil Mind Mapping nan dubuat serta membacakan hasil perkenalan awal yang diperolehnya. Pelajar ajar enggak memperhatikan sambil menanggapi hasil dari antagonis nan ke depan kelas dengan dipandu oleh peneliti. Gambar 4.11: Nafisa Ogok Hasil Mind mapping yang Dibuatnya dan Siswa Jaga yang Enggak Menanggapi

28
89 3) Kegiatan Pengunci Pada akhir pembelajaran penyelidik mengadakan penstabilan materi dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pelajar didik. Kejadian ini dilakukan cak bagi memancing kontribusi peserta pelihara dalam menyimpulkan materi pembelajaran. Selain itu, pemantapan materi juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami apa nan telah disampaikan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Sesudah mengikhtisarkan materi bersama peserta asuh, pemeriksa memberikan cambuk kepada peserta didik untuk lebih bersemangat n domestik belajar. Peneliti pun menyerahkan reward bagi pelajar nan terlibat secara aktif dalam kegiatan penataran. Kemudian peneliti bersama peserta asuh mengakhiri pendedahan dengan mengucap Hamdalah bersama, dan peneliti mengucapkan salam. Perjumpaan Kedua 1) Kegiatan Awal Puas tahap pendahuluan kegiatan masih sama sebagai halnya persuaan pertama, pengajian pengkajian diawali dengan peneliti mengasihkan salam, dan menyuruh salah satu murid asuh untuk memimpin do a, lebih jauh pengkaji melakukan absensi. Pemeriksa menggiatkan sukma peserta didik dengan melakukan pembuktian sentralisasi. Pemeriksa : Sakdurunge tutorial di start, bu Ilma arep ngajak sampean kabeh tes sentralisasi! Tapi iki selisih karo sing dekwingi. Sampean kabeh gelem? Peserta ajar : Gelagah bu.. Pengkaji : Saiki angkaten kedua tanganmu. Lekne uwis, tangan tengen bentuk beceng lan tangan kiwa bentuk skor siji. Karo lambene muni dor siji. Teruse sewaktu tangan kiwa bentuk pistol, tangan tengen bentuk deriji loro. Karo lambene muni dor loro. Lan sak

29
90 teruse sampek lima. Sampean kabeh faham? Petatar bimbing : Faham bu.. Penyelidik : Siap-siap! Saiki di jajal ya? Siswa jaga : Iya bu.. Siap! Dialog 4.10 Peneliti Melakukan Tes Konsentrasi Selepas peserta ajar siap untuk membiasakan, pemeriksa lamar semua siswa didik buat berintegrasi kepada kelompoknya nan sudah dibentuk pekan kemarin. 2) Kegiatan Inti Setelah petatar didik siap belajar, peneliti membagikan satu benang jeluang nan sudah di beri tema nan sekufu ialah Preinan kepada masing-masing kerumunan, dan pesuluh bimbing harus memuati bersama-sama kelompoknya dengan bergantian. Peneliti menjelaskan aturan permainannya, dapat dilihat sreg dialog berikut. Peneliti : Resan dolanan kelompoke ngene ya. Yunda kertase sampean kabeh kui wis ana tema sing panggone ning paruh jeluang kui, nah tugase kelompoke sampean kabeh ngisi gantian. Selama ngisi kui, di paringi perian 5 ketika. Euro wis itungan ke lima, langsung kertase di geser ning kanca sandinge. Ana sing ditakokake? Peserta didik : Lekne dereng mantun anggene nulis pripun bu? (tanya Imam) Peneliti : Apik, Imam wis wani takon. Nah, lekne ugung ayo ya tetep di lengser ning kanca sandinge, kui berarti jawabane kelompok sampean kurang 1, gak padha karo liyane. Ana sing takon maneh? Peserta didik : Mboten bu.. Ayo di mulai bu! Peneliti : Oke, yen wis faham kabeh. Wis siap di start ya? Murid tuntun : Siap bu! Dialog 4.11 Peneliti Menguraikan Aturan Permainan pada Pertemuan kedua Setelah peserta ajar mengerti kebiasaan permainannya, peneliti membimbing langsung proses penerimaan. Sederum rajin menghitung, penyelidik keliling mencaci saban kelompok peserta pelihara. Pengkaji menghentikan permainan sekiranya ada peserta didik nan kesulitan dan masih belum memahami, pelan-lapangan peneliti menjelaskan juga rasam permainan tersebut.

30
91 Waktu yang ditentukan ada 90 menit lakukan permainan dan ada waktu dimana bagi mengusir rasa jenuh dan bosan peserta didik, terkadang penyelidik menghentikan permainan dan diisi dengan tes konsentrasi. Ketika petatar ajar sudah kembali bersemangat, permainan pun di lanjutkan setakat radu. Setelah permainan radu peneliti membetulkan hasil jawaban mereka, dan membacakan balasannya. Peneliti mereklamekan kelompok nan tercepat, terkompak, dan yang paling segeh. Seterusnya, pengkaji membagikan tanda jasa perumpamaan nilai untuk ditempelkan ke tiang nilai yang sudah tersaji di papan bawah. Kemudian petatar didik menempelkan hasil Mind Mapping nan di buatnya ke depan kelas. Kerangka 4.12 Petatar Jaga Memajang Hasil Mind mapping yang Dibuatnya ke Depan Inferior

31
92 3) Kegiatan Akhir Pada kegiatan intiha, peneliti mengadakan pemantapan materi dengan mengajukan beberapa tanya kepada peserta didik. Keadaan ini dilakukan untuk memancing kontribusi pesuluh tuntun privat menyimpulkan materi penelaahan. Setelah itu peneliti membagikan soal Post test siklus II kepada murid didik. Adapun soal Post test sebagaiana terlampir. Rajah 4.13 Petatar Didik Mengerjakan Soal Post test Siklus II Setelah radu berbuat Post test siklus II, peneliti menyuruh salah satu murid didik untuk ke depan kelas bawah dan membacakan hasil nan dikerjakannya. Petatar ajar yang tak mendengarkan sewaktu menanggapi hasil pegangan teman mereka dengan arahan peneliti. Peserta didik membacakan hasil kata sesuai tema yang cak semau intern karangan deskripsinya, dan menotal besaran kata nan diperolehnya dalam coretan tersebut.

32
93 Gambar 4.14 Rasyid Membacakan Catatan Deskripsi Hasil Post test Siklus II Selanjutnya peneliti memberikan cemeti kepada pelajar didik untuk lebih bersemangat dalam belajar. Pengkaji pun mengasihkan reward bagi peserta yang terkebat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Kemudian peneliti bersama pelajar tuntun mengakhiri penerimaan dengan mengucap Hamdalah bersama, dan peneliti mengucapkan salam. c. Pengamatan 1) Deskripsi Observasi Ketangkasan Peneliti Hasil rata-rata observasi keterampilan pemeriksa pada pelaksanaan tindakan siklus II boleh dilihat lega Tabel 4.8 berikut ini. Grafik 4.6: Data Hasil Kegesitan Pengkaji Siklus II Proses Pembelajaran Menulis Rata-rata Kategori Aspek Pertemuan I Pertemuan II Tahap Pendahuluan ,5 Sangat Baik Tahap Inti ,5 Baik Tahap Penutup Suntuk Baik Rata-rata Kegesitan Peneliti (%) 86,66 Suntuk Baik

33
94 Berdasarkan hasil pengamatan kelincahan pengkaji puas siklus II umumnya skor menjejak 86,66 dengan kategori sangat baik (85-100) dengan rincian sebagai berikut. Kegiatan tahap pendahuluan diperoleh skor 92,5 dengan kategori sangat baik (85-100). Kegiatan tahap inti diperoleh skor 77,5 dengan kategori baik (70-84), dan kegiatan tahap penutup diperoleh skor 90 dengan kategori sangat baik (85-100). Dari uraian di atas diperoleh cerminan mengenai tingkat kemenangan pendedahan daftar kata melalui metode Mind Mapping pada siklus II dari aspek peneliti. Berpangkal tabel tersebut, hampir seluruh kegiatan telah dilaksanakan pemeriksa dengan maksimal dalam pembelajaran. Dengan demikian, persentase yang diperoleh dari hasil pengamatan aktivitas peneliti kerumahtanggaan pengajian pengkajian kosakata melalui metode Mind Mapping sikus II ialah 85,66% (Kategori suntuk baik = berhasil). 2) Deskripsi Observasi Aktivitas Peserta Pelihara Hasil observasi aktivitas pesuluh tuntun pada pembelajaran kosakata melalui metode pembelajaran Mind Mapping pada siklus II sebagaimana pada Tabel 4.9 berikut. Tabel 4.7: Data Hasil Observasi Aktivitas Pesuluh Tuntun Siklus II Proses Penerimaan Menulis Rata-rata Kategori Aspek Perjumpaan I Persuaan II Respon 81,25 87,5 84,37 Baik Antusiasme 81,25 93,75 87,5 Tinggal Baik Keaktifan 87,5 93,75 90,62 Sangat Baik Kerjasama 87,5 81,5 84,37 Baik Lazimnya Aktivitas Murid Pelihara 86,71 Tinggal Baik

34
95 Hasil observasi aktivitas murid asuh plong proses meningkatkan pendudukan kosakata siklus II nan tertera sreg tabel menunjukkan bahwa intern peningkatan penyerobotan perbendaharaan kata memperoleh rata-rata kredit 86,71 dengan kategori sangat baik (85-100). Aspek antusiasme (87,5), dan aspek keaktifan (90,62) berkategori baik (70-84), aspek antusiasme ditandai dengan sikap mengamalkan Mind mapping dengan cepat, memperhatikan instruksi mulai sejak peneliti, tetapi terbatas runtut dan kurang beres dalam penulisannya. Aspek keaktifan ditandai dengan siswa pelihara sudah aktif bertanya dan menjawab pertanyaan. Aspek respon (84,37) dan aspek kerjasama (84,37) dengan kategori baik (70-84). Aspek respon ditandai dengan murid didik menunjukkan ekspresi doyan, dan gembira cuma masih nampak kebingungan dalam mengerjakan cak bertanya latihan. Aspek kerjasama ditandai dengan peserta jaga belum subur bekerjasama dengan baik dengan anggota kelompoknya bilamana penataran kosakata menerobos metode Mind Mapping. Berusul uraian di atas bisa disimpulkan bahwa dalam mengajuk pembelajaran kosakata dengan metode Mind Mapping antusias dan keaaktifan pelajar bimbing internal kategori sangat baik, sedangkan untuk respon dan kerjasama peserta ajar dalam kategori baik. 3) Hasil Belajar Petatar Didik Siklus II Skala total kata (Pre test dan Post test II) Hasil penguasaan kosakata pada siklus II sudah mencapai target pencapaian, dan sudah terserah eskalasi dibandingkan dengan ponten hasil pembenaran

35
96 sebelum tindakan dan siklus I. Perbandingan umumnya nilai sebelum dan sesudah tindakan siklus II, bisa dilihat pada Tabel 4.10 berikut. Tabel 4.8 Rasio Hasil Tes Sebelum dan sesudah Tindakan No. Kategori Penilaian Rata-rata Pre test Siklus II 1. Jumlah temuan vokabuler 71,66 89,16 2. Ketepatan penulisan pembukaan 69,16 83,33 3. Kualitas isi karangan 72, Penggunaan bahasa 67,5 82,5 Rata-rata Hasil Test Peserta Didik 70,20 86,25 Kategori Baik Lampau Baik Berdasarkan data tabel tersebut, diperoleh gambaran mengenai kesuksesan peningkatan penguasaan kosakata murid didik dengan diterapkannya metode Mind mapping. Bersumber data di atas bisa dilihat bahwa hasil penguasaan kosakata peserta ajar siklus II secara keseluruhan telah mencapai target yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa Mind Mapping dapat meningkatkan jumlah alas kata temuan peserta didik. Berdasarkan tabel di atas boleh dijelasakan bahwa, rata rata hasil pembenaran peserta didik siklus II 86,25 dengan kategori sangat baik (85-100). Jumlah temuan kosakata 89,16 dan kualitas isi karangan 90 dengan kategori lewat baik (85-100). Presisi penulisan perkenalan awal 83,33 dan penguasaan bahasa 82,5 dengan kategori baik (70-84). d. Hasil Temu ramah Selain observasi, penyelidik kembali tetap berbuat wawancara dengan suhu dan beberapa peserta didik. Situasi ini dilakukan bikin mendapatkan informasi nan lebih jelas mengenai keberhasilan selama proses penataran berlangsung, serta bagi mengetahui perkembangan petatar didik sesudah diterapkan metode

36
97 pembelajaran Mind Mapping dalam pembelajaran. Wawancara ini dilakukan sehabis pelaksanaan Post test siklus II. Interviu dilkukan kepada subjek wawancara nan terdiri dari hawa, teman sejawat dan sejumlah peserta didik kelas V. Temu duga dilaksanakan secara bersama dengan murid ajar enggak, lain dilakukan perorangan. Berikut transkip wawancara yang dilakukan maka dari itu pengkaji dengan beberapa peserta jaga dalam jangka waktu yang farik. 1) Wawancara dengan guru Wawancara ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 24 November 2016, yang bersemayam di ruang master. Wawancara ini dilakukan setelah siklus II selesai dan data Post test sudah teridentifikasi. Berikut wawancara peneliti dengan bu Ririn. 89 Peneliti : Bagaimana menurut ibu, penelitian nan saya untuk? Bu Ririn : Menurut saya sudah banyak pertambahan tinimbang sebelumnya mbak, anak-anak juga sudah lebih aktif, dan sudah mulai berani menyoal pada master dan temannya. Pelajar bimbing yang nilainya di bawah KKM memang harus ekstra panjang usus mengajarinya, pelajaran lainnya skor mereka juga masih tekor, tapi kredit Bahasa Jawa kali ini sudah termasuk bagus. Pengkaji : Baik bu, terimakasih banyak untuk sarannya. Semoga penajaman nan saya lakukan dapat bermanfaat untuk sekolah ini, dan khususnya bikin peserta didik kelas V. Bu Ririn : Iya mbak, sama-sama. Hendaknya bermanfaat Dialog 4.12 Wawanrembuk dengan Suhu Kelas Akan halnya pelaksanaan Siklus II Berikut konsultasi pengkaji dengan antagonis sejabat. 90 Peneliti : Na, bagaimana menurutmu penelitianku hari ini? Zayyina : Sudah baik Ma, kamu juga sudah bisa mengondiskan kelas dengan tepuk-tepuk nan dapat membuat peserta didik lagi fokus detik mereka start ramai dan berbicara sendiri.. Peneliti : sekiranya untuk murid didik bagaimana? Zayyina : Respon pelajar tuntun sangat baik. Mereka sudah berani menanya atau mengungkapkan gagasan mereka.. Dialog 4.13 Wawansabda Peneliti dengan Teman Sejawat 89 Hasil dengar pendapat dengan Ibu Ririn Puji Utami selaku wali kelas bawah V SDN Tunge 2 Wates Kediri, pada tanggal 24 November Hasil tanya jawab dengan Zayyina Zahro selaku teman sepekerjaan dari Jurusan PGMI, sreg rontok 24 November 2016

37
98 2) Wawancara dengan siswa pelihara Dengar pendapat dengan peserta didik ini dilaksanakan pada tahun Kamis tanggal 24 November 2016, dan berlangsung setelah wawancara dengan guru selesai. Soal jawab ini dilakukan momen murid didik papan bawah V semenjana berlindung. Mereka adalah Era, Aldo, dan Rosyid. Berikut pernyataan dari para siswa didik. 91 Pemeriksa : Apa kalian senang dengan kaidah bu Ilma mengajar? Peserta didik : Senang sekali bu, kami semua senang diajari oleh bu Ilma. Dike : Saya doyan membuat gambar-gambarnya bu, saya boleh bangun terus. (Jawab salah suatu peserta asuh) Peneliti : Barang apa yang kalian masih mau jika diajar dengan metode Mind Mapping? Pelajar didik : Kepingin bu, pembelajarannya menyenangkan. Bisa sambil menggambar, dan mengungkapkan apa yang kita ketahui. Peneliti : Terimakasih ya anak-anak asuh, semoga apa yang bu Ilma ajarkan dapat berguna untuk bekal kehidupan kalian selanjutnya. Jangan lupa membiasakan, dan jadilah anak asuh nan memegahkan. Kalian siap? Peserta tuntun : Siapbu! Dialog 4.14 Temu ramah Peneliti Dengan Peserta Didik Kelas V Dari hasil wawanrembuk di atas, dapat disimpulkan bahwa mereka tidak lagi mengalami kesulitan dengan diterapkannya metode pendedahan Mind Mapping pada mata pelajaran Bahasa Jawa. Mereka pun mutakadim mulai menaksir kursus Bahasa Jawa dan memafhumi materi nan diajarkan. Keadaan ini terbukti hanya 4 petatar didik nan belum tuntas belajar. e. Hasil Catatan Lapangan Catatan alun-alun ini digunakan untuk mencatat situasi-peristiwa terdepan yang terjadi dan bukan ada n domestik utas observasi sepanjang kegiatan penataran berlanjut. Hasil catatan pelan pada siklus II yaitu: 91 Hasil wawancara dengan Aldo, Era, dan Rosyid petatar didik kelas V SDN Tunge 2 wates Kediri, sreg tanggal 24 November 2016

38
99 1. Kegiatan penataran sudah lalu berlangsung lebih baik dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran siklus I. 2. Peserta didik mutakadim lebih aktif internal kegiatan penataran, baik waktu penyampaian materi maupun saat urun pendapat gerombolan. 3. Pesuluh didik sudah lalu nyali dan percaya diri, biarpun sonder ditunjuk murid tuntun berani ke depan papan bawah. 4. Peneliti lebih baik kerumahtanggaan mengelola kelas sehingga suasana kelas lebih kondusif. F. Refleksi Secara garis besar kegiatan penelaahan dalam siklus II baik. Lega siklus ini penyelidik dan observer meperoleh temuan-temuan sebagai berikut: 1. Pengajian pengkajian sudah berlangsung dengan baik karena peserta didik telah terbiasa dengan metode pengajian pengkajian yang digunakan. 2. Selama proses pengajian pengkajian peneliti cinta memberikan manah yang merata kepada peserta didik. 3. Peserta jaga tampak bersungguh-sungguh dalam membuat Mind Mapping dan saat mengerjakan evaluasi. Semua penunjuk yang dilakukan peneliti dan petatar ajar dilaksanakan dengan baik.

39
100 G. Temuan Pengkhususan Beralaskan investigasi yang dilakukan oleh pengkaji, ada bilang temuan yang diperoleh n domestik pelaksanaan eksplorasi ini diantaranya: a. Siswa ajar merasa senang dengan penerapan metode penerimaan Mind mapping, karena mereka dapat belajar simultan berekspresi dengan bakat seni mereka. Peserta tuntun bertambah mudah memahami materi dengan diterapkannya metode pembelajaran Mind Mapping. Mereka juga termotivasi privat belajar untuk aktif kerumahtanggaan kegiatan penerimaan dan mendapatkan penghargaan. b. Penerapan metode pembelajaran Mind Mapping membuat peserta pelihara yang tadinya pasif menjadi aktif dalam pengajian pengkajian. Mereka boleh membeberkan pemikiran mereka, dan mereka merasa didengar, serta dihargai. c. Prestasi belajar petatar asuh kelas V SDN Tunge 2 Wates Kediri mengalami peningkatan dengan diterapkannya metode pembelajaran Mind Mapping plong aneksasi khazanah kata mata kursus Bahasa Jawa. B. Pembahasan Hasil Penelitian Eksplorasi ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta ajar dalam penataran Bahasa Jawa. Dengan menunggangi metode Penerimaan Mind Mapping intern pendedahan Bahasa Jawa peserta asuh akan lebih aktif dan mampu menemukan kosakata nan dimaksud dalam tema. Penerapan metode pembelajaran Mind Mapping pada upaya peningkatan penguasaan kosakata Bahasa Jawa di kelas bawah V SDN Tunge 2 Wates Kediri ini terjadi berpunca 2 siklus, dalam setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Siklus I

40
101 dilaksanakan sreg, pertemuan pertama hari Rabu 16 November 2016, dan pertemuan kedua Kamis, 17 November Sementara itu siklus II dilaksanakan pada, pertemuan purwa masa Rabu, 23 November 2016, dan pertemuan kedua hari Kamis, 24 November Dalam kegiatan penelaahan dibagi menjadi 3 tahap merupakan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan pengunci. Puas kegiatan pendahuluan peneliti membentangkan tujuan penataran, memberukan apersepsi, dan memotivasi peserta didik. Untuk kegiatan inti, pengkaji menyampaikan materi dan menerapkan metode pengajian pengkajian Mind Mapping bakal meningkatkan hasil belajar peserta asuh. Pada kegiatan akhir, pengkaji menyerahkan kesimpulan dan pemberian penguatan. Pasca- persuaan kedua sreg masing-masing siklus penyelidik memasrahkan validasi evaluasi/ Post test untuk mengetahui sejauh mana eskalasi hasil membiasakan dan ketuntasan sparing peserta pelihara sesudah diterapkannya metode pembelajaran Mind Mapping. Hasil eksplorasi boleh diketahui berpunca paparan berikut ini: 1. Taksiran dan Pembahasan Data Siklus I setakat dengan Siklus II a. Data Kecekatan Hawa Rekapitulasi lazimnya peningkatan kegesitan peneliti siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4.9: Data Pertambahan Keterampilan Peneliti Siklus I dan Siklus II Aspek Tindakan Ratarata Kategori Siklus I Siklus II Tahap Pendahuluan 77,5 92,5 85 Meningkat Tahap Inti 67,5 77,5 72,5 Meningkat Tahap Penutup 72, ,25 Meningkat Rata-rata Keterampilan Peneliti 72,5 86,66 79,58 Meningkat

41
Peningkatan Kecekatan Peneliti umumnya 65 siklus I siklus II Gambar 4.15: Perkiraan Hasil Pengamatan Keterampilan Guru Siklus I dan II Beralaskan tabel diatas menunjukkan adanya peningkatan keterampilan pemeriksa intern pembelajaran bahasa Jawa dengan menerapkan metode Mind Mapping, rata-rata siklus I adalah 72,5 meningkat menjadi 86,66 sreg siklus II. Tahap pendahuluan, guru membuka kursus dengan mengucapkan salam, kemudian mengondisikan murid didik hendaknya siap bagi membiasakan dan menelanjangi wawasan peserta didik dengan apersepsi yang berkaitan dengan tema khazanah kata pada siklus I lingkungan dan puas siklus II preinan. Guru kembali mengedepankan maksud pembelajaran dan menyorongkan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan pada persuaan tahun tersebut, suhu juga memotivasi petatar tuntun seharusnya giat dalam belajar dan rajin semangat memulai aktivitas. Kegiatan pendahuluan tersebut sesuai dengan pendapat Anitah nan mengemukakan bahwa keterampilan membuka pelajaran harus menarik manah

42
103 pesuluh jaga, membagi acuan, serta berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki peserta ajar. Ada beberapa cara internal menyerahkan motivasi ialah dengan sikap hangat dan antusiasme suhu, menimbulkan rasa cak hendak senggang pesuluh didik, serta menuduh minat petatar didik. 92 Pada kegiatan inti, guru membimbing dan memasrahkan taklimat kepada peserta didik bikin membuat mind mapping, memanfaatkan wahana dan alat peraga secara efektif, ikutikutan kelas dengan memperhatikan peserta didik secara menyeluruh, dan memberikan pujian sebagai stabilitas. Temperatur cepat tanggap apabila ada tanggapan nan di harapkan dari pesuluh asuh melalui penguatan lisan berupa kata-kata apresiasi, serta non verbal dengan menggerakkan anggota badan. Kegiatan inti tersebut termasuk kelincahan mengelola pembelajaran. Situasi ini sesuai dengan pendapat Anitah yang mengemukakan bahwa dalam membimbing siswa didik secara perorangan harus terjadi interaksi yang akrab antara master dengan peserta didik, pelajar jaga belajar sesuai dengan kepantasan, cara, kemampuan, dan minatnya sendiri, kemudian peserta bimbing berkat bantuan guru sesuai dengan kebutuhannya. Dalam menggapil kelas bawah, guru harus menunjukkan sikap tanggap, menjatah perhatian, memberi petunjuk nan jelas, maupun memanggil. 93 Kegiatan pengunci, suhu melakukan refleksi dan menyimpulkan materi bersama petatar pelihara dengan melakukan temu duga secara sambil serta mengasihkan penstabilan penjelasan tentang pembelajaran yang telah 92 W Sri Anitah, Strategi Pembelajaran di SD, (Jakarta:Universitas Terbabang, 2009), peristiwa Ibid.., hal & 8.37

43
104 dilaksanakan. Guru juga memberikan kesempatan kepada pelajar didik untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas dan mengerjakan evaluasi. Menutup pelajaran termasuk internal keterampilan menutup pelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Anitah yang mengemukakan bahwa dalam keterampilan pelajaran guru harus mengatasi cara menutup pelajaran melewati review (belinjo kembali), memonten (mengevaluasi), serta memberikan tindak lanjur. 94 Pembahasan aktivitas penyelidik dalam investigasi tersebut sesuai dengan pendapat Turney (dalam Anitah mengenai kesigapan dasar yang harus dimiliki temperatur) yaitu: (1) ketangkasan bertanya; (2) keterampilan menjatah penguatan; (3) kegesitan mengadakan spesies; (4) kecekatan menjelaskan; (5) keterampilan membuka dan menutup tutorial; (6) keterampilan membimbing urun rembuk gerombolan boncel; (7) keterampilan menggapil kelas; (8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. 95 Dengan demikian membuktikan bahwa penerapan metode pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan kegesitan guru/ peneliti. b. Data Aktivitas Pelajar Bimbing Aktivitas siswa tuntun ialah eskalasi proses pembelajaran kosakata melalui metode Mind Mapping siswa didik kelas V SDN Tunge 2 Wates Kediri. Pengamatan aktivitas proses pembelajaran dilakukan selama siklus I dan siklus II berlantas. Berdasarkan hasil observasi nan telah dilakukan, 94 Ibid.., peristiwa Ibid.., hal.7.2

44
105 didapatkan rekaan observasi proses pembelajaran kosakata pelajar jaga seumpama berikut: Tabel 4.10: Rekapitulasi Aktivitas Peserta Pelihara Siklus I dan siklus II Aspek Siklus I Siklus II Galibnya Ket. Respon 68,75 84,37 76,56 Meningkat Antusiasme 78,12 87,5 82,81 Meningkat Keaktifan 71,87 90,62 81,24 Meningkat Kerjasama 62,5 84,37 73,43 Meningkat Rata-rata Aktivitas Petatar Asuh 70,31 86,71 78,51 Meningkat Kenaikan Aktivitas Murid Tuntun siklus I siklus II Lembaga 4.16: Tabel Presentase Pengamatan Aktivitas Siswa Didik Siklus I dan Siklus II Beralaskan grafik dan diagram di atas dapat menunjukkan adanya eskalasi keaktivan pesuluh ddik papan bawah V SDN Tunge 2 Wates Kediri, biasanya siklus I 70,31 meningkat menjadi 86,71 lega siklus II. Dengan demikian membuktikan bahwa penerapan metode Mind Mapping boleh meningkatkan proses belajar peserta bimbing kelas V puas mata pelajaran bahasa Jawa materi kosakata SDN Tunge 2 Wates Kediri.

45
106 Aktivitas pelajar didik yang berupa respon merupakan aktivitas pesuluh bimbing nan diberikan dalam menanggapi rangsangan yang diberikan maka itu hawa, begitu juga tindakan yang dilakukan ketika penataran di inferior. Hal tersebut dapat diamati internal proses pembelajaran. Antusiasme petatar didik dapat dilihat melalui perasaan kegembiraan ketika pembelajaran berupa hayat dalam sparing, pelajar didik menclok dan masuk kelas tepat musim, mendengarkan penjelasan dengan penuh pikiran dan raut wajah yang gembira kerumahtanggaan melaksanakan tugas dan mencatat materi dari guru. Respon dan antusiasme murid didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran merupakan emotional activities. Keadaan tersebut sesuai dengan pendapat Diedrich dalam Sardiman, bahwa emotional activities yaitu kegiatan yang dilakukan siswa saat pembelajaran misalnya menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup. 96 Keaktifan peserta didik enggak semata-mata di tatap dalam rajah fisik, melainkan juga dengan adanya keterlibatan peserta ajar secara terus menerus baik fisik, psikis, intelektual maupun emosional dalam penataran. Hal ini didukung oleh pendapat Ahmad Sugandi yang menyatakan bahwa keaktifan petatar jaga n domestik proses penataran lain cuma keterlibatan intern rancangan fisik sebagai halnya duduk melingkar, melakukan/mengerjakan sesuatu, akan tetapi juga dalam bentuk proses amatan, penghayatan nan kesemuanya merupakan keaktifan peserta didik dalam hal psikis dan emosi Sardiman, A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.( Jakarta: Rajawali Press,2011) 97 Sugandi, Teori Pengajian pengkajian, hal. 75

46
107 Kerjasama peserta asuh internal penelitian ini adalah sikap cak hendak bekerja selevel dengan sesama antiwirawan atau anggota kelompok untuk memacu peserta didik meski cak hendak membiasakan lebih aktif, memotivasi murid pelihara lakukan meningkatkan kesadaran, sampai ke hasil sparing yang kian baik, dan dapat menghargai pendapat hamba allah lain. Semua itu akan membangun kemampuan privat berinteraksi, berbagi ide, pengutipan keputusan, serta mampu membereskan satu persoalan. Hal ini didukung oleh pendapat Miftahul Huda nan menyatakan bahwa kerjasama merupakan kejadian terdepan bagi usia manusia, karena dengan kerjasama manusia dapat melangsungkan kehidupannya. Kerjasama internal konteks pembelajaran yang melibatkan peserta didik yaitu ketika pelajar didik berkreasi sama bagi menyelesaikan satu tugas kerubungan, mereka mengasihkan dorongan, anjuran dan informasi pada n antipoda sekelompoknya yang membutuhkan bantuan. 98 c. Data Hasil Sparing Peserta Didik Penelitian dengan menerapkan metode Mind Mapping bertujuan bikin meningkatkan hasil berlatih peserta ajar kelas V SDN Tunge 2 Wates Kediri netra pelajaran bahasa Jawa materi glosari. Seperti nan dikemukakan oleh Nana Sudjana yang menyatakan bahwa hasil membiasakan adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki setelah ia menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar) Huda, Cooperative Learning, hal Sudjana, Penelitian Hasil, kejadian. 2

47
108 Sedangkan Winkel mengemukakan bahwa hasil sparing adalah perlintasan nan mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. 100 Dari hasil penelitian didapatkan adanya kenaikan hasil belajar. Bertambah jelasnya, boleh digambarkan pada tabel berikut: Tabulasi 4.11: Rekapitulasi Data Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II No. Kategori Penilaian Nilai Ket. Pre test Siklus I Siklus II 1. Kuantitas temuan kosakata 71,66 79,16 89,16 Meningkat 2. Ketepatan penulisan kata 69,16 77,5 83,33 Meningkat 3. Kualitas isi tulisan 72,5 75,83 90 Meningkat 4. Penggunaan bahasa 67,5 81,66 82,5 Meningkat Rata-rata Hasil Test Peserta Jaga 70,20 78,54 86,25 Meningkat Kategori Baik Baik Sangat Baik Meningkat Berdasarkan tabulasi diatas boleh diketahui bahwa hasil membiasakan peserta asuh mengalami peningkatan tiba tes sediakala, tes akhir I, samapi verifikasi akhir II. Hal ini boleh diketahui dari kebanyakan nilai murid didik, rata-rata tes sediakala 70,20 (pre test) meningkat menjadi 78,54 pada tes akhir I (siklus I), dan meningkat lagi menjadi 86,25 pada tes penutup II (siklus II). Selain dapat dilihat dari angka rata-rata siswa didik. peningkatan hasil belajar peserta didik dapat dilihat kembali berusul ketuntasan hasil belajar alias Tolok Ketuntasan Minimsl (KKM) yang ditetapkan ialah 70. Terbukti pada pemeriksaan ulang awal, dari 30 peserta jaga yang mengikuti tes, 13 peserta tuntun yang tuntas dan 17 murid jaga yang enggak tuntas. Dengan prosentase ketuntasan hasil berlatih 43,33%. Prosentase ketuntasan hasil belajar meningkat pada pembenaran akhir I adalah 66,66% dengan 30 peserta tuntun yang mengajuk tes, 20 peserta ajar tuntas dan 10 petatar didik bukan tuntas. Selanjuntnya prosentase ketuntasan meningkat juga 100 Purwanto, Evaluasi Hasil, keadaan. 45

48
109 plong tes akhir II yaitu 83,33% dengan 30 peserta didik yang mengajuk tes, 25 peserta didik tuntas dan 5 peserta asuh tindak tuntas. Peningkatan ketuntasan hasil belajar dapat dilihat lega tulang beragangan dibawah ini: Perbandingan Hasil Belajar , pre test siklus I siklus II rata-rata Gambar 4.17: Taksiran Hasil Sparing Petatar Didik Siklus I dan Siklus II Berdasarkan hasil pendalaman bahwa terdapat kenaikan hasil belajar bahasa Jawa kasatmata peningkatan penguasaan kosakata bahasa Jawa dengan menggunakan model pembelajaran Mind Mapping mulai sejak siklus I sebatas dengan siklus II Hasil belajar adalah pertukaran perilaku nan diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas berlatih. Perubahan perilaku tersebut dapat berupa peningkatan keterampilan maupun peningkatan pengetahuan nan dimiliki oleh peserta didik. 2. Implikasi Hasil Penelitian Proses pembelajaran peningkatan pemilikan kosakata bahasa Jawa menerobos metode Mind Mapping mendorong peserta didik bagi dapat belajar lebih menyabarkan, merangsang peserta bimbing bikin mengembangkan kreativitas dan

Source: https://docplayer.info/64978556-Bab-iv-hasil-penelitian-dan-pembahasan-penerapan-metode-mind-mapping-peserta-didik-kelas-v-sdn-tunge-2-wates.html

Posted by: skycrepers.com