Bahan Dan Langkah Pembelajaran Sastra Di Sd Kelas Tinggi


Gapura I


PENDAHULUAN

Secara etimologi, sastra berpunca semenjak bahasa latin, yaitu literatur (litera=leter atau karya tulis). Internal bahasa Indonesia karya sastra berasal berasal bahasa sansakerta, sas artinya mengajar, memberi petunjuk ataupun instruksi, tra-artinya instrumen maupun alat angkut sehingga dapat disimpulkan bahwa sastra artinya kumpulan radas untuk mengajar, buku petunjuk, kiat instruksi alias pengajaran nan baik.

Sastra adalah inspirasi vitalitas yang diwujudkan kerumahtanggaan lembaga ketampanan batin yang dapat dinikmati melangkaui perasaan atau perasaan kita. Sastra adalah satu karya seni nan berbimbing dengan ekspresi dan keindahan. Dengan prolog lain, kegiatan sastra itu ialah suatu kegiatan yang memiliki unsur-elemen seperti pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, usia, dan enggak-lain dari seorang pengarang yang diekspresikan dalam bentuk tulisan.

Karya sastra dapat dijadikan bagaikan ki alat kerumahtanggaan melebarkan atma humanitas, yaitu jiwa yang halus, berbudi dan manusiawi. Sehubungan dengan hal itu, karya sastra punya kemampuan yang bisa menyentuh pembaca mudah-mudahan boleh menjadi manusia yang responsif terhadap situasi-hal nan indah dalam kehidupan ini. Karena pada hakikatnya turunan pelahap mencari nilai-poin kesahihan, maslahat dan keindahan.

Karya sastra yang baik yaitu karya yang mengangkat masalah manusia dan kemanusian. Sesuatu nan mempunyai nilai adab, adalah angka nan berpangkal dari nilai-nilai kemanusian, serta nilai-skor baik dan buruk yang global.

Berdasarkan ragamnya karya sastra dibagi menjadi tiga ialah, prosa, syair, dan sandiwara bangsawan.

Unsur-unsur karya sastra terdiri terbit elemen intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu seorang, seperti penokohan, latar, alur, tema, amanat. Dalam pemberitahuan terkandung pesan moral. Pesan moral mengandung nasihat, nubuat baik buruk yang diterima umum akan halnya ragam, sikap, kewajiban dan sebagainya Padahal unsur ekstrinsik yaitu elemen diluar karya sastra tersebut, diantaranya psikologi pengarang, sikap pengarang, keyakinan dan pandangan hidup pengarang dan sebagainya.

Karya sastra dapat dipahami dengan penghargaan, apresiasi secara sempit bermakna penilaian/penghargaan terhadap sesuatu.

1.

Bagaimana koalisi sastra dalam pengembangan pembelajaran mengaji bersendikan karya sastra anak?

1.

Agar momongan memahami sastra Indonesia yaitu sajak, prosa, dan drama

2.

Mengetahui elemen-unsur nan tercalit dalam karya sastra


Portal II


PEMBAHASAN

Dalam  pembelajaran sastra  untuk penataran di SD secara garis ki akbar di bagi menjadi tiga yakni syair, drama, dan prosa.

 Karya sastra terdiri atas 2 variasi, yaitu prosa dan puisi. Biasanya prosa disebut coretan bebas, sementara itu syair disebut karangan terikat. Puisi adalah jenis sastra, sedangkan sajak ialah individu puisi. Maka dari itu karena itu, kedua istilah itu jangan dicampur adukkan pemakaiannya.

Sajak di bagi menjadi dua yaitu puisi lama dan puisi baru


Pantun

1.

Mantra, merupakan puisi lama yang dipercaya boleh mendatangkan kekuatan gaib yang biasanya diajarkan atau diucapkan makanya pawang untuk menandingi guna yang lain.

2.

Bidal, adalah bahasa berkias bikin mengungkapkan perasaan nan sehalus-halusnya, sebatas orang lain yang mendengarkan harus mendalami dan meresapi faedah serta maksud intern hatinya sendiri, rata-rata mandraguna petuah, pasemon, peringatan, dan sebagainya. Menurut penggunaannya bidal boleh diklasifikasikan menjadi: pepatah, perumpamaan, simile, ibarat, amsal, pemeo, perbahasaan, kata majemuk, dan andai.

3.

Perbahasaan, merupakan kelompok kata alias kalimat yang tetap susunannya dan mengisahkan maksud tertentu. Yang termasuk ke dalam jenis peribahahasa ini merupakan kata majemuk, misal, ibarat, simile.

4.

Peribahasa, adalah kiasan tepat yang berupa kalimat sempurna dan sumir, pada mulanya dimaksudkan untuk mematahkan pembicaraan makhluk bukan.

5.

Misal, adalah majas yang berupa nisbah dua kejadian yang sreg hakikat berbeda, tetapi sengaja dianggap sekufu (secara eksplisit dinyatakan dengan kata-kata pembanding umpama, andai, bagai, seperti, sebagai, dsb).

6.

.  Ibarat, adalah proporsi dengnan seterang-terangnya dengan kejadian alam sekitarnya, yang mengandung sifat puisi di dalamnya.


Puisi mentah

1.

 Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua lajur (sajak dua seuntai).

2.

Tersina, adalah sajak nan tiap baitnya terdiri atas tiga saf (puisi tiga seuntai).

3.

Kuatrain, adalah syair nan tiap baitnya terdiri atas empat deret (puisi catur sekuplet).

4.

Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (sajak lima sebait).

5.

Sektet, adalah syair yang tiap baitnya terdiri atas enam baris (puisi enam seuntai).

6.

Septime, yaitu puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh jajar (tujuh sebait).

7.

Stanza/Oktava, ialah syair yang tiap baitnya terdiri atas delapan banjar (double kutrain ataupun puisi delapan seuntai).

8.

Soneta, yaitu puisi nan terdiri atas empat belas baris nan terbagi menjadi dua, dua stanza pertama masing-masing empat baris dan dua stanza kedua masing-masing tiga banjar.

9.

Sanjak Bebas, yaitu suatu bentuk sanjak nan tak dapat diberi nama dengan nama-nama nan sudah tertentu baik dalam pantun maupun tembang baru.


2.



Unsur-Molekul Karya Sastra Puisi

Plong dasarnya molekul-elemen yang terwalak dalam sajak lain jauh berbeda dengan unsur-unsur nan terdapat karya sastra prosa, belaka secara awak dan teknik eksploitasi bahasa memang memungkinkan terjadi perbedaan yang mencolok antara puisi dan prosa. Di antara atom-atom intinsik puisi adalah: tema, amanat, bait, baris, enjambemen, irama, bahasa, tren bahasa, citraan/imagery, neveauk, plot, setting, penokohan, perwatakan, dan point of view. Kelima molekul terakhir (plot, setting, penokohan, pemeranan, dan point of view) itu jika memang terwalak dalam sebuah puisi.

a.

Tema, adalah pokok pikiran yang dicetuskan pengarang yang menjadi atma dan pangkal kisahan. Tema bisa dibedakan menjadi tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang merupakan sentral perasaan sebuah cerita atau karya sastra, sedangkan tema minor ialah tema yang bisa dilihat dari susut pandang tertentu. Intern sebuah tema mayor bisa terdapat sejumlah tema minor. Bagi sendiri pengarang tema terserah sebelum mengarang sahaja bagi seorang pembaca tema ada sesudah membaca tulisan ataukarya sastra.

b.

 Amanat, adalah gagasan yang memedomani karya sastra dan sekaligus pesan yang cak hendak disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar.

c.

 Bait/strophe, adalah kebulatan kurnia dan nada kerumahtanggaan kuplet alias garitan yang berbentuk puisi, misal: serangkai kelong terdiri atas catur baris, sebait gurindam terdiri atas dua baris. Enjambemem, adalah perloncatan leret; jejer kalimat nan mempunyai tugas ganda bagi menyambung bagianyanbg mendahuluinya dan bagian yang berikutnya.

d.

 Irama, adalah berturut-masuk secara teratur; turun menaiki (pada bunyi, lagu) nan beraturan; alunan yang terjadi karena perulanngan dan penggantian bunyi dalamarus panjang pendek bunyi, persisten lembut impitan, dan tangga rendah nada (internal puisi); ritma; wirama; irama lagi merupakan tenaga gaib yang menimbulkan perhatian tertentu kepada manusia dan dapat menimbulkan gaya keindahan sebuah puisi.

e.

Bahasa, yang dimaksud bahasa membentangi diksi (pilihan alas kata), tendensi bahasa/majas, dan makna konotasi/signifikasi yang ditimbulkan maka dari itu penggunaan gaya bahasa dan penetapan diksi dalam karya syair. Tentang kecondongan bahasa/majas akandibahas n domestik portal idiosinkratis.

f.

 Citraan, merupakan bayangan

Prosa lama atau lebih dikenal sebagai sastra klasik atau satra historis  adalah gambaran nasib masyarakat lama. Ciri-ciri nyawa mahajana lama ini menjadi cirri-ciri berbunga sastra klasik itu sendiri.

Ciri-ciri karya sastra klasik

a.

Bersifat komunal, merupakan menjadi milik bersama.

b.

 Inkognito, tidak diketahui siapa nama penggubahnya/pengarangnya.

c.

Bersifat sangat cacat dinamis, yakni gerak perubahannya silam lambat, sehingga jikalau dilihat dari sudut masyarakat saat ini seolah-olah terlihat statis.

d.

Puas umumnya bersifat irasional, kejadian-kejadian yang digambarkan kurang ataupun bahkan enggak ikut akal.

e.

 Bersifat istanasentris, karena sebagian besar ceritanya berkisar pada kehidupan keluarga dalam mileu istana.

f.

Sastra lama pada umumnya mengasihkan pengajaran/pendidikan baik yang bersifat didaktis moral maupun didaktis religius.

g.

 Bersifat simbolis, sebagian besar ceritanya disajikan dalam tulangtulangan perlambang.

h.

 Bersifat tradisional, yaitu mempertahankan adat ataupun adat yang berlaku sesuai dengan keadaan zamannya.

i.

Klise imitatif, yaitu kebiasaan tiru-meniru yang setia namun turun-temurun.

j.

Sastra lama sebenarnya tak menceritakan manusia, melainkan menceritakan adat-sifat menyeluruh manusia (baik-virulen, lanjut akal-bodoh, adil-lalim, dsb).

sastra lama terpilah-pilah menjadi tiga hari ataupun pembabakan, yaitu:

1) sastra masa purba,

2) sastra masa Hindu, dan

3) sastra masa Islam.

Hasil karya sastra klasik dapat dikatakan merupakan karya sastra lisan yang disampaikan hanya dengan cara komunikasi lisan. Hal ini menyebabkan terjadinya banyak varietas dan pergeseran baik berasal segi alur maupun tata biji yang dikandungnya. Berdasarkan isinya semua spesies dongeng bisa dikategorikan sebagai diversifikasi karya sastra klasik/lama. Di bawah ini diuraikan berbagai macam jenis dongeng yang sekalian merupakan jenis-spesies karya sastra klasik.

a.

Cerita binatang, yaitu kisahan lama yang menokohkan satwa sebagai lambang pengajaran etik (stereotip kembali disebut perumpamaan narasi satwa).

Beberapa contoh fabel, ialah: Napuh dengan Bicokok, Napuh dengan Maung, Hikayat Napuh Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Burung dandang dan Serigala, Burung Bangau dengan Yuyu, Kerang dan Zakar Centawi, dll.

b.

Sage, yaitu cerita lama yang berbimbing dengan sejarah, kraton, ataupun atma sunan-pangeran.

Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, cerita-cerita Panji, Smaradahana, dll.

c.

 Mite/Mitos, yaitu cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda alias situasi yang dipercayai mempuyai kekuatan musnah.

Acuan-contoh sastra lama nan termasuk tipe mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng adapun Terjadinya Padi, Macan Gadungan, Puntianak, Kelambai, dll.

d.

 Mite, adalah kisah lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau area.

Abstrak: Mitos Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dll.

e.

 Parabel, yakni rekaan cerita pendek nan menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan seumpama adtau perimbangan; majas perbandingan menggunakan misal yang terkandung dalamseluruh isi karangan alias narasi.

Contoh: Kisah Para Utusan tuhan, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.

f.

Dongeng Banyol, yaitu cerita akan halnya tingkah laku orang bodoh, malas, ataupun cerdik dan masing-masing diluskiskan secara humor.


2.



Partikel-zarah Karya Sastra Prosa

      Beralaskan bentuknya karya sastra bisa dibedakan menjadi bentuk puisi, prosa, dan drama. Semua susuk karya sastra tersusun berpangkal dua unsur pembangun, yakni elemen intinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur Intrinsik adalah anasir karya sastra yang menmbangun tubuh karya sastra dari n domestik tubuh karya sastra itu sendiri. Sedangkan Unsur esktrinsik merupakan elemen pembangun karya sastra yang berasal bermula luar tubuh karya sastra itu. Pada penggalan ini cuma akan dibahas atom-unsur pembina karya sastra prosa.

Unsur-elemen intrinsik karya sastra prosa adalah begitu juga diuraikan di bawah ini.

a.

Tema, merupakan pusat cerita, maupun ide daya yang memedomani penulisan sebuah cerita.Tema dapat diklasifikasikan menjadi tema mayor, yaitu tema nan punya cakupan lebih luas; dan tema minor ialah tema yang dapat dilihat tesmak pandang tertentu dan mempunyai sifat lebih spesifik.

b.

 Amanat, adalah wanti-wanti yang disampaikan pengarang kepada pembaca.

c.

 Plot / Alur, adalah jalinan keadaan yang membentuk kisah; jalan cerita. Alur dapat diklasifikasikan menjadi silsilah maju, mundur, kronologis, klimaks, antilklimaks, dan flashback.

a)

Alur modern, yaitu galur nan membualkan dari tadinya hingga akhir narasi.

b)

Alur mundur, adalah galur yang menceritakan kejadian masa lalu/silam.

c)

Alur beruntun, adalah alur berdasarkan tata cumbu masa.

d)

Alur klimaks, yakni galur yang dimulai dari penggalan biasa menuju bagian menegangkan.

e)

Alur antiklimaks, adalah alur yang dimulai semenjak bagianm menegangkan merentang halal.

f)

Galur flashback, adalah alur yang mendahulukan bagian akhir cerita, juga ke semula berkiblat ke akhir narasi.

d.

 Penokohan, adalah penentuan dan penciptaan citra tokoh dalam karya sastra.

Bersendikan sifatnya tokoh dalam sebuah karya sastra boleh dibedakan menjadi tiga diversifikasi dalang, adalah pencetus hero (tokoh lakon), antagonis (inisiator jahat, bandingan, inversi), dan pengambil inisiatif tirtagonis (tokoh penengah). Bersendikan tingkat kepentingannya dalam cerita bisa dibedakan menjadi dua yaitu tokoh utama dan otak pembantu/figuran

e.

 Karakteristik, merupakan perwatakan tokom kerumahtanggaan cerita.

Karakteristik biang keladi dapat menjadi dua maca, yakni flat character dan arround character. Flat character adalah watak sendiri pencetus nan tidak kombinasi mengalami perubahan berbunga awal hingga intiha cerita. Arround character adalah jika seorang tokoh mengalami perubahan watak dalam cerita tersebut.

Kerjakan mengidentifikasi watak seorang tokoh bisa dilakukan dengan teknik-teknik di bawah ini.

1. Teknik Dramatik

mengetahui tempat terlampau/mileu hidup tokoh,

prinsip penggagas m,eyelesaikan sebuah permasalahan, dan

musyawarah tokoh enggak.

2. Teknik Analitik

Pada teknik ini pengarang menyampaikan/menguraikan secara langsung pemeranan tokoh yang dimunculkan dalam kisah yang dibuatnya.

Teknik Analitik – Dramatik (gabungan kedua teknik yang ada).

f.

 Point of View, ialah tesmak pandang pengarang; cara pengarang menempatkan dirinya dalam sebuah cerita. Berikut ini diuraikan beberapa spesies ki perspektif pandang pengarang.

v

Narathor Participant, pengarang mempergunakan kata aku-insan purwa (aku sebagai tokoh penting dan aku sebagai bukan penggerak utama).

v

Narathor Omniscient, pengarang mempergunakan alas kata sira (orang ketiga) cak bagi pelaku penting dan pengarang memaklumi seluk beluk tokoh engkau/menyumbangkan manah dalam pribadi dalang.

v

Narathor Observer, pengarang mengisahkan ceritanya dengan mempergunakan perkenalan awal ia (orang ketiga) bakal tokoh utama, dan pengarang tidak mengethaui kronologi ingatan tokoh utama.

v

Narathor multiple, campuran antara ketiga jenis narathor di atas.

g.

 Setting, yaitu latar birit penceritaan; rataan cerita. Terdapat dua jenis setiing, ayaitu setting fisik (perlengkapan, tempat, dan waktu) dan setting psikis (suasana: haru, sedih, gembira, dll).

h.

 Suspense dan Foreshadowing

Suspense, merupakan bagian kisahan yang mampu menciptakan menjadikan pembaca merasakan kegentingan setelah mengikuti atau menyaksikan konflik mental dan konflik sosial yang mencolok. Foreshadowing, adalah kelanjutan bermula suspense, yaitu pelukisan mengenai barang apa yang akan terjadi kemudian kerumahtanggaan cerita. Bagianini diciptakan maka dari itu pengarang buat memujuk perhatian pembaca terhadap keseluruhan narasi agar merasa enak dan plong, tidak merasa bosan.

i.

Limited Titik api dan Unity

Limited Fokus, adalah fragmen kisah yang paling dipentingkan berasal semua perhubungan cerita nan ada; dapat dikatakan adalah pusat cerita. Sedangkan unity merupakan kesatuan atau kepaduan yang terdapat intern sebuah kisah. Jadi walaupun intern sebuah cerita terletak banyak sekali pecahan cerita nan mendampingi cerita inti, keseluruhan cerita tetap bisa dinikmati oelh pembaca dengan baik karena terletak unsur ketunggalan tersebut.

j.

 Bahasa, yaitu bahasa apakah yang dipergunakan; bagimana kandungan makna konotasi/konotasi, ambiguitas maknanya, interferensi bahasa asing/ provinsi yang terdapat dalam karya sastra tersebut.

k.

 Kecondongan Bahasa/Majas, yang dimaksudkan adalah gaya bahasa apa saja yang gelojoh dipergunakan maka dari itu penngarang kerumahtanggaan batik ceritanya (personifikasi, metonimia, alegori, sinekdok, hiperbola,dll).

Sedangkan yang termasuk dalam molekul ekstrinsik sebuah karya sastra prosa adalah sebagaimana paradigma di bawah ini.

Dalam cerpen Jalan Lain ke Roma karya Idrus mengandung nilai-biji kehidupan yang besar artinya bagi pembaca yang ingin memafhumi secara sungguh-sungguh. Kredit-poin semangat tersebut antara alain adalah nilai sosial, moral, ekonomi, kejiwaan, politik, filosofis, dll.

Sifat terus panah yakni baik, hanya jika salah memangkalkan akan menimbulkan hal negatif, begitu juga nan dialami oleh Open.

Mendalami sukma makhluk tidak yaitu terdahulu, karena dengan sedemikian itu kita bisa beramah-tamah dengan masayarakat secara makin baik.

Adat kejujuran sangat terdepan dan lalu sani di hadapan Tuhan.

Lain mudah berputus asa, gaga satu pencahanan, cari pekerjaan yang lain.

Pertentangan membela kelebihan banyak anak adam dengan cara berjuang secara alangkah-bukan main.

6.

. Nilai Filosofi/Religius

Perumpamaan pemeluk agama Islam yang kuat, Open berusaha untuk mendakwahkan agamanya.

       Sandiwara mandraguna dialog antara beberapa tokoh disertai akting nan sesuai dengan ilham     pemeranan. Oleh karena itu, internal membaca dagelan engkau hendaknya dapat main-main ibarat pemrakarsa yang kamu perankan.

Partikel-unsur privat drama meliputi penggerak dan sifatnya, latar, tema, galur/urut-urutan cerita, dan pemberitaan.

1.

Inisiator dan sifatnya

Gembong yakni pelaku dalam sandiwara bangsawan. Sifat maupun watak tokoh dapat diketahui berpokok perkataan dan perbuatannya. Misalnya dedengkot nan suka memfitnah teman, mempunyai sifat jahat.

Parasan adalah tempat, waktu dan suasana terjadinya peristiwa. Parasan dibedakan atas latar waktu, tempat, dan suasana.

Latar musim, misalnya, pagi hari, siang hari, malam hari.

Latar medan, misalnya, di rumah, di urut-urutan, di sekolah, di pasar, dan sebagainya.

Meres suasana, misalnya suasana gembira, sedih, lopak-lapik, dan sebagainya.

Tema yakni gagasan pokok maupun ide yang mendasari pembuatan tulisan tangan drama. Tema harus dirumuskan sendiri maka itu pembaca melalui keseluruhan keadaan dalam cerita (sandiwara tradisional).

4.

 Alur atau jalan cerita

Galur adalah perkariban kejadian dalam cerita (drama) nan saling berhubungan.

Galur terdiri atas umpama berikut.

a.

Eksposisi maupun pemaparan, adalah pengarang menginjak mengenalkan tokohtokohnya.

b.

 Pertengkaran, merupakan tahap alur yang menggambarkan menginjak adanya percekcokan, baik antartokoh maupun puas diri seorang tokoh.

c.

 Klimaks, adalah tahap alur yang menggambarkan bahwa persoalan yang dihadapi biang keladi hingga ke puncaknya.

d.

Leraian, yaitu tahap alur nan menggambarkan bahwa persoalan mulai menurun

e.

Penyelesaian, yaitu tahap nan menggambarkan bahwa persoalan selesai.

       Apabila tahap-tahap di atas disajikan maka itu pengarang secara urut dari tahap pemaparan hingga penuntasan, dinamakan alur maju. Apabila tahap-tahap silsilah di atas disajikan secara memulur, disebut alur mundur. Apabila disajikan secara relasi antara maju dengan mundur, dinamakan silsilah gabungan.

       Secara tertinggal, alur dibedakan menjadi bagian awal, babak tengah, dan fragmen akhir. Jenis silsilah ditentukan berdasarkan urutan penyajian kejadian-peristiwa dalam cerita (drama). Jenis alur dibedakan menjadi:

a.

Alur beradab, jikalau kejadian-peristiwa privat drama disampaikan secara progresif/maju dari     awal, tengah, hingga akhir.

b.

Galur mundur, jika peristiwa-peristiwa intern drama disampaikan secara regresif/memulur nan diawali berpangkal penggalan perampungan, dan berangsur-angsur memulur hingga ke babak permulaan.

c.

 Alur campuran, kalau peristiwa-hal disampaikan secara maju dan mundur.

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang internal sandiwara boneka. Publikasi bersambung sanding dengan tema. Kabar dapat dirumuskan setelah tema berbuntut dirumuskan

Sebelum menceritakan isi sandiwara radio, marilah kita mencerna apa itu sandiwara radio. Sandiwara tradisional merupakan karya sastra nan dipentaskan. Dengan kata tak, sandiwara bangsawan adalah karya sastra kerumahtanggaan bentuk dialog yang lebih diperuntukkan ditampilkan di atas panggung pertunjukkan. Mudah-mudahan dapat mengarang dengan baik, pelajari pula unsur-partikel sandiwara boneka berikut ini.

Sebuah sandiwara tradisional dibangun oleh anasir-partikel berikut ini.

a.

Dalang, Tokoh merupakan orang-turunan yang menjadi pemeran dalam isi sandiwara.

b.

 Dialog, Dialog ialah interlokusi yang dilakukan oleh dua manusia alias lebih secara sewaktu.

c.

 Alur, Alur adalah interelasi peristiwa dan konflik  dari semula sampai akhir cerita.

d.

  Deklarasi/pesan, Siaran ialah pesan yang ingin disampaikan penulis melalui karya sastra.

e.

 Meres, Latar adalah wara-wara tentang tempat, ruang, dan waktu di dalam skrip sandiwara bangsawan. Latar tersendiri atas 3 jenis, yaitu:

v

Latar tempat, merupakan pencitraan kancah keadaan di privat naskah dagelan

v

Satah waktu, adalah penggambaran waktu hal di n domestik naskah ketoprak

v

Latar suasana/budaya, yaitu suasana atau budaya nan digambarkan dalam naskah sandiwara, seperti budaya Sunda, budaya Jawa atau budaya masyarakat Minangkabau.


Daftar pustaka

Source: https://amiraelqibtyii.blogspot.com/2014/06/materi-pembelajaran-sastra-sd-kelas_7.html

Posted by: skycrepers.com