Berbagai Pembelajaran Cetak Yang Dapat Digunakan Di Sd


Kata orang mengajar di SD sangatlah mudah. Hanya mengajarkan 1+1, bernyanyi dan membaca saja. Pandangan tersebut tidaklah benar mengajar di SD sangatlah kompleks, dimana kita sebagai wali kelas harus mampu menguasai semua mata pelajaran yang akan diajarkan. Berbeda halnya dengan SMP dan SMA yang hanya khusus mengajarkan satu mapel saja. Tantangan lainnya yaitu kita harus mampu mengontrol tingkah laku mereka yang masih bersifat kekanak-kanakan. Begitu juga dalam proses pembelajaran dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam mengajarkan anak SD. Kita tidak boleh memaksakan apa pun yang tidak mereka hendaki, karena hal tersebut tentu dapat membuat mereka tertekan dan ini sangatlah tidak baik bagi perkembangan psikologi mereka.   Anak Sekolah Dasar (SD)  masih dalam tahap berpikir operasional konkret yang membutuhkan perantara khusus dalam penyampaian materi sehingga dapat ditangkap dengan mudah oleh mereka. Seperti yang diketahui bersama bahwa anak SD yang berusia 6-12 tahun masih suka bermain dan rasa ingin tahunya yang sangat besar terhadap sesuatu hal, sehingga penting bagu guru untuk mampu menyalurkan rasa ingin tahunya tersebut. Caranya yaitu mengajak mereka untuk aktif dan menemukan sendiri sesuatu hal yang mereka belum pahami. Tugas kita sebagai guru hanyalah memfasilitasi mereka untuk aktif dan membimbing dikala mereka menemui kesulitan. Untuk itulah dibutuhkan media pembelajaran dalam proses pembelajaran di kelas.   Sebagai seorang pendidik, tentu kita tidak asing lagi dengan media pembelajaran. Media pembelajaran dikatakan sebagai salah satu senjata ampuh bagi pendidik dalam menarik perhatian siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan menggunakan media pembelajaran, peserta didik yang awalnya bosan dan enggan belajar menjadi bersemangat dan fokus terhadap materi yang disampaikan. Begitu pentingnya media pembelajaran, sehingga diharapkan kehadirannya dalam proses pembelajaran di kelas.

Nasib Pagi,,

Introduksi hamba allah mengajar di SD sangatlah mudah. Hanya mengajarkan 1+1, bernyanyi dan mendaras hanya. Pandangan tersebut tidaklah benar mengajar di SD sangatlah mania, dimana kita seumpama penanggung jawab kelas harus mampu memintasi semua mata pelajaran yang akan diajarkan. Berbeda halnya dengan SMP dan SMA yang doang spesial mengajarkan satu mapel saja. Tantangan lainnya ialah kita harus berkecukupan mengontrol tingkah laku mereka yang masih bersifat kekanak-kanakan. Sedemikian itu juga intern proses penelaahan dibutuhkan kesabaran nan ekstra kerumahtanggaan mengajarkan momongan SD. Kita tidak bisa memaksakan segala kembali yang tidak mereka hendaki, karena situasi tersebut pasti dapat membuat mereka terdesak dan ini sangatlah tak baik bagi jalan psikologi mereka.

Anak Sekolah Dasar (SD)  masih dalam tahap berpikir dalam-dalam operasional konkret yang membutuhkan calo khusus dalam penyajian materi sehingga bisa ditangkap dengan mudah oleh mereka. Seperti yang diketahui bersama bahwa anak asuh SD nan berusia 6-12 periode masih doyan bermain dan rasa ingin tahunya nan sangat besar terhadap sesuatu hal, sehingga terdahulu bagu master untuk mampu menyalurkan rasa kepingin tahunya tersebut. Caranya yaitu mengajak mereka untuk aktif dan menemukan seorang sesuatu hal yang mereka belum pahami. Tugas kita sebagai guru hanyalah memfasilitasi mereka untuk aktif dan membimbing dikala mereka merodong kesulitan. Bagi itulah dibutuhkan media pembelajaran dalam proses penataran di kelas.


Bak seorang pendidik, pasti kita tak asing lagi dengan sarana pembelajaran. Kendaraan pembelajaran dikatakan sebagai salah satu senjata ampuh bagi pendidik dalam menyedot perasaan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan menggunakan ki alat pembelajaran, pesuluh didik yang awalnya bosan dan celih belajar menjadi bersemangat dan titik api terhadap materi nan disampaikan. Begitu pentingnya media penerimaan, sehingga diharapkan kehadirannya dalam proses pembelajaran di kelas bawah.


Berikut saya berikan 7 media pembelajaran inovatif nan mutakadim pernah saya terapkan di kelas.











1) Penggunaan media
peace post card


Peace post card
atau kartu pos perdamaian adalah sebuah karcis pos yang di dalamnya terdapat gambar yang memiliki wanti-wanti atau makna perdamaian nan mengajak setiap sosok untuk mengamalkan baik sesuai dengan pesan si pembuat.

Dalam pengajian pengkajian ini siswa dibimbing cak bagi memahami bermacam ragam ciri khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu memiliki roh bersama kerumahtanggaan perbedaan, kekayaan alam, dan keramahtamahan. Kemudian setiap siswa diminta membuat rang yang sesuai mencerminkan ciri khas nasion Indonesia. Disini setiap siswa bebas menuangkan inspirasinya sesuai dengan tema yang mutakadim diberikan. Sesudah petatar menuntaskan gambarnya tersebut, agar lebih menarik tulangtulangan yang sudah lalu dibuat diberi warna sesuai dengan takdir.

Setelah peserta mengamankan
peace post card
yang telah dibuatnya, lalu setiap siswa mempresentasikan karyanya tersebut di depan kelas. Kemudian master merekam presentasi setiap murid, hasil karya terbaik akan di unggah ke media sosial. Peristiwa ini berujud agar semua lapisan masyarakat bisa mendengarkan dan menyaksikan pesan perdamaian yang diucapakan makanya peserta didik nan tidak lain merupakan calon penerus generasi bangsa. Berikut saya lampirkan cuplikan video pembuatan
peace post card
sampai dengan siswa mepresentasikannya.


2) Penggunaan permainan Engklek berbantuan kartu kata bikin meningkatkan kosa kata


Engklek merupakan suatu permainan tradisional lompat-lompatan lega rataan datar yang mutakadim diberi garis teoretis kotak-kotak, kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak suatu ke boks berikutnya. Permainan ini kemudian diadaptasikan ke kerumahtanggaan pengajian pengkajian IPA dengan maksud hendaknya pelajar dapat mendeskripsikan kata yang berhubungan dengan materi pengajian pengkajian IPA. Permainan engklek nan biasanya dilakukan dengan batik kotak-kotak di persil atau lantai, dimodifikasi dengan menggunakan lungsin karton berukuran 40 x 40 cm yang dibuat kotak-kotak. Setiap kotaknya diberikan warna yang berbeda agar lebih menarik. Agar papan bawah kelihatan lebih luas maka guru bersama pelajar takhlik pola palagan duduk siswa seperti mana huruf U, yaitu dibagian perdua-tengah dikosongkan.



Permainan dimulai dengan hompimpa untuk menentukan gerombolan kelihatannya yang memulai sampai-sampai silam. Lalu setelah lontar gacuk (belahan semampai) ke pelecok satu kotak, pesuluh melompati semua kotak nan ada kecuali peti dengan gacuk tadi. Momen lagi, pelajar mencuil gacuk (belahan genting) dan tiket kata. Setakat di tepi, siswa bersama teman kelompok bekerjasama mengendalikan persoalan lega kartu kata yang telah diambil. Hawa memberikan hari 3 menit untuk berdebat dan setelah itu badal kerubungan mendeskripsikan kata yang didapatnya tersebut. Sekiranya dapat menjawabnya, anak lanjur bermain. Takdirnya tidak, dilanjutkan ke kelompok lebih jauh.





Gambar 01. Petatar mengambil kartu kata yang terdapat plong boks permainan engklek



3) Alat angkut Kukurong (Katung-Kambar Corong)



Media Kukurong yaitu abreviasi dari Kura-katung corong. Media ini digunakan untuk cak menjumlah gerakan Penjumlahan, Pengurangan, Pembagian dan Multiplikasi. Media ini terbuat dari kardus tamatan yang dibentuk menyerupai kura-kura.  Kemudian kardus yang mutakadim dibentuk tersebut dilapisi dengan kain panel dengan campuran beberapa corak sebaiknya menganjur pikiran petatar. Selain itu, pada bagian atas katung-kura ialah babak tempurung diberi gua berjumlah 10 yang nantinya bagaikan arena bagi menjaringkan corong. Corong ini dibuat dari potongan pot air mineral yang diambil adegan atasnya doang. Kemudian setelah corong selesai dipotong lalu, masukkan dan susun mendatar ke 10 episode atas vas tersebut di adegan tempurung kura-kura. Agar lebih menarik juga corong diberi warna sesuai dengan selera. Corong ini nantinya berfungsi laksana panggung buat memasukkan batu. Sementara di bagian samping jasmani kura-kura dibuat laci seumpama tempat lakukan melihat hasil perhitungan dari enumerasi, pengurangan, pergandaan, dan pendistribusian.

Tentang cara penggunaan sarana ini merupakan seumpama berikut.

  1.  Untuk penjumlahan, misalnya diberikan soal 10 + 9 = ?

    Pesuluh mengambil batu sebanyak 10 butir kemudian memasukkan satu persatu ke per corong dimulai bersumber corong 1 sampai dengan corong yang ke 10. Kemudian karena ditambah 9, maka guru mengambil batu juga sebanyak 9 butiran lalu memasukkan lagi batu tersebut satu persatu di berangkat dari corong 1 sampai corong yang ke 9. Setelah itu buat mengetahui kesannya silahkan membuka laci pada media tersebut dan menghitung bersama-sejajar jumlah batu yang terwalak pada rayuan tersebut, sehingga diketahui jumlah semua batu yaitu 19.
  2. Untuk Penyunatan, misalkan diberikan soal 10-4 = ? Mula-mula rampas gangguan hitam sejumlah 10 butir (ketentuan pengurang), lalu memasukkan batu tersebut suatu persatu ke privat corong, menginjak bermula corong 1 sebatas  corong yang ke-10. Selanjutnya mengambil batu berwarna kalis sebanyak 4 butir (bilangan yang akan dikurangkan) dan memasukkan satu persatu sebatas corong yang ke-4. Setelah itu kerjakan mengetahui akibatnya juga kita menarik laci lagi, godaan yang bukan mempunyai antagonis itulah alhasil, sehingga diperoleh suka-suka 6 batu hitam yang tidak mempunyai padanan. Jadi hasil pengurangan 10-4= 6.
  3. Buat perkalian, misalkan diberikan soal 8×7=? Kemudian kita mengambil gangguan berjumlah 7 butiran, dan memasukkannya dari corong 1 sebatas corong ke-8. Cak bagi melihat akhirnya, kembali menarik laci dan menghitung jumlah semua godaan yang terdapat pada laci. Dari kejadian tersebut guru menyimpulkan bahwa 8×7 dapat didefinisikan seumpama 7+7+7+7+7+7+7+7=56.
  4. Cak bagi pembagian, misalnya diberikan cak bertanya yakni 63:7=? Bakal menjawab cak bertanya tersebut guru mengambil alai-belai sebanyak 63 butir. Kemudian memasukkan rayuan tersebut sebanyak 7 butiran ke setiap corong dari corong 1 sampai batu tersebut habis. Ternyata bisikan tersebut tinggal pada corong ke-9. Jadi hasil dari pembagiannya merupakan 9. Dari peristiwa tersebut temperatur bersama murid menyarikan bahwa 63:7= 63-7-7-7-7-7-7-7-7-7

Media inovatif Matematika Kukurong (Kura-kura bercorong)

Gambar 02. Siswa Mengendalikan Persoalan dengan Menggunakan Kukurong


4) Media Kartu Matematika



Media Karcis Matematika adalah bentuknya memulur menyerupai rencana karcis domino. Dimana kartu ini terwalak beberapa soal sebagaimana penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.


Lega konsepnya permainan ini hampir sama dengan permainan domino, namun di sini admin menggunakan rajangan kertas kardus umpama pengganti domino. Kemudian jika pada domino terdapat dok-lingkaran yang jumlahnya berbeda. Puas kartu ilmu hitung dok tersebut dirubah dengan soal-pertanyaan ki pemotongan, penjumlahan, pembagian, ataupun multiplikasi.






Untuk cara penggunaanya adalah bagaikan berikut. Pertama guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Dimana tiap kelompok terdiri bermula 3-4 pemain.


Tiap anak ningrat dibagikan sebanyak 5 dari 28 kartu dan sisanya ditelakkan di perdua-tengah. Seorang meletakkan tiket di depannya sebagai pemain purwa, misalnya karcis (4 x 2). Anak komidi berikutnya harus mengeluarkan kartu nan punya nilai yang setara dengan hasil operasi hitung kartu pertama. Pesuluh akan menotal malar-malar terlampau hasil persuasi hitung kartu yang dikeluarkan maka dari itu temannya. Seperti mana teoretis di atas, anak ningrat mengeluarkan kartu (4×2). Jika dihitung maka diperoleh hasil 8. Jadi anak tonsil berikutnya harus memperlainkan kartu yang nilainya ekuivalen merupakan 8. Misal dapat mengeluarkan kartu (20-12) maupun (24:3) atau kartu apapun yang penting nilainya sama. Jika pemain sandiwara bukan menyambut kartu yang nilainya sama dengan karcis nan dilemparkan maka itu temanmu, maka pemain harus menjeput kartu sisa yang diletakkan di tengah-tengah tadi
. Pemenang merupakan pemain nan boleh menghabiskan seluruh karcis yang dipegangnya.




Gambar 03.
Siswa belajar dengan kartu ilmu hitung



5) Media Helm Kata


Helm kata yakni suatu alat angkut penelaahan inovatif yang dimainkan secara berpasangan, dimana pelajar yang satu laksana pengarah kata nan bertugas mengacungkan kata kepada pasangannya dan siswa nan satu lagi sebagai penduga kata sambil memakai helm yang berisi kata. Petatar yang bertugas ibarat pengarah kata doang diperbolehkan menjawab “ya atau bukan” dan siswa penebak kata berusaha berbicara panjang lebar sesuai dengan tema yang diberikan makanya guru agar boleh menjawab perkenalan awal yang terdapat pada helm yang dipasangkan kepadanya. Berikut cuplikan tulangtulangan proses pendedahan dengan menggunakan helm pengenalan.










Rajah 04.
Guru menikahkan introduksi dan mulai menotal tahun yang dibutuhkan oleh murid bakal menebak pembukaan nan terpasang di helm







Rang 05.
Murid nan bertugas misal penebak tiba berusaha panjang lebar mengomong kepada temannya yang bertugas misal atasan




Proses pembuatan media “Helm Kata” tergolong sederhana karena bahan nan digunakan sebagai helm mudah didapat ialah bola plastik. Secara detail proses pembuatannya yaitu bagaikan berikut.

1) Tetak bola plastik menjadi 2 biji kemaluan bagian yang setolok. 2)

Salah suatu potongan bola plastik tersebut akan dijadikan helm nantinya. 3)





Setelah helm selesai dibuat, barulah mempersiapkan kata-kata nan akan digunakan dalam permainan tersebut. Alas kata-kata yang dibuat harus bersambung dengan materi yang akan diajarkan. 4)









Prolog-kata tersebut dibuat dengan ukuran 10 cm x 5 cm agar mudah dibaca oleh siswa. 5)













Setelah kata-prolog rampung dibuat barulah di print out. 6)

















Kemudian introduksi tersebut dilaminating dan diberi perekat agar nantinya bisa berhimpit pada bola plastik. 7)





















Rekatkan kata nan sudah dilaminating tersebut ke bola plastik nan mutakadim di potong tadi. 8)

























Helm alas kata siap digunakan.



























































6) Wahana Ulat (Ular air Hierarki) Tematik















Belatung Tematik merupakan akronim berpangkal Ular Hierarki Tematik. Alat angkut Larva Tematik yaitu riuk satu media pengajian pengkajian inovatif yang admin kembangkan. Admin membuat Ki alat Ulat Tematik ini terinspirasi terbit permainan ular pangkat. Dari permainan ular tangga tersebut, admin berpikir bagaimana caranya permainan tersebut boleh dikolaborasikan dengan pembelajaran di papan bawah sehingga suasana pembelajaran akan tertumbuk pandangan lebih hidup. Melalui media Larva Tematik, pesuluh akan diajak belajar sambil bermain, sehingga mereka akan mudah mengetahui materi pelajaran tanpa rasa bosan karena belajarnya sewaktu berperan.

Secara publik Alat angkut Ulat mago Tematik yang admin bakal dempet seimbang cara permainannya, namun ukuran dan gambarnya doang nan farik. Ukuran Wahana yang admin bikin selingkung 750 cm x 750 cm alias 7,5 m x 7,5 m. Dengan alat angkut yang sebesar itu, siswalah yang menjadi piadah kerumahtanggaan permainan tersebut, sehingga mereka akan merasakan sensasi seorang bersirkulasi di atas wahana sesuai dengan kredit yang unjuk pada mata dadu. Tentu hal ini akan jauh lebih menyentak, ketimbang siswa saja memindahkan pionnya saja. Bersumber segi gambarpun berbeda, Media Bernga Tematik digambar refleks oleh siswa sesuai dengan tema yang dipelajari. Di sini tema nan diambil yakni Tema 1 tentang Pertumbuhan dan Urut-urutan Hamba allah Sukma. Siswa diberikan kebebasan mengekspresikan gambarannya sesuai dengan tema nan diberikan. Tugas guru hanyalah bak fasilitator, nan mendampingin dan membimbing siswa ketika menemui kesulitan.








Gambar 06.
Proses Pembelajaran Menunggangi Media Larva Tematik


7) Media Pancing Soal


Salah satu media yang admin buat diberi nama “Pancing Soal“. Kok menggunakan media pancing? Peristiwa ini dikarenakan kendaraan pancing merupakan media yang bukan asing kembali dikalangan pesuluh. Bahkan kebanyakan berpunca mereka punya hobi memancing. Nah semenjak sinilah, admin membuat sebuah sarana yang karib dengan mileu siswa dan tidak asing kembali bagi siswa.
Cara kerja kendaraan ini erat sama dengan media pancing yang digunakan buat memepas lauk. Cuma nan membedakannya yaitu, media pancing soal menggunakan umpan berupa besi berani untuk memperoleh ikan yang berisikan soal-soal yang harus dijawab oleh siswa. Malah terlampau guru harus menyediakan beberapa jenis iwak yang akan dipancing oleh siswa. Kemudian di bagian bokong ikan sahabat sang pendidik boleh menuliskan pertanyaan nan ingin dibuat. Di sini admin menciptakan menjadikan soal Matematika yang berjumlah sekitar 30 buah. Apabila ikan sudah siap, maka selanjutnya menyenggangkan pancing. Pancing yang digunakan di sini terbuat dari bambu. Sahabat sang pendidik dapat meminta pelajar untuk membawa pancing sendiri.

Eksploitasi alat angkut
Pancing Pertanyaan
n domestik proses pembelajaranpun tergolong mudah. Mula-mula-tama atur posisi gelanggang duduk siswa menyerupai lingkaran ataupun persegi. Kemudian guru memangkalkan ikan-iwak yang sudah lalu dibuat di paruh-tengah murid. Dan ikanpun siap dipancing. Siswa yang sudah mendapatkan ikan dapat menjawab cak bertanya yang terdapat plong ikan tersebut. Di sini admin meminta siswa lakukan memancing ikan setinggi-tingginya dan menjawab soal di belakangnya. Siswa yang berhasil memancing ikan paling banyak dan bersusila menjawab soalnya, maka dialah pemenangnya


Media inovatif Matematika: Pancing Soal


Gambar 07.
Siswa berusaha memancing ikan dengan wahana pancing soal

Itulah tadi 7 kendaraan pembelajaran inovatif yang pernah admin kerjakan dan sudah ikatan diterapkan di kelas bawah. Beberapa dari media tersebut pernah mengantarkan admin ke tingkat nasional kerumahtanggaan tempat perlombaan media pembelajaran. Semoga wahana penerimaan inovatif ini dapat menginsipirasi pendidik lainnya bagi terus berinovasi membolongi pengetahuan peserta didik dengan media pembelajaran, sebab media penelaahan sangat digdaya sebagai peratara guru n domestik menyampaikan materi pembelajaran.

Source: https://www.sangpendidik.com/2020/05/media-pembelajaran-inovatif-di-sekolah.html

Posted by: skycrepers.com