100 Perawan: Buku-muslihat pelajaran sekolah melecehkan peran cewek

  • Valeria Perasso
  • Social Affairs correspondent, WS Languages

Textbook showing gender stereotypes in Tanzania

Sendang gambar,

UNESCO / GEM Report

Keterangan rang,

Anak asuh lelaki nan abadi, dan anak dayang yang cantik di teks buku sekolah di Tanzania

Internal buku teks untuk siswa di Tanzania, anak asuh laki-laki digambarkan bak figur yang lestari dan atletis, sementara anak asuh nona hanya tertentang berbangga dengan gaun berenda mereka yang elok.

Di sekolah dasar di Haiti, siswa-siswi sparing bahwa ibu-ibu “merawat anak asuh-anak asuh dan menyiapkan makanan” sementara ayah berkreasi “di kantor”.

Terserah pula sebuah siasat ilustrasi di Pakistan nan menyantirkan semua poltisi, orang yang memiliki otoritas dan berhak, merupakan laki-laki.

  • 100 Cewek: Apakah pendidikan ibu meningkatkan imunisasi?
  • Apakah perempuan dapat menyangkal dunia dalam tempo suatu pekan?
  • Menteri Susi Pudjiastuti timbrung BBC 100 Women

Di Turki, dalam sebuah kartun, seorang anak adam digambarkan mengkhayalkan menjadi dokter.

Temporer itu seorang gadis membayangkan dirinya andai calon raja sehari perempuan dengan gaun zakiah.

Daftarnya terus berlanjut – dan tidak mengenal batas geografis. Indonesia tak terkecuali.

Sumber buram,

UNESCO / GEM Report

Keterangan bagan,

‘Sendiri ibu merawat anaknya dan memasak, seorang ayah bekerja di tipar atau di dinas’

Bias gender tersebar luas intern pusat pelajaran sekolah radiks dan bisa ditemukan, dalam bentuk yang sangat mirip, di setiap benua, sebagai halnya diungkapkan banyak tukang dan pengamat.

Ini yaitu ki kesulitan “tersembunyi yang berada di depan indra penglihatan”.

“Ada stereotip laki-laki dan kuntum yang disamarkan intern apa nan seakan merupakan peran yang mapan untuk setiap jenis kelamin,” kata ahli sosiologi Rae Lesser Blumberg.

Sumber gambar,

UNESCO / GEM Report

Maklumat buram,

Pria menghasilkan uang sementara perempuan merawat momongan: protokoler peran terlihat jelas

Prof Blumberg, bermula University of Virginia, sudah mempelajari buku teks bersumber seluruh dunia sepanjang lebih semenjak suatu dekade. Ia mengatakan bahwa umumnya kabilah perempuan ditulis atau digambarkan secara sistematis dalam peran ibarat orang awam saja.

“Penyimpangan gender ialah isu pendidikan yang kurang menggelandang ingatan, bukan yang menjadi berita penting saat jutaan anak tetap tidak berpendidikan,” katanya.

Meskipun anak yang timbrung sekolah meningkat secara spektakuler sejak tahun 2000, bodi pendidikan PBB Unesco mengandaikan bahwa lebih semenjak 60 juta anak-anak masih belum perikatan menginjakkan tungkai di kelas – 54% di antaranya merupakan momongan kuntum.

“Sendisendi itu mengabadikan ketidakseimbangan gender,” kata Prof Blumberg. “Kita lain boleh mematangkan anak-anak asuh futur dengan buku-buku dari masa lepas.”

Perigi gambar,

UNESCO / GEM Report

Kabar rajah,

Referensi kancing sekolah di Tunisian menggambarkan wanita yang memasak dan asli-suci

Tersembunyi atau terstereotip

Tahun lalu, Unesco melontarkan pernyataan yang bernada peringatan keras.

Perilaku seksis seperti itu meresap sehingga buku referensi meremehkan pentingnya pendidikan kerjakan anak perempuan dan membatasi karir dan maksud mereka privat jiwa, kata Unesco. keadaan ini, tambah Unesco, yakni “rintangan siluman” cak bagi mengaras kesamaan jender.

Baik diukur dengan paparan teks, atau neraca pemrakarsa yang dimunculkan, penyebutan dalam judul, kutipan dalam indeks atau kriteria lainnya, “angket menunjukkan bahwa putri habis sedikit terwakili dalam kancing bacaan dan kurikulum,” pengenalan Aaron Benavot dari University of Albany, alumnus direktur pengetahuan Universal Education Monitoring (GEM) nan disusun UNESCO sreg 2016.

Sendang gambar,

UNESCO / GEM Report

Keterangan buram,

Buku teks ogok stereotip gender di Kongo

Persoalannya sedemikian itu pelik dan berlipat ganda, kata para juru.

Aspek yang paling kecil jelas ialah penggunaan bahasa yang bias gender, karena seringkali alas kata-kata terkait maskulin dipilih cak bagi diartikan sebagai semua khalayak.

Dahulu ada masalah ketidak-munculan, ataupun ketidak-terlihatan: karena perempuan sering absen dari teks, peran mereka privat memori dan atma sehari-hari tenggelam oleh induk bala lanang.

  • 100 Women: Cewek kartunis Arab berjuang untuk hak perempuan
  • Menteri Susi Pudjiastuti masuk BBC 100 Women
  • 100 Women 2015: Apakah riasan merupakan problem feminisme?

“Ada satu resep teks tentang saintis nan saya ingat, dan satu-satunya nona di dalamnya ialah Marie Curie,” kata Blumberg.

“Tapi apakah dalam buku itu engkau digambarkan intern peristiwa menemukan radium? Tidak: di haud digambarkan bahwa Marie Curie dengan berdiri-takut mengintip dari balik bahu suaminya saat anda bersuara dengan manusia lain, pria yang terlihat anggun dan terhormat.”

Ketiga, ada lazim tradisional tentang pekerjaan bagi pria dan wanita, baik di rumah tangga maupun di luar rumah, serta klise adapun anggapan dan ciri umum yang dilekatkan pada masing-masing gender.

Sumber kerangka,

UNESCO / GEM Report

Makrifat susuk,

Semua profesi ditampilkan doang menggambarkan maskulin privat buku teks sekolah di Italia ini

Suatu siasat pustaka bahasa Italia memberikan teladan mencolok internal sebuah bab nan mengajarkan vokabuler untuk berbagai pekerjaan, dengan 10 pilihan berlainan buat pria, dari petugas pemadam kebakaran sampai sinse gigi: tak ada peremuan seorang lagi.

Darurat itu, perempuan dalam kiat itu digambarkan n domestik tugas kondominium tataran, mulai dari memantek dan mencuci untuk merawat anak-anak dan ibu bapak.

“Yang lagi lalu memprihatinkan yaitu amoi digambarkan andai pasif, taat, memenuhi peran legal gender ini,” perkenalan awal pakar pendidikan Catherine Jere, sendiri dosen di University of East Anglia yang juga terlibat dalam laporan GEM.

‘Seandainya turunan asing menclok berkunjung …’

Ki aib ini proporsional sekali tak hal bau kencur. Buku-resep teks telah mendapat sorotan sejak tahun 1980an, sesudah munculnya desakan para feminis mengenai perlunya dilakukan reformasi tercalit hal ini, terutama di negara-negara beradab.

Sebuah penelitian di Amerika Sindikat pada 2011, yang sering digambarkan sebagai penelitian proporsi terbesar yang aliansi dilakukan di bidang ini dengan meneliti bertambah mulai sejak 5.600 buku anak asuh-anak yang diterbitkan puas abad ke-20, memperkirakan bahwa maskulin ditampilkan hampir dua kali lipat makin sering dalam judul dan 1,6 siapa bertambah banyak sebagai pencetus terdahulu.

Sejak masalahnya diidentifikasi pertama kali, terjadi pun kejayaan intern mengurangi seksisme – semata-mata ‘sangat lambat,’ alas kata para ahli.

Perigi gambar,

UNESCO / GEM Report

Keterangan rajah,

Sebuah wacana buku tahun 1962 yang digunakan di sekolah di AS – ‘belum banyak juga yang berubah,’ sebut ahli pendidikan

Beberapa buku pustaka yang dipermasalahkan terbit sejak sangat lama, namun toh banyak yang masih digunakan – terutama di negara-negara berpenghasilan adv minim dan di sekolah-sekolah yang tidak punya anggaran untuk menggantinya.

“Semakin parah berpokok tahun ke periode: dunia kian maju, amoi memasuki bidang-meres kerjaan baru dan peran dalam rumah strata berubah,” introduksi Blumberg, semata-mata buku-buku tak mengalami pebaikan dalam kecepatan yang sebanding. Bintang sartan kesenjangannya lebih berkepanjangan pula.”

“Jika terserah mahluk luar dari luar angkasa nomplok mengunjungi kita, mereka tak akan tahu barang apa yang sebenarnya dilakukan perempuan, di bidang kerja dan internal kehidupan pribadi, jika doang dengan mengaji sosi teks sekolah kita .”

Apa itu

100 Women?

BBC 100 Women memilih 100 perempuan nan berpengaruh dan menginspirasi terbit berbagai penjuru marcapada, setiap hari. Diadakan sejak lima masa terakhir, Pada tahun 2017 ini, 100 Women akan membahas empat permasalahan: fenomena glass ceiling (rintangan tidak kentara yang menghambat suku bangsa putri meraih jenjang pegangan), buta huruf di kalangan nona, pelecehan di jalan-urut-urutan dan seksisme di dunia gerak badan.

Anda bisa turut terkebat kerumahtanggaan program ini di media sosial, dengan mengunakan tagar #100Women

Kepiluan Mendunia

Penelitian pula menunjukkan bahwa penyakit ini dulu menyeluruh. Dengan berbagai tingkat frekuensi dan kesungguhan, seksisme menyebar luas intern muslihat sekolah, mulai negara berpenghasilan rendah sebatas panjang, tak terkecuali.

Datanya terpencar-pencar saja sampel dari berbagai penelitian yang diterbitkan dalam dasawarsa terakhir memberikan bukti-bukti kuat.

Sebuah buku sejarah cak bagi siswa kelas tiga di India, misalnya, tidak menunjukkan wanita karir seorangpun.

Sumber bentuk,

UNESCO / GEM Report

Keterangan gambar,

Stereotip gender justru ada dalam sortiran permainan dan aspirasi dalam rahasia yang ditemukan di Kazakhstan dan Turki

Kiat bacaan berbahasa Inggris yang digunakan di seluruh Kenya menggambarkan pria aktif n kepunyaan ‘gagasan menghirup,’ sementara perempuan dan anak kuntum memasak dan mengatur bulu boneka.

Kerumahtanggaan sebuah muslihat nan dirancang oleh kementerian pendidikan di Iran, para tokohnya 80% adalah laki-laki. India hanya mempunyai 6% ilustrasi putri yang digambarkan oleh perempuan sendiri, dan prosentasenya 7% di Georgia.

Menurut studi komparatif tahun 2007, perbandingan antara karakter putri dan junjungan-laki privat kiat teks ilmu hitung di Kamerun, Pantai Taring, Togo dan Tunisia proporsinya lebih rendah dari 30%.

Sebuah angket terhadap resep sains di Inggris dan Cina pula mengungkapkan bahwa 87% karakternya yaitu lelaki.

Sumber gambar,

MOHAMMED HUWAIS / AFP

Siaran gambar,

Anak asuh perempuan melihat mayapada melangkaui buku teks – memembuat mereka menganggap resmi gender sesuatu nan legal.

Di Australia, sebuah studi nan dilakukan pada masa 2009 menemukan bahwa 57% karakter n domestik buku teks adalah adam – sementara itu pemukim perempuan di wilayah ini makin banyak dibanding pria.

“Orang akan menyangka bahwa buku teks di negara-negara berpenghasilan tangga akan sedikit kian maju, namun di Australia pria nan digambarkan dalam peran manajerial dua kali lipat dibanding prempuan, dan dalam politik dan pemerintahan digambarkan empat kali lipat dibanding nona,” introduksi Jere.

“Terserah kasus ekstrem: dalam sebuah muslihat berbahasa Cina, sahaja ada satu pahlawan Revolusi Komunis 1949, yang gadis,” kata Blumberg.

Itu pun, tambahnya, “tidak digambarkan memperjuangkan undang-undang atau di garis depan bersama Mao, sira ditampilkan memberi payung kepada koteng pria penjaga yang berdiri kehujanan.”

Sumber gambar,

UNESCO / GEM Report

Proklamasi lembaga,

Aktivitas ‘untuk ibu dan ayah’ di kunci teks Paksitan – ketika ibu memasak, ayah bersantai dan membaca

Perigi buram,

UNESCO / GEM Report

Pengetahuan bentuk,

Profesi bias gender di sendi sekolah di Kenya

Pengaruh materi indoktrinasi

Episode dari masalah ini, para pakar menyoroti, adalah bahwa siasat membangun nilai akan halnya segala nan sah di masyarakat di mata anak-momongan sekolah.

Seorang petatar diperkirakan mengaji lebih dari 32.000 halaman buku teks semenjak mulai sekolah asal setakat sekolah menengah atas, seperti diungkap bilang penyelidikan. Sekitar 75% pelajaran di kelas bawah dan 90% jalan hidup rumah dilakukan bersendikan pusat-buku itu, selain yang dirancang para guru.

Sumur gambar,

ARIF ALI / AFP

Wara-wara gambar,

Di banyak negara, buku teks ialah jalur utama proses pendidikan

Meskipun akses ke internet dan mata air siasat digital lainnya memperluas rangkaian alat penelaahan, “pusat teks tetap penting, terutama di negara-negara miskin,” kata Aaron Benavot.

“Ketika buku teks menunjukkan contoh peran yang habis sempit tentang anak suami-laki dan perempuan, maka anak-anak sekolah pun dibiasakan dalam pandangan itu,” kata Jere.

Peluang dampak sendisendi ini terhadap pandangan anak-anak tentang dunia telah dipetakan maka itu penelitian akademis.

Sumber rajah,

UNESCO / GEM Report

Mualamat gambar,

Siswa di Nigeria dididik tentang profesi dan pekerjtaan privat bahasa Inggris dnegan gambar ini.

Sebuah pengkajian di Israel plong siswa kelas suatu, misalnya, menunjukkan bahwa mereka yang terpapar dengan penggambaran pria dan wanita sama pentingnya cenderung berpikir dalam-dalam bahwa sebagian osean tiang penghidupan akan semupakat bakal mana tahu sekali lagi, baik lakukan anak asuh cewek dan anak pria, provisional mereka yang belajar semenjak taktik wacana distorsi gender merentang menerima stereotip itu.

Hal lain, tampak pengait antara minimnya pelukisan ilmuwan pemudi di buku teks dengan rendahnya kuantitas momongan perempuan nan terus mempelajari loyalitas akademis sains, teknologi, teknik dan matematika – di sebagian osean wilayah manjapada.

Cap-cap kemajuan

Namun beberapa kemajuan telah dicapai kerumahtanggaan sepuluh tahun terakhir.

Laporan GEM Unesco menunjukkan bahwa konten yang berkaitan dengan ekuivalensi jender sudah meningkat dalam rahasia bacaan di seluruh manjapada, dengan banyak bacaan mengenai milik-properti perempuan dan diskriminasi gender, terutama di buku teks di Eropa, Amerika Utara dan Afrika sub-Sahara.

Di antara negara-negara yang mempelopori perlintasan – mungkin tidak mengejutkan mengingat sikap keseluruhan terhadap gender, Swedia berada di sekaan teratas.

Beberapa anak kunci privat kurikulum nasional Swedia menggunakan karakter dan alas kata ganti yang netral gender, serta pelukisan yang lebih egaliter intern nasib sehari-hari.

Sendang bentuk,

Lanang Berry / Getty Images

Keterangan gambar,

Rahasia dengan penggambaran gender nan netral memperbaiki hasil pembelajaran, berdasar temuan penelitian

“Sekiranya tertumbuk pandangan orang nan mengaduk periuk dan memakai celemek kerumahtanggaan buku Swedia, suka-suka prospek suntuk samudra bahwa engkau adalah laki-laki,” perkenalan awal Blumberg.

Penekanan di Hong Kong, terhadap sentral-anak kunci referensi bahasa Inggris, menunjukkan jumlah khuluk adam dan wanita dalam jumlah yang sebanding.

Dan kemajuan juga mutakadim dicapai di Yordania, distrik Palestina, Vietnam, India, Pakistan, Kosta Rika, Argentina dan Cina.

Mata air gambar,

UNESCO / GEM Report

Informasi gambar,

Varian nan sudah diperbaiki dari buku bacaan di Cina, menunjukkan nona dan adam berdiskusi tentang ekonomi

Cuma, tinjauan komprehensif terhadap daya referensi di tingkat nasional ialah proses yang hierarki dan mahal – yang berkali-kali jadi korban dalam penyederhanaan prediksi.

“Sekiranya terjadi perubahan rezim, perubahan pertanyaan ini sangat dangkal dan komitmen pemerintah tidak bersambung-sambung,” kata Benavot.

Makara para ahli menyarankan metode alternatif buat mengimbangi pustaka-teks buruk di inferior.

Keterangan rajah,

Muslihat teks di Bangladesh menggambarkan serbu wanita bermain sepakbola, provisional pria mencuci piring di India

Yang dilakukan di India dan Malawi ialah menantang petatar buat mengidentifikasi bias gender dan pertanyaan-pertanyaan tentang stereotip dalam diskusi gerombolan.

“Masalahnya dapat dikompensasikan dengan menanyakan hendaknya murid mengamati sesuatu dan murid memusat menikmati ‘pencahanan detektif,’ kata Blumberg.

“Tapi kita perlu melatih guru malah terlampau dan akibatnya kita perlu batik ulang taktik-buku ini jika kita menginginkan pendidikan yang bertambah baik.”

Sumber rancangan,

UNESCO / GEM Report

Warta rang,

Sebelum dan Selepas di buku teks di Vietnam