Cara Belajar Pembagian Untuk Anak Sd

Mengajarkan konsep pembagian kepada anak asuh yang baru belajar berhitung memerlukan kesabaran yang cukup tinggi, terutama jika siswa nya termasuk nan mempunyai muslihat serap dan daya nalar yang lemah terhadap ilmu hitung.

Toleransi kita diuji disini, apakah kita boleh sabar menjelaskan konsep dasar pencatuan kepada anak sampai anak betul-betul reaktif ?

Untuk mengajarkan pendistribusian kepada anak dengan daya nalar nan bagus nisbi mudah, tapi bagaimana jika kita harus mengajarkan materi tersebut kepada anak yang daya nalarnya lemas. Mungkin kita akan sering membatin “gimana sih, tanya semudah ini saja tidak bisa”.

Sebagian kita bisa jadi lupa bagaimana lewat awal berlatih berkira-kira, sekonyongkonyong waktu ini sudah menguasainya. Detik diminta untuk mengajarkan kepada adik-adik kita nan baru mulai membiasakan berhitung, kebingungan bagaimana cara mengajarkannya, akhirnya hanya disuruh menghapalkannya, modalnya seandainya 10 : 2 = 5, 16 : 4 = 4 dsb, tapi enggak bisa menyerahkan pemahaman darimana dan bagaimana hasil tersebut didapat.

Apakah kamu tertulis yang mengalami hal sebagaimana diatas ?

Kami akan mengupas tuntas bagaimana tahapan mengajarkan pengalokasian kepada anak berangkat dari anak asuh tidak senggang barang apa itu pembagian sampai dengan menghitung operasi pembagian minus harus menggambar proses perhitungannya.

Tahap 1

Mengajarkan konsep pembagian kepada anak nan baru start belajar berbilang (tidak hapal perkalian)

Ini merupakan tinggi yang minimal radiks bagaimana mengenalkan konsep pembagian puas anak asuh yang belum mengenal segala itu pembagian, meskipun sebenarnya pada praktek spirit sehari-hari sudah lalu burung laut mereka bikin. Misalnya suka-suka anak punya permen 10, dibagi separas rata ke 5 temannya maka masing-masing anak mendapat 2 permen. Itulah pendistribusian.

Seringkali kita melompati tahap ini ketika mengajarkan pembagian, kita sekaligus meminta momongan untuk menghapal 10 : 5 = 2, 6 : 2 = 3, dst. Untuk anak yang punya daya nalar dan daya ingat nan bagus kemungkinan anak bisa mengikuti, terlebih biasanya sebelum sparing pembagian anak-anak sudah diajarkan dan disuruh menggapal perkalian, jadi sangat dibalik makara pembagian.

Tapi bagaimana seandainya kita menemui anak yang lambat dalam mencerna materi ilmu hitung, penjumlahan masih lambat, pengurangan masih sering salah justru perkalian…tidak banyak hapal perkalian…. apakah dapat mengajarkan pencatuan kepada anak yang begini ? Bagaimana caranya ?

Jawabannya adalah dapat. Selama anak asuh sudah menguasai materi menghitung besaran benda maka materi pembagian sudah boleh diajarkan, bahkan boleh refleks diajarkan minus harus mengajarkan penghitungan, ki pemotongan atau perkalian terlebih silam.

Baca : Mengajarkan Konsep Radiks Penjumlahan

Ada beberapa metode nan bisa dilakukan untuk tahap 1 ini, antara bukan metode menggunakan batang lidi dan metode dengan gambar. Kedua metode ini pada prinsipnya intim proporsional, perbedaannya hanya pada alatnya saja, yang lebih praktis adalah metode dengan gambar karena tidak harus menyiapkan batang lidi dengan jumlah tertentu.

Apakah teman-teman bangun dulu pernah disuruh buya / ibu guru lakukan membawa layon lidi / bambu dengan total nan banyak ? Padalah itu salah satu metode bikin mengenalkan konsep taksiran, baik pembilangan, pengurangan, perkalian ataupun pembagian.

Baik, barangkali ini kita saja akan menggosipkan metode menunggangi tulangtulangan.

Bagaimana caranya ? Sekaligus cuma ya…..

Berapa 20 : 5 ?

Langkah 1 : Catat angka 1 s/d 5 berarak (sebaris)
Langkah 2 : Gambar lingkaran kecil tepat dibawah ponten-kredit yang kita tulis tadi, sambil dihitung jumlah lingkaran yang sedang digambar mulai berpangkal angka 1, 2, 3, 4, 5.
Anju 3 : Sesudah leret pertama selesai, lanjutkan menggambar lingkaran lega baris berikutnya, mulai bersumber angka 1 sekali lagi, sambil menghitug jumlahnya (6, 7, 8….). Rang lingkaran berhenti ketika sudah lalu mencapai jumlah 20.
Persiapan 4 : Hitung kuantitas barisnya (dari atas ke radiks ada berapa landasan) suka-suka 4 banjar, itulah hasilnya. Makara hasil 20 : 5 = 4

1  2 3 4 5
•  •  •  •  •
•  •  •  •  •
•  •  •  •  •
•  •  •  •  •

Apakah memadai kontributif ?
Jika anak asuh sudah menguasai tahap ini, sebaiknya tiba diajarkan ke tahap berikutnya. Karena menghitung dengan metode ini tidak boleh cepat, tapi mudah dicerna.

Kepingin latihan dengan metode ini ?
1. 30 : 5 =
2. 60 : 4 =
3. 24 : 8 =
4. 72 : 9 =
5. 48 : 6 =

Tahap 2

Mengajarkan konsep pendistribusian kepada anak asuh yang bisa menguasai / hapal perkalian (1 s/d 10)

Pada tahap ini anak seyogiannya sudah reaktif apa itu pembagian. Bakal mendahulukan proses perhitungan anak asuh mulai diminta bagi menghapal manuver pencatuan. Korban nya adalah anak asuh dapat hapal pembagian sampai ketentuan 100. Proses ini akan jauh lebih mudah seandainya momongan sudah lalu hapal perkalian (1 s/d 10).

Kalaupun anak asuh belum hapal perkalian sampai 1 s/d 10 tidak apa-apa, tetap bisa diajarkan pembagian tahap 2, tapi mungkin lebih lama proses nya.

Disini kita fokus pada penjatahan bilangan 100 kebawah dengan kodrat pembagi dan hasil baginya ialah 1 s/d 10.

Kenapa ini perlu dihapal ?
Karena ini yaitu dasar dari proses pengalokasian dengan bilangan yang kian segara, atau retakan desimal.

Tahap ini dibagi menjadi 3 bagian :

a. Pengalokasian predestinasi 25 kebawah

– Pertama diajarkan pengalokasian bilangan yg habis dibagi 5
25 : 5 = 5
20 : 5 = 4
15 : 5 = 3
10 : 5 = 2
5 : 5 = 1
Sekiranya anak kesulitan menghapal nya, boleh dibantu dengan menuliskan perkaliannya dahulu, kemudian angka pembaginya ditutup, ponten yang terlihat adalah hasil baginya.
4 x 5 = 20; jika 20 : 5 maka pada operasi perbanyakan angka 5 nya kita tutup, jadi hasilnya adalah angka yang satunya (yg terlihat) yaitu 4.

Baca : Mengajarkan Konsep Dasar Perkalian

Jika sudah lancar bisa dilanjutkan
24 : 4 = 6
20 : 4 = 5
16 : 4 = 4
12 : 4 = 3
8 : 4 = 2
4 : 4 = 1

24 : 3 = 8
21 : 3 = 7
18 : 3 = 6
15 : 3 = 5
12 : 3 = 4
9 : 3 = 3
6 : 3 = 2
3 : 3 = 1

20 : 2 = 10
18 : 2 = 9
16 : 2 = 8
14 : 2 = 7
12 : 2 = 6
10 : 2 = 5
8 : 2 = 4
6 : 2 = 3
4 : 2 = 2
2 : 2 = 1

b. Penjatahan ketentuan 50 kebawah

49 : 7 = 7
42 : 7 = 6
35 : 7 = 5
28 : 7 = 4
21 : 7 = 3
14 : 7 = 2
7 : 7 = 1

48 : 6 = 8
42 : 6 = 7
36 : 6 = 6
30 : 6 = 5
24 : 6 = 4
18 : 6 = 3
12 : 6 = 2
6 : 6 = 1

50 : 5 = 10
45 : 5 = 9
40 : 5 = 8
35 : 5 = 7
30 : 5 = 6

40 : 4 = 10
36 : 4 = 9
32 : 4 = 8
28 : 4 = 7

30 : 3 = 10
27 : 3 = 9

c. Pencatuan bilangan 100 kebawah

100 : 10 = 10
90 : 10 = 9
80 : 10 = 8
70 : 10 = 7
60 : 10 = 6
50 : 10 = 5
40 : 10 = 4
30 : 10 = 3
20 : 10 = 2
10 : 10 = 1
(Episode ini biasanya anak cepat hapal)

90 : 9 = 10
81 : 9 = 9
72 : 9 = 8
63 : 9 = 7
54 : 9 = 6
45 : 9 = 5
36 : 9 = 4
27 : 9 = 3
18 : 9 = 2
9 : 9 = 1
(Untuk episode ini uang pelicin nya, hasil baginya adalah kredit depan +1)

80 : 8 = 10
72 : 8 = 9
64 : 8 = 8
56 : 8 = 7
48 : 8 = 6

40 : 8 = 5
32 : 8 = 4
24 : 8 = 3
16 : 8 = 2
8 : 8 = 1
(Untuk bagian ini uang sogok nya, jika diatas 40 hasil baginya ialah kredit depan +2, untuk bilangan 40 kebawah hasil baginya adalah angka depan +1)

70 : 7 = 10
63 : 7 = 9
56 : 7 = 8

60 : 6 = 10
54 : 6 = 9

Jika masih kesulitan menghapal bisa menggunakan bantuan pergandaan maupun kembali menunggangi kaidah tahap 1 (metode memperalat gambar)

Tahap 3

Mengajarkan konsep sisa, merupakan tak semua predestinasi lampau dibagi.

Sesudah menguasai pembagian qada dan qadar dibawah 100, tahap selajutnya yakni mengenalkan bahwa tidak semua bilangan terlampau dibagi.
Tahap ini boleh menginjak dikenalkan setelah anak bisa menghapal pembagian bilangan 50 kebawah, kemudian diajarkan serempak proses momongan menghapal pengalokasian 100 kebawah.

Bikin mengenalkan konsep sisa bisa dengan mandu tahap 1 (metode menggunakan gambar), dengan contoh suratan yg mungil saja ( 25 kebawah ), seumpama 10 : 3
1  2 3
•  •  3
•  •  6
•  •  9

Sehabis digambar ternyata nan baris terakhir tak semua dapat lingkaran, ada sempelah 1 galengan di baris minimal dasar, artinya 10 : 3 itu hasilnya 3 kotoran 1.

Disini kita belum wajib mengenalkan bentuk pecahan atau desimal, cukup menentukan hasilnya berapa pungkur berapa.

Contoh enggak , 15 : 4
1  2 3 4
•  •  •  4
•  •  •  8
•  •  •  12
•  •  •
Hasilnya yaitu 3 sempuras 3.

Tahap ini boleh jadi tidak butuh waktu bersisa lama buat menjelaskan kepada anak, layak anak sempat konsepnya. Karena puas tangga selanjutnya anak akan majuh menggunakan konsep ini, jadi dengan sendirinya anak akan terjaga dan terbiasa menggunakannya

Tahap 4

Mengajarkan metode pembagian bersusun (porogapit).

Metode penjatahan nan umum dipakai adalah metode pembagian berlenggek (porogapit). Mengajari metode pendistribusian berpangkat kepada anak membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang lebih serta sosi-trik nan memudahkan anak bakal memahaminya.

Dapat jadi kita merasa sudah lalu menjelaskan dengan terang benderang langkah-langkah metode pengalokasian bersusun kepada anak, tetapi momongan tidak perseptif-paham malah tambah bingung. Alhasil kita kembali turut bingung memikirkan pendirian apalagi nan dapat digunakan cak bagi bisa membuat anak paham.

Memang, bagi anak nan yunior belajar pencatuan metode ini terasa patut rumit, cak semau sejumlah langkah-langkah yang harus dihapal dan dipahami. Apalagi jika momongan tidak hapal perbanyakan (1 s/10), pasti bintang sartan tambah rumit. Tapi tak bermanfaat anak yang tidak hapal multiplikasi (1 s/d 10) lain boleh mengerjakan metode pembagian bertajuk.

Mari kita mulai memaki langkah-langkah mengajarkan pembagian bersusun. Di wilayah saya, pembagian susun umumnya disebut porogapit. Kalau di kewedanan sira namaya segala prend?

Contoh tanya:
Pak Hari memiliki 72 ekor sapi. Sira ingin membagikan sapi-sapi itu kepada 3 anaknya. Berapakah sapi yang diterima masing-masing anak?
Secara Matematis ditulis 72 : 3 =…
Beginilah cara mengajarkan penjatahan porogapit varian kami.

1.

Karena kadar pembagi adalah 3, maka mintalah anak untuk membuat tabel perbanyakan dengan konsep sama dengan gambar diatas. Tabel tersebut sangat kondusif untuk anak nan tidak hapal perkalian.

2.

Anju berikutnya, jelaskan kepada anak bahwa takdir pembaginya adalah 3 padahal nan dibagi adalah 7. Jelaskan juga kepada anak sekiranya bilangan pembaginya lebih besar dari garis hidup pertama suratan yang dibagi maka predestinasi yang dibagi untuk tahap pertama adalah 2 digit. Untuk memudahkan, tanyakan pada anak. Berapa dikali 3 hasilnya 7 atau nan paling dekat dengan 7. Maka secara otomatis anak akan serempak melihat tabel dan menemukan angka 2×3=6. Dalam hal ini, sebaiknya lebih mudah memahami, anak harus menulisnya di bawah garis hidup pembagi. Lebih jauh skor depan yaitu 2 sebagai pengali 3 harus ditulis di atas. Setelah itu menghitung pengurangan angka 7-6=1.

Baca : Mengajarkan Konsep Pangkal Pengkhitanan

3.

Setelah mengamalkan proses pengurangan angka nan suka-suka di depan (7), selanjutnya angka ke dua yaitu (2) diturunkan harfiah ke bawah maka akan didapat angka 12.

4.

Tanyakan lagi kepada anak, berapa dikali 3 kesudahannya 12 ? maka anak akan kembali pula meluluk diagram dan menemukan ponten 4×3=12. Momongan harus menulisnya pula seperti langkah sebelumnya. Kemudian angka depan adalah 4 ibarat multiplikator 3 harus ditulis di atas, tepat di belakang angka 2.

5.

Langkah terakhir merupakan proses pengurangan. Angka yang dikurangi dan yang mengurangi ialah sama merupakan 12-12 dan sudah karuan hasilnya merupakan 0. Karena hasil akhir adalah 0, dengan demikian proses penjatahan dengan porogapit selesai.

Bagaimana ? mudah morong? cara menghitung pencatuan dengan  porogapit. Kalau dengan menggunakan pendirian di atas, anak masih namun tak paham. Yah, taat sabar namun ya. Karena kemampuan tiap anak itu berbeda-cedera. Hendaknya bermanfaat dan setia arwah …

*Gandeng*

Tahap 5 (Tambahan)
Mengajarkan beberapa pembagian khusus yang bisa dilakukan tanpa harus batik proses pembagiannya.

Source: http://bimbelife.blogspot.com/2018/09/pembagian-5-tahapan-mengajarkan.html

Posted by: skycrepers.com