Cara Menanamkan Nilai Karakter Dalam Pembelajaran Sd



PENDAHULUAN

Jalan zaman nan berkepribadian global internal segala permukaan alamiah tentu berwibawa terhadap pola pikir dan perilaku. Akibatnya, dampak secara mondial diperlukan persiapan-langkah taktis-diplomatis melalui penstabilan karakter, serta nilai-nilai sosial budaya yang relevan dan diperlukan bagi memajukan bangsa. Harus diakui bahwa lemahnya penghijauan nilai-angka kejujuran siswa tuntun berasal berasal rendahnya kualitas pendidikan fiil nan diberikan.

Pendidikan yang terbatas berkualitas tidak lagi berpunya menawarkan program dan situasi yang berdampak jangka panjang bagi tumbuhnya karakter seseorang. Ibid (privat Zubaedi, 2017:377), Karakter adalah nikah dari kebiasaankebiasaan yang dilakukan bersambung-sambung dengan mengakar kuat internal kepribadian seseorang. Kemampuan menghayati kewajiban laksana sebuah keniscayaan tidaklah lahir dengan sendirinya, tetapi tumbuh melalui suatu proses, usaha menumbuhkembangkan bisa ditempuh melalui pendidikan karakter dengan pembiasaan dan penciptaaan komunitas tata susila di papan bawah.

Pembentukan budaya dan karakter di sekolah enggak hanya dibebankan pada mata kursus terpisah yang menunggangi pendekatan akademik dan teoritik, tetapi hasil belajar dari pendidikan budi tidak sekedar proklamasi hafalan yang diuji dan dinilai dengan poin skor, semata-mata hasil belajar kebal kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam dimensi karakter yang diuji dengan proses penilaian dan komoditas, sehingga pembentukan fiil menjadi sikap nan menjadi bagian jiwanya kemudian menjelma dalam perilaku. Karena perbuatan dan perilaku adalah manifestasi maujud terhadap nilai kelakuan bersumber pendidikan karakter itu sendiri yang dapat diterapkan melalui pembiasaan dan kekerabatan tata krama di papan bawah. Tidak dapat dipungkiri bahwa degradasi moral semakin musim semakin kerumahtanggaan kondisi memprihatikan, tingginya tingkat kekerasan internal lingkungan sekolah, tingkat bullying serta perilakuperilaku siswa yang kian menyimpang dari norma-norma serta banyaknya kasus-kasus yang terjadi di sekolah.

Disamping itu, dengan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi yang sedemikian itu pesat dan sulit dibendung, akan lampau berpengaruhterhadap orientasi. Pembiasaan sikap menghargai dan rasa hormat kepada diri seorang, menghormati kepada orang lain yang kian tua, kemampuan bagi mengendalikan diri dan mengontrol emosi, perilaku santun yang sesuai dengan tatanan norma sudah tiba menciut. Situasi ini dapat dicegah dan diatasi melalui terbentuknya iklim sekolah yang baik kepentingan kondusif keberhasilan pelaksanaan pendidikan fiil yang diawali bersumber pembentukan suasana kelas yang baik terlebih dahulu.

Menurut John Dewey, (dalam Zubeadi, 2017), Pendidikan dikatakan gagal, sekiranya bukan menganggap sekolah sebagai salah suatu rangka jiwa masyarakat. Penerapan pendidikan karakter melalui pembiasan dan kekerabatan moral di kelas boleh memangkalkan perilaku ubah mengejek dan juga menurunkan tingkat silang sengketa antar petatar. Sebagian besar masalah perilaku disebabkan oleh siswa didik tidak mengerti mengapa hal-peristiwa tertentu harus dilakukan dan yang bukan tidak dilakukan. Sehingga master harus menyadari bahwa intensif sebagaimana reward dan hadiah lainnya hanyalah berperangai sementara umpama perangsang moga mereka bersikap benar. Akan tetapi, kalau kedahagaan untuk hadiah atau reward tetap mendominasi sebagai motif, ini bahkan akan menjadi pengempang dari pada membantu kesikap budi yang bermoral. Bikin itu, agar bisa bertelur dalam mengajarkan sikap hormat dan bertanggung jawab, seorang pendidik harus menjadikan upaya pembentukan peguyuban tata susila kelas sebagai pamrih pendidikan utama.

Makanya karena itu, penanaman nilainilai karakter wajib diterapkan lega diri masing-masing pesuluh asuh melalui pembiasaan dan kreasi peguyuban adab di kelas. Dengan menjadikan pembiasaan dan komunitas moral di kelas sebagai upaya menanamkan ponten-nlai pendidikan khuluk, petatar didik akan belajar tentang moralitas dengan cara mempraktikkannya melalui adaptasi. Oleh karena itu, mereka harus mewah internal sebuah komunitas-interaksi, menjalin hubungan, menuntaskan kebobrokan, berkembang umpama sebuah kelompok, dan belajar langsung dari pengalaman sosial yang mereka rasakan koteng. melaluiaklimatisasi secara rutin, berbarengan, dan berkesinambungan akan efektif daripada teladan teoritis doktrinal. Kejadian ini menghafaz melewati kegiatan pembiasaan akan menjadikan murid pelihara mengalami proses buatan, identifikasi, sugesti, dan timbang rasa terhadap perilaku bermuatan nilai-poin kepribadian. Sikap dan perilaku yang bermartabat pada momongan akan berkembang sebagaimana lingkungan yang mengajarinya dan lingkungan tersebut mendarah daging nan dihadapinya saban hari.

Kajian

Pendidikan karakter adalah suatu payung istilah nan menguraikan berbagai aspek pencekokan pendoktrinan dan pembelajaran kerjakan jalan personal. Beberapa area dibawah payung ini meliputi penalaran kesopansantunan maupun peluasan kognitif, penelaahan sosial dan emosional, pendidikan kebajikan moral, dan pendidikan keterampilan hidup nan dimulai dari pengajian pengkajian di kelas. Terbentuknya iklim sekolah yang baik guna kontributif keberhasilan pelaksanaan program pendidikan kepribadian diawali dengan pembentukan suasana kelas yang baik bahkan lalu. Pendidikan budi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja bakal mengembangkan budi yang baik.

Sudrajat (dalam Zubaedi, 2017:375), mengemukakan bahwa cak semau empat garis haluan yang dapat dilakukan bakal mengoptimalkan pendidikan fiil dalam menumbuhkan biji-nilai kepatutan di lingkungan akademik yaitu meliputi; pengajaran (teaching), keteladanan (modeling), penguatan (reinforcing), dan penyesuaian (habituating). Dalam sosi nan berjudul The Habits of Highly Effective Teens, Stephen R. Covery membeberkan, bahwa terserah tujuh kebiasaan yang bisa diterapkan kerumahtanggaan mendidik karakter anak tuntun, merupakan bersikap proaktif, memulai dengan tujuan akhir, memperkerap yang penting, nanang menang, berusaha memahami justru dahulu baru dipahami, membentuk sinergitas, dan prinsip pembaruan yang seimbang.

Menurut David Brooks dan Mark Kann (kerumahtanggaan Zubaedi,2017:373) takhlik daftar sebelas zarah nan sangat penting untuk pendidikan khuluk nan diterapkan melalui pembiasaan dan peguyuban moral di kelas bawah, yaitu; harus ada instruksi sewaktu privat pendidikan watak, untuk anak-momongan harus terbiasa dengan kebajikan, mereka harus mendengar dan menyibuk introduksi-kata, belajar maknanya, mengidentifikasi perilaku yang tepat dan menerapkannya. Penggunaan bahasa yang baik sangat terdahulu bagi momongan-anak, mereka harus didorong untuk memperalat bahasa kebajikan dan temperatur harus menyingkir bahasa negatif seperti “jangan terlambat” atau “jangan lupa” dan menggilir dengan “tepat waktu” atau “bersiaplah”.

Hasil studi Lewis dan Schaos (1996) menunjukkan bahwa suasana inferior nan kondusif akan mempunyai dampak yang positif, karena; harapan dan kemampuan akademik siswa meningkat, motivasi pelajar bagi belajar menjadi makin besar, siswa lebih menyenangi sekolah, tingkat ketidakhadiran siswa kian rendah, kemampuan sosial murid menjadi bertambah baik, komplikasi kenakalan siswa jauh berkurang, dan petatar mempunyai sikap nan lebih termengung. Hal ini dapat terwujud apabila seluruh publik sekolah menumbuhkan budaya bahasa, dan iklim berkelakuan baik.

Pembiasaan Murid Didik di Kelas

Kegiatan pembiasaan pada dasarnya yakni implementasi berupa semua mata cak bimbingan karena pembiasaan yaitu terapan atas kognisi, kecekatan, serta sikap dan nilai yang dibangun pada semua alat penglihatan pelajaran. Menurut Abdullah Nasih Ulwan (privat Zubaedi, 2017:377), metode habituasi adalah kaidah ataupun upaya nan praktis kerumahtanggaan pembentukan (pembinaan) dan persiapan momongan. Padahal menurut Ramayulis, metode pembiasaan yaitu kaidah lakukan menciptakan suatu sifat atau tingkah laku tertentu bagi anak didik. Arthur, (2003:38), Pembiasaan ialah camar duka berulang-ulang dan/atau tindakan dari jenis nan ekuivalen yang menimbulkan kebiasaan pada setiap orang.

Hasil penggalian Supiana dan Hadiah Sugiharto (2017), menunjukkan bahwa metode habituasi sangat efektif untuk meninggikan hafalan-hafalan lega anak didik, dan bakal penanaman sikap beragama dengan kaidah menghapal tahlil-doa. Cangkok kebiasaan yang baik memang tidak mudah, dan adakalanya gado waktu yang lama. Semata-mata sesuatu yang sudah lalu menjadi kebiasaan terik pula untuk mengubahnya. Maka resan mempunyai peranan bermanfaat kerumahtanggaan kehidupan basyar. Selain itu pembiasaan kiranya disertai dengan propaganda membangkitkan kesadaran atau denotasi secara terus-menerus, sebab pembiasaan digunakan bukan bagi menguati peserta asuh seyogiannya melakukan sesuatu secara otomatis, melainkan hendaknya anak dapat melaksanakan apa faedah dengan mudah tanpa merasa berat atau makan hati.

Berlandaskan hasil penekanan yang dilakukan maka itu Supraptiningrum dan Agustini (2015) menjelaskan bahwa, bikin menanamkan kepribadian lega murid dilakukan dengan orientasi melalui beragam kegiatan, yaitu: (1) kegiatan rutin yang dilakukan siswa secara terus-menerus dan tegar setiap saat; (2) kegiatan spontan yang dilakukan siswa secara serampak pada saat itu pula; (3) keteladanan merupakan perilaku dan sikap temperatur dan tenaga kependidikan dan siswa dalam mengasihkan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi petatar lain; (4) pengondisian dengan pendirian penemuan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan makanya Nur Hidayat (2016), inti berpokok pembiasaan dalam pendidikan adalah pengulangan. Misalnya, pendidik senantiasa mengingatkan peserta bimbing intern hal berpakaian. Penyampaian sama dengan ini apabila didengar dan dipahami, maka dengan sendirinya peserta didik dapat berlatih diri berpakaian sesuai tuntutan agama. Penerapan pembiasaan pendidikan khuluk di kelas di start berpangkal kejadian-hal nan tersisa namun secara kontinyu dan berarti.

Kemendiknas (dalam Ernawati, 2017), berpendapat bahwa pengembangannilai-kredit karakter didefinisikan bersumber sejumlah sumber, yakni agama, pancasila, budaya, dan pamrih pendidikan nasional yang menghasilkan nilai-nilai karakter. Penerapan pembiasaan dan penemuan peguyuban akhlak pendidikan karakter di kelas di mulai dari hal-hal yang tercecer namun secara kontinyu dan berharga, seperti; (1) Memiliki aturan religius dan andal, misalnya sembahyang sebelum dan sesudah pelajaran, menyediakan akomodasi tempat temuan dan produk hilang, pantangan menyontek; (2) Sikap toleran, misalnya memberikan pelayanan yang sama terhadap seluh warga inferior tanpa membebaskan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan pamor ekonomi, serta bekerja privat kelompok nan farik; (3) Kesetiaan dan kerja keras, misalnya belajar hadir tepat hari, belajar mematuhi aturan, menciptakan suasana kompetensi yang sehat, menciptakan etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar, serta punya pajangan slogan ataupun motto tentang giat belajar dan berkerja; (4) Berlambak dan mandiri, misalnya menciptakan suasana belajar yang bisa menumbuhkan daya pikir dan bertindak berlimpah, menyerahkan tugas yang menantang, munculnya karya-karya baru; (5) Mandiri, misalnya menciptakan suasana papan bawah nan memasrahkan kesempatan kepada peserta didik buat bekerja mandiri; (6) Demokratis, misalnya mencoket keputusan kelas secara bersama melintasi musyawarah dan musfakat, pemilihan kepengurusan kelas bawah secara melangah; (7) Rasa ingin adv pernah, misalnya menciptakan suasana kelas yang ulem rasa ingin tahu, eksplorasi mileu secara terprogram, tersedia kendaraan komunikasi maupun informasi (media cetak dan media elektronik); (8) Kehidupan kebangsaan dan cinta petak air, misalnya bekerja sama dengan teman kelas yang berbeda kaki, pamor sosial-ekonomi, mendiskusikan hari-hari lautan nasional, memajang foto presiden dan wakil presiden, bendera, lambang Negara, peta Indonesia, buram atma masyarakat Indonesia; (9) Menghargai penampilan, misalnya memberikan penghargaan atas hasil karya peserta jaga, memajang stempel-tera penghargaan penampakan; (10) Bersahabat atau komunikatif, misalnya yuridiksi kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik, pembelajaran yang dialogis, mendengarkan keluhan-keluhan petatar didik; (11) Suka membaca, misalnya daftarkan buku atau catatan yang dibaca peserta didik, frekuensi kunjungan perpustakaan, silih saling bacaan, penataran nan memotivasi momongan menunggangi referensi; (12) Peduli lingkungan, misalnya memelihari lingkungan inferior, tersedia tempat pembuangan sampah didalam inferior, pembiasaan menghemat energi, meledakkan stiker perintah, mematikan bola lampu dan menudungi keran air plong setiap lingkungan kelas maupun sekolah; (13) Peduli sosial, misalnya berempati kepada sesama antiwirawan kelas, mengerjakan aksi sosial, membangun kesepakatan penduduk kelas; (14) Bagasi jawab, misalnya pelaksanaan tugas piket secara teratur, peran serta aktif dalam kegiatan sekolah, dan mengajukan usul separasi masalah.

Propaganda penumbuhan budi pekerti di sekolah dirasakan akan lebih mengena jika dilakukan dengan serangkaian kegiatan pembiasaan. Mula-mula, menumbuhkembangkan ponten-nilai moral dan spiritual silam pengamalan biji-nilai moral dalam perilaku nyata sehari-hari. Nilai moral diajarkan kepada peserta, lalu guru dan pelajar mempraktikkan secara rutin menjadi kebiasaan dan akhirnya dapat membudaya. Kedua, menumbuhkembangkan biji-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Ketiga, mengembangkan interaksi substansial antara peserta didik, guru, dan orangtua. Keempat, mengembangkan interaksi positif antarpeserta jaga. Kelima, merawat diri dan mileu sekolah. Keenam, mengembangkan potensi diri pesuluh asuh secara utuh. Ketujuh, pelibatan ayah bunda dan masyarkat sekolah.

Menciptakan Peguyuban Etik di Kelas

Menurut Haricahyono, (1988:9), Pendidikan moral adalah satu kegiatan kondusif anak bikin menuju kearah nan sesuai dengan kesiapan mereka, dan tidak sekedar memaksakan pola-konseptual eksternal terhadapnya. Sehingga dibutuhkan suatu habituasi kepada momongan untuk mengenalinilai-nilai moral yang harus dipatuhi bakal menjadi bagian bersumber masyarakat dan diterima maka itu umum itu pun. Silanoi (2012), mengatakan bahwa berfirman, konversasi, dan perdebatan nan digunakan dalam segala rancangan pendidikan moral, tetapi kerap fokus adalah membenarkan keputusan tata krama. Mengetahui moral, yang mencakup pemahaman etik, takrif tentang nilai-poin adab, tinjauan masa yang akan cak bertengger, penalaran moral, pengambilan keputusan, dan kognisi diri, merupakan situasi penting yang siswa butuhkan. Menurut Aristoteles lama (kerumahtanggaan Noddings, 2002:40) berpendapat bahwa belaka siswa yang bisa cekut keuntungan dari pengajaran-Nya, penalaran moral dan teori orang-orang yang sudah mempunyai suara khuluk dan apresiasi bikin hidup moral.

Menurut Cronbach (kerumahtanggaan Rokhman, Hum, Syaifudin, & Yuliati, 2014), Kepribadian adalah bukanlah sebuah entitas yang terpisah antara kebiasaan dan ide-ide. Karakter aspek perilaku, kepercayaan, perasaan, dan tindakan yang saling tercalit satu sama lain sehingga kalau seseorang ingin mengubah karakter tertentu, mereka mesti buat mengeset unsur-unsur sumber akar karakter mereka.

Berbeda dari Cronbach, Lickona (dalam Rokhman et al., 2014) melihat fiil dalam tiga elemen yang tercalit; laporan moral, ingatan moral, dan tindakan moral. Berdasarkan ketiga unsur tersebut seseorang dianggap memiliki karakter yang baik jika mereka tahu akan halnya hal-hal nan baik (pengetahuan moral), memiliki minat terhadap keadaan-situasi baik (manah moral) dan melakukan tindakan nan baik (tindakan moral).

Althof & Berkowitz (dalam MeiJu, Chen-Hsin, & Pin-Chen, 2014) mengusulkan bahwa pendekatan baru bermaksud untuk memasukkan pikiran dan manah anak-anak seperti yang disarankan dalam tindakan mereka mengekspos, belajar, dan menghargai.

Mencius (kerumahtanggaan Nucci et al., 2014, keadaan. 34) menganggap bahwa, moralitas misal yang menentukan karakteristik manusia. Menurut Mencius, satu tidak bisa dianggap basyar tanpa empatkecondongan. Permulaan, adalah welas asih, yang merupakan sumber akar-usul ren (mencintai hamba allah lain). Kedua, adalah rasa malu terhadap diri Anda dan menyukai kesalahan orang lain, yang yakni asal-usul yi (kebenaran). Ketiga, adalah cak bagi memberikan makhluk tidak didahulukan bersusila santun dan khidmat, yang ialah asalusul li (kesopanan). Keempat, adalah rasa bersusila dan salah, yang merupakan pangkal-usul zhi (kebijaksanaan).

Mencius menganjurkan menjadi berpretensi untuk enggak mengubah pikiran karena kepentingan pribadi melainkan lakukan menunjukkan tekad dan keberanian privat kehidupan. Akhirnya, orang bisa menjadi orang terhormat yang minus mengorbankan adat-istiadat seorang bikin janji-ikrar kekayaan dan kemasyhuran, atau diredakan oleh maslahat dalam peristiwa di mana anak adam diminta bagi mengerjakan sesuatu tak bermoral. Singkatnya, jantung Konfusianisme adalah gagasan ren, atau mencintai orang lain. Konfusianisme terutama prihatin dengan moralitas n domestik sangkut-paut interpersonal dan perilaku, dan mengenali nilai-nilai yang mencakup beraneka ragam macam hubungan dan perilaku — ren (menyayangi sosok bukan), li (kesopanan), xiao (kesetiaan), ti (cinta dan khidmat antara saudara), zhong (disiplin), shu (ketabahan), yi (kebenaran), zhi (kebijaksanaan), dan xin (integritas). Intensi dari pendidikan moral dalam Konfusianisme yaitu merebus diri ke seseorang yang ren-sopan, berani, tanpa pamrih, dan penuh kasih terhadap orang lain.

Goleman (dalam Pane & Patriana, 2016) menyatakan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan dengan langkah penciptaan komunitas moral di inferior, dimana pendidikan karakter adalah nilainilai pendidikan yang mencakup aspek amanat (kognitif), pikiran, dan tindakan. Lickona (dalam Pane & Patriana, 2016) menyatakan bahwa n domestik setiap karakter menghasilkan angka pendidikan, dimana terdiri dari tiga komponen dari khuluk yang baik,: maklumat etik, perasaan moral dan tindakan moral.

Menurut Jhon Dewey (privat Zubaedi, 2017:395) pelatihan moral yang paling baik dan mendalam dapat dilakukandengan membiasakan anak saling menjalin koneksi dengan sesama kawannya. Bagi bisa berbuntut kerumahtanggaan mengajarkan sikap hormat dan bertanggung jawab, guru harus menjadikan upaya pembentukan komunitas moral di kelas bawah sebagai tujuan pendidikan terdahulu. Anak asuh-anak asuh berlatih tentang moralitas dengan mandu mempraktikkannya. Mereka harus berada di intern sebuah komunitasberinteraksi, menjalin hubungan, menuntaskan komplikasi, berkembang sebagai sebuah kelompok, dan belajar lansung dari pengalaman sosial nan mereka rasakan seorang tentang les, tentang bermain secara adil, partisipasi, memaafkan, dan meluhurkan harkat dan gengsi setiap khusus. Ada tiga kondisi radiks yang dapat takhlik kekerabatan akhlak di kelas, adalah; Pertama, murid saling mengenal satu setimpal bukan. Menerobos cara ini akan lebih membiasakan siswa untuk cak hendak menghargai oranglain dan merasakan kekariban. Kedua, murid saling meluhurkan, kontributif, dan peduli terhadap satu setimbang lain. Ketiga, mereka diterima misal anggota, dan bertanggung jawab terhadap gerombolan.

Menurut Lickona (dalam Zubaedi, 2017:394), langkah invensi komunitas akhlak di papan bawah terdiri berpangkal tiga kegiatan. Pertama. Membantu para pesuluh cak bagi ubah mengenal satu seimbang tak dengan aktivitas; Rapat; Direktori kelas; Kantung harta karun; Sahabat pen dengan kelas lain; Lot tempat duduk; Perasaan nyaman atau tak nyaman; Jaket pelindung (buat silih berbagi aspirasi, pencapaian, dan tak-lain). Kedua, mengajari siswa kerjakan beraksi ubah menghormati, kondusif, dan peduli dengan sesama menerobos kegiatan; Membangun empati; Menghentikan ketidakadilan terhadap momongan yang farik; Menyelenggarakan kegiatan yang berpangkat pujian; Pohon jasa baik; Kekuatan pengenalan-kata berupa, dan Pelukan mendinginkan. Ketiga, mendukung siswa membangun perhatian korp sebagai anggota dan rasa tanggung jawab kepada kerubungan melalui kegiatan; Membangun kohesi dan identitas kelas melangkahi diversifikasi tradisi dan simbolis; Menumbukan perasaan ibarat manusia yang unik, anggota yangberharga dari sebuah komunitas kelas, melakukan upaya campur tangan dalam membantu anak nan dikucilkan agar dapat dikabulkan oleh teman-temannya; Menanamkan rasa tanggung jawab kerumahtanggaan menjunjung tangga rasam kerumunan; Memurukkan tumbuhnya etika saling ketergantungan, dengan semangat “siapa yang punya komplikasi yang bisa dibantu penyelesaiannya oleh kita semua”.

Kesimpulan

Kepribadian adalah perantaraan dari sifat-kebiasaan yang terus menerus dilakukan dan mengakar awet kerumahtanggaan karakter seseorang. Menanamkan nilainilai karakter pada pelajar ajar dilakukan dengan penyesuaian-pembiasaan melintasi berbagai kegiatan di kelas yang dilakukan secara terus-menerus dan patuh setiap saat, sehingga pelajar bimbing akan terbiasa mengerjakan hal-hal nan baik dan ter-hormat yang tertanam dalam diri per peserta pelihara, tanpa ada reward ataupun pemberian bagi melakukan hal tersebut. Bentuk pembiasaan yang dilakukan seperti inilah dapat mengintensifkan nilai-angka moral pada setiap murid tuntun. Keadaan ini tentu berawal dari kegiatan-kegiatan yang terbelakang yang melibatkan aktivitas keseharian peserta bimbing nan dimulai dari lingkungan kelas.

DAFTAR Wacana

Ernawati. 2017. Menumbuhkan Skor Pendidikan Karakter Momongan SD melewati Dongeng (Cerita binatang) dalam Penataran Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Penerimaan Dasar. Vol.4, No. 1

Hidayat Seri. 2016. Implementasi Pendidikan Kepribadian Melalui Pembiasaan di Dangau Pesantren Pabelan. Harian Pendidikan Sekolah Dasar, Vol. 2. No. 1

Mei-Ju, C., Chen-Hsin, Y., & Pin-Chen, H. (2014). The Beauty of Character Education on Preschool Children’s Parent-child Relationship. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 143, 527–533.

Milanovira, “Tujuh Kebiasaan yang Baik Menurut Stephen R. Covey”, artikel dalam Milamashuri.wrodpress.com Dipublikasikan 20/08/2010, http://milamashuri.wordpress.com/ 2010/08/20tujuh adat- yangbaik-menurut-stepehen-r-covey/

Nucci, L., Narvaez, D., & Krettenauer, T. (2014). Handbook of Etik and Character Education. Handbook of Moral and Character Education Second (2nd ed., Vol. 2). New York: Routledge.

Pane, M. M., & Patriana, R. (2016). The Significance of Environmental Contents in Character Education for Quality of Life. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 222, 244– 252.

Rokhman, F., Hum, M., Syaifudin, A., & Yuliati. (2014). Character Education for Golden Generation 2045 (National Character Building for Indonesian Golden Years). Procedia – Social and Behavioral Sciences, 141, 1161–1165.

Saptono .2011. Ukuran-format Pendidikan Karkter (wawasan, strategis, dan langkah praktis). Erlangga.

Silanoi, L. (2012). The Development of Teaching Pattern for Promoting the Building up of Character Education Based on Sufficiency Economy Philosophy in Thailand. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 69 (Iceepsy), 1812–1816.

Supiana, Sugiharto Rahmat. 2017. Pembentukan Nilai-kredit Karakter Islami Siswa Melalui Metode Pembiasaan. Jurnal Education Vol.01, No.01

Noddings, N. (2002). Educating Budi pekerti People; A Caring Alternative to Character Education. New York: Teachers College Press.

Supraptiningrat, Agustini. Membangun Kepribadian Peserta Melampaui Budaya Sekolah di Sekolah Asal. 2015. Buletin Pendidikan Karakter, Periode V, No. 2

Zubaedi. 2017. Strategi Taktis Pendidikan Fiil (bagi PAUD dan Sekolah). Depok: PT Raja Grafindo Persada

Source: http://www.smpn1weru.sch.id/2020/06/menanamkan-nilai-nilai-karakter-peserta.html

Posted by: skycrepers.com