Cara Mengajar Anak Sd Kelas 2

20+ Cara Merebus dan Mengajar Anak SD Yang Baik dan Benar_
Anak yang berada di kelas sediakala SD adalah anak yang berada plong rentangan anak usi prematur. Masa kehidupan dini ini merupakan masa yang pendek, tetapi adalah masa nan lampau penting bagi seseorang anak.

Makanya karena itu, pada waktu ini seluruh potensi yang di miliki anak mesti di dorong sehingga akan berkembang secara optimal. Lantas bagaimana cara mendidik anak asuh SD, start dari kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5 dan kelas bawah 6. berikut ulasannya buat anda.


1.


Hawa sebaiknya m


emahami karakteristik momongan mulai dari kelas 1, kelas 2, kelas bawah 3, inferior 4, kelas 5 dan kelas bawah 6


Salah atu hal nan utama untuk dipahami makanya guru adalah karakteristik kronologi anak asuh plong kehidupan SD. Karakteristik kronologi anak puas usia SD rata-rata pertumbuhan fisiknya telah mengaras kematangan. Mereka sudah lalu rani mengontrol fisik dan keseimbangannya. Mereka telah boleh melompat dengan kaki secara cak keramik, dapat mengendarai sepeda pit dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang harmonisasi tangan dan matanya untuk dapat memegang potlot alias memegang gunting.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak Nan Lambat Mencerna Cak bimbingan

Selain itu, jalan sosial anak yang berkecukupan pada usia kelas sediakala SD, antara lain mereka mutakadim dapat menunjukan keakuannya tentang jenis kelaminya, mutakadim berangkat berkompetisi dengan teman sebaya, menpunyai sahabat, sudah lalu rani berbagi dan mandiri Pertumbuhan dan urut-urutan merupakan dua kejadian nan sangat terdepan dan enggak dapat di pisahkan terbit perjalanan jiwa manusia.

Pertumbuhan dan perkembangan manusia bersifat permanen, dalam arti pertumbuhan dan jalan berlangsung selama manusia nasib dan bercerai bersamaan dengan berakhirnya individu (meninggal dunia). Setiap anak adam secara kadar membawa variasi dan irama pertumbuhan dan perkembangan sendiri-koteng.

Hal ini menyebabkan setiap individu mempunyai perbedaan-perbedaan. Teori berkaitan dengan perkembangan psikologi dan intelektual siswa di sekolah radiks di jabarkan oleh Piaget. Menurut teori Piaget, proses belajar boleh berlantas setelah terjadi proses pengolahan data yang aktif di pihak pembelajar. Penggodokan data yang aktif merupakan aktivitas lanjutan berpunca kegiatan mencari maklumat dan di lanjutkan dengan kegiatan penemuan.

Piaget berpendapat bahwa “segala apa yang sudah terserah pada diri koteng siswa (kapasitas asal kemampuan intelektualnya maupun dapat di tutur dengan istilah skema) adalah dasar untuk menyepakati kejadian yang yunior.” Skema berfungsi mengatur interaksi siswa dengan lingkungan sekitarnya” (Hasan, 1996:30). Menurut Piaget, kematangan bio-psikologi seseorang n kepunyaan tingkatan-tataran. Tingkatan kronologi
intelektual punya ciri-ciri terdiri, antara lain:


2. Guru sebaiknya memahami hierarki perkembangan intelektual anak bersendikan nyawa


Next tips mengajar di SD yang baik dan benar adalah guru harus memahami tingkatan perkembangan anak berdasarkan nasib. Menurut Piaget, kematangan bio-psikologi seseorang memiliki jenjang-tataran. Hierarki perkembangan:

A. Tahap pra-operasional (2-7 musim)

Tahap pra-operasional (2-7 hari) tahap berpikir pra-paradigma (2-4 hari) nan di tandai dengan mulainya orientasi terhadap symbol, berangkat dari tingkah laku berbahasa, aktivitas artifisial dan permainan.

B. Tahap berpikir intuitif (4-7 tahun)

Kemudian pada tahap berpikir intuitif (4-7 periode) di tandai maka itu berpikir pralogis yaitu antara operasional konkret dengan prakonsektual. Pada tahap ini perkembangan ingatan murid didik sudah mulai mantap, tetapi kemampuan berpikir deduktif dan induktif masih lunglai/belum mantap.

C. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)

Jalan intelektual pelajar sekolah dasar berada plong tahap operasional faktual (7-11 musim) yang di tandai oleh kemampuan nanang konkret dan serius, berlambak mengklasifikasi dan mengontrol presepsinya. Pada tahap ini, jalan kemampuan nanang pesuluh mutakadim mantap, kemampuan skema asimilasinya sudah lebih pangkat internal melakukan suatu koordinasi nan loyal antar skema (Muhibin, 1995:67).

Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa sekolah radiks tersebut akan memengaruhi seluruh kegiatan pembelajaran yang di selenggarakan guru. Maka itu karena itu, kegiatan penerimaan Sains, Bahasa Indonesia, dan Kesopansantunan serta ain pelajaran lainya di arahkan pada pendekatan “meaningful learning” yang didasarkan kepada peluasan kemampuan berpikir di sesuaikan dengan biopsikologis siswa yang hendaknya di jadikan tolok ukur guru, baik dalam pengembangan materi, strategi mengajar, pendekatan, kendaraan maupun dalam melakukan evaluasi hasil belajar.

Dewey mengungkapkan bahwa “education is growth, development, life”. Hal ini berarti bahwa proses pendidikan tidak mempunyai harapan di asing dirinya, doang terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Proses pendidikan pun berkepribadian kontinu yang yakni reorganisasi, rekonstruksi, dan pengubahan pengalaman hidup, dan kembali perubahan pengalaman umur (Sukmadinata, 2002:34).

Penataran tematik sebagai suatu konsep dapat di katakan sebagai pendekatan sparing mengajar yang melibatkan beberapa satah studi untuk memasrahkan pengalaman yang bermakna kepada momongan. Di katakana bermakna karena dalam pembelajaran tematik, anak asuh akan memahami konsep-konsep nan mereka pelajari itu melalui pengalaman spontan dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang mereka pahami.


3. Guru moga memafhumi cara anak SD belajar


Salah suatu mandu pendidikan ialah proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sejauh hayat atas asal kasih sayang. Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak n kepunyaan cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif).

Menurutnya, setiap anak asuh memiliki struktur kognitif yang disebut schemata adalah sistem konsep nan suka-suka dalam pikiran sebagai hasil kesadaran terhadap korban yang cak semau dalam lingkungannya. Pemahaman tentang bahan tersebut berlantas melalui proses fotosintesis (menghubungkan objek dengan konsep nan sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep internal pikiran bakal menafsirkan objek).

Kedua proses tersebut jika berlangsung membenang akan membuat pengetahuan lama dan embaran baru menjadi seimbang. Dengan cara sebagai halnya itu secara berantara anak asuh dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Beralaskan situasi tersebut, perilaku belajar anak asuh sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari intern diri dan lingkungannya.

Kedua situasi tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses sparing terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Momongan usia sekolah dasar berada pada tahapan persuasi konkret. Pada uluran umur tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut:
1) Mulai memandang manjapada secara objektif, bergeser semenjak satu aspek keadaan ke aspek lain secara reflektif dan memandang zarah-unsur secara serentak;
2) Start berpikir dalam-dalam secara operasional;
3) Mempergunakan pernalaran operasional cak bagi megklasifikasikan benda-benda;
4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan rasam-sifat, mandu ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat; dan
5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan selit belit.

Memperhatikan janjang perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan membiasakan momongan umur sekolah dasar n kepunyaan tiga ciri, adalah:



1. Berupa

Konkret mengandung makna proses berlatih beranjak dari hal-situasi yang konkret ialah yang boleh dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik, dengan titik penyelidikan pada eksploitasi mileu andai sumber membiasakan. Pemanfaatan mileu akan menghasilkan proses dan hasil belajar nan lebih bermakna dan bernilai sebab pelajar dihadapkan dengan situasi dan peristiwa sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga kian berupa, lebih faktual, lebih berharga, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.



2. Integratif

Puas tahap nasib sekolah dasar anak memandang sesuatu nan dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum congah membeda-bedakan konsep dari berbagai ragam disiplin ilmu. Keadaan ini menayangkan cara berpikir anak yang deduktif  ialah dari hal umum ke fragmen demi bagian.

3. Hierarkis

Pada janjang vitalitas sekolah asal, cara anak asuh belajar berkembang secara lambat-laun tiba bermula hal-situasi yang tercecer ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dipehatikan tentang sekaan logis, keterkaitan antar materi dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.


4. Guru sebaiknya memahami  4 pilar pendidikan


Plong 1996 Commision On Uducation For The Twenty-Furst Centuri menyampaikan usulan kepada UNESCO bahwa pendidikan sepanjang hayat bagaikan satu bangunan yang di topang maka itu 4 pilar. Pada 1998 UNESCO merencanakan 4 pilar pendidikan tersebut, yakni :

a. Learning To Know, yang pula berguna learning to learn, yaitu sparing lakukan memperoleh pengetahuan dan untuk mengamalkan penelaahan lebih jauh;

b. Learning To Do, yaiti belajat cak bagi memiliki kompetensi dasar dalam berbimbing dengan situasidan skuat kerja nan berbeda-beda;

c. Learning To Be yaitu membiasakan bikin mengatualisasikan diri laksana individu dengan kepribadian yang memiliki pertimbangan dan tanggung jawab pribadi ( Abdul Majid, 2004 :1 ).

d. Learning To Life Together, yaitu berlatih berlambak mengapresasikan dan berbuat kondisi saling ketergantungan, keaaneka ragaman mengetahui dan perdamayan interen dan antar bangsa

Dengan demikian, eks proses pendidikan meruapakan satu pribadi utuh dengan segel secara berimbang privat aspek spriltual, sosial, intelektual, romantis dan fisikal juga pendidikan yang mempersiapkan peserta ajar untuk memperoleh kebahagian kehidupan secra seimbng antara kehidupan dunia dan akhirat, antara kehidupan pribadi dengan jiwa bersama.

Cak bagi bisa menyelaraskan perkembangan kemampuan sumber akar anak secara optimal, diperlukan kreaktivitas guru bagi mengidas alternatif model penataran nan menekankan pada aktivitas dan kreaktivitas serta karakterisistik anak sehingga proses sparing mengajar lebih efektif. Kemampuan dasar penting sekali tertanam dengan kuat di tingkat sekolah asal.


5. Guru perlu memperhatikan beberapa prinsip latar, prinsip sparing sambil bekerja, pendirian


belajar sedarun bermain, dan prinsip keterpaduan.


Pada pengembanganya, anak usia sekolah dasar cenderung doyan berlaku, memiliki rasa cak hendak tahu yang raksasa dan mudah terpengaruh maka dari itu lingkungannya sehingga penelaahan di sekolah dasar harus di usahakan agar tercipta suasana siswa yang aktif dan menyenangkan.

Untuk itu, guru perlu mengkritik sejumlah prinsip latar, prinsip belajar bertepatan berkarya, prinsip
belajar bersama-sama berperan, dan prinsip kterpaduan ( depdikbud, 1995: 1-2 ). Lebih jelasnya prinsip-kaidah itu adalah sebagai berikut.
1) Mandu latar yaitu suatu keadaan dimana pelajar sudah lalu mengetahui hal lain baik secara langsung atau tidak langsung terhadap materi yang akan di pelajari. Keadaan tersebut perlu di dasari oleh hawa tidak terjadi ke kosongan dalam penelaahan. Artinya siswa tidak merasa asing atas apa yang akan diajarkan.

2) Pendirian berlatih sekaligus bekerja merupakan hal yang tinggal utama bagi siswa karena penglaman yang de sambut melalui berkarya meruapakan hasil membiasakan yang tidak remaja di lupakan. Selain itu,
murid memperoleh kepercayaan diri, merasa gemar dan puas karena kemampuannya dapat disalurkan dan serentak dapat melihat hasil.

3) Prinsip belajar sambil bermain merupakan keevektivan nan dapat menimbulkan suasana yang menyurutkan bagi siswa dalam belajar. Suasana seperti ini akan mendorong peserta untuk lebih giat belajar. Oleh karena itu, guru harus dapat menciptakan bentuk permainan yang kreatif dan menjujut dalam menyampaikan materi penataran kepada siswa.

4) Prinsip keterpaduan merupakan situasi terdahulu dalam pengajian pengkajian. Makanya karena itu, suhu di harapkan agar dalam menyampaikan makteri pembelajaran moga mengaitkan antara konsep yang satu dengan nan lainnya. Memadukan konsep atau materi penelaahan pada dasarnya dapat mendukung siswa dalam menyerap pengetahuan nan di berikan oleh guru sehingga pembelajaran yang di ikuti boleh dicapai secara bermakna.


6. Guru menerapkan belajar dan pembelajaran berharga di SD


Belajar lega hakikatnya ialah proses perubahan di n domestik fiil yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan dan kepandaian. Perubahan ini berkarakter menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan alias asam garam.

Pendedahan pada hakikatnya adalah suatu proses interaksi antara anak dengan anak, anak dengan sumber sparing, dan momongan dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bakal anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan menyerahkan rasa lega dada bagi anak asuh. Proses sparing berwatak spesifik dan kontekstual. Artinya proses membiasakan terjadi intern diri khalayak sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya.

Sparing bermakna (meaningful learning) ialah suatu proses dikaitkannya pesiaran baru plong konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar bak hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya ikatan antara aspek-aspek, konsep-konsep, infornasi atau situasi mentah dengan suku cadang-komponen yang relevan di n domestik struktur kognitif siswa.

Proses belajar tidaksekedar menghafaz konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, namun merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidsk mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi membiasakan bermakna, maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep nan telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru nan akan di ajarkan.

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami lansung apa nan dipelajari dengan mengaktifkan lebih banyak indra daripada hanya mendengarkan hamba allah/guru menjelaskan.

Catur Padanan Pembelajaran
Hal ini sesuai dengan pendapat Ausuble dan Robinson(1968) nan mengembangkan pendekatan pembelajaran yang bertolak mulai sejak dua kontinum bersilangan, ialah kontinum belajar mengejar (discovery learning) –belajar mengakuri (receptionlearnimg) dan belajar berjasa (discovery learning) – dan belajar menghafal (rote learning). Kedua kontinum tersebut membentuk empat kutub berlatih yang dapat digambarkan pada sebuah bagan garis silang.

Catur Antiwirawan Belajar dan Robinson

Dari keempat kutub belajar dalam susuk di atas, model belajar efektif adalah belajar nan menekankan pada makna dan mengaktifkan siswa. Belajar bermanfaat adalah belejar yang menekankan arti maupun makna bersumber mangsa dan kegiatan yang diberikan untuk kepentingan peserta.


7. Guru Harus memahami perbedaan kemampuan anak SD secara kongnitif, afektif, dan psikomotor dalam proses belajar.


Proses belajar siswa umpama putaran dari kurikulum dan pembelajaran bertujuan bagi meningkatkan kronologi kongnitif, afektif dan psikomotor.  Berikut adalah gambaran pertalian kurikulum dengan kemampuan petatar.

Hubungan Kurikulum dengan Kemampuan Siswa

Dalam taraf perkembangan pendidikan di sekolah, anak-anak asuh bukanlah organisasi nan pasif sebagai halnya yang diungkapkan Jhon Locke pada teori Tabula Rasa yang kemudian melahirkan sirkuit  belajar behaviostik. Menurut kaum behaviostik perilaku anak adam suntuk di tentukan maka dari itu lingkungan yang datang dari luar karena itu setiap perilaku dapat di kontrol maka itu stimulasi yang nomplok berasal luar.

Tetapi, teori ini kemudian terbantahkan makanya Leibnitz melalui orientasi fenomenologi yang menyatakan turunan merupakan organisme yang aktif dan independen bakal membuat pilihan dalam setiap situasi.Mau makara apa nantinya orang tersebut bukan ditentukan oleh faktor lingkungan akan doang ditentukan oleh potensi yang dimiliki khalayak tersebut. Potensi atau kemampuan tersebut terdiri semenjak tiga suku cadang terdepan yakni kemampuan kongnitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotor.

1. Menyikapi Perbedaan Anak dalam Nyenyat Kongnitif

Setiap anak  menunjukkan kemampuan kongnitif yang berbeda-beda Gardner(1985) dalam Burden&Byrd (1998:255) mengungkapkan bahwa semua anak adam memilik kepintaran. Ia menunjukkan tujuh kecerdasan objektif yaitu :  bahasa, musik, logika, matematika, spasial, kinestetik, interpersonal, dan  intrupersonal.

Gardner menambahkan  kecerdasan ke delapan pada  karakteristik naturalistik. Menurut teori ini, seseorang bisa jadi memiliki kelebiahan  di suatu keceradasan tetapi tidak berarti  tak memiliki  kecendekiaan  di meres tak. Hal ini membutuhkan penyesuaian antara kurikulum  dan pengajaran nan berlangsung dengan kemampuan insan.

Stemberg (1988) mengutarakan bahwa pemahaman yang kian khusus mengenai segala nan dilakukan orang-orang ketika mereka memecahkan komplikasi sehinggamereka dapat dibantu dengan perilaku yang cerdas.

Kamu berendapat bahwa  orang-cucu adam nan cerdas memperalat lingkungan untuk hingga ke maksud dengan cara beradaptasi dengan lingkungan tersebut, mengingkari mileu tersebut alias keluar bersumber lingkungan tersebut.  Gardner dan Stemberg (1998)  menelanjangi bahwa bagi suhu  bikin memintal teknik yang tepat dalam pembelajaran ketika  mempertimbangkan kongnitif murid adalah sebagai berikut :
• Berkeinginan bahwa murid punya perbedaan.
• Mencurahkan waktu dan tenaga untuk sampai ke kompetensi.
• Mencatat bahwa kebutuhan-kebutuhan siswa enggak hanya dalam distrik-area  defisit. Jalan potensi lagi merupakan kebutuhan.
• Mengetahui coretan-catatan  nan terdahulu.
• Memaklumi pengalaman terdahulu  nan membentuk  pendirian berpikir murid.
• Menantang pelajar dengan tugas-tugas yang bervariasi dan mencatat karenanya.
• Menggunakan cara penilaian dan evaluasi  yang bervariatif.
• Terus memungkiri kondisi  belajar bakal mengungkapakan potensi.
• Sewaktu-hari menantang siswa untuk berprestasi melebhi yng didarapakan.
• Mencari sesuatu yang unik bakal dapat dilakukan oleh saban petatar.

Burden dan Bryd mengkategorikan pembelajaran dalam dua rang yakni :
a. Pembelajaran Lambat

Seorang petatar dianggap pembelajaran lambat  takdirnya tidak bisa membiasakan pada tingkat rata-rata sumber, teks, resep tugas, dan materi pencekokan pendoktrinan yang di rancang bagi mayoritas di kelas (Bloom, 1982).

Pesuluh ini banyak mempunyai pemfokusan dan difisiensi yang abnormal intern keahlihan pangkal seperti mengaji, menulis, dan matematika. Mereka perlu di beri manah kian, instruksi, korektif, mempercepat indoktrinasi khusus, variasi pengajaran dan mungkinmateri oleh guru di dalam kelas merupakan :
• Serimg membuat keberagaman teknik indoktrinasi.
• Mengembangkan pembelajaran nan menyangkut minat, kebutuhan, dan pengalaman siswa.
• Menyediakan lingkungan nan mendorong dan mendukung.
• Menggunakan pendedahan kooperatif peer tutor cak bagi siswa yang membutuhkan penguatan.
• Meluangkan pembelajaran tambahan.
• Mengajarkan materi dan langkah-langkah kecil dan cinta mengerjakan evaluasi kognisi.
• Memperalat materi dan pencekokan pendoktrinan khalayak jika  memungkinkan.
• Memperalat materi audio-visual bagi indoktrinasi.

b. Pembelajaran berdarah

Pendedahan nan berbakat adalah pelajar yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata dan mereka membutuhkan pembimbingan  pengajaran khusus. Sayangnya, beberapa guru kurang menantang pelajar memiliki kemampuan hierarki. Hal ini yang harus dilakukan di sekolah adalah :
• Tidak mewajibkan buat berbuat pengulangan terhadap materi yang telah di kuasai mereka.
• Mengasihkan pengajaran dengan kecepatan nan elastis.
• Menampungkan kurikulum dengan menghibur tugas-tugas yang tidak teristiadat agar periode beraktivitas dapat di gunakan untuk aktivitas  yang tidak.
• Kontributif siswa bagi lebih mandiri n domestik belajar.
• Menggunakan prosedur penilaian yang tidak menghambat siswa dan tidak memutuskan hukum mereka jika memiliki aktivitas mengajar nan kegandrungan.

2. Menyikapi Perbedaan Anak internal Ranak Afektif

Pendidikan privat ranah afektif  berfokus pada perasaan dan sikap jalan emosional tak mudah difasilitasi tetapi sesekali perasaan siswa mengenai kemampuan meraka atau kemampuan mata pelajaran yang sama bermakna dengan nfomasi nan meraka pelajari (Salvin,1997). Beberapa hal nan boleh dilakukan untuk memurukkan  kemapuan afektif adalah :
• Mengetahui nama siswa sedini mungkin.
• Menerima petatar apa adanya karena peserta memilki  kualitas yang menarik dan berguna.
• Mengigat kesadaran terdepan nan membentuk perasaan peserta.
• Mengamati murid, memafhumi suasana hati dan reaksi terbit hari ke hari
• Mengerjakan pengalaman n domestik paser  hari tertentu.
• Mengamati persilihan, stabilitas intern kondisi yang farik.

3. Menyikapi  Perbedaan Anak dalam Ranah Psikomotor

Tersapu dengan kemampuan bekerja ini, hal-keadaan nan harus dilakukan adalah :
• Mendengar respon-respon berlambak.
• Menghargai respon-respon mampu dengan meminta siswa nan kreatif.
• Menciptakan suasana belajar nan kraetif, dan bukan stereotip.
• Membolehkan sejumlah karya menjadi open-end, boleh jadi  berantaka, dan tak boleh dinilai untukmendorong mereka agar mengeksplorasi.
• Membangun lingkungan berlatih yang fleksibel di mana siswa adil membuat pilihan dan melakukan minat-minat  pribadi.

Demikianlah20+ Cara Mendidik dan Mengajar Momongan SD Nan Baik dan Benar, sepatutnya penting.

Source: https://www.rijal09.com/2018/07/cara-mendidik-dan-mengajar-anak-sd.html

Posted by: skycrepers.com