Cara Mengajar Anak Sd Kelas 4

20+ Cara Godok dan Mengajar Anak SD Nan Baik dan Benar_
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada puas rentangan anak usi dini. Masa hidup dini ini merupakan masa yang singkat, tetapi yaitu masa yang tinggal penting untuk seseorang anak.

Oleh karena itu, plong waktu ini seluruh potensi nan di miliki anak perlu di dorong sehingga akan berkembang secara optimal. Lantas bagaimana cara mendidik anak asuh SD, start dari kelas 1, kelas 2, papan bawah 3, kelas bawah 4, kelas 5 dan kelas 6. berikut ulasannya buat anda.


1.


Hawa sebaiknya m


emahami karakteristik anak asuh start berusul kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5 dan kelas 6


Salah atu hal yang utama bakal dipahami makanya guru adalah karakteristik jalan anak pada usia SD. Karakteristik urut-urutan anak puas usia SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah menjejak kematangan. Mereka telah gemuk mengontrol jasad dan keseimbangannya. Mereka telah bisa melompat dengan tungkai secara bergantian, boleh menunggang kereta angin roda dua, dapat menangkap bola dan sudah lalu berkembang koordinasi tangan dan matanya kerjakan bisa memegang potlot maupun memegang gunting.

Baca juga: 7 Kaidah Mengatasi Anak Yang Lambat Memahami Les

Selain itu, perkembangan sosial anak yang berkecukupan sreg usia kelas awal SD, antara lain mereka sudah lalu dapat menunjukan keakuannya mengenai jenis kelaminya, telah mulai berkompetisi dengan lawan seusia, menpunyai sahabat, mutakadim mampu berbagi dan mandiri Pertumbuhan dan kronologi merupakan dua situasi yang sangat penting dan enggak dapat di pisahkan bersumber perjalanan hidup manusia.

Pertumbuhan dan perkembangan anak adam berkepribadian permanen, internal kemustajaban pertumbuhan dan perkembangan berlantas selama khalayak hayat dan berakhir bersamaan dengan berakhirnya manusia (meninggal dunia). Setiap orang secara kodrat mengapalkan variasi dan irama pertumbuhan dan perkembangan sendiri-sendiri.

Kejadian ini menyebabkan setiap khalayak mempunyai perbedaan-perbedaan. Teori berkaitan dengan perkembangan psikologi dan intelektual siswa di sekolah dasar di jabarkan oleh Piaget. Menurut teori Piaget, proses membiasakan dapat berlantas setelah terjadi proses pengolahan data nan aktif di pihak pembelajar. Pengolahan data yang aktif yakni aktivitas lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan di lanjutkan dengan kegiatan penemuan.

Piaget berpendapat bahwa “apa yang sudah suka-suka pada diri seorang petatar (daya produksi dasar kemampuan intelektualnya atau boleh di ujar dengan istilah skema) yakni dasar untuk memufakati hal yang baru.” Skema berfungsi mengatur interaksi pesuluh dengan lingkungan sekitarnya” (Hasan, 1996:30). Menurut Piaget, kematangan bio-psikologi seseorang memiliki tahapan-tahapan. Tahapan urut-urutan
intelektual punya ciri-ciri terdiri, antara tak:


2. Guru sebaiknya memahami tingkatan perkembangan ilmuwan anak berlandaskan arwah


Next uang sogok mengajar di SD yang baik dan benar yaitu guru harus memahami janjang perkembangan anak berlandaskan usia. Menurut Piaget, kematangan bio-psikologi seseorang memiliki tingkatan-tingkatan. Hierarki perkembangan:

A. Tahap pra-operasional (2-7 perian)

Tahap pra-operasional (2-7 tahun) tahap berpikir pra-lengkap (2-4 perian) yang di tandai dengan mulainya adaptasi terhadap symbol, mulai dari tingkah laku berbudi, aktivitas imitasi dan permainan.

B. Tahap berpikir intuitif (4-7 tahun)

Kemudian pada tahap nanang intuitif (4-7 musim) di tandai oleh nanang pralogis yaitu antara operasional berwujud dengan prakonsektual. Pada tahap ini perkembangan manah peserta didik sudah mulai mantap, tetapi kemampuan berpikir dalam-dalam deduktif dan induktif masih lemah/belum mantap.

C. Tahap operasional konkret (7-11 hari)

Perkembangan akademikus petatar sekolah dasar gemuk pada tahap operasional faktual (7-11 tahun) yang di tandai maka itu kemampuan nanang berupa dan serius, mampu mengklasifikasi dan mengontrol presepsinya. Pada tahap ini, perkembangan kemampuan nanang siswa mutakadim mantap, kemampuan skema asimilasinya sudah lebih pangkat kerumahtanggaan mengerjakan suatu harmonisasi yang konsisten antar skema (Muhibin, 1995:67).

Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh pesuluh sekolah dasar tersebut akan memengaruhi seluruh kegiatan pembelajaran yang di selenggarakan guru. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran Sains, Bahasa Indonesia, dan Budi Pekerti serta alat penglihatan les lainya di arahkan pada pendekatan “meaningful learning” nan didasarkan kepada pengembangan kemampuan berpikir di sesuaikan dengan biopsikologis siswa yang mudahmudahan di jadikan barometer ukur guru, baik dalam pengembangan materi, strategi mengajar, pendekatan, wahana maupun kerumahtanggaan melakukan evaluasi hasil belajar.

Dewey menelanjangi bahwa “education is growth, development, life”. Hal ini berarti bahwa proses pendidikan enggak mempunyai maksud di luar dirinya, hanya terdapat internal pendidikan itu sendiri. Proses pendidikan juga berperangai kontinu yang merupakan reorganisasi, rekonstruksi, dan pengubahan pengalaman kehidupan, dan juga perubahan pengalaman hidup (Sukmadinata, 2002:34).

Pendedahan tematik sebagai satu konsep bisa di katakan sebagai pendekatan belajar mengajar nan melibatkan beberapa bidang studi untuk menerimakan asam garam yang bermakna kepada anak. Di katakana bermanfaat karena kerumahtanggaan pembelajaran tematik, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui asam garam sinkron dan menghubungkannya dengan konsep
lain nan mereka pahami.


3. Guru seharusnya mengerti kaidah momongan SD belajar


Salah satu prinsip pendidikan adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan pesuluh pelihara yang berlangsung sepanjang hayat atas radiks kasih cangap. Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak mempunyai pendirian individual dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori kronologi kognitif).

Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam ingatan sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang suka-suka kerumahtanggaan lingkungannya. Pemahaman akan halnya objek tersebut berlanjut melalui proses fotosintesis (menyambung objek dengan konsep yang sudah terserah dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam perasaan kerjakan menafsirkan alamat).

Kedua proses tersebut jika berlangsung terus-menerus akan membentuk pengetahuan lama dan pengetahuan hijau menjadi seimbang. Dengan cara sedemikian itu secara sedikit demi anak boleh membangun pemberitaan melintasi interaksi dengan lingkungannya. Beralaskan hal tersebut, perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam diri dan lingkungannya.

Kedua hal tersebut tidak kelihatannya dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Momongan usia sekolah sumber akar berkecukupan pada hierarki operasi faktual. Plong rentang jiwa tersebut momongan mulai menunjukkan perilaku belajar andai berikut:
1) Start memandang dunia secara objektif, bergeser terbit satu aspek situasi ke aspek bukan secara reflektif dan memandang partikel-partikel secara kontan;
2) Mulai berpikir secara operasional;
3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk megklasifikasikan benda-benda;
4) Mewujudkan dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, kaidah ilmiah terbelakang, dan mempergunakan hubungan sebab akibat; dan
5) Memaklumi konsep substansi, volume zat larutan, panjang, tumpul pisau, luas, dan sulit.

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan berlatih momongan usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:



1. Konkret

Berwujud mengandung makna proses belajar beranjak berasal keadaan-kejadian nan nyata ialah yang bisa dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik, dengan titik studi lega pemanfaatan lingkungan sebagai sumur membiasakan. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil membiasakan yang kian bermakna dan bernilai sebab siswa dihadapkan dengan kejadian dan hal sebenarnya, situasi yang alami, sehingga lebih riil, kian faktual, kian berharga, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.



2. Integratif

Pada tahap kehidupan sekolah dasar anak asuh memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum berkecukupan pilih konsep dari majemuk disiplin mantra. Hal ini melukiskan akal pikiran anak yang deduktif  yaitu dari hal umum ke bagian demi episode.

3. Hierarkis

Lega tahapan usia sekolah dasar, cara momongan belajar berkembang secara bertahap berangkat berasal keadaan-situasi nan tertinggal ke situasi-situasi yang lebih obsesi. Sehubungan dengan hal tersebut, teristiadat dipehatikan mengenai urutan sensibel, keterkaitan antar materi dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.


4. Guru sebaiknya memahami  4 pilar pendidikan


Pada 1996 Commision On Uducation For The Twenty-Furst Centuri menyampaikan proposisi kepada UNESCO bahwa pendidikan selama roh bagaikan suatu bangunan yang di topang oleh 4 pilar. Pada 1998 UNESCO merencanakan 4 pilar pendidikan tersebut, yaitu :

a. Learning To Know, yang pun berarti learning to learn, yaitu berlatih bakal memperoleh pengetahuan dan untuk melakukan pendedahan selanjutnya;

b. Learning To Do, yaiti belajat kerjakan mempunyai kompetensi dasar kerumahtanggaan berhubungan dengan situasidan cak regu kerja nan berbeda-selisih;

c. Learning To Be yaitu belajar kerjakan mengatualisasikan diri seumpama bani adam dengan kepribadian nan memiliki pertimbangan dan tanggung jawab pribadi ( Abdul Majid, 2004 :1 ).

d. Learning To Life Together, yaitu belajar berada mengapresasikan dan mengamalkan kondisi ganti ketergantungan, keaaneka ragaman memahami dan perdamayan interen dan antar bangsa

Dengan demikian, keluaran proses pendidikan meruapakan suatu pribadi utuh dengan keunggulan secara berimbang dalam aspek spriltual, sosial, akademikus, emosional dan fisikal juga pendidikan yang mempersiapkan siswa didik untuk memperoleh kebahagian hidup secra seimbng antara spirit dunia dan akhirat, antara kehidupan pribadi dengan nasib bersama.

Untuk dapat menyelaraskan perkembangan kemampuan dasar anak secara optimal, diperlukan kreaktivitas suhu bikin memilih alternatif komplet pembelajaran yang menekankan lega aktivitas dan kreaktivitas serta karakterisistik momongan sehingga proses belajar mengajar lebih efektif. Kemampuan dasar berfaedah sekali tertanam dengan kuat di tingkat sekolah dasar.


5. Guru teristiadat memperhatikan beberapa prinsip meres, kaidah belajar sambil berkreasi, prinsip


berlatih sambil bermain, dan kaidah keterpaduan.


Pada pengembanganya, anak usia sekolah dasar berorientasi senang bermain, memiliki rasa ingin sempat yang besar dan mudah terpengaruh oleh lingkungannya sehingga pembelajaran di sekolah dasar harus di usahakan agar tercipta suasana pelajar nan aktif dan menghilangkan.

Untuk itu, guru perlu menghakimi bilang prinsip latar, kaidah belajar sewaktu bekerja, kaidah
membiasakan sambil bermain, dan prinsip kterpaduan ( depdikbud, 1995: 1-2 ). Lebih jelasnya cara-pendirian itu merupakan bagaikan berikut.
1) Prinsip latar adalah suatu keadaan dimana pelajar telah mengetahui hal tidak baik secara serempak atau tidak langsung terhadap materi nan akan di pelajari. Situasi tersebut perlu di dasari oleh guru enggak terjadi ke kosongan dalam pendedahan. Artinya siswa bukan merasa asing atas apa nan akan diajarkan.

2) Prinsip membiasakan refleks berkarya yakni peristiwa yang sangat terdahulu bagi pelajar karena penglaman yang de peroleh melalui berkreasi meruapakan hasil berlatih nan bukan muda di lupakan. Selain itu,
murid memperoleh kepercayaan diri, merasa senang dan lega karena kemampuannya boleh disalurkan dan serta merta bisa melihat hasil.

3) Mandu belajar sambil bermain yakni keevektivan yang dapat menimbulkan suasana yang menyenangkan bikin peserta kerumahtanggaan belajar. Suasana semacam ini akan mendorong siswa kerjakan lebih giat belajar. Oleh karena itu, guru harus dapat menciptakan bentuk permainan yang congah dan menggandeng n domestik menampilkan materi pembelajaran kepada siswa.

4) Prinsip keterpaduan merupakan hal utama kerumahtanggaan pembelajaran. Oleh karena itu, guru di harapkan agar dalam menyampaikan makteri penelaahan kiranya mengaitkan antara konsep yang suatu dengan yang lainnya. Memadukan konsep atau materi pembelajaran pada dasarnya boleh membantu pesuluh dalam menyerap pengetahuan yang di berikan oleh guru sehingga pembelajaran yang di ikuti dapat dicapai secara bermakna.


6. Master menerapkan belajar dan pembelajaran bermakna di SD


Belajar pada hakikatnya merupakan proses perubahan di n domestik budi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan dan kepandaian. Perubahan ini berkarakter menetap kerumahtanggaan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari tutorial atau asam garam.

Pembelajaran sreg hakikatnya adalah suatu proses interaksi antara anak asuh dengan momongan, anak dengan sumber membiasakan, dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi berharga bagi anak kalau dilakukan dalam lingkungan nan nyaman dan memberikan rasa kerukunan bagi momongan. Proses sparing bertabiat individual dan kontekstual. Artinya proses berlatih terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya.

Belajar berguna (meaningful learning) merupakan suatu proses dikaitkannya manifesto baru pada konsep-konsep relevan nan terletak intern struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan berlatih laksana hasil dari keadaan mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, infornasi ataupun situasi hijau dengan komponen-suku cadang nan relevan di n domestik struktur serebral murid.

Proses sparing tidaksekedar mengingat konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi adalah kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan kognisi yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidsk mudah dilupakan. Dengan demikian, seyogiannya terjadi belajar bermakna, maka hawa harus comar berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan kondusif memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan siaran baru yang akan di ajarkan.

Dengan prolog enggak, belajar akan lebih penting seandainya anak mengalami lansung apa yang dipelajari dengan mengaktifkan lebih banyak indra daripada tetapi mendengarkan khalayak/suhu menjelaskan.

Catur Kutub Pembelajaran
Hal ini sesuai dengan pendapat Ausuble dan Robinson(1968) yang berekspansi pendekatan pembelajaran yang bertolak mulai sejak dua kontinum bersilangan, yaitu kontinum belajar mencari (discovery learning) –berlatih memufakati (receptionlearnimg) dan belajar bermakna (discovery learning) – dan belajar menghafal (rote learning). Kedua kontinum tersebut mewujudkan empat oponen belajar nan dapat digambarkan lega sebuah bagan garis cagak.

Catur Antitesis Belajar dan Robinson

Dari keempat dagi belajar internal bagan di atas, model belajar efektif adalah belajar yang menekankan lega makna dan mengaktifkan siswa. Sparing bermakna adalah belejar yang menekankan khasiat atau makna dari target dan kegiatan nan diberikan bagi kemustajaban pelajar.


7. Hawa Harus memahami perbedaan kemampuan anak asuh SD secara kongnitif, afektif, dan psikomotor internal proses membiasakan.


Proses belajar siswa umpama bagian semenjak kurikulum dan pembelajaran berniat untuk meningkatkan jalan kongnitif, afektif dan psikomotor.  Berikut adalah gambaran sangkutan kurikulum dengan kemampuan pelajar.

Perkariban Kurikulum dengan Kemampuan Siswa

Dalam taraf perkembangan pendidikan di sekolah, anak-anak bukanlah organisasi yang pasif seperti mana yang diungkapkan Jhon Locke lega teori Tabula Rasa yang kemudian bersalin aliran  berlatih behaviostik. Menurut kabilah behaviostik perilaku manusia sangat di tentukan oleh mileu yang datang berbunga luar karena itu setiap perilaku bisa di kontrol oleh stimulasi yang datang berpangkal luar.

Namun, teori ini kemudian terbantahkan oleh Leibnitz melewati aklimatisasi fenomenologi yang menyatakan orang ialah organisme yang aktif dan bebas untuk menciptakan menjadikan pilihan kerumahtanggaan setiap situasi.Mau jadi segala apa nantinya insan tersebut tak ditentukan oleh faktor lingkungan akan tetapi ditentukan oleh potensi yang dimiliki orang tersebut. Potensi alias kemampuan tersebut terdiri dari tiga suku cadang utama yakni kemampuan kongnitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotor.

1. Menyikapi Perbedaan Anak asuh internal Mati Kongnitif

Setiap anak asuh  menunjukkan kemampuan kongnitif yang berlainan-selisih Gardner(1985) dalam Burden&Byrd (1998:255) menyibakkan bahwa semua khalayak memilik kecerdasan. Sira menunjukkan sapta kecendekiaan independen merupakan :  bahasa, nada, logika, matematika, spasial, kinestetik, interpersonal, dan  intrupersonal.

Gardner menambahkan  intelek ke delapan pada  karakteristik naturalistik. Menurut teori ini, seseorang mungkin n kepunyaan kelebiahan  di suatu keceradasan tetapi tak berarti  tidak memiliki  kecendekiaan  di parasan enggak. Hal ini membutuhkan adaptasi antara kurikulum  dan indoktrinasi nan berlantas dengan kemampuan individu.

Stemberg (1988) memajukan bahwa kesadaran yang bertambah khusus akan halnya apa yang dilakukan orang-orang ketika mereka memintasi masalah sehinggamereka dapat dibantu dengan perilaku nan cerdas.

Anda berendapat bahwa  orang-khalayak yang cerdas menggunakan mileu bikin hingga ke pamrih dengan pendirian beradaptasi dengan mileu tersebut, mengubah lingkungan tersebut atau keluar berbunga lingkungan tersebut.  Gardner dan Stemberg (1998)  menyingkapkan bahwa bagi guru  untuk mengidas teknik yang tepat n domestik pembelajaran saat  mempertimbangkan kongnitif peserta adalah andai berikut :
• Berharap bahwa murid mempunyai perbedaan.
• Menumpahkan waktu dan tenaga buat mencapai kompetensi.
• Menyadari bahwa kebutuhan-kebutuhan siswa enggak hanya privat area-provinsi  defisit. Perkembangan potensi juga ialah kebutuhan.
• Mengetahui tulisan-catatan  yang terdahulu.
• Memahami pengalaman penting  yang membuat  pernalaran pesuluh.
• Menantang siswa dengan tugas-tugas yang beraneka macam dan mencatat hasilnya.
• Menggunakan cara penilaian dan evaluasi  yang bervariatif.
• Terus mengubah kondisi  belajar bikin mengungkapakan potensi.
• Terkadang menantang peserta bagi berprestasi melebhi yng didarapakan.
• Berburu sesuatu yang solo buat dapat dilakukan oleh per siswa.

Burden dan Bryd mengkategorikan penelaahan dalam dua bentuk yaitu :
a. Pembelajaran Lambat

Seorang petatar dianggap pembelajaran lambat  jika tidak dapat belajar pada tingkat rata-rata sendang, teks, rahasia tugas, dan materi pencekokan pendoktrinan yang di rancang bagi mayoritas di kelas (Bloom, 1982).

Siswa ini banyak memiliki konsentrasi dan difisiensi yang sedikit dalam keahlihan dasar sebagaimana membaca, menulis, dan matematika. Mereka terlazim di beri perhatian lebih, instruksi, korektif, membangatkan pengajaran khusus, macam pengajaran dan mungkinmateri makanya guru di dalam kelas adalah :
• Serimg membuat variasi teknik pengajaran.
• Meluaskan penataran yang menyangkut minat, kebutuhan, dan camar duka siswa.
• Meluangkan lingkungan yang menyorong dan mendukung.
• Menunggangi pendedahan kooperatif peer tutor bagi siswa nan membutuhkan pemantapan.
• Menyisihkan penataran apendiks.
• Mengajarkan materi dan awalan-ancang kecil dan sering melakukan evaluasi kesadaran.
• Memperalat materi dan pengajaran individu sekiranya  memungkinkan.
• Memperalat materi audio-visual bakal pengajaran.

b. Pendedahan berbakat

Pembelajaran yang berdarah adalah siswa nan mempunyai kemampuan diatas kebanyakan dan mereka membutuhkan pembimbingan  pengajaran distingtif. Sayangnya, bilang temperatur kurang menantang pesuluh memiliki kemampuan tinggi. Peristiwa ini yang harus dilakukan di sekolah yaitu :
• Lain memerintahkan cak bagi melakukan pengulangan terhadap materi nan mutakadim di kuasai mereka.
• Memasrahkan pengajaran dengan kecepatan yang fleksibel.
• Menampungkan kurikulum dengan meredam emosi tugas-tugas yang tidak mesti agar waktu beraktivitas dapat di gunakan buat aktivitas  yang lain.
• Kontributif petatar bikin makin mandiri internal belajar.
• Menggunakan prosedur penilaian nan tidak menghambat petatar dan tidak menghukum mereka seandainya n kepunyaan aktivitas mengajar yang kompleks.

2. Menyikapi Perbedaan Anak asuh dalam Ranak Afektif

Pendidikan internal lengang afektif  berpusat pada perasaan dan sikap perkembangan romantis tidak mudah difasilitasi hanya sesekali perasaan siswa mengenai kemampuan meraka maupun kemampuan mata pelajaran yang seimbang terdepan dengan nfomasi nan meraka pelajari (Salvin,1997). Beberapa hal yang boleh dilakukan untuk mendorong  kemapuan afektif yakni :
• Mengetahui jenama siswa sedini siapa.
• Menerima peserta apa adanya karena peserta memilki  kualitas yang menarik dan bermakna.
• Mengigat kognisi terdahulu nan membentuk perasaan siswa.
• Mengamati siswa, mengetahui suasana lever dan reaksi berbunga hari ke musim
• Melakukan asam garam dalam jangka  periode tertentu.
• Mengamati transisi, stabilitas dalam kondisi yang berbeda.

3. Menyikapi  Perbedaan Anak n domestik Tenang Psikomotor

Tercalit dengan kemampuan berkarya ini, hal-hal yang harus dilakukan adalah :
• Mendengar respon-respon berharta.
• Menghargai respon-respon berlambak dengan menunangi pesuluh nan rani.
• Menciptakan suasana berlatih yang kraetif, dan bukan normal.
• Membolehkan beberapa karya menjadi open-end, barangkali  berantaka, dan bukan dapat dinilai untukmendorong mereka agar mengeksplorasi.
• Membangun lingkungan sparing yang variabel di mana siswa bebas membuat pilihan dan melakukan minat-minat  pribadi.

Demikianlah20+ Cara Mendidik dan Mengajar Momongan SD Nan Baik dan Benar, semoga bermanfaat.

Source: https://www.rijal09.com/2018/07/cara-mendidik-dan-mengajar-anak-sd.html

Posted by: skycrepers.com