Cara Mengajarkan Majas Pada Anak Sd

Menurut Kamus Segara Bahasa Indonesia, gaya bahasa ataupun majas adalah pemanfaatan harta benda bahasa, pemakaian polah tertentu untuk memperoleh sekuritas-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa setumpuk penulis sastra dan cara khas internal menyampaikan pikiran dan ingatan, baik secara lisan maupun tertulis. Dengan kata lain, gaya bahasa atau majas adalah cara khas privat menyatakan pikiran dan perhatian dalam bentuk tulisan atau lisan. Kekhasan bermula tendensi bahasa ini terletak sreg pemilihan pembukaan-katanya yang tidak secara serempak menyatakan makna yang sememangnya.
Majas ialah cara menyodorkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara membeberkan perhatian melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara enggak: seleksian pengenalan, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga radiks, yakni: kejujuran, sopan santun, dan menarik.
Gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yakni:
1. Gaya bahasa perulangan
2. Gaya bahasa perbandingan
3. Tendensi bahasa pertentangan
4. Kecondongan bahasa pertautan

A. Gaya Bahasa Perulangan

Majas perulangan adalah majas yang mandu cara melukiskan satu kejadian dengan cara menubikan kata, frase, suatu tujuan. Yang tertera ke dalam majas ini antara bukan majas anaphora, kemubaziran, repetisi, epifora, dan bukan-bukan.

1. Repetisi


Kelewahan merupakan majas perulangan kata, frase, dan klausa yang sama kerumahtanggaan suatu kalimat. Majas repetisi ialah majas perulangan yang mandu menayangkan suatu hal dengan mengulang-ulang kerumunan kata alias frasa yang sama (Ducrot dan Todorov, 1981 : 279).
Kamil:
Bagaikan eidelwis akulah sayang awet yang tak akan pernah layu
Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak kombinasi ingkar janji
Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara
Bagaikan samudra akulah kesabaran yang menampung rintih kesah segala apa mulut sungai.

2. Kiasmus

Kiasmus ialah tendensi bahasa nan berisikan kelewahan dan sekaligus adalah bandingan alias pembalikan susunan antara dua kata privat satu kalimat. Majas kiasmus merupakan tulang beragangan majas perulangan nan isinya mengulang maupun repetisi sekaligus merupakan teman hubungan antara dua kata internal satu kalimat (Ducrot dan Todorov, 1981 : 277)..
Contoh:
Yang kaya merasa dirinya miskin, sedang yang miskin mengaku dirinya kaya. Sudah biasa dalam arwah sehari-waktu, orang pandai cak hendak disebut bodoh, namun banyak orang bodoh mengaku pandai.
Ia menyalahkan nan benar dan membenarkan yang pelecok.

3. Epizeukis

Epizeukis merupakan kecenderungan bahasa tautologi yang berwatak serempak. Maksudnya pengenalan yang dipentingkan diulang beberapa kali berderet-deret.

Contoh :

Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja bikin mengajar semua ketinggalan kita.

Pulang ingatan kami harus bertobat, bertobat, juga bertobat.

4. Tautotes

Tautotes ialah gaya bahasa iterasi nan berwujud pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam sebuah konstruksi.

Contoh :
kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru

Aku adalah kau, kau yakni aku, kau dan aku setimpal sekadar.

5. Anafora

Anafora ialah tren bahasa tautologi yang merupakan kemubaziran alas kata pertama puas setiap baris atau kalimat. Majas anafora merupakan rang majas perulangan yang menempatkan prolog maupun frasa yang sama di depan suatu puisi (Suprapto, 1991 : 11).
Ideal :

Apatah tak babaran rupa, apatah boga sepanjang hari

Kucari kau n domestik toko-toko.

Kucari kau karena senewen karena sayang.
Kucari kau karena rajin karena histeris.

Kucari kau karena kaya terbiasa disayang.

6. Epistrofa (efifora)

Epistrofa ialah gaya bahasa iterasi yang positif kelewahan pengenalan atau frasa pada intiha baris atau kalimat berurutan. Majas epifora merupakan majas repetisi atau perulangan yang kaidah melukiskannya dengan menempatkan kata atau gerombolan kata nan sama di belakang banjar internal bentuk syair secara berulang (Suprapto, 1991 : 27).
Transendental :
Kalau kau izinkan, aku akan menclok,
Seandainya sempat, aku akan menclok,
Jikalau kau peroleh, aku akan datang,
Seandainya enggak hujan, aku belakang hari,

Bumi yang kau diami, laut nan kaulayari adalah puisi,

Gegana yang kau hirupi, hipodrom nan kau teguki merupakan puisi

Ibumu menengah memantek di ketuhar ketika kau tidur.
Aku mencercah daging ketika kau tidur.

7. Simploke

Simploke adalah tendensi bahasa perulangan nan berupa iterasi awal dan akhir beberapa baris (kalimat secara berlapis-lapis).

Cermin :

Kau bilang aku ini egois, aku beberapa terserah aku.

Kau bilang aku ini judes, aku bilang suka-suka aku.
Suka-suka selusin gelas ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Suka-suka selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin komoditas lain ditumpuk ke atas. Tak bersumber.

8. Mesodiplosis

Mesodiplosis ialah mode bahasa repetisi yang berupa dril kata atau frase di perdua-tengah jejer alias kalimat secara berangkaian.

Hipotetis :

Para pembesar jangan mencuri gasolin. Para pemudi jangan mencari perawannya sendiri.

Pendidik harus meningkatkan kepintaran nasion.
Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.

9. Epanalepsis

Epanalepsis adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata mula-mula lega pengunci baris, klausa, alias kalimat mengulang kata pertama.
Contoh :

Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.

10. Anadiplosis

Anadiplosis ialah kecenderungan bahasa repetisi yang pengenalan atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi pembukaan maupun frase mula-mula plong klausa ataupun kalimat berikutnya.
Contoh:

N domestik baju cak semau aku,

dalam aku ada lever.

N domestik hati : ah tak apa jua nan terserah.

Dalam awak ada darah

Dalam darah cak semau tenaga
Dalam tenaga ada kancing

N domestik muslihat ada segalanya

11. Pararima

Pengulangan konsonan awal dan pengunci dalam pembukaan atau bagian kata nan berbeda.

12. Aliterasi


Sepertalian gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan lega suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi lega puisi. Aliterasi yaitu majas perulangan yang memanfaatkan purwakanti atau kata-kata yang kaki kata awalnya memiliki persamaan bunyi (Suprapto, 1991 : 6).
Contoh
Mengalir, mengambus, mendesak, mengepung
Memenuhi sukma, menawan tubuh
Sirih manis semilir kilangangin kincir
Selagu merdu, dersik bayu

Kau keraskan kalbunya
Bagai batu membesi moralistis
Timbul telangkai bertongkat urat
Ditunjang advokat petah pasih

13. Purwakanti

Purwakanti ialah sejenis gaya bahasa tautologi yang berupa perulangan vokal, pada suatu prolog atau beberapa prolog. Biasanya dipergunakan dalam puisi bikin mendapatkan sekuritas penekanan.
Teladan:

Segala ada menekan dada
Mati api di dalam hati
Harum sekuntum anak uang gerendel
Dengan hitam berawan

B. Mode Bahasa Rasio

Majas perimbangan adalah majas nan cara melukiskan kejadian apapun dengan menggunakan perbandingan antara satu situasi dengan peristiwa bukan . yang termasuk majas ini misalnya majas asosiasi, metafora, personifikasi, alegori, pleonasme, dan tak-tak.

1. Perumpamaan


Andai ialah imbangan kata alias simile yang penting begitu juga. Secara eksplisit variasi gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian introduksi: seperti, bak, umpama, seumpama, bagaikan, laksana, serupa. Istilah simile semenjak berbunga bahasa Latin ‘kias’ yang bermakna sama dengan. Majas simile ialah majas yang mengilustrasikan suatu hal dengan membanding-bandingkan suatu peristiwa dengan hal lainnya nan pada hakikatnya berlainan namun disengaja untuk dipersamakan (Ducrot dan Todorov, 1981 : 279). Situasi-hal tersebut dibandingken secara eksplisit dengan eksploitasi perkenalan awal-introduksi seperi, perumpamaan, umpama, umpama, dan lain-lain. Simile: Pengungkapan dengan nisbah eksplisit yang dinyatakan dengan perkenalan awal depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll. Simile adalah bahasa kiasan aktual pernyataan satu hal dengan situasi enggak dengan menggunakan pembukaan-kata pembeda. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemanfaatan kata: seperti mana, umpama, bagaikan, umpama, seumpama, laksana, serupa.
Contoh:
Begitu juga air di daun talas
Wajahnya misal bulan kesiangan
Umpama kucing dengan tikus
Seperti air dengan petro.
Nyalakanlah jiwa bagai dian nan tak kunjung padam
Bersabarlah sama dengan samudra yang mampu menampug keluh kesah segala estuari.

2. Metafora

Metafora berasal berbunga bahasa Yunani ‘metaphora’ yang artinya ‘memindahkan. Istilah metaphora diturunkan dari kata ‘meta’ yang artinya di atas dan ‘pherein’ yang artinya mengirimkan (Tarigan, 1993 : 141).
Suatu majas yang rajin lali menimbulkan penyisipan fungsi dalam satu kalimat. Majas metafora membatu orang nan berbicara alias menggambar cak bagi menggambarkan hal-kejadian dengan jelas, dengan cara membanding-bandingkan suatu hal dengan hal lain yang emiliki ciri-ciri dan sifat yang sebabat. Perbedaan metafora dengan simile merupakan, majas metafora bersifat implisit sedangkan majas simile bersifat eksplisit. Dibandingkan dengan majas lainnya, majas metafora merupakan majas yang paling singkat, padat, dan segeh.

Poerwadarminta menguraikan, metafora yakni majas dengan pendayagunaan prolog-kata nan punya kemustajaban lain, tetapi merupakan lukisan yang didasarkan kemiripan maupun rasio (1976 : 648)
Contoh :
Referensi itu gudangnya ilmu, dan membaca adalah kuncinya.
Kesabaran adalah dunia
Kesadaran adalah matahari
Keberanian menjelma kata-kata
Dan perjuangan yakni penghasil prolog-pembukaan(sebuah stanza kerumahtanggaan puisi Rendra)
Dewi lilin lebah telah keluar dari peradaannya (dewi malam = wulan)
Mereka telah menjadi sampah masyarakat (sampah masyarakat = insan-khalayak yang bukan berguna privat umum)
Semangatnya berkobar-kobar bakal meneruskan perjuangannya (berkobar-kobar = usia yang hebat diumpamakan dengan nyala jago merah).
Aku ialah kilangangin kincir nan kembara.

3. Insanan

Personifikasi yakni gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani lega barang atau benda yang lain bernyawa atau lega ide yang teladan. Personifikasi: Penguakan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang lain manusia. Adalah majas yang menerapakan resan-sifat manusia terhadap benda sepi. Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa nan mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh khalayak.
Contoh:
Angin bercakap-cakap sama patera-daun, bunga-bunga, kabut dan noktah ibun.
Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku.
Saat ku melihat wulan, dia sama dengan tersenyum kepadaku seakan-akan aku merayunya.
Badai menderu-deru.
Samudra mengamuk.
Hatinya berkata bahwa perbuatan ini lain boleh dilakukannya.
Angin melambai-lambai.
Deru ombak memanggil-manggil para pemuda pamrih bangsa.
Bunga mawar menjaga dirinya dengan duri.

4. Depersonifikasi


Depersonifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan rasam-sifat suatu benda tak bernyawa pada orang atau insan. Biasanya memanfaatkan perkenalan awal-introduksi: kalau, sekiranya, jikalau, misalkan, bila, seandainya, umpama. Depersonifikasi: Penguakan dengan bukan menjadikan benda-benda hening atau enggak bernyawa.
Abstrak:

Kalau ia jadi bunga, aku jadi tangkainya.

5. Alegori

Simbolisme selalu mengandung sifat-sifat budi pekerti spiritual. Rata-rata alegori tersebut membangun cerita yang rumit dengan maksut yang terselubung. Cerita fabel dan parabel yakni alegori-alegori nan pendek.
Alegori yaitu mode basa yang memperlihatkan skala nan utuh, nan membuat kemanunggalan kang paripurna, minangka cerios kang diangge kangge perlambang kangge ndidik maupun menerangakan suatu peristiwa (Suprapto, 1991 : 10).
Alegori ialah tren bahasa yang menggunakan lambang-lambang yang termasuk intern alegon antara lain: fable dan parable. Alegori ialah kecondongan bahasa yang menyatakan dengan cara tidak, melalui kiasan ataupun penggambaran. Alegori adalah alas kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, yakni metafora nan dikembangkan.
Contoh:
Sanjak “Menuju Ke Laut” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat figuratif
Model fable :Napuh dan Buaya
Contoh parabel: Cerita Adam dan Temperatur

6. Alusio

Pemanfaatan ungkapan yang tak dikerjakan karena sudah lalu dikenal. Alusio yakni gaya bahasa yang mengemukakan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan nan sebagai referen sudah dikenal pembaca.
Eksemplar:

Bandung dikenal sebagai Paris Jawa.
Bung Karno – Bung Karno katai menunjukkan kebolehannya dalam tanding pidato membawakan adegan “Di Bawah bendera Arus”.

7. P versus

Secara kalamiah tara diturunkan dari kata ‘antithesis’ yang artinya ‘musuh nan cocok’ maupun pertentangan si yang sopan-benar (Poerwadarminta, 1976 : 52).
Majas antitesis tersebut sejenis majas yang sengaja mengadakan komparasi (perbandingan) antara dua antonim (yaitu dua introduksi yang memiliki ciri semantik yang sebaliknya).
Antitesis ialah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang inkompatibel.
Contoh:

Dia gembira atas kegagalanku privat ujian.

8. Pleonasme

Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak teristiadat. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas maupun menambahkan deklarasi nan sesungguhnya tidak diperlukan. Menambahkan publikasi pada pernyataan yang sudah lalu jelas atau menambahkan keterangan nan sebenarnya enggak diperlukan.

Contoh-ideal:
Sira turun ke bawah => Dia turun
Dia panjat ke atas => Dia menaiki

Letih mulut saya merenjeng lidah.

9. Tautologi


adalah gaya bahasa yang menggunakan kata alias frase nan searti dengan kata nan sudah disebutkan terdahulu. Tautologi: Pengulangan kata dengan memperalat sinonimnya. Tautologi adalah media retorika nan menyatakan sesuatu secara repetitif dengan kata-kata nan maknanya ekuivalen meski diperoleh pengertian yang lebih mendalam,

Perulangan yakni suatu majas kelewahan yang pendirian melukiskanya dengan mengulang-ulang pengenalan yang ada dalam kalimat (Suprapto, 1991 : 85).
Contoh :
Bukan terserah badai tak ada topan, tiba-tiba sekadar ia marah.
So pasti, buku-buku bermutu banyak menerimakan kemujaraban bagi pembacanya.
Segala apa harapan dan tujuannya datang ke mari?

10. Perifrasis

Perifrasis ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya bisa diganti dengan sebuah kata belaka. Perifrase yakni ungkapan yang panjang umpama pengganti idiom nan bertambah pendek.
Eksemplar:

Nissa telah mengamankan sekolah dasarnya tahun 2008 (lulus).

11. Prediksi (prolepsis)

Antisipasi ialah gaya bahasa nan dalam pernyataannya memperalat frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih akan diolah atau akan terjadi.
Contoh:

Aku melonjak kegirangan karena aku mendapatkan trofi kemenangan.

12. Koreksio (epanortosis)

Koreksio adalah gaya bahasa nan dalam pernyataannya purwa ingin menegaskan sesuatu. Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki yang mana yang pelecok. Koreksio: Idiom dengan menyebutkan hal-hal nan dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sememangnya. Dipakai buat membetulkan kembali apa nan salah diucapkan baik yang disengaja maupun enggak.

Contoh:
Dia adikku! Eh, tidak, dia kakakku!
Gedung Sate berada di Daerah tingkat Jakarta. Eh, bukan, Gedung Sate berada di Daerah tingkat Bandung.

Mutakadim setengah abad kita merdeka, eh lain, 60 tahun justru, padalah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?
Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Laskar ’45 yaitu Rendra, ah bukan, tidak Rendra, yang ter-hormat yaitu Chairil Anwar.
Silakan Riki maju, enggak, maksud saya Rini!

13. Antropomorfisme

Metafora yang memperalat kata atau bentuk tak yang berhubungan dengan manusia untuk keadaan nan bukan orang.

14. Sinestesia

Majas nan aktual suatu idiom rasa dari suatu hangit yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.

15. Antonomasia


Pendayagunaan sifat perumpamaan label diri maupun etiket diri lain umpama segel jenis. Majas perbandingan yang menyebutkan sesuatu bukan dengan nama asli dari benda tersebut, melainkan dari salah satu kebiasaan benda tersebut.

Contoh:
Hei Jangkung!
Sang Pintar
Si Bakir
Si Kurus

16. Aptronim

Pemberian logo yang cocok dengan sifat atau pekerjaan insan.
Contoh :
Sulit kalau wicara dengan Si Bolot, anak adam bertanya ke mana dijawab ke mana.

17. Metonimia

Pengungkapan maujud penggunaan logo untuk benda tidak nan menjadi jenama, ciri khas, atau atribut. Apabila sepatah introduksi atau sebuah nama yang berasosiasi dengan suatu benda dipakai cak bagi menggantikan benda yang dimaksud.

Metonemia yaitu bahasa kiasan dalam tulang beragangan penggantian cap atas sesuatu.
Pola:
Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini
Panda banyak terdapat di area Tirai Buluh.
Ayah burung laut mengisap Djarum Super (Djarum Super adalah merk rokok). Mengisap Djarum Super artinya mengisap rokok merk Djarum Super.
Bungkusan hawa mengendarai Menjangan (Kijang ialah variasi mobil). Menunggang Rusa artinya menunggang oto jenis Rusa.
Ayah mengendarai Vespa (Vespa yakni merk skuter). Mengendarai Sepeda motor artinya mengendarai skuter merk Vespa.

18. Nikah

Majas asosiasi merupakan majas perbandingan yang mandu melukiskan satu situasi dengan cara membandingkan suatu peristiwa dengan kejadian enggak, sesuai dengan kejadian hal yang dimaksud (Suprapto, 1991 : 14). Asosiasi yakni perbandingan terhadap dua kejadian nan farik, sekadar dinyatakan sama. Tren bahasa ini memberikan skala terhadap sesuatu benda nan sudah disebutkan. Perbandingan itu menimbulkan aliansi terhadap banda sehingga gambaran tentang benda atau hal yang disebutkan itu menjadi lebih jelas.

Kamil:
Semangatnya keras bagai serat.
Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam.
Suaranya merdu bagai buluh perindu.

19. Hipokorisme

Pemakaian nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan dekat.

20. Tropen

Majas tropen yaitu majas perbandingan yang mandu melukiskan suatui pekerjaan denganmenggunakan kata-perkenalan awal yang memiliki konotasi yang sebabat (Suprapto, 1991 : 88).
Hipotetis :
Tiap malam ia cak memindahtangankan suara dari satu panggung ke arena lainnya.
Cak bagi membela anak istri, kurelakan walau bermandi darah.

C. Tendensi Bahasa Pertentangan

Majas pemberontakan adalah majas nan cara melukiskan keadaan apapun dengan mempertentangkan antara situasi yang satu dengan hal nan lainnya. Nan termasuk ke dalam jenis majas ini antara lain hiperbola, litotes, oksimoron, paronomasia, ironi, paralipsis, dan lain-enggak.

1. Hiperbola

Hiperbola adalah kecondongan bahasa nan mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik besaran, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Hiperbola merupakan pengungkapan yang memperamat kenyataan sehingga deklarasi tersebut menjadi tidak masuk akal. Adalah sepatah prolog yang diganti dengan kata lain nan memberikan signifikasi lebih hebat dapipada kata tidak.

Contoh:
Harga-harga sudah meroket.
Ketika mendengar berita itu, mereka terkejut sekerat sepi
Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Buya dan Ibu menghadiri undangan panitia.
Berlawan sira bosor makan, aduhai sahabatku nan elok dan indah, syahdu, hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa bahagia.
Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh marcapada.

2. Antitesis

Pengungkapan dengan menggunakan kata-pembukaan yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. Majas perbantahan nan menunggangi paduan kata yang bertentangan arti.

Contoh:
Tua mulai dewasa, lautan kecil, semuanya hadir di ajang itu

3. Anakronisme

Kata majemuk yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara hal dengan waktunya.
Contoh :
Sambil menyalakan TV, sekali-sekali Hang Tuah mengambal jam tangan Titusnya.
Aladin berperan golf.

4. Litotes

Litotes yaitu majas yang maujud pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Litotes: Ungkapan konkret penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan mencemarkan diri. Apabila kita menunggangi pengenalan yang antagonistis artinya dengan yang dimaksud dengan merendahkan diri terhadap orang yang merenjeng lidah.

Contoh:
Sekali-kali datanglah ke dangau reotku.
Wanita itu parasnya enggak jelek.
Akan kutunggu kamu di bilikku yang kotor di desa.
Segala nan kami berikan ini memang tak berarti buatmu.

5. Ironi

Ironi ialah gaya bahasa nan konkret pernyataan nan isinya bertentangan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ironi yaitu sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan berasal fakta tersebut. Adalah salah suatu majas sindiran yang dikatakan sebaliknya berasal apa yang sebenarnya dengan pamrih menyindir orang dan diungkapkan secara halus.

Ironi/karikatur merupakan gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, di harapkan mengarifi intensi penguraian itu.
paradigma:
Kuakui, kutu daya yang suatu ini memang berpengetahuan luas sekali.
Hambur-hamburkan terus uangmu itu seyogiannya bias menjadi jutawan.
Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya.
Bagus benar rapormu, Kedai minum, banyak merahnya.

6. Oksimoron

Oksimoron ialah mode bahasa yang berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung penangkisan dengan memperalat prolog-kata yang berlawanan intern frase maupun dalam kalimat nan setara.
Contoh:

Olahraga menanjak gunung memang menarik walupun suntuk membahayakan.

7. Paronomosia

Paronomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-alas kata yang sama bunyinya, namun berlainan maknanya.
Komplet:

Dapat ular belang itu bisa masuk ke sel-penjara bakat.

8. Zeugma


Zeugma yakni mode bahasa yang menggunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah perkenalan awal dengan dua atau lebih kata lain. Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahkan kedua pengenalan berikutnya sepantasnya namun cocok untuk riuk satu dari padanya. Zeugma: Silepsi dengan menunggangi kata yang tidak logis dan tidak gramatis bakal konstruksi sintaksis nan kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Contoh:

Kami sudah lalu mendengar berita itu semenjak radio dan akta kabar.

9. Silepsis

Internal silepsis kata yang dipergunakannya itu secara gramatikal benar, tetapi kata tadi diterapkan pada kata lain yang sepatutnya ada punya makna lain. Silepsis: Pemakaian suatu perkenalan awal yang mempunyai lebih dari suatu makna dan yang berfungsi privat makin berasal satu bangunan sintaksis.
Teladan:

Ia sudah kekurangan topi dan semangatnya.

10. Satire

Satire adalah kecenderungan bahasa sejenis argumen atau puisi atau gubahan yang kebal kritik sosial baik secara terang-terangan maupun siluman. Sindiran: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, ataupun parodi, buat mengecam ataupun menertawakan gagasan, rasam, dll.
Satire adalah gaya bahasa sepersaudaraan ironi nan mengandung suara atas kelemahan khalayak agar terjadi kebaikan. Lain sulit parodi muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi cak semau kognisi bagi berbenah diri.
Contoh:
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa mulai dewasa
Waktu ini hidup meracun hati
Miskin ilmu miskin harta
(Bait II puisi “Menyesal” karya M. Ali Hasymi)

Jemu aku dengan bicaramu.
Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan

Mutakadim sepuluh masa engkau bicara

Aku masih enggak n kepunyaan celana
Budak kurus pengangkut sampah

11. Antifrasis

Antifrasis ialah mode bahasa yang berupa pernyataan nan menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian pembukaan nan mengungkapkan sindiran dengan menyatakan lawan dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah pengenalan saja nan menyatakan kebalikan itu.
Contoh Antifrasis:

Lihatlah sang raksasa telah tiba (maksudnya sang cebol).
Contoh ironi:

Kami adv pernah bahwa kau memang orang yang mustakim sehingga enggak ada satu khalayak kembali yang percaya padamu.

12. Paradoks

Inkonsistensi ialah gaya bahasa yang mengandung sambutan yang nyata dengan fakta-fakta nan ada. Paradoks: Ekspose dengan menyatakan dua keadaan nan seolah-olah bentrok, namun sepatutnya ada keduanya moralistis. Majas ini terlihat seolah-olah terserah resistansi.

Kontradiksi yaitu gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung kontras/peperangan, belaka ternyata mengandung validitas.
Contoh:
Betapa banyak orang nan privat kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.
Bagaikan dosen, terus kurat, saya pun banyak belajar bersumber mahasiswa-mahasiswi saya.
Gajinya segara, tapi hidupnya melarat.
Artinya, uang cukup, tetapi jiwanya menderita.
Padanan dempet adakalanya merupakan saingan sejati.

13. Klimaks

Klimaks adalah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang kian lama makin mengandung studi atau makin meningkat kepentingannya berasal gagasan atau ungkapan sebelumnya. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berentetan berasal yang sederhana/tekor terdahulu meningkat kepada hal yang kegandrungan/lebih utama. .Klimaks, yang disebut juga gradasi, yakni gaya bahsa nyata ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek bertambah lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya. Klimaks dalah semacam tendensi bahasa yang menyatakan beberapa situasi nan dituntut semakin lama semakin meningkat.

Contoh :

Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran membuahkan camar duka, dan pengalaman membuahkan tujuan.

Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan resmi di TK, SD, SMP, SMA/SMK, terima kasih S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau mengajar di Perguruan tinggi bergelar Guru besar/Profesor pula.
Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang pandang puisi yang akan kita apresiasi, adv amat kita membaca repetitif-ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus mengkajidalami, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita mampu menghargai eksistensi dan mencintainnya, syukur juga terpangil untuk kreatif menciptakan bentuk-tulangtulangan sastra.
Hidup kita diharapkan berfaedah buat saudara, manusia tua lontok, nusa bangsa dan negara.

14. Anti klimaks

Antiklimaks adalah suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan usap pecah yang signifikan hingga yang rendah utama. Antiklimaks: Pemaparan perhatian maupun hal secara berturut-turut berpokok yang kompleks/lebih penting melandai kepada hal yang sederhana/kurang penting. Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks ialah gaya bahasa nyata kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas ketekunan. Kecondongan bahasa ini di start dari puncak kian lama lebih ke bawah. Dengan demikian, antiklimaks adalah kecenderungan bahasa yang menyatakan beberapa hal bersambungan semakin lma semakin melandai.

Contoh :

Ketua majelis hukum negeri itu adalah manusia yang berada, pendiam, dan lain naik daun namanya.

Lakukan milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan mata uang, seratus mili, panca puluh ribu, sepuluh ribu, seribu dolar pun sira enggan, masih dihitung-hitung.
Jauh sebelum memperoleh mendali emas internal Olimpiade Athena 2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi jago nasional dan sebelumnya pun tingkat propinsi, kabupaten, malahan kembali tingkat kecamatan, desa, RT/RW.
Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, murid SLTA, SLTP, dan SD.

15. Apostrof

Apostrof ialah gaya bahasa yang berupa pengalihan embaran dari yang hadir kepada yang tidak hadir.

Paradigma:

Wahai dewa yang agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.

16. Anastrof alias inversi


Anastrof ialah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan pembukaan dalam kalimat atau memungkiri urutan molekul-zarah konstruksi tata bahasa. Kebalikan: Menamakan lebih-lebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
Contoh:

Diceraikannya istrinya minus setahu tali pusar-saudaranya.

17. Apofasis

Apofasis yaitu gaya bahasa yang substansial pernyataan yang tampaknya menunda sesuatu, semata-mata senyatanya bahkan menegaskannya. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan
Pola :

Sebenarnya saya tidak hingga hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.

18. Histeron Proteran


Histeron Proteran yaitu gaya bahasa yang isinya merupakan tara dari suatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.

Transendental :

Jika kau memenangkan kejuaraan itu berharga kematian akan kau alami.

19. Hipalase

Hipalase ialah mode bahasa yang berupa sebuah pernyataan yang menunggangi kata untuk menerangkan suatu prolog yang seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang tak.

Contoh:

Ia duduk pada balai-balai yang mencacau.

20. Sinisme

Sinisme yaitu gaya bahasa yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap kehadiran atau ketulusan hati. Sinisme: Idiom yang berkepribadian mencemooh ingatan alias ide bahwa kebaikan terdapat pada insan (lebih garang berasal ironi).
Model:

Beliau bersusila-benar hebat sehingga pasir di gurun gurun juga bisa Beliau hitung.

21. Sarkasme


Sarkasme ialah kecenderungan bahasa yang mengandung parodi atau olok-olok yang pedas atau kasar. Sarkasme: Parodi berbarengan dan kasar. Gaya bahasa sindiran yang terkasar dimana mencamkan orang dengan kata-kata berangasan dan tak sopan.

Contoh:
Tanya semudah ini saja tidak dapat terjamah. Goblok kau!
Kau memang khusyuk bajingan.

22. Innuendo

Parodi yang bersifat mengecilkan fakta selayaknya
Contoh:

Ia memang baik, cuma agak minus jujur.

23. Kontradiksi interminus

Pernyataan yang bersifat memungkirkan yang sudah lalu disebutkan lega bagian sebelumnya. Ialah majas nan memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan barang apa yang sudahdikatakan tadinya. Apa yang sudah dikatakan, disangkal lagi oleh ucapan kemudian.

Pola:
Semuanya telah hadir, kecuali Si Amir.
Sekiranya masih ada yang belum hadir, mengapa dikatakan “semua” telah hadir.
semuanya telah diundang, kecuali Sinta.

24. Praterito

Majas praterito yaitu majas yang cara mengungkapkan suatu hal dengan cara menyembunyikan maksud. Pendengar atau pembaca harus mencari maupun menebak apa nan tersembunyi tersebut sekadar pendengar ataupun pembaca sudah tanggap dan mengerti terhadap situasi nan disembunyikan itu. (Suprapto, 1991 : 64).
Hipotetis :
Kejadian semalam betul-beul mempermalukan warga sekampung.
Maklumlah, situasi itu sudah menjadi air mandi murid musim ulangan.

25. Alonim

Penggunaan versi dari nama bakal menegaskan.

26. Kolokasi

Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata tak yang bersampingan dalam kalimat.
Sempurna:
Mobil itu berderit ketika sopir berangkat rem tiba-tiba, di tikungan, memencilkan mantan tali tap yang tajam di jalanan yang berdebu.

27. Okupasi


Majas okupasi merupakan majas pertentangan atau berlawanan yang mengandung pertampikan namun bantahan tersebut kemudian diberi penjelasan (Suprapto, 1991 : 56).
Cermin :
Apiun itu boleh merusak hidup, oleh karena itu, pemerintah mengawasi dengan pilih-pilih, untuk pecandunya sendiri, galibnya tidak boleh menghentikan kebiasaan nan tidak baik tersebut.

D. Gaya Bahasa Pertautan


Majas pertautan yang cara menjelaskan suatu peristiwa dengan mengaitkan kejadian nan dimaksud dengan lainnya yang punya sifat nan berkarakteristik sama ataupun mirip. Yang termasuk ke intern jenis majas pertautan di antaranya metonimia, sinekdot, alusio, eufimisme, elipsis, inverse, dan lain-lain.

1. Metonimia

Metonimia berasal berusul bajasa Yunani ‘meta’ nan artinya pergantian dan ‘onym’ yang artinya nama. Metonimia merupakan seikhwan majas nan menunggangi tera suatu benda bikin suatu peristiwa lain yang n kepunyaan keterkaitan dengan benda yang dimaksud. Privat metonimia, satu benda disebutakan namun yang dimaksud adalah benda lain (Dale (et all), 1971 : 234).
Majas metonimia merupakan majas yang mempergunakan segel ciri ataui ciri peristiwa yang menjadi cirri terhadap situasi yang dimaksud kemudian ditautakan denngan mausia, barang, atau apapun sebagai gantinya (Suprapto, 1991 : 50). Metonimia ialah gaya bahasa yang menggunakan nama komoditas, orang, hal, atau ciri ibarat penukar barang itu koteng.

Contoh:

Parker jauh bertambah mahal daripada juru terbang.

2. Antanaklasis

Menggunakan iterasi kata nan sama, hanya dengan makna yang berlainan. Antanaklasis merupakan rencana majas kemubaziran yang memiliki pengulangan kata yang setolok tetapi berbeda maksudnya. Jadi, majas antanaklasis itu majay nan menulang alas kata homonimi (Ducrot dan Todorov, 1981 : 227).
Lengkap :
Angga membawa kembang bakal kembang desa yang dipujanya.
Enaknya lintah darat itu mulutnya disumpal pacet, biar insaf
Karena buah penanya itu menjadi buah bibir orang.

3. Simbolik

Melukiskan sesuatu dengan memperalat huruf angka atau lambang bikin menyatakan maksud.
Komplet :
Cintaku kepadamu enggak akan kekeluargaan layu, bagai anak uang surga.
Cintaku kepadamu kan selalu bergelora, bagai ombak lautan.

4. Sinekdoke

Sinekdoke ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti produk sendiri. Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu bisa sebagian kerjakan menyatakan keseluruhan (pars pro toto), bisa pula sebaliknya keseluruhan digunakan bakal menyebut yang sebagian (totem menyebelahi parte)
Pars pro toto: Pengungkapan sebagian terbit bulan-bulanan bagi menunjukkan keseluruhan objek.
Totem pro parte: Pembeberan keseluruhan bulan-bulanan sementara itu yang dimaksud hanya sebagian.
Contoh Sinekdoke pars pro toto:

Panca ekor kambing telah dipotong pada acara itu.
Korban gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mencapai 100 kehidupan bertambah.
Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10 ekor embek.
Contoh Sinekdoke totem memihak parte:

Internal pertandingan itu Indonesia menjuarai suatu teman Malaysia.

Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina.
Karya-karya menjadi cindera ain kerjakan dunia

5. Alusio

Alusio ialah gaya bahasa yang menunjuk secara lain langsung ke suatu pristiwa atau tokoh yang mutakadim umum dikenal/ diketahui orang.

Sempurna:

Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi di sini?

6. Eufimisme

Eufimisme ialah ungkapan yang lebih halus bak pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap merugikan atau yang bukan menyenangkan. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa berangasan dengan kata-pembukaan lain yang kian pantas alias dianggap halus. Penghalusan adalah tendensi bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan biar lain menyinggung ingatan, bukan terasa tajam.
Eufimisme berasal berpangkal bahasa Yunani ‘euphemizein’ yang berarti ‘berbicara dengan menggunakan kata-prolog yang jelas dan wajar’. Euphemizein diturunkan dari prolog ‘eu’ nan berharga baik maupun bagus ‘phanai’ yang berarti wicara. Jadi jelas, eufimisme artinya pandai berbicara baik (Dale (et all) 1971 : 239).
Lengkap:
Karena melakukan sesuatu yang kurang memadai, Selongsong Bandot akhirnya dikenai pension dini.
(Berkujut skandal, kecurangan, dipecat, di PHK)
Anak itu silam kelas karena agak terbelakang privat menirukan pelajaran.
(Bodoh)
Tunasusila sebagai pengganti pelacur.

7. Disfemisme

Penyingkapan pernyataan pemali atau nan dirasa sedikit pantas sebagaimana adanya.
Abstrak :
Hati-hati, kita mulai masuk hutan pantangan. Di sini banyak hantu!

8. Eponim


Eponim adalah gaya bahasa yang menamai nama seseorang yang begitu cak acap dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai bakal menyatakan sifat itu. Eponim: Menjadikan nama orang misal tempat ataupun pranata.
Contoh:

Dengan cak bimbingan yang alangkah saya yakin Dia akan menjadi Mike Tyson.

9. Antonomasia


Antonomasia ialah gaya bahasa nan berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama diri.

Konseptual:

Penasihat sekolah mengundang para orang tua murid.

10. Epitet


Epitet ialah gaya bahasa yang maujud keterangan yang menyatakan sesuatu aturan ataupun ciri nan khas dari seseorang ataupun satu hal.

Contoh:

Perempuan lilin batik menyambut kesanggupan remaja yang sedang mabuk asmara.

11. Erotesis


Erotesis adalah gaya bahasa nan substansial pertanyaan yang bukan menuntut jawaban kadang kala.

Pola:

Tegakah membiarkan momongan-anak dalam penderitaan?

12. Paralelisme


Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha menyejajarkan eksploitasi prolog-pembukaan maupun frase-frase nan menduduki faedah yang sebanding dan memiliki bentuk gramatikal yang ekuivalen. Pertepatan: Pengungkapan dengan memperalat kata, frase, ataupun klausa yang sejajar. Dril kata-perkenalan awal untuk menegaskan nan terdapat pada puisi. Bila kata yang diulang puas semula kalimat dinamakan anaphora, dan takdirnya terdapat pada penutup kalimat dinamakan evipora. Teladan-contoh:
Kau berkertas kalis
Kau bertinta hitam
Kau beratus halaman
Kau berbalut rapi.
Kalau kau ingin aku akan nomplok

Jika kau mengangankan aku akan nomplok

Bila kau mohon aku akan datang

Bak kau cak hendak aku akan datang

+ Bukan doang perbuatan itu harus dikutuk, doang pun harus diberantas.
– Bukan namun perbuatan itu harus dikutuk, namun juga harus memberantasnya (Ini contoh yang enggak baik).

13. Elipsis


Elipsis merupakan kecondongan bahasa nan di dalamnya terdapat takwim maupun penghilangan salah satu atau sejumlah unsur penting berpunca suatu konstruksi sintaksis. Elipsis: Penghilangan suatu atau beberapa anasir kalimat, yang intern susunan sah unsur tersebut agar ada. Elipsis adaklah gaya bahasa positif penyusunan kalimat yang mengandung kata-pembukaan nan sengaja dihilangkan nan sepatutnya ada dapat diisi makanya pembaca/penyimak.
Contoh:
Pembangunan mencengam dua peristiwa adalah pembangunan material dan …….,pembangunan fisis dan …….., pembangunan tersendiri dan ……….
Apa namun yang ada di bumi serta berpasangan ada siang ada ………, suka-suka baik ada…….., ada seri ada ………, ada pertemuan ada …….., roda berputar kadang di atas kadang …………
Mereka ke Jakarta minggu lalu (perhitungan prediksi).
Pulangnya membawa buah tangan banyak sekali (Penghilangan subjek).
Saya sekarang sudah mengerti (Penghilangan target).
Saya akan berangkat (penghilangan anasir Pengumuman).
Marilah makan!(penghilangan subyek dan obyek).

14. Gradasi

Gradasi ialah gaya bahasa yang mengandung beberapa introduksi (setidaknya tiga kata) nan diulang dalam gedung itu.
Gradasi yaitu majas yang memiliki perkariban alias urutan sedikitnya tiga kata atau istilah yang secara sintaksis kata atau istilah tersebut memiliki satu ciri semantik atau lebih (Ducrot dan Todorov, 1981 : 277).
Model :
Kita berjuang melawan musuh dengan satu tekad, tekad terus beradab, beradab kerumahtanggaan kehidupan, spirit yang baik, baik secara rohani ataui fisik, rohani atau jasmani yang diridhoi, diridhoi oleh Gusti Allah, Gusti Allah yang n kepunyaan hayat dan mati. Semangat dan mati kita semua.

15. Asindeton


Asindenton ialah kecondongan bahasa nan berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung prolog-introduksi nan sejajar, tetapi bukan dihubungkan dengan kata-kata penghubung. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau referensi tanpa kata penghubung. Bilang peristiwa keadaan atau benda disebutkan berlapis-lapis sonder menggunakan konjungsi.

Contoh:

Kenap, takhta, almari ditangkubkan dalam kamar itu.
Ayah, ibu, momongan adalah inti dari sebuah keluarga.

16. Polisindeton


Polisindenton ialah gaya bahasa yang faktual sebuah kalimat alias sebuah konstruksi yang mengandung kata-alas kata yang sejajar dan dihubungkan dengan introduksi-konjungsi. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau teks, dihubungkan dengan kata penghubung.
Contoh:

Pembangunan memerlukan sarana dan infrastruktur juga dana serta kemampuan pelaksana.

17. Retoris

Kata majemuk pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam soal tersebut. Tren bahasa penandasan ini mempergunakan kalimat Tanya-enggak-menyoal. Sering menyatakan kesangsian atau berwatak menertawai.

Erotesis/soal retoris adalah kecondongan bahasa berupa pengajuan pertanyaan kerjakan memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini acap digunakan oleh para orator.
Hipotetis:
Biaya pendidikan di Perguruan tinggi dulu mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sebatas ke sana? Mungkin yang boleh berkuliah kalau bukan kabilah berada?
Mana mungkin orang nyenyat semangat lagi?!
Inikah yang kau namai berkreasi?!

18. Interupsi

Ungkapan berupa penyisipan pengetahuan pelengkap di antara unsur-unsur kalimat. Tendensi bahasa penandasan nan mempergunakan sisipan di paruh-tengah kalimat pokok, denagn harapan untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.

Contoh:
Mendadak Ia – puspa hati itu – direbut oleh amoi lain.

19. Enumerasio

Majas enumerasio merupakan majas gaya bahasa penegasan yang menyantirkan atau menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa sepatutnya seluruh tujuan di dalam kalimat tersebut menjadi lebih lugas dan jelas (Suprapto, 1991 : 27).
Cermin :
Angin semilir perlahan, langit spektakuler terlihat ringan, lazuardi cerah nilakandi, bulan pula menyinar kembali, sedang aku, sahaja duduk sambil melamun. Memikirkanjantung hati, yang entah ke mana tak tahu rimbanya.

Korban meninggal ketika itu juga, motonya hancur lebur, darah menganak wai, mengalir ke mana-mana.

20. Resentia


Yakni kecenderungan bahasa yang menggambarkan sesuatu yang lain mengatakan tegas lega bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.

Contoh : “Apakah ibu ingin….?”

21. Anakuloton

Majas anakuloton ialah majas yang kerumahtanggaan pemakaian kalimatnya sengaja disimpangkan dari kaidah-pendirian penulisan tata basa (Suprapto, 1991 : 11).
Contoh :
Jangan berebut, coba barisnya yang tartib!
Duduklah yang manis di krosi, jangan keluyuran!

22. Meiosis

Majas meiosis merupakan penegasan yang cara mengungkapkan suatu hal atau keadaan dengan memperalat pernyataan yang halus. Majas ini cinta digunakan secara ironi, khususnya untuk mencitrakan suatu kejadian nan asing resmi (Suprapto, 1991 : 49).
Sempurna :
Hasil panennya agak invalid baik (lakukan menyatakan panen gagal)
Ia kurang aktif di karang taruna (menyatakan berat pinggul)

23. Simetrisme

Majas simetriisme yakni majas yang menyatakan suatu kalimat dengan menggunakan kata-prolog yang bukan ananum sememangnya kalimat tersebut mengandung makna yang setimpal (Suprapto, 1991 : 82).
Cermin :
Anak tersebut sudah dididik, diajar, dituntun melanglang direl yang benar.
Ayahku sudah pergi dan tak siapa kembali sekali lagi.
Kehidupan harus hemat, nastiti, dan diskriminatif.

Source: http://mamaehafizhdewek.blogspot.com/2010/10/majas-atau-gaya-bahasa.html

Posted by: skycrepers.com