Cara Penerapan Karakteristik Etnik Dalam Pembelajaran Sd



Sebelum kita memulai pembahasan tentang penerapan dari teoretis pembelajaran CTL privat proses belajar dikelas. Makin baik kita memahami lebih lagi tinggal apa itu pembelajaran CTL.








Kita akan mempelajari mulai dari pengertian, karakteristik, guna dan segala aspek bukan tentang pola penelaahan CTL. Berikut ini penjelasannya.


A. Signifikansi Pendedahan CTL



Menurut Nurhadi
internal Sugiyanto (2007)

CTL

(

Contextual Teaching and Learning

) adalah konsep membiasakan nan mendorong guru lakukan menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi bumi nyata petatar.

Baca Pun :

Model Pengajian pengkajian Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Together) Teoretis dengan Bacaan

Model Pembelajaran Cooperative Script Pembahasan Kamil dengan Daftar pustaka

Komplet Pembelajaran TGT : Signifikasi, Karakteristik, SIntaks, Kemustajaban dan Kekurangan







Menurut
Jonhson

dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan nan
bertujuan kerjakan menolong para peserta mengawasi siswa melihat makna didalam
materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan
subyek-subyek akademik dengan konteks internal vitalitas keseharian mereka.










CTL (Contextual Teaching and Learning)
merupakan suatu proses pendidikan nan
holistik dan bertujuan memotivasi siswa buat mencerna makna
materi tutorial nan dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut
dengan konteks umur mereka sehari-perian (konteks pribadi, sosial,
dan kultural) sehingga siswa memiliki butir-butir/ keterampilan yang
secara lentur boleh diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke
persoalan lainnya.





CTL (Contextual Teaching and Learning)

adalah sebuah konsep pembelajaran yang membantu master mengkaitkan antara
materi yang diajarkannya dengan situasi bumi nyata dan mendorong
pemelajar takhlik aliansi antara materi yang diajarkannya dengan
penerapannya intern sukma mereka sebagai anggota keluarga dan
awam.





CTL (Contextual Teaching and Learning) yaitu sebuah sistem
nan menyeluruh. CTL terdiri berusul bagian-putaran yang saling terhubung.
Jika bagian-bagian ini terjalin suatu sama lain, maka akan dihasilkan
otoritas yang melebihi hasil yang diberikan episode-bagiannya secara
terpisah. Setiap bagian
CTL (Contextual Teaching and Learning)

yang berbeda-beda ini menyerahkan sumbangan dalam menolong siswa
mencerna tugas sekolah. Secara bersama-sama, mereka membentuk suatu
sistem yang memungkinkan para pelajar mengawasi makna di dalamnya, dan
memperoleh guna-guna pengetahuan.








Dari berbagai definisi tentang model pembelajaran CTL maka dapat disimpulkan bahwa acuan













penerimaan CTL merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi nan diajarkanya
dengan keadaan dunia kasatmata murid dan menyorong siswa membuat perikatan
antara mualamat yang dimilikinya dengan penerapan internal kehidupan
sehari-musim.











B. Karakteristik Pendedahan Cooperative Learning





Contextual Teaching and
Learning


(CTL) yakni suatu
strategi pembelajaran nan menggarisbawahi kepada proses keterlibatan siswa secara
penh ntuk bisa menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan
peristiwa semangat konkret sehingga mendorong petatar bikin dapat menerapkannya
dalam kehidupan mereka. Terserah
tiga hal yang harus dipahami.
Permulaan
CTL menekankan kepada proses
keterlibatan siswa untuk menemukan materi,
kedua
CTL mendorong mudahmudahan
siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan kejadian
hayat nyata,
ketiga
menjorokkan siswa untuk boleh menerapkan dalam
kehidupan.


Terdapat panca



karakteristik
penting dalam proses
pembelajaran yang

  1. Pengajian pengkajian yaitu proses pengaktifan
    kenyataan yang sudah lalu cak semau (activating knowledge
    )
  2. Pengajian pengkajian ntuk memperoleh dan menaik
    maklumat baru (acquiring knowledge
    )
  3. Pemahaman pengumuman (understanding


    knowledge
    )
  4. Mempraktikan pengetrahuan dan camar duka
    tersebut

    (
    applying knomledge
    )
  5. Berbuat refleksi (reflecting knowledge
    )

Terserah

yang terlazim dipahami tentang pbelajar internal
konteks CTL.

  1. Belajar bukanlah menghafaz, akan tetapi
    proses mengkontruksi pesiaran sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki
  2. Membiasakan lain sekedar mengumnpulkan fakta nan lepas-lepas.
  3. Berlatih ialah proses pemisahan masalah
  4. Belajar yaitu proses pengalaman sendiri
    nan berkembang berpokok yang tercecer menuju yang kompleks
  5. Belajar pada hakikatnya yakni menyirat
    informasi berasal manifesto.






C. Perbedaan Model Pembelajaran CTL dengan Model Pembelajaran Konvesnsional







No.




Perbedaan CTL dengan
Pengajian pengkajian Konvensioanal





CTL




Pembelajaran Konvensional



1

Siswa sebagai subjek belajar

Siswa sebagai objek belajar

2.

Pelajar membiasakan melangkaui kegiatan gerombolan

Pesuluh makin banyak belajar secara individu

3.

Pembelajaran dikaitkan dengan semangat faktual

Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak

4

Kemampuan didasarkan atas pengalaman

Kemampuan diperoleh mulai sejak latihan-tutorial

5

Tujuan akhir kepuasan diri

Maksud intiha nilai ataupun biji

6

Prilaku dibangun atas kesadaran

Prilaku dibangun oleh factor semenjak luar

7

Pengetahuan nan dimiliki individu berkembang sesuai
dengan pengalaman yang dialaminya

Pengetahuan nan dimiliki bersifat absolute dan
final, tidak barangkali berkembang.

8

Peserta bertanggungjawab dalam memonitor dan
mengembangkan pembelajaran

Master penentu jalannya proses pembelajaran

9

Penataran bisa terjadi dimana belaka

Pendedahan terjadi hanya di intern kelas bawah

10

Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dengan
bervariasi mandu

Keberuntungan pembelajaran tetapi bisa diukur dengan testimoni






 D. Tujuan Pendedahan CTL

  1.     Lengkap pembelajaran CTL ini bermaksud untuk memotivasi siswa lakukan
    memahami makna materi  latihan yang dipelajarinya dengan mengkaitkan
    materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga
    siswa n kepunyaan wara-wara atu ketrampilan nan secara refleksi dapat
    diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
  2.    Pola pembelajaran ini bertujuan agar dalam sparing itu bukan hanya sekedar menghafal sekadar terlazim dengan adanya kognisi
  3.    Model pembelajaran ini menekankan pada ekspansi minat pengalaman siswa.
  4.    Transendental pengajian pengkajian CTL ini berniat bikin melatih siswa agar bisa
    berfikir kritis dan terampil kerumahtanggaan memproses warta seharusnya bisa
    menemukan dan menciptakan sesuatu yang penting bakal dirinya koteng
    dan orang enggak
  5.    Cermin penataran CTL ini bertujun agar pembelajaran bertambah congah dan bermakna
  6.    Kamil pembelajaran nodel CTL ini bertujuan bikin mengajak anak pada
    satu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks
    jehidupan sehari-hari
  7.     Tujuan penelaahan model CTL ini berujud agar siswa secara
    indinidu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-pemberitahuan komplek dan
    siswa dapat menjadikan pemberitahuan itu miliknya sendiri.










E. Suku cadang Penelaahan
CTL

Pembelajaran melibatkan tujuh komponen terdahulu penataran efektif, yaitu:

  •      Konstruktivisme (Constructivism);
  •      Bertanya (Questioning);
  •      Menemukan (Inquiri);
  •      Belajar (Learning Community);
  •      Pemodelan (Modeling);
  •      Penilaian sememangnya (Authentic Assessment).









     CTL sebagi suatu pendekatan
penataran punya 7 asas atau komponen. Asas-asas ini nan melandasi pelaksanaan proses
pendedahan dengan menggunakan pendekatan CTL


1. Konstruktivisme
Yakni proses pembangunan yunior dalam
struktur serebral petatar berdasarkan pengalaman.


2. Inkuiri
 Adalah proses pembelajaran didasarkan puas
penguberan dan kreasi melewati proses berfikir secara sistematis. Proses
inkuiri dilakukan intern beberapa langkah:

  • Merumuskan masalah
  • Mengajukan hipotesis
  • Mengumpulkan data
  • Menguji hipnotis berdasarkan data nan
    ditemukan
  • Membuat inferensi


3. Menanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan
menjawab pertanyaan. Menanya bisa dipandang sebagai refleksi dari
keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan
seseorang dalam berfikir. Dalam satu pembelajaran yang ki berjebah
kegiatan bertanya akan lampau bermakna buat:


1)



menggali pesiaran dan kemampuan siswa dalam
penguasaan materi pelajaran


2)



membangkitkan motvasi murid untuk belajar


3)



sensual keingintahuan murid terhadap
sesuat


4)



memfokuskan pesuluh pada suatu nan diinginkan


5)



membimbing petatar bakal menemukan atau menyimpulkan sesuatu


4. Umum Belajar (Learning Community

 Konsep Publik Berlatih (Learning
Community
) kerumahtanggaan CTL menyarankan moga hasil pembelajaran diperoleh melalui
kerjasama dengan bani adam enggak. Dalam kelas CTL, asas ini dapat dilakukan dengan
menerapkan pembelajaran melangkaui kerumunan belajar.


5. Pemodelan (Modeling)
Ialah proses pembelajarn dengan
memperagakan sesuatu sebagai conto yang dapat ditiru oleh setiap siswa.


6. Refleksi (Reflection)
Yakni proses pengendapan camar duka yang
telah dipelajari nan dilakukan dengan cara mengurutkan kembali
kejadian-situasi atau peristiwa pembelajaran yang sudah lalu dilalui.


7. Penilaian Berwujud (Authentic Assessment)
Adalah proses yang dilakukan master untuk
mengumpulkan informasi tentang jalan sparing yang dilakukan pelajar.

Penelaahan dan pencekokan pendoktrinan kontekstual
melibatkan para siswa dalam aktifi tas penting yang membantu mereka
mengaitkan kursus akademis dengan konteks kehidupan nyata nan mereka
hadapi. Dengan mengaitkan keduanya, para siswa mematamatai makna di intern
tugas sekolah. Momen para siswa merumuskan bestelan atau menemukan
permasalahan yang menarik, ketika mereka membuat pilihan dan menyepakati
tanggung jawab, mencari informasi dan menarik kesimpulan, ketika mereka
secara aktif memilih, memformulasikan, menata, menyentuh, merencanakan,
menyelidiki, mendiskusikan, dan membuat keputusan, mereka mengaitkan
isi akademis dengan konteks dalam situasi spirit, dan dengan cara ini
mereka menemukan makna (Elaine B Johnson).

Rakitan makna adalah ciri utama dari CTL (Contextual Teaching and Learning).
Di dalam kamus, ”makna” diartikan sebagai ”arti penting berpangkal
sesuatu atau pamrih” Ketika diminta untuk mempelajari sesuatu yang tak
berharga, para siswa biasanya bertanya, ”Mengapa kami harus mempelajari
ini?” Wajar sekali jikalau mereka mencari makna, arti terdepan dan harapan,
serta manfaat berpangkal tugas sekolah yang mereka terima. Penguberan makna
yakni hal yang keilmuan.

F. Strategi Pembelajaran CTL

Strategi Pengajian pengkajian hakikatnya
adalah sketsa umum aktivitas master dan murid di dalam merealisasikan kegiatan
belajar mengajar. Maknanya, interaksi sparing mengajar berlangsung dalam suatu
sketsa yang dilaksanakan secara berbarengan oleh guru dan peserta. Dengan
demikian boleh dirumuskan ketatanegaraan pembelajaran yakni “sketsa publik
penelaahan subyek didik” nan tersusun secara sistematik berdasar konseptual
pendirian-prinsip pendidikan yaitu, strukturisasi urutan maupun langkah-awalan
penerimaan, metode pembelajaran, media penataran, pengelolaan kelas,
evaluasi, dan waktu nan digunakan untuk menjejak maksud.

Strategi penelaahan melalui
pendekatan kontekstual (Contextual
Teaching and Learning
) adalah konsep sparing yang boleh membantu guru
menyambung antara materi yang diajarkan dengan realitas marcapada nyata murid,
dan memurukkan petatar membuat interaksi antara kabar nan dimilikinya
dengan penerapannya internal atma mereka misal anggota keluarga dan
masyarakat. Privat penggait ini siswa boleh menyadari sepenuhnya barang apa makna
sparing, manfaatnya, bagaimana upaya bakal mencapainya dan dapat memahami bahwa
yang mereka pelajari bermanfaat bagi hidupnya nanti, sehingga mereka akan
memposisikan diri sebagai diri mereka koteng yang membutuhkan bekal hidupnya
dan berupaya berkanjang bikin meraihnya.

Adapun tugas guru dalam pembelajaran kontekstual
yakni membantu pelajar kerumahtanggaan meraih tujuannya. Artinya guru lebih fokus pada
urusan strategi daripada membagi keterangan. Tugas guru dalam peristiwa ini tetapi
memanage kelas perumpamaan sebuah tim nan bekerja untuk menemukan sesuatu yang
baru bagi pelajar. Proses pengajian pengkajian kian diwarnai student centered tinimbang
teacher centered


Beberapa kebijakan pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara kontekstual antara lain:



a. Pembelajaran berbasis masalah


Dengan memunculkan problem nan dihadapi bersama,siswa ditantang bakal berfikir paham untuk mengendalikan.



b. Menggunakan konteks nan beragam


Dalam CTL guru membermaknakan kumpulan konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.



c
.


Mempertimbangkan k
ebhine
kaan siswa


Guru
mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual dan sosial
seyogyanya  dibermaknakan menjadi mesin penggerak lakukan sparing saling
menghormati dan ketahanan bakal takhlik ketrampilan interpersonal.



d.

Memberdayakan siswa untuk belajar koteng



Pendidikan sah merupakan kawah candradimuka bagi petatar lakukan menuntaskan cara belajar lakukan belajar mandiri di kemudian tahun.



e.


Belajar melalui kolaborasi


Intern
setiap kolaborasi selalu ada peserta yang menonjol dibandingkan dengan
koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator internal
kelompoknya

.



f.


Menggunakan penelitian autentik



Penilaian
autentik menunjukkan bahwa belajar sudah lalu berlangsung secara terpadu dan
konstektual dan memberi kesempatan sreg siswa untuk dapat maju terus
sesuai dengan potensi yang dimilikinya.



g.


Mengejar kriteria tinggi


Setiap
sekolah seyogyanya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu ke waktu
terus ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking
dengan melakukan penggalian banding ke berbagai sekolah di dalam dan luar
provinsi.


Tentatif berlandaskan

Center



for Occupational Research and Development



(CORD) Penerapan kebijakan penelaahan konstektual digambarkan sebagai berikut:


a.
Relating

Berlatih dikatakan
dengan konteks dengan pengalaman berupa, konteks merupakan rang kerja yang
dirancang guru  buat kontributif pesuluh
ajar agar yang dipelajarinya bermakna.


b.
Experiencing

Berlatih adalah kegiatan
“mengalami “peserta ajar diproses secara aktif dengan hal yang dipelajarinya
dan berupaya mengamalkan eksplorasi terhadap hal nan dikaji,berusaha menemukan
dan menciptakan keadaan yang baru dari apa yang dipelajarinya.


c.
Applying

Belajar menggarisbawahi pada
proses mendemonstrasikan embaran nan dimiliki dengan kerumahtanggaan konteks dan
pemanfaatanya.


d.
Cooperative

Belajar merupakan
proses kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan keramaian, komunikasi
interpersonal ataupun hubunngan intersubjektif.


e.
Trasfering

Belajar menenkankan
pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan siaran dalam keadaan atau konteks
bau kencur.


G.  Langkah-Langkah Penerimaan CTL

Langkah-langkah pembelajaran CTL antara bukan :

  1. Meluaskan pemikiran bahwa anak akan sparing lebih berguna
    dengan kaidah bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi
    sendiri pesiaran dan ketrampilan barunya.
  2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri buat semua topic
  3. Melebarkan sifat ingin tahu peserta dengan bertanya
  4. Menciptakan publik belajar
  5. Menghadirkan lengkap sebagia teladan belajar
  6. Melakukan refleksi diakhir persuaan.
  7. Melakukan penialain yang sesungguhnya dengan berbagai cara.


Ciri kelas yang menunggangi pendekatan konstektual

  1. Pengalaman nyata
  2. Kerja ekuivalen, ganti menubruk
  3. Gembira, berlatih dengan bergairah
  4. Penataran terintegrasi
  5. Menunggangi bermacam ragam sumber
  6. Siswa aktif dan kritis
  7. Menyenangkan ,lain ki boyak
  8. Sharing dengan teman
  9. Guru kreatif


 H. Kelemahan dan Keistimewaan

1.  Manfaat berpunca eksemplar pengajian pengkajian CTL

a. Memberikan kesempatan lega sisiwa untuk dapat maju terus sesuai
dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam
PBM.

b. Murid dapat berfikir kritis dan subur n domestik mengumpulkan data,
memahami suatu isu dan mengendalikan masalah dan guru bisa kian kreatif

c. Menyadarkan pesuluh tentang apa yang mereka pelajari.

d. Pemilihan informasi berlandaskan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.

e. Penerimaan lebih menyenangkan dan bukan ki boyak.

f. Kondusif siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.

g.Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar orang ataupun kelompok.

2. Kelemahan semenjak arketipe pembelajarab CTL

a. Kerumahtanggaan pemilihan proklamasi atau materi  dikelas didasarkan lega
kebutuhan  siswa  padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya
farik-beda sehinnga guru akan kesulitan intern menetukan materi
kursus karena tingkat pencapaianya siswa tadi enggak sama

b. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang tebak lama intern PBM

c. Intern proses pendedahan dengan model
CTL
akan nampak
jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tangga dan siswa yang
memiliki kemampuan adv minim, nan kemudian menimbulkan rasa tidak berkeyakinan
diri bagi siswa yang kurang kemampuannya

d. Bagi pesuluh nan tertinggal dalam proses pengajian pengkajian dengan
CTL

ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan,
karena internal model pembelajaran ini kesuksesan peserta tergantung dari
keaktifan dan usaha seorang jadi pesuluh yang dengan baik menirukan setiap
pengajian pengkajian dengan ideal ini tidak akan menunggu teman yang tersisa
dan mengalami kesulitan.

e. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan konseptual
CTL
ini.

f. Kemampuan setiap siswa berlainan-beda, dan pesuluh nan memiliki
kemampuan jauhari tinggi doang musykil untuk mengapresiasikannya privat
rancangan lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan
ketrampilan dan kemampuan
soft skill
ketimbang kemampuan intelektualnya.

g. Maklumat yang didapat oleh setiap pelajar akan berbeda-tikai dan lain merata.

h. Peran hawa tak nampak terlalu terdepan juga karena n domestik CTL ini
peran hawa doang sebagai pengarah dan pembimbing, karena bertambah menuntut
siswa bikin aktif dan berusaha koteng mencari pemberitahuan, menuding
fakta dan menemukan keterangan-pengetahuan hijau di lapangan



I. Penerapan Model Penerimaan CTL dalam pembelajaran di kelas bawah







Contoh arketipe pembelajaran CTL (Rumpun IPS)






Topik
:

fungsi pasar


Kompetensi sumber akar
:

Peserta memahami faedah dan mengetahui fungsi dan jenis pasar

Penunjuk hasil belajar :

-Siswa dapat menjelaskan pengertian pasar

-Siswa bisa menjelaskan jenis-jenis pasar

-Siswa bisa menjelaskan perbedaan karakteristik pasar tradisional dan pasar bertamadun

-Murid dapat menyimpulakan fungsi pasar

-Pelajar dapat menciptakan menjadikan tulisan tersapu tenaga pasar.

Proses pembelajarannya

a. Pendahuluan

1) Guru menjelaskan kompetensi nan harus dicapai sisiwa dan pentingnya materi jaga dalam kehidupan ekonomi social.

2) Temperatur mengklarifikasi prosedur pembelajaran CTL

a)  Pesuluh dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan kuantitas

b)  Tiap kerubungan ditugaskan untuk berbuat observasi kepasar tradisional dan pasar modern

c)  Melalui instrument observasi alias angket siswa diminta mencatat mengenai berbagai hal yang ditemukan dipasar.

3) Temperatur melakukan soal jawab sekeliling tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.

b. Kegiatan inti

Dilapangan

1) Peserta mengerjakan observasi kepasar sesuai dengan pembagian tugas kelompok

2) pelajar mencatat hal-keadaan yang mereka temukan dipasar sesuai perabot observasi ,angket yang telah mereka susun sebelumnya.

Didalam kelas

1) Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya per.

2) murid melaporkan hasil diskusi

3) Setiap kerubungan saling menjawab  terhadap pertanyaan nan diajukan oleh kelompok lainya.

c. Penutup

1) Dipimpin oleh guru ,murid mengikhtisarkan hasil observasi dan sumbang saran
akan halnya fungsi dan jenis pasar sesuai dengan indicator belajr nan
dicapai.

2) Temperatur menugaskan siswa untuk membuatkarangan adapun camar duka berlatih mereka dengan team”pasar”

2. Teladan scenario pembelajaran konstektual untuk ilmu alam atau sains


Pengerahan : kelompok kerdil 4-5 individu

Pertemuan I   :Menyelidiki perubahan air menjadi uap dan sekali lagi sekali lagi menajadi air

  1. Temu ramah tentang terjadinya hujan
  2. Penjelasan pengusahaan alat
  3. Mengerjakan kegiatan percobaan
  4. Mengamati dan melaporkan hasil percobaan
  5. Menyimpulkan hasil kegiatan
  6. Memberi eksemplar terapan dalam semangat sehari-hari

Pertemuan II :Menanyai wujud parafin nan dipanaskan kemudian didinginkan

  1. Konsultasi akan halnya terjadinya perubahan wujud plong lilin.
  2. Penjelasan pemakaian alat
  3. Mengamalkan kegiatan percobaan
  4. Mengamati dan melaporkan hasil percobaan
  5. Menyimpulakan hasil percobaan
  6. Memberi contoh terapan privat semangat sehari-hari.

Alat dan Bahan :

  1. Air, lilin, korek jago merah
  2. Anglo/pemanas, mangkuk

Penilaian

  1. Penialian termuat (Mengenal perubahan wujud, tentang benda yang berubah wujud dapat kembali kewujud semula)
  2. Kinerja(mengamati penampilan sisiwa maupun mengamalkan percobaan)
  3. Produk(merancanng dan membuat alat penyulingan air)






Sumber:









Sugiyanto.
2007. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG): Model-model
Penerimaan Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13
Surakarta.




DePorter, Bobbi
dkk.1999.Quantum
Learning.Bandung:Kaifa





Sugiyanto.Modul
PLPG






Source: https://karyatulisku.com/penerapan-model-pemebelajaran_22/

Posted by: skycrepers.com