Cari Buku Pelajaran Sd Tahun 80 An

Sastra Indonesia

merupakan sebuah istilah yang melingkupi bervariasi spesies karya sastra di Asia Tenggara. Istilah “Indonesia” sendiri mempunyai kelebihan yang saling melengkapi terutama n domestik cakupan ilmu permukaan bumi dan ki kenangan garis haluan di provinsi tersebut.

Tatkala gagasan
sastra di Indonesia

seorang merujuk lega seantero kepujanggaan nan dibuat di provinsi Kepulauan Indonesia yang dapat menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing, istilah
sastra Indonesia

merujuk saja kepada kesusastraan privat bahasa Indonesia yang bahasa akarnya berdasarkan bahasa Melayu (di mana bahasa Indonesia yakni satu turunannya).[1]

Dengan signifikansi kedua maka sastra ini boleh juga diartikan umpama sastra nan dibuat di distrik Jawi (selain Indonesia, terdapat pula beberapa negara berbudi Melayu perumpamaan halnya Malaysia dan Brunei), demikian pula nasion Melayu yang tinggal di Singapura.

Periodisasi



[sunting

|
sunting sendang]



Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian segara, adalah:

  • lisan
  • karangan[2]

Secara pujuk waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

  • Armada Pujangga Lama
  • Laskar Sastra Jawi Lama
  • Angkatan Balai Pustaka (1920–1932)
  • Armada Pujangga Hijau (1933–1942)
  • Angkatan 1945 (1942–1949)
  • Laskar 1950–1960-an
  • Pasukan 1966–1970-an
  • Pasukan 1980–1990-an
  • Angkatan Reformasi
  • Armada 2000-an

Pujangga Lama



[sunting

|
sunting mata air]



Pujangga lama adalah rancangan penjenisan karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Puas periode ini karya sastra di supremsi maka dari itu syair, kelong, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan supremsi Islam yang kuat meliputi sebagian samudra negara tepi laut Sumatra dan Jazirah Malaya. Di Sumatra adegan paksina muncul karya-karya penting beradat Jawi, terutama karya-karya keimanan. Hamzah Fansuri adalah yang permulaan di antara katib-perekam terdahulu angkatan Pujangga Lama, pemula tembang Indonesia.[3]

Dari keraton Sultanat Aceh pada abad XVII unjuk karya-karya klasik selanjutnya, nan minimal terkemuka yakni karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[4]

Karya Sastra Pujangga Lama



[sunting

|
sunting sendang]



Sejarah



[sunting

|
sunting sumber]



  • Sejarah Melayu (Malay Annals)
  • Tuhfat al-Nafis

    (Bingkisan Berharga) karya Emir Ali Haji
Hikayat



[sunting

|
sunting sendang]



Syair



[sunting

|
sunting sumber]



Gurindam



[sunting

|
sunting perigi]



  • Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji
Kitab agama



[sunting

|
sunting perigi]



  • Syarab al-‘Asyiqin

    (Minuman Para Pecinta) makanya Hamzah Fansuri
  • Asrar al-‘Arifin

    (Sentral-rahasia para Gnostik) maka itu Hamzah Fansuri
  • Pendar ad-Daqa’iq

    (Binar lega kehalusan-kehalusan) makanya Syamsuddin Pasai
  • Bustan as-Salatin

    (Taman prabu-raja) maka itu Nuruddin ar-Raniri

Sastra Melayu Lama



[sunting

|
sunting sumber]



Karya sastra di Indonesia nan dihasilkan antara tahun 1870 – 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatra seperti mana “Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatra lainnya”, orang Tionghoa dan umum Indo-Eropa. Karya sastra mula-mula nan terbit sekitar masa 1870 masih lengkung langit tempatan buram syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra Jawi Lama



[sunting

|
sunting sumber]



  • Robinson Crusoe (terjemahan)
  • Teman-lawan Ahmar
  • Mengerubuti Bumi intern 80 hari (terjemahan)
  • Graaf de Monte Cristo (tafsiran)
  • Kapten Flamberger (tafsiran)
  • Rocambole (terjemahan)
  • Nyai Dasima makanya G. Francis (Indo)
  • Momongan uang Ramu oleh A.F van Dewall
  • Kisahan Perjalanan Mualim Bontekoe
  • Cerita Pelayaran ke Pulau Kalimantan
  • Kisah Pelayaran ke Makassar dan bukan-lainnya
  • Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
  • Kisahan Nyi Paina
  • Cerita Nyai Sarikem
  • Kisah Nyonya Kong Hong Nio
  • Putri Leonie
  • Corak Sari Jawi maka itu Kat S.J
  • Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
  • Kisah Rossina
  • Nyai Isah oleh F. Wiggers
  • Sandiwara boneka boneka Raden Bei Surioretno
  • Syair Java Bank Dirampok
  • Lo Fen Kui maka semenjak itu Gouw Peng Liang
  • Kisahan Oey See makanya Thio Tjin Boen
  • Tambahsia
  • Busono maka dari itu R.M.Tirto Adhi Soerjo
  • Nyai Permana
  • Hikayat Siti Mariah makanya Hadji Moekti (indo)
  • dan masih ada seputar 3000 judul karya sastra Jawi-Lama lainnya

Bala Balai Pustaka



[sunting

|
sunting sumber]



Armada Balai Pusataka ialah karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balairung Wacana. Prosa (wajah, novel, kisahan ringkas dan drama) dan tembang mulai menggantikan singgasana syair, puisi lama, gurindam dan hikayat privat khazanah sastra di Indonesia pada hari ini. Aula Referensi yakni penerbit yang didirikan dengan tanda
Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur

(bahasa Indonesia: “Persen cak bagi Referensi Rakyat”) maka dari itu pemerintah Hindia Belanda pada terlepas 15 Agustus 1908.

Auditorium Pustaka didirikan pada musim itu bikin memproduksi objek teks lakukan sekolah yang dibangun maka dari itu pemerintah kolonial Belanda diyakini sebagai penggalan berpokok Strategi Etis atau
Politik Balas Budi

(Belanda:
Ethische Politiek). Aula Wacana juga pada hari itu bertujuan untuk mencegah kontrol buruk berpokok bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah nan banyak menyoroti hidup pernyaian (cabul) dan dianggap mempunyai misi strategis (liar). Balairung Teks menerbitkan karya horizon lokal tiga bahasa adalah bahasa Melayu-Jenjang, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam kuantitas terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.

Binar Sutan Iskandar dapat disebut perumpamaan “Kaisar Angkatan Balai Pustaka” karena cak semau banyak sekali karya tulisnya pada perian tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada bala ini merupakan “novel Sumatra”, dengan Minangkabau laksana noktah pusatnya.[5]

Sreg sekarang, novel
Siti Nurbaya

dan
Riuk Asuhan

menjadi karya yang patut bermakna. Keduanya memajukan kritik radikal terhadap rasam-istiadat dan leluri kolot yang memborgol. Intern perkembangannya, tema-tema inilah nan banyak diikuti oleh perekam-penyadur lainnya sreg musim itu.

Penulis dan Karya Sastra Laskar Auditorium Teks:

  • Merari Siregar
  • Azab dan Sengsara (1920)
  • Binasa kerna Putri Priangan (1931)
  • Cinta dan Hawa Nafsu
  • Marah Roesli
  • Siti Nurbaya (1922)
  • La Hami (1924)
  • Momongan asuh dan Kemenakan (1956)
  • Muhammad Yamin
  • Kapling Air (1922)
  • Indonesia, Mencurah Darahku (1928)
  • Takdirnya Dewi Antiwirawan Telah Berkata
  • Ken Arok dan Ken Mongsang (1934)
  • Cuaca Sutan Iskandar
  • Apa Dayaku karena Aku Seorang Perawan (1923)
  • Cinta yang Mengangkut Maut (1926)
  • Pelecok Memilah-milah (1928)
  • Karena Mentua (1932)
  • Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
  • Hulubalang Raja (1934)
  • Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
  • Catat Sutan Sati
  • Bukan Disangka (1923)
  • Sengsara Membawa Lemak (1928)
  • Tak Mengembari Kekuatan (1932)
  • Memutuskan Pertalian (1932)
  • Djamaluddin Adinegoro
  • Darah Muda (1927)
  • Asmara Jaya (1928)
  • Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
  • Pertemuan (1927)
  • Abdul Muis
  • Riuk Asuhan (1928)
  • Persuaan Djodoh (1933)
  • Lega hati Datuk Madjoindo
  • Menyilih Dosa (1932)
  • Si Cebol Rindukan Wulan (1934)
  • Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Pujangga Plonco



[sunting

|
sunting sendang]



Pujangga Plonco muncul bagaikan reaksi atas banyaknya pemeriksaan yang dilakukan oleh Aula Pustaka terhadap karya catat kritikus sastra pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang mencantol rasa semangat kebangsaan dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, chauvinistis dan elitis.

Pada perian itu, terbit lagi majalah Pujangga Plonco nan dipimpin maka dari itu Sutan Kadar Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Auditorium Pustaka (periode 1930 – 1942), dipelopori maka itu Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya
Cucur Terkembang, menjadi salah satu novel yang bosor makan diulas makanya para sastrawan Indonesia. Selain Jib Terkembang, pada perian ini novel
Tenggelamnya Kapal van der Wijck

dan
Kalau Tak Untung

menjadi karya terdepan sebelum perang.

Waktu ini suka-suka dua kelompok kritikus sastra Pujangga baru yaitu:

  1. Kelompok “Seni bagi Seni” nan dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
  2. Keramaian “Seni kerjakan Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru



[sunting

|
sunting sumber]



  • Sutan Kodrat Alisjahbana
    • Lentera Tak Kunjung Padam (1932)
    • Serakan Udara – koleksi syair (1935)
    • Layar Terkembang (1936)
    • Anak Gadis di Sarang Penyamun (1940)
  • Hamka
    • Di Sumber akar Lindungan Ka’bah (1938)
    • Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939)
    • Empunya Direktur (1950)
    • Di privat Ngarai Kehidoepan (1940)
  • Armijn Pane
    • Borgol (1940)
    • Jiwa Berjiwa
    • Beleganjur Djiwa – kumpulan tembang (1960)
    • Djinak-djinak Merpati – dagelan (1950)
    • Narasi Antara Orang – kompilasi cerpen (1953)
    • Habis Palsu Terbitlah Seri – Terjemahan Surat R.A. Kartini (1945)
  • Sanusi Pane
    • Pancaran Cinta (1926)
    • Puspa Udara (1927)
    • Madah Kelana (1931)
    • Sandhyakala Embok Majapahit (1933)
    • Kertajaya (1932)
  • Tengku Amir Hamzah
    • Nyanyi Sunyi (1937)
    • Begawat Gita (1933)
    • Kemenyan Timur (1939)
  • Roestam Effendi
    • Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
    • Pertjikan Khalwat
  • Sariamin Ismail
    • Kalau Tak Untung (1933)
    • Supremsi Hal (1937)
  • Anak Agung Pandji Tisna
    • Ni Rawit Ceti Penjual Sosok (1935)
    • Sukreni Dara Bali (1936)
    • I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
  • J.E.Tatengkeng
    • Rindoe Kegeraman (1934)
  • Fatimah Hasan Delais
    • Kehilangan Mestika (1935)
  • Said Daeng Pengulek-ulek
    • Pembalasan
    • Karena Kerendahan Boedi (1941)
  • Dermawan Halim
    • Palawija (1944)

Bala 1945



[sunting

|
sunting sumber]



Camar duka sukma dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Armada ’45. Karya sastra bala ini bertambah realistik dibanding karya Barisan Pujangga plonco yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra plong laskar ini banyak bercerita akan halnya perjuangan merebut kemerdekaan sebagaimana halnya syair-syair Chairil Anwar. Ahli sastra angkatan ’45 mempunyai konsep seni yang diberi titel “Tauliah Bekas”. Konsep ini menyatakan bahwa para ahli sastra armada ’45 mau netral berkreasi sesuai pataka kemandirian dan lever hati kecil. Selain
Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen
Berbunga Ave Maria ke Jalan Tak ke Roma

dan
Atheis

dianggap bagaikan karya pembaharuan prosa Indonesia.

Notulis dan Karya Sastra Barisan 1945



[sunting

|
sunting mata air]



  • Chairil Anwar
    • Kelikir Ekstrem (1949)
    • Gelegar Campur Debu (1949)
  • Asrul Luhur, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
    • Tiga Mengaum Takdir (1950)
  • Bakri Siregar
    • Jenama Bahagia (1944)
    • Tugu Polos. Sandiwara radio (1950)
    • Jejak Ancang (1953)
  • Idrus
    • Mulai sejak Ave Maria ke Djalan Enggak ke Roma (1948)
    • Aki (1949)
    • Nona dan Kebangsaan
  • Achdiat K. Mihardja
    • Atheis (1949)
  • Muhammad Balfas
    • Limbung-dok Retak (1952)
    • Tamu Malam. Sandiwara radio radio (1957)
  • Trisno Sumardjo
    • Katahati dan Polah (1952)
  • Utuy Tatang Sontani
    • Suling (sandiwara) (1948)
    • Tambera (1949)
    • Mulanya dan Mira – drama satu episode (1962)
  • Suman Hs.
    • Belas kasih Ta’ Terlarai (1961)
    • Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
    • Pertjobaan Pintu ajek (1940)



Legiun 1950–1960-an



[sunting

|
sunting sumber]



Laskar 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Cerita asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan pusparagam tembang. Majalah tersebut tarik urat sampai musim 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.

Rendra

di halam Bengkel Teater.

Pada legiun ini muncul gerakan komunis dikalangan ahli sastra, yang berintegrasi lengkung langit domestik Bagan Kebudajaan Rakjat (Lekra) nan berkonsep sastra realisme sosialis. Timbullah perceraian dan polemik yang berhanyut-hanyut di antara landasan kritikus sastra di Indonesia pada mulanya musim 1960; menyebabkan mandegnya urut-belai sastra karena masuk kedalam kebijakan praktis dan berakhir sreg periode 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.



Pencatat dan Karya Sastra Angkatan 1950–1960-an



[sunting

|
sunting perigi]



Angkatan 1966 – 1970-an



[sunting

|
sunting perigi]



Pasukan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) bimbingan Mochtar Lubis.[6]

Semangat
avant-garde

sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada laskar ini yang sangat beraneka ragam kerumahtanggaan sirkulasi sastra dengan munculnya karya sastra berideologi surealistik, distribusi kesadaran, arketip, dan lucu. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak mendukung dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan sreg legiun 1950-an nan juga tertera n domestik kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan tercantum paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Bilang satrawan pada laskar ini antara bukan: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak pun nan lainnya.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966



[sunting

|
sunting mata air]



  • Taufik Ismail
    • Malu (Aku) Kaprikornus Insan Indonesia
    • Totaliterisme dan Baluwarti
    • Kunci Pengunjung Musim Perjuangan
    • Syair Ladang Milu
    • Kenalkan
    • Saya Hewan
    • Tembang-sajak Langit
  • Sutardji Calzoum Bachri
    • O
    • Amuk
    • Pisau caluk
  • Abdul Hadi WM
    • Khalwat (1976)
    • Potret Tangga Sendiri Peziarah Rantau Sanur (1975)
    • Terjemur Pada Angin (1977)
  • Sapardi Djoko Damono
    • Dukamu Kuat (1969)
    • Ain Pisau (1974)
  • Goenawan Mohamad
    • Parikesit (1969)
    • Interlude (1971)
    • Potret Seorang Penyair Muda Bak Sang Malin Bermanja (1972)
    • Berahi, Sastra, dan Kita (1980)
  • Umar Kayam
    • Seribu Kunang-kunang di Manhattan
    • Sri Sumarah dan Bawuk
    • Ldulfitri di Cemping
    • Sreg Suatu Ketika di Persinggahan Sangging
    • Kelir Tanpa Sempadan
    • Para Priyayi
    • Urut-urutan Menikung
  • Danarto
    • Godlob
    • Adam Makrifat
    • Pujaan
  • Nasjah Djamin
    • Hilanglah sang Anak Hilang (1963)
    • Gairah bagi Arwah dan lakukan Sepi (1968)
  • Putu Wijaya
    • Bila Malam Bertambah Malam (1971)
    • Dawai (1973)
    • Stasiun (1977)
    • Industri
    • Gres
    • Bandar
  • Djamil Suherman
    • Avontur ke Darul baka (1962)
    • Penampakan (1963)
  • Titis Basino
    • Sira, Hotel, Pertinggal Keputusan (1963)
    • Lesbian (1976)
    • Tak Rumahku (1976)
    • Dermaga Hati (1978)
    • Pelabuhan Hati (1978)
  • Leon Agusta
    • Monumen Safari (1966)
    • Garitan Tahir (1975)
    • Di Asal Bayangan Sang Puspa lever (1978)
    • Hukla (1979)
  • Iwan Simatupang
    • Ziarah (1968)
    • Cengkar (1972)
    • Merahnya Merah (1968)
    • Keong (1975)
    • RT Zero/RW Kosong
    • Tegak Lurus Dengan Langit
  • M.A Salmoen
    • Periode Bergolak (1968)
  • Parakitri Tahi Simbolon
    • Ibu (1969)
  • Chairul Harun
    • Warisan (1979)
  • Kuntowijoyo
    • Lektur di Atas Bukit (1976)
  • M. Balfas
    • Galengan-gudi Retak (1978)
  • Mahbub Djunaidi
    • Dari Hari ke Perian (1975)
  • Wildan Yatim
    • Pergolakan (1974)
  • Harijadi S. Hartowardojo
    • Perjanjian dengan Maut (1976)
  • Ismail Marahimin
    • Dan Perang Pula Usai (1979)
  • Wisran Hadi
    • Empat Orang Melayu
    • Perkembangan Lurus

Angkatan 1980 – 1990an



[sunting

|
sunting mata air]



Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu selepas hari 1980, ditandai dengan banyaknya durja percintaan, dengan ahli sastra wanita yang menonjol pada masa tersebut yakni Marga Ufuk. Karya sastra Indonesia sreg periode bala ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan awam.

Bilang sastrawan yang boleh mewakili tentara dekade 1980-an ini antara tak ialah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Magrib, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.

Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia tak yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara enggak:
Sreg Sebuah Kapal,
Namaku Hiroko,
La Barka,
Perjumpaan Dua Lever, dan
Lever Yang Berdamai. Salah satu ciri partikular nan menonjol sreg novel-novel nan ditulisnya yaitu kuatnya kontrol pecah budaya barat, di mana aditokoh umumnya memiliki konflik dengan pemikiran timur.

Mira W dan Marga Horizon yakni dua kritikus sastra wanita Indonesia nan menonjol dengan fiksi romantis nan menjadi ciri-ciri novel mereka. Plong biasanya, tokoh penting kerumahtanggaan novel mereka ialah wanita. Bertolak pantat dengan novel-novel Balai Pustaka nan masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 di mana inisiator utama sayang dimatikan cak bagi menggarisbawahi rasa romantisme dan idealisme, karya-karya puas era 1980-an biasanya selalu mengecundang peran antagonisnya.

Namun yang bukan dapat dilupakan, pada era 1980-an ini sekali lagi tumbuh sastra nan beraliran pop, merupakan lahirnya sejumlah novel naik daun yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Bahkan berbunga kemasan yang ngepop inilah diyakini bersemi generasi demen baca nan kemudian tertarik mengaji karya-karya yang lebih berat.

Ada stempel-nama tersohor unjuk berasal komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara bukan: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.



Penulis dan Karya Sastra Legiun 1980–1990an



[sunting

|
sunting sumur]



Source: https://ifaworldcup.com/buku-pelajaran-bahasa-dan-sastra-indonesia-tahun-1995/

Posted by: skycrepers.com