Catatan Observasi Dan Kegiatan Siswa Pelajaran Matematika Sd Kelas 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Bidang Belakang Masalah
Salah satu penunjuk keberhasilan pesuluh mencapai intensi pembelajaran yang sudah di tetapkan yaitu siswa mutakadim mencapai nilai sesuai standar Standar Ketuntasan Minimal (KKM). Dengan ketercapaian KKM tersebut pada strata kelas bawah yang lebih tinggi.

Dibandingkan dengan netra tuntunan yang lain, Matematika merupakan mata pelajaran yang paling sulit. Banyak petatar nan merasakan kesulitan dalam mempelajari materi indra penglihatan latihan Matematika. Meskipun alokasi musim untuk netra les ilmu hitung menduduki urutan terbanyak sama dengan alokasi musim untuk alat penglihatan pelajaran Bahasa Indonesia merupakan lima jam pelajaran perminggu, namun kenyataannya nilai yang diperoleh para murid banyak nan tidak sesuai  dengan harapan.

Kenyataan di inferior tempat peneliti mengajar, khususnya netra kursus matematika masih menjadi momok bagi sebagian samudra siswa. Hal ini berdampak pada akuisisi nilai rata-rata hasil ulangan buku harian yang rendah dibandingkan dengan indra penglihatan pelajaran yang lain. Rendahnya hasil sparing tersebut bisa dilihat berpunca hasil ulangan buletin mula-mula dan kedua nan telah dilaksanakan oleh siswa Rata-rata angka ulangan harian I doang mencapai 53, sedangkan plong ulangan harian II rata-ratanya 55, rata- rata dari dua kali ulangan harian tersebut merupakan 54.

Tidak saja pengkaji, semua guru sebagai agen pembelajaran karuan mempunyai harapan yang sekufu, merupakan peserta- siswinya memperoleh angka yang tahapan, alias minimum setolok dengan KKM. Sebab dengan memperoleh nilai yang tinggi, petatar akan naik inferior atau meruap tentamen. Bagi mencapai harapan-harapan tersebut bukanlah hal yang mudah. Teristiadat adanya sinergi yang setinggi berpunca berbagai komponen.

Peneliti merasakan adanya kesenjangan antara kondisi riil di kelas bawah dengan pamrih nan diinginkan. Kondisi nyata yang terjadi kelas V SD Kawasan …………… netra pelajaran matematika puas semester II terbit dua kali ulangan harian sekadar diperoleh nilai rata-rata 54.  Padahal tujuan penyelidik manifestasi yang diperoleh peserta minimal mengaras Barometer Ketuntasan Paling kecil (KKM).

Meluluk adanya ketakseimbangan tersebut, peneliti sebagai agen pembelajaran tidak tinggal sengap. Berbagai pendirian sudah lalu dilakukan bikin mencapai hasil yang maksimal, salah satunya dengan mencoba menunggangi perangkat peraga dalam pembelajaran dan melaksanakan pengkhususan tindakan kelas.

B. Identifikasi Masalah
Mengapa hasil belajar indra penglihatan pelajaran matematika masih rendah? Mengapa hasil sparing matematika khususnya akan halnya aspek bangun urat kayu sangat terbatas? Apakah karena materi tersebut terlalu sukar kerjakan tingkatan peserta sekolah bawah? Apakah alokasi waktu yang tersedia untuk aspek pulang ingatan ruang terlalu kurang? Apakah dikarenakan tidak tepatnya penghutanan konsep asal mengenai bangun ruang? Apakah karena minimalnya alat nan digunakan bagi pembelajaran aspek bangun urat kayu? Apakah dikarenakan belum optimalnya penggunaan alat peraga bangun ruang?

C. Pemagaran Masalah
Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar indra penglihatan pelajaran ilmu hitung masih rendah. Lain mungkin semua faktor penyebab rendahnya hasil membiasakan dapat diteliti dalam sati buah penelitian. Dalam Pengkajian Tindakan Kelas ini, peneliti hanya akan meneliti rendahnya hasil berlatih ain les matematika bagi murid kelas V SD Negeri 1 Kedungurang pada semester II periode pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 20 peserta.

Semenjak sekian banyak alat peraga nan ada, pengkaji sahaja memanfaatkan alat peraga nan berkaitan dengan aspek bangun ulas. Lebih khusus lagi adalah perkakas peraga bikin mengklarifikasi materi tentang jaring-jaring karton dan balok. Alat peraga nan digunakan merupakan alat peraga yang mudah didapatkan dan murah harganya. Alat peraga yang dimaksud adalah dagangan medan seperti dus bekas basung pasta gigi, dus tempat bungkus kapur belanda, dan kardus keluaran lainnya yang berbentuk kardus dan balok.

Berdasarkan materi cak bimbingan dan perkakas peraga yang digunakan, maka penelitian ini diberi judul : “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Jala-jaring Karton dan Balok melalui Penggunaan Alat Peraga Produk Arena bagi Siswa Kelas V SD Negeri ……………..plong Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011”.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan parasan belakang keburukan, identifikasi masalah, dan pembatasan ki kesulitan sebagaimana tersebut  diatas, maka dibuatlah rumusan kelainan n domestik eksplorasi tindakan papan bawah ini umpama berikut: “Apakah melalui instrumen peraga barang bekas dapat meningkatkan hasil berlatih Matematika kantung kubus dan balok untuk siswa kelas V SD Negeri …….. pada semester II tahun pelajaran 2010/2011?”

E. Maksud Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan mahajana penekanan tindakan kelas ini yaitu meningkatkan hasil belajar alat penglihatan pelajaran Matematika melalui penggunaan alat peraga

2. Tujuan Khusus
Maksud eksklusif pengkajian tindakan papan bawah ini adalah buat meningkatakan hasil belajar mata pelajaran Matematika pundi-pundi kubus dan balok melalui penggunaan perlengkapan peraga barang bekas bagi pelajar papan bawah V SD Negeri ……… Unit Pendidikan Kecamatan …….. tahun latihan 2010/2011.

F. Manfaat Penelitian
Penekanan tindakan kelas ini mempunyai kurnia bagi pemangku kepentingan proses pembelajaran : siswa, guru, pemimpin sekolah, serta petugas taman bacaan sekolah.

1.  Manfaat bagi Murid

Dengan memanfaatkan alat peraga dagangan eks dalam pembelajaran Matematika rajut karton dan balok, maka hasil berlatih siswa  meningkat. Peningkatan tersebut dapat dilihat bersumber hasil pemeriksaan ulang akhir siklus I nan lebih tahapan dari hasil tes pada kondisi awal, dan nilai tes akhir siklus II dari pada nilai tes akhir siklus I.

Setelah mengetahui bahwa penggunaan alat peraga barang lulusan dalam proses sparing ilmu hitung ternyata dapat meningkatkan hasil belajar, maka peserta akan lebih bersemangat privat mengimak kegiatan pembelajaran ilmu hitung.

2.  Keefektifan untuk Guru

Pemanfaatan alat peraga akan menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih bermutu. Riuk satu indikasi penerimaan yang bermutu adalah terjadinya peningkatan hasil berlatih petatar. Dalam pembelajaran  Ilmu hitung jala-jala kubus dan balok dengan menunggangi perabot peraga produk bekas hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Keberhasilan ini akan membuat guru termotifasi buat menggunakan radas peraga n domestik mengelola kegiatan pembelajarannya di papan bawah.  Selain itu dengan melaksanakan pendalaman tindakan kelas ini pada gilirannya akan mencetak guru nan profesional

3. Manfaat untuk

Kepala Sekolah

Dengan guru-temperatur yang senantiasa meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya, maka hasil belajar petatar akan meningkat. Kenaikan hasil belajar peserta akan berkarisma pada peningkatan prestasi sekolah. Pertambahan prestasi sekolah ini merupakan salah satu penanda keberhasilan Kepala Sekolah dalam membimbing guru dan laksana  bukti keberhasilan internal memimpin sekolahnya.

4. Manfaat bagi Petugas Taman bacaan Sekolah

Hasil studi ini sekali lagi dapat disimpan di taman pustaka sekolah bakal meninggi koleksi kunci bacaan. Minimum lain cak semau tiga manfaat apabila hasil penyelidikan ini disimpan di perpustakaan sekolah. Permulaan, bakal guru yang membacanya akan memahami keistimewaan pendayagunaan gawai peraga barang bekas dalam pembelajaaran Matematika. Kedua, guru yang  membaca hasil pendalaman ini akan semakin optimistis bahwa pemanfaatan alat peraga barang jebolan dapat meningkatkan hasil belajar peserta. Ketiga, laporan hasil pendalaman ini juga boleh  dijadikan referensi bagi suhu nan akan melaksanakan pendalaman tindakan kelas. Dengan tersedianya arsip Riset Tindakan Papan bawah di taman bacaan, maka petugas taman pustaka dapat membantu guru yang memerlukan sasaran teks mengenai PTK.

Ki II

Kajian TEORI DAN Penyajian HIPOTESIS

A. Kajian Teori

Ibarat dok kerangka nanang buat pengkaji dan pembaca dalam memahami isi catatan ini, maka terlebih dahulu peneliti paparkan signifikansi-pengertian asal nan diambil berusul berbagai literatur bikin menguraikan variabel-variabel yang terdapat dalam judul penggalian tindakan kelas ini.

Adapun variabel-variabel nan terdapat dalam penelitian tindakan papan bawah nan berjudul : “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Jaring-Jaring Kubus dan Balok melalui Penggunaan Gawai Peraga Barang Keluaran bagi Siswa Kelas V SD Daerah …………. puas Semester II Waktu Palajaran 20
10/201
1“
ini merupakan hasil belajar ilmu hitung kantung kubus dan balok dan penggunaan alat peraga barang lepasan.

1. Hasil Belajar Matematika Pura Kubus dan Balok

a. Membiasakan

Banyak pakar pendidikan yang merumuskan tentang teori sparing. Sejumlah pendapat tukang tentang belajar yang penyelidik sajikan dalam penelitian tindakan inferior ini antara lain pendapat dari Winkel, Puji Santosa,  dan E.R Hilgart.

Menurut Winkel ( dalam Muchlisoh, dkk, 1994 : 49 ) yang dimaksud dengan berlatih merupakan aktivitas mental / psikis yang berlantas dalam interaksi aktif dengan lingkungan, nan menghasilkan perubahan-transisi dalam takrif, pemahaman, kelincahan, dan nilai sikap. Perubahan ini nisbi konstan (tetap) alias berbekas. Puji Santosa berpendapat bahwa belajar yakni pertukaran perilaku manusia atau perubahan kapabilitas nan relative permanent sebagai hasil camar duka (Puji Santosa, 2005 : 1.7). Sedangkan E.R Hilgart merumuskan :
“Learning is the process by which on activity originates or is changed through training procedures”. (E.R Hilgart dalam Sri Anitah. W). Membiasakan merupakan sesuatu kegiatan yang dilakukan yang bisa jadi membuahkan atau menghasilkan pola kelakuan tertentu (nan belum dimiliki sebelumnya) tetapi boleh jadi pula merubah transendental ragam (yang sudah dimiliki sebelumnya). Sempurna polah atau tingkah laku dari seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimiliki bani adam tersebut (aturan-sifatnya, pengalamannya, pengetahuannya, keterampilannya, sikapnya, kejadian jasmaninya dan sebagainya) tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai rupa faktor, diantaranya merupakan galakan dari n domestik diri (motif), incaran yang dipelajari, perkakas-alat, banyaknya waktu yang digunakan , cara belajar dan sebagainya.

b. Hasil Belajar

Hasil belajar dapat disamakan pengertiannya kelapa muda dagangan belajar, yaitu yaitu suatu arketipe ragam, biji, makna, penghormatan, kecakapan, keterampilan yang berguna bikin mahajana. (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990 : 172). Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu serebral, afektif, dan psikomotorik. Sirep kognitif adalah hasil belajar nan berupa publikasi-pengetahuan atau kemampuan-kemampuan bau kencur yang bersifat keilmuan. Ranah afektif ialah hasil berlatih yang berupa pertukaran-perlintasan prilaku misal akibat telah dilakukan proses membiasakan. Sedangkan ranah psikomotorik merupakan hasil belajar yang berupa kelincahan-kelincahan praktis oleh anggota  badan sama dengan tangan, kaki, alat alat pencium dan sebagainya. Untuk mata pelajaran matematika, hasil belajar yang diperoleh peserta didik bertambah dominan sreg ranah kognitif.

3. Hasil Belajar Matematika

Yang dimaksud hasil belajar Matematika ialah hasil sparing yang dicapai murid didik privat netra kursus Matematika setelah mengikuti kegiatan penerimaan kerumahtanggaan kurun waktu tertentu atau program tertentu. Hasil belajar tersebut berupa kemampuan-kemampuan baru nan menutupi teoretis ulah, poin, makna, sikap, apresiasi, kecakapan, kesigapan nan berguna bakal memecahkan problematika dalam indra penglihatan pelajaran Matematika khususnya dan problematika sosial pada umumnya.

Misal bukti telah dikuasainya kemampuan-kemampuan baru makanya peserta pelihara dinyatakan dengan nilai yang faktual angka-biji. Makin strata nilai yang diperoleh siswa asuh penting lebih tinggi pun tingkat kemampuan-kemampuan baru yang dikuasainya. Penilaian kelas boleh dilakukan melangkaui teknik tes ( tertulis, lisan, dan ulah ) dan nontes berupa belas kasih tugas, tes perbuatan/praktik dan himpunan hasil kerja siswa ( portofolio ). ( Depdiknas, 2002 : 5 ). Adapun jenis penilaian kelas meliputi ulangan buletin, pemberian tugas, dan ulangan awam.

Dalam penelitian tindakan kelas bawah ini, hasil belajar Ilmu hitung yang dimaksud yakni ponten mata tuntunan matematika jaring-pukat kubus dan balok yang diperoleh siswa kelas V SD Negeri 1 Kedungurang Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar sreg semester II Tahun Pelajaran 2010/2011.

d. Jaring-seser Dus dan Balok

Jala-jala merupakan rangkaian sisi suatu bangun nan dibuka ( direbahkan ). ( Drs. Julius Hambali, dkk, 1993 : 506 ). Sebagaimana jala-jala kubus berikut. Kubus dibuka dengan cara mengiris pada beberapa rusuknya seperti lembaga berikut :

Nan aktual gabungan heksa- kewedanan persegi yang susunannya serupa itu. Perikatan enam kawasan persegi nan susunannya sebagai halnya itu dinamakan ambai-jaring karton. Dengan serok-kisa kardus kita boleh membuat ( kembali ) kubus sebagai halnya sediakala. Sahaja tidak semua kombinasi enam daerah persegi ialah jaring-jala kubus, misalnya rangkaian enam daerah persegi berikut,

Perkariban enam wilayah persegi panjang yang susunannya sebagaimana itu dinamakan jaring-jaring balok. Dengan rajut balok kita dapat mewujudkan ( pula ) menjadi balok semula

e. Hasil Berlatih Matematika Jaring-jaring Kubus dan Balok

Yang dimaksud hasil belajar matematika jaring-jaring kubus dan balok adalah hasil membiasakan yang dicapai peserta didik sesudah mengikuti kegiatan pembelajaran alat penglihatan pelajaran  ilmu hitung materi jala-kisa kardus dan balok.

Dalam penelitian tindakan kelas bawah ini, hasil belajar Matematika ambai-bantau karton dan balok yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran Ilmu hitung materi jaring-jala kubus dan balok nan diperoleh pelajar kelas bawah V SD Negeri 1 ….. Unit Pendidikan Kecamatan …… pada semester II Tahun Kursus 2010/2011.

2. Alat Peraga Barang Jebolan

a. Alat Peraga

Instrumen peraga adalah alat pengajaran nan hanya untuk satu jam pelajaran saja. Fungsi radas peraga yaitu membantu guru memberikan materi pelajaran, agar pesuluh bisa lebih jelas menerima warta-keterangan tersebut ( Serbuk Ahmadi, 1978 : 95 ). Alat peraga sekali lagi disebut seumpama “perkakas bantu mengajar”, yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memahamkan anak-anak  mengenai pelajaran nan masih belum jelas, belum dimengerti ataupun masih dirasa sulit.

Bruner, intern  teorinya menyibakkan bahwa n domestik proses belajar murid sebaiknya diberi kesempatan bakal melipat benda-benda ( perabot peraga ). ( Ruseffendi, 1994 : 177 ). Dengan radas peraga tersebut, siswa boleh melihat langsung bagaimana keteraturan serta pola yang terwalak dalam benda nan sedang diperhatikannya.

Alat peraga internal pembelajaran Matematika diartikan sebagai perlengkapan lakukan menerangkan alias takhlik konsep Ilmu hitung. ( Ruseffendi, 1994 : 229 ). Ada sejumlah guna atau arti penggunaan perkakas peraga dalam pembelajaran Ilmu hitung, yaitu :

  1. Dengan adanya alat peraga anak-anak akan lebih banyak mengikuti tutorial Matematika dengan gembira, sehingga minatnya dalam mempelajari Matematika semakin raksasa. Anak akan doyan, terangsang, terjerumus, dan beraksi positif internal belajar Matematika.
  2. Dengan disajikannya konsep abstrak matematika dalam bentuk konkret, maka petatar pada tingkat-tingkat yang lebih rendah akan lebih mudah memahami dan mengerti.
  3. Alat peraga bisa membantu buku tilik ruang, karena tidak mengandaikan tulangtulangan-bentuk geometri terutama bentuk geometri ira, sehingg dengan melalui benda-benda nyata akan terbantu ki akal tiliknya, sehingga lebih berhasil n domestik belajarnya.
  4. Anak akan mencatat adanya nikah antara pengajaran dengan benda-benda yang cak semau di sekitarnya, atau antara hobatan dengan alam sekitarnya. ( Ruseffendi , 1994 : 227 ).

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa perangkat peraga ialah benda yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga pamrih penataran yang telah dirumuskan dapat dicapai dengan baik. Organ peraga dapat berupa benda sesungguhnya, model maupun tiruan benda, gambar-gambar, alat-organ elektronika sebagai perkakas tolong yang dapat didengar, dilihat, maupun dilihat dan didengar.

b. Barang Jebolan

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa “produk” merupakan benda umum ( segala apa sesuatu yang faktual atau berjasad ). Sementara itu kata “tamatan” berjasa komoditas-produk lama ( sudah dipakai ); sesuatu nan tunggakan sebagai kotoran ( sesuatu yang telah busuk, terbakar, tidak terpakai pula, dan sebagainya ). Berasal pengertian di atas, maka barang bekas dapat diartikan sebagai produk-barang lama alias jebolan yang sudah lalu tak terpakai lagi.

N domestik situasi pemanfaatan instrumen peraga dagangan wadah ini, pemeriksa memilih barang-barang yang sesuai dengan materi nan diajarkan yaitu barang-komoditas bekas yang berbentuk kubus dan balok.  Barang-barang nan dipilih dan digunakan misalnya kardus bekas bungkus pasta gigi, dus jebolan contong bola lampu ( buat cermin balok ), kardus palagan alat kosmetik, kardus lulusan pak minyak rambut ( kerjakan arketipe kubus ).

c.Alat Peraga Barang Tempat

Berlandaskan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa alat peraga dagangan bekasadalah benda atau komoditas-barang lulusan yang digunakanoleh guru kerumahtanggaan proses pengajian pengkajian sehingga harapan pembelajaran yang  telah dirumuskan dapat tercapai secara optimal. Dagangan-barang mantan yang digunakan ialah barang-produk arena yang relevan dengan materi yang diajarkan, yaitu pukat-serok kubus dan balok. Oleh karena itu peneliti sahaja memilih barang-barang medan yang berbentuk kubus dan balok. Lakukan memudahkan dalam membuat pundi-pundi kubus dan balok dengan menggunakan barang-barang bekas, maka terbiasa dilengkapi dengan gunting dan beberapa pakis pines.

B. Rajah Berpikir dalam-dalam

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan cara melakukan bilang tindakan yang terangkum internal siklus I dan siklus II untuk merubah kondisi awal nan berupa hasil sparing Matematika yang rendah menjadi lebih meningkat. Dengan pemanfaatan perabot peraga produk bekas riil bentuk-bentuk kubus dan balok diharapkan akan congah meningkatkan hasil belajar Matematika net-jaring kubus dan balok dari kondisi mulanya ke pengunci siklus I dan berlangsung sampai puas kondisi akhir siklus II.

1. Kondisi Semula

Lega kondisi awal diketahui bahwa guru belum menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran. Pemahaman siswa tentang konsep jala-jala dus dan balok masih kurang. Hal ini berdampak hasil sparing Matematika petatar invalid.

2. Tindakan


Melihat hasil berlatih peserta yang masih rendah tersebut, guru mencoba melakukan tindakan untuk dapat meningkatkannya. Upaya eskalasi hasil belajar Matematika jaring-jaring karton dan balok dilakukan dengan kaidah memanfaatkan barang-komoditas medan yang berbentuk kubus dan balok kerumahtanggaan proses pembelajaran. Eksploitasi radas peraga barang bekas tersebut dilakukan privat dua siklus.

Penggunaan alat peraga barang bekas berbentuk kubus dan balok pada siklus I berbeda dengan siklus II. Pada siklus I, kegiatan pembelajaran menunggangi gawai peraga barang wadah kubus dan balok secara kelompok. Siswa dikelompokkan menjadi  lima kelompok, tiap kelompok menggunakan satu set alat peraga. Hawa mencontohkan cara membuat jaring-jaring kubus dan balok dengan menggunakan radas peraga produk tamatan. Peserta mengamati dengan cermat penjelasan guru. Peserta secara kerubungan mengamalkan soal-soal les. Di intiha siklus I diadakan tes tertulis. Tiap siswa mengerjakan soal-soal tes secara individual.

Pada siklus II, kegiatan sparing mengajar menggunakan radas peraga barang lulusan berupa kardus dan balok secara individu. Tiap siswa memperalat satu set alat peraga dagangan bekas berupa dus dan balok yang dipersiapkan sendiri. Guru mempertontonkan cara membuat jaring-jaring kubus dan balok dengan menggunting beberapa rusuk pada bangun-bangun nan telah dipersiapkan kemudian dibuka / direbahkan. Pelajar kemudian menirunyaa secara individu.  Di akhir siklus II diadakan tes tertulis. Tiap peserta mengerjakan soal-tanya konfirmasi secara individual.

Masing-masing siklus dilaksanakan intern ukuran musim suatu ahad, bintang sartan dua siklus selesai dalam waktu dua minggu. N domestik satu minggu terwalak dua kelihatannya pertemuan. Pertemuan pertama diawali dengan pretes dan kemudian diteruskan untuk mengerjakan tindakan. Pertemuan kedua digunakan untuk melanjutkan tindakan kelas, dan 15 menit terakhir dimanfaatkan bakal mengadalakan tes akhir siklus. Pada siklus II juga dilakukan keadaan yang ekuivalen. Hanya  perbedaannya kalau pada siklus I, sutra kerja dikerjakan secara kerubungan, padahal pada siklus II, kenur kerja dikerjakan secara istimewa.

3. Kondisi Penghabisan

Dengan peningkatan kualitas dan total penggunaan alat peraga produk tempat substansial kubus dan balok berpunca siklus I ke siklus II diduga akan terjadi peningkatan hasil membiasakan matematika jaring-jaring kubus dan balok. Pertambahan kualitas pemakaian perlengkapan peraga komoditas palagan berupa kubus dan balok artinya pembinaan dan pembimbingan terhadap siswa ditingkatkan. Di siklus I alat peraga digunakan secara kerubungan, sedangkan di siklus II peranti peraga digunakan secara cucu adam. Pertambahan total penggunaan alat peraga barang lulusan berupa kubus dan balok maksudnya merupakan jumlah alat peraga ditambah menjadi lebih banyak. Tiap siswa membawa sendiri barang bekas berupa kubus dan balok.

Alur cerita dari kondisi mulanya, tindakan yang dilakukan oleh hawa privat siklus I dan siklus II, sampai dengan bagaimana asumsi hasil belajar yang dicapai petatar sreg kondisi intiha, dapat dilihat dalam gambar yang cak semau di halaman berikut :
kondisi_akhir

C. Pengajuan Hipotesis

Berdasarkan kajian teoritis dan rancangan berpikir dalam-dalam di atas, maka dalam penelitian tindakan papan bawah ini diajukan presumsi tindakan umpama berikut :
“Melintasi pendayagunaan peranti peraga produk arena dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pura kubus dan balok bagi siswa kelas V SD Negeri …….Unit Pendidikan Kecamatan …… lega semester II Tahun Pelajaran 20
10/201
1”.

Portal III

METODOLOGI

 PENELITIAN

A. Setting Riset

1. Masa Penggalian

a. Kapan Riset Dilakukan

Penelitian dilaksanakan pada semester II Waktu Kursus 2010/2011. Waktu yang dibutuhkan untuk berbuat penelitian tindakan inferior ini merupakan empat wulan. Dimulai wulan Januari 2011 sampai dengan bulan April 2011. Musim empat bulan tersebut dipergunakan untuk melakukan okta- kegiatan. Urutan kegiatan penelitian tindakan kelas bawah sejauh empat rembulan tersebut merupakan sebagaimana tercatat di dalam grafik jadwal kegiatan berikut ini :

Tabel 1

JADWAL KEGIATAN

No. Januari Februari Maret April
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
2
3
4
5
6
7
8

Keterangan :


Nomor 1 : Identifikasi Komplikasi
Nomor 2 : Perencanaan Tindakan
Nomor 3 : Penyusunan Usulan
Nomor 4 : Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Nomor 5 : Amatan dan Interpretasi Data

b. Alasan Pemilihan Perian Penelitian

Proses penelitian tindakan inferior dari perencanaan, pelaksanaan, pembahasan data sebatas dengan menyusun laporan akan berbuah dengan baik antara lain bila didukung dengan pemilihan waktu yang tepat. Dalam memilih waktu penelitian seperti tersebut di atas, pemeriksa berpedoman kepada jadwal kegiatan
On-Service
KKG Gugus  Program Bermutu yang dibiayai dengan DBL masa anggaran 2010

2. Arena Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini peneliti lakukan kepada siswa sekolah dasar di Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar. Unit Pendidikan Kecamatan …..mempunyai wilayah kerja 10 desa yang terdiri dari 32 Sekolah Dasar (SD) provinsi dan 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta.  Tidak semua peserta Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah pemeriksa jadikan subjek penelitian. Riset Tindakan Kelas ini dilakukan di Sekolah Sumber akar Negeri ……. Unit Pendidikan Kecamatan ……. karena sesuai dengan Surat Keputusan Superior Maktab Pendidikan Kabupaten Banyumas Nomor 824/083/2005 adapun Mutasi Pegawai Kewedanan Sipil Hawa SD dalam satu kecamatan di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas,  mulai 30 Juni 2005 pengkaji ditugaskan bikin mengajar di sekolah dasar tersebut. (Salinan Keputusan terlampir).  Sekolah Dasar Provinsi ……. terdiri semenjak 6 inferior. Tidak semua kelas dijadikan subjek pengkhususan. Sesuai dengan Tembusan Keputusan Kepala Sekolah Asal Negeri 1 Kedungurang adapun Pencatuan Tugas Suhu dalam Kegiatan Proses Belajar Mengajar maupun Bimbingan dan Penyuluhan Masa Tuntunan  2010/2011 peneliti diberi tugas mengajar di kelas V (Arsip Keputusan tentang  Pembagian Tugas Hawa dalam Proses Belajar Mengajar terlampir), maka Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di kelas V SD Distrik …… Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar pada semester II Musim Pelajaran 2010/2011.

Dengan melakukan penelitian dikelas wadah pengkaji bertugas maka peneliti boleh melakukan penelitian dengan tidak mengganggu tugas pusat umpama master papan bawah bahkan merupakan tindakan yang sinergis dengan tugas pokoknya. Masalah-masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar diteliti,   cak kenapa keluih masalah demikian, segala saja penyebabnya setakat ditemukan pemecahannya. Dengan demikian maka kualitas proses belajar mengajar dapat ditingkatkan sehingga dapat meningkat sekali lagi hasil berlatih siswa.

B. Subjek Penelitian

N domestik penajaman tindakan inferior tidak ada penentuan  populasi, tidak ada penentuan jumlah sampel  ataupun penentuan teknik sampling, yang suka-suka adalah subjek penelitian karena seluruh siswa yang ada di papan bawah tersebut dijadikan subjek penelitian.

Subjek investigasi tindakan kelas ini ialah siswa kelas bawah V SD Negeri ……. Unit Pendidikan Kecamatan …… Kabupaten Banyumas pada semester II Hari Pelajaran 2010/2011. Siswa kelas V SD Negeri …… berjumlah 20 siswa, yang terdiri dari 8 siswa pria dan 12 pesuluh perempuan.

Kehidupan peserta kelas V Sekolah Dasar Area 1 Kedungurang Tahun Tutorial 2010/2011 berlambak pada kisaran 11 tahun sampai dengan 13 tahun. Terdapat 8 siswa yang berusia 11 tahun dengan rincian 5 murid perempuan dan 3 pelajar lanang. Sebagian besar siswa kelas bawah V berusia 12 hari nan mencapai jumlah 9 pesuluh yang terdiri dari 5 siswa perempuan dan 4 siswa lelaki. Sedangkan murid nan berusia 13 hari berjumlah 3 siswa yang terdiri dari 2 siswa upik dan 1 siswa lanang. Rincian vitalitas siswa kelas V SD Negeri ……… pada semester II Musim Tutorial 2010/2011 sebagaimana termasuk intern tabel atma di bawah ini :

Grafik 2

USIA SISWA Kelas V

SDN ………..

Tahun Tuntunan 20
10/201
1

TAHUN SISWA Perawan Peserta LAKI-Junjungan
LAHIR Jiwa
1998 13 2 1
1999 12 5 4
2000 11 5 3
Kuantitas 12 8

Sebagian besar siswa papan bawah V SD Wilayah ….. tahun pelajaran 2010/2011 berpokok dari anak bini kurang makmur. Hal ini diperkuat dengan adanya 90 % (18 individu) ibu bapak/wali murid bermata pencaharian sebagai petani, dan hanya 2 orang tua siswa atau 10% yang bekerja sebagai karyawan swasta. Daftar pekerjaan ibu bapak pelajar kelas V tersebut dapat dilihat plong tabel berikut ini :

Grafik 3

DAFTAR Jalan hidup Manusia Lanjut usia SISWA Inferior V

TAHUN PELAJARAN 20
10/201
1

NO. PEKERJAAN Murid JUMLAH
Dayang Lanang
1. Tani 10 8 18
2. Pegawai Swasta 2 2
JUMLAH 12 8 20

Dilihat dari segi sosial ekonomi, sebagian besar dari mereka adalah dari keluarga golongan ekonomi lembam yang bekerja sebagai pekebun dengan penghasilan yang enggak menentu. Mereka adalah peladang yang tetapi minus n kepunyaan petak pertanian berupa kebun alias sawah. Kerjakan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka menjadi pengrajin sukrosa nyiur (penderes) dengan hasil biasanya tidak bertambah semenjak 5 kilogram perhari. Makanya karena kondisi sosial ekonomi nan demikian itu, maka adv amat kurang berpunca siswa papan bawah V nan punya trik cetak atau peruasan penunjang lainnya misal perigi belajar. Hal ini pasti sangat berwibawa terhadap prestasi hasil belajar mereka.

C. Sumber Data
Dalam Penelitian Tindakan Papan bawah terdapat dua mata air data, merupakan sumber data primer dan mata air data sekunder. Sumber data primer yakni data yang dari berpokok subjek pengkajian. Dalam Penelitian Tindakan Kelas bawah ini bak mata air data primer yakni murid kelas V SD Distrik 1 Kedungurang Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2010/2011. Sumber data sekunder yaitu data nan semenjak berusul selain sumber data primer, misalnya guru papan bawah lain dalam sekolah tersebut yang diajak berekanan maupun berserikat privat penyelidikan tindakan kelas.
Penelitian Tindakan Kelas ini cuma menggunakan sumber data primer yang berupa angka hasil berlatih. Suka-suka tiga variasi biji yang diambil dari subjek penyelidikan ini, yaitu skor kondisi awal, poin pengerjaan lembar kerja, dan kredit pengunci siklus. Dari tiga macam nilai tersebut yang dijadikan laksana dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar adalah ponten kondisi sediakala dan nilai intiha siklus. Karena dalam Penelitian Tindakan Kelas ini terdapat dua siklus, maka terdapat dua ponten akhir siklus, ialah nilai akhir siklus I dan skor akhir siklus II. Nilai permulaan diperoleh melalui tes di akhir siklus I, dan biji kedua diperoleh melewati pengecekan di akhir siklus II.

D. Teknik dan Alat Pengurukan Data
Untuk mendapatkan data dalam penekanan tindakan kelas ini diperlukan teknik dan perkakas pengurukan data. Dengan menggunakan teknik pengurukan data yang tepat, maka akan melampiaskan di internal melaksanakan riset, menjadi jelas runtut akan langkah-persiapan yang dilakukan. Padahal dengan alat akumulasi data yang benar maka akan diperoleh data nan akurat yang sangat dibutuhkan untuk membereskan masalah yang dihadapi.

1. Teknik Penimbunan Data
Dalam penelitian tindakan inferior ini terdapat dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan teknik nontes. Teknik pengumpulan data dengan teknik pembenaran terdapat tiga bentuk tes, yaitu tes tertulis, tes lisan dan tes ulah. Sedangkan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik nontes dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya yaitu melalui wawansabda, observasi, dan dokumentasi.
A. Pemeriksaan ulang.
Bagi keefektifan pengumpulan data intern Penelitian Tindakan Kelas ini digunakan teknik tes. Tidak semua bentuk tes digunakan buat pengumpulan data. Sesuai dengan materi mata tutorial yang diambil dalam penekanan tindakan inferior ini, merupakan mata pelajaran Matematika kelas V tentang jala-jala karton dan balok.
Nan dimaksud dengan tes di sini yakni tes hasil membiasakan, merupakan tes yang dilaksanakan diakhir siklus, yang berujud bakal mendapatkan tingkat keberuntungan membiasakan peserta setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu kerumahtanggaan rentang hari tertentu. Biji nan diperoleh subjek penelitian akan menunjukkan tinagkat keberuntungan sparing alias tingkat daya serap siswa terhadap materi pembelajaran.
Materi tes hasil belajar lega penutup siklus 1 berbeda dengan materi konfirmasi pada akhir siklus kedua. Materi pembuktian hasil belajar di akhir siklus 1 adalah “menentukan jaring-sauk-sauk karton” sedangkan materi tes pada penutup siklus II yaitu “menentukan kantung balok”
Testimoni hasil belajar dalam penekanan tindakan papan bawah ini dilaksanakan dua kali. Yang pertama dilaksanakan sreg sungkap 8 Februari 2011 dan yang kedua dilaksanakan plong terlepas 22 Februari 2011.

B. Teknik Nontes
a. Wawanrembuk
Interviu dilakukan makanya temperatur terhadap peserta berkaitan dengan kesulitan belajar yang dihadapi. Intern papan bawah terwalak dua keramaian, yakni kerubungan anak-anak nan pandai dan kelompok momongan-anak yang cacat pandai. Wawanrembuk dilakukan terhadap dua kerumunan tersebut. Kelompok anak-anak nan pandai umumnya bernas mengamalkan tugas dengan bermoral. Kebetulan buat subjek penelitian tindakan kelas ini yang menjadi kelompok anak-momongan pandai yakni murid-petatar putri, sedangkan siswa-siswa putra adalah kerubungan momongan-momongan yang kurang pandai.
Internal kegiatan membiasakan mengajar sehari-hari kelompok siswa-siswa upik menunjukkan perhatian nan tinggi, mampu menagkap maklumat nan disampaikan guru, mampu menaruh diri, pada saat harus memperhatikan penjelasan master dan bilamana harus membuat catatan. Dalam mengerjakan pelajaran-tutorial soal baik lisan atau termaktub mereka mampu menjawab dan melakukan dengan bermartabat.
Sebaliknya kelompok murid-peserta putra yang merupakan kerumunan momongan-anak yang tekor pandai, internal kegiatan belajar mengajar sehari-tahun sayang bermain sendiri, perhatian terhadap les adv minim, sulit menangkap laporan dari hawa, terbatas boleh menempatkan diri, kurang menyadari pada saat harus memperhatikan penjelasan guru, dan kapan sekali lagi harus membuat garitan. Akibatnya bila diberi cak bertanya baik secara lisan atau termuat mereka sedikit mampu menjawab ataupun mengerjakannya.

b. Observasi
Observasi dilakukan untuk mencamkan aktivitas pelajar selama penelitian dilakukan. Khususnya segala sesuatu yang berhubungan dengan eksploitasi radas peraga. Dimulai berpangkal awal siklus I dan berakhir puas intiha siklus II.
Observasi dilakukan maka dari itu guru pemeriksa dan master lain sebagai observer untuk dapat berkolaborasi. Yang paling mudah peneliti bagi yaitu berkomplot dengan guru papan bawah IV karena ruang inferior V dan inferior IV berapatan, sehingga pelaksanaan observasi tidak mengganggu kegiatan belajaar mengajaar di kelas bawah IV. Adapun keadaan-hal nan diobservasi adalah :
1). Kehadiran murid, peserta yang hadir berapa, kalau ada yang tak hadir segala apa alasannya.
2). Aktivitas murid khususnya berkaitan dengan eksploitasi radas peraga.
Observasi dilakukan sepanjang penelitian berlangsung yaitu dimulai berbunga siklus I dan berakhir pada siklus II.

c. Dokumentasi
Pengarsipan merupakan data yang berupa skor hasil sparing. Nilai hasil membiasakan tersebut diperoleh menerobos pengecekan yang dilaksanakan dua kali ialah di pengunci siklus I dan akhir siklus II. Dokumentasi pada penelitian tindakan kelas ini yaitu data nilai yang disimpan dikelas V SD Negeri 1 Kedungurang UPK Gumelar Kabupaten Banyumas pada semester II perian tutorial 2010/2011 buat ain pelajaran Matematika materi “Jala-jala karton” merupakaan hasil membiasakan di akhir siklus I dan “ Kantung balok” sebagai materi verifikasi plong penutup siklus II.

2. Alat Pengurukan Data
Alat pengumpulan data internal penelitian tindakan kelas ini terdiri dari lembar observasi tentang kehadiran siswa pada siklus I dan siklus II, lembar observasi tentang aktivitas peserta dalam menggunakan alat peraga pada siklus I dan siklus II, pedoman wawancara siklus I dan siklus II, instrument tes siklus I dan siklus II yang terdiri kisi-kisi, lawai soal, muslihat jawaban, kriteria penilaian, dan blngko hasil testimoni. Alat-instrumen pengumpulan data tersebut terdapat padaa lampiran Laporan Hasil Penajaman Tindakan Kelas ini.

E. Validasi Data
Buat memperoleh data yang valid terutama data kuantitatif maka dibuatlah perangkat tes yang terdiri berpokok kisi-kisi penulisan soal, butir-butir soal, kunci jawaban, dan kriteria penilaian. Perangkat tes tersebut meliputi peranti tes siklus I dan perangkat tes siklus II.

F. Analisis Data
Pasca- data intern penajaman tindakan inferior ini diperoleh maka selanjutnya dilakukan kajian. Data yang faktual nilai hasil belajar dianalisis dengan pendirian mencari nilai nilai terendah tertinggi, lazimnya nilai dan modusnya. Nilai yang dianalisis adalah nilai nan dipeoleh melalui testimoni di penghabisan siklus I dan akhir siklus II.
Di samping itu pun dilakukan amatan deskriptif komparatif antara kondisi semula dengan kondisi akhir siklus I, siklus I dengan siklus II, dan antara kondisi semula dengan kondisi penghabisan (penutup siklus II). Kondisi akhir siklus II ini merupakan kondisi akhir penelitian.

G. Prosedur Penelitian
1. Metode Penekanan
Sebelum mengadakan pengkhususan apalagi dahulu peneliti menentukan metode studi. Metode investigasi dalam penggalian ini adalah tindakan kelas yang ditandai adanya siklus. Ada tindakan yang dilakukan peneliti pada tiap-tiap siklusnya. Banyaknya siklus pada penelitian tindakan kelas bawah ini suka-suka dua, yaitu siklus I dan siklus II. Tiap-tiap siklus terdiri dari empat tahapan, ialah planning, acting, observing, dan reflecting.

2. Siklus I
a. Planning
Planning (perencanaan) tindakan menghampari tiga langkah yakni apersepsi, inti, dan penutup.
1) Apersepsi
Mengawali pertemuan pertama siklus I guru mengadakan tanya jawab akan halnya bangun urat kayu. Tujuannya adalah cak bagi mengingat kembali lembaga-bentuk bangun ruang. Kemudian dilanjutkan dengan menciptakan menjadikan kelompok, membagikan makao kerja siswa, dan meluangkan alat peraga secara keramaian.

2) Inti
Internal kegiatan inti ini suka-suka tiga tahap kegiatan pokok nan dilakukan siswa yakni tahap penggalian, elaborasi dan konfirmasi. Pada tahap eksploraasi siswa menuduh penjelasan hawa, mempertunjukkan alat peraga, dan mengerjakan kenur kerja siswa secara gerombolan. Pada tahap elaborasi petatar melaporkan hasil kerja keramaian, menanggapi hasil kerja kerumunan lain, serta menyempurnakan hasil kerja kelompok. Kemudian pada tahap konfirmasi siswa bersama guru menyusun kesimpulan, membuat catatan materi yang penting, serta memajangkan hasil kerja keramaian. Dalam pada itu guru juga melakukan observasi tentang keaktifan siswa sepanjang mengikuti proses belajar mengajar. Pembimbingan selalu diberikan kepada semua siswa. Pikiran yang besar terutama ditujukan kepada siswa nan kemampuannya tekor.
Di pengunci persuaan suhu membekali siswa dengan PR. PR ini berfungsi sebagai sarana pendalaman materi tutorial dengan memanfaatkan hari di rumah.

3) Penutup
Untuk mengetahui kemajuan siswa dalam proses sparing mengajar maka di penutup siklus diadakan pemeriksaan ulang. Pembenaran nan dilaksanakan di akhir siklus adalah tes termuat. Bentuk soal nan digunakan dalam tes penghabisan siklus adalah jabaran.
b. Acting
Pada tahap ini guru melakukan tindakan sesuai dengan bagan nan sudah lalu ditetapkan pada tahap planning (perencanaan ) yaitu meliputi kegiatan apersepsi, inti, dan penutup.
1) Apersepsi
Mengawali perjumpaan mula-mula siklus I guru mengadakan temu duga tentang bangun ira. Tujuannya adalah untuk mengingat sekali lagi bentuk-bentuk sadar ruang. Kemudian dilanjutkan dengan mewujudkan kelompok, membagikan lembar kerja siswa, dan menyediakan alat peraga secara kelompok.

2) Inti
Dalam kegiatan inti ini ada tiga tahap kegiatan pokok nan dilakukan siswa yaitu tahap penyelidikan, elaborasi dan tes. Plong tahap eksploraasi murid memperhatikan penjelasan guru, mencontohkan alat peraga, dan mengerjakan lembar kerja siswa secara kelompok. Sreg tahap elaborasi siswa melaporkan hasil kerja kelompok, menanggapi hasil kerja kelompok lain, serta menyempurnakan hasil kerja kerubungan. Kemudian sreg tahap pemeriksaan ulang siswa bersama master menyusun deduksi, membuat coretan materi yang berjasa, serta memajangkan hasil kerja kerumunan. Internal pada itu hawa juga melakukan observasi tentang keaktifan siswa selama mengajuk proses belajar mengajar. Pembimbingan selalu diberikan kepada semua siswa. Perhatian yang besar terutama ditujukan kepada siswa yang kemampuannya tekor.
Di akhir pertemuan hawa membekali siswa dengan PR. PR ini berfungsi sebagai media pendalaman materi cak bimbingan dengan memanfaatkan hari di rumah.
3) Penutup
Bakal memafhumi keberhasilan murid dalam proses belajar mengajar maka di akhir siklus diadakan tes. Konfirmasi nan dilaksanakan di akhir siklus merupakan tes tercantum. Rang soal yang digunakan dalam tes akhir siklus adalah uraian.

c. Observing
Observing (pengamatan) dilakukan maka dari itu guru bersama tampin sejawat (observer) terhadap keaktifan siswa dalam menirukan aktivitas pembelajaran di kelas. Observing mutlak dilakukan oleh suhu agar proses pembimbingan boleh berfungsi secara maksimal.
Observing juga dilakukan penyelidik terhadap data yang diperoleh, adalah berupa nilai verifikasi akhir siklus dengan cara mencari kredit umumnya pada setiap siklusnya.

d. Reflecting
Reflecting adalah kegiatan meninjau kembali tentang tindakan kelas yang telah dilaksanakan dan terhadap hasil sparing yang diperoleh murid di akhir siklus I. Rintangan atau kesuksesan dalam siklus I dijadikan radiks untuk melakukan tindakan inferior puas siklus II.
Reflecting juga dilakukan dengan pendirian membandingkan kondisi semula dengan kondisi akhir siklus I.

3. Siklus II
a. PlanningPlanning (perencanaan) tindakan untuk siklus II ini meliputi tiga awalan yakni apersepsi, inti, dan penutup.
1) Apersepsi
Mengawali pertemuan siklus II guru mengadakan interviu tentang bangun ruang khususnya tentang kubus. Tujuannya merupakan bagi memahfuzkan kembali gambar-bagan bangun ira yang sudah dipelajari puas siklus I. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tugas nan harus dikerjakan siswa, membagikan lembar kerja pesuluh, dan menyediakan alat peraga secara partikular.

2) Inti
Dalam kegiatan inti siklus II ini juga ada tiga tahap kegiatan pokok yang dilakukan siswa adalah tahap penggalian, elaborasi dan validasi. Pada tahap eksploraasi siswa memperhatikan penjelasan guru, mempertontonkan alat peraga, dan mengerjakan lembar kerja petatar yang terjamah secara tunggal. Pada tahap elaborasi siswa melaporkan hasil kerja, menanggapi hasil kerja jodoh tak, serta menetapi hasil kerja. Kemudian sreg tahap tes siswa bersama guru menyusun kesimpulan, membuat gubahan materi yang signifikan, serta memajangkan hasil kerja. Privat pada itu guru kembali melakukan observasi tentang keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Pembimbingan selalu diberikan kepada semua petatar. Perhatian yang besar terutama ditujukan kepada siswa yang kemampuannya cacat.
Di akhir pertemuan temperatur membekali siswa dengan PR. PR ini berfungsi sebagai alat angkut pengkhususan materi les dengan memanfaatkan waktu di rumah.

3) Intiha
Kerjakan memaklumi kemajuan petatar kerumahtanggaan proses berlatih mengajar maka di pengunci siklus diadakan tes. Tes yang dilaksanakan di akhir siklus yaitu pembenaran tertulis. Bentuk soal yang digunakan dalam tes akhir siklus yaitu jabaran.

b. Acting
Plong tahap ini guru mengerjakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan pada tahap planning (perencanaan ) yaitu meliputi kegiatan apersepsi, inti, dan penghabisan.
1) Apersepsi
Mengawali perjumpaan siklus II hawa mengadakan wawansabda tentang siuman ruang khususnya akan halnya kardus. Tujuannya merupakan untuk menghafal pula bentuk-bentuk ingat ira yang sudah dipelajari pada siklus I. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tugas yang harus diselesaikan siswa, membagikan lembar kerja siswa, dan menyediakan alat peraga secara individual.

2) Inti
Dalam kegiatan inti siklus II ini juga terserah tiga tahap kegiatan pusat yang dilakukan peserta ialah tahap eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Lega tahap eksploraasi siswa memperhatikan penjelasan hawa, mendemonstrasikan gawai peraga, dan mengerjakan sutra kerja pelajar yang dikerjakan secara tersendiri. Sreg tahap elaborasi pelajar melaporkan hasil kerja, menanggapi hasil kerja teman lain, serta memenuhi hasil kerja. Kemudian lega tahap konfirmasi murid bersama guru menyusun kesimpulan, membuat catatan materi yang penting, serta memajangkan hasil kerja. Dalam pada itu guru juga berbuat observasi tentang keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Pembimbingan selalu diberikan kepada semua peserta. Perhatian yang besar terutama ditujukan kepada siswa nan kemampuannya rendah.
Di akhir pertemuan temperatur membekali siswa dengan PR. PR ini berfungsi sebagai sarana pendalaman materi tuntunan dengan memanfaatkan masa di kondominium.

3) Pengunci
Bagi mengetahui kemajuan siswa dalam proses belajar mengajar maka di akhir siklus diadakan tes. Pengecekan yang dilaksanakan di akhir siklus adalah validasi tertulis. Rencana soal yang digunakan dalam konfirmasi akhir siklus adalah uraian.

c. Observing
Observing (pengamatan) dilakukan oleh hawa bersama n antipoda sejawat (observer) terhadap keaktifan siswa dalam mengajuk aktivitas penerimaan di kelas. Observing mutlak dilakukan maka itu guru seharusnya proses pembimbingan boleh berfungsi secara maksimal.
Observing juga dilakukan pemeriksa terhadap data yang diperoleh, yakni aktual nilai tes akhir siklus dengan cara mencari nilai rata-rata puas setiap siklusnya.

d. Reflecting
Reflecting merupakan kegiatan meninjau kembali mengenai tindakan kelas bawah yang telah dilaksanakan dan terhadap hasil berlatih yang diperoleh murid di intiha siklus II. Hasil nan diperoleh privat siklus II dijadikan dasar lakukan menentukan keberuntungan penelitian tindakan kelas.

Reflecting kembali dilakukan dengan cara membandingkan kondisi akhir siklus I dengan kondisi akhir siklus II.

BAB IV


HASIL Penekanan DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Semula
Sreg penggalan rataan belakang laporan penelitian ini tertulis bahwa kondisi sediakala siswa kelas V SD Provinsi 1 Kedungurang pada semester II tahun cak bimbingan 2010/2011 hasil belajar Matematikanya invalid. Indikasi hasil belajar Matematika yang cacat tersebut adalah ditunjukkan dengan biasanya poin dari dua kali ulangan surat kabar ain tuntunan Matematika yang rendah, yaitu semata-mata 54.
Saat dilakukan pretes diperoleh hasil seumpama berikut : (a) umumnya nilai kelas 59 ; (b) biji teratas 80 ; (c) nilai terendah 40 Nilai pretes tersebut selengkapnya boleh dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 4

Frekuensi Nilai KONDISI Mulanya

NO Angka (N) Kekerapan (F) Tepi langit X F
1 10 0
2 20 0
3 30 0
4 40 3 120
5 50 9 450
6 60 4 240
7 70 1 70
8 80 3 240
9 90 0
10 100 0
Jumlah 20 1180

Deskripsi Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Siklus I dilaksanakan pada tanggal 8 Februari 2011. Kegiatan Sparing Mengajar mencekit materi ”Jala-jaring kubus dan balok”. Alokasi waktu kerjakan mata pelajaran Matematika di kelas V merupakan 5 jam pelajaran tiap minggunya yang dibagi menjadi 3 kali pertemuan. Perencanaan tindakan (planning) siklus I menghampari tiga langkah, yaitu apersepsi, inti, dan penutup.
a. Apersepsi
Mengawali pertemuan pertama siklus I guru mengadakan tanya jawab tentang bangun ruang. Tujuannya adalah cak bagi menghafal sekali lagi bentuk-rencana bangun urat kayu. Kemudian dilanjutkan dengan membentuk kelompok, membagikan lembar kerja siswa, dan menyediakan organ peraga secara kerumunan.
b. Inti
Dalam kegiatan inti ini terserah tiga tahap kegiatan kunci yang dilakukan siswa yaitu tahap penggalian, elaborasi dan pemeriksaan ulang. Pada tahap eksploraasi peserta mencacat penjelasan guru, mendemonstrasikan alat peraga, dan mengerjakan lembar kerja siswa secara kelompok. Sreg tahap elaborasi siswa melaporkan hasil kerja kerumunan, menanggapi hasil kerja kelompok enggak, serta menyempurnakan hasil kerja kelompok. Kemudian pada tahap konfirmasi siswa bersama guru menyusun kesimpulan, membentuk karangan materi nan berjasa, serta memajangkan hasil kerja gerombolan. N domestik pada itu hawa pula melakukan observasi tentang keaktifan pesuluh sejauh mengikuti proses berlatih mengajar. Pembimbingan selalu diberikan kepada semua peserta. Perhatian yang samudra terutama ditujukan kepada pelajar nan kemampuannya kurang.
Di penutup persuaan guru membekali siswa dengan PR. PR ini berfungsi sebagai sarana penajaman materi kursus dengan memanfaatkan masa di rumah.
c. Intiha
Kerjakan mengetahui kemenangan siswa n domestik proses berlatih mengajar maka di akhir siklus diadakan tes. Testimoni yang dilaksanakan di akhir siklus adalah tes termuat. Bentuk soal yang digunakan kerumahtanggaan verifikasi akhir siklus adalah jabaran.

2. Pelaksanaan Tindakan
Siklus I dilaksanakan puas sungkap 8 Februari 2011. Kegiatan Belajar Mengajar mengambil materi ”Jaring-jaring kardus dan balok”. Alokasi musim bakal mata kursus Matematika di kelas V merupakan 5 jam latihan tiap minggunya nan dibagi menjadi 3 kali perjumpaan. Pelaksanaan tindakan dalam siklus I ialah begitu juga tertuang dalam perencanaan tindakan. Langkah-langkah yang dilakukan pula ada tiga, merupakan apersepsi, inti, dan penghabisan.
a. Apersepsi
Mengawali pertemuan pertama siklus I temperatur mengadakan interviu tentang ingat ulas. Tujuannya adalah lakukan mengingat kembali buram-bentuk bangun ruang. Kemudian dilanjutkan dengan membuat gerombolan, membagikan lembar kerja siswa, dan menyediakan organ peraga secara kelompok.

b. Inti
Dalam kegiatan inti ini ada tiga tahap kegiatan pokok yang dilakukan siswa yaitu tahap penekanan, elaborasi dan testimoni. Pada tahap eksploraasi siswa mengamati penjelasan guru, mempertunjukkan alat peraga, dan melakukan tali kerja murid secara gerombolan. Lega tahap elaborasi siswa melaporkan hasil kerja keramaian, menanggapi hasil kerja kerumunan lain, serta menyempurnakan hasil kerja kelompok. Kemudian pada tahap konfirmasi siswa bersama guru memformulasikan kesimpulan, mewujudkan goresan materi yang berguna, serta memajangkan hasil kerja gerombolan. Dalam pada itu master kembali melakukan observasi tentang keaktifan murid selama mengikuti proses belajar mengajar. Pembimbingan caruk diberikan kepada semua siswa. Pikiran yang besar terutama ditujukan kepada siswa nan kemampuannya terbatas.
Di penghabisan pertemuan guru membekali siswa dengan PR. PR ini berfungsi laksana sarana investigasi materi cak bimbingan dengan memanfaatkan masa di flat.
c. Penutup
Untuk mengetahui kejayaan siswa dalam proses belajar mengajar maka di akhir siklus diadakan tes. Tes nan dilaksanakan di penutup siklus adalah tes terdaftar. Kerangka soal nan digunakan n domestik verifikasi akhir siklus adalah uraian.

3. Hasil Pengamatan
Siklus I dilaksanakan pada rontok 8 Februari 2011. Kegiatan Belajar Mengajar mencekit materi ”Jaring-jaring kubus dan balok”. Alokasi hari bakal mata pelajaran Matematika di kelas V merupakan 5 jam pelajaran tiap minggunya nan dibagi menjadi 3 kali persuaan. Pertemuan pertama dilaksanakan lega masa Senin tanggal 7 Februari 2011. Dalam apersepsi guru dan pelajar mengadakan wawanrembuk adapun bangun ruang. Tujuannya yaitu untuk menghafaz sekali lagi tulangtulangan-bentuk bangun pangsa. Kemudian dilanjutkan dengan membentuk kelompok, membagikan sutra kerja siswa, dan meluangkan organ peraga secara gerombolan.
Dalam kegiatan pembelajaran ini siswa diberi kesempatan lakukan menggunakan alat peraga barang bekas secara kelompok. Dalam pada itu guru sekali lagi melakukan observasi tentang keaktifan pesuluh selama mengikuti proses pengajian pengkajian. Untuk melatih kemampuan siswa maka mereka diberi kesempatan untuk mengerjakan tanya-soal latihan. Pembimbingan besar perut diberikan kepada semua siswa. Perasaan yang osean terutama sekali ditujukan kepada pelajar yang kemampuannya sedikit.
Sebenarnya materi pelajaran ”seser-jaring kubus dan balok” merupakan pengulangan pecah materi yang sama yang sudah diterima siswa di kelas sebelumnya. Mestinya tidak begitu pelik. Tapi ternyata ada saja siswa yang kelihatan bingung, kurang menguasai materi pelajaran yang dimaksud. Menerobos latihan-latihan yang diberikan guru serta penggunaan perabot peraga komoditas bekas, lambat laun mereka sekali lagi jadinya memafhumi.

a. Tanggapan Murid
Rupanya para petatar mutakadim memahami tentang kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh guru peneliti di kelasnya. Mereka lagi telah mengerti tentang faedah barang-barang keluaran buat meningkatkan pemahaman dalam membiasakan.
Siswa terlibat aktif kerumahtanggaan kegiatan pembelajaran dan tampak senang mengerjakan kegiatan membuat kisa-sauk-sauk kardus dan balok memperalat kubus tempat. Aktifitas berlatih yang demikian itu berdampak pada kenaikan kesadaran dan penampakan belajar siswa pada materi batik jaring-seser kubus dan balok.

b. Hasil Berlatih di Akhir Siklus I
Verifikasi akhir siklus I dilaksanakan pada tahun Selasa tanggal 8 Februari 2011. Pesuluh inferior V SD Daerah 1 Kedungurang tahun tuntunan 2010/2011 yang berjumlah 20, seluruhnya mengikuti konfirmasi intiha siklus I. Selepas dilakukan penilaian di penghabisan siklus I diperoleh biji termulia 90, nilai terendah 50, dan rata-rata nilainya 72. daftar nilai tes akhir siklus I sesudah-sudahnya dapat dilihat pada lampiran. Dari daftar nilai tersebut boleh dibuat tabel persentase nilai sebagai berikut :

Tabel 5

PERSENTASE NILAI Pemeriksaan ulang Akhir SIKLUS I

Nomor Skor Frekuensi Persentase
1 10 0 0
2 20 0 0
3 30 0 0
4 40 0 0
5 50 3 15%
6 60 2 10%
7 70 4 20%
8 80 10 50%
9 90 1 5%
10 100 0 0
Total 20 100%

Perolehan nilai terbit pembenaran pengunci siklus I dapat dibuat tabulasi batang sebagai berikut :

Indikator Kinereja dan Pencapaiannya.
Indikator kinereja siklus I adalah 75 Sahaja ternyata dari pembuktian akhir siklus I diperoleh rata-rata angka 72. Dengan demikian berarti indikator kinereja siklus I tak terengkuh. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendalaman terhadap materi cak bimbingan pada subjek penelitian belum tercapai.

4.Refleksi
Refliksi merupakan kegiatan meninjau kembali adapun tindakan kelas nan telah dilaksanakan dan terhadap hasil belajar yang diperoleh peserta di akhir siklus I. Jika kita lihat dan kita bandingkan antara skor kondisi awal dengan nilai di akhir siklus I telah terjadi eskalasi. Umumnya nilai plong kondisi sediakala hanya 59, sedangkan lazimnya nilai pada siklus I sudah hingga ke 72.
Hasil belajar siswa yang meningkat tersebut dikarenakan guru mutakadim memperalat organ peraga barang medan nan berbentuk dus dan balok kerumahtanggaan kegiatan penerimaan. Pada kegiatan pemelajaran siklus I ini pemakaian alat peraga dilaksanakan secara kelompok. Pemakaian alat peraga secara kelompok punya arti dan kelemahan. Kekuatannya antara bukan peserta dapat berkomplot dengan siswa tidak ketika menangkap basah kesulitan. Sedangkan kelemahannya murid sedikit maksimal dalam menggunakan perangkat peraga, karena harus bergantian.

C. Deskripsi Siklus II
1. Perencanaan Tindakan
Siklus II dilaksanakan lega masa Senin tanggal 22 Februari 2011. Diawali dengan penyampaian materi kursus tentang rajut kubus dan balok dengan menggunakan organ peraga komoditas jebolan secara tersendiri. Pelaksanaan pembenaran akhir Siklus II dilaksanakan lega pengunci kegiatan pendedahan. Planning (perencanaan tindakan) meliputi tiga langkah yaitu apersepsi, inti dan penutup
a) Apersepsi
Mengawali pertemuan siklus II guru mengadakan tanya jawab akan halnya bangun ruang khususnya tentang kubus. Tujuannya yaitu untuk mengingat kembali bentuk-bentuk ingat ira yang telah dipelajari plong siklus I. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tugas nan harus dikerjakan siswa, membagikan makao kerja siswa, dan menyediakan alat peraga secara individual.
b) Inti
Dalam kegiatan inti siklus II ini pula suka-suka tiga tahap kegiatan pokok yang dilakukan siswa yaitu tahap eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Pada tahap eksploraasi siswa mengecap penjelasan guru, mendemonstrasikan alat peraga, dan mengerjakan lungsin kerja petatar yang dikerjakan secara individual. Pada tahap elaborasi siswa melaporkan hasil kerja, menanggapi hasil kerja musuh lain, serta menyempurnakan hasil kerja. Kemudian lega tahap pengecekan siswa bersama suhu memformulasikan kesimpulan, takhlik catatan materi yang utama, serta memajangkan hasil kerja. Dalam sreg itu master pula mengamalkan observasi adapun keaktifan peserta selama mengikuti proses berlatih mengajar. Pembimbingan sayang diberikan kepada semua murid. Perhatian nan segara terutama ditujukan kepada siswa nan kemampuannya minus.
Di akhir pertemuan guru membekali siswa dengan PR. PR ini berfungsi sebagai ki alat pendalaman materi les dengan memanfaatkan waktu di rumah.

3) Akhir
Kerjakan mengetahui kemajuan petatar dalam proses berlatih mengajar maka di pengunci siklus diadakan pengecekan. Tes nan dilaksanakan di akhir siklus adalah tes tertulis. Bentuk soal yang digunakan internal pengecekan akhir siklus merupakan uraian.

2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan Siklus II sesuai dengan perencanaan tindakan yakni Apersepsi, Inti dan Penutup.
a) Apersepsi
Guru peneliti mencadangkan kepada subjek penelitian yakni petatar kelas V SDN 1 Kedungurang semester II perian tuntunan 2010/ 2011 bahwa pendedahan barangkali ini akan dilaksanakan dengan menggunakan organ peraga barang-barang bekas secara individual.

b) Inti
Lega tahap eksplorasi, secara klasikal suhu penyelidik mengklarifikasi akan halnya ambai-jaring kubus dan balok. Kegiatan dimulai dengan menggambar lembaga bangun kardus dan balok di papan tulis. Semua siswa ditekankan agar memperhatikan dengan cermat karena nantinya setiap siswa harus dapat menggambar seser-jejala karton dan balok dengan benar tanpa bantuan teman.
Pelajar diberi kesempatan batik pura kubus dan balok di buku sendirisendiri. Disarankan sepatutnya dibuat dengan buruk perut, dan diusahakan dapat dibedakan mana garis yang penuh dan garis yang teriris-potol.
Suhu peneliti memegang sadar balok yang diambil mulai sejak bekas bungkus tapal transmisi. Guru menunjukkan cara memotong dan membuka bungkus pasta transmisi yang berbentuk balok tersebut sehingga menjadi bentuk jaring-jaring balok. Siswa menirukan persiapan demi ancang. Demikian kembali untuk bangun yang berbentuk karton. Setelah siuman terbuka dan membentuk pura peserta menggambarnya di buku tulisan masing-masing.
Sreg tahap elaborasi siswa melaporkan hasil kerja, menanggapi hasil kerja teman lain, serta menyempurnakan hasil kerja. Kemudian pada tahap konfirmasi murid bersama guru menyusun kesimpulan, membuat coretan materi yang penting, serta memajangkan hasil kerja. Kerumahtanggaan pada itu guru pun mengamalkan observasi tentang keaktifan siswa selama mengimak proses belajar mengajar. Pembimbingan selalu diberikan kepada semua siswa
c) Penutup
bagi memafhumi keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran maka di pengunci siklus diadakan tes. Pengecekan yang diadakan di akhir siklus adalah pembuktian termasuk. Rang soal yang digunakan adalah pemeriksaan ulang uraian.

3. Hasil Pengamatan
Siklus II terdiri dari dua persuaan yaitu, perjumpaan mula-mula dilaksanakan pada hari Senin tanggal 21 Februari 2011 dan pertemuan kedua dilaksanakan pada perian Selasa 22 Februari 2011. Pertemuan nan ragil dimanfaatkan cak bagi melaksanakan tes akhir siklus II.
Mengawali pertemuan di Siklus II guru mengadakan wawansabda tentang pulang ingatan ruang kubus dan balok. Tujuannya agar siswa mengingat pula tentang ciri-ciri kubus dan balok.
Guru penyelidik menyodorkan kepada subjek eksplorasi yaitu siswa kelas V SDN 1 Kedungurang semester II waktu latihan 2010/ 2011 bahwa pengajian pengkajian kali ini akan dilaksanakan dengan menggunakan gawai peraga dagangan-barang bekas secara khusus.
Pertemuan pertama dilaksanakan pada periode Senin 21 Februari 2011. Kegiatan belajar mengajar mencoket materi jaring-seser kubus dan balok. Materi ini merupakan pengulangan karena materi tersebut telah dipelajari maka itu subjek penelitian puas siklus I. Bedanya pada siklus I siswa mempelajari pukat-jaring kubus dengan alat peraga produk-barang alumnus secara kerubungan, sedangkan sreg siklus ke II siswa mempelajari kisa-pukat balok dengan alat paraga produk-komoditas bekas secara individual. Semata-mata lain invalid lagi siswa yang mengalami kesulitan. Biasanya kelompok yang kedua ini yaitu anak-anak yang memang lambat intern berpikir.
Lega pertemuan kedua suhu peneliti dan guru kelas bawah IV sebagai teman kolaborasi cak bertengger ke sekolah lebih pagi buat mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran siklus II. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan oleh guru peneliti dengan menjelaskan materi disertai contoh-acuan substansial.
Pertemuan kedua ini digunakan sekali lagi untuk mengadakan tes akhir siklus II dengan materi jaring-kisa kubus dan balok.

a. Tanggapan Pelajar
Rupanya para pesuluh telah memaklumi tentang kegiatan nan sedang dilaksanakan makanya hawa peneliti dikelasnya dan juga mereka mutakadim mengetahui tentang maslahat barang-barang bekas buat meningkatkan pemahaman kerumahtanggaan membiasakan.
Petatar terkebat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan terpandang senang melakukan kegiatan mewujudkan jaring-jaring kubus dan balok menunggangi kardus bekas. Aktifitas belajar nan demikian itu berdampak puas peningkatan pemahaman dan prestasi belajar siswa plong materi batik rajut kubus dan balok.

b. Hasil Belajar di Akhir Siklus II
Tes penutup siklus II dilaksanakan pada masa Selasa rontok 22 Februari 2011. Siswa kelas V SD Negeri 1 Kedungurang musim pelajaran 2010/ 2011 yang berjumlah 20 siswa seluruhnya mengikuti tesakhir siklus II.
Selepas dilakukan penilaian di pengunci siklus II, diperoleh nilai terala 100, dan kredit terendah 80, dan umumnya nilainya 87,5. Untuk mendapatkan takrif yang lengkap mengenai nilai konfirmasi akhir siklus II boleh dilihat pada tabulasi di asal ini :

Tabel 6

PERSENTASE Kredit TES Penghabisan SIKLUS II

NO NILAI Kekerapan PERSENTASE
1 10
2 20
3 30
4 40
5 50
6 60
7 70
8 80 10 50 %
9 90 5 25%
10 100 5 25 %
Jumlah 20 100%

Perolehan nilai tes penutup siklus II dapat dibuat diagram batang sebagai berikut :

c. Penunjuk Prestasi dan Pencapaiannya
Indikator kinereja Siklus II adalah 75. Artinya apabila umumnya nilai pengecekan akhir siklus II dapat mencapai poin 75 ataupun lebih maka berarti penunjuk kinereja siklus II terengkuh. Sesudah dilakukan penilaian terhadap tes penutup siklus II, ternyata nilai rata-ratanya mencapai angka 87,5. Dengan lazimnya kredit pemeriksaan ulang intiha siklus II yang mengaras angka 87,5 tersebut berjasa parameter kinereja siklus II tercapai.

4. Refleksi
Perbaikan pendedahan Ilmu hitung tentang jaring-jaring kardus dan balok dengan menggunakan peranti peraga barang-produk lepasan telah berhasil. Mujarab pecah 20 siswa seluruhnya sudah tuntas belajar dengan tingkat penguasaan materi dan keaktifan siswa dalam proses penelaahan diatas 75 %.
Hasil yang dicapai pada perbaian pembelajaran Matematika adapun jaring-jaring kubus dan balok melalui kegiatan Studi Tindakan Kelas (PTK) menghasilkan prestasi belajar yang cukup memuaskan. Manifestasi membiasakan atau keaktifan petatar sejauh proses penerimaan berlantas mengalami peningkatan puas tiap siklusnya.
Terjadi peningkatan kinerja belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Ponten biasanya akhir siklus I yang mencapai 72, meningkat menjadi 87,5 pada akhir siklus II. Eskalasi performa ini karena pada siklus II ini siswa diberi kesempatan yang optimal bakal menggunakan perlengkapan peraga barang palagan yang berbentuk kubus dan balok secara individual. Dengan menggunakan alat peraga secara distingtif ternyata siswa lebih meningkat aktivitas belajarnya, sehingga manifestasi belajarnya pun meningkat.
Berikut ini peneliti sajikan data hasil pengecekan formatif dari kondisi awal sebatas dengan hasil tes formatif intiha siklus II.

Tabel 7.

Hasil validasi formatif siswa kelas V mata tutorial Matematika :

Penggalian Sediakala, Siklus I, dan Siklus II

NO Label NILAI
Eksplorasi Awal SIKLUS I SIKLUS II
1 Tanzil Ginanjar 40 50 80
2 Anwar 50 70 80
3 Laeli Fitriah 80 80 100
4 Neli Setiana 60 80 90
5 Oxci Pangestu   50 60 80
6 Andika 60 80 90
7 Arif Naladi 60 80 90
8 Atika Rahmawati 60 70 90
9 Dianita 50 70 90
10 Doni Satrio 50 50 80
11 Elin Susanti 40 80 80
12 Fajriati Anisa 70 80 100
13 Gusnur Hasan 50 70 80
14 Murtiana Ningsih 50 80 80
15 Kalar Rohayani 50 80 80
16 Siti Sumariyah 50 80 100
17 Restiana 80 80 100
18 Riyanto 40 50 80
19 Wiwin Triana 80 90 100
20 Wisnu Hermawan 50 60 80
Jumlah 1.180 1.440 1.750
Biasanya 59 72 87,5

Bila rata-rata nilai plong siklus II dibandingkan dengan rata-rata nilai sreg siklus I maka terjadi peningkatan ponten yang sepan tinggi. Rata-rata biji pada akhir siklus I hanya 72 padahal rata-rata skor pada akhir siklus II mencapai 87,5.
Eskalasi rata-rata skor tes hasil sparing dari siklus I ke siklus II yang pas pangkat tersebut terjadi dikarenakan adanya persilihan sistem pendedahan. Pada siklus I guru menerapkan sistem pendedahan dengan memperalat organ peraga secara kelompok. Sementara itu pada siklus II guru pengkaji menerapkan sistem pembelajaran dengan memperalat alat peraga secara khas.

D. Pembahasan Antar Siklus
1. Tindakan
Sreg kondisi awal pembelajaran belum menggunakan perabot peraga, arketipe pembelajaran juga cacat menarik perhatian siswa, sehingga siswa cacat aktif dan pada gilirannya penampilan membiasakan siswa rendah.
Lega siklus I intern kegiatan pembelajaran menunggangi acuan-contoh yang digambar di gawang catat. Kemudian pesuluh mencoba membuat hipotetis kantung kubus dan balok sesuai dengan eksemplar di papan tulis. Penggunaan instrumen peraga sreg siklus I dilakukan secara kerumunan, sehingga optimalisasi pengusahaan instrumen peraga masih rendah.
Pada siklus II guru pemeriksa menggunakan peranti peraga barang-dagangan bekas nan berbentuk kubus dan balok seperti kardus bekas pasta gigi, kardus arena minyak rambut. Alat peraga tersebut dibawa koteng oleh peserta sehingga bisa digunakan secara individual, sehingga siswa dapat mencobanya seorang secara optimal. Keadaan ini ternyata dapat meningkatkan keaktifan pelajar dan penampilan sparing murid.

2. Hasil Pengamatan
Yang dimaksud dengan hasil disini ialah hasil membiasakan Ilmu hitung yang ditunjukkan dengan nilai verifikasi hasil berlatih. Biji rata-rata hasil konfirmasi plong kondisi awal hanya mencapai 59. Nilai rata-rata hasil tes diakhir siklus I sudah mengalami pertambahan yaitu mencapai 72. Semata-mata pasca- dilakukan penggunaan alat peraga dagangan panggung ternyata hasil sparing ilmu hitung meningkat. Subjek pengkajian mengalami kenaikan performa belajar nan sepan tinggi, lain hanya menyamai indikator kinerjanya belaka melibihi diatasnya. Kebanyakan nilai pengecekan diakhir siklus II mencapai ponten 87,5 padahal parameter kinerjanya 75.
Perolehan kredit biasanya setiap siklusnya dapat dibaca intern diagram dan diagram di bawah ini :

Tabulasi 8

Lazimnya Ponten Eksplorasi Sediakala, Siklus I, dan Siklus II

NO Nilai Rata-rata Studi awal Skor Kebanyakan Siklus I Nilai Galibnya Siklus II
1. 59 72 87,5

Jelaslah di sini bahwa menggunakan alat peraga barang bekas telah mampu meningkatkan hasl berlatih Ilmu hitung siswa inferior V SD Kewedanan 1 Kedungurang UPK Gumelar Kabupaten Banyumas tahun les 2010/ 2011.
3. Refleksi
Hasil belajar subjek penekanan dari kondisi awal dengan kebanyakan nilai 59 ke penghabisan siklus I yang mencapai biasanya 72 berarti mengalami kenaikan 13 kredit. Dari siklus I ke siklus II juga terjadi peningkatan rata-rata kredit hasil berlatih. Umumnya nilai hasil belajar siklus I yaitu 72 menjadi 87,5 di intiha siklus II, penting terjadi peningkatan sebesar 15,5 biji. Dengan demikian pecah kondisi awal ke kondisi akhir rata-rata nilai hasil belajar subjek penekanan mengalami pertambahan 28,5 poin.
Bersendikan persentase ketuntasan klasikal dengan indikator pencapaian kinerja 75, maka bisa peneliti hitung bahwa pada kondisi awal pelajar nan tuntas dengan memperoleh angka 75 ke atas yakni 15%. Pada Siklus I murid yang tuntas dengan memperoleh nilai 75 ke atas mengalami kenaikan yaitu menjadi 55%. Sementara itu pada siklus II banyaknya siswa yang tuntas dengan memperoleh nilai 75 ke atas menjejak 100%.
E. Simpulan Hasil Penelitian
Menurut data empirik pengkhususan tindakan kelas sebagaimana termasuk di atas dapat disimpulkan bahwa melalui penggunaan organ peraga barang bekas bisa meningkatkan hasil belajar Matematika akan halnya rajut kardus dan balok bagi siswa kelas V SD Provinsi 1 Kedungurang pada semester II tahun pelajaran 2010/ 2011.

BAB V


PENUTUP

A. Simpulan
Sebagaimana termuat kerumahtanggaan Ki IV bahwa tindakan kelas nan dilakukan oleh guru peneliti dalam siklus I yang nyata pemanfaatan alat peraga secara kerubungan telah berbuntut meningkatkan hasil belajar subjek penelitian. Galibnya biji pada kondisi awal yang cuma 59 boleh ditingkatkan menjadi 72 di akhir siklus I.
Pertukaran teknik penggunaan alat peraga secara keramaian menjadi secara individual sreg siklus II lagi mutakadim mujarab lebih meningkatkan hasil belajar siswa. Bila di akhir siklus I rata-rata nilai subjek penelitian adalah 72 maka di akhir siklus II biasanya meningkat menjadi 87,5.
Berdasarkan data empirik eksplorasi ini menunjukan bahwa tindakan kelas yang dilakukan peneliti baik pada siklus I atau pada siklus II telah berhasil meningkatkan hasil belajar Matematika jaring-pukat kubus dan balok bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Kedungurang pada semester II tahun kursus 2010/2011.
Simpulan berdasarkan data empirik tersebut sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis sebagaimana tercantum dalam bab II nan berbunyi : ” melalui penggunaan perangkat peraga dagangan eks dapat meningkatkan hasil belajar Matematika tentang rajut kubus dan balok untuk siswa papan bawah V SD Negeri 1 Kedungurang UPK Gumelar Kabupaten Banyumas periode pelajaran 2010/ 2011”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan n domestik riset tindakan inferior ini terbukti, merupakan ”Melangkahi pengusahaan alat peraga barang alumnus bisa meningkatkan hasil Matematika tentang jejala-net kubus dan balok bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Kedungurang pada semester II tahun tuntunan 2010/2011.

B. Implikasi
Dengan terbuktinya asumsi tindakan penelitian tindakan papan bawah ini yaitu ” melewati penggunaan alat peraga barang gelanggang dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu hitung tentang pura kardus dan balok bagi siswa papan bawah V SD Kawasan 1 Kedungurang tahun les 2010/ 2011.” maka penulis mengajak kepada semua guru bagi semaksimal kali memanfaatkan gawai peraga dalam proses pembelajarannya agar tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan dapat terengkuh secara optimal.

C. Saran
Dengan terbuktinya premis tindakan penelitian tindakan kelas ini yaitu ” melangkahi penggunaan alat peraga produk ajang dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu hitung akan halnya jaring-jaring kubus dan balok lakukan siswa inferior V SD Negeri 1 Kedungurang tahun tutorial 2010/ 2011.” maka secara teoritis kita semakin yakin bahwa pemanfaatan perkakas peraga boleh meningkatkan hasil membiasakan peserta. Dengan demikian diharapkan bisa menambah referensi berpikir dalam-dalam dan dijadikan dasar dolan kerjakan insan pendidikan dan siswa didik serta manjapada pendidikan plong umumnya. Disamping itu lagi dapat sebagai bawah cak bagi penggalian selanjutnya, baik oleh peneliti PTK ini ataupun peneliti-peneliti lainnya.
Secara praktis kepada pihak-pihak yang tersapu langsung privat Penelitian Tindakan Kelas ini, yaitu, siswa, temperatur, dan sekolah dapat diberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Saran kepada Siswa
Semua siswa hendaknya bertambah atma internal menggunakan perabot peraga internal kegiatan belajarnya, baik bagi mata pelajaran Matematika maupun mata pelajaran-mata pelajaran yang lainnya.
2. Saran kepada Temperatur
Guru umpama agen pembelajaran kiranya dalam proses pembelajarannya selalu berupaya dengan maksimal untuk menggunakan alat peraga, tidak sedikit puas mata pelajaran Matematika saja sahaja lagi pada mata les yang lain.
3. Saran bagi Sekolah
Sekolah dalm kejadian ini SD Kewedanan 1 Kedungurang Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar disarankan untuk dapat melengkapi alat-alat peraga yang dibutuhkan oleh semua suhu sehingga mereka terseret kerjakan senantiasa menggunakan perangkat peraga dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sementara itu perlengkapan-alat peraga yang telah ada mudah-mudahan dipelihara dengan baik sehingga dapat comar siap sedia dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.

Daftar pustaka
Wardhani, IGAK. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.
Hambali, Julius, dkk. 1993. Pendidikan Matematika 1. Jakarta : Universitas Terbuka.
Ruseffendi, dkk. 1994. Pendidikan Matematika 3. Jakarta : Sekolah tinggi Terbuka.
Nasution, Noehi. 1994. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Perhimpunan Melangah.]
Setiawan, Denny. 2006. Komputer dan Media Pengajian pengkajian. Jakarta : Universitas Terbuka.
Anitah, Sri, W. 2008. Strategi Penelaahan di SD. Jakarta : Perserikatan Terbuka.
Poerwadarminta, W.J.S. 1984. Kamus Masyarakat Bahasa Indonesia. Jakarta : PN Balai Pustaka.
Heny K, Nur Akhsin, dan Thoyibah H. 2004. Matematika Papan bawah 5 Sekilah Dasar. Klaten : Cempaka Putih
Santosa, Puji. 2006. Materi dan Pengajian pengkajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta : Universitas Terbuka
Masyhuri HP. 1990. Azas-Azas Belajar, Semarang : IKIP Semarang Press
………………., 2009. Inovasi Pembelajaran, Semarang : Widyaiswara LPMP Jawa Paruh
Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Psikologi Berlatih, Semarang : IKIP Semarang Press
……………….., 2002. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD. Jakarta : Ditjen Dikdasmen, Depdiknas

Source: http://20301633.siap-sekolah.com/2017/04/28/contoh-penelitian-tindakan-kelas/

Posted by: skycrepers.com