Ccckkk Berlatih Senam Di Perpustakaan Guru Sd Remas-remas Pelajar Sd

DENPASAR –
Enam terdakwa kasus pengeroyokan sampai tewasnya Gede Budiarsana atau De Budi di Perumnas Monang-Maning dituntut 4 (catur) tahun penjara. Mereka adalah Benny Bakarbessy, 41, Jos Bus Likumahwa, 30, Fendy Kainama, 31, Gerson Pattiwaelapia, 33, I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23, dan Dominggus Bakarbessy, 23.

Beskal penuntut publik (JPU) Ida Bagus Putu Swadharma Diputra dalam sidang Kamis (3/2) menyatakan, terdakwa Benny dan maskapai-maskapai dinilai sudah lalu terbukti secara baku dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan terang-semarak dan dengan tenaga bersama memperalat kekerasan terhadap cucu adam atau komoditas. Perbuatan mereka melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP.

Dibandingkan enam terdakwa lainnya, pelaku I Barap Sadia, 39, anggota Indra penglihatan Nasar atau debt collector yang menggolok mangsa Gede Budiarsana di Perumnas Munang-Maning beberapa hari dulu berkat aplikasi tertinggi. Sadia dituntut 14 musim penjara maka dari itu JPU Kejari Denpasar.

“Terdakwa I Wayan Sadia sudah pahit lidah secara legal dan valid bersalah melakukan tindak majelis hukum pembunuhan, sebagaimana diatur dan diancam pidana internal Pasal 338 KUHP,” ujar JPU Ida Bagus Putu Swadharma Diputra.

JPU memiliki pertimbangan mengajukan tuntutan 14 musim penjara terhadap Sadia. Hal yang memberatkan yakni perbuatan Barap Sadia dilakukan dengan kejam terhadap korbannya yang adalah tulang punggung tanggungan.

“Terdakwa Wayan Sadia berupaya menutupi peran para terdakwa tidak yang berbuat kekerasan terhadap Gede Budiarsana dan Ketut Widiada alias Jero Dolah,” papar JPU Swadharma.

Menanggapi tuntutan JPU, para terdakwa melalui masing-masing pengacaranya akan mengajukan pembelaan secara tertulis. Memo pembelaan akan dibacakan pada sidang pekan depan.

Dalam permintaan itu dijelaskan bahwa salah satu korban peristiwa berdarah itu yaitu Gede Budiarsana. De Budi meninggal dunia karena menderita luka bacok.

Peristiwa itu terjadi sreg 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30, saat syahid Ketut Widiada atau Jero Dolah dan Gede Budiarsana menjurus kantor PT Beta Mandiri Muti Solution (BMMS), di Kronologi Jabal Patuha, Munang-Maning, Denpasar Barat.

Jero Dolah dan De Budi menanyakan sepeda motor Yamaha Lexi yang hendak ditarik karena menunggak pembayaran skor selama satu tahun di Finance BAF.

Enggak lama berselang terjadi ketegangan antara saksi dengan keenam terdakwa. Detik itu saksi Jero Dolah hendak merekam keadaan menggunakan hand phone (HP) miliknya. Tapi, terdakwa Jos Bus merampasnya.

Tidak terima HP-nya dirampas, korban Gede Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus.

“Tindakan itu membentuk terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana menggunakan asisten remas sebanyak tiga barangkali,” beber JPU Bagus.

Sejurus kemudian, terdakwa Benny Bekarbessy yang merupakan pimpinan terbit PT BMMS timbrung ke dalam kantor untuk mencoket bilang penggaris sabel dan senjata drastis yang tersimpan di dalam kantor.

Benny lalu keluar menujukan anggar ke jihat Widiada dengan berteriak “Habisi! Bunuh dia!”.

Benny mengayunkan parangnya kearah ke arah saksi Widiada, tapi saksi bertelur memegang gagang pedang tersebut dengan kedua tangannya.

Melihat itu, terdakwa Gusti Bagus Christian menggampar syahid dengan menggunakan kursi plastik yang ada di tempat tersebut. Terdakwa lain lantas timbrung menimbuk.

Syahid terjatuh kemudian ditindih terdakwa Benny. Temporer korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama.

Terjadi pergulatan dan baku hantam hebat antara saksi dan terdakwa. Namun, karena kalah jumlah martir berlari dengan berkata kepada korban mudah-mudahan lari. “De, melaib, De (De, lari, De),” teriak saksi.

Bahan Budiarsana masih dikeroyok dan enggak boleh mengecualikan diri. Saat itu, terdaka I Wayan Sadia (terdakwa dalam penuntutan terpisah) memiting leher Budiarsana.

Setelah berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berakibat melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy senggang melemparkan bencana dan adapun punggung Widiada.

Para terdakwa pun sempat mencari mereka. Detik melakukan pengejaran tersebut para terdakwa membawa lamang dan senjata tajam nan sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy.

Temporer terdakwa Sadia sempat dilukai terdakwa dengan pedang yang dibawanya. Di mana pedang yang dipegang bulan-bulanan tersebut merupakan pedang nan berhasil direbutnya momen terjadi perkelahian.

Karena tertekan, korban dan saksi Widiada keluar mulai sejak maktab tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga tubuh korban erat tercatak dan pedang nan dipegangnya menjadi terlepas.

Terdakwa mengambil pedang yang terjatuh tersebut lalu mengejar incaran. “Korban yang lari berusaha naik ke babak belakang otomobil pikap yang melintas serempak bergelantungan. Karena korban tidak abadi bergelantungan, target terjatuh,” tutur JPU Bagus.

Saat terduduk, terdakwa yang mencari alamat kemudian mendekati korban lalu menggolok korban dengan pedang yang dipegang.

Alamat berusaha menangkis dan melindungi dirinya dengan kedua tangannya, sehingga kedua tangan bulan-bulanan dijangkiti tebasan sabel.

Detik bulan-bulanan terjatuh, terdakwa kemudian kembali menebas objek dengan pedang nan dipegangnya dan mengenai bagian belakang kepala korban sebanyak dua kali, sehingga korban menyingkirkan banyak darah serta terkapar di paruh kronologi. Karenanya korban Budiarsana meninggal dunia.

DENPASAR –
Enam terdakwa kasus pengeroyokan setakat tewasnya Gede Budiarsana alias De Budi di Perumnas Monang-Maning dituntut 4 (catur) tahun interniran. Mereka adalah Benny Bakarbessy, 41, Jos Bus Likumahwa, 30, Fendy Kainama, 31, Gerson Pattiwaelapia, 33, I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23, dan Dominggus Bakarbessy, 23.

Jaksa pendakwa (JPU) Ida Bagus Putu Swadharma Diputra n domestik sidang Kamis (3/2) menyatakan, terdakwa Benny dan kawan-kawan dinilai telah pahit lidah secara protokoler dan meyakinkan bersalah melakukan delik dengan kurat-terang dan dengan tenaga bersama memperalat kekerasan terhadap bani adam atau barang. Perbuatan mereka melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP.

Dibandingkan enam terdakwa lainnya, pelaku I Barap Sadia, 39, anggota Mata Elang alias debt collector yang menebas korban Gede Budiarsana di Perumnas Munang-Maning bilang periode tinggal berbintang terang tuntutan tertinggi. Sadia dituntut 14 waktu penjara oleh JPU Kejari Denpasar.

“Terdakwa I Embung Sadia telah manjur secara sah dan mustakim bersalah mengerjakan tindak perbicaraan pemusnahan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHP,” tutur JPU Ida Bagus Putu Swadharma Diputra.

JPU memiliki pertimbangan mengajukan tuntutan 14 tahun penjara terhadap Sadia. Keadaan nan memberatkan adalah perbuatan Wayan Sadia dilakukan dengan tebal hati terhadap korbannya yang merupakan tulang punggung keluarga.

“Terdakwa Wayan Sadia berupaya menutupi peran para terdakwa lain yang mengerjakan kekerasan terhadap Gede Budiarsana dan Ketut Widiada alias Jero Dolah,” papar JPU Swadharma.

Menanggapi tuntutan JPU, para terdakwa melalui tiap-tiap pengacaranya akan mengajukan pembelaan secara tertulis. Cak disposisi pembelaan akan dibacakan sreg sidang pekan depan.

Internal permintaan itu dijelaskan bahwa riuk satu korban kejadian berdarah itu adalah Gede Budiarsana. De Fiil meninggal dunia karena menderita jejas bacok.

Kejadian itu terjadi pada 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30, momen martir Ketut Widiada alias Jero Dolah dan Gede Budiarsana mendatangi kantor PT Beta Mandiri Muti Solution (BMMS), di Jalan Gunung Patuha, Munang-Maning, Denpasar Barat.

Jero Dolah dan De Karakter menanyakan roda inisiator Yamaha Lexi yang hendak ditarik karena menunggak pembayaran nilai sejauh satu tahun di Finance BAF.

Enggak lama berselang terjadi ketegangan antara martir dengan keenam terdakwa. Saat itu saksi Jero Dolah hendak merekam kejadian menggunakan hand phone (HP) miliknya. Tapi, terdakwa Jos Bus merampasnya.

Tak cak dapat HP-nya dirampas, mangsa Gede Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus.

“Tindakan itu mewujudkan terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana memperalat tangan kanan mengepal sebanyak tiga kali,” beber JPU Bagus.

Sejurus kemudian, terdakwa Benny Bekarbessy yang merupakan didikan berusul PT BMMS masuk ke dalam biro lakukan cekut beberapa jidar pedang dan senjata tajam nan tersimpan di dalam kantor.

Benny habis keluar menyasarkan sabel ke arah Widiada dengan berteriak “Habisi! Binasakan dia!”.

Benny mengayunkan parangnya kearah ke arah saksi Widiada, tapi saksi berhasil menjabat gagang pedang tersebut dengan kedua tangannya.

Mengintai itu, terdakwa Gusti Bagus Christian memukul saksi dengan menggunakan kursi plastik nan terserah di palagan tersebut. Terdakwa tak lantas masuk menabok.

Syahid terjatuh kemudian ditindih terdakwa Benny. Temporer korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama.

Terjadi pergulatan dan baku hantam hebat antara saksi dan terdakwa. Doang, karena kalah jumlah saksi berlari dengan berfirman kepada korban semoga lari. “De, melaib, De (De, lari, De),” teriak saksi.

Bulan-bulanan Budiarsana masih dikeroyok dan tak dapat melepaskan diri. Ketika itu, terdaka I Barap Sadia (terdakwa dalam penuntutan terpisah) memiting leher Budiarsana.

Pasca- berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berhasil melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy sempat melemparkan bujukan dan mengenai telapak Widiada.

Para terdakwa lagi sempat mengejar mereka. Detik mengamalkan pengejaran tersebut para terdakwa membawa pedang dan senjata tajam nan sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy.

Sementara terdakwa Sadia sempat dilukai terdakwa dengan pedang nan dibawanya. Di mana anggar nan dipegang korban tersebut yakni sabel nan bertelur direbutnya momen terjadi perdurhakaan.

Karena terdesak, korban dan saksi Widiada keluar berbunga jawatan tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga badan sasaran dempang terjatuh dan pedang nan dipegangnya menjadi terlepas.

Terdakwa mengambil syamsir yang mengendap tersebut dulu mengejar bulan-bulanan. “Incaran yang lari berusaha naik ke bagian belakang oto pikap yang membelot sambil bergelantungan. Karena korban tak kuat bergelantungan, alamat terjatuh,” tutur JPU Bagus.

Saat terjatuh, terdakwa yang mengejar bulan-bulanan kemudian mendekati korban sangat memarang bulan-bulanan dengan sabel yang dipegang.

Target berusaha menangkis dan mencagar dirinya dengan kedua tangannya, sehingga kedua tangan bulan-bulanan terkena tebasan pedang.

Detik sasaran terjatuh, terdakwa kemudian kembali menebas sasaran dengan syamsir yang dipegangnya dan mengenai episode belakang kepala korban sebanyak dua mungkin, sehingga korban mengasingkan banyak bakat serta terkapar di tengah kronologi. Akibatnya korban Budiarsana meninggal dunia.

Source: https://radarbali.jawapos.com/hukum-kriminal/04/02/2022/anggota-mata-elang-pengeroyok-hingga-de-budi-tewas-dituntut-4-tahun/

Posted by: skycrepers.com