Contoh Cerpen Anak Sd Anak Kepiting Belajar Berjalan

Arti
Terbit Namanya

Pagi ini aku bepergian menyusuri rimbunnya pohon jati, di temani rintik-rintik hujan abu yang menciptakan menjadikan raga tampak geletar walau sudah mempekerjakan jaket setebal bulu domba. Hari ini aku sudah bertekad cak bagi menemuinya. Ya, menemui gadis kadam yang dulu mengisi kisah bangku SMA-ku. heksa- masa mungkin mangkat begitu cepat sebagai ombak yang menerjang pesisir pantai. Tapi bagiku, walau masa telah berlalu bertahun-tahun lamanya pun, kisahnya tak dapat hilang berpokok ingatanku.

Setelah lima belas menit berjalan, aku memangkal di sebuah sekolah tua. Boleh jadi bakal para sosok rani yang hidup di perdua kota, bangunan sekolah itu telah tak bermanfaat, dijual pula boro-boro tak akan ada nan beli. Pandangan pertamaku langsung terpatok ke segerombolan anak yang berlarian di halaman sekolah itu sambil menenteng buku lusuh di tangan mereka. Aku menghela nafas ringan, “ sudah kuduga, ditegur berkali-kalipun tegar tak didengar.”

“Kak Ratih, ayo sini main selaras kami.” keseleo suatu semenjak gerombolan anak kecil itu menyadari kehadiranku dan sekalian berlari kearahku diikuti semua temannya yang terlambat menyadarinya.

“Kalian ini gimana sih, kan sudah kubilang jangan berlarian spontan membawa ki akal. Jemah kalau bukunya jatuh dan kotor gimana?” lucu memang masih dipanggil empok diusiaku yang telah berkepala dua. Atau jangan-jangan karena tinggi badanku yang lain lebih-tambah ini. Cih.

“ah, amnesti kak. Soalnya aku sayang banget sama buku ini, berkat buku ini aku bangun kalau bumi itu luuuuaaaassss banget.” Tutur salah satu anak suami-laki bernama Dante. Yah, engkau memang anak paling kolot diantara semua anak asuh disini. Tapi disisi lain, engkau yakni momongan minimum teruji yang pernah kutemui. Sangking jujurnya aku sampai tak bisa bercakap-kata saat engkau mengatakan satu peristiwa secara blak-blakan.

Mendengar jawaban andal terbit anak asuh safi ini, aku tetap tersenyum sambil membatin “bagaimana mungkin aku memarahi anak yang menyukai ilmu.” Yah, aku berjanji lega diriku sendiri sekiranya Tuhan memberiku rezeki bertambah akan kubelikan sendisendi yang banyak.

 Aku mengelus kepala mereka semua, “gini, hari ini kakak cak hendak bertemu kak claudia, apa kalian mau mengantar embok?” tanyaku ragu, sebab umumnya ini memang jam bermain mereka sebelum akhirnya jam pelajaran mereka dimulai.

Kupikir mereka akan memurukkan tapi ternyata malah sebaliknya, mereka langsung bersemangat sederum mengandeng kedua tanganku, “ayo kak, kami kembali ingin menemuinya, takdirnya kakak tadi tak mengajak kami tak dapat menemuinya koteng.”

Mereka barangkali hanya 6 anak asuh terbelakang nan bersekolah di sekolah usang dengan instrumen seadanya, tapi dihatiku mereka semua adalah wujud dari impi seseorang. Mereka adalah calon-calon orang hebat dimasa depan. Walau hanya 6 anak yang masih belum pandai berhitung, vitalitas mereka tak perhubungan padam walau hanya karena ketidakpahaman itu sendiri. Malah, dengan ketidakpahaman itu mereka menjadi giat dan serius.

Seraya mengikuti mereka melanglang menuju ujana belakang sekolah, aku mendongak menatap langit pagi yang lama-lama memberi kehangatan.

“andai dulu aku lebih memahamimu, mungkin kini keadaannya abnormal lebih baik”

Sesampainya di halaman belakang sekolah, mataku langsung bergetar. Bermartabat, mutakadim 6 tahun berlalu, tapi lihatlah dia, senyuman itu tak pernah berubah, melihatnya subur di tengah-tengah anak uang aster yang sengaja ditanam anak-anak asuh disini menciptakan menjadikan penampilannya tampak cantik. Upik itu tetaplah gadis yang lalu pernah menjadi n antipoda, temperatur, motivator, dan terlebih alasan mengapa aku saat ini berkerja sebagai perupa.

Tanpa pulang ingatan air mataku langsung mengalir deras, kehausan ini kesudahannya terbayar. Anak-anak asuh nan berada di sampingku tetapi boleh terdiam sekaligus sedikit menyeka air mata nan pun keluar di netra mereka. Mereka timbrung menangis karena ini adalah sebuah reuni yang indah. Persuaan ini sangatlah indah. Ikrar-janji dimasa lalu lama-kelamaan terbayar berkat usaha nan sejauh ini ku curahkan.

Aku berjalan mendekatinya dan mendekapnya.

“Kartini itu bukan doang nama, waktu ini aku paham ucapanmu” tuturan nan dulu selalu kau ucapkan saat kami mengerjakan tugas sekolah, ucapan nan cinta membuatku sebal sebab harus mendengarnya saban hari, tuturan nan membuatku pulang ingatan alangkah bodohnya aku sepanjang ini…..

uara burung berkicauan menemani langkahku menuju sekolah. Jarak rumahku dan sekolah tak bisa dibilang dekat atau jauh. Aku start dengan perkembangan kaki karena uang jasa yang kupunya hanya sepan untuk membeli roti di koperasi sekolah. Maklum, namanya juga anak asuh beasiswa. Belaka punya akal tapi punya komisi. Sesampainya di kelas, gadis itu langsung melambaikan tangan spontan berfirman “selamat pagi, Ratih.” Tera perawan itu adalah Claudia. Dia kembali anak beasiswa sederajat sepertiku. Tidak, kami cuma mempunyai kesamaan di babak “momongan darmasiswa”. Ada satu perbedaan jelas yang membuatku dan Claudia berbintang terang perlakuan farik di kelas. Disamping kamu adalah anak asuh beasiswa, dia juga momongan berkebutuhan khusus. Dia tuna rungu. Entahlah, awalnya aku lain paham kenapa sekolah ini mau menerima gadis itu alih-alih merekomendasikannya ke SLB. Tapi setelah dua pekan berada di bangku yang setolok dengannya, aku paham alasannya. Walau engkau anak berkebutuhan khusus, duaja IQ-nya setara dengan anak normal lainnya, bertambah tinggi malah. Walau dia lain mujur materi secara maksimal di kelas karena enggak dapat mendengar, setiap ulangan yang dia lewati disini akhirnya selalu sempurna.

“selamat pagi juga Claudia.” jawabku ramah cak sambil meletakan tas di amben. Aku reseptif engkau tak dapat medengarku, tapi dia pasti menilainya terlampau durja ramahku. Ibarat pengenalan tadi aku menjawab “apaan sih lo, menyebelin banget” sambil memasang wajah ramah, dia pasti tetap senang. Naif sekali.

Setelah wirid dan mulut sapaan dari guru, les sebagaimana kebanyakan dimulai. Entah kenapa pelajaran hari ini tentang rekaman semua. Menyebalkan. Bukannya aku tak ingin memafhumi perjuangan para pahlawan yang membuat negri ini merdeka, tetapi saja, cak bimbingan sejarah pecah sekolah dasar hingga sekolah menengah atas setolok saja. Tentang pahlawan ini itu dan perang apa saja yang mereka pimpin.

Saat mengerjakan tugas yang diberikan master, aku meletakan kepalaku di tangan dan berpalis ke jihat gadis itu. Dia tertumbuk pandangan antusias. Berbanding terjungkir dengan wajahku yang tampak lesu, wajah gadis itu berbinar-terang. Seakan-akan semangat para pahlawan mengalir ke tubuhnya. Lucu sekali.

 Aku menulis di separuh kertas dan memberikannya ke Claudia.

“pahlawan apa yang akan kau memperbedakan untuk tema tugas kali ini?”

Dia sinkron berbisik kepadaku lirih, “Kartini.

” Hah, itu pula. Tidak-tidak, berpokok mulanya aku sudah lalu menduganya. Aku sahaja kaget ketika memastikannya. Upik itu tekun terobsesi dengan seorang pahlawan wanita yang demap muncul di sosi sejarah. Padahal 3 hari yang lampau dia sudah mengaryakan tema Kartini, masak hari ini juga mengambil tema yang sama. Apa jangan-jangan karena sekadar Kartini tetapi nama pahlawan yang anda senggang?

 Aku kembali menulis “Hey, apa jangan-jangan cuma satu pahlawan yang kau tahu?”

Dia berbisik “lepas, bisa jadi kau merasa jengkel, ya. Tapi aku mengidas pahlawan ini karena kamu yang selama ini menjadi motivatorku.”

Belum adv pernah aku batik kalimat “aku jadi tambah nggak paham”, anda kembali berbisik, “esok seandainya tugas ini selesai, cobalah baca punyaku.”

Aku menarik nafas alun-alun, biarlah. Memang kita cuma sebatas teman sebangku. Enggak bertambah dan bukan cacat sebab terserah banyak situasi yang membuatku tidak reaktif akan jalan pikirnya.

Setelah mengerjakan tugas hari ini, claudia langsung menyempurnakan janjinya. “bacalah, kau karuan akan mengerti kenapa aku sangat mengidolakannya.”

Tanpa pikir hierarki, aku langsung membacanya. Isinya memang mayoritas kian menjurus ke riwayat hidupnya. Tapi yang membuatku rendah bukan mengerti merupakan kalimat “Kartini lain hanyalah sebuah nama”. Kalimat itu bukan hanya tertera sekali, melainkan berkali-kali sebagai awal setiap paragraf. Tunggu, kartini kan yaitu sebuah nama koteng pahlawan nan berjuang untuk emansipasi wanita, jadi harusnya kan benar, kenapa malah bukan?

Aku cuma bisa mencabau-garuk rambutku sambil menyerahkan lagi kepingan kertas itu.

Claudia terlihat kecewa, “ratih nggak paham ya ternyata.”

Gimana caranya aku paham kalau kau itu demap membuatku hilang akal tanpa menjelaskannya sampai selesai. Aku memutuskan untuk pergi ke koperasi, meninggalkannya di kelas. Jam istirahat hanya 15 menit sebab sekolah ini menegaskan semua muridnya untuk fokus belajar. Burung sekitar 7 menit setakat alhasil aku berbahagia roti yang kuinginkan dan pula ke kelas.

“hey kau invalid, tolong kerjain tugasku dong” ada sekumpulan anak pria mendekat ke arah Claudia, mereka berjumlah 3 orang. Sudah menjadi kebiasaan individu yang lestari itu memerintah yang ruai. Hukum standard katanya.

Aku tahu mereka semua anak asuh kelas bawah ini, belaka aku nggak ingat siapa nama mereka bertiga. Bukannya tak boleh berbual mesra, aku cuma malas saja bergaul dengan anak asuh berkepribadian sampah seperti itu. Aku memandang claudia berbunga portal kelas, kamu kelihatan bungkam saja.

“maaf p versus-bandingan, aku nggak bisa ngerjain tugas. Jika ada yang nggak paham, aku boleh bantu”. Claudia sadar jika anak asuh-anak itu minta dikerjakan tugasnya, karena memang sudah dari dulu ketiga anak itu naik kelas bawah sebab campur tangannya.

Tunggu, bukannya hijau sahaja dia menolak? Aku tersadar, ini purwa kalinya Claudia mendorong mengerjakan tugas mereka. Apa rasam naifnya sudah berkurang. Aneh, dia tak naif di waktu yang riuk.

 “APA?! APA Sekarang KAU Angkuh KARENA TERLALU PINTAR HAH?!” salah satu dari ketiga anak itu start menapuk bidang datar di depan Claudia. Sebagai halnya nan kupikirkan kini, gadis itu tidak naif di masa yang salah.

 “hey, aku pertanyaan sekali lagi baik-baik, apa kau mau berbuat tugasku?!” anak tidak yang lebih kurus memegang pundak Claudia dengan tatapan gertakan. Seolah berkata, “jikalau kau menolak, mampus kau”

Claudia hanya boleh terdiam, menurut instingku ini mungkin kejadian ketika engkau tidak paham barang apa yang padanan bicaranya katakan atau sebab beliau reaktif tapi sengaja tak menjawabnya. Aku masih menontonya di pintu kelas serempak gado roti yang tadi kubeli. Aku menatap ke penjuru kelas, sesungguhnya tidak hanya mereka berempat yang berada di papan bawah, melainkan semua anak sudah produktif di kelas sejak tadi. Mereka membiarkan pembullyan ini terjadi sebab 2 faktor, antara ingin mendukung tapi bukan punya kekuatan ataupun memang sejak awal mereka bukan peduli.

Semua anak sudah tau apa yang akan ketiga pembuat onar itu untuk, mereka bertiga menyentak tangan Claudia dan menghajar perawan itu megah. Aku mengerudungi mataku, aku sendiri tak bercita-cita bisa membantu Claudia dengan tenagaku sendiri. Melapor ke pangsa guru adalah jalan yang paling bijak.

“HEY, KAU PIKIR Bisa SENANG KARENA TERLAHIR DALAM Keadaan PINTAR HAH?! KAMI SEMUA IRI DENGANMU.” Tepat sebelum aku menjauh buat melapor, anak gendut itu berteriak dengan lantang tanpa tanggung apapun.

Pikiranku sedarun lopak-lapik, dengan cepat aku kembali ke kelas bawah dan melayangkan tinju ke wajah momongan itu.

“hey, tidak ada manusia di mayapada ini yang terlahir berilmu, kau dogol sebab kau lain berusaha”. Mentah pertama kali ini aku semarah ini. Dia mengatakan hal paling tidak masuk akal nan pernah kudengar. Selama ini aku diam bukan karena aku merasa ampuh dan tidak membutuhkan siapapun, aku selama ini cuma menahan diri dari banyaknya besar cakap kosong orang yang tak tau betapa sulitnya jalan nan kutempuh.

Semenit kemudian, suhu-master langsung datang dan membawa ketiga berandal itu. Aku menatap Claudia sendu, kutawari tanganku sebaiknya dia bisa berdiri dan duduk di bangkunya. Dia masih terkelu. Jejas di wajah dan kakinya terbilang parah. Hebatnya, hawa-guru itu hanya bungkam doang seolah tidak melihat adanya bekas kekerasan di sini.

Pelajaran juga berlanjut sampai waktunya selesai.

“si fulan, Ratih. Apa kita bisa bicara sebentar.” detik itu kelas sudah selesai, Claudia sudah berkemas pulang dan tahu-tahu meminta waktu bertutur denganku.

“aku sudah nggak mau ikut campur cak bagi urusan tadi, aku tadi memukulnya hanya untuk menenangkan pikiranku sendiri. Pulangkah dan obati saja lukamu.” Jawabku dengan bahasa isyarat tangan. Dapat bintang sartan tahun lautan kalau sampai orang tua Claudia tau anaknya babak belur dan terserah aku di sampingnya. Ayah bunda jaman waktu ini doyan menyimpulkan sesuatu sonder pikir pangkat.

“kumohon, mungkin takdirnya sekarang bukan kulakukan, aku akan menyesal seumur hidupku. Serah aku tahun 10 menit, itu telah patut.” Raut wajahnya pucat seakan-akan ada rentenir nan mau menagih hutang.

“yasudahlah, apa maumu.” 10 menit itu waktu yang kubutuhkan cak bagi sampai di halte permulaan. Andai aku merelakannya untuk sesuatu nan tidak penting, aku akan pindah tempat duduk.

Claudia mengambil sebuah resep kerdil yang ada di tas putaran depannya. “ambilah, dan jika ada hari tolong dibaca.” Buku nan dia berikan lebih mirip begitu juga buku diary daripada sentral nota. Kekanak-kanakan.

Aku mengambilnya dengan santai, kalau aku bertanya alasannya, mungkin waktu 10 menit bisa menjadi setengah jam.

“Ratih, kuharap suatu ketika besok kau bisa menjadi pelukis terkenal.”

 Pupilku rempak bergetar. Tunggu, darimana ia tau itu? Darimana dia tau kalau menulis adalah hobiku? Ibuku sendiri tambahan pula lain tau jikalau aku demen menggambar?

“aku tuli bukan buta. Setiap kali suka-suka ujian matematika, kau sengaja menghitung di kertas harian dengan gubahan boncel agar masih tersisa banyak arena untuk menulis. Aku menilai ini sebab bukan paparan lazim nan kau buat, tapi bayangan nan bahkan menurutku dapat mengguncang dunia”. Sama sama dengan biasanya, wajah pemudi itu bersinar seolah-olah bisa menerawang masa depanku.

“huh, kupikir kau akan mengatakan hal utama, ternyata saja omong kosong yang sering diucapkan agar momongan kecil bahagia.” Aku beranjak pergi meninggalkan gadis itu yang lain henti-henti menjuluki namaku.

 Andal, alas kata-katanya membuatku bahagia, baru kali ini ada seseorang nan menerima bakatku apa adanya. Tapi dia pangling hukum pan-ji-panji yang menyambung setiap anak asuh kepada orang tuanya. Aku hanyalah anak SMA yang hidup bergantung lega ibuku. Sejak kecil, ibu selevel sekali tidak peduli tentang segala saja yang kuraih di sekolah. Sebab, dia belalah berujar, “prodeo sekolah dengan bukan main-sungguh jika sreg hasilnya harus mengurus rumah”. Tak salah memang, tapi juga tak benar, setiap anak punya cita-citanya masing-masing. Alasanku bikin cak jongkok mengejar mimpiku ialah aku bukan punya memadai biaya yang bisa mendukungku bikin mewujudkan mimpiku.

Siang hari itu, adalah siang periode terakhir pertemuanku dengan Claudia. Tak disangka, Tuhan punya sebuah rencana yang tak terpikir oleh hambanya. Sebab , tepat sehabis gadis itu keluar sekolah menunggu jemputan, sebuah truk bermuatan mani lepas cais dan menabraknya. Entah apa yang dipikirkannya perian itu sampai bukan memperhatikan sekitar.

Keesokan harinya, semua momongan meninggalkan mengunjungi makamnya, kecuali aku. Aku memilih tetap ki berjebah di kondominium serta merta memandang gerendel nan dia berikan. Enggak cak semau yang kulakukan selain memandang cover depan buku tersebut.

Hijau selepas 2 jam termenung, aku memberanikan diri membukanya. Pikirku buku itu digdaya segala apa ratap kesahnya sehari-tahun, tapi ternyata salah, di halaman pertama buku itu berisi semua impian pemudi itu.

 “aku ingin suatu momen mendirikan sekolah buat anak asuh-anak kurang mampu, aku ingin satu saat kemudian hari bisa pergi ke Jepara, aku kepingin menjadi orang hebat yang bisa memotivasi semua anak adam akan pentingnya memperjuangkan sebuah mimpi.”

 Aku cukup tercengang mengintai semua impian mulia Claudia. Tapi berpangkal semua impiannya, tetapi suka-suka satu kalimat nan sudah di oret-oret. Setelah kuterawang menggunakan senter, kalimat nan harusnya tertulis disitu adalah “aku ingin sembuh.

” Setelah bermuka-muka halaman yang ampuh semua impiannya, aku karenanya menemukan topik yang berbeda. Di pertengahan kancing, potongan kliping memenuhi penjuru jerambah. Semua kliping memiliki tema yang sama, Kartini.

Aneh, isi buku ini berubah 180 derajat dalam hitungan detik. Nan tadinya berisi semua harapan dan impi, berubah menjadi pertarungan dan air netra. Walau aku membaca setiap klipingan tersebut, aku tak merasakan apapun di dalam hatiku. Semua hal yang ada di klipingan tersebut adalah hal nan silam sudah kubaca di balai-balai sekolah pangkal. Kenapa dia menyimpannya, bukankah ini telah seperti mana guna-guna dasar nan melekat di tutorial sejarah.

RA. Kartini, habis gelap terbitlah kirana, pahlawan emansipasi wanita, semua orang tau itu. “oke, sepertinya layak sampai disini dulu membacanya. Rasanya seperti sedang membaca muslihat penggemar berat artis papan atas saja.” Aku membelakangkan bagi menyudahi buku itu. Enggak cak semau satupun isinya yang dapat kumengerti. Kekesalanku hanya semakin bertambah hanya setiap cak semau kalimat “Kartini itu bukan hanya nama.”

Sedetik setelah aku menyelimuti sentral, sebuah daluang katai mengendap bak daun yang sudah lalu gugur. Aku terkejut dan beberapa ketika kemudian baru mengambilnya.

“i…ini… bohongkan”.

Baru saja membaca judul yang tertulis di kertas tersebut. Badanku langsung roboh. Rasa terkejut, murka, tersentuh perasaan, menyesal bersatu menjadi sebuah guncangan hebat di kepalaku. Tertulis dengan jelas disana, “teruntuk sahabat sinkron teman pertamaku, Ratih”.

Bukan karena kalimat sahabat nan membuatku terperanjat tidak kepalang, melainkan perkenalan awal “inversi permulaan” lah yang membuat pikiranku nihil.

Dengan ingatan nan masih bercampur aduk, aku membaca dengan seksama isi inskripsi tersebut, sampai tiba pada akhir surat, air mataku sudah mengalir tanpa bisa kukendalikan.

Setelah selesai membaca surat tersebut, aku sekaligus berlari keluar rumah dengan kelajuan penuh. Aku sama sekali tak mengindahkan suara ibuku yang berteriak dari dapur, maupun suara klakson penggerak nan dibunyikan keras saat aku menerobos lampu merah di kuda belang cross.

Aku pergi menemuinya… Jalan setapak terasa berat sampai kesudahannya ada laki-laki berbadan tinggi menghentikan langkahku.

“hey, tenanglah. Wajahmu pucat pasi banget. Apa kau habis marathon keliling dunia.” Ah, itu adalah kalimat yang laki-junjungan itu ucapkan tepat sebelum alhasil aku tumbang di bahunya. °

“Claudia, kau tau sangking bodohnya aku, aku memerlukan tahun hampir 6 periode untuk mengetahui makna suatu kalimat saja.”

Itu sopan, sesudah mengunjungi makamnya hari itu, aku memutuskan mengerjakan semua hal yang bisa membuat mimpiku menjadi warta. Sulit memang sebab semua dimulai dari hampa. Menjadi ilustrator itu bukan hanya butuh bakat, tapi memang yang terpenting merupakan tekad. Jatuh bangunnya karirku sudah menjadi hal resmi yang cangap kuhadapi. Tapi seperti katanya, aku tak akan menyerah…

Disamping mewujudkan mimpiku, aku lagi berusaha mewujudkan mimpi gadis itu. Aku membeli persil sebuah sekolah terbengkalang untuk direnovasi menjadi sekolah bikin anak asuh kurang mampu. Kelihatannya sampai sekarang aku masih belum merenovasi total bangunannya karena biayanya yang kurang mencukupi. Walaupun begitu aku yakin satu hal, andai Claudia bisa melihat senyum keenam anak-anak kecil ini, dia karuan menangis bahagia.

 Kilangangin kincir akhirnya berhembus kencang menerpa kami bertujuh, sepertinya hari ini pun akan roboh hujan. Aku akhiri disini.

“Anak-anak, ayo kita kembali ke papan bawah saja. Sepertinya kak Claudia butuh banyak istirahat hari ini”. Hampir setengah jam aku hadang mereka disini, mampus sudah lalu.

“baik kak, yuk antiwirawan-teman.” Seperti seremonial, Dante nan menganjuri mereka. N domestik hitungan menit, doang aku yang terlambat di samping kober Claudia.

“Claudia, kau sejauh hidupmu pasti sudah berjuang habis-habisan. Menantang dunia sendirian, mengalahkan berbagai keburukan yang datang silih berganti dan bahkan berusaha terlihat bahagia disamping cucu adam-hamba allah yang kau kenal.”

“kau tau, bulan suntuk aku menjauhi ke Jepara. Sekarang aku paham kenapa dulu kau lalu ingin kesana, ketempat motivatormu berjuang buat mewujudkan impiannya. Ki akal sejarah sama sekali tidak bisa diandalkan sebab banyak situasi-kejadian lainnya akan halnya Kartini yang tidak dimuat didalamnya. Pron bila-bilamana aku akan menjelaskannya kepadamu, aku harus segera pulang saat ini, ada lukisan nan belum kuselesaikan.” Aku memetik salah satu bunga aster berwarna kuning dan meletakannya di depan batu nisan Claudia.

“Kaprikornus lukisan terbaikmu itu belum selesai kembali.” Terdengar suara maskulin berasal arah belakangku. Aku sontak menganjal, anda disini.

Senyum diwajahku kembali mengembang, aku beranjak dari tempat Claudia dan menghampirinya.

“Sebuah karya terbaik memerlukan tahun nan panjang.” Maskulin ini menyebalkan sekali, sementara itu mutakadim lama tak bertemu tapi hal pertama yang dia tanyakan adalah lukisan, bukan kabarku.

“hahaha… kau tertentang sangat berbeda semenjak ragil kita bertemu, tinggal nan kau buat cuma bisa menangis sambil terus menyalahkan dirimu koteng. Sekarang kau terlihat kian ambisius dan bersemangat. Aku suka.” Lelaki itu kelihatan santai sahaja sambil menikmati keadaan.

“karenamu, momongan-momongan terlambat menirukan jam pelajaran. Ibarat guru mereka semua, aku harus menghukum pembuat onar yang mewujudkan mereka lupa musim”.

“Hey, bawah kau tau saja ya, ini juga salahmu karena lain nikah mengajak mereka kesini. Andai aku tak kemari hari ini, tak ada siapapun yang akan kesini”.

Angin kembali berhembus kencang, menyisakan keheningan diantara kami berdua.

“Kau salah, setiap waktu aku kemari. Setiap waktu aku menceritakan kabar anak-anak untuknya. Saban hari aku juga membisikan pamrih-harapan yang dulu dia sering ocehkan”. Pria itu mendekatkan wajahnya, menatapku dalam.

“Kau tau, ragil barangkali kita bertemu adalah momen kau berencana menularkan makam Claudia ke panggung ini. Semenjak saat itu, aku tak asosiasi nangkring nomplok kemari apapun keadaannya.”

 Air mataku kembali mengalir, pria ini lah yang selalu mendukungku sepanjang ini. Walau pelik bertemu, dia lah satu-satunya orang nan membantuku wujudkan impian Claudia. Walau pertemuan pertama kami tidak terlihat baik karena aku pingsan di bahunya, berkat pertemuan itu kami terus terhubung.

“Kenapa lebih lagi menangis, aduh aku pelecok wicara, ya.” Wajahnya serampak cemas.

 Aku menyeka air mataku dan menatapnya semu, “makasih, andai Claudia suka-suka disini, dia pasti akan memarahimu karena membuatku menangis.”

Senyum pria itu perlahan mengembang, “baiklah, makara aku katakan sekarang, hukumanmu merupakan harus mengajari anak-anak asuh menggambar. Siapa tahu, kita menemukan nomine pelukis hebat sepertimu disini.”

Tawaku pecah, aneh rasanya tertawa sesudah menangis sebagaimana ini, “baiklah. Karena aku kaprikornus harus menunda lukisan terbaikku, kau harus meng-gajiku.”

 “Eh, kenapa?! Bukannya puas akhirnya lukisan itu akan diletakan di sekolah ini, kenapa masih ancangan banget. Adat ain duitanmu nggak berubah.”

“yah, gimana ya, soalnya lukisan itu kan akan kuberikan lega Claudia, tidak padamu, jadi kau telah membuatnya harus menunggu adv minim makin lama.”

 Lukisan terhebat yang akan kubuat, aku persembahkan untuk pemudi itu. Sama seperti perkataanya waktu itu, mungkin lukisanku dapat menguncang dunia. Aku jadi tak lunak untuk memajangnya di sekolah ini.

“Baiklah, esok aku akan menraktirmu bersantap lilin batik, gimana?!”

 “Sejadi, ayo ke kelas sekarang.”

 Akhirnya hujan turun dengan melodi nan membawanya turun ke tanah ini, membasahi semuanya termasuk perasaan yang muncul di hatiku. Kami melanglang bersama menghadap ke tempat yang ingin kami tuju.

 “Ngomong-ngomong, 6 bulan lagi aku akan pergi ke kota kerjakan mendapat lisensi resmi bagi sekolah ini. Apa kau sudah memikirkan keunggulan bakal sekolah ini?”

“Kartini, sekolah asal Kartini.” lain aku nan mengakhirkan nama itu, aku hanya berbuat segala nan Claudia inginkan. Kupikir logo itu juga yang akan kamu ucapkan.

“Mutakadim kuduga, baiklah. Makara kau sudah mengarifi segala yang sering adikku katakannya, ya. Boleh kau katakan padaku juga?”

“Pasti, aku tinggal mengerti.” pancaran mataku membara, kuambil secarik kertas yang ada di saku kemejaku dan membacakannya ke laki-laki itu, Calid, kakak kandung Claudia.

“Kartini tak hanya sebuah nama, tapi adalah sebuah tekad sendiri wanita nan menantang bumi. Banyak wanita nan ingin menjadi seseorang yang hebat, tapi sedikit dari mereka memangkal karena tekad mereka masih lemah. Kesetaraan gender. Dulu kartini mekakukan segala apa pendirian moga semua keinginannya terdengar dunia suntuk surat-pertinggal yang karenanya menjadi buku “Bermula Palsu Terbitlah Sorot”, tak nangkring di situ, dia kembali mengaji banyak buku bikin mengetahui kenapa negerinya dapat terjajah dan mencari jalan keluarnya. Dia adakalanya tidak mempedulikan apa yang orang sekitarnya bicarakan sebab tak ada satupun yang bisa menghentikannya.” Sedangkan aku belum radu membacanya, suaraku mutakadim bergetar.

Tangan Calid mengusap kepalaku, “sudah, aku sudah puas mendengarnya sampai sini, jadi jangan dilanjutkan.

” Kami akhirnya diam dan menyinambungkan anju menuju kelas. Tak ada yang tau kalau setelah itu wajahku memerah bak kepiting rebus. Berbahagia seseorang, aku mengalami banyak hal, dan berbintang terang seseorang, aku merasakan berbagai diversifikasi perasaan.

“Kartini bukan saja keunggulan, tapi pula satu rasa cinta seorang wanita terhadap negerinya.”

 ~Tamat~

 NAJWA CAHYA CAMILA kelas XI MIPA 2

Juara 1 menulis CERPEN pada peringatan Waktu Kartini 2022 MAN 1 Blitar

Source: https://web.man1blitar.sch.id/2022/06/arti-dari-namanya-pagi-ini-aku-berjalan.html

Posted by: skycrepers.com