Contoh Judul Ptk Inovasi Pembelajaran Dalam Penjas Sd

Transendental Paradigma PTK PENJAS SD KELAS IV-Pelaksanaan pendidikan jasmani ialah sebuah investasi jangka panjang dalam upaya meningkatkan mutiara sendang sentral manusia. Wahana dan prasarana merupakan pelecok satu bagian yang strategis kerumahtanggaan pencapaian tujuan. Latar bokong permasalahan penelitian tindakan inferior ini adalah ketidak berhaasilan suatu penataran tolak peluru, dikarenakan kurangnya sarana prasarana. Tujuan riset tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui sepanjang mana media modifikasi bola plastik boleh meningkatkan minat membiasakan lempar peluru di kelas IV SDN ……………



Obyek pengkhususan ini yakni siswa inferior IV SDN ………. dengan jumlah 19 siswa. Data nan diperoleh dianalisis dengan menggunakan kajian deskriptif komparatif.

Hasil tes lempar peluru menggunakan kendaraan bola plastik Berdasarkan observasi pada siklus II bisa dikatakan telah mencapai peningkatan dibandingkan dengan siklus I. pada aspek afektif diperoleh perilaku petatar yang pas baik dan baik sebanyak 100%, lega aspek kognitif diperoleh siswa denga kategori pas baik dan baik sebesar 100% dan plong aspek psikomotor juga diperolehsiswa dengan tolok cukup baik dan baik sebanyak 100%. Hal ini berharga perilaku peserta dalam siklus II telah mencapai tingkat yang ideal yakni lebih dari 85% berasal seluruh murid.





Pembelajaran lempar peluru dengan memperalat media bola plastik berkecukupan meningkatkan kelincahan siswa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase rata-rata hasil penilaian kognisi siswa (kognitif) selama siklus I dan siklus II. Pada siklus I kebanyakan persentase mencecah 64% (baik). Pada siklus II persentase rata-rata mencapai 82% (baik). Patokan peningkatan rendah (low gain). Hasil pengamatan psikomotor selama siklus I dan siklus II pun mengalami eskalasi. Puas siklus I persentase rata-ratanya mencapai 55.% (baik). Pada siklus II, persentase rata-ratanya meningkat menjadi 82% (baik). Standar peningkatan unjuk kerja psikomotor adalah tekor (low gain). Hasil pengamatan afektif sejauh siklus I dan siklus II pula mengalami eskalasi. Pada siklus I lazimnya presentase mengaras 73% (baik). Pada siklus II prensentase biasanya mengaras 86.50% (baik). Kriteria kenaikan pengamatan afektif adalah rendah (low gain). Hasil penilaian tanggapan/respon siswa sejauh siklus I dan siklus II kembali mengalami peningkatan. Pada siklus I lazimnya presentase mencapai 85.33% (baik). Pada siklus II presentase kebanyakan mencapai 89.08% (baik).





Maklumat pengkajian tindakan kelas ini membahas Mapel
PENJAS SD Papan bawah IV
yang diberi judul

“Peningkatan Penelaahan Tolak Peluru Menggunakan Media Bola Plastik Pada Peserta Kelas bawah Iv




Sdn …….”

buat memenuhi salah suatu persyaratan dalam kenaikan tingkat dari IV a ke IV b. Disini akan di periksa lengkap.





PTK ini berkepribadian hanya


REFERENSI


saja kami tidak mendukung


Plagiat

, Bakal Anda nan mendambakan file PTK PENJAS SD Kelas IV paradigma dalam buram MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 – BAB 5 bagi bahan referensi penyusunan amanat PTK dapat

(SMS ke 0817-283-4988 dengan Format PESAN PTK 004 SD).

A.Eksemplar PTK PENJAS SD KELAS IV DOC.

Ki I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan pendidikan raga dan sport yakni sebuah inventasi jangka panjang dalam upaya meningkatkan dur sumur resep bani adam, oleh karena itu jasad dan olahraga terus ditingkatkan dan dilakukan dengan kesabaran dan kehadiran. Cabang – cabang olahraga kesegaran, atletik, permainan, senam, renang dan lain – lain.

Alat angkut prasarana ialah salah satu bagian yang strategis dalam pencapaian maksud pembelajaran. Dengan kata lain, lengkap dan tidak lengkapnya sarana prasarana penerimaan ikut mempengaruhi maksimal dan tak maksimalnya ketercapaian tujuan pembelajaran. Wahana nan lengkap bisa memudahkan guru untuk mengejar target-korban tertentu yang menjadi tujuan pembelajaranya. Begitu sebaliknya, sarana yang tidak lengkap akan mengusutkan bagi guru intern mencapai target-target tujuan pembelajaranya.ptk penjaskes sd kelas 1-6

Ini pula yang terjadi pada pengajian pengkajian Tolak peluru di SDN ….., Kondisi nyata di sekolah, ki alat peluru hanya tersedia 2 buah, 1 peluru untuk dayang dan 1 peluru cak bagi putra. Tentatif lazimnya murid di SDN ……………. berjumlah 20 – 30 khalayak siswa perkelas, bintang sartan komparasi antara jumlah peluru dan kuantitas siswa adalah 1 : 17 putra/putri. Jelas dari gambaran tersebut bahwa proses pembelajaran Tolak Melinjo menjadi bukan efektif, dan akibatnya bahwa target kurikulum menjadi sangat sedikit..

Keadaan dan kondisi ini sudah berjalan cukup lama dan sekolah sampai saat ini belum bisa memenuhi sarana peluru tersebut sebatas batas yang cukup patut maupun kondisi ideal, misalnya dengan perbandingan 1 : 2 ( 1 peluru untuk 2 cucu adam ). Hal ini dapat dimengerti, karena sekolah n kepunyaan kebutuhan nan sangat banyak dan hampir semuanya mempunyai tingkat urgensitas yang panjang bagi di penuhi oleh sekolah. ptk penjas sd konseptual menuntut sekolah cak bagi menyempatkan Meninjau sesuai dengan kondisi ideal, merupakan suatu yang tidak utilitarian dan bertambah jauhnya bisa menimbulkan jilatan dan iklim nan tidak kontributif di sekolah.

2.Abstrak PTK Penjas SD

Makanya karena itu teradat sebuah pemecahan kelainan nan primitif dan bisa dilakukan maka dari itu suhu. Meluluk permasalahan di atas, maka suatu pemikiran yang unjuk merupakan bahwa perlu adanya sebuah media alternatif modifikatif bakal mengganti peluru yang memang cukup mahal.ptk penjaskes sd kelas 4

Sarana alternatif modifikatif tersebut harus bersifat bisa mewakili karakteristik meninjau, murah, banyak tersedia ataupun mudah di dapat.

Mulai sejak beberapa barometer media alternatif modifikatif bagi mengganti peluru tersebut nampaknya bola plastik bisa dijadikan wahana alternatif modifikatif kerjakan mengganti timah panas. Berusul segi buram, jelas ada kemiripan dengan rancangan peluru, dari segi ketersediaan dan harga, maka bola plastik tinggal mudah sekali di bisa di pasar-pasar tradisional dengan harga sangat murah.

Mulai sejak persoalan tersebut di atas maka dabir menentukan tajuk Penelitian Tindakan Kelas dengan judul perumpamaan berikut;”PENINGKATAN PEMBELAJARAN Tolak Ki pelor MENGGUNAKAN MEDIA BOLA PLASTIK PADA SISWA KELAS IV SDN …………………………….”

1.2 Pembatasan Kebobrokan

Bertitik tolak dari latar bokong masalah tersebut diatas,maka penulis boleh mengenali kelainan tersebut sebagai berikut :

1. Apakah metode mengajar menentukan keberhasilan proses belajar mengajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di Sekolah ?

2. Sejauhmana keefektifan metode mengajar intern peningkatan hasil membiasakan sorong peluru siswa bilamana proses belajar mengajar ?

3. Apakah penggunaan bola modifikasi berperan kerumahtanggaan proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tolak peluru ?

4. Apakah penggunaan bola plastik dapat meningkatkan efektifitas siswa dalam pengajian pengkajian tolak peluru sreg pesuluh kelas IV SDN Belawa Rahmat Kecamatan Dapurang

5. Sejauhmana manfaat penggunaan bola plastik kerumahtanggaan pertambahan hasil belajar lempar peluru murid kelas IV SDN Belawa Rahmat

3.Download Teoretis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Penjaskes SD/MI

1.3 Perumusan Masalah

a) Terbit latar belakang masalah diatas maka rumusan yang akan diajukan adalah: Apakah alat angkut modifikasi bola plastik bisa meningkatkan pembelajaran tolak peluru di kelas IV SDN Belawa Rahmat

b) Pertanyaan riset

• Sejauhmana aktifitas peserta inferior IV internal berlatih dorong melinjo?

• Sejauhmana aktifitas guru dalam mengajar tolak peluru.?

• Sejauhmana hasil belajar lempar peluru yang dilakukan siswa dengan modifikasi bola plastik?

• Sejauhmana respon siswa terhadap pengajian pengkajian tolak peluru dengan media bola plastik?

1.4. Pamrih Masyarakat Dan Pamrih Khusus

1. Harapan mahajana dari penelitian Tindakan Kelas bawah ini yaitu untuk memafhumi sepanjang mana media modifikasi bola plastik bisa meningkatkan minat belajar tolak peluru di kelas bawah IV SDN Belawa Rahmat

2. Tujuan khusus

a. Bikin mengetahui sejauhmana aktifitas siswa internal membiasakan tolak peluru.

b. Untuk mengetahui sejauhmana aktifitas guru dalam mengajar tolak peluru.

c. Bagi memafhumi sejauhmana respon siswa terhadap penelaahan sorong peluru dengan media bola plastik.

d. Untuk mengetahui sejauhmana hasil belajar tolak melinjo yang dilakukan peserta dengan modifikasi bola plastik.

1.5 Kekuatan Studi

a. Manfaat bagi siswa

Murid lebih partisipatif internal proses pembelajaran tolak peluru.

b. Kemujaraban bakal guru

Selain menambah pengalaman privat menggunakan media belajar yang dimodifikasi juga membuat pengajaran tolak peluru menjadi lebih menyenangkan.

c. Bagi sekolah

Adanya peningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran nan berakibat terhadap kualitas peserta dan suhu,sehingga pada kesannya akan berlambak meningkatkan kualitas sekolah secara keseluruhan.

1.6 Pemecahan Masalah

Berbunga permasalahan tersebut diatas,sesungguhnya ada bilang alternatif tindakan agar proses penataran n sogokan pluru dikelas IV bisa menjadi makin baik,diantaranya:

a. Alat angkut modifikasi bola plastik

b. Dengan rang formasi pembelajaran yang variatif

c. Pengemasan timah panas nan memadai dari sekolah.

Maka bersumber beberapa alternatif pemecahan keburukan belajar lempar peluru tersebut,prioritas pemecahan masalah yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan dalam penerimaan tolak peluru di kelas IV dengan cepat dan mudah yaitu dengan menggunakan kendaraan modifikasi bola plastik dalam proses pembelajaran lempar peluru.


B.DOWNLOAD Pola PTK PENJASKES SD LENGKAP DOC

Ki II
Amatan TEORI


2.1. Belajar



Kerumahtanggaan keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktifitas yang paling terdahulu. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian maksud pendidikan banyak tergantung puas proses penelaahan. Apakah pembelajaran itu ?



Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya di kemukakan sebuah definisi dari pendedahan “ Pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan maka dari itu turunan cak bagi memperoleh satu perubahan perilaku yang yunior secara keseluruhan, sebagai hasil berbunga pengalaman indvidu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya “ (Muhamad Surya:2004). Menurut Muhamad Rawi (2004) lebih lanjut bahwa ada sejumlah kaidah nan menjadi landasan pengertian tersebut di atas ialah :



Pertama, penerimaan sebagai usaha memperoleh perlintasan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses penelaahan itu adalah adanya perubahan perilaku internal diri bani adam. Artinya seseorang sudah mengalami pembelajaran akan berubah perilakunya. Tetapi tidak semua persilihan perilaku sebagai hasil penelaahan. Perlintasan perilaku sebagai hasil penataran mempunyai ciri-ciri seumpama berikut : (a) perubahan yang disadari, artinya makhluk yang berbuat proses pembelajaran mencatat bahwa kabar, keterampilan, dan sira kian yakin terhadap dirinya. (b). Perubahan bersifat kontinyu (terus-menerus) Artinya suatu perubahan yang terjadi, menyebebkan terjadinya perubahan perilaku yang lain. (c). Perubahan bersifat fungsional, artinya pergantian yang sudah lalu diperoleh sebagai hasil pembelajaran memberikan manfaat bagi insan yang bersangkutan. (d) pertukaran bersifat berupa, artinya terjadi adanya pertambahan persilihan dalam diri individu (e) Perlintasan nan bersifat aktif, artinya perubahan itu terjadi dengan sendirinya, akan tetapi memlalui aktifitas individu. (f). Persilihan nan bertabiat permanen (menenetap) , artinya perubahan yang terjadi bak hasil pembelajaran akan makmur secara kekal dalam diri individu, setidak-tidaknya untuk masa tertentu. (g). Peralihan yang bertujuan dan tertuju, artinya peralihan itu terjadi karena ada sesuatu nan akan dicapai.



Kedua, Hasil penerimaan ditandai dengan perlintasan perilaku secara keseluruhan. Kaidah ini mengandung makna bahwa peralihan perilaku sebagai hasil penerimaan merupakan meliputi aspek serebral, afektif dan psikomotor.



Ketiga, penerimaan yaitu suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.



Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada sesuatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung makna bahwa aktifitas pembelajaran itu terjadi karena adanya kebutuhan yang harus dipuaskan, dan adanya tujuan yang ingin dicapai.



Kelima, pembelajaran merupakan bentuk asam garam. Pengalaman pada dasarnya yaitu roh melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu.








2.2. Wahana Belajar



Wahana semenjak berasal bahasa Latin merupakan rangka baku berbunga medium yang secara harfiah berarti, perantara atau pengantar, yaitu perantara atau pengantar sendang pesan dengan penyambut pesan. Beberapa pakar yang dikutip Sudrajat memberikan definisi tentang media pembelajaran diantaranya, schram (1997) mengemukakan bahwa kendaraan pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan nan bisa dimanfaatkan lakukan keperluan pembelajaran.



Bintang sartan kesimpulannya ialah bahwa media penelaahan adalah segala apa sesuatu nan bisa menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga bisa mendorong terciptanya proses belajar lega diri peserta jaga. Internal kaitannya dengan efektifitas belajar Brown (1973) nan juga dikutip Sudrajat mengungkapkan bahwa media penataran yang digunakan kerumahtanggaan kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi tehadap efektifitas penataran.








Lebih lanjut Sudrajat (2007) menuliskan tentang sejumlah keefektifan kendaraan diantaranya : (1). Alat angkut penerimaan dapat melampaui batasan ira papan bawah. Banyak hal nan tidak mungkin dialami secara langsung di privat kelas oleh siswa tuntun adapun suatu objek, disebabkan : (a). mangsa sesak besar; (b). alamat terlalu kecil; (c). target yang bersirkulasi plus lambat; (d). objek nan bergerak terlalu cepat; (e). objek yang terlalu komplek; (f). objek yang bunyinya bersisa renik; (g). objek mangandung logam dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua objek bisa disajikan kepada peserta didik. (2). Ki alat pembelajaran memungkinkan adanya interaksi sederum antara peserta tuntun dengan lingkungannya; (3). Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar; (4). Media menerimakan pengalaman menyeluruh berasal yang konkrit sampai yang abstrak.



Media pembelajaran silam beraneka kelakuan. Dalam memintal kendaraan pembelajaran terdapat beberapa factor nan harus dipertimbangkan diantaranya adalah :



1.
Varietas kemampuan yang akan dicapai sesuai dengan pamrih




Jika akan memilih alat angkut pembelajaran harus disesuaikan dengan intensi yang akan dicapai.



2.
Kegunaan berasal berbagai spesies ki alat penerimaan itu sendiri.




Setiap diversifikasi media pembelajaran mempunyai poin kegunaan sendiri-koteng. Kejadian ini harus dijadikan bahan pertimbangan intern keberagaman memilih media pembelajaran yang digunakan



3.
Kemampuan guru memperalat suatu jenis media penataran




Betapapun tingginya nilai kegunaan ki alat pembelajaran, lain akan memberi manfaat sedikitpun di tangan cucu adam nan tidak berharta memperalat wahana penerimaan.



4.
Fleksibilitas (lentur), tahan lama dan kenyamanan kendaraan pembelajaran Kerumahtanggaan memintal kendaraan pembelajaran harus dipertimbangkan kelenturan, dalam kelebihan bisa digunakan kerumahtanggaan berbagai situasi, pula harus resistan lama, untuk menghemat biaya, dan digunakanpun tidak berbahaya. Arti satu ki alat pembelajaran dibandingkan dengan media pembelajaran tak untuk digunakan dalam pembelajaran suatu materi pengajian pengkajian tertentu.




2.3 Tolak Peluru



Tolak peluru adalah riuk satu nomor silang atletik. Atlet tolak peluru melemparkan bola besi yang berat sejauh mungkin. Berat peluru:



– Untuk senior putra = 7.257 kg



– Untuk senior putri = 4 kg



– Bikin yunior putra = 5 kg



– Untuk yunior dayang = 3 kg



Biarpun termasuk n domestik nomor lempar, namun istilah “lempar peluru” yakni minus tepat. Karena pada kenyataannya ki pelor itu tidak boleh dilemparkan, tetapi harus ditolak atau didorong berpangkal bahu. Bagaimana cara memurukkan ki pelor nan betul, hal ini teristiadat dipahami tentang amatan manuver berbuat lempar peluru, menyangsang kelainan teknik menolak peluru secara keseluruhan.



Dalam lempar peluru teknik-teknik yang harus diperhatikan adalah cara memegang peluru, memangkalkan peluru di pundak, sikap menolak, gerakan menjorokkan, sikap selepas memurukkan, dan persiapan dalam lempar peluru.



2.3.1 Cara menjawat peluru



Ada tiga varietas pendirian memegang peluru :



1. Timah panas diletakkan tepat pada lembang telapak tangan, ibu tangan dan keempat jari lainnya menjauh sekenanya (wajar dan rileks). Cara ini lewat mudah, tetapi abnormal menguntungkan, karena saat menolak pergelangan tangan dan jeruji kurang berfungsi lakukan melecutkan meninjau.



2. Seperti cara pertama, tetapi anak bedil agak digeser ke atas sehingga titik pelik peluru terasa berharta pada ujung telapak tangan, yaitu kira-terka puas pangkal jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. Ibu ujung tangan mencegat dan sedikit menekan plong melinjo, sementara itu jari kelingking membendung secara wajar namun. Cara ini lebih baik bermula pada cara yang pertama, karena pergelangan tangan dan jemari¬jari akan timbrung berfungsi melakukan lecutan momen peluru ditolakkan (Bakal pemula termasuk anak asuh-anak sekolah habis sesuai memakai cara ini ).


Cara menyambut peluruu Kerangka 22 .1



3. Sebagai halnya mandu yang kedua, hanya peluru lebih digeser ke atas sekali lagi, sehingga tonjolan meninjau berada plong ruas-ruas jari teluu njuk, jari tengah dan jemari manis. Cara ini sebenarnyaa minimal menguntungkan, karena ujung tangan-jemari dan pergelangan tangan lebih banyak berfungsi bikin melecuutkan ki pelor. Tetapi cara ini hanya sesuai bagi atlet-ahli olahraga yang terali tangannya kokoh-langgeng.



2.3.2 Cara meletakkann peluru di pundak



Sebenarnya meninjau itu bukan etis-benar diletakkan di atas bahuu (pundak), namun agak turun ke depan melekat pada asal gala. Bagian peluru yang terwalak antara induk jari dan jemari telunjuk sedikit tertuju pada tulang selangka (clavicula) menengah timah panas bagian atas berhimpit plong pangkal dagu (rahang asal). Pada posisi itu siku dibuka tidak lebih bersumber 90°.


Gambar 2.2 Mandu memangkalkan peluru di bahu



2.3.3. Sikap menyorong



Sikapp atau posisi tubuh saat akan menolakkan peluru merupakan sebagai berikut :



1.
Peluru dipegang dan diletakkan di pangkal leher seperti tersebut di atas.




2.
Berdiri di dalam lingkaran agak membelakangi objek. Tungkai kiri dijulurkan ke belakang dempet harfiah dann rileks serta berpijak puas ujung kaki. Posisi kaki kiri ini sedikit gelesot ke kiri terbit kaliber sebelah tolakan (jika ada balok penghalang, kaki kiri ini dempang bersebelahan pada bidang privat balok pengadang).




3.
Kaki kanan bertumpu dengan seluruh tapak kaki pada siasat lingkaran. Jarak antara tumit kanan dan ujung kaki kidal sekitar 3 kaki. Dalam posisi ini celah kaki kiri berada pada satu garis lurus dengan tumit kanan, ataupun dapat pula lebih ke belakang/kiri sedikit.




4.
Lutut kanan ditekuk sedemikian rupa sehingga lutut ini asa-kira gemuk privat satu garis vertikal dengan ujung jemari kanan.




5.
Tangan/lengan kiri diangkat rileks ke depan atas.




6.
Dari posisi raga seperti tersebut di atas, badan segera ditundukkan dengan disertai sedikit perot ke kanan, sehingga punggung, kuduk dan tungkai pinggul (kidal) yaitu satu garis miring hampir harfiah. Dagu (letak peluru), dengkul kanan dan ujung jari suku kanan congah internal satu garis vertikal, maupun letak peluru sangkil ke belakang. Sebagian besar berat raga bertumpu pada kaki kanan.




7.
Lengan kidal menggantung/menjulur ke depan agak lurus dan rileks.




8.
Pemimpin rileks, pandangan mengarah ke bawah-depan. Dalam posisi menolak ini seluruh babak badan rileks. Selanjutnya diteruskan dengan gerakan menolak.


Gambar 2.3 Menolak pelur minus persiapan



2.3.4 Gerakk an menolakk



Bermula sikap/posisi menyorong seperti mana tersebut di atas, maka :



1.
Propaganda menolak diawali dengan menolakkann kaki kanan sekuat¬ kuatnya setakat lutut lurus, sehingga pinggul silau ke depan dan agak bergerak ke kiri sehingga birit cenderung ke depan




2.
Saat itu pula bahu diputar ke kidal (lengan dan pundak kidal jangan sebatas terban, tetap diangkat taksir-duga setinggi kepala), sehingga dada longo dan memusat serong atas-depan. Berat badan mulai pindah ke kiri.




3.
Aksi diteruskan meluruskan tungkai kiri dengann kuat, dan saat itu pula lengan kanan diluruskan bikin membebankan anak bedil, disertai dengan lecutan pergelangan tangan dan celah (terutama deriji; telunjuk, tengahan jari manis).




4.
Pada saat (sejauh) gerakan menolak berlangsung, kedua kaki harus benar-benar lurus serong ke depan dan telapak kaki pada bagian ujungnya masih koalisi dengan tanah. Jadi saat mendorong lain dilakukan dengan melompat, dimana kedua suku sekelas-sama melayang (lepas dari petak).




5.
Detik menolakkan timah panas, sikap kepala dan dada harus tengadah, rukyah tertuju ke arah sasaran.




2.3.5 Persuasi setelah menolak



1.
Detik peluru abolisi dari tangan, seluruh fisik dijulurkan ke depan ke arah bulan-bulanan. Demikian pula bahu dan lengan kanan dibiarkan menjulur menirukan jihat/jalannya anak bedil (follow through).




2.
Agar awak lain terjerumus keluar limbung, maka kaki belakang (kanan) harus cepat dilangkahkan ke depan dan bersandar di karib bekas bekas kaki tungkai kiri, yang saat itu pula suku kiri telah ditarik/diayun ke pantat. Pengungsian kaki belakang ke depan ini pula yakni gerakan ikutan.




3.
Lakukan mengerem seyogiannya badan tidak drop ke depan (keluar lingkaran), agar sesaat kaki kanan melangkah ke depan, lututnya harus segera ditekuk.




4.
Sehubungan dengan itu maka pada lapangan/guri dorong peluru terwalak papan/balok penahan, yang berfungsi bakal hadang propaganda kaki agar tidak keluar pecah landasan. Oleh sebab itu (sesuai dengan peraturan) apabila bagian kaki penolak menyentuh bidang bagian dalam balok penahan, tidak dianggap perumpamaan satu pelanggaran (tetapi bila menyentuh/menginjak meres bagian atas/permukaan hal itu dinyatakan sebagai suatu pelanggaran).




2.3.6 Anju dalam tolak peluru



Awalan dalam tolak peluru tersangkut dari teknik (gaya) yang digunakan. Ada empat macam mode, yaitu :



1.
Kecondongan depan; sikap permulaan sebelum mengerjakan ancang posisi badan condong ke arah sasaran. Gaya ini cacat efisien, maka waktu ini elusif dipakai.




2.
Gaya samping; sikap permulaan takut miring, sehingga jihat tolakan di sebelah samping kidal (bila menolak dengan ajudan). Gaya ini masih sering dipakai, terutama kerjakan atlet pemula termasuk bakal anak-anak sekolah (SMTP, SMTA) dan nan sederajat.




3.
Gaya pantat; sikap permulaan bodi membelakangi arah tolakan. Gaya inilah nan sampai detik ini banyak dipakai maka dari itu atlet-ahli olahraga kenamaan (senior).




4.
Kecondongan putaran keluarkan cakram; gaya ini akrab setimpal dengan gaya bokong, hanya saja gerakan kaki bukan begitu juga gaya belakang, sekadar seperti propaganda suku lega keluarkan cakram. Tendensi ini paling sulit, hingga saat ini belum seperti itu banyak yang memakainya.




Mulai sejak keempat jenis gaya tersebut dua kecondongan nan akan dibicarakan, yaitu gaya samping dan tendensi belakang.



2.3.6.1 Tolak peluru kecondongan samping



Cara melakukan maupun teknik tolak peluru gaya samping yakni seumpama berikut :



1.
Belinjo siap dipegang (dengan pendamping) dan diletakkan puas asal gala seperti mutakadim diutarakan terdahulu.




2.
Sikap permulaan agak kelam miring, arah tolakan di sebelah kiri badan. Dengkul suku kanan sangka ditekuk, tungkai kidal dijulurkan ke belakng taksir verbatim dan rileks/lemas berpijak puas ujung kaki. Tangan/lengan kiri diangkat rileks separas bahu alias kian. Berat badan sebagian lautan lega tungkai kanan. Pandangan ke depan-bawah.


C.CONTOH PTK PENJAS SD Tolak Meninjau – DOWNLOAD

Gapura III.

METODE Studi

3.1 Subyek Pengkhususan

Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “ Peningkatan pembelajaran n sogokan ki pelor menggunakan media bola plastik pada pesuluh inferior IV SDN Belawa Kasih kecamatan Dapurang kabupaten Mamuju Utara. Subyek penelitian ini yaitu siswa papan bawah IV SDN Belawa Hidayah Kec. Dapurang Kabupaten Mamuju Paksina, jadi jumlah jumlah 19 anak adam siswa.

3.2 Obyek Penelitian

1. Bola plastik

Keterangan ;

a. Bola pecah plastik nan di isi dengan ramal.

b. Cara pembuatannya laksana berikut;

1. Bola plastik dengan dimensi kecil seukuran dengan bola sofball

2. Bola disobek dengan pisau

3. Kemudian ramal dimasukkan kedalam bola tersebut

4. Susah bola 1 Kg.

2. Papan bernomor

Takrif ;

a. Terbuat dari kayu triplek

b. Dengan format 100 cm kali 50 cm

c. Diberi nomor 1 sampai dengan 3

3. Hasil belajar sorong peluru siswa

3.3 Hari Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan bulan Juni 2006.

3.4 Lokasi Pengkhususan

Lokasi pengkhususan dilakukan di SDN Belawa Rahmat Kecamatan Dapurang Kabupaten Mamuju Lor.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data penelitian, dilakukan dengan cara menentukan mata air data terlebih dahulu, kemudian jenis data, teknik pengumpulan data, dan alat nan digunakan. Teknik pengumpulan data secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.1 di radiks ini :

3.6 Bentuk Penelitian

Gambar yang disusun bakal pendalaman ini , diawali dengan kegiatan penekanan awal, refleksi awal, pelaksanaan siklus penelitian, dan penarikan penali.

3.7 Gambaran Masyarakat Penelitian

Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Prosedur atau langkah-persiapan nan akan dilakukan dalam penelitian ini dilaksanakan internal kegiatan yang berbentuk siklus pengkhususan. Setiap siklus penelitian terdiri semenjak catur kegiatan pokok ialah, perencanaan, tindakan pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Bagi lebih jelasnya rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat dilihat pada rancangan berikut.

Gambar 2.12 Siklus Kegiatan Penggalian Tindakan Kelas (PTK)

3.7.1 Prosedur penelitian tindakan kelas dalam siklus I terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, dapat diuraikan ibarat berikut :

a. Perencanaan

Tahap perencanaan ini berupa rencana kegiatan, yaitu menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti bagi menyelesaikan masalah. Dalam tahap ini penyelidik mempersiapkan proses pendedahan dengan langkah-langkah:

1. Silabus

2. Mewujudkan Skenario Penataran atau Rajah Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

3. Mempersiapkan materi les serta fasilitas dan sarana

4. Menyusun lawe observasi

5. Merumuskan perkakas evaluasi

b. Tindakan

Tahap tindakan ialah tahap pelaksanaan perencanaan yang telah disusun maka dari itu peneliti, yakni dengan melaksanakan gambar pendedahan yang mutakadim disusun pada tahap perencanaan. Pada tahap ini dilakukan kegiatan:

1. Membuka tuntunan dengan mengucapkan salam

2. Guru mengadakan presensi

3. Guru menjelaskan harapan utama pelajaran dan motivasi berlatih

4. Guru memberikan konsep-konsep materi pembelajaran

5. Guru menjelaskan materi dengan menggunakan media bola plastik dalam pembelajaran tolak peluru.

6. Evaluasi

c. Observasi

Observasi dilakukan peneliti sejauh proses pembelajaran berlanjut. Menerobos utas observasi, peneliti memperhatikan tingkah laku siswa sejauh kegiatan pembelajaran berlantas.

d. Refleksi

Selepas mengadakan tindakan kelas, peneliti mengadakan refleksi. Hasil refleksi ini digunakan bakal menemukan kelebihan dan kekurangan penataran penjas, pengkaji bisa berbuat revisi terhadap rencana selanjutnya atau rencana awal siklus II. Refleksi siklus I digunakan lakukan menidakkan garis haluan dan sebagai pembaruan pembelajaran lega siklus II.PTK PENJASKES DOC LENGKAP

3.7.2 Prosedur tindakan plong Siklus II

Berdasarkan refleksi sreg siklus I, maka plong siklus II ini dilakukan reformasi-reformasi dan penyempurnaan mulai berpokok perencanaan sebatas refleksi. Proses penelitian sreg siklus II sebagai berikut:

a. Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan pemeriksa pada siklus II adalah penyempurnaan dari perencanaan sreg siklus I. Adapun tindakan nan dilakukan adalah:

1. Identifikasi keadaan-peristiwa yang memerlukan restorasi berlandaskan hasil observasi siklus I.

2. Menentukan awalan-langkah perbaikan

3. Menyiapkan materi pembelajaran

4. Mengekspresikan pedoman pengamatan pembelajaran (observasi siswa)

5. Tindakan plong siklus II merupakan perbaikan dari siklus I.

6. Tindakan

Tindakan dilakukan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, pelaksanaan, dan intiha.

7. Observasi

Observasi dilakukan sejauh proses penerimaan berlantas. Pada siklus II diharapkan adanya peningkatan hasil penelaahan dan perubahan perilaku siswa.

8. Refleksi

Refleksi pada siklus II berujud untuk merefleksi hasil evaluasi belajar peserta plong siklus I, yaitu dengan menganalisis kembali pembelajaran siklus II untuk menentukan kemajuan yang telah dicapai murid.doanload ptk sd lengkap doc

3.8 Instrumen Akumulasi Data

Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data berupa hasil penilaian terhadap peserta yang berupa tes kecakapan(psikomotor pemeriksaan ulang)selain itu dengan makao observasi dan benang angket:

1. Silabus

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

3. Alat evaluasi

a. Tes psikomotor

1) Awalan

2) Tolakan

3) Sikap intiha

b. Afektif

Teknik dasar ini digunakan bikin memaklumi perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran nan meliputi :

1) Berkewajiban

2) Mau menerima saran antiwirawan

3) Memakai seragam

4) Memiliki motivasi

5) kehadiran

c. Kognitif

Tes serebral digunakan cak bagi mengetahui respon alias tanggapan siswa terhadap materi pembelajaran dorong peluru.

d. Lembar observasi

e. Jajak pendapat Tanggapan siswa

Angket tanggapan petatar digunakan bakal mengetahui respon ataupun tanggapan siswa terhadap materi pendedahan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang menggunakan bola plastik.

3.9 Analisa Data

Analisa data silam berfaedah artinya internal suatu penelitian bersama dengan analisa data nantinya bisa ditarik suatu inferensi berasal suatu penelitian yang sudah dilakukan. Intern penelitian ini menggunakan kajian deskriptif komparatif. Diperlukan data kuantitatif hasil belajar peserta baik pada kondisi semula, siklus I, maupun siklus II. Mulai sejak hasil amatan diskriptif komparatif tersebut kemudian disimpulkan diulas dan ditentukan tindak lanjutnya.

DAFTAR Pustaka

Bahagia, Yoyo.Peluasan Media Indoktrinasi Penjaskes. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenral Pendidikan Dasar dan Menengah

Djumidar. Radiks-Dasar Atletik. Jakarta : UnVersitas Terbuka

Hasan, Cuaca. Penilaian Penataran Pendidikan Tubuh dan Kesegaran. Jakarta : Unversitas Membengang.

Lutan, Rusli. Garis haluan Pengajian pengkajian Pendidikan Raga dan Kesehatan. Jakarta: Unversitas Terbuka

Riyadi, Tamsir (1 985).P etunjuk Atletik. Cetakan II. Yogyakarta: FPOK-IKIP

Subagyo.dkk. Perencanaan Penataran Pendidikan Jasmani dan Kebugaran. Jakarta: Unversitas Mangap

Suwandi, Sarwiji (2009), Penelitian Tindakan Inferior dan Penulisan Karya Ilmiah, PSG Rayon 13 UNS Surakarta.

Syarifuddin, Aip .Azas dan Falsafah Pendidikan Fisik dan Kesehatan. Jakarta : Unversitas Melangah.

Tamat, Tisnowati dan Mirman, Moekarto (2005), Pendidikan Badan dan Kesehatan, UT. Jakarta.

Tim Abdi Master. Pendidikan Fisik, Olah tubuh dan Kesehatan . Penerbit Erlangga

Muhamad Surya. (2004). Psikologi Pembelajaran dan pencekokan pendoktrinan. Bandung: purtaka Bani Quraisi.

http ://cucuis.blogspot.com/201 0/07/schramm-1997-mengemukakan-bahwa-media.html. Sabtu, 03 Juli 2010

Sambut kasih sudah lalu berkunjung di
Musiyanto Blog
yang membicarakan PTK PENJAS SD Kelas IV ini dapat membantu Engkau kerumahtanggaan penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).


Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote

Google + Rekomendasikan ini di Google

untuk pelataran ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Kalau akun Google anda sedang login, sekadar dengan sekali klik voting sudah lalu selesai. Terima kasih atas bantuannya.

Source: https://jasapembuatanptkkurikulum2013.blogspot.com/2018/05/contoh-proposal-ptk-penjas-sd-doc.html

Posted by: skycrepers.com