Contoh Kasus Kesulitan Belajar Siswa Sd






BAB I


IDENTITAS



1.





Identitas Siswa









Dalam penyusunan studi kasus, identifikasi siswa nan berkasus (klien) ialah tahap mulanya yang harus dilalui di n domestik proses penyusunan eksplorasi kasus. Pada detik ini saya mengamati siswa yang mengalami lambat kerumahtanggaan berlatih dan terlalu kolokan. Siswa tersebut bersekolah di SDN 5 Desa A, sebagai siswa kelas 4 lega periode petunjuk 2012/ 2013. Selanjutnya untuk kian jelasnya di bawah ini dicantumkan data identitas peserta yang menjadi objek studi kasus :


           A)



Identifikasi Diri Petatar

Nama Pelajar

: Septiana (nama disamarkan)

Kelas

: 4 (empat)

Bekas/tgl. Lahir

: Singaraja, 12 September  1999

Agama

: Hindu

Spesies Kelamin

: Nona

Alamat

: Jln. Kenari (alamat disamarkan)

Sekolah

: SDN 5 Desa A

Hobby

: Olah tubuh

Jumlah uri

: 1 (satu)

Anak ke

: 2 (dua)


           B)



Keadaan Kesehatan

Penglihatan

: Normal

Pendengaran

: Normal

Pembicaraan

: Agak Cedal

Potensi jasmani
: Normal


           C)



Kemudahan Sparing dan Pendukung

1)


Kecukupan berlatih


a)



Buku paket            : lengkap


b)



Buku catatan         : lengkap


c)



Ulas belajar        : tidak punya

2)


Arahan


a)



Berasal ayah


: pernah


b)



Dari ibu



: selalu


c)



Dari ari-ari
: burung laut


           D)



Waktu belajar


1)



Waktu belajar siswa kurang teratur.


2)



Siswa belajar jika disuruh orang tua.


           E)



Kelakuan dan prestasi Klien


1)



Sikap pada tandingan        : Cukup baik, tidak memilah-milah teman.


2)



Sikap pada guru          : Baik, tapi masih merasa sungkan untuk menyoal.


3)



Penampakan                        : Invalid baik/lambat, prestasi rendah.



2.





Identifikasi Ibu bapak



A)




Ayah

Tanda lengkap

: Tomblos (label disamarkan)

Umur/TTL

: 39 tahun / singaraja, 7 April 1969

Pendidikan
 : SD

Tiang penghidupan
 : Buruh

Hubungan dengan anak

: Momongan kandung

Objek
 : Jln. Kenari (incaran disamarkan)



B)




Ibu

Merek sempurna

: Ningsih (etiket disamarkan)

Roh/TTL
: 31 tahun / Singaraja, 28 Agustus 1977

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu flat tangga

Alamat

: Jln. Kenari (incaran disamarkan)


BAB II


PEMBAHASAN



A.





Gambaran Kelainan

Kesulitan sparing pesuluh mencangam pengetian nan luas, diantaranya:
learning disorder
;
learning disfunction,
underachiever;
slow learner, dan
learning diasbilities.

Di pangkal ini akan diuraikan dari sendirisendiri pengertian tersebut.


        1)




Learning Disorder


atau kekeruhan sparing adalah keadaan dimana proses sparing seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekalutan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang antagonistis, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih terbatas berusul potensi yang dimilikinya. Sempurna : pesuluh yang sudah terbiasa dengan olah tubuh persisten seperti karate, tinju dan sejenisnya, kali akan mengalami kesulitan kerumahtanggaan berlatih menari yang memaksudkan gerakan lemah-gemulai.


        2)




Learning Disfunction


merupakan gejala dimana proses belajar nan dilakukan pesuluh tidak berfungsi dengan baik, biarpun sebenarnya siswa tersebut bukan menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan peranti indria, alias bencana psikologis lainnya. Contoh : petatar yang yang n kepunyaan postur badan yang tataran atletis dan silam cocok menjadi atlet bola volley, sahaja karena tidak perpautan dilatih berlaku bola volley, maka sira enggak dapat tanggulang permainan volley dengan baik.


          3)




Under Achiever


mengacu kepada petatar nan sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun performa belajarnya biasa-biasa namun atau tambahan pula sangat rendah.


        4)





Slow Learner



atau lambat sparing yaitu siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga siswa membutuhkan hari yang bertambah lama dibandingkan setumpuk murid lain yang n kepunyaan taraf potensi intelektual nan sama.


         5)




Learning Disabilities


alias ketidakmampuan sparing mengacu pada gejala dimana pelajar bukan mampu belajar atau meninggalkan sparing, sehingga hasil belajar di radiks potensi intelektualnya.

Sedangkan Septiana (nama disamarkan) mengalami kesulitan belajar merupakan
Slow learner (Lambat belajar).
Slow learner (Lambat berlatih)
adalah ialah mereka yang memiliki prestasi sparing rendah (di pangkal rata-rata anak sreg rata-rata) pada salah satu ataupun seluruh area akademik, tapi mereka ini bukan tergolong anak sederhana mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan 90. Dengan kondisi seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya. Lain cuma kemampuan akademiknya nan terbatas tapi sekali lagi plong kemampuan-kemampuan tidak, dianataranya kemampuan koordinasi (kesulitan menggunakan alat catat, olahraga, atau mengenakan pakaian). Dari jihat perilaku, mereka cenderung pendiam dan pemalu, dan mereka kesulitan untuk berteman. Anak-anak lambat membiasakan ini juga mendekati rendah percaya diri. Kemampuan berpikir abstraknya bertambah rendah dibandingkan dengan anak sreg rata-rata. Mereka punya uluran perhatian nan ringkas. Anak asuh dengan SL mempunyai ciri fisik lazim. Tapi saat di sekolah mereka sulit merenda materi, responnya lambat, dan kosa prolog lagi abnormal, sehingga ketika diajak berbicara kurang jelas maksudnya atau sukar nyambung.



B.





Gejala-gejala yang Nampak

Gejala-gejala yang nampak jelas sreg diri Septiana (merek disamarkan) diantaranya sebagai berikut:


1)



Gejala yang Bertabiat Maujud

Gejala yang berperilaku substansial yaitu sikap atau perbuatan yang dapat membantu dan meningkatkan proses belajar mengajar pada diri septiana Gejala-gejala tersebut diantaranya :






Mematuhi statuta sekolah






Rajin menirukan kegiatan sekolah






Tidak demen membolos sekolah






Menurut perintah guru


2)



Gejala-gejala yang Bersifat Subversif

Gejala yang berperangai negatif adalah sikap atau polah yang kurang baik yang dapat mengganggu proses belajar mengajar plong diri Septiana. Gejala tersebut diantaranya :






Langka mengetahui materi les






Bersifat pendiam dan pemalu






Kurang n kepunyaan keberanian dalam berpendapat






Cepat abtar nyana dalam mengerjakan pertanyaan






Berpose cak beranja-anja






Bertindak semaunya koteng






Tidak mau meneliti hasil jawabannya



C.





Pengumpulan Data

Proses akumulasi data akan halnya siswa yang berkasus (Septiana) dilakukan dengan berbagai pendekatan. Internal studi kasus ini pendekatan maupun pendirian yang digunakan dalam rangka pengumpulan data tentang murid yang bermasalah ialah bagaikan berikut:


1)



Bersendikan Pengamatan di Sekolah


a)



Kepribadian

Pribadi septiana baik walaupun cenderung mudah terbang semangat dan kurang teliti internal berbuat sesuatu. Dia selalu mau semua keinginannya dituruti. Namun siswa tidak sangkutan  melembarkan-milih lawan.


b)



Tingkah Laku

Tingkah laku Septiana di kondominium menunjukkan sikap yang pas baik. Ia kembali tinggal patuh terhadap peraturan sekolah. Ia termasuk siswa yang kepatuhan baik dalam piketnya, datang ke sekolah alias mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah lainnya.


c)



Perkembangan Tubuh

Perkembangan bodi Septiana cukup baik. ia n kepunyaan fisik nan normal dan selevel sama dengan imbangan-teman seusianya, bahkan termasuk anak asuh nan cukup lincah dan energik.


d)



Patuh dan sembah dengan guru-guru di sekolah.

Dalam kesehariannya, Septiana terlihat memilki rasa bukan berkepastian diri bikin menampilkan isi hatinya ketika ada materi pelajaran yang belum ia pahami. Kapan hawa memberi kesempatan kepada pesuluh untuk bertanya Septiana cenderung bakal memilih diam saja. Ia bukan berani tunjuk untuk bertanya.


2)



Berlandaskan Interviu


a)



Minat

Minat Septiana terhadap kegiatan sekolah yang gandeng dengan masalah pelajaran memadai baik walaupun secara akademikus Septiana tertinggal dengan teman yang lain-lainnya. Peristiwa ini boleh dilihat dari presensi Septiana yang tidak aliansi membolos dan cangap masuk sekolah.


b)



Hobi Siswa

Septiana memiliki hobi berlaku voli di kondominium maupun sekolah. Kadang tahun luangnya sering dimanfaatkan atau digunakan buat bermain voli daripada mempelajari kembali pelajaran  yang sudah diterangkan di sekolah.



D.





DIAGNOSIS

Penyakit yang dihadapi siswa SD sangatlah kompleks dan banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya masalah. Faktor tersebut dapat berasal dari diri sendiri, keluarga atau lingkungan. Sejenis itu pula yang dialami oleh Septiana. Cak semau banyak faktor yang menimbulkan masalah pada diri Septiana, diantaranya yaitu andai berikut:


1)



Faktor yang Semenjak dari Diri Sendiri


a)



Motivasi yang adv minim.


b)



Momongan cacat mau membanting tulang agar bisa dalam pelajaran.


c)



Anak enggak mau meneliti pun hasil pekerjaannya.


d)



Anak sesak manja.


e)



Semua keinginanya harus dipenuhi.


2)



Faktor terbit Lingkungan Tanggungan


a)



Sedikit bimbingan orang tua saat belajar.


b)



Terlalu dimanja dengan selalu menuruti keinginan Septiana.


c)



Pelanggara-pelangaran Septiana kurang mendapat teguran mulai sejak ibu bapak.


3)



Faktor yang Bersumber bermula Lingkungan


a)



Sekolah






Abnormal terbuka kepada guru.






Sikap mudah kutung asa dalam pelajaran


b)



Luar sekolah atau masyarakat

Kurang memanfaatkan perian luang, waktu hanya digunakan bikin menonton televisi dan main-main voli.

Dari rincian di atas bisa disimpulkan bermacam rupa hal nan menyebabkan permasalahan sreg klien. Permasalahan tersebut mulai sejak berpangkal diri klien sendiri, keadaan batih dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap sikap dan daya tangkap belajar petatar.

Berdasarkan situasi-peristiwa nan dipaparkan di atas, bisa ditarik kesimpulan yang terjadi pada diri klien disebabkan oleh :


1)



Invalid minat membiasakan.


2)



Bimbingan dari ayah bunda kurang.


3)



Pengaturan keberhasilan teknologi


4)



Anggota keluarga terlalu memanjakannya.

Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap klien yang menyebabkan klien abnormal terhibur pada pelajaran dan berat siku belajar atau berpikir lakukan mengerjakan tugas yang dibebankan kepadanya.


C. PROGNOSIS/ USAHA Pemecahan Ki aib

Bakal mengendalikan kelainan Septiana dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:


1)



Terhadap Septiana


a)



Mengajak Septiana kembur mengenai komplikasi nan dihadapinya sehingga memudahkan suhu/instruktur bagi megetahui pribadi siswa dan ki aib yang sedang dihadapinya serta mempermudah memberikan bantuan dan arahan.


b)



Memberi didikan yang luas pada Septiana nan berhungan dengan pendidikan sehingga dapat menimbulkan minat dan motivasi untuk meningkatkan atma belajarnya.


c)



Menjatah pengarahan puas Septiana bahwa sikapnya yang semaunya koteng menimbulkan ketakberuntungan lega dirinya sendiri maupun terhadap orang lain di sekitarnya.


d)



Memberikan pengarahan dan penjelasan hendaknya Septiana
memeperhatikan penjelasan berasal guru. Serta tak mudah menyerah bila mengalami kesulitan belajar.


e)



Menasehati Septiana hendaknya tidak telalu manja pada siapapun terutama kepada kedua basyar tuanya.


2)



Terhadap Orang tua


a)



Memberikan taklimat puas orang tua agar tidak sesak memanjakannya karena hal itu dapat berakibat buruk pada Septiana.


b)



Memeberikan penjalasan pada turunan gaek agar selalu memeperingatkan Septiana bakal belajar dan selalu menasihati dan memeberikan dorongan padanya bikin lebih cinta membiasakan.


c)



Memeberikan penjelasan puas hamba allah tua bahwa mereka harus demap memeperhatikan dan membimbing anaknya untuk sparing lebih giat agar tidak sederhana dengan kebalikan-temannya.


d)



Memeberikan penjelasan pada orang tua semoga menanamkan pada diri Septiana sikap meluhurkan dan menghargai sosok lain.


3)



Terhadap Teman Septiana


a)



Menasehati musuh-teman Septiana semoga ingin memebantu Septiana bila ada kesulitan intern belajar.


b)



Menasehati teman-teman Septiana agar mau menegur Septiana bila mengamalkan manipulasi-korupsi.

BAB III

PENUTUP



A.





Simpulan

Masalah yang dihadapi pesuluh internal kasus ini yaitu lambat membiasakan dan berlebih manja karena siswa tekor mendapatkan bimbingan belajar, pesuluh sesak dimanja makanya kedua orang tuanya.



B.





Saran


Dalam menyelesaikan suatu problem, haruslah difikirkan dan direncanakan secara matang, langkah-langkah yang ditempuh harus dilakukan dengan kepala dingin, tekun dan berkesinambungan.


1)



Saran kepada siswa (Septiana)






Jangan merasa rendah diri tetapi harus merasa berpengharapan terhadap diri sendiri.






Menanamkan n domestik diri tentang pentingnya pendidikan bagi jiwa.






Memungkirkan pola belajar, seyogiannya membiasakan secara rutin setiap pulang sekolah dan malam harinya walau hanya sebentar.


2)



Saran kepada Ibu bapak






Sebaiknya individu tua memasrahkan perhatian nan lebih kepada anak, terutama jalan berlatih di rumah.






Hendaknya ayah bunda memberikan perhatian dengan jatah makan yang tepat enggak sekadar kebutuhan jasmani tetapi akan cuma kebutuhan psikis. Misalnya menumbuhkan rasa percaya diri anak.






Seharusnya cucu adam renta mengecap kebutuhan social anak asuh dan jangan terlalu memanjakan anak.


3)



Saran kepada Guru






Sebaiknya guru memberikan pikiran yang bertambah sreg Septiana atas masalah yang dihadapi.






Guru harus lebih responsif terhadap masalah belajar anak didiknya dan menyerahkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah.






Suhu harus makin sayang bekerjasama dengan manusia tua renta siswa bikin mengarifi kronologi berlatih petatar tersebut.

Source: https://adityadharma34.blogspot.com/2013/07/study-kasus-permasalahan-anak-sd.html

Posted by: skycrepers.com