Contoh Laporan Mengajar Di Sd Ptk

Contoh Laporan PTK Sederhana Guru SMK Mata Pelajaran Agama Kristen Kelas 11


Kerangka :
halangan.pribadi

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul:“ Upaya Meningkatkan Hasil Sparing Sreg Materi Bercermin Diri Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe
TGT

Siswa Papan bawah XI SMKN 2 Tamiang Layang”.

            Tujuan Penekanan ini merupakan kerjakan Meningkatkan Hasil Sparing  Pada Materi Bercermin Diri Menerobos Pembelajaran Kooperatif Varietas
TGT

Siswa Papan bawah XI SMKN 2 Tamiang Layang.

            Metode nan digunakan sreg penyelidikan ini adalah Investigasi Tindakan (action Research) yang terdiri terbit 2 (dua) siklus, dan setiap siklus terdiri dari: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan refleksi.

            Berdasarkan hasil penelitian tindakan bahwa Pengajian pengkajian Kooperatif Tipe
TGT
dapat Meningkatkan Hasil Belajar Puas Materi Bercermin Diri Siswa Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur.

Selanjutnya peneliti merekomendasikan: (1) Bagi Guru yang mendapatan kesulitan yang sekelas dapat menerapkan Pembelajaran Kooperatif Jenis
TGT
untuk meningkatkan Hasil Belajar Pada Materi Bercermin DiriSiswa Kelas XI. (2) Agar mendapatkan hasil yang maksimal maka dihaharapkan master lebih mengetahui Penelaahan Kooperatif Spesies
TGT.

Kata pokok: Hasil Membiasakan, Penelaahan Kooperatif,
TGT

Gerbang I

PENDAHULUAN

    1. Latar Pinggul Masalah

Manusia sejak dilahirkan n kepunyaan potensi untuk bersemi dan berkembang kearah kedewasaan, baik fisik ataupun rohani. Basyar memerlukan pendidikan buat menggerakkan dan meluaskan potensi serta kemampuan sumber akar tersebut kepada contoh yang dikendalikan.Pendidikan merupakan salah suatu faktor yang fundamental kerumahtanggaan pembangunan, karena kemajuan nasion dempet kaitannya dengan masalah pendidikan. Oleh karena itu tidak mengherankan sekiranya nasion Indonesia seperti itu besar perhatiannya terhadap masalah pendidikan, tambahan pula tujuannyapun semakin disempurnakan.Ini sesuai dengan takdir nan dimuat dalam kata Undang-Undang Asal 1945.

Secara garis besar, pendidikan sebagai suatu operasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seyogiannya menjadi insan selengkapnya berjiwa Pancasila.Internal Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan Kebangsaan  juga menyatakan umpama berikut:

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan menciptakan menjadikan watak serta peradaban nasion yang moralistis n domestik bentuk mencerdaskan vitalitas bangsa, berniat untuk berkembangnya potensi pesuluh didik agar menjadi orang yang berkepastian dan bertaqwa kepada Tuhan Nan Maha Esa, berakhlak mulia, bugar, digdaya, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi penghuni Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Disamping itu, pendidikan juga merupakan suatu sarana nan minimum efektif dan efisien dalam meningkatkan sumur gerendel cucu adam buat mengaras suatu dinamika nan diharapkan.

Berdasarkan hasil ulangan buku harian yang dilakukan di Kelas bawah XI SMKN 2 Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, diperoleh maklumat bahwa hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa tekor di bawah standar ketuntasan merupakan dibawah 75.

Faktor-faktor yang menyebabkan peristiwa seperti di atas antara enggak :

  1. Kemampuan kognitif siswa dalam kognisi konsep – konsep Pendidikan Agama Kristen masih adv minim,
  2. Penerimaan yang berlantas cenderung masih monoton dan melelapkan,
  3. Siswa tidak termotivasi kerjakan belajar Pendidikan Agama Kristen dan menganggap Pendidikan Agama Kristen hanya sebagai hafalan tetapi.

Dengan belajar secara menghapal menciptakan menjadikan  konsep – konsep Pendidikan Agama Kristen yang sudah lalu dituruti menjadi mudah dilupakan. Kejadian ini ialah sebuah tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh seorang guru. Hawa dituntut bertambah gemuk privat mempersiapkan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Dikembangkan, sebagai dalam pemilihan model pengajian pengkajian yang akan digunakan dalam pembelajaran sebagai salah satu rancangan strategi pembelajaran. Kesiapan guru dalam memanajemen penerimaan akan membawa dampak aktual bagi siswa diantaranya hasil belajar siswa akan lebih baik dan sesuai dengan indikator yang cak hendak dicapai.Salah suatu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah model penerimaan kooperatif varietas TGT karena siswa dapat terbabit aktif karena punya peran dan muatan jawab masing–masing, sehingga aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlantas meningkat.

Berdasarkan jabaran diatas, maka perumpamaan peneliti merasa berfaedah melakukan penelitian  terhadap ki kesulitan di atas. Oleh karena itu, upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa dilakukan penelitian Tindakan Inferior dengan tajuk :“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar  Pada Materi Mencontoh Diri Melangkaui Hipotetis Penerimaan TGT Siwa Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang“.

    1. Formulasi Masalah

Membidas parasan birit komplikasi maka bisa dirumuskan permsalahan sebagai berikut : “Bagaimanakah penelaahan Kooperatif variasi TGT boleh meningkatkan hasil membiasakan pada Pada Materi Bercermin Diri petatar Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang?”

    1. Maksud Penelitian

Meningkatkan  hasil belajar Pendidikan Agama Serani menggunakan penataran Kooperatif tipe TGT sreg Pada Materi Bercermin Diri siswa Kelas bawah XI SMKN 2 Tamiang Layang.

1.4
Faedah Penelitian

Setelah penelitian radu diharapkan bisa memberikan keistimewaan sebagai berikut :

  1. Bagi peneliti : eksplorasi ini dapat mempengaruhi pembelajaran, kontributif kerjakan meningkatkan hasil berlatih Pendidikan Agama Kristen peserta, memberikan alternative penerimaan yang aktif, kreatif efektif, dan menyejukkan bagi pelajar, serta meningkatkan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
  2. Bagi peserta : untuk meningkatkan pemahaman konsep Pendidikan Agama Serani dan menerapkannya intern kehidupannya sehari – hari sehingga pelajaran Pendidikan Agama Kristen menjadi lebih keteter.
  3. Bagi sekolah : penelitian ini dapat menjadi pelecok suatu alternatif eksemplar penerimaan buat meningkatkan kualitas pembelajaran.

BAB II


KAJIAN PUSTAKA

    1. Kajian Teori

      1. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2012: 46) pengertian hasil belajar yakni  “kemampuan – kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia melaksanakan pengalaman belajarnya”.Bloom (dalam Sudjana, 2012: 53) membagi tiga ranah hasil belajar merupakan :

  1. Ranah Psikologis

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, amatan, sintesis, dan evaluasi.

  1. Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap yang terdiri dari panca aspek merupakan penerimaan, jawaban maupun reaksi penilaian, organisasi, dan internalisasi.

  1. Antap Psikomotorik

Berkenaan dengan hasil membiasakan ketangkasan dan kemauan main-main, ada enam aspek, yaitu : gerakan bersama-sama, ketrampilan usaha dasar, ketrampilan membedakan secara optis, ketrampilan dibidang fisik, ketrampilan komplek dan komunikasi.

Hasil belajar nan dicaPendidikan Agama Kristen pesuluh dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu :

  1. Faktor dari dalam diri petatar, meliputi kemampuan yang dimilikinya,

motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

  1. Faktor yang datang berpangkal asing diri siswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.

Hasil belajar yang dicapai menurut Sudjana,  melalui proses belajar mengajar nan optimal ditunjukan dengan ciri – ciri sebagai berikut.

  1. Kepuasan dan kemangkakan yang dapat mengintensifkan pecut belajar

      intrinsic lega diri murid. Petatar tidak mengeluh dengan manifestasi rendah

      dan kamu akan berjuang lebih gigih untuk memperbaikinya atau

      setidaknya mempertahankanya apa yang telah dicapai.

  1. Menambah keagamaan dan kemampuan dirinya, artinya kamu tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa beliau n kepunyaan potensi yang lain kalah terbit orang tak apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.
  2. Hasil berlatih yang dicaPendidikan Agama Serani bermakna bagi dirinya, sebagaimana akan resistan lama diingat, membentuk perilaku, penting bagi mempelajari aspek tidak, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan meluaskan kreativitasnya.
  3. Hasil membiasakan yang diperoleh siswa secara mendunia (komprehensif), yakni mencakup nyenyat kognitif, laporan alias wawasan, lengang afektif (sikap) dan mati psikomotorik, keterampilan atau prilaku.
  4. Kemampuan pesuluh buat mengontrol atau menilai dan menguasai diri terutama internal menilai hasil yang dicaPendidikan Agama Kristennya maupun menilai dan mengamankan proses dan usaha belajarnya.

Oleh  karena itu,  guru  diharapkan  bisa mencapai hasil belajar,

Sesudah melaksanakan proses membiasakan mengajar yang optimal sesuai

dengan ciri-ciri  tersebut di atas.

      1. Pembelajaran Kooperatif

1. Penataran Kooperatif

Menurut Davidson dan Worsham, pembelajaraan kooperatif adalah “teoretis pembelajaraan yang berstruktur dengan mengelompokan siswa dengan intensi menciptakan pendekatan pembelajaraan yang efektif dan mengintegrasikan keterampilan sosial nan bermuatan akademis”
padahal menurut Johns  penerimaan kooperatif yaitu “kegiatan sparing mengajar secara kelompok – kelompok kecil, murid membiasakan dan berekanan cak bagi sampai kepada pengalaman berlatih yang optimal,baik pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajar Kooperatif yaitu suatu pembelajaran dengan cara mengelompokkan pelajar buat berkreasi selaras kerjakan mencapai pengalaman sparing yang optimal, baik pengalaman turunan maupun pengalaman gerombolan.

            2.Ciri – ciri dan Unsur – unsur dasar pembelajaran kooperatif

            a.  Ciri – ciri Penerimaan Kooperatif

Menurut Ibrahim, pengajian pengkajian kooperatif dicirikanoleh struktur tugas, harapan dan apresiasi kooperatif. Murid nan bekerja n domestik kejadian pembelajaraan kooperatif didorong dan ataupun dikehendaki cak bagi bekerja sama puas suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaraan kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sma lain bakal mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut sekiranya mereka berhasil intern kelompok.

Ciri–ciri pembelajaraan yang mengguanakan model kooperatif adalah

  1. Pelajar berkarya n domestik kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan panjang,semenjana, dan rendah
  3. Anggota kelompok sebaiknya berasal berbunga ras, budaya, suku, jenis kelamin berlainan – cedera.
  4. Sanjungan lebih berorientasi kepada kelompok ketimbang individu.7

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konseptual Pembelajaran Kooperatif merupakan pembelajaran yang mengelompokan siswa yang n kepunyaan kemmpuan yang beraneka macam dan tidak membedakan ras, suku, budaya maupun jenis kelamin.

b.  Zarah – elemen pangkal pembelajaraan kooperatif

Menurut ibrahim, atom – unsur sumber akar pembelajaraan kooperatif adalah umpama berikut :

  1. Siswa intern kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
  2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di privat kelompoknya, seperti nasib baik mereka seorang.
  3. Murid haruslah mengawasi bahwa semua anggota di dalamkelompoknya memiliki harapan yang proporsional.
  4. Siswa haruslah memberi tugas dan tanggungijawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
  5. Pelajar akan dikenakan evaluasi alias diberikan rahmat/ apresiasi yang akan dikenakan utnuk semua anggota kelompok.
  6. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan lakukan belajar bersama selama proses belajarnya.
  7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individu materi nan akan ditangani dalam kelompok kooperatif.

 Agar penerimaan kooperatif bisa terlampiaskan dengan baik dan optimal  sebaiknya master lain meninggalkan unsur-unsur penerimaan kooperatif seperti yang telah diuraikan di atas.

c. Tujuan pembelajaran kooperatif

Abstrak pembelajaraan kooperatif dikembangkan lakukan mencaPendidikan Agama Kristen aetidak – tidaknya tiga tujuan penelaahan terdahulu, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman,dan peluasan kesigapan sosial.

  1. Hasil berlatih Akademik

Ideal pembelajaran kooperatif unggul dalam mendukung peserta memahami konsep – konsep nan berat. Model struktur pujian kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian murid pada belajar akademik dan perubahan norma yang gandeng dengan hasil belajar. Sedangkan menurut Slavin, penelaahan kooperatif bisa merubah norma budaya anak asuh akil balig dan membuat budaya lebih intern tugas – tugas pembelajaraan.

Dengan menerapkan penelaahan kooperatif diharapkan mendapatkan hasil berlatih akademik yang maksimal yaitu mampu memahami konsep-konsep yang jarang serta boleh menafsirkan norma budaya anak cukup umur menjadi budaya lebih bikin menguasai tugas-tugas dengan baik.

  1. Penerimaan terhadap keragaman

Efek samping yang kedua dari arketipe pembelajaran kooperatif ialah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, atau ketidak mampuan. Pendedahan kooperatif menjatah peluang kepada siswa yang berbeda satah belakang dan kondisi buat bekerja tukar bergantung satu sama lain atas tugas– tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur pujian kooperatif, belajar untk menghargai satu sama bukan.

Dengan menerapkan penelaahan kooperatif juga dapat memberikan efek yang konkret terhadap nilai pluralitas dimana peserta ajar mampu menerima perbedaan baik ras, tungkai, budaya, kelas social alias kemampuan.

      1. Pembelajaran Kooperatif Keberagaman
        Teams-Games-Tournaments
        (TGT)

Model pembelajaran kooperatif adalah acuan pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-proporsional di dalam gerombolan-kerubungan kecil untuk membantu satu seimbang lain dalam belajar.

Posamentter (1999: 12) secara sederhana menamakan
cooperativelearning
atau berlatih secara kooperatif adalah peletakan beberapa pelajar n domestik kerubungan mungil dan memasrahkan mereka sebuah ataupun sejumlah tugas.

Muhammad Cuaca (2005: 1) mengatakan bahwa hipotetis pembelajaran kooperatif dapat memotivasi seluruh petatar, memanfaatkan seluruh energi sosial petatar, saling mencekit tanggungjawab. Acuan penerimaan kooperatif kontributif pelajar sparing setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan dasar hingga pemecahan problem yang obsesi. Pendapat ini sehaluan dengan Abdurrahman dan Bintoro (2000: 78) mengatakan bahwa penerimaan kooperatif yakni pembelajaran nan secara sadar dan bersistem mengembangkan interaksi yang tukar asah, silih asih, dan ganti didik antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat maujud.

Suhu bisa menyusun kegiatan kelas, sehingga siswa akan berdiskusi, dan mengungkapkan ide-ide, konsep-konsep, dan keterampilan sehingga petatar benar-benar mengetahui konsep dan keterampilan nan dipelajarinya, Suhu bisa memanfaatkan energi sosial seluruh rentang usia siswa yang begitu sopan di dalam inferior cak bagi kegiatan-kegiatan pembelajaran produktif dan dapat mengorganisasikan papan bawah, sehingga pesuluh saling berinteiraksi suatu dan yang tidak, saling bertanggung jawab, dan belajar bikin menghargai satu sebanding lain

Untuk menciptakan suasana belajar kooperatif bukan suatu pegangan yang mudah. Cak bagi menciptakan suasana sparing tersebut diperlukan pemahaman filosofis dan keilmuan yang cukup disertai kebajikan yang tinggi serta latihan yang memadai pun.

Pembelajaran kooperatif didasarkan sreg gagasan atau pemikiran bahwa murid berkarya sambil dalam belajar, dan bertanggung jawab terhadap akfivitas berlatih kelompok mereka begitu juga terhadap diri mereka seorang. Pembelajaran kooperatif yaitu salah satu lengkap pembelajaran nan menganut paham konstruktivisme.

Pembelajaran kooperatif merupakan pengajian pengkajian yang mengutamakan kerjasama antar siswa cak bagi mencapai tujuan pembelajaran. Menggunakanpembelajaran kooperatif merubah peran hawa terbit peran nan berpusat pada gurunya ke pengelolaan petatar dalam kelompok-kelorpok mungil. Menurut teori konstruktivis, tugas hawa (pendidik). adalah memfasilitasi agar proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan lega diri koteng tiap-tiap pesuluh terjadi secara optimal.

Terkait dengan hipotetis pengajian pengkajian ini, Ismail (2003: 21) menyebutkan (enam) langkah kerumahtanggaan pembelajaran Kooperatif, yaitu sesuai tabel berikut ini.

Tabel 1 Langkah-awalan Pembelajarran Kooperatif

Fase ke-

Penunjuk

Tingkah Larap Temperatur

1

Menyampaikan

pamrih dan

memotivasisiswa

Gurumenyampaikan semua tujuan latihan yang ingin dicapai puas pelajaran tersebutdan memotivasi siswa sparing.

2

Menyampaikan

keterangan

Guru mengemukakan informasi kepada siswa dengan urut-urutan memeragakan atau adv amat sasaran wacana.

3

Mengorganisasikan

siswa ke dalam

kelompok-keramaian

belajar

Guru menjelaskan kepada pelajar bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap keramaian agar melakukan pertukaran secara efisien.

4

Membimbing kelompok bekerja dan berlatih

Hawa membimbing kelompok-kelompok belajar bilamana mereka mengerjakan tugas.

5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi nan sudah dipelajari atau per kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

6

Mengasihkan penghargaan

Guru mencari cara lakukan menghargai upaya atau hasil belajar orang maupun kerubungan.

Pembelajaran kooperatif menghendaki guru buat berperan relatif farik Pecah pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pengajian pengkajian kooperatif tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. memformulasikan intensi pengajian pengkajian,
  2. menentukan jumlah kelompok
    privat
    gerombolan
    sparing,
  3. menentukan medan duduk murid,
  4. merancang bahan untuk meningkatkan saling kecanduan berwujud,
  5. menentukan peran serta cak bagi menunjang saling dependensi positif,
  6. menjelaskan tugas akademik,
  7. menjelaskan kepada siswa mengenai harapan dan keharusan berkarya selevel,
  8. memformulasikan akuntabilitas individual,
  9. menyusun kerja setimpal antar kelompok,
  10. menguraikan patokan keberuntungan,
  11. menjetaskan perilaku pelajar yang diharapkan,
  12. memantau perilaku siswa,
  13. memberikan sambung tangan kepada pelajar dalam memecahkan tugas,
  14. melakukan campur tangan buat mengajarkan keterampilan bekerja sama,
  15. menutup les,
  16. Membiji kolaborasi antar anggota keramaian.

Lamun kooperasi adalah kebutuhan hamba allah kerumahtanggaan nasib sehari-perian, bagi mengaktualisasikan kansep tersebut ke kerumahtanggaan suatu bentuk perencanaan perbelajaran atau programa asongan pelajaran bukanlah suatu pencahanan nan mudah. Dibutuhkan peran master dan pesuluh yang optimal buat menciptakan menjadikan satu penataran yang khusyuk berbasis kerjasama atau gotong royong.

Tiga model penataran kooperatif awam nan semupakat buat dekat seluruh mata latihan dan tingkat kelas.
Students Teems Achievement Division
(TGT),
Teams-Games-Tournament (TGT),
dan Jigsaw

Teams-Games-Tournament
(TGT) adalah pelecok satu tipe penelaahan kooperatif yang memangkalkan murid n domestik kelompok–kerumunan belajar nan beranggotakan 5 setakat 6 turunan murid yang memiliki kemampuan, tipe kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Hawa menyajikan materi, dan pesuluh bekerja dalam keramaian mereka masing–masing.

Privat kerja kelompok guru memasrahkan LKS kepada setiap kerumunan. Tugas yang diberikan terjamah bersama–sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada berpangkal anggota gerombolan nan tidak memafhumi dengan tugas nan diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk menyerahkan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada hawa.

Karenanya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menyelesaikan kursus, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. N domestik permainan akademik pelajar akan dibagi dalam meja-meja turnamen,dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 basyar yang merupakan wakil bermula kelompoknya sendirisendiri.

Kerumahtanggaan setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berusul dari kelompok yang seimbang. Murid dikelompokkan dalam suatu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya datam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara. Keadaan ini bisa ditentukan dengan meluluk nilai yang mereka songsong bilamana
pre-test.

Skor yang diperoleh setiap petatar privat permainan akademik dicatat plong lembar pencatat biji. Skor kelompok diperoleh dengan menjumlahkan skor–skor nan diperoleh anggota satu kerumunan, kemudian dibagi banyaknya anggota gerombolan tersebut. Nilai kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim faktual sertifikat dengan mencantumkan predikat tertentu.

Menurut Slavin pembelajaran kooperatif jenis TGT terdiri berpangkal 5 langkah tahapan yaitu tahap penyajian ketas (class precentation), berlatih intern kerumunan
(teams),
permainan
(games),
pertandingan
(tournament),
dan perhargaan gerombolan
team recognition).

Beralaskan apa nan diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri-ciri andai berikut.

  1. Siswa Bekerja dalam Kerumunan-kerubungan Kecil

Siswa ditempatkan internal kelompok-keramaian belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, keberagaman kelamin, dan tungkai atau ras yang berbeda.

Dengan adanya heterogenitas anggota kerubungan, diharapkan dapat memotivasi peserta untuk tukar membantu antar Petatar yang berkemampuan makin dengan Pesuluh yang berkemampuan kurang dalam memecahkan materi tuntunan. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kognisi pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif silam menyenangkan.


  1. Games Tournament

Internal permainan ini setiap siswa yang bersilaju merupakan duta dari kelompoknya. Siswa yang menggantikan kelompoknya, masing-masing ditempatkan intern bidang datar-bidang datar turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 hingga 6 orangpeserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta nan berpunca dari kelompok nan lama.

Dalam setiap kenap turnamen diusahakan setiap siswa homogen. Permainan ini diawali dengan memberitahukan sifat permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membacakan tiket-kartu soal kerjakan bermain (karcis soal dan kunci ditaruh tertuntung di atas meja sehingga pertanyaan dan gerendel tidak terbaca).

Permainan plong tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan sangat pembaca coaldan anak ningrat yang permulaan dengan mandu undian. Kemudian anak komidi yang menangundian mengambil tiket lotre yang berisi nomor cak bertanya dan diberikan kepada pembaca cak bertanya.

Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor lotre nan diambil makanya anak tonsil. Seterusnya soal diselesaikan secara mandiri oleh pemaindan penantang sesuai dengan hari yang telah ditentukan internal soal. Setelah waktu bagi mengerjakan soal radu, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya nan akan ditangapi oleh penantang sependapat jarum jam. Selepas itu pembaca tanya akan membuka kiat jawaban dan skor doang diberikan kepada pemain yang menjawab benar maupun penantang yang permulaan kali memberikan jawaban bermartabat.

Jikalau semua anak tonsil menjawab salah maka kartu dibiarkan tetapi. Permainan dilanjutkan plong kartu soal berikutnya setakat semua kartu soal suntuk dibacakan,

dimana postisi pemain diputar satu bahasa penusuk jam agar setiap peserta dalam satumeja turnamen bisa berperan sebagai pembaca soal, anak ningrat, dan penantang. Di sini Permainan dapat dilakukan berkali-kali dengan syarat bahwa setiap siswa harus mempunyai kesempatan yang sama umpama pemain, penantang, dan pembaca soal.

Intern permainan ini pembaca soal hanya bertugas bikin membaca soal dan membeberkan kunci jawaban, tidak boleh masuk menjawab maupun menyerahkan jawaban pada pesuluh lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain sandiwara privat satu meja menghitung besaran kartu yang diperoleh dan menentukan berapa angka nan diperoleh berdasarkan tabel nan sudah lalu disediakan.

Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kerumunan asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh bersendikan diagram yang telah disediakan.

Selanjutnya setiap pemain kembali kepada keramaian asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada atasan kelompok.

Kepala kelompok memasukkan angka yang diperoleh anggota kelompoknya sreg tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan tolok penghormatan nan dituruti oleh kelompoknya.

3) Penghargaan Kelompok

Langkah pertama sebelum menerimakan penghargaan gerombolan adalah menghitung rerata poin gerombolan. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan kredit nan diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian apresiasi didasarkan atas rata-rata nilai yang didapat oieh kelompok tersebut.

Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok didasarkan sreg kuantitas kartu yang diperoleh oleh begitu juga ditunjukkan pada tabulasi berikut.

Tabulasi 2. Perhitungan Skor Permainan Buat Empat Pemain

Anak bangsawan dengan

Skor Bila Kuantitas Karcis yang Diperoleh

Top Scorer

40

High Middle Scorer

30

Low Middle Scorer

20

Low Scorer

10

Taber 3. Perhitungan Poin Permainan Untuk Tiga Pemain

Pemain dengan

Nilai Bila Jumlah Kartu yang Diperoleh

Top Scorer

60

Middle Scorer

40

Low Scorer

20

 (Sumber : Slavin, 1995:90)

Dengan keterangan sebagai berikut :

Top Scorer (skor tertinggi), High Middle scorer (skor tinggi), Low Middle Scorer (skor terbatas), Low Scorer (skor terendah).

Dalam penerapan model pengajian pengkajian kooperatif tipe TGT suka-suka bilang tingkatan yang terlazim ditempuh, yaitu:

  1. Mengajar
    (teach)

Mempersentasikan maupun menyajikan materi, menyampaikan pamrih, tugas, maupun kegtiatan yang harues dilakukan siswa, dan memberikan tembung.

  1. Belajar Kelompok
    (team study)

Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sebatas 6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras/suku yang berbeda. Setelah master menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen memperalat LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, silih memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam mer jawab.

  1. Permainan
    (game tournament)

Permainan diikuti maka dari itu anggota kelompok darti per kelompok yang berlainan. Tujuan Berbunga permainan ini adalah bagi mengetahui apakah semua anggota kerubungan telah menguasai materi, dimana soal-pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang mutakadim didiskusikan dalam kegiatan kelompok.

  1. Sanjungan gerombolan
    (team recognition)

Pemberian penghargaan
(rewards)
beralaskan plong rerata poin yang diperoleh oleh kelompokdari permainan. Lembar penghargaan dicetak dalam kertas HVS, dimana penghargaan ini akan diberikan kepada tim yang memenuhi kategorti rerata poin andai berikut.

Grafik 4 Barometer Penghargaan Kelompok

Kriteria

(Rerata Kerumunan)

Predikat

30 sampai 39

Tim Adv minim Baik

40 setakat 44

Tim Baik

45 sampai 49

Skuat Baik Sekali

50 ke atas

Skuat Istimewa

(Sendang: Slavin, 1995)

      1. Bercermin Diri
  1. Belajar Mengenal Diri Sensiri

Becermin diri maksudnya yaitu membiasakan mengenal diri sendiri. Belajar mengenal diri sendiri penting kita berlatih untuk mengenal apa kekeringan dan kelebihan kita. Setiap manusia diciptakan secara partikular dan berarti di aribaan Sang pencipta, terlebih diciptakan  menurut susuk dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Dengan kata lain setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan.

Di dalam mengekspresikan diri dengan baik, mudah-mudahan setiap orang menyadari keefektifan dan kelemahannya. Artinya dengan pegenalan nan demikian ia diharapakan  bernas mengelola emosi  dan pikiran serta tindakannya secara selaras. Khalayak begitu juga ini, bila diperhadapkan de­ngan keburukan, baik nan bersumber mulai sejak asing dirinya maupun yang berasal dari diri sendiri, akan produktif menemukan solusi (jalan ke asing) nan tepat, setidaknya untuk saat itu.

Banyak arketipe nan dapat kita temukan di dalam masyarakat bagai­mana seseorang berupaya cak bagi menemukan kelebihannya meskipun dengan proses yang hierarki. Sebaliknya, banyak juga insan nan de­ngan cepat dan tepat menemukan kelebihanya. Sahaja, bukan semua bani adam nan sebagai halnya itu secara otomatis dapat memanfaatkan faedah tersebut lakukan pengembangan diri di tengah masyarakat. Bagi basyar yang sudah lalu menemukan kelebihannya serta mampu memanfaatkannya dengan baik tidak jarang menjadi cenderung sombong; padahal kesom­bongan itu sendiri merupakan salah satu berasal kelemahan manusia yang sebenamya boleh diatasi. Kesombongan juga bisa menjadi penahan bagi pengembangan khasiat yang dimilikinya.

Bukan bisa kita sangkal bahwa banyak juga makhluk nan menyelimuti diri (enggan) menemukan kelemahan dirinya, malar-malar berusaha memperbaikinya. Orang seperti mana ini cenderung cepat puas atas barang apa yang sudah lalu dilakukannya dan tidak akan pemah mengintrospeksi diri sehingga plong akhimya ia akan pelahap merasa sopan sendiri dan tersepak berasal lingkungan­nya.

Mesti kembali kita sadari bahwa suka-suka kelemahan yang sesungguhnya ti­dak berasal terbit diri sendiri, sesuatu yang hinggap menimpa diri dan lain dapat ditolak, seperti cacat fisik. Tetapi itu bukan penting sesuatu yang harus kita jadikan sebagai alasan untuk tidak dapat mengerjakan apa-apa. Sebab, pada setiap orang, Tuhan sudah memberikan kelebihan; sangat bagaimana dia dan lingkungannya boleh menemukan kebaikan itu dan memanfaatkannya secara maksimal. Kita tidak boleh pasrah begitu saja dengan situasi yang kita alami.

Yang dapat kita bikin intern mengatasi kelemahan yang suka-suka pada diri kita adalah, menemukan kelemahan itu sendiri dan menidakkan pendirian pandang kita sehingga kita dapatmengatasinya. Bila hal ini dapat kita lakukan berjasa kita dapat mengenali diri dan mampu menyeimbang­kan emosi dan ingatan serta tindakan secara baik. Orang yang seperti inilah yang dapat kita sebut sebagai bani adam nan berhasil intern mewujud­kan diri secara berarti. Kelemahan dan kelebihan dijadikannya seumpama lecut (pendorong).

Bagaimanakah kita dapat mengidentifikasi kelebihan dan kelemah­an kita moga kita dapat mengurus dengan bermanfaat? Ada bilang ancang sederhana yang bisa Ia bagi (bnd. Kursus 2 dan Pel­wangsit 3 pada buku
Cermin Akil balig
kelas 8):

  • Berdoalah memohon latihan Roh Tahir agar Ia dimampukan untuk mengenali kelemahan dan kelebihan.
  • Daftarkanlah kelemahan dan manfaat Kamu pada selembar kertas kemudian pertimbangkan satu persatu. Apakah yang Anda tuliskan itu serius sebagai keistimewaan dan kelemahan Anda? Bila ya, pertahankan; bila bukan, coret. Lakukanlah ini berulang-ulang sampai Anda benar-benar yakin dengan segala nan Kamu temukan.
  • Percakapkanlah dengan bani adam lain (khalayak yang Anda percayai: orang tua, konselor, rohaniwan, sahabat, dan tak sebagainya), sehingga Sira mendapatkan hasil yang baru.
  • Jadikanlah segala apa yang Ia temukan di atas ibarat pedoman jauhar­tara bikin mengurus segala permasalahan yang Anda hadapi refleks taat memohon uluran tangan Spirit Kudus untuk senantiasa membim­bing Engkau.
  • Intern proses tersebut, ujilah setiap kelemahan dan kelebihan Engkau agar senantiasa dapat menjadi motivasi untuk bertumbuh dan ber­kembang dalam iman dan pengharapan.

Langkah-awalan di atas diharapkan akan boleh menuntun kita melihat realitas hidup bahwa semua makhluk sama-sederajat berharga di hadapan Allah. Semua turunan dipanggil bakal menemukan kelebihan dan kelemahan masing-masing bikin merumuskan diri
sehingga menghasilkan buah-buah yang berguna, tidak hanya untuk diri seorang cuma juga kerjakan kepentingan bersama (bacalah Mat. 25:19-20).

Dengan mengenal diri, kita bisa memangkalkan diri perumpamaan orang  yang mutakadim diperbarui di intern Yesus Kristus di tengah-tengah pergaul­an dan juga dalam menghadapi masalah-masalah. Dulu, bagaimanakah agar cucu adam yang diperbarui itu?

  1. Spirit Kristen: manusia yang diperbarui

Tujuan terdepan kehadiran Kristus bagi manusia adalah memperbarui umat bani adam, menjadikan mereka ibarat ciptaan yang yunior. Menjadi turunan bau kencur bermanfaat nasib di dalam Kristus, sesuai dengan kehendak Tuhan, dan memberi diri dipimpin oleh Jibril, sehingga fertil meng­hadapi apa tantangan hidup dan lebih lagi berbuah. Inilah nan menjadi jenama kehidupan plonco yang dianugerahkan Sang pencipta kepadanya. Dengan  sukma di intern Kristus dan dipimpin makanya Hayat Kudus, maka apa ke­baikan kehidupan yang diteladankan oleh Kristus kepada manusia tampak pun dalam hidup orang yang beriman tersebut.

Kegiatan Penerimaan

  • Pembelajaran dimulai dengan membawakan lagu “Give Thanks” dari
    Pujian Kerjakan Sang Raja,
    No.
    419b yang tersedia di privat  Buku Pesuluh.
  • Guru menunangi pelajar untuk mengenali segala saja yang disebut kelemahan dan keefektifan seseorang. Mintalah mendaftarkan hasil temuan mereka di papan tulis atau lega selembar kertas berukuran besar (yang dapat dibaca oleh semua peserta di dalam kelas). Temperatur membimbing mereka lakukan memeriksanya kembali dan kesannya di­tuliskan sreg lembaran kegiatan (lih. Kegiatan 2).
  • Pembelajaran dilanjutkan dengan permainan memperkenalkan diri berkaitan dengan khasiat dan kelemahan yang dimilikinya. Di dalam hal ini siswa berkenan menilai diri sendiri dengan cara guru derita­nyiapkan suatu lembar daluang. Lega lembaran tersebut dituliskan ha­laman 1 dan 2. Setiap petatar diberi kesempatan untuk menuliskan kelemahan dan kelebihannya koteng (pada halaman 1). Sesudah itu setiap teman diberi kesempatan untuk menilai dirinya (menuliskan di pekarangan 2), kemudian mereka membandingkan pendapat antiwirawan-­lawan dengan pendapatnya seorang. Masing-masing siswa (bila siswa banyak, bisa dipilih beberapa yang mewakili semata-mata) diminta tampil  ke depan dan membaca poin diri sendiri dan biji dirinya menurut tampin-temannya.
  • Suhu meminta petatar menuliskan barang apa yang mereka ketahui adapun dirinya dan apa yang akan mereka bikin atas kelemahan dan kelebihan tersebut selepas mengikuti permainan di atas.
  • Guru memberi penjelasan materi mengenai cerminan diri pada nilai dan norma nan sepikiran dengan iman kristiani.
  • Selanjutnya, siswa diarahkan oleh temperatur menuliskan alias membuat ko­mitmen atau mengambil keputusan dalam mengamalkan tindakan nan sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Hal ini dapat dilakukan dengan pendirian: guru membagikan kepada siswa selembar kertas dan menggambar­kan komitmennya di kertas tersebut. Pasca- itu, komitmen tersebut dimasukkan ke dalam amplop yang sudah disiapkan siswa (pada Pel­tajali 2). Catatan: sebelum membentuk komitmen guru membuat se­buah refleksi singkat (nyepi singkat) dengan harapan menggu­gah siswa mewujudkan keputusan yang benar.

Kemudian temperatur mengumpulkan semua amplop terbit siswa. Perlu diperhatikan, amplop tersebut tidak akan dibuka maka dari itu mana tahu juga, teta­pi akan dikirim ke incaran siswa yang bersangkutan pada minggu ke-3 setelah perjumpaan tersebut. Cara pengirimannya dapat melewati kantor pos atau melalui teman dempet siswa yang bersangkutan.

  • Guru mengajak siswa melakukan curah pendapat
    (brainstorming)
    un­tuk menggali bagaimana perasaan mereka di saat membuat komitmen dan menuliskannya di lembar kegiatan.
  • Suhu membimbing siswa melakukan tes khuluk, dan perhatikanlah ajaran yang suka-suka sreg ruangan di dasar ini.
  1. Angka-ponten Kristiani

Dengan belajar nilai-nilai kristiani dalam pelajaran sebelumnya, kita memahami bahwa nilai-nilai kristiani merupakan sesuatu yang terdahulu dan ideal dalam semangat manusia. Angka-nilai kristiani inilah yang harusnya menjadi komplet intern mengurus segala kelemahan dan kurnia kita agar dapat bermakna sesuai kehendak-Nya.

Perwujudan dari nilai-ponten hendaklah berbuah sesuai dengan buah Roh seperti yang dinyatakan Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, bahwa usia baru di dalam Kristus merupakan ke­hidupan nan dipimpin maka dari itu Jibril. Orang berkeyakinan nan hidupnya dipimpin oleh Rob  Kudrati menampakkan buah.Roh kerumahtanggaan kehidupannya sehari-hari, adalah kasih, sukacita, berbaik seiahtera, ketegaran, kemu­rahan, kebaikan, ketaatan, kelemah lembutan dan perebutan diri. Sebaliknya, keinginan daging, yang bertentangan dengan kemauan Nasib itu merupakan percabulan, kecemaran, guru nafsu, penyembahan pujaan, sihir, antipati, silang sengketa, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, arwah pemecah, kedengkian, keracunan, makan besar pora, dan sebagainya (bnd. Gal. 5:19-23).

BAB III

METOD

E PENELITIAN

    1. S
      eting Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMKN 2 Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah, yang berada  di kota Kabupaten. SMKN 2 Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah punya fasilitas nan hamper lengkap dengan adanya Perpustakaan, Laboratorium IPA, Ira ketrampilan Menjahit, Laboratorium Otomotif, Laboratorium Pertukangan dan Pembangunan, Laboratorium computer, ulas UKS, Urat kayu OSIS dan enggak-lain. Dengan besaran guru sebanyak 51 orang terdiri berbunga 1 (satu) bos sekolah, 4 (empat) konsul Kepala Sekolah dan sisnya guru Mata Pelajaran dan master Biimbingan Konseling serta 7 Tenaga Administrasi.

    1. Objek Studi

Alamat Penelitian ini ialah Siswa Papan bawah XI dengan jumlah pelajar sebanyak 13, nan terdiri dari 4 siswa laki – laki dan 9 siswa putri SMKN 2 Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Paruh.

    1. Prosedur

      Riset

Masa Pendalaman Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada rembulan oktober sampai dengan Nopember 2014.

Pendalaman ini pada Pada Materi Bercermin Diri diajarkan. Penelitian ini direncanakan sebanyak 2 siklus masing – masing siklus 1 kali perjumpaan.

Riset ini menggunakan desain Pengkhususan Tindakan Kelas bawah dengan Siklus.

  1. Siklus I

Puas siklus ini membicarakan materi Puas
Materi Bercermin Diri sub konsep (1) Membiasakan Mengenal Diri Sendiri.

  1. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini dilakukan persiapan–persiapan bakal melakukan perencanaan tindakan dengan takhlik silabus, rencana pembelajaran, untai observasi guru dan pesuluh, lembar kerja siswa, dan takhlik peranti evaluasi berbentuk tes tertulis dengan model pilihan ganda.

  1. Tahap pelaksanaan

Lega tahap  ini dilakukan :

  1. Murid diminta bikin mempersiapkan diri di apartemen dengan memberi tugas mendaras bahan asuh sehingga pelajar memiliki ketersediaan belajar.
  2. Guru menjelaskan Pada Materi
    Meneladan Diri sub konsep (1) Belajar Mengenal Diri Sendiri
    secara klasikal.
  3. Aktivasi siswa yaitu dengan membentuk 4 kelompok, masing – masing kerumunan terdiri dari 3-4 insan petatar, kemudian LKS dan siswa diminta untuk mempelajari LKS.
  4. Dalam kegiatan pembelajaran secara mahajana pelajar melakukan kegiatan sesuai dengan langkah–awalan kegiatan yang termaktub intern LKS, diskusi kelompok, diskusi antar kelompok, dan menjawab soal – pertanyaan. Kerumahtanggaan bekerja kerumunan siswa saling membantu dan berbagi tugas. Setiap anggota bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
  1. Tahap Observasi

Pada tahapan ini dilakukan observasi pelaksanaan tindakan, aspek yang diamati adalah keaktifan petatar dan guru dalam proses pembelajaran menggunakan lembar observasi aktivitas dan respon pesuluh serta guru. Sedangkan kenaikan hasil belajar pelajar diperoleh berpangkal pengecekan hasil belajar siswa.

  1. Tahap Refleksi

Lega tahap ini dilakukan evaluasi proses pembelajaran pada siklus I dan menjadi pertimbangan untuk merencanakan siklus berikutnya.  Pertimbangan yang dilakukan bila dijumpai satu komponen dibawah ini belum terpenuhi, adalah sebagai berikut :

  1. Siswa menyentuh ketuntasan khusus ≥ 75 %.
  2. Ketuntasan klasikal jika ≥ 85% dari seluruh petatar mencapai ketuntasan unik nan diambil dari tes hasil berlatih siswa.
  1. Siklus II

Hasil refleksi dan analisis data pada siklus I digunakan bagi teoretis dalam merencanakan siklus II dengan memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I. Tangga nan dilalui sama seperti pada tahap   siklus I.

    1. Teknik Penumpukan Data

Terserah beberapa teknik pengumpulan data nan diterapkan dalam PTK ini yaitu :

    1. Observasi dilakukan oleh guru yang bersangkutan dan seorang

kolaborator untuk mengerawang perilaku, aktivitas hawa dan siswa sejauh proses pendedahan berlangsung menggunakan benang observasi.

b. Validasi hasil membiasakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

Instrumen yang diganakan pada Pengkajian  Tindakan Kelas ini terdiri pecah:

  1. Kenur Test / ulangan harian untuk mengetahui hasil belajar peserta.
  2. Kenur observasi siswa untuk mengetahui tingkat mativasi peserta mengajuk penerimaan Pendidikan Agama Kristen.
  3. Tali observasi Guru bakal mengetahui kegiatan pembelajaran yang dilakukan maka itu Guru.
    1. Teknik Analisa Data

Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis secara Deskriptif, sama dengan berikut ini :

1. Data tes hasil hasil belajar digunakan untuk mengetahui ketuntasan

Belajar siswa alias tingkat kesuksesan belajar pada Pada Materi Bercermin Diri dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe TGT. Tolok Ketuntasan Minimal (KKM) secara istimewa jika peserta tersebut bakir mencapai nilai 75.

Ketuntasan klasikal kalau siswa yang memperoleh ponten 75 ini jumlahnya selingkung 85% dari seluruh jumlah siswa dan masing – masing di hitung dengan rumus,menurut Arikunto (2012:24) misal berikut:


P=


F


Tepi langit



x 100%






Dimana :         P = Prosentase

                                                F = frekuensi tiap aktifitas

                                                N = Jumlah seluruh aktifitas

Portal IV

HASIL Pendalaman DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Deskripsi kondisi Awal

            1. Perencanaan

Sreg tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan berupa rajah Pelaksanaan Pendedahan (RPP) nan sesuai dengan Metode Pendedahan Tipe TGT pada Lega
Materi Berkaca Diri sub (1) Sparing mengenal Diri Sendiri. Disamping itu suhu lagi membuat Makao Kerja Petatar (LKS) dan menyusun lembar observasi aktifitas suhu dan siswa. Selanjutnya, master menciptakan menjadikan tes hasil belajar. Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas bawah, guru dan observer mendiskusikan lawe observasi.

    1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan tadinya dilaksanakan pada masa Selasa 21 Oktober 2014 berusul pemukul 07.00 s.d 08.30 WIB. Kegiatan penelaahan yang dilakukan terdiri bermula tiga tahap adalah kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Perian nan dialokasikan buat kegiatan pendahuluan yakni 10 menit, sementara itu alokasi waktu bikin kegiatan inti merupakan 60 menit dan alokasi kegiatan akhir sebesar 20 menit.

Pada kegiatan pendahuluan, guru melakukan tiga kegiatan, adalah (1) menamai dan mengecek kerelaan pelajar, (2) melakukan
icebreaking
konkret menyanyi, (3) mengincar pemberitahuan siswa dan mengaitkan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan selanjutnya. Kegiatan
icebreaking
yang dilakukan guru.

 Melalui kegiatan inti mendesain kegiatan semoga murid bisa mengalami proses menemukan, menamai dan mempresentasikan. Untuk dapat menemukan berkaitan dengan
TGT,
purwa-tama guru memberi siswa dalam 4 kelompok dan setiap keramaian terdiri berpangkal 3-4 orang siswa.

Guru menguraikan lebih lagi dahulu tentang tugas petatar, sebelum penugasan dilakukan sehingga peserta tidak menjadi terbang. Selain itu, sejauh urun pendapat berlantas master keliling kelompok kerjakan mengawasi siswa berkreasi sambil sesekali mengomentari hasil kerja siswa. Perwakilan setiap kelompok kemudian membacakan hasil diskusi gerombolan. Siswa bersumber kelompok lain akan ditanyakan pendapatnya terkait jawaban kelompok nan madya presentasi. Sekiranya terdapat kekeliruan, master terlebih dahulu lamar sesama pelajar yang berbuat perbaikan.Pelajar yang hasil temuan keramaian yang benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan penghormatan dari guru sedangkan siswa yang belum melakukan dengan maksimal dimotivasi dan diberi penguatan.

Kegiatan akhir kondisi mulanya antara lain: (1) melakukan evaluasi lakukan mengetahui pencapaian pesuluh setelah dilaksanakan pengajian pengkajian dengan strategi
TGT,
(2) siswa melakukan sorot balik tentang pembelajaran yang mentah dilakukan dan (3) pesuluh dan suhu merayakan keberhasilan membiasakan dengan bertepuk tangan gembira.

    1. Observasi

Partisipasi siswa Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang ada eskalasi n domestik Kegiatan Pembelajaran puas kondisi awal sehabis dilakukan penerapan kamil pendedahan kooperatif tipe TGT. Situasi ini boleh dilihat dari hasil belajar dan respons siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran sungguhpun masih ada sebagain kecil komplikasi yang unjuk pada saat proses Kegiatan Pendedahan berlantas. Dengan adanya komplikasi yang terjadi pada kondisi tadinya, maka kami bersama pengamat merefleksikan masalah tersebut kiranya gemuk diperbaiki pada siklus I dengan harapan semua siswa mampu meningkatkan hasil belajarnya.

Kooperasi siswa Kelas bawah XI SMKN 2 Tamiang Layang privat kegiatan membiasakan mengajar Pendidikan Agama Kristen. Hal ini terlihat dari hasil membiasakan siswa pada kondisi awal. Hasil sparing siswa sreg kondisi sediakala dengan penerapan model pendedahan kooperatif tipe TGT sebanyak 13 murid maupun 62% nan tuntas dan yang lain tuntas terserah 5 Peserta maupun 38% yang tidak tuntas. Data dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.

            Grafik 5. hasil ulangan harian kondisi tadinya

No.

Nama Pelajar

Bercdermin Diri

kondisi sediakala

Tuntas

Tak Tuntas

1

Dita Damaini

75

V

2

Gantiani

80

V

3

Heski

75

V

4

Intan Sari

75

V

5

Janang Tuu Rajakino

70

V

6

Marsusanti

80

V

7

Novria Pangamiani

70

V

8

Pangki Suwito

80

V

9

Puluhani

75

V

10

Septiani

70

V

11

Tanobaya

70

V

12

Tri Wisnu Broto

80

V

13

Yopita Dwi Listya

70

V

Jumlah

970

Rata- Rata

74,6

Ketuntasan Klasikal

61,5 %

    1. Refleksi

Tujuan utama penelitian ini yakni untuk mengetahui kenaikan hasil membiasakan sreg Sreg Materi Berkaca Diri dengan menerapkan abstrak pembelajaran kooperatif tipe TGT ternyata hasil nan didapat nilai galibnya sebesar 74,6 dan secara klasikal sebesar 62%. Keadaan ini masih jauh semenjak maksud. Makanya karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan pada peningkatan hasil belajar siswa plong
Materi Ki belajar Diri sub (1) Belajar Mengenal Diri Sendiri.

Pada kondisi awal terdapat kekurangan pemahaman siswa pada
Materi Mencontoh Diri sub (1) Belajar Mengenal Diri Sendiri. Menurut pengamat, suka-suka beberapa kejadian yang menyebabkan hal ini terjadi.
Pertama, siswa tidak fokus pada pemasangan LKS sehingga cak semau babak tertentu berpokok isi LKS yang tidak terisi dengan sempurna.
Kedua,
peserta banyak mengerjakan hal–situasi di asing konteks pendedahan,  seperti bermain dengan jodoh sekolompoknya.
Ketiga,
diantara satu atau dua kelompok enggak berada menjawab dengan baik pertanyaan yang diberikan guru pada saat evaluasi di penghabisan pelajaran.

           Dari temuan kekurangan tersebut maka peneliti membuat garis haluan baru untuk mengurangi penyebab kekuangan pemahaman siswa tersebut di atas, selanjutnyaakan diterapkan pada kondisi awal. Bagi kebobrokan nan pertama pengkaji menugaskan tiga orang siswa pada setiap kelompok bikin menulis hasil kegiatan agar semua LKS terisi semua. Dengan cara demikian maka data yang terkumpul menjadi teladan sehingga murid lebih memahami materi pengelompokan baru, agar mengurangi pelajar yang saling bermain dengan temannya. Padahal ki aib yang ketiga, pengkaji memberikan penjelasan kian detail adapun Puas
Materi Bercermin Diri sub (1) Belajar Mengenal Diri Koteng
khususnya cak bagi soal yang terik alias tidak mampu dijawab oleh gerombolan kerumahtanggaan urun rembuk. Disamping itu untuk kelainan nan ketiga ini penjelasannya dibantu maka dari itu pengamat.

4.1.2 Deskripsi hasil siklus 1

         1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan aktual rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) nan sesuai dengan Metode Pendedahan Varietas TGT dengan
Puas Materi Bercermin Diri sub (2) Kehidupan Masehi: manusia yang diperbaharuhi. Disamping itu guru pula membuat Kenur Kerja Siswa (LKS) dan memformulasikan lembar observasi aktifitas guru dan petatar. Selanjutnya, suhu membuat pembuktian hasil membiasakan. Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas, guru dan observer mendiskusikan utas observasi.

    1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan lega masa Selasa 4 November 2014 berbunga pukul 07.00 s.d 08.30 WIB. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Hari nan dialokasikan bagi kegiatan pendahuluan adalah 10 menit, sementara itu alokasi masa bakal kegiatan inti adalah 60 menit dan alokasi kegiatan penutup sebesar 20 menit.

Pada kegiatan pendahuluan, guru melakukan tiga kegiatan, yaitu (1) menyapa dan mengecek eksistensi pelajar, (2) mengamalkan
icebreaking
nyata menyanyi, (3) melubangi pengetahuan pelajar dan mengaitkan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan selanjutnya. Kegiatan
icebreaking
yang dilakukan guru.

 Menerobos kegiatan inti mendesain kegiatan agar pesuluh dapat mengalami proses menemukan, memanggil dan mempresentasikan. Bikin dapat menemukan berkaitan dengan
TGT,
purwa-tama master memberi pesuluh privat 4 keramaian dan setiapkelompok terdiri berpunca 3-4 hamba allah murid.

Guru menjelaskan terlebih dahulu tentang tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga siswa lain menjadi bingung. Selain itu, sepanjang sumbang saran berlangsung temperatur gelintar kelompok untuk menyibuk pesuluh bekerja sambil sesekali mengomentari hasil kerja siswa. Perwakilan setiap kelompok kemudian membacakan hasil diskusi kelompok. Pesuluh pecah kelompok tak akan ditanyakan pendapatnya terkait jawaban kerubungan yang madya pengutaraan. Takdirnya terdapat kekeliruan, guru terlebih lewat meminta sesama siswa yang melakukan pembaruan.Siswa yang hasil temuan kelompok nan etis dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan pujian berusul guru sementara itu pelajar yang belum mengerjakan dengan maksimal dimotivasi dan diberi penguatan.

Kegiatan akhir siklus I antara lain: (1) mengamalkan evaluasi untuk mengetahui pencapaian siswa pasca- dilaksanakan penelaahan dengan strategi
TGT,
(2) petatar melakukan kilas balik akan halnya penataran nan plonco dilakukan dan (3) siswa dan guru merayakan keberhasilan berlatih dengan bertampar tangan gembira.

    1. Observasi
      1. Hasil Berlatih Siswa

Kolaborasi siswa Kelas bawah XI SMKN 2 Tamiang Layang ada peningkatan dalam Kegiatan Pembelajaran pada siklus 1 selepas dilakukan penerapan contoh penerimaan kooperatif spesies TGT. Peristiwa ini dapat dilihat dari hasil belajar dan respons pelajar terhadap Kegiatan Pendedahan lamun masih cak semau sebagain kecil ki kesulitan yang unjuk lega saat proses Kegiatan Pembelajaran berlanjut. Dengan adanya ki aib yang terjadi pada siklus I, maka kami bersama pengamat menimang masalah tersebut agar mampu diperbaiki lega siklus II dengan tujuan semua siswa rani meningkatkan hasil belajarnya.

Kooperasi petatar Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang dalam kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Kristen. Hal ini terpandang pecah hasil belajar peserta pada siklus I. Hasil membiasakan pesuluh lega siklus I dengan penerapan abstrak pembelajaran kooperatif tipe TGT bersumber 13 siswa cak semau sebanyak 11 peserta atau 84,6% nan tuntas dan yang tidak tuntas ada 2 Pesuluh atau 15,4% nan lain tuntas dengan nilai umumnya sebesar 77. Data dapat dilihat lega grafik 3 dibawah ini.

            Tabel.6 hasil ulangan harian siklus I

No.

Nama Pesuluh

Sreg Materi Ki belajar Diri sub (2) Kehidupan Serani: manusia yang diperbaharuhi

Siklus I

Tuntas

Tidak Tuntas

1

Dita Damaini

75

V

2

Gantiani

90

V

3

Heski

75

V

4

Intan Sari

80

V

5

Janang Tuu Rajakino

70

V

6

Marsusanti

90

V

7

Novria Pangamiani

60

V

8

Pangki Suwito

85

V

9

Puluhani

75

V

10

Septiani

74

V

11

Tanobaya

72

V

12

Tri Wisnu Broto

75

V

13

Yopita Dwi Listya

80

V

Total

1001

Rata- Rata

77

Klasikal

84,6 %

      1. Aktifitas Pelajar

Hasil studi pengamat terhadap aktivitas petatar selama kegiatan belajar yang menerapkan hipotetis pembelajaran kooperatif spesies TGT pada
Pada Materi Berkaca Diri sub (2) Hayat Kristen: manusia yang diperbaharuhi
pada siklus 1 adalah rata–rata 3,04 signifikan tertulis kategori baik. Data selengkapnya dapat dilihat pada suplemen.

Bagi mengetahui respons pelajar terhadap kegiatan penerimaan yang mereka jalani dengan menggunakan transendental penerimaan kooperatif spesies TGT digunakan jajak pendapat nan diberikan kepada siswa setelah seluruh proses pendedahan selesai. Hasil survei respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif varietas TGT, ditunjukan pada Tabel 5 di asal ini yang merupakan rangkuman hasil angket respons pesuluh terhadap pembelajaran kooperatif varietas TGT, ditunjukan pada diagram 5 di bawah ini yang merupakan rangkuman hasil angket tentang tanggapan 13 petatar teerhadap hipotetis pembelajaran kooperatif jenis TGT yang diterapkan selama kegiatan pembelajaran Pada
Pada Materi Bercermin Diri sub (2) Atma Serani: manusia nan diperbaharuhi, siswa secara publik memberikan tanggapan yang positif selama mengikuti kegiatan pembelajaran dengan gemar, peserta kembali merasa senang dengan LKS yang digunakan, suasana kelas, maupun cara pengutaraan materi oleh guru, dan lengkap pembelajaran nan baru mereka peroleh, selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa juga merasa senang karena bisa mmenyatakan pendapat, dan murid merasa memperoleh manfaat dengan model penerimaan kooperatif tipe TGT.

Tabel 7 Respons siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe

             TGT

No.

Uraian

Tanggapan Siswa

Senang

Enggak Senang

F

%

F

%

1.

Bagaimana perasaan kamu selama mengikuti kegiatan pembelajaran ini ?

12

92,3

1

7,7

Suka

Bukan Gemar

F

%

F

%

2.

Bagaimana ingatan kamu terhadap :

  1. Materi pelajaran
  2. Lembar kerja peserta (LKS)
  3. Suasana Sparing di Kelas
  4. Cara penyampaian materi makanya suhu

13

11

12

13

100

84,6

92,3

100

0

2

1

0

0

15,4

7,7

0

Langka

Tidak Susah

F

%

F

%

3.

Bagaimana pendapat kamu Mengikuti pembelajaran ini

3

23,1

10

76,9

Bermanfaat

Lain

Berjasa

F

%

F

%

4.

Apakah pembelajaran ini bermanfaat buat kamu ?

13

100

0

0

Baru

Bukan Baru

F

%

F

%

5.

Apakah pembelajran ini bau kencur bagi dia?

13

100

0

0

Ya

Lain

F

%

F

%

6.

Apakah kamu merindukan sendi bahasan yang lain memperalat teoretis kooperatif tipe TGT?

12

92,3

1

7,7

Pengumuman :

F =Frekuensi respons siswa terhadap penerimaan

     kooperatif tipe TGT

                                    Tepi langit=Jumlah: 13 manusia

      1. Aktifitas Master

Data hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan penataran kooperatif spesies TGT ditunjukan lega grafik 4, bahwa pengelolaan penelaahan dengan penerapan paradigma pembelajaran  kooperatif diversifikasi TGT internal materi tuntunan Berpikir Produktif dan Kritis sreg siklus I sebesar 2.93 nan berjasa terjadwal kategori baik. Data dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Diagram 8. Data Peniliaian pengelohan penerimaan Kooperatif Variasi


TGT

No.

Aspek yang diamati

Skor pengamatan

RPP I

Maklumat

1.

2.

3.

4.

Pesiapan

Pelaksanaan

Pengelolaan Kelas

Suasana Inferior

3,0

2,5

2,5

3,0

Baik

Baik

Baik

Baik

Rata – Rata

2,75

Baik

Pemberitahuan :

0          –           1,49     =          cacat baik

1,5       –           2,49     =          Layak

2,5       –           3,49     =          Baik

3,5       –           4,0       =          Sangat Baik

    1. Refleksi

Maksud utama penelitian ini yaitu bagi mengerti peningkatan hasil belajar pada Pada Materi Mencontoh Diri dengan menerapkan model pendedahan kooperatif tipe TGT. Oleh karena itu refleksi nan dikemukakan akan difokuskan puas peningkatan hasil berlatih siswa pada Pada Materi Bercermin Diri sub (2) Kehidupan Masehi: manusia yang diperbaharui.

Pada siklus 1 terdapat kehilangan pemahaman peserta pada materi alamat Pada Materi Meneladan Diri sub (2) Jiwa Kristen: manusia nan diperbaharui. Menurut pengamat, suka-suka beberapa kejadian nan menyebabkan hal ini terjadi.
Pertama, siswa tidak fokus lega pemasangan LKS sehingga ada penggalan tertentu dari isi LKS yang tak terisi dengan sempurna.Kedua,
siswa banyak mengerjakan keadaan–hal di luar konteks pembelajaran,  seperti bermain dengan teman sekolompoknya.
Ketiga,
diantara satu ataupun dua kelompok lain mampu menjawab dengan baik pertanyaan yang diberikan guru pada detik evaluasi di akhir kursus.

           Dari temuan kekurangan tersebut maka pemeriksa membuat strategi baru untuk mengurangi penyebab kekuangan kognisi siswa tersebut di atas, selanjutnyaakan diterapkan sreg siklus II. Lakukan masalah yang pertama peneliti menugaskan tiga sosok pelajar pada setiap keramaian untuk menulis hasil kegiatan hendaknya semua LKS terisi semua. Dengan carademikian maka data yang terhimpun menjadi komplet sehingga peserta kian memahami materi kategorisasi plonco, agar mengurangi petatar nan saling main-main dengan temannya. Sedangkan masalah yang ketiga, peneliti memberikan penjelasan lebih detail tentang Pada Materi Bercermin Diri khususnya bagi soal yang sulit atau tidak mampu dijawab makanya gerombolan dalam sawala. Disamping itu kerjakan penyakit yang ketiga ini penjelasannya dibantu oleh pengamat.

3. Deskripsi data siklus II

         1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan suhu mempersiapkan tindakan berupa rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Metode Pembelajaran Tipe TGT dengan menyunting kekurangan pada siklus I pada
Materi Meniru Diri sub (3) Nilai-ponten Kristiani. Disamping itu suhu juga membuat Lawe Kerja Pesuluh (LKS) dan menyusun lawai observasi aktifitas hawa dan siswa. Selanjutnya, guru membuat tes hasil berlatih.Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di papan bawah, guru dan observer mendiskusikan lembar observasi.

        2. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan siklus IIdilaksanakan pada hari Selasa 18 November 2014 dari pukul 07.00 s.d 08.30 WIB.Kegiatan pembelajaran yang dilakukan terdiri dari tiga tahap adalah kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Waktu nan dialokasikan untuk kegiatan pendahuluan adalah 10 menit, sedangkan alokasi waktu bakal kegiatan inti merupakan 60 menit dan alokasi kegiatan  penutup sebesar 20 menit.

Pada kegiatan pendahuluan, guru melakukan tiga kegiatan, yaitu (1) menyebut dan mengomedikan kehadiran siswa, (2) melakukan
icebreaking
riil menyanyi, (3)mengebor pengetahuan peserta dan mengaitkan dengan materi tutorial yang akan diajarkan seterusnya. Kegiatan
icebreaking
yang dilakukan guru.

 Melewati kegiatan inti mendesain kegiatan agar petatar dapat mengalami proses menemukan, menegur dan mempresentasikan. Lakukan dapat menemukan berkaitan dengan
TGT,
permulaan-tama guru membagi peserta dalam 4 kelompok dan setiap gerombolan terdiri dari 3-4 orang pesuluh.

Hawa menguraikan terlebih lewat tentang tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga siswa tidak menjadi bingung. Selain itu, sejauh urun rembuk berlangsung guru berkeliling kelompok bagi mengintai siswa berkreasi sambil sesekali mengomentari hasil kerja siswa.Perwakilan setiap kerubungan kemudian membacakan hasil diskusi kelompok. Siswa berasal kelompok lain akan ditanyakan pendapatnya terkait jawaban kerubungan yang sedang pengutaraan. Seandainya terdapat kekeliruan, hawa lebih lagi silam meminta sesama siswa yang melakukan perombakan.Siswa yang hasil temuan kerumunan nan benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan pujian dari guru sedangkan siswa yang belum melakukan dengan maksimal dimotivasi dan diberi pemantapan.

Kegiatan akhir siklus II antara lain: (1)mengamalkan evaluasi bikin mencerna pencapaian siswa pasca- dilaksanakan penerimaan dengan strategi
TGT,
(2) siswa berbuat kilas balik tentang pembelajaran yang baru dilakukan dan (3)siswa dan guru memestakan keberhasilan belajar dengan bertampar tangan gembira.

          1. Observasi
  1. Hasil Belajar Pesuluh

Kolaborasi murid Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang ada peningkatan n domestik Kegiatan Pembelajaran pada siklus II pasca- dilakukan penerapan kamil penataran kooperatif jenis TGT. Peristiwa ini dapat dilihat dari hasil belajar dan respons siswa terhadap Kegiatan Penelaahan meskipun masih suka-suka sebagain boncel kebobrokan yang unjuk pada saat proses Kegiatan Pembelajaran berlangsung.

Partisipasi pesuluh Papan bawah XI SMKN 2 Tamiang Layang privat kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Serani. Situasi ini terlihat berasal hasil membiasakan siswa pada siklus II. Hasil belajar siswa pada siklus II dengan penerapan model pembelajaran kooperatif jenis
TGT
dari siswa beberapa 13 khalayak, cak semau sebanyak 12 murid alias  92,3% yang tuntas dan nan tak tuntas terserah 1 Siswa alias 7,7% yang lain tuntas dan angka rata-rata sebesar 88. Data bisa dilihat lega grafik 3 dibawah ini.

                        Tabel.9 Hasil ulangan harian pada siklus II

No.

Merek Petatar

Bercermin Diri

Siklus II

Tuntas

Bukan Tuntas

1

Dita Damaini

80

V

2

Gantiani

100

V

3

Heski

90

V

4

Intan Sari

85

V

5

Janang Tuu Rajakino

80

V

6

Marsusanti

100

V

7

Novria Pangamiani

74

V

8

Pangki Suwito

95

V

9

Puluhani

90

V

10

Septiani

80

V

11

Tanobaya

85

V

12

Tri Wisnu Broto

95

V

13

Yopita Dwi Listya

90

V

Jumlah

1135

Nilai Rata- Rata

87,3

Ketuntasan Klasikal

92,3%

  1. Aktifitas Pelajar

            Hasil penelitian pengamat terhadap aktivitas peserta selama kegiatan berlatih yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT puas materi tutorial Nanang Kreatif dan Kritis pada siklus 1 merupakan rata – rata 3,04 berguna termasuk kategori baik. Data sebaik-baiknya dapat dilihat puas tambahan .

Buat mengetahui respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran nan mereka jalani dengan menggunakan kamil penataran kooperatif keberagaman TGT digunakan angket yang diberikan kepada pelajar setelah seluruh proses pembelajaran selesai. Hasil pol respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT, ditunjukan plong Grafik 5 di bawah ini yang merupakan rangkuman hasil angket respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif varietas TGT, ditunjukan lega tabulasi 5 di bawah ini yang merupakan rangkuman hasil angket akan halnya tanggapan 13 siswa teerhadap model pengajian pengkajian kooperatif variasi TGT yang diterapkan selama kegiatan pembelajaran Pada Materi Berkaca Diri, peserta secara umum memberikan tanggapan nan aktual sepanjang mengajuk kegiatan pembelajaran dengan senang, murid juga merasa suka dengan LKS yang digunakan, suasana kelas bawah, maupun mandu pengajuan materi maka dari itu guru, dan transendental pembelajaran nan baru mereka terima, selama kegiatan penelaahan berlanjut siswa juga merasa doyan karena bisa mmenyatakan pendapat, dan peserta merasa memperoleh guna dengan model penelaahan kooperatif tipe TGT.

Tabulasi 10 Respons siswa terhadap model penelaahan kooperatif tipe

             TGT

No.

Jabaran

Tanggapan Peserta

Senang

Tidak Senang

F

%

F

%

1.

Bagaimana perasaan sira sepanjang mengikuti kegiatan pembelajaran ini ?

12

92,3

1

7,7

Senang

Enggak Gemar

F

%

F

%

2.

Bagaimana perasaan beliau terhadap :

  1. Materi kursus
  2. Lembar kerja siswa (LKS)
  3. Suasana Membiasakan di Kelas
  4. Mandu pengutaraan materi oleh guru

13

13

12

13

100

100

92,3

100

0

0

1

0

0

0

7,7

0

Sulit

Enggak Susah

F

%

F

%

3.

Bagaimana pendapat kamu Mengikuti pembelajaran ini

1

7,7

12

92,3

Bermanfaat

Tidak

Bermanfaat

F

%

F

%

4.

Apakah penataran ini bermanfaat bagi anda ?

13

100

0

0

Baru

Tidak Plonco

F

%

F

%

5.

Apakah pembelajran ini plonco bagi kamu?

13

100

0

0

Ya

Tidak

F

%

F

%

6.

Apakah sira mengharapkan pokok bahasan yang lain menggunakan model kooperatif keberagaman TGT?

12

92,3

1

7,7

Pengumuman :

              F =Kekerapan respons pesuluh terhadap pembelajaran kooperatif tipe

                   TGT

               Lengkung langit = Jumlah: 13 basyar

  1. Aktifitas Guru

Data hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran kooperatif macam TGT ditunjukan sreg diagram 4, bahwa pengelolaan pendedahan dengan penerapan model pendedahan  kooperatif varietas TGT dalam materi pelajaran Nanang Fertil dan Kritis plong siklus I sebesar 2.93 yang berarti terjadwal kategori baik. Data dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabulasi 11. Data Peniliaian pengelohan penataran Kooperatif Keberagaman


             TGT

No.

Aspek nan diamati

Skor pengamatan

RPP II

Pengumuman

1.

2.

3.

4.

Pesiapan

Pelaksanaan

Pengelolaan Inferior

Suasana Kelas

3,25

2,75

2,75

3,0

Baik

Baik

Baik

Baik

Rata – Rata

3,125

Baik

Keterangan :

0          –           1,49     =          kurang baik

1,5       –           2,49     =          Cukup

2,5       –           3,49     =          Baik

3,5       –           4,0       =          Lampau Baik

  1. Refleksi

Tujuan utama penajaman ini ialah buat mengetahui peningkatan hasil belajar sreg Pada
Materi Bercermin Diri sub (3) Nilai-nilai Kristiani
dengan menerapkan konseptual pembelajaran kooperatif tipe TGT. Maka dari itu karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan plong pertambahan hasil berlatih siswa lega Sreg
Materi Mencontoh Diri sub (3) Nilai-nilai Kristiani.

Sreg siklus 1 terletak kekurangan kesadaran siswa sreg
Materi Meneladan Diri sub (3) Poin-nilai Kristiani. Menurut pengamat, cak semau beberapa hal yang menyebabkan peristiwa ini terjadi.
Permulaan, siswa tidak titik api pada pemuatan LKS sehingga ada bagian tertentu dari isi LKS yang tidak terisi dengan sempurna.
Kedua,
siswa banyak melakukan hal – situasi di luar konteks pembelajaran,  seperti mana bermain dengan teman sekolompoknya.
Ketiga,
diantara satu atau dua keramaian tidak mampu menjawab dengan baik pertanyaan yang diberikan guru pron bila evaluasi di akhir les.

Berbunga temuan kekurangan tersebut maka peneliti membuat garis haluan plonco untuk mengurangi penyebab kekuangan pemahaman petatar tersebut di atas, lebih jauh akan diterapkan pada siklus II. Untuk masalah yang pertama pengkaji menugaskan tiga orang siswa pada setiap kelompok untuk menulis hasil kegiatan agar semua LKS terisi semua. Dengan cara demikian maka data yang terkumpul menjadi lengkap sehingga petatar makin mengetahui materi pengelompokan yunior, agar mengurangi murid yang ganti bermain dengan temannya. Sedangkan kelainan yang ketiga, peneliti memberikan penjelasan lebih detail tentang Pada
Materi Bercermin Diri sub (3) Nilai-angka Kristiani
khususnya untuk tanya yang sulit atau tak mampu dijawab oleh kerumunan kerumahtanggaan diskusi. Disamping itu cak bagi masalah yang ketiga ini penjelasannya dibantu makanya pengamat.

B. Pembahasan

1. Hasil Sparing

Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar evaluasi kondisi awal siswa Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang bakal materi sasaran makanan dengan model pembellajaran, kooperatif tipe TGT diperoleh nilai rata – rata kondisi awal sebesar 74,6 dengan nilai terala ialah 80 terdapat 4 bani adam dan skor terendah adalah 70 terdapat 5 turunan dengan ketentusan sparing 62% dan yang tidak tuntas 38%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar pesuluh Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang lega siklus 1 bakal materi bahan nafkah dengan model penelaahan, kooperatif variasi TGT diperoleh ponten rata – rata siklus 1 sebesar 77 dengan angka tertinggi adalah 90 terdapat 2 bani adam dan poin terendah ialah 60 terwalak 1 orang dengan ketentusan sparing 84,6% dan yang bukan tuntas 15,4%.

Sedangkan pada siklus II bikin materi Mengenal Label-nama Rasul yang menerima Kitab Allah diperoleh biji rata – rata siklus II sebesar 88 dengan nilai tertinggi adalah 100 terwalak 2 orang dan nilai terendah adalah 74 terdapat 1 cucu adam dengan ketuntasan belajar 92,3% dan yang tidak tuntas 7,7%.

Berdasarkan data hasil belajar petatar berusul siklus I dan siklus II menunjukan adanya pertambahan hasil belajar siswa Kelas XI SMKN 2 Tamiang Layang tahun pelajaran 2014/2015 menunjukan peningkatan hasil belajar siswa sreg materi yang sama yaitu
Bercermin Diri. Hal ini disebabkan puas siklus I dan siklus II 2014/2015 menunjukan peningkatan hasil belajar siswa lega materi yang sama ialah Bercermin Diri. Hal ini disebabkan pada siklus I dan siklus II 2014/2015 Telah menerapkan model penerimaan kooperatif tipe TGT.

2.  Aktivitas Murid

Aktivitas pelajar sejauh kegiatan pendedahan berlantas yang menerapkan model penelaahan tipe TGT pada Sreg Materi Bercermin Diri menurut penilaian pengamat termasuk kategori baik semua aspek aktivitas siswa. Adapun aktivitas siswa yang dinilai oleh pengamat yaitu aspek aktivitas pesuluh:  mendengar dan memaki penjelasan hawa, kerja sama internal kelommpok, bekerja dengan menggunakan alat peraga, keaktifan murid kerumahtanggaan diskusi, memperesentasikan hasil diskusi, mengikhtisarkan materi, dan kemampuan siswa menjawab tanya dari guru.

Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilakukan aktivitas siswa yang paling dominan dilakukan yaitu bermitra mengerjakan LKS dan berdiskusi. Hal ini menunjukan bahwa petatar saling bermitra dan bertanggung jawab cak bagi mendapatkan hasil yang baik. Situasi ini sesuai dengan pendapat santoso (privat anam, 2000:40) nan menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif menjorokkan petatar dalam kerumunan membiasakan, bekerja dan bertanggung jawab dengan sungguh–betapa hingga selesainya tugas– tugas insan dan kelompok.

3. Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

        Kemampuan guru privat penyelenggaraan komplet pembelajaran kooperatif tipe TGT menurut hasil penilaian pengamat termuat kategori baik bakal semua aspek. Berharga secara keseluruhan hawa mutakadim memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola eksemplar  pengajian pengkajian kooperatif keberagaman TGT pada Pada Materi Bercermin Diri. Peristiwa ini sesuai dengan pendapat Ibrahim (2000), bahwa suhu dolan terdepan dalam mengelola kegiatan mengajar, yang berguna guru harus bakir dan inovatif privat merancang suatu kegiatan pendedahan di papan bawah, sehingga minat dan motivasi siswa privat membiasakan dapat ditingkatkan. Pendapat tidak yang mendukung adalah piter (dalam Sinar dan Wikandari 1998). Kemampuan seorang guru sangat penting dalam pengelolaan pendedahan sehingga kegiatan penelaahan dapat berlanjut efektif dan efisien.

4.Respons peserta Terhadap teladan penelaahan kooperatif varietas TGT

        Berlandaskan hasil jajak pendapat respons siswa terhadap contoh pembelajran kooperatif tipe TGT yang diterapkan oleh penyelidik menunjukan bahwa siswa merasa senang terhadap materi cak bimbingan. LKS, suasana belajar dan cara penyampaian materi oleh suhu. Menurut siswa, dengan sempurna pembelajaran kooperatif tipe TGT mereka lebih mudah memahami materi cak bimbingan interaksi antara hawa dengan siswa dan interaksi antar siswa tercipta semakin baik dengan adanya diskusi, sedangkan ketidak senangan pesuluh teerhadap model pembelajran kooperatif keberagaman TGT disebabkan suasana belajar dikelas yang agak ribut.

        Seluruh siswa (100%) berpendapat hijau mengikuti pembelajran dengan pola kooperatif diversifikasi TGT.Murid merasa senang apalagi pokok bahasan selanjutnya menunggangi model pembelajaran kooperatif keberagaman TGT, dan siswa merasa bahwa model penerimaan kooperatif tipe TGT signifikan buat mereka, karena mereka dapat saling bertukar pikiran dan materi pelajaraan yang didapat mudah diingat. Hal ini sesuai dengan pendapat rejeki (2000) nan mengatakan bahwa konseptual penelaahan kooperatif merupakan tindakan separasi yang dilakukan karena dapat meningkatkan kemajuan belajar sikap siswa nan lebih positif, membukit motivasi dan berkepastian diri sera menambah rasa senang murid terhadap tutorial Pendidikan Agama Masehi.


Gerbang V



P



ENUTUP

5.1 Konklusi

                 Bersendikan hasil pengkhususan dengan menerapkan model penelaahan kooperatiftipe TGT, maka boleh diambil kesimpulan sebagai berikut:

Pendedahan Kooperatif variasi TGT boleh meningkatkan hasil belajar pada Materi Bercermin Diri Siswa Inferior XI SMKN 2 Tamiang Layang.

5.2 Saran

Berdasarkan pengalaman dalam menerapkan abstrak pembelajaran kooperatif tipe TGT, maka pengkaji dapat memberikan saran–saran, adalah:

  1. Kepada temperatur Pendidikan Agama Serani yang mengalami kesulitan yang dapat menerapkan model pengajian pengkajian kooperatif variasi TGT sebagai alternatif kerjakan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar kelas.
  2. Kepada guru–temperatur yang cak hendak menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT disarankan buat membentuk kelompok–kelompok yunior sekiranya banyak murid yang dolan pron bila belajar.

Daftar pustaka

Ahmadi, Tepung. 1997.Ketatanegaraan Belajar Mengajar. Bandung: Referensi Tetap

Arikunto, Suharsimi. 2007.
Bawah-Asal Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi

               Aksara

Depdiknas. 2003.UU RI No.20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Kewarganegaraan.

                   Jakarta: Depdiknas

————–. 2004.
Standar Kompetensi Guru Sekolah Pangkal. Jakarta: Depdiknas

————–.2005.
PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

                   Jakarta: Depdiknas

————-. 2007.
Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 tentang Patokan Proses.

                  Jakarta: Depdiknas

————-. 1999.
Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang

                  Pendidikan. Jakarta: Depdikbud

Ibrahim, M. 2005.
Pembelajaran Kooperatif.
UNESA: University Press.

Hulu, yuprieli. Dkk. 2011. Suluh siswa 2: Bekerja dalam Kristus. Jakarta: BPK

                Gunung Mulia.

Kemdiknas.2011.Membimbing Guru dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:

               Kemdiknas

————-. 2011.
Paikem Penerimaan Aktif Inovatif

                Kreatif Efektif dan Menghibur.  Jakarta: Kemdiknas

Ngalim, Purwanto.  2008.
Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:PT

               Remaja Rosda Karya

Ngalim, Purwanto.  2003.
Kaidah-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.

              Bandung:PT Akil balig Rosda Karya

Sudjana, Nana. 1989.
Pamrih Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Suyatno. 2009.
Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT. Surakarta: Tiga

              Seuntai


Source: https://www.kangjo.net/berita/detail/contoh-laporan-ptk-sederhana-guru-smk-mata-pelajaran-agama-kristen-kelas-11

Posted by: skycrepers.com