Contoh Laporan Studi Kasus Kesulitan Belajar Anak Sd

KESULITAN BELAJAR Lega Petatar KELAS V SD MUHAMMADIYAH WARINGINSARI Hari Tajali 2009/2010 (Laporan Studi Kasus)

Oleh : Azharul Fazri Siagian 06020053 Bak Salah Satu Tugas Mata Kuliah Model Transendental Konseling SD Lega Jurusan Ilmu Pendidikan Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN Didaktik (STKIP) MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG 2010

HALAMAN Pelegalan Titel

: Kesulitan Belajar Murid Kelas bawah V SD Muhammadiyah Waringinsari Tahun Ajaran 2009/2010

Nama Mahasiswa NPM

: Azharul Fazri Siagian

: 06020053

Program Penelitian

: Pendidikan Ilmu jiwa dan Bimbingan

Tugas ini telah disetujui dan disyahkan makanya Dosen Pengasuh Mata Kuliah Kamil Hipotetis Konseling SD. Plong sungkap, ……………………..2010 Di STKIP M. Pringsewu Lampung Meyetujui, Dosen Pengampu

Eka Sari Setianingsih, S. Pd.

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Sang pencipta SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan referat ini dengan tepat musim. Riset Kasus ini di susun seumpama salah suatu tugas mata kuliah Eksemplar Komplet Konseling Anak SD.. Selesainya riset kasus ini, tidak magfirah dari bantuan dan bimbingan pecah berbagai pihak. Maka dari itu karena itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan banyak songsong pemberian kepada : 1.

Ibu Eka Setianingsih, S. Pd., sebagai dosen pengampu alat penglihatan pidato Paradigma Model Konseling Anak SD.

2.

Semua rekan-rekan dan pihak-pihak terkait nan sudah membntu dalam Penyusunan referat ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan studi kasus ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi memperbaiki kerumahtanggaan kesempatan berikutnya. Akhirnya pencatat menitahkan sepatutnya bisa bermanfaat untuk kita semua. Amin Pringsewu, 07 Januari 2010 Penulis

Azharul Fazri Siagian NPM. 06020053

DAFTAR ISI HALAMAN Kepala karangan…………………………………………………………………….

i

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………..

ii

Kata PENGANTAR…………………………………………………………………..

iii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….

iv

Ki I

PENDAHULUAN A……………………………………………………………………..Latar Pantat Ki aib……………………………………………..

1

B……………………………………………………………………..Profil Sekolah…………………………………………………………….

3

C……………………………………………………………………..Identifikasi Murid………………………………………………………………. BAB II

PEMBAHASAN A. Identifikasi Kesulitan Belajar……………………………..

BAB III

3 5

1.

Defenisi Kesulitan Sparing………………….

5

2.

Identifikasi Kesulitan Belajar………………

3

B. Layanan Yang Telah Diberikan…………………………..

13

C. Layanan Nan Belum Diberikan dan Alasan………..

14

D. Hasil………………………………………………………………..

15

PENUTUP A. Deduksi……………………………………………………….

17

B. Saran………………………………………………………………..

17

Daftar bacaan

Gapura I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Laksana koteng guru yang sehari-hari mengajar di sekolah, tentunya bukan terik harus menindak momongan-anak yang mengalami kesulitan dalam membiasakan. Anak asuh-anak yang sepertinya sulit sekali menerima materi pelajaran, baik cak bimbingan mendaras, menggambar, serta berhitung nan merupakan kebutuhan dasar yang akan dipelajari pron bila sekolah sumber akar. Hal ini sekali-kali membuat hawa menjadi frustasi memikirkan bagaimana menghadapi anakanak serupa ini. Demikian juga para sosok tua lontok yang memiliki anak asuh-momongan nan memiliki kesulitan internal belajar. Harapan mudah-mudahan anak mereka menjadi anak yang tukang, mendapatkan nilai yang baik di sekolah menaik kesedihan mereka ketika mengawasi pengetahuan bahwa anak asuh-anak mereka kesulitan n domestik membiasakan.

Akan tetapi nan kian menyedihkan merupakan perlakuan yang dituruti anak nan mengalami kesulitan belajar berusul ibu bapak dan guru yang tidak mengetahui kelainan yang sebenarnya, sehingga mereka memberikan keunggulan kepada anak mereka bagaikan anak nan pilon, tolol, ataupun gagal minus

mengarifi dan menelusuri latar belakang, sebab akibat kenapa anka tersebut mengalami pil dalam belajar. Fenomena ini kemudian menjadi perhatian para ilmuan yang tertarik dengan kebobrokan kesulitan belajar. Sebagai halnya para mahasiswa nan puas saat mengamalkan penelitian di sekolah asal melihat bahwa kebanyakan guru belum maksimal internal upaya pemberian bantuan terhadap kesulitan sparing ank di sekolah. Buat itu penulis terpanggil cak bagi memberikan beberapa masukan dan saran kepada pihak sekolah nan diteliti.

Adalah Sekolah Sumber akar Muhammadiyah Waringinsari Kecamatan Sukoharjo. Kalau dilihat dari profilnya, sekolah ini termaktub sekolah unggulan di Kecamatan Sukoharjo. Hal ini dibuktikan dengan pemantauan peneliti sendiri setelah melihat beberapa piagam dan piala baik itu di bidang akademiik, latihan jasmani, maupun seni budaya. Dan ketika peneliti sendiri menginterviu Bos Sekolah, Kiai Sudarto, S. Ag., menasdikkan akan hal itu. Tanda sekolah ini juga ditandai dengan hasil pecah Badan akreditasi Sekolah Kabupaten Tanggamus Tahun 2008 dengan predikat nilai B (sesak).

Meskipun demikian, tentunya walaupun sekolah ini yakni tercatat sekolah primadona, peneliti mengamati akan halnya pelayanan pertolongan pimpinan belajar terhadap siswa masih belum melanglang dengan baik. Untuk itu intern

kertas kerja ini penulis akan mencoba mengamalkan penyelidikan terhadap 2 murid kelas 5 (lima).

B. Profil Sekolah Profil SD Muhammadiyah Waringinsari ini merupakan riuk satu sekolah primadona di Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Akan halnya riwayat hidup sekolah ini sebagaimana terlampir.

C. Identifikasi Peserta 1. Identifikasi Siswa A dan Ibu bapak A a. Siswa Nama

: Bagas Zakariya

Tempat Tanggal Lahir

: Waringinsari, 26 April 1997

Nis

: 9977236224

Kelas

: V (lima)

Jenis Kelamin

: Lelaki

Agama

: Islam

Pendidikan sebelumnya : Sasaran Pelajar

: Waringinsari Kecamatan Sukoharjo

b. Ibu bapak Ayah

: Khuluk Suyoto

Pekerjaan

: Orang tani

Ibu

: Sunarti

Jalan hidup

: Ibu Flat Tangga

2. Identifikasi Pesuluh B dan orang tua B a. Siswa Nama

: Anwar Sayuti

Wadah Terlepas Lahir

: Waringinsari, 12 Mei 1998

Nis

: 9987099945

Kelas

: V (lima)

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Selam

Pendidikan sebelumnya : Alamat Pesuluh

: Waringinsari Kecamatan Sukoharjo

2. Orang Tua Ayah

: Maslah

Tiang penghidupan

: Petani/ Ustadz

Ibu

: Sarwiyah

Pekerjaan

: Ibu Kondominium Tangga

BAB II PEMBAHASAN

A. Identifikasi Kesulitan Belajar 1. Defenisi Kesulitan Belajar Aktifitas belajar bagi setiap manusia, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Terkadang lancar, sekali-kali bukan, kadangkadang dapat cepat menyirat apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat rumit. Dalam hal kehidupan, terkadang semangatnya tinggi, tetapi lagi pelik untuk mengadakan konsentrasi. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai plong setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktifitas membiasakan. Setiap individu memang tidak suka-suka yang separas. perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku dikalangan anak didik. “dalam peristiwa di mana anak asuh ajar / siswa enggak boleh belajar sebagaimana mestinya, itulah nan disebut dengan kesulitan berlatih. Kesulitan belajar merupakan kesuntukan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan internal belajar tidak bisa dikenali dalam wujud tubuh yang berlainan dengan orang nan tak mengalami masalah kesulitan sparing. Kesulitan belajar ini lain selalu

disebabkan karena factor intelligensi yang rendah (kelaianan mental), akan tetapi dapat kembali disebabkan karena faktor lain di asing intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tataran belum tentu menjamin keberhasilan sparing. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu privat sampai ke hasil belajar.

Kerumahtanggaan kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka kelakuan. Ada petatar yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain lain sedikit pula siswa yang tambahan pula dalam belajarnya mengalami berbagai macam kesulitan. Kesulitan belajar petatar ditunjukkan oleh adanya kendala-hambatan tertentu untuk sampai ke hasil belajar, dan dapat bersifat kognitif, sosiologis, ataupun fisiologis, sehingga pada akhirnya boleh menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya bakir di radiks semestinya.

Kesulitan belajar pelajar mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan semenjak per pengertian tersebut. a. Learning Disorder atau kekacauan membiasakan adalah situasi dimana

proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bentrok. Pada dasarnya, yang mengalami kompleksitas belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan sahaja belajarnya terganggu atau terhambat makanya adanya respons-respons yang antagonistis, sehingga hasil berlatih yang dicapainya lebih sedikit semenjak potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah perlu dengan olah jasad keras begitu juga karate, genggaman dan sejenisnya, kelihatannya akan mengalami kesulitan internal belajar menandak yang menghendaki gerakan lemahgemulai.

b. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sesungguhnya siswa tersebut enggak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, ataupun alai-belai serebral lainnya. Teoretis : siswa yang nan memiliki postur tubuh nan tangga atletis dan silam cocok menjadi olahragawan bola volley, namun karena tidak pernah dilatih berperan bola volley, maka beliau tidak dapat menyelesaikan permainan volley dengan baik.

c. Under Achiever mengacu kepada pesuluh nan sebenarnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas lumrah, cuma pengejawantahan belajarnya tergolong terbatas. Contoh : siswa yang sudah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong

lalu berjaya (IQ = 130 – 140), tetapi kinerja belajarnya sah-konvensional saja atau malah adv amat rendah.

d. Slow Learner atau lambat belajar merupakan siswa yang lambat dalam proses sparing, sehingga ia membutuhkan waktu yang makin lama dibandingkan sekelompok siswa lain nan memiliki taraf potensi ilmuwan yang sejajar.

e. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana murid lain mampu belajar atau memencilkan belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

2. Identifikasi Kesulitan Sparing Siswa Seperti nan perekam sampaikan pada permukaan belakang akan halnya profil SD Muhammadiyah Waringinsari Kecamatan Sukuharjo, bahwa sekolah ini merupakan sekolah unggulan (keterangan terlampir). Namun selepas pencatat menagadakan penyelidikan dengan menggunakan metode wawanrembuk dan menganalisa data khususnya papan bawah V (panca). Masih ada sejumlah pelajar yang mengalami kesulitan sparing. Tentunya kesulitan belajar itu diakibatkan oleh beberapa faktor. Namun pada kesempatan mungkin ini penyadur hanya akan mencoba menagmbil percontoh puas 2 murid yang berada di inferior V yaitu BZ dan AS. Dimana dua murid ini memiliki keburukan kesulitan belajar yang farik. BZ mempunyai kesulitan membiasakan

Under Achiever dan AS memiliki kesulitan berlatih Slow Leaner (lambat internal belajar). Adapun sebab penulis menyimpulkan kesulitan belajar tersebut setelah berbuat analisis sebagaimana nan dijelaskan berikut ini : a. Pengumpulan Data Didalam reklamasi data penulis memperoleh data tentang kesulitan belajar tersebut menunggangi metode observasi dan wawancara (interview) dengan wali kelas V ialah Ibu Ismawati S. Pd.

Mengenai data nan diperoleh merupakan jumlah keseluruhan pelajar ialah 28 orang, nan terdiri dari 18 pria dan 10 dara. Dari jumlah keseluruhan siswa tersebut senyatanya kesulitan belajarnya tidak plus banyak hanya beberapa varietas. Namun cak bagi kedua pelajar ini memiliki kesulitan membiasakan. Seperti nan disampaikan Wali Kelas V (lima) Ibu Ismawati, S. Pd., “sebenarnya petatar di papan bawah V (lima) ini secara rata-rata telah memuaskan privat hasil membiasakan. Tetapi sang BZ dan AS ini memiliki problem malar-malar poin kedua murid tersebut tinggal abnormal. Kami pula sudah memberikan beberapa layanan namun belum juga berhasil dan hasilnya nilai semester ganjil Periode 2009/2010 ini kembali belum memuaskan. Sang BZ itu sepatutnya ada kalau belajar ditanya dia pasti bisa menjawab semata-mata dia itu sering menggangu teman dan tugas-tugas jarang tergarap. AS bukan pula, dia itu lalu rumit

menangkap pelajaran hal ini juga disampaikan maka dari itu saingan-teman guru parasan eksplorasi”.

Selepas panitera mengerjakan interviu, sudah bisa kami simpulkan apa sebenarnya kesulitan belajar yang dialami kedua pelajar tersebut.

b. Penggarapan Data Setelah melakukan penumpukan data melalui observasi dan wawancara. Penulis sudah memahami bahwa murid tersebut mengalami kesulitan belajar yang farik. Seperti yang disampaikan wali kelas V, kami menyimpulkan bahwa :

1) BZ itu kesulitan belajarnya adalah Under Achiever adalah mengacu kepada siswa yang sebenarnya punya tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, semata-mata pengejawantahan belajarnya tergolong rendah.

2) AS itu kesulitan belajarnya Slow Learning maupun lambat membiasakan adalah murid nan lambat dalam proses belajar, sehingga kamu membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekerumun murid enggak yang punya taraf potensi intelektual yang setimpal.

c. Diagnosis Setelah menyimpulkan masalah yang dialami kedua petatar tersebut. Timbulnya masalah nan dihapi BZ dan AS disebabkan oleh faktor ialah : 1) BZ Setelah mengintai data-data seorang dan mendapat hasil home visit pengampu kelas bawah, dapat dilihat bahwa latar pantat anak bini nan berasal dari petani dan ibu hanya sebagai ibu apartemen tangga. Di rumah BZ rumit diperhatikan belajarnya. Dan perhatian khusus kedua manusia tuanya akan halnya perkembangan belajarnyapun jarang. Ibunya sendiri yang cuma di flat sibuk ngurusin adik-adiknya. Walaupun

sebenarnya

masih

ada

masa

banyak

bakal

meluangkan waktu untuk menghakimi belajarnya BZ, namun itupun tidak dilakukan. Selain terbatas perhatian, keluarga BZ kembali sangat sederhana dan pas-pasan. Tahun home visite Ibunya menyorongkan BZ sering harap dibelikan daya, namu karena bukan cak semau maka tidak diberikan.

2) AS

Latar belakang keluarganya sama dengan BZ, semata-mata AS ini memang memiliki keterlambatan menagkap pelajaran. Keadaan ini disebabkan kurang perhatiannya cucu adam tuanya tetang kebutuhan vitamin dan gizi bagi AS. Itu terbukti saat menyibuk menu kas dapur sehari-hari sangatlah jauh dari 4 sehat lima lengkap. Ditambah juga orang tuanya dirumah acuh-tak acuh terhadap proses belajarnya

d. Prognosis Setelah melakukan diagnosis kesulitan membiasakan murid tersebut, pihak sekolah melalui pengampu kelas telah melakukan sejumlah hal yakni : 1) Bimbingan Pribadi 2) Kunjungan Apartemen (home visit)

e. Alih Tangan Kasus Dari variasi masalah yang dimiliki BZ dan AS, pihak sekolah maupun suhu belum mengadakan Alih Tangan Kasus.

f. Evaluasi dan Follow Up Setelah memberikan beberapa keberagaman layanan didikan. Pihak sekolah mengerjakan evaluasi bahwa kedua anak asuh tersebut harus mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Dan pihak

sekolah selalu memberikan informasi kepada ayah bunda masingmasing terkait ada atau tidaknya kronologi hasil belajar keda siswa tersebut. B. Layanan Yang Telah Diberikan Privat memberikan kesadaran demi kelancaran dan kesuksesan murid di SD Muhammadiyah Waringinsari, pihak sekolah telah memberikan beberapa layanan, yaitu : 1. Layanan Habituasi Layanan orientasi ini diberikan pron bila permulaan awal timbrung sekolah. Isinya adapun segala apa sekadar yang akan dipelajari selama kelas V dan khususnya pelajaran semester ganjil.

2. Layanan Informasi Layanan kenyataan ini diberikan untukm membekali siswa dengan berbagai siaran dan pemahaman tentang berbagai hal nan bermakna buat individu petatar sebagai penunjang pembelajarannya di sekolah. Sama dengan menampilkan aga murid menyiagakan buku tulis tiap bidang studi, jadwal membiasakan, dan tak-lain

3. Layanan Penempatan Penyaluran Layanan ini telah dilakukan dengan mengedrop posisi kancah berlatih yang sesuai.

4. Layanan Pembelajaran Layanan ini diberikan agar murid mampu melaksanakan kegiatan membiasakan dengan baik dan seoptimal boleh jadi, baik di sekolah alias di rumah.

5. Layanan Bimbingan Gerombolan Wali kelas V adakalanya mengasihkan layanan bimbingan kelompok pada muridnya. Hal ini bertujuan moga petatar-pesuluh memahami bukan main pentingnya kerjasama dalam hal sosial. Takhlik jadwal piket, dan struktur kelas.

6. Pimpinan Pribadi Bimbingan pribadi ini dilakukan pihak sekolah kepada murid nan menagalami kesulitan belajar. Hal ini dilakukan plong siswa seperti BZ dan AS. Bimbingan ini bertujuan lakukan memberikan pemahaman dan karunia signifikasi tentang masalah yang dihadapinya dan saran-saran untuk penuntasan ki kesulitan belajarnya.

C. Layanan Belum Diberikan

Mengenai layanan yang belum diberikan adalah layanan konseling kerumunan. Hal ini disebabkan karena perampungan masalah, pihak sekolah lebih cendrung dengan cara konseling anak adam. Apalagi di kelas V sendiri yang menagalami kesulitan membiasakan terjadi hanya ke beberapa murid saja. D. Hasil Setelah melakukan tangga bakal menyimpulkan masalah kesulitan belajar pada BZ dan AS, penulis menyarankan kepada wali kelas V (lima) agar memberikan layanan kepada dua petatar tersebut.

1. BZ Untuk membereskan peserta underachiever (BZ), model trifokal yang diajukan Rimm yaitu salah suatu pendekatan yang minimum komprehensif untuk mengendalikan siswa nan underachiever. Model ini menyertakan individu koteng, lingkungan rumah dan sekolah. Masing-masing pihak yang terlibat tersebut diikutsertakan intern program trifokal ini, sehingga setiap orang nan diperkirakan berkontribusi terhadap ki kesulitan underachiever bisa membereskan komplikasi anak dengan lebih komprehensif. Agar dapat mengamankan siswa underachiever dengan tepat, maka diperlukan intervensi yang berlainan pada setiap kasus karena menurut Hansford underachievement

terlampau

spesifik

pada

turunan

masing-masing.

Underachievement adalah pola perilaku nan dipelajari dan tentunya

dapat juga diubah dan kerjakan meningkatkan penampilan anak underachiever boleh dilakukan dengan membangun self-esteem, meningkatkan konsep diri, meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik, mengajari cara belajar (study skills), manajemen periode dan mengatasi kekurangannya dalam hal akademik.

2. AS Sepeti yang sudah lalu penulis sampaikan di atas. Bahwa kesulitan belajar As tergolong pada Solw Learner (lambat dalam belajar). Untuk itu cara nan tepat untuk menagani kesulitan belajar ini ialah : a. Dril AS ini jarang n domestik menagkap pelajaran dan lambat proses mentransfer ilmunya. Lakukan itu sosuli tepatnya adalah seharusnya guru memberikan waktu khusus puas AS lakukan mengerjakan pengulangan latihan dengan tepat.

b. Harus ada Pimpinan Khusus Slow learner, yang dihadapi AS ini, harus dibimbing makanya satu turunan guru tertentu. Artinya da harus dibimbing satu orang hawa unik. Pelajaran kerumahtanggaan suatu kelas yang diampu satu orang guru seperti di sekolah umum jelas bukan bisa diterapkan pada para siswa berkebutuhan khusus seperti mana AS. Untuk itu takdirnya wali sekolah tidak

sanggup, bisa mencarikan master pembimbing istimewa di rumah (les privat) yang tujuannya agar AS dapat diajari dengan perhatian munjung dari satu orang hawa pembimbing. BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian nan penulis buat. Dapat disimpulkan bahwa peserta di kelas V SD Muhammadiyah Waringinsari Kecamatan Sukoharjo yang memiliki kesulitan belajar adalah BZ dan AS. Dan pendirian menuntaskan atau penanganan nan tepat terhadap kesulitan belajar tersebut adalah : 1. BZ diberikan layanan sempurna trifokal adalah salah satu pendekatan yang minimal komprehensif bikin mengatasi peserta yang underachiever. Model ini mengikutsertakan individu sendiri, lingkungan kondominium dan sekolah. Masingmasing pihak yang terbabit tersebut diikutsertakan dalam program trifokal ini, sehingga setiap bani adam nan diperkirakan berkontribusi terhadap masalah underachiever bisa menyelesaikan penyakit anak dengan lebih komprehensif. 2. AS nan punya kebobrokan kesulitan berlatih slow learner diberikan terapi dril dan bimbingan belajar singularis di rumah (di luar jam sekolah).

B. Saran Plong kesempatan ini, penulis akan menyampaikan beberapa saran : 1. Kepada Sekolah Secara masyarakat notulis melihat bahwa tidak ada kesulitan belajar asing biasa pada murid, namun beberapa orang memiliki beberapa komplikasi dalam belajarnya. Untuk itu kami mengajurkan seharusnya SD Muhammadiyah Waringinsari Kecamatan Sukoharjo, agar memiliki koteng guru pembimbing spesial. Hal ini agar bembingan belajar dapat difokuskan sreg pembimbing tersebut. 2. Kepada Temperatur Papan bawah V Kepada Guru Kelas V, diharapkan agar dapat mengasihkan tahapan perampungan seperti nan kami gambarkan di atas. Tentunya hal itu akan berjalan efektif dengan kerjasama dengan pihak orangtua peserta. 3. Kepada Orangtua Kepada kedua orang tua, baik ayah bunda BZ dan AS, semoga dapat memberikan perhatian mumbung kepada anaknya. Luangkanlah waktu untuk mengevaluasi hasil belajarnya di sekolah. 4. Kepada Petatar

Untuk BZ agar meningkatkan kualitas belajarnya dengan saran semenjak hawa dan orangtua masing-masing.

DAFTAR Teks http://admanfd.files.wordpress.com/2008/02/makalah_klinik-pembelajaran.doc http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/10/27/usaha-mengatasikesulitan-belajar-siswa-di-sekolah-radiks-tentang-anak asuh-debil/. http://edisicetak.solopos.co.id/jajawa/keluaran.asp?id=12146

KESULITAN Membiasakan Lega MURID Kelas bawah V SD MUHAMMADIYAH WARINGINSARI Masa Visiun 2009/2010 (Siaran Pengkajian Kasus)

Oleh : Azharul Fazri Siagian 06020053

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN Didaktik (STKIP) MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG 2010

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Sudarato, S. Ag ANWAR SAYUTI Kepala Sekolah SD M. Waringinsari

BAGAS

AKTIVITAS GURU

Source: https://pdfcoffee.com/studi-kasus-kesulitan-belajar-anak-sd-pdf-free.html

Posted by: skycrepers.com