Contoh Media Pembelajaran Ips Sd Kelas 2

















A.




Pengertian Kendaraan

Secara harafiah kata “ki alat” semenjak berasal bahasa Latin, yang merupakan tulang beragangan jamak dari “menengah” yang berarti calo atau gawai (alat angkut) untuk mencapai sesuatu.
Assosistion for Education and Communication Technology
(AECT) mendifinisikan media merupakan segala rang yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi. Sedangkan
Education Assiciation
(NEA) mendefinisikan media perumpamaan benda yang dapat dimanipulaksikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta alat nan dipergunakan dengan baik privat kegiatan belajar mengajar, sehingga boleh mempengaruhi efektifitas program instruksional Lebih jelas lagi
Koyo K dan Zulkarimen Nst. (1983)
mendefinisikan media sebagai berikut:
“Ki alat adalah sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dan dapat
merangsang perasaan, perasaan, dan kemauan seseorang sehingga dapat
mendorong tercapainya proses belajar sreg dirinya”.

Dari tiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kendaraan merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan wanti-wanti dan dapat memberahikan pikiran, manah, dan kedahagaan petatar, sehingga dapat terjadi proses sparing pada dirinya. Penggunaan media secara efektif memungkinkan pelajar dapat belajar bertambah baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Lebih lanjut Husein Achmad menyatakan bahwa media pendidikan pengertiannya identik dengan keperagaan. Signifikansi keperagaan berasal berbunga introduksi “fisik” yang berarti sesuatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan nan dapat diamati melalui indera kita. (Husein Achmad. 1981:102). Oemar Hamalik menyatakan bahwa sarana pendidikan ialah alat, metode, dan teknik nan digunakan dalam rangka bertambah mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. (Oemar Hamalik. 1977:23). Sedangkan ki alat indoktrinasi (Kosasih Djahiri.1978/1979:66) adalah segala peranti bantu yang boleh memperlancar keberhasilan mengajar. Peranti bantu mengajar ini berfungsi membantu efisiensi pencapaian intensi. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar, guru harus selalu menghubungkan perabot bantu mengajar dengan kegiatan mengajarnya.

Dengan demikian boleh disimpulkan bahwa yang dimaksud kendaraan adalah alat atau sarana yang digunakan sebagai perantara (medium) untuk menyodorkan wanti-wanti dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pendedahan merupakan proses komunikasi nan didalamnya cak semau atom-unsur: sumber pesan (guru), penyambut pesan (siswa), dan pesan adalah materi tutorial yang diambil dari kurikulum. Sumber pesan harus melakukan
enconding, adalah menerjemahkan gagasan, manah, perasaan alias pesannya ke dalam buram lambang tertentu. Lambang tersebut dapat berupa bahasa, pertanda atau rancangan. N domestik melakukan
enconding, guru harus menuding latar belakang asam garam penerima pesan, kiranya pesan tersebut mudah dipedulikan. Di tak pihak penerima wanti-wanti harus mengamalkan
decoding, yaitu menafsirkan lambang-lambang yang mengandung pesan. Apabila pesan/pengertian yang dipedulikan maka dari itu penerima pesan (siswa) selaras atau mendatangi sama dengan wanti-wanti/konotasi yang dimaksud maka itu mata air pesan (guru), maka komunikasi dapat dikatakan efektif.

Media dapat kondusif temperatur menyalurkan wanti-wanti. Semakin baik medianya, kian kecil penyimpangan/gangguannya, makin baik pesan tersebut masin lidah siswa.


B.




Kemujaraban Media

Di dalam proses berlatih mengajar dewasa ini, masih banyak guru-master yang enggan memanfaatkan media yang tersedia. Tetapi terjadi tren para siswa dibiasakan sekedar mendengarkan apa nan diajarkan oleh guru, kemudian mencatat, dan dipaksa menghafalkan di luar kepala, atau buruk perut dikenal dengan istilah duduk, dengar, catat, hafal. Keadaan sama dengan ini akan menghasilkan sikap verbalisme yang mengakibatkan pelajar hanya pasif di privat proses belajar mengajar. Dalam rangka menciptakan Pendirian Berlatih Pesuluh Aktif (CBSA) serta mengembangkan keterampilan proses pada petatar, penggunaan berbagai macam macam ki alat (multimedia) sangat membantu proses penerimaan.

Pada hakikatnya proses pembelajaran yaitu proses komunikasi, kegiatan di kelas merupakan tempat guru dan murid melakukan tukar pikiran dan mengembangkan ide-idenya. Dalam berkomunikasi sering terjadi penyimpanganpenyimpangan sehingga komunikasi menjadi tidak efektif karena adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan, dan kurangnya minat siswa. Keseleo suatu propaganda mengatasinya adalah dengan menggunakan media secara terintegrasi privat proses pengajian pengkajian. Hal ini disebabkan fungsi alat angkut dalam kegiatan pembelajaran disamping seumpama penyaji stimulus pesiaran dan sikap, sekali lagi lakukan meningkatkan keserasian dalam pengajian pengkajian informasi. Intern hal-hal tertentu media juga berfungsi bikin mengatur langkah-langkah kesuksesan serta memberikan umpan pesong. Satu bahasa dengan perubahan pandangan tentang pengertian berlatih mengajar, maka berubah juga pandangan terhadap sarana.

Dewasa ini alat angkut tak lagi dipandang semata-mata ibarat alat bantu nan digunakan sekiranya terbiasa maupun sekedar selingan, melainkan dipandang sebagai onderdil berpunca sistem instruksional. Oleh karena itu penggunaan media harus dirancang, disiapkan, dipilih dan disusun secara cermat sesuai dengan pamrih instruksional yang hendak dicapai. Sebagai salah satu komponen sistem, maka kendaraan ikut mempengaruhi bekerjanya komponen lain, dengan demikian masuk menentukan keberuntungan proses pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa alat angkut bukan lagi sekedar bagaikan alat tolong, tetapi yakni penggalan terkonsolidasi dari sistem instruksional. Maka penggunaan kendaraan dalam proses pembelajaran mutlak diperlukan.

Penggunaan alat angkut dalam proses penelaahan, menurut
Basyaruddin Usman
dan
H. Asnawir (2002; 13-15) memiliki skor-angka praktis sebagai berikut:


1.




Ki alat dapat membereskan berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki pelajar

Pengalaman masing-masing individu dahulu beragam, misalnya dua siswa yang terbit dari dua lingkungan keluarga dan umum yang berbeda akan menentukan pengalaman yang berbeda pula. Kendaraan dapat mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut.


2.




Media dapat mengatasi ruang inferior

Di dalam kelas banyak hal nan sukar bakal dialami sewaktu oleh siswa. Misalnya obyek yang plus osean atau terlalu kecil, usaha-gerakan yang terlalu cepat alias plus lambat, dan hal-hal yang bersisa komplek, semuanya bisa diperjelas dengan menggunakan media.


3.




Wahana memungkinkan adanya interaksi bersama-sama antara siswa dengan lingkungan

Misalnya mengamati, mengenali gejala fisik/lingkungan dan masalahmasalah sosial di umum.


4.




Media menghasilkan keseragaman pengamatan

Pengamatan yang dilakukan petatar secara berbarengan bisa diarahkan kepada hal-kejadian yang penting sesuai tujuan yang ingin dicapai.


5.




Media dapat ki memasukkan konsep pangkal yang benar, konkrit, dan realistis

Pemakaian ki alat tulangtulangan, sinema abstrak, grafik, atau bahkan benda-aslinya dapat memberikan konsep yang sopan.


6.




Kendaraan dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru

Dengan menggunakan media, pengalaman anak semakin luas, persepsi semakin tajam, pemahaman konsep-konsep semakin acuan. Dengan demikian menggunung rasa kepingin tahu siswa, selanjutnya boleh menimbulkan minat baru buat belajar.


7.




Media dapat menggarangkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar

Pengepakan rancangan dengan corak yang menarik di papan tulis, mendengarkan siaran radio, pemutaran komidi gambar, semuanya itu dapat menimbulkan rangsangan untuk belajar seterusnya.


8.




Ki alat dapat mengasihkan camar duka nan integral bermula sesuatu nan konkrit sampai kepada sesuatu yang niskala

Pemutaran film tentang suatu benda atau peristiwa yang lain boleh dilihat secara sewaktu maka dari itu siswa akan memberikan gambaran secara konkrit mengenai wujud, dimensi, dan lokasi. Selain itu juga boleh pula menyasarkan kepada pukul rata tentang arti kepercayaan dan peradaban. Dengan konsepsi yang semakin mantap itu kebaikan media privat kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar sebagai peranti bantu, melainkan sebagai pembawa informasi/pesan penataran yang dibutuhkan peserta.

Oleh karena itu penggunaan wahana kerumahtanggaan pembelajaran harus dipersiapkan secara matang. Sebelum menargetkan jenis ki alat apa nan akan digunakan privat proses pembelajarannya, mudah-mudahan seorang guru memperhatikan hal-keadaan terdahulu tentang media indoktrinasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru sebelum menggunakan media pengajaran adalah perumpamaan berikut:

1)


Penggunaan media pengajaran hendaknya dipandang sebagai episode yang manunggal (integrated) dengan proses atau sistem mengajar, tak merupakan apendiks alias ekstra nan digunakan apabila waktu mengijinkan atau takdirnya waktu luang sahaja. Sebab pendayagunaan sarana pengajaran diperuntukkan mencapai tujuan tertentu.

2)


Ki alat pencekokan pendoktrinan hendaknya dipandang ibarat sumber berpunca pada data. Hal ini dahulu dibutuhkan dalam metode inkuiri, penyakit solving, dan diskusi.

3)


Dalam penggunaan media indoktrinasi guru kiranya memaklumi bermoral hirarki (sequance) berbunga pada jenis gawai dan kegunaannya. Sebab seperti mana kita Phami siswa lebih mudah menghayati peristiwa yang sekaligus dari pada keadaan yang tidak serentak, begitu sekali lagi lebih mudah memahami hal-hal yang konkrit berpokok lega halhal yang abstrak. Beralaskan konkrit abstraknya rancangan nan disajikan, kerucut Edgar Dale menggambarkan tingkat-tingkat pengalaman sebagai berikut:

1)


pengalaman serta merta bermaksud

2)


 asam garam tiruan

3)


pengalaman dramatisasi

4)


protes

5)


karyawisata

6)


pameran

7)


televise

8)


gambar hidup maupun film

9)


rekaman, radio, rencana teguh / diam; rajah

10)


 lambang visual, sama dengan :bagan, grafik, peta

11)


lambang kata¸ sebagaimana : membaca, mendengarkan, bicara

d.


Dalam eksploitasi media indoktrinasi moga diuji kegunaannya, sebelum, selama, dan sesudah penggunaannya. Artinya suhu benar-benar mengalkulasi untung rugi dan faedah dari penggunaan alias memilih midia tersebut.

e.


Kendaraan pengajaran akan silam efektif dan efisien penggunaannya apabila giorganisir secara sistematis, kaprikornus jangan semata-mata radiks menggunakan.

f.


Penggunaan multi media akan sangat menguntungkan dan akan memperlancar proses dan merangsang usia belajar murid. Dengan multi wahana akan mengurangi rasa bosan siswa dan mendukung petatar memfungsikan pernak-pernik inderanya, sehingga proses sparing siswa akan kian mudah dan mantap. (Kosasih Djahiri. 1978/1979: 66-68).


C.




Neko-neko Wahana dalam Pengajaran IPS

Dalam rangka pengajaran IPS banyak sekali media yang boleh dipakai. Karena beranekaragamnya wahana yang dapat dipakai, maka bisa dilakukan berbagai macam diversifikasi pengelompokan atas dasar kategori tertentu. Menurut
Oemar Hamalik (1985:63)
ada 4 klasifkasi alat angkut pencekokan pendoktrinan antara tidak:

1.


Gawai-alat visual yang bisa dilihat, misalnya filmstrip, transparansi, micro

projection, lembaga, ilustrasi, chart, grafik, surat tempelan, peta, dan globe.

2.


Instrumen-alat yang bersifat auditif atau namun dapat didengar, misalnya transkripsi electris, radio, memori pada tape recorder.

3.


Alat-alat nan dapat dilihat dan didengar, misalnya, film, televisi, benda-benda tiga format yang biasanya dipertunjukkan (kamil, umpama batu halus, peta elektris, kumpulan diorama).

4.


Dramatisasi, bermain peran, sosiodrama, dagelan boneka, dan sebagainya. Disamping itu media indoktrinasi juga dapat digolongkan atas kategorikategori:


a.




Berdasarkan atas penggunaannya, media pengajaran terdiri berpokok:

1)


Media nan tidak diproyeksikan (non-projected). Terdiri dari: papan tulis, gambar, peta, bola dunia, foto, model (mock-up), sketsa, tabel, grafik.

2)


Media yang diproyeksikan
(projected). Terdiri dari: slide, filmstrip,
Overhead Proyector
(OHP,
Micro Projection).


b.




Berdasarkan atas gerakannya, media pengajaran terdiri berpangkal:

1)


Media yang tidak mengalir (still). Terdiri dari: filmstrip, OHP,
micro projector.

2)


Ki alat nan bergerak
(motion). Terdiri dari: bioskop loop, TV, Vidio tape, dan sebagainya.


c.




Beralaskan fungsinya:

1)



Visual ki alat

, sarana kerjakan dilihat seperti, rencana, foto, rang, skema, grafik, film, slide.

2)



Audio sarana

, yaitu media untuk didengarkan seperti: radio, piringan hitam, tape recorder.

3)


Gabungan a dan b: misalnya bioskop wicara, TV,
videotape.

4)



Print kendaraan

: misalnya barang-komoditas cetak, anak kunci, sahifah kabar, majalah, jurnal.

5)



Dispay sarana

, seperti: papan tulis, papan harian, tiang flannel.

6)


Pengalaman sebenarnya dan artifisial, misalnya praktikum, permainan, karyawisata, pendramaan, simulasi.


D.




Keberagaman-jenis Kendaraan dalam Pengajaran IPS

Macam-jenis media pengajaran yang dapat di siapkan dan dikembangkan n domestik pencekokan pendoktrinan IPS antara lain:

1)


media yang tidak diproyeksikan

2)


sarana yang diproyeksikan

3)


media audio

4)


sistem multimedia

Untuk lebih jelasnya, berikut akan dijelaskan dalam urain berikut.


1.




Media yang tidak diproyeksikan

Jenis sarana ini lain memerlukan proyektor (perangkat proyeksi) buat melihatnya. media yang tak diproyeksikan ini dapat dibedakan menjadi tiga spesies, yaitu: gambar sengap, bahan-objek grafis, serta model dan realita (Mukminan. 2000 :91).


a.




Rangka sengap


(still- picture)

Gambar tutup mulut adalah gambar fotografik atau menyerupai foto-grafik nan menggambarkan lokasi ataupun wadah, benda-benda serta obyek-obyek tertentu. Gambar diam yang paling banyak digunakan n domestik indoktrinasi IPS merupakan atlas, tulang beragangan obyek-obyek tertentu, misalnya: bukit, pegunungan, lereng, ngarai serta benda-benda bersejarah.


b.




Bulan-bulanan-bahan grafis


(graphic-materials)

Bahan-bahan grafis adalah bahan-bahan non fotografik dan berwatak dua dimensi yang dirancang terutama untuk mengkomunikasikan satu pesan kepada pesuluh
(audience). Target grafis ini umumnya memuat lambanglambang verbal dan tanda- etiket visual secara simbolis. Sasaran-mangsa grafis ini terdiri dari: tabulasi, diagram, chart, sketsa, poster, kartun, dan komik.


c.




Transendental


dan
realita

Model adalah media yang menyerupai benda yang sebenarnya dan bersifat tiga dimensi. Bintang sartan benda ini merupakan artifisial pecah benda atau obyek sebenarnya yang sudah lalu disederhanakan. Dengan model ini siswa mendapatkan pengertian yang konkrit tentang benda atau obyek yang sebenarnya dalam bentuk yang disederhanakan (diperbesar ataupun diperkecil). Model seperti mana ini banyak dipakai di sekolah-sekolah dewasa ini, misalnya: model argo berapi yang dibuat berusul ( tanah liat, kertas ataupun semen ), tiruan tentang rumah, model candi, pabrik, hipotetis tiruan bumi (globe) dan sebagainya.

Realita ialah model dan benda nan sesungguhnya seperti: persen logam, tumbuh-tumbuhan, alat-alat, binatang nan pada umumnya bukan dianggap sebagai visual, karena istilah visual mengandung makna representative (mewakili suatu benda/obyek dan bukan benda itu seorang). Media semacam ini banyak digunakan kerumahtanggaan proses pendedahan di sekolah.


2.




Ki alat visual yang diproyeksikan

Media visual yang diproyeksikan adalah jenis media yang terdiri dari dua spesies yakni: media proyeksi nan tidak bersirkulasi dan kendaraan proyeksi nan bergerak.


a.




Kendaraan proyeksi nan tidak bergerak:

1)


Slide

Slide adalah rancangan atau “image” transparant yang diberi bingkai yang diproyeksikan dengan cuaca melalui sebuah proyektor. Slide dapat ditampilkan satu persatu, sesuai dengan keinginan. Ada kembali nan usap penampilannya sudah diatur sedemikian rupa dan diberi suara miring, sehingga disebut slide celaan (sound slide). Presentasi slide berada di sumber akar control guru, sehingga kecepatan serta frekwensi putarnya bisa diatur sesuai dengan kebutuhan.

2)



Film strip


(film rangkai)

Pada dasarnya film stip ini sebagai halnya slide. Perbedaan yang prinsip: kalau slide menyajikan gambarnya secara terpisah atau satu persatu, madya komidi gambar strip bentuk-lembaga itu lain terpisah tetapi sudah tersusun secara terstruktur berlandaskan sequencenya. Seperti slide, film strip bisa disajikan dalam bentuk tunawicara (minus celaan) atau dengan suara miring (sound-film).

3)



Overhead Projector


(OHP)

OHP adalah gawai nan dirancang untuk menayangkan bahan yang berbentuk kepingan trasparansi berisi gubahan, tabulasi, ataupun gambar dan diproyeksikan ke layar yang terletak di belakang operatornya.

4)


Opaque Projector

Media ini disebut demikian karena yang diproyeksikan bukan

transparansi, tetapi korban-bulan-bulanan sebenarnya, baik benda-benda datar atau tiga dimensi, sebagaimana mata uang dan cermin-arketipe.

5)



Micro Projection

Berarti untuk memproyeksikan benda-benda nan berlebih boncel (nan biasanya diamati dengan microscope), sehingga bisa diamati secara jelas oleh seluruh siswa.


b.




Media Proyeksi nan Bergerak

1)


Gambar hidup

Sebagai wahana pencekokan pendoktrinan film dulu bagus lakukan menerangkan satu proses, gerakan, perubahan, atau dril berbagai peristiwa zaman dulu. Film dapat berupa visual doang, apabila film itu sonder suara miring, dan dapat bersifat audio-optis, apabila film itu dengan kritik.

2)


Bioskop Loop (Loop-film)

Media ini berbentuk serangkaian film ukuran 8 mm alias 16 mm yang ujung-ujungnya ganti berantai, sehingga dapat berputar terus tautologis-ulang selama tidak dimatikan. Karena tanpa suara miring (silent) maka guru harus memberi narasi (komentar) seorang, sementara film terus bergerak.

3)


Televisi

     Andai satu alat angkut pendidikan, TV mempunyai beberapa manfaat antara enggak: menarik,
up to date, dan selalu siap diterima oleh momongan-anak karena dapat merupakan putaran dari kehidupan asing sekolah mereka. Sifatnya langsung dan kasatmata. Melangkaui TV peserta akan mengetahui hal-kejadin mutakhir, mereka dapat mengadakan pertautan dengan tokoh-pengambil inisiatif utama, serta melihat dan mendengarkan pendapat mereka.

4)



Video Tape Recorder


(VTR)

Walaupun sebagian kepentingan film dapat digantikan oleh video, namun tidak berarti bahwa video tape akan menggantikan komidi gambar, karena masing-masing mempunyai karakteristik unik.


c.




Media Audio

Alat angkut audio ialah beragam rang atau cara perekaman dan transmisi suara (turunan dan celaan lainnya) bakal keefektifan tujuan penataran. Yang termasuk media audio adalah:

1)


Radio Pendidikan

Sarana ini dianggap penting dalam bumi pendidikan, sebab boleh penting bakal semua tingkat pendidikan. Melintasi radio, orang dapat menyampaikan ide-ide baru, kejadian-kejadian dan kejadian-hal penting kerumahtanggaan dunia pendidikan.

Dibanding media yang bukan, radio n kepunyaan kelebihan-kelebihan, diantaranya: daya jangkauannya memadai luas, dalam hari singkat, radio dapat menjangkau
audience
yang suntuk raksasa jumlahnya, dan berjauhan lokasinya. Sekadar karena kebiasaan komunikasinya hanya satu arah menyebabkan hasilnya sulit untuk dikontrol.

2)


Sejarah Pendidikan.

Melalui rekaman (recording), dapat direkam peristiwa-kejadian penting, seperti: pidato, ceramah, hasil wawancara, diskusi, dan sebagainya. Selain itu sekali lagi bisa digunakan cak bagi menekat kritik-suara miring tertentu, seperti: nyanyian, musik, suara miring orang maupun suara minor dabat tertentu yang tidak bisa jadi didengar langsung di kolom kelas. Kelebihan ki kenangan ini adalah “play-back” dapat dilakukan kadang kala dan berulang-ulang, sehingga untuk guru mudah melakukan kontrol.


d.




Sistem Multi Media

Sistem multi media ialah kombinasi berpokok media bawah audio okuler dan visual yang dipergunakan bagi tujuan pengajian pengkajian. Jadi penggunaan secara perkariban dua atau bertambah wahana indoktrinasi, dikenal dengan sistem multi media. Perlu dimengerti bahwa konsep multi media ini, tidak sekedar eksploitasi ki alat secara majemuk bakal suatu intensi pembelajaran, saja mencengam pengertian perlunya integrasi masing-masing media nan digunakan dalam suatu presentasi nan tersusun secara baik (sistematik). Masing-masing media dalam sistem media ini dirancang cak bagi silih melengkapi, sehingga secara keseluruhan, wahana yang dipergunakan akan lebih raksasa peranannya dari pada sekedar penjumlahan berpangkal sendirisendiri media.

Bentuk-bentuk sistem multi media yang banyak digunakan di sekolah merupakan nikah slide celaan, kombinasi sistem audio kaset, dan kit (peralatan) multi media. Satu alat (kit) multi media yaitu satu gabungan incaran-bahan pembelajaran yang membentangi berpokok satu jenis ki alat dan disusun atau digabungkan bersendikan atas satu topik tertentu. Perangkat (kit) itu boleh mencakup slide, sinema rangkai, pita kritik, plat, gambar tutup mulut, grafik, transparansi, peta, kiat kerja, chart, pola dan benda sepatutnya ada.


E.




Teknik Pemilahan Media Dalam Pengajaran IPS

Media sebagai salah suatu sarana kerumahtanggaan lembaga kontributif meningkatkan

proses pembelajaran, memiliki pancaragam keberagaman dan karakteristik yang berbedabeda. Oleh karena itu seorang guru professional seharusnya mempunyai kemampuan melembarkan secara cermat dan dapat menggunakan media pengajaran secara tepat.
John Jarolimek
mengemukakan hal-hal yang hendaknya diperhatikan maka dari itu hawa dalam menentukan pemilihan alat angkut, yaitu:

a.


tujuan instruksional nan akan dicapai;

b.


tingkat usia dan kedewasaan anak;

c.


kemampuan baca anak;

d.


tingkat kesulitan dan jenis konsep cak bimbingan, dan

e.


keadaan/meres pinggul warta atau camar duka anak.


John U. Michaels


menambahkan, jenis perbuatan ki alat, jangan sebatas

membingungkan atau berlebihan bakal anak. Sementara itu
A. Kosasih Djahiri
dalam bukunya “Studi Sosial/IPS” menambahkan lagi bilang standar lain, merupakan:

a.


Keadaan dan kemampuan ekonomi hawa, sekolah, siswa, serta umum;

b.


Keadaan dan kemampuan guru dalam memperalat sarana;

c.


Tingkat kemanfaatannya dari plong perlengkapan tersebut dengan membandingkan satu dengan lainnya). (A. Kosasih Djahiri. 1978/1979:68).

Menurut

M Basyiruddin Usman


dan
H. Asnawir


(2002)
, ada beberapa keadaan nan harus diperhatikan dalam mengidas media, antara lain: tujuan pembelajaran yang kepingin dicapai, ketepatgunaan, kondisi siswa, ketersediaan perangkat berkanjang (hardware) dan perangkat kepala dingin (software), mutu teknis, dan biaya.

Oleh karena itu beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam mengidas media, antara lain:

a.


Wahana yang dipilih agar separas dan menumbuk tujuan pembelajaran nan mutakadim ditetapkan. Maksud pendedahan merupakan onderdil utama yang harus diperhatikan intern melembarkan media. Dalam penerapan media harus jelas dan operasional, khas, dan sungguh-sungguh tergambar kerumahtanggaan bentuk perilaku;

b.


Aspek materi, merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih kendaraan. Sesuai tidaknya antara materi dengan sarana yang digunakan akan berdampak plong hasil pembelajaran;

c.


Kondisi pesuluh, berpokok segi subyek belajar, suhu harus mencela betul-betul adapun kondisi siswa dalam memintal media. Misalnya faktor umur, intelegensi, latar belakang pendidikan, budaya, dan lingkungan anak menjadi titik perhtian dan pertimbangan kerumahtanggaan mengidas media.

d.


Ketersediaan media di sekolah atau memungkinkan bagi guru cak bagi mendesain seorang media yang akan dipergunakan, merupaka hal yang teradat dipertimbangkan oleh guru. Seringkali guru menganggap bahwa suatu media sangat tepat digunakan lakukan suatu kunci bahasan/tema tertentu, sekadar di sekolah tersebut tidak terhidang media yang diperlukan. Sedangkan untuk mendesain atau mereka cipta suatu media yang dikehendaki tidak mungkin dilakukan maka itu suhu;

e.


Media yang dipilih hendaknya dapat mengklarifikasi segala yang akan disampaikan kepada murid secara tepat, dalam kelebihan pamrih yang ditetapkan bisa tercapai secara optimal.

f.


Biaya yang akan dikeluarkan kerumahtanggaan pemanfaatan alat angkut harus seimbang dengan hasil nan akan dicapai. Media sederhana mungkin akan lebih menguntungkan dari puas menggunakan media canggih sahaja hasil yang dicapai tidak sebanding dengan dana nan dikeluarkan.


Daftar pustaka


      Basrowi, Ms.2005.
Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Bumi Wahana. 1993. Strategi Menumpu Kehidupan yang Berkelanjutan: Alih Bahasa
maka itu Alex Tri Kantono, W. Jakarta: Gramedia Pustaka Terdahulu.
Emil salim. 1986. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Jakarta: PT. Pustaka
Puntaka LP3ES Indonesia.
Bruce Mitchell, dkk. 2003. Pengelolaan Sumber Gerendel dan Lingkungan. Yogyakarta.
Universitas Gajah Mada.
Heinz Frick, Fx. Bambang Suskiyatno.1998.
Asal-dasar Eko-arsitektur : Konsep          Arsitektur Berwawasan Lingkungan serta Kualitas Konstruksi Bangunan kerjakan Kondominium  Sehat dan Dampaknya atas Kesegaran Cucu adam. Yogyakarta: kanisius.
Koentjaraningrat.2000.
Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. PT. Gramedia
Bacaan Utama.Jakarta.
Lester R. Brown,dkk.1994. Menyelamatkan Planet Mayapada; Bagaimana Membentuk
Sebuah Ekonomi Global yang Berkelanjutan dari Segi Lingkungan Hidup.


                 Jakarta: yayasan Obor Indonesia.
Margaret M. Poloma. 1999.
Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Piotr Sztompka. 2005.
Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.
Ruchijat,E.1980.
Pengelolaan dan Pendayagunaan Sumber Alam dan Mileu

Kehidupan Bagi Kesejahteraan Manusia. Bandung: Bina Cipta
Sartono Kartodirdjo.1994.
Kebudayaan Pembangunan internal Perspektif Sejarah.
Yogyakarta: Gajah mada Unversity Press.

Source: https://pioman-pembelajaranipsdisd.blogspot.com/2011/05/media-pembelajaran.html

Posted by: skycrepers.com