Evaluasi Pembelajaran Di Sd Modul 2

1
1

2
MODUL : Ekspansi INSTRUMEN Tes Oleh : Paryono Kompetensi yang diharapkan dalam mempelajari modul ini adalah mahasiswa mampu : 1. Menetapkan tujuan tes 2. Melakukan analisis kurikulum 3. Menciptakan menjadikan kisi-kisi 4. Menulis soal 5. Melakukan periksa organ secara teoritis 6. Melakukan ujicoba dan analisis hasil ujicoba tes 7. Merevisi soal Buat mengevaluasi hasil pembelajaran diperlukan tagihan kepada siswa, riuk suatu teknik penilaiannya yakni dengan tes. Tes antara lain dapat digunakan untuk mengetahui kompetensi tadinya pelajar, tingkat pencapaian patokan kompetensi, mengerti perkembangan kompetensi pelajar, mendiagnosa kesulitan belajar pesuluh, mengetahui hasil proses pembelajaran, memotivasi belajar siswa, dan menyerahkan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya. Setelah mempelajari modul ini, diharapkan Beliau congah memahami mandu dasar pengembangan instrumen tes dan mampu mengembangkan organ pemeriksaan ulang sesuai dengan langkah-langkah pengembangan instrumen tes. Modul Pengembangan Organ Pengecekan terdiri atas 2 kegiatan sparing, merupakan: 1. Kegiatan Belajar 1. Prinsip Dasar Pengembangan Alat Tes 2. Kegiatan Belajar 2. Persiapan-langkah Pengembangan Peranti Tes A. Kegiatan Belajar 1. Mengarifi Anju-Anju Ekspansi Instrumen Pembuktian Bu Ina mengadakan ulangan tengah semester ilmu tasyrih. Mulai sejak hasil ulangan yang diperoleh siswa, seluruh siswa mendapatkan nilai yang bagus, ialah mendapatkan kredit 9 dan 10. Melihat keadaan ini, mungkinkah pelecok satu penyebabnya ialah kualitas verifikasi yang disusun Bu Ina? Sudah tepatkah pemeriksaan ulang yang dibuat Bu Ina lakukan mengukur kemampuan siswa? Apakah telah sesuai dengan pendirian pengembangan perabot tes? Bagaimanakah prinsip mengembangkan pengecekan yang tepat? 2

3
Berikut disajikan langkah-ancang untuk meluaskan instrumen tes. 1. Menjadwalkan pamrih pemeriksaan ulang Langkah awal privat mengembangkan instrumen tes adalah menjadwalkan tujuannya. Intensi ini utama ditetapkan sebelum verifikasi dikembangkan karena begitu juga apa dan bagaimana tes yang akan dikembangkan sangat bergantung cak bagi tujuan apa tes tersebut digunakan. Ditinjau dari tujuannya, suka-suka catur macam verifikasi yang banyak digunakan di buram pendidikan, yaitu : (a) validasi penempatan, (b) pengecekan diagnostik, (c) tes formatif, dan (d) pengecekan sumatif (Thorndike & Hagen, 1977). 2. Melakukan amatan kurikulum Analisis kurikulum dilakukan dengan cara melihat dan menelaah juga kurikulum yang suka-suka berkaitan dengan maksud pemeriksaan ulang yang telah ditetapkan. Awalan ini dimaksudkan agar privat proses pengembangan radas tes bosor makan mengacu pada kurikulum adalah standar kompetensi-kompetensi dasar (SKKD) nan madya digunakan. Peranti nan dikembangkan sebaiknya sesuai dengan indikator pencapaian suatu KD yang terletak dalam Standar Isi (SI). 3. Membuat kisi-ganggang Terali-ruji-ruji yakni matriks nan berisi perincisan soal-soal (menghampari SK-KD, materi, indikator, dan bentuk soal) yang akan dibuat. Kerumahtanggaan mewujudkan jari-jari-jari-jari ini, kita kembali harus menentukan bagan tes yang akan kita berikan. Beberapa rangka pembenaran yang ada antara lain: pilihan ganda, jawaban singkat, mempertemukan, pembenaran bersusila-salah, jabaran obyektif, atau tes uraian non obyektif. Lakukan mempermudah dalam takhlik ganggang-kisi pertanyaan diberikan abstrak karcis kisi-kisi cak bertanya di Kegiatan Belajar Menulis soal Pada kegiatan menuliskan butir soal ini, setiap butir soal nan Engkau tulis harus berdasarkan pada indeks yang sudah lalu dituliskan pada ruji-ruji-kisi dan dituangkan dalam spesifikasi granula soal. Bentuk butir soal mengacu pada deskripsi umum dan deskripsi khusus nan sudah dirancang dalam spesifikasi butir soal. Adapun bagi soal bentuk jabaran teradat dilengkapi dengan pedoman penyekoran yang lebih rinci. 5. Berbuat telaah perkakas secara teoritis Telaah instrumen tes secara teoritis alias kualitatif dilakukan lakukan melihat kebenaran perabot dari segi materi, bangunan, dan bahasa. Selidik instrumen secara teoritis dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan ahli/ahli, teman sejawat, maupun dapat dilakukan selidik seorang. Setelah melakukan telaah ini kemudian dapat diketahui apakah secara teoritis perlengkapan memadai atau tidak. Pembahasan secara detail tentang telaah instrumen ini dapat dibaca di Modul tentang Telaah Perkakas Penilaian. 6. Melakukan ujicoba dan analisis hasil ujicoba tes Sebelum tes digunakan mesti dilakukan tambahan pula silam uji coba konfirmasi. Ancang ini diperlukan cak bagi memperoleh data empiris terhadap kualitas verifikasi yang telah disusun. 3

4
Ujicoba ini dapat dilakukan ke sebagian petatar, sehingga berusul hasil ujicoba ini diperoleh data yang digunakan sebagai dasar analisis mengenai keterjaminan, validitas, tingkat kesukaran, pola jawaban, efektivitas pengecoh, sosi beda, dan tidak-bukan. Jika perangkat tes yang disusun belum memenuhi kualitas nan diharapkan, berdasarkan hasil ujicoba tersebut maka kemudian dilakukan revisi perabot verifikasi. 7. Merevisi soal Berdasarkan hasil amatan granula soal hasil ujicoba kemudian dilakukan perbaikan. Berbagai babak pemeriksaan ulang yang masih cacat memenuhi standar kualitas yang diharapkan perlu diperbaiki sehingga diperoleh perkakas verifikasi yang lebih baik. Untuk soal yang mutakadim baik tak perlu lagi dibenahi, tetapi tanya yang masuk kategori enggak bagus harus dibuang karena tidak memenuhi standar kualitas. Selepas tersusun butir soal yang bagus, kemudian butir soal tersebut disusun kembali untuk menjadi peranti instrumen tes, sehingga perabot konfirmasi siap digunakan. Perangkat tes yang sudah lalu digunakan dapat dimasukkan ke dalam bank pertanyaan sehingga suatu momen nanti bisa digunakan lagi. B. Kegiatan Belajar 2. Mengembangkan Instrumen Tes Sesudah Anda memahami langkah-langkah intern mengembangkan instrumen tes yang disajikan di kegiatan belajar 1, selanjutnya mari kita coba mengerjakan peluasan perkakas macam pembuktian pilihan ganda /uraian. Misal akan disusun pembenaran untuk pengukuran pencapaian membiasakan petatar pada KD. Menyelesaikan masalah nan berkaitan dengan parasan tubuh khalayak (Prodi DIII Keperawatan tingkat I semester 1). Puas eksemplar ini belaka akan dikembangkan satu butiran soal saja, untuk cak bertanya lainnya digunakan bagi tutorial. Salah suatu granula soal yang dituliskan Pak Jaja yakni Ruang bangun fisik nan dibelah dua menjadi sisi kanan dan kiri setimbang osean sehingga bisa dilihat dari jihat samping disebut permukaan? A. sagital B. Frontal C. Transfersal D. toleransi. Apakah butir cak bertanya nan telah disusun Pak Jaja tersebut sudah menyempurnakan kaidah pengembangan instrumen pembenaran? Bagaimanakah cara menyelesaikannya : 1. Menargetkan tujuan tes Tujuan tes: tes formatif, menakar pencapaian KD Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan bidang tubuh manusia. 2. Berbuat kajian kurikulum Berlandaskan tujuan validasi yang telah ditetapkan, maka SK-KD dari tingkat I semester I yang sesuai sebagai berikut. 4

5
Tabel 1. SK-KD Anatomi tingkat I Semester 1 Kriteria Kompetensi Memahami ilmu tasyrih tubuh manusia Komptensi Dasar Menjelaskan pangkal ilmu ilmu tasyrih 3. Menciptakan menjadikan kisi-ganggang Gambar 1. Hipotetis Pencantuman Kartu Kisi-Kisi Soal FORMAT KISI-Celah PENULISAN SOAL Jenis sekolah : Total soal : Indra penglihatan ajar : Bentuk soal/pembuktian :… Kurikulum : Penggubah : 1. Alokasi perian : 2. Standar kompetensi : No. Kompetensi Dasar Materi pokok Indikator pertanyaan Sirep yang diujikan Nomor tanya Keterangan: Isi pada kolom 2, 3. 4, adalah harus sesuai dengan pernyataan nan ada di dalam silabus/kurikulum. Penyadur ruji-ruji-kisi tidak diperkenankan mengarang koteng, kecuali plong ruangan Menulis tanya Dari jeruji-kisi tanya yang telah ditetapkan, susunlah granula tanya nan sesuai. Untuk soal saringan ganda, dengan menunggangi kartu soal adalah perumpamaan berikut. 5

6
Buram 2. Transendental Pemasangan Karcis Soal KARTU SOAL Prodi : Penyusun : 1. Mata Ajar : 2. Tingkat/Smt :. 3. Bentuk Soal : Tahun Wahyu :. Kriteria Kompetensi: KOMPETENSI Bawah NO. Cak bertanya: Taktik JAWABAN: Resep Sumber: MATERI BUTIR Soal: INDIKATOR 5. Berbuat selidik gawai secara kualitatif Perhatikan kembali butir soal nan sudah lalu dibuat. Apakah Anda pernah memberikan pembuktian kepada siswa, tetapi pasca- pemeriksaan ulang berlangsung atau berakhir mentah ditemukan dan terdapat kesalahan yang mengganggu sreg soal yang Beliau lakukan? Segala apa yang semestinya Ia cak bagi agar hal serupa tidak terulang? Telaah teoritis dimaksudkan bikin menganalisis soal ditinjau dari segi materi, gedung, dan bahasa. Analisis materi dimaksudkan sebagai penelaahan nan berkaitan dengan aset keilmuan nan ditanyakan dalam soal serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan soal. Kajian gedung dimaksudkan seumpama pengajian pengkajian nan umumnya berkaitan dengan teknik penulisan soal. Sedangkan, 6

7
analisis bahasa dimaksudkan bak penerimaan tanya yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan berperilaku pendek dan jelas. Untuk mempermudah melakukan selidik teoritis, dapat menggunakan tiket periksa. Anda bisa mengamalkan bahas dengan cara meminta teman Anda maupun tukang untuk menelaah perabot yang telah Anda susun dengan pendirian memberikan tanda check ( ) lega karcis selidik sesuai dengan pendapat teman/pakar yang Anda tunjuk. Berikut ini contoh kenur instrumen selidik: FORMAT PENELAAHAN Cak bertanya Rencana PILIHAN GANDA No. Aspek yang ditelaah Mata Jaga :… Tingkat/semester :… Penelaah :… Nomor Tanya A. 1 Materi Soal sesuai dengan indikator (menuntut pembenaran terjadwal bikin bentuk saringan ganda 2. Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevasi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari tahapan) 3. Pilihan jawaban homogen dan masuk akal 4. Hanya ada satu anak kunci jawaban B. Konstruksi 5. Anak kunci pertanyaan dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas 6. Rumusan pokok tanya dan pilihan jawaban yakni pernyataan yang diperlukan belaka 7. Sentral soal tidak memberi petunjuk siasat jawaban 8 Pokok soal independen dari pernyataan yang bersifat subversif ganda 9. Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau berpunca segi materi 10. Gambar, tabel, tabulasi, tabulasi, atau sejenisnya jelas dan berfungsi 11. Panjang seleksian jawaban relatif sederajat 12. Seleksian jawaban tidak menunggangi pernyataan “semua jawaban di atas salah/benar” dan sejenisnya 13. Seleksian jawaban yang berbentuk angka/periode disusun berdasarkan urutan segara kecilnya angka atau kronologisnya 14. Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya C. Bahasa/Budaya 15. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 16. Menggunakan bahasa yang komunikatif 17. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/pemali 18. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang setara, kecuali adalah satu wahdah pengertian Keterangan: Berilah label (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah! 7

8
FORMAT PENELAAHAN Butiran SOAL BENTUK URAIAN Mata Cak bimbingan :… Kelas/semester :… Penelaah :… No. Aspek yang ditelaah Nomor Soal A. 1 Materi Soal sesuai dengan indikator (menghendaki tes tertulis bagi tulangtulangan Uraian) 2 Batasan soal dan jawaban nan diharapkan jelas Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (tuujuan 3 pengukuran) Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang diversifikasi 4 sekolah ataupun tingkat kelas B C Gedung Menunggangi kata cak bertanya maupun perintah yang menuntut jawaban jabaran Ada ilham yang jelas akan halnya pendirian berbuat tanya Ada pedoman penskorannya Tabulasi, gambar, grafik, peta, maupun nan sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca Bahasa/Budaya Rumusan kalimat pertanyaan komunikatif Butir pertanyaan menggunakan bahasa Indonesia yang lazim Bukan menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah signifikasi Tidak menggunakan bahasa nan berlaku setempat/tabu Keterangan: Berilah jenama (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah! Dengan menelaah tiap butir soal dalam radas, maka secara kualitas materi, konstruksi, ataupun bahasa kita akan sempat bagaimana kualitas pecah instrumen yang kita susun, sehingga dapat dilakukan pembaruan alat. 6. Melakukan ujicoba dan analisis hasil ujicoba pembuktian Sehabis kita lakukan periksa instrumen secara kualitatif, selanjutnya adalah mengerjakan ujicoba kepada keropok petatar konfirmasi. Bermula hasil ujicoba tersebut, kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk menentukan biji legalitas, tingkat kesukaran, dan daya beda butir cak bertanya, serta kredibilitas. Bahasan akan halnya keadaan ini secara rinci dibahas pada Modul adapun Validitas dan Keterandalan. 8

9
7. Memperbaiki soal Berdasarkan temuan dari ujicoba, jika ternyata diperoleh kenyataan bahwa pertanyaan kita masih terlazim diperbaiki, maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki soal tersebut. akan tetapi jika berdasar hasil ujicoba cak bertanya kita mutakadim tertulis kategori baik, maka soal tersebut telah siap digunakan kerjakan pembenaran di inferior. C. Ringkasan Awalan-persiapan intern melebarkan instrumen tes adalah: mematok intensi konfirmasi, melakukan kajian kurikulum, takhlik kisi-kisi, batik soal, melakukan telaah instrumen secara teoritis, melakukan ujicoba dan analisis hasil ujicoba tes, dan mengedit tanya. Untuk membantu dalam mengembangkan perlengkapan tes, diberikan karcis kisi-kisi penulisan soal, kartu soal pilihan ganda, dan kartu soal jabaran/praktek seperti mana ditampilkan pada pembahasan modul. D. Tugas Setelah Anda mempelajari modul ini, maka : 1. Buatlah satu perkakas tes dari salah satu alat penglihatan kuliah kerjakan eksamen penutup semester dengan awalan-ancang yang sudah lalu dibahas di modul ini. Gunakanlah kartu-kartu yang ada untuk kondusif Kamu dalam mengembangkan alat tes. 2. Presentasikan hasil tugas Anda di depan kelas plong pertemuan berikutnya!. 3. Diskusikan kekurangan dan kejadian faktual dari instrumen nan sudah lalu Kamu kembangkan! F. Daftar pustaka Thorndike, R.L. & Hagen E.P Measurement and Evaluation in Psychology and Education. New York: John Willey & Sons. Haryati, M Model & Teknik Penilaian pada Tingkat Runcitruncit Pendidikan. Tim Lubang Persada Jakarta. Purwanto Evaluasi Hasil Belajar. Pustaka Pesuluh Yogyakarta. 9

10
MODUL : PEDOMAN PENYEKORAN Kredit Instrumen penilaian yang baik harus dilengkapi ketentuan-kodrat nan diperlukan kerjakan menentukan nilai masukan mahasiswa. Ketentuan-qada dan qadar inilah yang dikenal dengan pedoman penyekoran. Pedoman penyekoran diperlukan perumpamaan pedoman menentukan kredit hasil kerja siswa sehingga diperoleh poin seobjektif siapa. Oleh karena itu, Engkau perlu mempelajari dengan baik pengertian pedoman penyekoran serta langkah mengembangkannya. Modul ini akan membantu Anda meningkatkan kompetensi internal mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, khususnya pengembangan pedoman penyekoran. Selepas mempelajari modul ini diharapkan Anda boleh memaklumi pengertian pedoman penyekoran dan dapat meluaskan pedoman penyekoran dengan teknik penyekoran analitik dan teknik penyekoran holistik. Kompetensi yang diharapkan dalam mempelajari modul ini adalah 1. Menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang utama lakukan dinilai dan dievaluasi sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diampu. 2. Menentukan prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar 3. Mengadministrasikan penilaian proses dan hasil belajar secara berkelanjutan dengan mengunakan berbagai instrumen. Kerjakan mencapai tujuan tersebut, modul ini akan memfasilitasi Anda melalui dua kegiatan membiasakan, yaitu: 1. Kegiatan Berlatih 1. Memahami signifikansi pedoman penyekoran 2. Kegiatan Membiasakan 2. Mengembangkan pedoman penyekoran dengan penyekoran analitik dan penyekoran holistik A. Kegiatan Belajar 1. Mengarifi Pengertian Pedoman Penyekoran Pak Umar adalah sendiri dosen Ilmu urai yang yunior saja melakukan konfirmasi bikin mencerna penguasaan pelajar tentang KD Mengklarifikasi dinding lapisan jantung. Untuk menentukan angka mahasiswa, Sampul Umar membuat kunci jawaban persiapan demi langkah penuntasan pertanyaan yang telah dibuatnya dengan diuraikan menurut urutan tertentu. Jawaban pesuluh dianggap benar jika jawabannya sesuai dengan kunci jawaban yang sudah lalu disiapkan tersebut. Menurut Anda, apakah teknik penyekoran Pak Umar tersebut benar? 10

11
Hasil pengukuran, baik melangkaui tes maupun non testimoni, menghasilkan data kuantitatif yang kasatmata skor. Skor ini kemudian ditafsirkan sehingga menjadi nilai. Kesulitan yang dihadapi adalah menetapkan angka dengan tepat. Disinilah pentingnya pedoman penyekoran. Pedoman penyekoran yaitu pedoman yang digunakan bikin menentukan nilai hasil penyelesaian pekerjaan murid. Dengan pedoman penyekoran, dosen akan lebih mudah menentukan kredit mahasiswa. Oleh karena itu, selain menyusun butir-butiran instrumen, dosen juga teristiadat mengembangkan pedoman penyekoran. Pedoman penyekoran diperlukan baik cak bagi konfirmasi bentuk pilihan maupun uraian. 1. Penyekoran tes bentuk pilihan Cara penyekoran tes kerangka seleksian terserah dua, merupakan tanpa koreksi terhadap jawaban tebakan dan dengan koreksi terhadap jawaban cangkrim. a. Penyekoran tanpa koreksi terhadap jawaban cangkrim Bagi memperoleh skor siswa dengan teknik penyekoran ini digunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: B : banyaknya butir nan dijawab benar N : banyaknya butir cak bertanya Penyekoran minus koreksi saat ini banyak digunakan privat penilaian pembelajaran ilmu eksata. Namun teknik penyekoran ini sesungguhnya mengandung kelemahan karena terbatas mampu mencegah peserta pembuktian berspekulasi dalam menjawab tes. Hal ini disebabkan tidak adanya resiko bagi mahasiswa ketika memberikan tebakan apapun dalam memilih jawaban sehingga jika mereka tidak mengetahui jawaban mana yang paling kecil tepat maka mereka leluasa memilih pelecok suatu pilihan secara acak. Benar atau salahnya jawaban manasuka ini sesungguhnya enggak menunjukkan tingkat kemampuan/penguasaan mahasiswa. Semakin banyak jawaban teka-teki murid akan semakin besar penyimpangan skor nan diperoleh dengan kemampuan penguasaan kompetensi mahasiswa nan senyatanya. b. Penyekoran dengan koreksi terhadap jawaban cangkrim Untuk memperoleh biji pelajar dengan teknik penyekoran ini digunakan rumus umpama berikut: 11

12
Keterangan B : banyaknya butir soal nan dijawab benar S : banyaknya granula yang dijawab keseleo P : banyaknya pilihan jawaban tiap granula. Lengkung langit : banyaknya butir soal Butir soal yang tidak dijawab diberi skor 0. Merek teknik penyekoran ini dibanding penyekoran tanpa koreksi yakni teknik ini lebih mampu meminimalisir spekulasi jawaban mahasiswa. Takdirnya mahasiswa mengarifi jawaban keseleo akan berdampak berkurangnya skor yang akan mereka dapatkan maka mahasiswa akan bertambah eklektik memilih jawaban. Jika mahasiswa tidak punya keimanan yang patut mengenai kebenaran jawabannya, maka mahasiswa akan memilih mengosongkan jawaban bakal menghindari pengkhitanan. Komplet 1. Diandaikan Rizki mengerjakan soal bentuk pilihan ganda sebanyak30 butiran dengan 4 alternatif jawaban. Pegangan yang benar sebanyak 16 butir. Kredit yang diperoleh Rizki dihitung sebagai berikut 2. Penyekoran bentuk uraian Pada tes kerangka uraian cara pemberian skor adalah andai berikut (Ebel, 1979, dalam Mardapi, 2007). a. Menunggangi penyekoran analitik Penyekoran analitik digunakan untuk permasalahan nan sempadan jawabannya telah jelas dan adv minim. Rata-rata teknik penyekoran ini digunakan pada verifikasi uraian objektif 12

13
yang mana jawaban petatar diuraikan dengan urutan tertentu. Jika mahasiswa sudah lalu menulis rumus nan benar diberi skor, menjaringkan angka ke dalam formula dengan bersusila diberi skor, menghasilkan perhitungan yang benar diberi biji, dan kesimpulan nan benar pun diberi skor. Jadi, ponten suatu butir adalah pencacahan dari sejumlah angka pecah setiap respon pada soal tersebut. b. Menunggangi penyekoran dengan nisbah global (holistik) Teknik ini sepakat bakal penilaian tes uraian non objektif. Caranya yaitu dengan mendaras jawaban secara keseluruhan tiap granula kemudian menempatkan kerumahtanggaan kategorikategori mulai dari yang baik sampai minus baik, boleh tiga sampai lima. Jadi tiap jawaban mahasiswa dimasukkan internal salah suatu kategori, dan selanjutnya tiap jawaban tiap kategori diberi skor sesuai dengan kualitas jawabannya. Kualitas jawaban ditentukan makanya penilai secara longo, misalnya harus ada data atau fakta, ada unsur analisis, dan ada konklusi. Penyekoran pada tanya uraian kadang memperalat pembobotan. Pembobotan soal yakni pemberian bobot sreg suatu cak bertanya dengan membandingkan terhadap tanya enggak internal suatu perangkat tes nan sama. Dengan demikian, pembobotan soal jabaran sekadar bisa dilakukan internal penyusunan perangkat tes. Apabila suatu soal jabaran berdiri sendiri maka tidak boleh dihitung ataupun ditetapkan bobotnya. Bobot setiap soal ditentukan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan materi dan karakteristik soal itu sendiri, seperti luas spektrum materi yang hendak dibuatkan soalnya, esensialitas dan tingkat kedalaman materi yang ditanyakan serta tingkat kesukaran soal. Hal nan juga teradat dipertimbangkan adalah rasio penyekoran nan hendak digunakan, misalnya rasio 10 atau rasio 100. Apabila digunakan perimbangan 100, maka semua butir soal dijawab benar, skornya 100; demikian pula bila proporsi yang digunakan 10. Peristiwa ini dimaksudkan bakal memudahkan perkiraan skor. Poin akhir mahasiswa ditetapkan dengan jalan menjatah angka mentah yang diperoleh dengan skor mentah maksimumnya kemudian dikalikan dengan bobot soal tersebut. Rumus yang dipakai buat pencacahan skor butir pertanyaan (SBS) adalah : Warta SBS : skor butir soal a : biji mentah nan diperoleh peserta untuk granula soal b : skor mentah maksimum soal c : bobot soal 13

14
Setelah diperoleh SBS, maka dapat dihitung total skor butir soal beraneka macam skor total peserta (STP) bikin serangkaian pertanyaan internal tes yang bersangkutan, dengan menggunakan rumus : Pemberitahuan STP : skor total peserta Contoh 2. Bobot pertanyaan sama, dengan skala 0 sampai dengan 100 Cermin 3. Bila STP tak sebagaimana Kuantitas Bobot Soal dan Skala 100 Pada dasarnya STP merupakan penjumlahan SBS, bobot tiap soal selevel semuanya. 14

15
Paradigma ini bermain bakal pertanyaan uraian objektif dan uraian non-objektif, asalkan bobot semua butiran soal sama. Pembobotan juga digunakan dalam soal bentuk sintesis, ialah bentuk seleksian dan bentuk uraian. Pembobotan soal bagian pertanyaan tulangtulangan saringan ganda dan bentuk uraian ditentukan oleh cakupan materi dan kompleksitas jawaban atau tingkat berpikir yang terlibat n domestik melakukan soal. Pada biasanya cakupan materi tanya bentuk sortiran ganda makin banyak, sedang tingkat berpikir nan terlibat dalam mengerjakan soal rancangan uraian galibnya lebih banyak dan bertambah tingkatan. Suatu ulangan terdiri berbunga N1 pertanyaan pilihan ganda dan N2 soal jabaran. Bobot bagi soal sortiran ganda yakni w1 dan bobot untuk soal jabaran yaitu w2. Jikalau seorang peserta menjawab benar n1 pilihan ganda dan n2 soal uraian, maka siswa itu mendapat habuan skor: Misalkan, suatu ulangan terdiri dari 20 bentuk saringan ganda dengan 4 pilihan dan 4 buah soal gambar uraian. Pertanyaan saringan ganda dijawab benar 16 dan dijawab keseleo 4, semenjana bentuk jabaran dijawab benar 20 dari ponten maksimum 40. Apabila bobot seleksian ganda adalah 0,40 dan bentuk uraian 0,60, biji dapat dihitung: a) Skor sortiran ganda tanpa koreksi jawaban dugaan: 16/ =80 b) Ponten rajah uraian adalah:20/ = 50. c) Poin akhir adalah: 0,4 (80) + 0,6 (50) = 62. Cak semau tujuh anju untuk melebarkan pedoman penyekoran, yaitu: menentukan tujuan, mengidentifikasi atribut, menjabarkan karakteristik atribut, menentukan teknik penyekoran, memformulasikan pedoman penyekoran, melakukan piloting/ujicoba adv minim, dan memperbaiki pedoman penyekoran menjadi pedoman siap pakai. 1. Menentukan tujuan Tujuan akan mengarahkan Sira pada langkah lebih jauh. Tes dikembangkan sesuai kebutuhan pengumpulan data aspek-aspek nan memang menjadi harapan pengukuran. Misalkan, Anda akan mengembangkan pedoman penyekoran testimoni uraian non objektif untuk mengukur kemampuan penceraian masalah siswa, akan berbeda jika akan pedoman penyekoran tes untuk menyukat daya kreasi berpikir. Tes lakukan pengukuran kemampuan pemecahan maslah harus berlimpah menggali informasi tercalit kompetensi pemecahan masalah, antara mencerna penyakit, merumuskan penyelesaian penyakit, melaksanakan rencana penuntasan kebobrokan, dan menarik kesimpulan. Begitu juga pemeriksaan ulang untuk mengukur kesadaran konsep, harus mampu mengukur domain-domain tentang kreativitas berpikir, misal: nanang lancar, plastis, orisinil, terperinci, dan keterampilan menilai. 2. Identifikasi atribut secara distingtif nan mau dinilai 15

16
Pada tahap ini Anda harus mengidentifikasi aspek-aspek apa saja yang akan menjadi titik api penilaian Anda. Takdirnya Anda akan mengukur kemampuan pemecahan masalah maka Dia harus menetapkan penanda-indikator sentral kemampuan pemisahan masalah. Komplet bukan, sekiranya Anda akan mengukur kemampuan daya kreasi nanang mahasiswa, maka Anda harus tetapkan apa saja parameter kunci daya kreasi berpikir. 3. Menjabarkan karakteristik yang memvisualkan setiap atribut Setelah atribut nan akan Sira ukur secara jelas telah diidentifikasi, langkah lebih lanjut merupakan menjabarkan karakteristik atribut tersebut. Karakteristik ini inilah yang selanjutnya akan menjadi poin pencermatan terdahulu dalam penetapan skor. Misalkan pada pedoman penyekoran tes bagi kemampuan pemecahan komplikasi, karakteristiknya antara tidak: kemampuan memahami keburukan, kemampuan merumuskan penuntasan, kemampuan melaksanakan penyelesaian, kemampuan memendekkan/menafsirkan perampungan 4. Menentukan teknik penyekoran Agar ponten yang diperoleh dapat menggambarkan atribut yang diukur dengan baik, Anda harus menentukan teknik penyekoran nan tepat. Anda dapat memilih keseleo satu disesuaikan kebutuhan, analitik ataupun holistik. Buat penyekoran pembenaran uraian objektif menggunakan pedoman penyekoran analitik, sedang pembenaran jabaran non objektif menunggangi pedoman penyekoran holistik. Jika sreg tes tersebut terletak soal uraian bebas sekaligus non objektif, maka bisa digunakan kedua teknik penyekoran tersebut sesuai dengan masing-masing pertanyaan. 5. Mengekspresikan pedoman penyekoran Penyusunan pedoman penyekoran disesuaikan dengan teknik penyekoran yang digunakan. Jika teknik penyekoran menunggangi teknik penyekoran analitik, langkah awalnya adalah takhlik sosi jawaban seluruh butiran soal. Lebih jauh menentukan skor setiap soal. Skor setiap soal ditetapkan dengan mematok skor setiap unit. Skor tiap granula diperoleh dengan menjumlah angka semua unit. Penetapan skor juga perlu mengaibkan bobot masing-masing butir, sehingga skor akhir mengaplus secara proporsional keseluruhan dimensi yang diukur. Jika Sira memperalat teknik penyekoran holistik, penyusunan penyekoran dapat diawali dengan menyusun atribut dan indikator pokok dari aspek nan diukur. Atribut dan indeks sendi tersebut kemudian dirumuskan menjadi kategori-kategori untuk menentukan skor jawaban. 6. Piloting/ujicoba tekor penggunaan pedoman penyekoran Piloting/ujicoba cacat eksploitasi pedoman penyekoran dilakukan dengan menggunakannya sreg sejumlah lembar jawaban siswa. a. Dilakukan sendiri Cermatilah aplikabilitas penyekoran Anda, apakah dapat diterapkan atau tidak, meruwetkan maupun tidak, jelas atau bukan, konsisten atau tidak, dan hal-kejadian tak yang berhubungan dengan keterbacaannya. Jika masih terdapat yang belum tepat, informasi dari penggunaan terbatas ini digunakan untuk perbaikan. 16

17
b. Melibatkan orang lain Ujicoba kurang dapat dilakukan melibatkan teman guru lain. Mintalah teman Anda mengoreksi lembar jawaban siswa nan Anda koreksi tadi dengan penyekoran yang Anda buat, sehingga diperoleh dua skor hasil koreksian. Hasil penyekoran Kamu dan teman Anda kemudian dibandingkan. Seandainya ternyata terdapat perbedaan nan signifikan antara skor hasil koreksi Anda dan bandingan Beliau, dan perbedaan tersebut karena pedoman penyekoran nan tekor tepat, maka langkah perbaikan harus dilakukan berdasarkan data temuan tersebut. 7. Mengoreksi pedoman penyekoran Perbaikan dilakukan beralaskan informasi yang ditemukan plong piloting/ujicoba terbatas. Reformasi ini dapat meliputi penetapan skornya, redaksi, pembobotan, atau temuan lain yang dipandang terbiasa untuk faedah dan kemudahan penggunaan pedoman penyekoran tersebut. B. Kegiatan Membiasakan 2. Melebarkan Pedoman penyekoran Pak Ardian yakni Suhu Anatomi ingin mencerna kreativitas nanang mahasiswanya. Cangkang Ardian telah mengembangkan tes yang sesuai bagi mengukur peristiwa tersebut memperalat tes jabaran non independen. Namun Pak Ardian bingung bagaimana mengekspresikan pedoman penyekoran yang tepat. Pak Ardian sempat bahwa pedoman penyekoran pembuktian untuk menimbang kreativitas berpikir tidak seperti mana testimoni untuk mengukur ketercapaian KD sebagaimana nan sahih dilakukannya. Menurut Anda, pedoman penyekoran seperti mana apa yang tepat digunakan Paket Ardian tersebut! Ada dua pedoman penyekoran yang akan Anda praktekkan puas kegiatan sparing ini, yaitu pedoman penyekoran analitik dan pedoman penyekoran holistik. 1. Pedoman penyekoran analitik Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pedoman ini digunakan untuk tes bentuk uraian objektif. Berikut salah satu konseptual pengembangan pedoman penyekoran analitik yang akan digunakan misal pedoman penentuan skor tes bagi penguasaan kompetensi peserta pelihara internal menghitung volume benda berbentuk balok dan memungkiri asongan ukurannya. Misalkan indeks dan butiran soalnya yakni laksana berikut: Parameter : Pesuluh boleh menghitung volume perumpamaan bersiram berbentuk balok jika diketahui panjang, sebelah, dan tingginya serta mengubah satuan ukuran. Kemasan Ardian adalah Antoro kepingin mengetahui kreativitas berpikir siswanya. Selongsong Ardian sudah mengembangkan tes nan sesuai untuk mengukur kejadian tersebut menggunakan verifikasi uraian non objektif. Sekadar Pak Ardian bingung bagaimana menyusun pedoman penyekoran yang tepat. Kemasan Ardian adv pernah bahwa pedoman penyekoran tes untuk 17

18
mengukur kreativitas berpikir bukan seimbang dengan validasi untuk mengukur ketercapaian KD sama dengan yang biasa dilakukannya. Menurut Anda, pedoman penyekoran seperti segala apa yang tepat digunakan Pak Ardian tersebut! Butir Soal : Sebuah bagaikan mandi berbentuk balok berukuran panjang 150 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 75 cm. Berapa literkah isi volum perumpamaan bersiram tersebut? Setelah ditetapkan tujuannya, Anda harus menentukan atribut yang akan diukur, merupakan penguasaan kompetensi cak menjumlah volum benda berbentuk balok dan mengubah eceran ukurnya. Atribut ini kemudian dijabarkan karakteristiknya menjadi aspek-aspek yang diukur, misal: menentukan rumus yang akan digunakan, menghitung volum berpijak rumus yang ditetapkan, dan menafsirkan satuan. Mencermati atribut dan karakteristiknya, teknik penyekoran yang tepat sreg pedoman penyekoran soal di atas yaitu penyekoran analitik karena perenggan jawaban sudah jelas dan terbatas. Langkah selanjutnya Anda menciptakan menjadikan ki akal jawaban secara transendental diuraikan dengan menurut urutan tertentu. Bila mahasiswa telah menulis rumus nan benar diberi skor, memasukkan ponten ke dalam formula dengan benar diberi skor, menghasilkan perhitungan yang benar diberi skor, dan inferensi yang benar juga diberi skor. Ponten akhir diperoleh dengan menjumlahkan skor setiap respon pada soal tersebut. Berikut contoh pedoman penyekorannya: Sebelum Beliau gunakan, ujicobakan pedoman penyekoran di atas pada beberapa lembar jalan hidup mahasiswa kerjakan mencerna aplikabilitasnya. Sekiranya cak semau bilang bagian nan mengusutkan penggunaannya, perbaikilah sebelum digunakan untuk mengoreksi seluruh lembar jawaban mahasiswa. Semata-mata jika sudah lalu dapat digunakan dengan baik, Anda boleh langsung memperalat pedoman penyekoran di atas sebagai pedoman mengoreksi seluruh lembar jawaban peserta. 18

19
2. Pedoman penyekoran holistik Misalkan Anda akan melebarkan pedoman penyekoran konfirmasi untuk mengukur kemampuan pemecahan ki aib siswa pada kompetensi dasar. Soalnya adalah sebagai berikut: Kompetensi Dasar: Mengamalkan dan menggunakan sifat-kebiasaan manuver hitung kadar kerumahtanggaan penceraian problem Tanya: Enuk, Endah, dan Sunarto sendirisendiri membeli sebuah pokok di koperasi sekolah. Enuk membeli siasat seharga Rp. 750,00, Endah membeli daya seharga Rp. 800,00, dan Sunarto membeli buku seharga Rp. 850,00. Jikalau uang mereka masingmasing Rp ,00, berapakah keseluruhan berak komisi mereka bertiga? Tujuan pengembangan penyekoran ini jelas, yakni sebagai pedoman penilaian sreg pengukuran kecakapan pemecahan masalah siswa. Setelah Engkau menargetkan harapan pemakaian pedoman penyekoran Anda, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi atribut kemampuan pemecahan ki aib. Lakukan amatan teoritik berbagai literatur sehingga diperoleh gambaran jelas karakteristik kemampuan pemecahan masalah. Dari hasil analisis tersebut, jabarkan karakteristik kemampuan separasi masalah sehingga boleh digunakan sebagai poin pencermatan utama dalam penetapan ponten. Secara mahajana suka-suka catur langkah memecahkan masalah, merupakan: memafhumi ki aib, mewujudkan buram pemecahan penyakit, melaksanakan susuk pemecahan masalah, dan membuat inferensi. Pedoman penyekoran yang boleh digunakan: 19

20
Angka yang Anda peroleh kemudian ditabulasikan umpama berikut: Lakukan bertambah menguatkan kognisi Anda, berikut transendental tidak pengembangan pedoman penyekoran, yaitu untuk tes pengukuran kreativitas nanang siswa. Pamrih ekspansi penyekoran ini jelas, merupakan akan digunakan seumpama pedoman penilaian plong pengukuran kreativitas berpikir siswa. Sesudah Anda mematok maksud pedoman penyekoran Anda, langkah selanjutnya yaitu mengenali atribut daya kreasi berpikir dalam-dalam murid. Lakukanlah kajian teoritik tentang kreativitas berpikir mulai sejak bermacam ragam literatur sehingga diperoleh paparan jelas tentang berbagai karakteristik kreativitas berpikir. Dari hasil analisis tersebut, jabarkan karakteristik kreativitas berpikir tersebut, sehingga boleh digunakan sebagai poin penghematan terdahulu dalam penetapan angka. 20

21
Teknik penyekoran yang tepat untuk penilaian kreativitas berpikir yaitu teknik penyekoran holistik. Selanjutnya Anda bisa taajul menyusun pedoman penyekoran. Berikut ini contoh pedoman penyekoran dengan penyekoran holistik lakukan pengukuran daya kreasi nanang yang dikembangkan Eko Haryono (2011). 21

22
Ketentuan pedoman penyekoran: – Perbandingan kredit dari kegesitan, Berpikir Lampias : Berpikir Luwes : Berpikir dalam-dalam Orisinil : Memperinci : Mengevaluasi = 2 : 2 : 2 : 2 :1. Tidak ada referensi lazim yang secara verbal mengatakan proporsi tesebut. Sri Utami Munandar menggunakan 5 aspek secara utuh, hanya penelitian dan jurnal bukan belaka menunggangi 4 aspek, yaitu tidak mengikut sertakan aspek mengevaluasi. Bersendikan situasi tersebut, disini ditetapkan penyekoran masing-masing aspek menggunakan perbandingan di atas. – Penentuan ponten dilakukan dengan persiapan: 1. Membaca setiap jawaban siswa secara menyeluruh dan dibandingkan pedoman penyekoran. 2. Membubuhkan poin disebelah kiri setiap jawaban. Ini dilakukan per nomor pertanyaan 3. Menjumlahkan skor-skor yang telah dituliskan sreg setiap jawaban 4. Menjumlahkan skor tiap-tiap penggalan sehingga diperoleh skor penutup Skor yang Anda sambut kemudian ditabulasikan andai berikut: 22

23
Lakukan klasifikasi patokan berbunga kreativitas berpikir dalam-dalam nan di ukur sebagaimana berikut: C. Ringkasan Pedoman penyekoran merupakan pedoman menentukan skor pekerjaan murid. Ancang melebarkan pedoman penyekoran adalah menentukan tujuan, mengenali atribut, menjabarkan karakteristik atribut, menentukan teknik penyekoran, memformulasikan pedoman penyekoran, melakukan piloting/ujicoba minus, dan memperbaiki pedoman penyekoran menjadi pedoman siap pakai. D. Latihan Buatlah pedoman penyekoran yang dapat digunakan sebagai pedoman penyekoran soal testimoni esay (jabaran) buat menakar pemahaman konsep siswa pada suatu KD tertentu! E. Umpan Balik Untuk mengetahui legalitas jawaban Anda, silahkan baca kembali penjelasan yang ada pada modul ini, atau berdiskusi dengan imbangan sejawat Anda. Bila Anda menemui kesulitan memintasi soal tuntunan di atas, Anda dapat mengontak penyalin. Untuk menilai hasil penuntasan cak bimbingan di atas, gunakanlah pedoman penilaian berikut bagi menentukan angka akuisisi Engkau: 23

24
Petunjuk penyekoran: Biji pengunci Anda = (Skor capaian: 18) 100 % Buat mengetahui pencapaian pemahaman, Beliau dapat mencocokkan jawaban Anda dengan nubuat jawaban yang sudah disediakan. Bila kebenaran jawaban Anda mencapai 75% atau lebih berjasa Anda telah memahaminya. Sebaiknya Anda melanjutkan belajar ke modul berikutnya pasca- kognisi Anda menjejak minimal 75%. Bila Anda menemui kesulitan dalam memahami modul ini, Sira dapat menghubungi penulis untuk dibicarakan lebih jauh. F. Daftar Bacaan Djemari Mardapi Teknik Penyusunan Organ Tes dan Non Tes. Jogyakarta: Mitra Cendikia Offset Eko Haryono Efektivitas Pembelajaran Ilmu hitung Berbasis Mind Map Methode dengan Menggunakan Media Ilustratif Komik dalam Meningkatkan Kreativitas Berpikir Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 3 Depok Sleman. Skripsi Prodi Pendidikan Ilmu hitung Fakultas Sainteks UIN Baginda Kalijaga Yogyakarta. 24

25
MODUL : Periksa Perkakas PENILAIAN Telaah atau amatan pertanyaan dilakukan untuk mengetahui berfungsi tidaknya sebuah soal. Kajian pada umumnya dilakukan melalui dua cara, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif atau validitas teoritis yang dilakukan sebelum soal digunakan untuk melihat berfungsi atau tidak berfungsinya sebuah tanya. Analisis cak bertanya secara kuantitatif maupun validitas empiris yang dilakukan bakal mengintai berfungsi tidaknya sebuah pertanyaan, beralaskan hasil ujicoba dari sampel yang representatif. Sesudah mempelajari modul ini, diharapkan Anda rani memahami dan berbuat selidik instrumen nan telah disusun, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Modul Periksa Perlengkapan Penilaian terdiri atas 2 kegiatan belajar, merupakan: 1. Kegiatan Belajar 1. Melakukan Telaah Teoritis Perkakas Penilaian 2. Kegiatan Belajar 2. Melakukan Telaah Empiris Butir Radas Penilaian Diskusikan dengan kebalikan-teman Beliau beberapa permasalahan yang diberikan untuk mengejar jawabannya. Cermati uraian materi pada masing-masing kegiatan belajar. Bikin kian memantapkan pemahaman Sira, selesaikan latihan/tugas nan ada di penutup modul ini. Bila Anda masih ragu terhadap jawaban cak bimbingan/tugas Anda ataupun suka-suka hal-situasi yang teristiadat diklarifikasi, berdiskusilah dengan petatar lain maupun narasumber/instruktur Engkau. Kompetensi yang diharapkan internal mempelajari modul ini adalah 1. Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan (8.6) 2. Mengamalkan evaluasi proses dan hasil belajar (8.7) 3. Menunjukkan etos kerja dan kewajiban jawab nan tingi ( 14.1) 4. Berbangga menjadi guru dan berkeyakinan sreg diri sendiri (14.2) 5. Belajar mandiri secara profesional (14.3) A. Kegiatan Belajar 1. Melakukan Telaah Teoritis Instrumen Penilaian Telaah teoritis dimaksudkan lakukan menganalisis pertanyaan ditinjau pecah segi materi, konstruksi, dan bahasa. Analisis materi dimaksudkan perumpamaan penerimaan yang berkaitan dengan substansi saintifik yang ditanyakan internal tanya serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan soal. Analisis gedung dimaksudkan umpama pendedahan yang umumnya berkaitan dengan teknik penulisan tanya. Sedangkan, analisis bahasa dimaksudkan sebagai penataran cak bertanya yang berkaitan dengan pengusahaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Nan Disempurnakan (EYD) dan berwatak ringkas dan jelas. Bikin mempermudah melakukan telaah teoritis, boleh menggunakan kartu bahas. Anda dapat mengamalkan telaah sendiri, alias dapat lamar saingan Beliau atau juru 25

26
cak bagi menelaah radas yang telah Dia susun dengan kaidah memberikan logo check pada kartu telaah sesuai dengan pendapat antitesis/pakar nan Anda tunjuk. Dengan menelaah tiap butir soal kerumahtanggaan perangkat, maka secara kualitas materi, bangunan, maupun bahasa kita akan tahu bagaimana kualitas dari peranti nan kita susun, sehingga dapat dilakukan pembaruan instrumen. Umpama contoh, kita lihat kembali contoh soal saringan ganda lega Modul II. Apakah Dia pernah memasrahkan tes kepada siswa, doang setelah tes berlangsung atau berakhir baru ditemukan dan terdapat kesalahan yang mengganggu puas soal yang Anda untuk? Apa nan semestinya Anda lakukan agar hal serupa tak terulang? Bentuk 5. Karcis Cak bertanya Bentuk Pilihan Ganda Telaah yang dilakukan, dengan memanfaatkan tiket telaah merupakan andai berikut. Tabel 13. Contoh Kartu Periksa Teoritis Soal Saringan Ganda 26

27
27

28
Berdasarkan sempurna selidik teoritis di atas, maka cak bertanya yang disajikan perlu direvisi terbit segi konstruksi dan bahasa. Salah satu perbaikan yang diajukan adalah merevisi soal menjadi soal berikut ini. 28

29
B. Kegiatan Belajar 2. Mengamalkan Telaah Empiris Butir Instrumen Penilaian Selongsong Ardi mengadakan ulangan kronik Statistika. Dari hasil ulangan tersebut, kelihatan bahwa seluruh siswa mendapatkan kredit di radiks standar nan ditetapkan. Melihat hal ini, Pak Ardi mencelakakan kembali soal nan dia gunakan untuk ulangan. Selidik apa saja yang harus dilakukan oleh Sampul Jabal? Telaah soal secara empiris menekankan lega kajian karakteristik internal tes melangkahi data yang diperoleh secara empiris. Karakteristik dalam secara empiris yang dimaksudkan merupakan meliputi amatan tingkat kesukaran, daya selisih, dan reliabilitas. Partikular bikin tes bagan pilihan ganda, analisis lagi menutupi probabilitas untuk menjawab soal dengan benar dan berfungsi tidaknya pilihan jawaban, yaitu penyebaran alternatif jawaban mulai sejak subyek-subyek yang dites. Analisis ini wajib dilakukan bakal menyibuk kualitas tanya, apakah satu soal dapat diterima karena didukung oleh data perangkaan yang cukup, diperbaiki karena manjur terdapat sejumlah kelemahan, atau malar-malar tidak digunakan separas sekali karena terbukti secara empiris tidak berfungsi selevel sekali. 1. Tingkat kesukaran Secara umum, tingkat kesukaran dapat dinyatakan melintasi beberapa cara, diantaranya adalah: proporsi menjawab benar, perimbangan kesukaran linear, parameter Davis, dan rasio bivariat (Sumarna Surapranata, 2004). Proporsi jawaban ter-hormat (p) adalah besaran peserta tes yang menjawab benar sreg butir soal yang dianalisis dibandingkan dengan jumlah peserta pengecekan seluruhnya merupakan tingkat kesukaran nan paling mahajana digunakan. Persamaan yang digunakan kerjakan menentukan tingkat kesukaran dengan menjawab bermartabat adalah: Dengan, 29

30
Berikut ini disajikan tabel bermula satu tes, dengan jumlah murid 20 orang dan soal terdiri atas 10 butir soal. (Jumlah peserta ini hanya untuk memberikan ilustrasi n domestik penjumlahan. Semakin banyak peserta tes akan memberikan hasil analisis nan lebih baik). Data pada diagram berikut serta merta akan digunakan dalam cak menjumlah daya cedera. Tabel 14. Contoh Skor Hasil Tes Siswa Dari tabel tersebut, kemudian kita konversikan ke kerumahtanggaan angka, dengan ketentuan angka 1 menunjukkan jawaban benar (sesuai dengan kunci jawaban) dan ponten 0 menunjukkan jawaban salah (tidak sesuai dengan kunci jawaban). Sedangkan buat siswa yang tak memberikan jawaban, dapat kita asumsikan bahwa siswa tersebut menjawab salah, sehingga kita berikan skor 0. Berikut yaitu hasil tes siswa tersebut selepas dikonversikan ke kerumahtanggaan kredit sesuai dengan kunci jawaban. Tabel 15. Konversi Nilai Hasil Tes Siswa ke dalam Kredit 30

31
Langkah-persiapan n domestik menentukan tingkat kesukaran soal, yaitu: a. Menentukan poin maksimum tiap butir soal. Pada contoh di atas, skor maksimum tiap butir soal (soal saringan ganda, hanya ada jawaban benar dan salah) adalah 1. b. Menentukan banyaknya peserta tes yang menjawab bersusila. Ʃx Pada acuan di atas misalnya, jumlah peserta verifikasi yang menjawab benar tanya nomor 1 adalah 17 cucu adam, soal nomor 2 merupakan 20 hamba allah, demikian untuk pertanyaan yang lainnya. c. Menentukan besaran pelajar pemeriksaan ulang, pada contoh di atas, jumlah siswa pembenaran yakni 20 orang. d. Tingkat kesukaran, yakni dengan memasukkan kredit pada rumus,,sehingga untuk tanya nomor 1 pada contoh, tingkat kesukaran = 0,85. Sebagai les lakukan Anda, tentukan tingkat kesukaran cak bertanya yang lainnya. Tentunya kita akan berkat kesulitan jika butir cak bertanya dan jumlah peserta validasi yang akan kita analisis banyak. Untuk mempermudah dalam menghitung dapat menggunakan program komputer. 31

32
Akan halnya pemaknaan bersumber nilai tingkat kesukaran yakni semakin terbatas indeks tingkat kesukaran, maka instrumen tes yang kita untuk ialah sukar, sedangkan semakin tinggi tingkat kesukaran maka instrumen tes yang kita buat bahkan mudah. Kategori sesudah-sudahnya dapat dilihat lega tabel berikut. Tabel 16. Kategori Indeks Tingkat Kesukaran Berdasarkan tabulasi tersebut, pemaknaan bakal hasil hitungan sreg ideal, tingkat kesukaran 0,85, dengan demikian tingkat kesukaran cak bertanya yang dianalisis yakni mudah. Idealnya, tingkat kesukaran soal sesuai dengan kemampuan pelajar pemeriksaan ulang, sehingga diperoleh informasi nan antara lain dapat digunakan sebagai instrumen perbaikan atau pertambahan program pembelajaran. 2. Trik beda (D) Parameter resep beda memberi gambaran sesuai kemampuan tes kerumahtanggaan membedakan murid verifikasi yang berkemampuan strata dengan pelajar tes nan bertenaga rendah. Penanda sentral beda soal ditetapkan dari selisih proporsi yang menjawab dari masing-masing kerubungan. Dengan demikian, indeks daya cedera ini sama halnya menunjukkan validitas cak bertanya bakal membedakan antara pesuluh testimoni yang berkemampuan tataran dengan peserta tes yang berenergi invalid. Nilai yang menunjukkan besarnya daya beda berkisar antara -1 sampai dengan 1. Tanda merusak menunjukkan bahwa murid tes yang kemampuannya rendah menjawab moralistis sementara itu peserta tes nan kemampuannya tinggi menjawab salah. Dengan demikian, cak bertanya tes nan memiliki indeks daya selisih negatif menunjukkan terbaliknya kualitas peserta tes. Soal dengan indek gerendel selisih negatif, tak boleh digunakan sebagai alat pengecekan. Indeks daya beda dihitung berlandaskan pembagian gerombolan, yaitu keramaian atas nan ialah kerumunan peserta tes yang berkemampuan tinggi (memperoleh skor panjang) dengan kelompok asal yaitu kelompok peserta tes yang berkemampuan rendah (memperoleh skor yang rendah). Penanda daya selisih didefinisikan seumpama selisih antara proporsi jawaban benar pada kelompok atas dengan proporsi jawaban benar plong kelompok pangkal (Crocker dan Algina, 1986). Lazimnya, para tukang verifikasi menjatah keramaian ini menjadi 27% atau 33% kerubungan atas dan 27% ataupun 33% kelompok bawah (Cureton, 1957). 3. Sangkutan antara tingkat kesukaran dan daya beda Tingkat kesukaran berpengaruh langsung terhadap daya beda soal. Kalau setiap orang memilih jawaban benar (p=1) atau kalau setiap individu melembarkan jawaban salah (p=0) maka 32

33
soal tidak bisa digunakan lakukan menyingkirkan kemampuan peserta tes. Puas tabel berikut disajikan nilai daya selisih (D) sebagai manfaat tingkat kesukaran (p). Grafik 17. Kawin nilai p dan Daya Beda (D) Grafik. Kekeluargaan antara Ponten p(tingkat kesukaran) dengan D Dari hubungan tersebut terlihat bahwa biji maksimum D diperoleh dari nilai p=0,5. Dengan demikian, tanya yang mempunyai tingkat kesukaran 0,5 ialah cak bertanya yang memiliki daya selisih terbaik (D=1) alias terjelek ( D= -1 ). Niali p = 0,5 dapat terjadi bila semua kelompok atas ( ) menjawab bermartabat dan semua kelompok bawah ( menjawab salah ( D = 1) atau semua kelompok atas menjawab salah dan semua kelompok radiks menjawab benar ( D = -1). Langkah-langkah untuk menentukan daya beda konfirmasi merupakan sebagai berikut. a. Menentukan tingkat kesukaran tes b. Mengurutkan hasil tes dengan elus bermula angka terbesar ke nilai terkecil c. Membagi gerombolan menjadi gerombolan atas dan kelompok dasar d. Menentukan beda tingkat kesukaran antar kedua kelompok 33

34
e. Menentukan kategori daya cedera dengan pedoman pada tabulasi berikut. Tabel 18. Kategori Taktik Beda Kerjakan memperjelas pemahaman Dia, berikut disajikan eksemplar untuk menentukan anak kunci beda baik tes kerangka pilihan ganda maupun bentuk uraian. 1) Menentukan daya beda tes bentuk pilihan ganda Misal, diketahui nilai dari 36 petatar, dan data lega tabulasi berikut menunjukkan data dari 27% kerumunan atas dan 27% kelompok dasar. Tabulasi 19. Hasil Tes Siswa Bentuk Pilihan Ganda 34

35
Diagram 20. Beda Tingkat Kesukaran Kelompok Atas dan Kerubungan Bawah Sedangkan bikin melihat keberfungsian dari masing-masing alternatif jawaban, 35

36
perhatikan jabaran berikut ini. Seumpama acuan adalah jawaban lega cak bertanya nomor 5. Sentral jawaban untuk soal nomor 5 adalah A. Diperoleh tabel sebagai berikut. Tabel 21. Contoh Jawaban Siswa puas Soal Nomor 5 Tabel 22. Jawaban Siswa Pertanyaan Nomor 5 pasca- Diurutkan 36

37
Adapun pemaknaan dari keberfungsian penipu, jika yang melembarkan alternatif lebih dari 5 % (0,05) berbunga besaran peserta (puas lengkap analisis ini, siswa validasi ialah 20 siswa), sehingga jika terserah lebih berpunca 1 basyar yang memintal jawaban, maka pengecoh tersebut berfungsi. Sedangkan pendusta menyesatkan sekiranya pkelompok atas > pkelompok bawah, tidak efektif jikalau pkelompok atas = pkelompok bawah, dan efektif jika pkelompok atas < pkelompok pangkal (Sumarna Surapranata, 2004). Berdasarkan hasil terbit kelompok atas dan kerubungan asal dari ideal pada kedua tabel di atas, dapat dibuat tabel berikut cak bagi melihat sosi tikai dan keefektifannya. Tabel 23. Kancing Cedera Hasil Tes Seleksian Ganda 2) Menentukan taktik selisih tes rancangan uraian Langkah untuk menentukan daya beda konfirmasi bentuk uraian selaras halnya dengan awalan untuk menentukan cedera cak bertanya pilihan ganda. Cak bagi membantu pemahaman Beliau dalam menentukan daya cedera konfirmasi bentuk uraian berikut disajikan data dari hasil pembenaran dengan jumlah soal sebanyak 5 butir soal nan diberikan kepada 20 murid tes. Lakukan pedoman penilaian, diasumsikan bahwa, poin maksimal nomor 1 adalah 5, no 2 adalah 4, nomor 3 yaitu 4, dan nomor 5 adalah 3. 37

38
Tabulasi 24. Contoh Hasil Pembenaran Uraian Siswa Tabel 25. Buku Tikai Hasil Tes Jabaran Bersendikan tabel ringkasan contoh perhitungan hasil validasi uraian tersebut, maka kita bisa mengambil tindakan atas instrumen yang sudah lalu kita susun. Yaitu, membetulkan butir pertanyaan tes nomor 1, 4 dan 5. Sedangkan, buat butir soal nomor 2 boleh langsung digunakan dan lakukan soal nomor 3 tak bisa digunakan (ditolak). 38

39
Cak bagi pelajaran/melakukan analisis empiris dapat menggunakan: Software Analiser Cak bertanya yang dapat di unduh di blog: papiyonklaten wordpress.com C. Ringkasan Telaah instrumen penilaian pada lazimnya dilakukan melalui dua cara, merupakan bahas teoritis dan telaah empiris. Periksa teoritis meliputi kajian perlengkapan dari segi materi, konstruk, dan bahasa. Telaah ini boleh dilakukan dengan menggunakan kartu periksa. Sedangkan telaah empiris instrumen meliputi tingkat kesukaran tes, daya beda, legalitas, dan keterjaminan. Berdasarkan hasil bahas ini kemudian kita gunakan untuk melakukan revisi gawai nan mutakadim kita buat. D. Tugas Untuk mengetahui pemahaman Kamu terhadap materi di modul ini, kerjakanlah tugas berikut. Untuk telaah empiris terhadap pertanyaan tersebut, kalau soal tersebut diujikan kepada 20 murid dengan jawaban dari 20 petatar adalah bagaikan berikut. E. Umpan Balik Ilham melakukan soal: Berikut diberikan jawaban kerjakan tanya pada tugas. Jika jawaban Kamu sudah sesuai dengan jawaban berikut, Selamat!, Engkau sudah lalu mengerjakannya dengan bermartabat. Penyekoran dari jawaban Engkau, merupakan bak berikut. Awalan melakukan tugas Skor maksimal Megetahui maksud soal 5 Memungkiri skor murid ke dalam poin (seperti pada tabel) 5 Menentukan p keramaian atas dan p kelompok dasar 5 Menerjemahkan keberfungsian pilihan jawaban 5 Menentukan daya beda (D) 5 Menerjemahkan keefektifan jawaban 5 Besaran Skor 30 Jika ketercapaian Anda merupakan paling kecil 75% dari skor maksimal yang ada, maka Anda telah memahami bersumber apa yang disampaikan pada modul ini. Seandainya terserah kesulitan silahkan diskusikan dengan rekan sejawat Dia ataupun pada perjumpaan berikutnya. Cak bagi melihat kesesuaian jawaban Anda dengan jawaban, dapat dilihat pada sentral jawaban di suplemen. F. Daftar pustaka Crocker, L. & Algina, J Introduction to Classical and Bertamadun Test Theory. 39

40
New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc. Sumarna Surapranata Analisis, Kesahihan, Kredibilitas, dan Interpretasi Hasil Tes Implementasi Kurikulum Bandung: PT Akil balig Rosdakarya 40

41
41

42
42

43
43

44
44

45
45

46
MODUL : VALIDITAS DAN Keterjaminan Peranti PENILAIAN Diskusi mengenai penilaian berbasis papan bawah senantiasa berkaitan dengan kebenaran dan reliabilitas. Kredibilitas berkaitan dengan kehandalan pemeriksaan ulang yang diberikan ajeg (tetap) hasilnya. Sedangkan validitas berkaitan dengan sejauhmana testimoni telah menakar apa yang seharusnya diukur. Setelah Kamu mempelajari modul ini, diharapkan Sira mampu bikin menentukan legalitas dan keterjaminan perabot penilaian. Modul validitas dan keterandalan peranti penilaian terdiri atas dua kegiatan membiasakan, yaitu: 1. Kegiatan Belajar 1. Menentukan Validitas Alat Penilaian 2. Kegiatan Belajar 2. Menentukan Kredibilitas Instrumen Penilaian Kompetensi nan diharapkan internal mempelajari modul ini adalah 1. Mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil sparing 2. Mengadministrasikan penilaian proses dan hasil belajar secara berkelanjutan dengan menggunakan berbagai instrumen 3. Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar bakal berbagai maksud Diskusikan dengan tara-teman Ia bilang permasalahan yang diberikan bagi mencari jawabannya. Cermati uraian materi pada masing-masing kegiatan membiasakan. Cak bagi lebih memantapkan pemahaman Sira, selesaikan kursus/tugas yang ada di akhir modul ini. Bila Anda masih ragu terhadap jawaban kursus/tugas Engkau atau ada hal-peristiwa yang perlu diklarifikasi, berdiskusilah dengan peserta enggak maupun narasumber/pengajar Engkau. Setelah itu untuk refleksi tercalit kesadaran Anda terhadap penyusunan instrumen tes yang sepanjang ini Anda untuk. A. Kegiatan Membiasakan 1. Menentukan Validitas Instrumen Penilaian Detik Dia menyusun satu instrumen pembenaran bikin siswa Anda, apakah pembenaran tersebut telah mengukur sesuai dengan tujuan Ia? Bagaimanakah kualitas berpangkal perlengkapan yang Engkau susun? Apakah telah mustakim? Bagaimanakah menentukan kesahihan berasal instrumen yang sudah disusun? Nunnaly (1970) menyatakan bahwa signifikasi kesahihan senantiasa dikaitkan dengan penelitian empiris dan validasi-pembuktiannya bergantung pada macam validitas nan digunakan. Berdasarkan tujuannya, validitas dibedakan menjadi empat macam (Messick, 1989), yaitu: 1. Validitas isi (content validity) 46

47
Menurut Guion (1977), validitas isi boleh ditentukan berdasarkan justifikasi para pakar. Prosedur nan ditempuh semoga instrumen tes tersebut valid, adalah: mendefinisikan kisikisi yang hendak diukur, menentukan kisi-kisi yang akan diukur oleh masingmasing tanya, dan membandingkan per soal dengan kisi-kisi yang sudah ditetapkan. 2. Validitas konstruk (construct validity) Suatu alat ukur dikatakan menyempurnakan validitas konstruk apabila tanya-tanya yang sudah lalu dibuat menetapi aspek berpikir dalam-dalam seperti mana yang diuraikan dalam tolok kompetensi, kompetensi radiks, maupun indikator yang terwalak dalam kurikulum. Ketika Engkau memformulasikan suatu perkakas tes lakukan pelajar Anda, apakah tes tersebut telah menyukat sesuai dengan tujuan Kamu? Bagaimanakah kualitas dari instrumen yang kita susun? Apakah sudah lalu valid? Bagaimanakah menentukan validitas pecah perlengkapan nan telah kita susun? 3. Keabsahan taksiran (predictive validity) Kebenaran perkiraan menunjukkan kepada hubungan antara tes kredit yang diperoleh peserta tes dengan keadaan yang akan terjadi diwaktu yang akan datang. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas antisipasi apabila mempunyai kemampuan bikin memprediksikan apa nan akan terjadi di waktu yang akan cak bertengger. 4. Validitas konkuren (concurent validity) Validitas konkuren ataupun kebenaran yang suka-suka sekarang menunjuk sreg asosiasi antara tes skor dengan yang dicapai lega keadaan sekarang. Validitas ini dikenal sebagai validitas empiris. Sebuah konfirmasi dikatakan mempunyai validitas konkuren jika karenanya sesuai dengan pengalaman. Setelah mengetahui berbagai rajah validitas nan ada, kemudian bagaimanakah cara menimbang kesahihan? Salah suatu cara lakukan menentukan keabsahan alat ukur adalah dengan menggunakan korelasi product moment dengan simpangan nan dikemukakan oleh Pearson berikut ini. Dengan, rxy : koefisien korelasi antara laur x dan laur y (x = X -. Ʃxy : jumlah multiplikasi antara x dan y x2 : kuadrat dari x y2 : kuadrat dari y Setelah didapatkan biji r hitung, kemudian kita bandingkan dengan r tabel (ada plong lampiran). Kemudian pemaknaannya adalah, kalau rhitung > rtabel, maka radas tersebut jujur. Bagaikan sempurna, perhatikan uraian berikut. Umpama X yaitu nilai matematika pada 47

48
suatu ulangan semester 1 kelas IX dan Y yakni nilai matematika pada ujian pengunci kelas IX. Akan dicari kebenaran berusul testing tersebut. Tabel 11. Hitungan bakal Koefisien Korelasi Product Moment Hasil hitungan didapatkan rhitung ialah 0,802, sementara itu rtabel (derajat netral = Horizon- 2 = 10-2 =8, taraf denotasi 5%) adalah 0,707, maka rhitung = 0,802 > rtabel = 0,707, maka gawai tersebut dengan taraf signifikasi 5% adalah jujur. Selain cara di atas, validitas pemeriksaan ulang boleh ditentukan dengan memanfaatkan pendapat pandai. Pertimbangan yang diminta kepada ahli menyangkut isi dari butir dan jari-jari-kisi. Orang yang dapat dimintakan pendapatnya yaitu yang memang memiliki kompetensi di permukaan ekspansi tes tersebut. Hadiah pendapat dapat dilakukan dengan memasrahkan respon atas kesesuaian butir yang ditulis dengan kisikisinya n domestik hal materi. Pakar dapat membagi pendapat tentang kemustajaban dan kelemahan tes, dan memberikan saran pembaruan. Selaian itu, pendapat ahli bisa pula dikuantifikasikan 48

49
yang kemudian diskor dengan pendirian-mandu tertentu. Tes dapat dimintakan pendapat kepada lebih bersumber 1 pandai. Komplet: Predestinasi: tidak sesuai(-1), ragu ragu (0), dan sesuai(+1) Perincian dilakukan dengan rumus product moment ( r = 0,667). Hasil r hitung kemudian dikonfirmasikan ke r grafik (N = 10 dan = 5%, r tabel = 0,632). Karena r hitung > r tabel maka biji berkorelasi berguna dan kedua rater menilai bahwa alat ukur menimbang situasi yang sama, sehingga boleh dikatakan gawai mengukur keadaan yang kepingin diukur (valid) B. Kegiatan Sparing 2. Menentukan Reliabilitas Peranti Penilaian Reliabilitas atau keajegan suatu angka sangat terdahulu internal menentukan apakah validasi telah meladeni pengukuran yang baik atau belum. Osean kecilnya reliabilitas suatu ketika Anda menyusun suatu instrumen testimoni cak bagi murid Anda, apakah tes tersebut telah menyajikan hasil pengukuran yang baik? Bagaimanakah kualitas berasal instrumen nan kita susun? Apakah sudah reliabel? Bagaimanakah menentukan reliabilitas instrumen yang telah kita susun? Pengecekan ditentukan oleh besar kecilnya nilai korelasi hasil verifikasi yang dinamakan dengan parameter ataupun koefisien reliabilitas. Lega umumnya untuk menentukan anggaran reliabilitas khususnya dalam bidang pengukuran prestasi belajar digunakan keajegan intern, begitu juga formula Alpha Cronbach atau Kuder- Richardson. Janjang rendahnya koefisien reliabilitas dipengaruhi beberapa faktor, antara enggak: tinggi tes, kecepatan, homogenitas belahan, dan tingkat kesukaran (Crocker dan Algina, 1986). 49

50
Makin tinggi koefisien reliabilitas semakin baik karena kemungkinan kesalahan semakin boncel. Tidak ada angka koefisien batas nan pasti yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah suatu koefisien reliabilitas hasil perhitungan menunjukkan reliabel atau tidak. Senggat keterjaminan bertabiat sangat nisbi akan tinggal tergantung pada kepentingan penguji atau pembuat instrumen. Gronlund (1985), mengatakan bahwa koefisien kredibilitas lakukan pemeriksaan ulang buatan guru sebesar 0,6 sudah layak patut. Sedangkan menurut Nunnaly (1972) dan Kaplan (1989) dikatakan bahwa koefisien reliabilitas 0,70 s/d 0,80 dikatakan cukup tinggi. Saja secara umum reliabilitas sudah dianggap memuaskan jika koefisien reliabilitasnya 0,70. Bilang metode untuk menentukan kredibilitas adalah sebagai berikut. Tabel 12. Metode bakal Menentukan Reliabilitas Melihat dari metode cak bagi memperoleh reliabilitas pecah berbagai bentuk keterjaminan di atas, sepintas metode yang dianggap paling mudah ialah intern consistency, yaitum dengan melakukan sekali tes dan memperalat persamaan yang suka-suka. Internal consistency didasarkan lega korelasi antar nilai jawaban pada setiap butir validasi (Nunnaly, 1970). Teknik ini khususnya digunakan pada granula tanya yang dikotomi seperti soal seleksian ganda. Berikut rumus-rumus kerjakan menentukan koefisien keterjaminan. 1. Koefisien alpha ( ) dari Cronbach Koefisien alpha dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut. 50

51
: reliabilitas validasi : jumlah soal : jumlah versi dari kredit soal : jumlah varian terbit skor kuantitas Formula ini lazimnya digunakan cak bagi berburu reliabilitas tes tulang beragangan uraian. 2. Formula Kuder-Richardson 20 (KR-20) Untuk mencari koefisien kredibilitas tes bentuk objektif digunakan rumus KR-20 sebagai berikut. r11: reliabilitas tes menggunakan kemiripan KR-20 p: proporsi peserta tes nan menjawab ter-hormat q: proporsi peserta validasi yang menjawab riuk (1-p) Ʃpq :jumlah perkalian antara p dan q. K : besaran butir soal S 2 : varian total S : standar deviasi maupun simpangan halal dengan kemiripan, dengan Lengkung langit adalah kuantitas peserta tes dan adalah jumlah kuadrat selisih skor masing-masing butir dan rerata. Formula ini umumnya digunakan untuk mengejar reliabilitas instrumen pembenaran bentuk pilihan ganda. Untuk mendukung kognisi Anda bagaimana berburu koefisien keterandalan dengan menggunakan rumus KR-20, perhatikan kasus berikut. Akan ditentukan koefisien reliabilitas berusul 10 butir soal yang diujicobakan kepada 10 siswa. Tabulasi selengkapnya buat prediksi adalah sebagai berikut. 51

52
Langkah-langkah perhitungannya adalah seumpama berikut. a. Menentukan perbandingan siswa pengecekan yang menjawab benar (p) b. Yaitu dengan rumus p =, dengan p proporsi peserta tes yang menjawab moralistis : yakni jumlah skor jumlah kerjakan setiap jawaba banyaknya peserta validasi Pada kasus di atas, bagi jawaban nomor 1, maka p1 = 0,9; bikin soal nomor 3, maka p2 = = 0,9; bagi nomor 3, maka p3 = 0,8, demikian juga bikin proporsi jawaban moralistis yang lainnya. b. Menentukan proporsi peserta testimoni yang menjawab riuk (q) Yaitu dengan rumus q = 1-p. Pada kasus di atas, q1=1 0,9=0,1; q2=1 0,9=0,1; q3 =1 0,8=0,2, demikian juga bagi rasio jawaban pelecok yang lainnya c. Mengalikan p dan q bakal semua soal kemudian dijumlahkan. Semenjak hasil perhitungan diperoleh 1,58 (lihat kolom 13 pada tabel). d. Menentukan besaran rerata kredit dengan persamaan, dengan M : biasanya skor Kaki langit : banyaknya pesuluh testimoni : jumlah poin total Dari sempurna tersebut, e. Menentukan deviasi dari mean kuadrat (kolom 14 plong tabel). Jika dijumlahkan jumlahnya harus nihil. f. Menentukan deviasi dari mean kuadrat (kolom 15 puas grafik) kemudian 52

Source: https://docplayer.info/30228422-Modul-evaluasi-pembelajaran.html

Posted by: skycrepers.com