Evaluasi Pembelajaran Di Sd Modul 4 Kb 2

PDGK4502 – Pengembangan Kur & Pemb di SD


MODUL 4. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


KB 1. KONSEP DASAR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


A.   Implikasi Pengelolaan Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yakni model penyelenggaraan yang mengasihkan kemandirian ataupun kemandirian kepada sekolah dan mendorong pengutipan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah sesuai dengan standar yang ditetapkan. MBS bertujuan:

1)

Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah internal mengelola dan memberdayakan sumur pokok yang terhidang;

2)

Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pemungutan keputusan bersama;

3)

Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada ibu bapak, sekolah, dan pemerintah akan halnya mutu sekolah; serta

4)

Meningkatkan pertandingan sehat antar sekolah dalam menjejak mutu pendidikan nan diharapkan.

MBS menyerahkan kesempatan bakal sekolah bagi mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan mudahmudahan dapat mengunakan sumber daya secara optimal.

Dua premis radiks penerapan MBS:

1)

Sekolah dipandang andai  suatu rangka layanan jasa pendidikan yang memosisikan kepala sekolah sebagai manajer pendidikan dan berkewajiban terhadap eskalasi loklok peladenan dan hasil membiasakan.

2)

Boleh efektif diterapkan apabila didukung oleh sistem berbagi  kekuasaan antara pemerintah sentral dan daerah n domestik pengelolaan sekolah.

Kaidah awam pelaksanaan MBS:

1)

Profesionalisme, dengan suku cadang pendidikan yakni pengorganisasi, pekerja, dan profesionalisme dewan sekolah.

2)

Pembagian wewenang, sesuai manfaat dan perannya masing-masing.

3)

Pencapaian loklok pendidikan, mempunyai misi dan visi sesuai jenjang sekolah.

4)

Partisipasi masyarakat, menghendaki keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak tercalit.

5)

Transparansi, berpijak lega keterbukaan dalam pengelolaan.

6)

Pembentukan Dewan Sekolah, seumpama institusi penopang dan bertugas mengidentifikasi harapan dan guna program pendidikan serta merencanakan dan melaksanakan program bersama sekolah.


B.   Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum dalam pengertian berbudaya lebih dari sekedar rencana les, tetapi ibarat camar duka sparing yang diperoleh peserta dari sekolah. Empat komponen utamanya: tujuan,  materi, strategi belajar mengajar, dan sistem evaluasi.  Kurikulum sebagai pedoman hawa dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kurikulum berubah sesuai urut-urutan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan kebutuhan mahajana.

Selama tiga puluh empat tahun, Indonesia telah mengalami sejumlah siapa pertukaran kurikulum. Tahun 2004, kita menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian dikembangkan  oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan PP no 19/2005 yang menyatakan bahwa penyusunan kurikulum merupakan bagasi jawab setiap satuan pendidikan. Perundangan tidak yang terkait dengan KTSP merupakan:

1)

Permen Diknas RI no. 22/2006 tentang Standar Isi

2)

Permen Diknas RI no. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan

3)

Permen Diknas RI no. 24/2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi

Kurikulum 2004 dikenal dengan KBK berilmu standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) nan harus dicapai peserta didik melalui materi pokok dan indicator pencapaian hasil belajar. Kompetensi dasar terdiri pecah:

1)

Kompetensi Akademik, peserta didik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan memecahkan tantangan dan persoalan kehidupan secara netral.

2)

Kompetensi Okupasional, peserta didik harus memiliki ketersediaan dan berlimpah beradaptasi terhadap dunia kerja.

3)

Kompetensi Kultural, murid tuntun harus berada menempatkan diri sebaik-baiknya dalam sistem budaya dan tata nilai masyarakat yang pluralistik.

4)

Kompetensi Temporal, murid didik tetap eksis dalam menjalani kehidupan, mampu memanfaatkan ketiga kemampuan sumber akar yang dimiliki sesuai dengan jalan jaman.

Selain itu pula dikenal keterampilan atau kecakapan arwah (lifeskill) yang mencengap lima kategori:

1)

Keterampilan mengenal diri koteng/personal

2)

Keterampilan berpikir rasional

3)

Kesigapan sosial

4)

Keterampilan akademik

5)

Kesigapan vokasional


C.   Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi

Secara mahajana, karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan umpama berikut:

1)

Menitikberatkan plong pencapaian mangsa kompetensi daripada penaklukan materi

2)

Mengakomodasi  heterogenitas kebutuhan dan sumber daya pendidikan nan tersedia

3)

Menerimakan kebebasan lebih luas kepada perakit pendidikan di alun-alun bagi mengembangkan dan melaksanakan program-program pembelajaran sesuai dengan kebutuhuan.

Catur komponen utama KBK (Boediono, 2002):

1)

Kurikulum dan Hasil Belajar

2)

Penilaian Berbasis Kelas bawah

3)


K

egiatan Belajar Mengajar

4)

Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah


D.  Prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Prinsip umum ekspansi kurikulum adalah:

1)

Iman dan Takwa, Poin, dan Budi Pekerti

2)

Ketahanan dan Integritas Bangsa

3)

Keberseimbangan

4)

Berorientasi Global

5)

Berbasis Teknologi Informasi

6)

Berorientasi pada “Kecapakan Hidup”

7)

Berorientasi pada Peserta

8)

Berkelanjutan

9)

Berorientasi plong Proses dan Hasil


KB 2. IMPLIKASI PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


A.  Peran Guru privat Pengelolaan Pembelajaran

Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi memerlukan tenaga aktivis pendidikan nan memiliki profesionalisme dan darmabakti jenjang. Kompetensi suhu menurut UU no. 14/2005 tentang hawa dan dosen, terdiri dari: kompetensi pedagogik, khuluk, sosial, dan profesional.  Suhu berperan penting n domestik menentukan jumlah dan kualitas pengajaran. Internal KBK, guru dituntut menurunkan perasaan pada kesanggupan dan kebutuhan siswa, juga mempunyai keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi membiasakan yang kondusif dengan mandu mengelola petatar dan sarana pembelajaran dengan baik. Guru harus berada berinovasi dalam kejadian media penataran yang meningkatkan  aktifitas siswa dan pada jadinya meningkatkan hasil berlatih.

Keterampilan melaksanakan prosedur mengajar:

1.

Kegiatan memulai pelajaran

2.

Kegiatan mengurusi pembelajaran

3.

Kegiatan mengorganisasi waktu

4.

Kegiatan melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar

5.

Kegiatan mengakhiri pelajaran

Secara singkat, peran guru dalam kegiatan pembelajaran ialah laksana perencana, pengatur, penilai, dan penyuluh.


B.  Implementasi KBK Menerobos Pembelajaran Terpadu

Faktor mengajar yang perlu diperhatikan seharusnya proses penataran efektif:

1)

Kesempatan untuk belajar

2)

Takrif awal siswa

5)

Keberbagaian bani adam

6)

Kemandirian dan kerja sama

7)

Suasana yang kondusif

8)

Belajar bikin kesetiakawanan

9)

Murid andai pembina gagasan

12)

Interaksi dan komunikasi

13)

Membiasakan kaidah belajar

Pembelajaran terpadu (integrated learning) menitikberatkan pada wahdah konsep sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk berekspansi kreatifitas privat menemukan keterkaitan antara sasaran membiasakan. Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa menemukan sendiri suatu konsep dan pendirian secara holistic, bermakna, dan otentik.

Tiga tipe pembelajaran terpadu yang terdiri mulai sejak 10 model (Fogarty, 1991:5):

1)

Tipe penataran terpadu  dalam satu kepatuhan ilmu(fragmented, connected, nested)

2)

Jenis pembelajaran terpadu antardisiplin guna-guna(sequenced, shared, webbed, threaded, integrated)

3)

Tipe pengajian pengkajian terpadu  beralaskan faktor pengelaman dan pengetahuan petatar(networked)

Arketipe pengajian pengkajian terpadu dapat diterapkan dalam pelaksanaan KBK. Konsep pendedahan terpadu membantu mengembangkan potensi siswa didik secara keseluruhan, sesuai dengan talenta dan kemampuannya bagi tumbuh menjadi warga negara yang berkewajiban dan dapat dipercaya.

Source: https://eko-sg.blogspot.com/2016/10/resume-pdgk-4502-pengembangan-kurikulum_5.html

Posted by: skycrepers.com