Karakteristik Pembelajaran Ips Di Sd Kelas Tinggi

(1)

BAHAN PERKULIAHAN

PENDIDIKAN IPS SD Kelas bawah Strata

OLEH:

TEAM DOSEN

PENDIDIKAN Suhu SEKOLAH DASAR

FAKULTAS Pedagogi

(2)

Kata PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat-Nya kami kesudahannya dapat menyusun muslihat kumpulan materi Pendidikan IPS SD kelas strata, sehingga menjadi buku pegangan bagi mahasiswa.

Tentang materi yang dibahas dalam pusat ini telah disesuaikan dengan garis- garis ki akbar program indoktrinasi mata pidato Pendidikan IPS SD kelas bawah tinggi yang diberikan diprogram PGSD S1. Pokok ini diharapkan dapat kondusif para mahasiswa privat memahami materi-materi nan terdapat dalam Pengajian pengkajian Pendidikan IPS SD kelas tahapan, sehingga nantinya boleh membantu para mahasiswa bakal mengajarkan materi IPS di SD.

Kami menyadari masih banyak kekurangan rahasia ini baik kedalaman materi maupun teknis penyusunannya. Oleh sebab itu kami mengakui gugatan maupun saran guna penyempurnaan buku ini untuk selanjutnya.

Kepada semua pihak nan berpartisipasi dalam merumuskan bahan ajar ini, kami menyampaikan rasa terima anugerah dan penghargaan yang sejajar- tingginya.

Penyelenggara

(3)

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I

KARAKTERISTIK, PERISTIWA, FAKTA, KONSEP DAN Penyamarataan ILMU-Aji-aji SOSIAL Privat KURIKULUM IPS SD… … 1

A. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN IPS SD Kelas bawah TINGGI 1

B. PERISTIWA 4

C. FAKTA 5

D. KONSEP 7

E. Rampatan 8

BAB II

ISU – ISU DAN Kebobrokan SOSIAL BUDAYA Privat PENGAJARAN IPS SD 15

A. Kesejagatan 16

B. KERAGAMAN BUDAYA 17

C. GLOBALISASI DAN Pluralitas BUDAYA DI INDONESIA 19

D. PEMBELAJARAN IPS Internal ERA GLOBALISASI DAN KERAGAMAN

BUDAYA … … 21 LATIHAN … … 24

Bab III

PENDEKATAN -PENDEKATAN N domestik PEMBELAJARAN IPS SD 25

A. PENDEKAKATAN Psikologis 25

B. PENDEKATAN SOSIAL, PERSONAL DAN PERILAKU Kerumahtanggaan

PEMBELAJARAN IPS SD 37

Kursus 47

Portal IV

MERANCANG DAN MENERAPKAN PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN IPS SD Nan BERLANDASKAN PENDEKATAN Serebral … … 48

A. PENGERTIAN PENDEKATAN Serebral … … 48

B. Mandu MERANCANG Pengusahaan METODE Penelaahan IPS SD

YANG BERLANDASKAN PENDEKATAN KOGNITIF 48

C. MENERAPKAN PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN IPS SD Nan

BERLANDASKAN PENDEKATAN Kognitif 50

(4)

ii
BAB V

MERANCANG DAN MENERAPKAN Eksploitasi METODE Penataran IPS

SD Nan BERLANDASKAN PENDEKATAN SOSIAL 52

A. Konotasi PENDEKATAN SOSIAL 52

B. MENERAPKAN PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN IPS DI SD YANG

BERLANDASKAN PENDEKATAN SOSIAL 54

Latihan 57

BAB VI

Merancang DAN MENERAPKAN Pendayagunaan METODE Penataran IPS

SD YANG Berlandaskan PENDEKATAN PERSONAL 58

A. PENGERTIAN PENDEKATAN PERSONAL 58

B. Pendirian MERANCANG PENGGUNAAN METODE Penataran Yang

BERDASARKAN PENDEKATAN PERSONAL 59

C. MENERAPKAN Pengusahaan METODE PEMBELAJARAN IPS SD YANG

Berlandaskan PENDEKATAN MODIFIKASI PERSONAL 61

Latihan … … 64

Portal VII

MERANCANG DAN MENERAPKAN PENGGUNEAN METODE PEMBELAJARAN IPS

SD YANG Berdasarkan PENDEKATAN EKSPOSITORI 65

A. Signifikansi PENDEKATAN EKSPOSITORI 65

B. Pendirian Merancang Eksploitasi METODE Penelaahan IPS DI SD

YANG BERLANDASKAN PENDEKATAN EKSPOSITORI 66

C. MENERAPKAN PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN IPS SD Yang

Bersendikan PENDEKATAN EKSPOSITORI 67

Tutorial 69

Gapura VIII

Mereka cipta DAN MENERAPKAN Komplet Penelaahan IPS TERPADU

DENGAN MENGGUNAKAN PEDEKATAN PEMECAHAN Ki kesulitan 70

A.MERANCANG Kamil Penelaahan IPS TERPADU DENGAN

MENGGUNAKAN PENDEKATAN PEMECAHAN Problem 71

B.MENERAPKAN MODEL Penerimaan IPS TERPADU DENGAN

MENGGUNAKAN PENDEKATAN Pemecahan MASALAH 76

(5)

iii
BAB IX

MERANCANG DAN MENERAPKAN Lengkap Penerimaan IPS TREPADU

DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN HUMANISTIK 81

A. PENGERTIAN PENDEKATAN HUMANISTIK 81

B. MERANCANG Abstrak PEMBELAJARAN IPS TERPADU DENGAN

Memperalat PENDEKATAN HUMANISTIK 81

C. MENERAPKAN Contoh Pendedahan IPS TERPADU DENGAN

MENGGUNAKAN PENDEKATAN HUMANISTIK 82

LATIHAN 83

BAB X

Merancang DAN MENERAPKAN MODEL Penerimaan IPS TERPADU

DENGAN Menunggangi PENDEKATAN WILAYAH 84

A. Signifikansi PENDEKATAN WILAYAH 84

B. MERANCANG MODEL PEMBELAJARAN IPS TERPADU DENGAN

Memperalat PENDEKATAN Kewedanan 85

C. MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN IPS TERPADU DENGAN

PENDEKATAN WILAYAH 85

LATIHAN 87

BAB XI

Merancang DAN MENYUSUN Instrumen EVALUASI SECARA UMUM DALAM

PROSES BELAJAR IPS DI SD 88

A. Konotasi EVALUASI 88

Les 94

BAB XII

Menciptaan DAN Merumuskan Perlengkapan EVALUASI DAN SIKAP SOSIAL

A. Signifikasi Biji DAN SIKAP SOSIAL 96

B. Menyusun Perkakas EVALUASI NILAI DAN SIKAP SOSIAL 98

LATIHAN 99

BAB XIII

Merancang DAN MENYUSUN Perangkat EVAUASI Kecekatan IPS 100

A. Pengertian Kelincahan IPS 100

B. CARA Merancang EVALUASI KETERAMPILAN IPS 104

(6)

– 1 –

BAB I.

KARAKTERISTIK, Hal, FAKTA, KONSEP DAN

Penyamarataan ILMU-Aji-aji SOSIAL Intern KURIKULUM IPS SD.

A.
KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN IPS SD KELAS Hierarki

Apabila kita perhatikan dengan teliti dan ekonomis bahwa inti proses penelaahan siswa inferior tinggi ( kelas IV, V, dan VI) di Sekolah Dasar (SD) adalah merupakan suatu proses penelaahan yang dilaksanakan secara sensibel dan sistematis untuk membelajarkan tentang
konsep

dan
generalisasi
sehingga penerapannya ( tanggulang soal, menggabungkan, menghubungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan menjatah) boleh dilaksanakan maka dari itu siswa kelas hierarki Sekolah Dasar (SD).

Dalam proses pembelajaran di kelas bawah janjang Sekolah Pangkal (SD) dapat digunakan dan dilakukan berbagai strategi dan metode mengajar. Metode mengajar yang dapat digunakan dan dilaksanakan guru kerumahtanggaan proses penelaahan kepada pesuluh kelas tinggi di Sekolah Dasar yakni sebagai berikut : 1) ceramah, 2) tanya jawab, 3) diskusi, 4) simulasi dan bermain peran, 5) pemecahan keburukan, 6) karya wisata, 7) pengutusan, 8) proyek, 9) penyelidikan kasus, 10) proyek, 11) observasi dan pengamatan, 12) studi kasus.

(7)

– 2 –

dan sebagai model dalam menargetkan metode dan garis haluan mengajar yang akan dilakukannya di papan bawah tinggi di Sekolah Dasar (SD). Di bahwa ini ada beberapa metode mengajar dan kemampuan yang dicapai sesuai dengan penanda pada proses pembelajaran IPS kelas strata Sekolah Dasar (SD).

No

Jenis Metode

Kmampuan Nan Dapat Dicapai

Sesuai Parameter

1 Simulasi Menjelaskan/ menerapkan/

menganalisis satu konsep da prinsip

2 Penceraian Masalah Menjelaskan/ menerapkan/

menganalisis konsep ataupun prosedur tertentu.

3 Studi Kasus Menganalisis dan memecahkan

masalah

4 Berperan Peran Menerapkan suatu konsep/ prosedur

yang harus dilakoni.

5 Penugasan Berbuat sesuatu tugas

6 Karya Pariwisata Penyajian di luar inferior ke mangsa

materi.

7 Proyek Mengamalkan sesuatu/ menyusun manifesto.

Pemilihan metode penataran oleh hawa dan calon master lega proses penerimaan materi IPS atau pada materi pembelajaran IPS yang lain perlu mempertimbangkan jumlah siswa, alat, fasilitas, biaya, dan masa.

Pada

(8)

– 3 –

operasional formal. Artinya, suatu perkembangan kognitif yang menunjukkan bahwa siswa sudah memiliki kemampuan berpikir tingkatan atau bepikir ilmiah. Dengan demikian siswa papan bawah V dan VI pembelajaran kepadanya sudah dapat menggunakan pendekatan ilmiah.

Pengembangan sikap ilmiah pada siswa kelas jenjang di Sekolah Dasar (SD) dapat dilakukan dengan mandu menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa gagah berargumentasi dan mengajukan pertnyaan- pertanyaan, mendorong siswa supaya memiliki rasa kepingin mengetahui, n kepunyaan tingkah larap dan sikap jujur terhadap dirinya koteng dan orang tidak.

Puas proses penataran IPS kelas bawah pangkat di Sekolah Bawah (SD) sepatutnya ada menyabung siswa sreg konsep dan abstraksi, sehingga penerapannya yaitu meliputi penuntasan tugas-tugas, menggabungkan, menggerutu, merujukkan, menyusun, mendesain, mengekspresikan, menderetkan, menafsirkan, memprediksi, memendekkan, dan mengumpulkan data. Demikian sekali lagi halnya dengan peluasan sikap ilmiah, maka dalam proses pendedahan IPS diupayakan agar petatar mampu melakukan pemecahan masalah menerobos kerja saintifik, menghasilkan teknologi bermanfaat yang ramah lingkungan, serta melakukan kreatifitas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Suhu dapat meningkatkan sikap ilmiah dengan mengkritik silih keterkaitan antar sains, teknologi, lingkungan, dan masyarakat nan produktif dan ekonomis.

Kejadian- hal berikut ini merupakan pola kegiatan berlatih yang bisa dilakukan di dalam penataran IPS kepada pesuluh kelas tangga di Sekolah Pangkal (SD), yakni:

1) Mendeskripsikan kebiasaan-aturan nan main-main dilingkungan keluarga; 2) Mendiskripsikan pertuturan ataupun alur dalam mileu keluarga; 3) Membandingkan kelompok-kelompok sosial yang suka-suka di masyarakat; 4) Mengamalkan diskusi kerubungan tentang terjadinya jual beli;

5) Menafsirkan pusaka- warisan sejarah;

(9)

– 4 –

7) Mendeskrifsikan pemakaian perigi anak kunci bendera yang dapat diperbaharui dengan perigi daya kalimantang nan tidak boleh diperbaharui;

8) Memahami memori kebangkitan nasional, sejarah perjuangan bangsa intern mencecah kemerdekaan dan perbantahan mempertahankan kedaulatan; 9) Melakukan diskusi adapun makna sistem perekonomian koperasi bagi

usia gerombolan di mahajana;

10)Memvisualkan denah lingkungan panggung tinggal peserta dan lingkungan sekolah dan bukan-tak.

Sesuai dengan penjelasan di atas tergambarlah bahwa pembelajaran IPS kepada peserta kelas pangkat di Sekolah Sumber akar (SD) banyak menggunakan pembelajaran yang berbasis masalah, memperalat pendekatan konstruktivis, mengamalkan aktivitas menyelidiki, meneliti, dan membandingkan, di samping masih tetap menunggangi metode-metode mengajar seperti: orasi, tanya jawab, dan sawala.

Jadi Karakteristik penelaahan IPS kelas bawah tinggi di Sekolah Dasar (SD) adalah menuntut tingginya aktivitas petatar, kemampuan siswa dalam melaksanakan kegiatan penerimaan seperti melakukan proses penyelidikan, melakukan pemecahan kebobrokan dan sebagainya; maka suhu harus mengarahkan siswa
untuk mempunyai sikap ilmiah.
Hal inilah nan menyebabkan guru IPS itu kaya akan pengalaman dan kemampuan mengajar serta mampu mengarahkan belajar siswa agar bisa dicapai secara efektif menerobos pengajian pengkajian di Sekolah Asal (SD).

B.
Keadaan

(10)

– 5 –

Peristiwa atau kejadian ada yang bersifat alamiah, seperti mana bukit menyalak, banjir, tsunami, gempa bumi, gerhana rawi, dan sebagainya. Juga terletak peristiwa yang berkepribadian insaniah, merupakan peristiwa yang berkaitan dengan aktivitas umat anak adam, seperti mana pembangunan keretek, skandal kecurangan, pemilu, kemelut finansial, inflasi, perbaikan dan sebagainya.

Sungguhpun keadaan merupakan suatu kejadian yang sungguh-sungguh dan pernah terjadi, tetapi masih perlu dibuktikan kebenarannya. Hal ini dikarenakan peristiwa lazimnya sudah menjadi ki kenangan, yakni kejadian yang telah terjadi di masa suntuk. Peristiwa yang sudah lalu diuji kebenarannya itulah nan disebut fakta.

Sebagai guru perlu kiranya mencari upaya untuk lebih mengklarifikasi pengertian peristiwa ini dengan cara terlambat kepada anak didik kita yang masih di balai-balai sekolah tingkat SD, misalnya dengan memberikan pertanyaan kepada siswa, seperti berikut ini :

1. Coba kamu sebutkan kejadian yang terjadi di rumahmu sreg periode semalam? 2. Siapakah yang menonton acara televisi plong hari kemarin, cak semau berita kejadian

apa kaisar?

3. Untuk anak junjungan-suami, perian berapakah disunat?

4. Ceritakan pengalamanmu ketika masa liburan sekolah, ada hal segala apa saja? 5. Apakah tugas anda dirumah?

6. Dan seterusnya.

C.
FAKTA

Secara harfiah kata “Fakta” berarti sesuatu yang telah diketahui atau telah terjadi etis, suka-suka. Boleh juga diartikan bahwa itu adalah sesuatu yang dipercaya atau apa nan ter-hormat dan merupakan kenyataan, realitas nan sungguhan, bermoral dan juga merupakan kenyataan yang nyata.

(11)

– 6 –

ialah hasil observasi yang boleh dibuktikan secara empiris karena itu resan fakta tidak hasil perolehan secara acak, memiliki relevansi dan berkaitan dengan teori. Perkembangan ilmu laporan, kaprikornus kembali perkembangan Penajaman Sosial, terjadi karena adanya interaksi antara fakta dan teori. Fakta dapat menyebabkan lahirnya teori baru, fakta pun dapat merupakan alasan untuk menolak teori mentah, fakta kembali dapat mendorong untuk mempertajam rumusan teori yang telah suka-suka. Di pihak lain, teori dapat membatasi fakta internal buram mengarahkan penekanan, teori merangkum fakta dalam kerangka penyamarataan dan prinsip-cara moga fakta kian mudah boleh dipahami. Bahkan kian jauh dari itu, teori dapat menujum fakta – fakta nan akan terjadi berdasarkan prediksi keilmuan.

Menurut Banks (1985:81) fakta merupakan pernyataan positif dan rumusannya sederhana. Fakta juga adalah data actual, contohnya berikut ini: 1. Jakarta ialah ibu kota Negara Republik Indonesia;

2. Jarak antara kota A ke B ialah 150 Km; 3. Marcapada bergerak mengelilingi syamsu.

Cak semau kalanya guru wajib mencari upaya bagi lebih menjelaskan signifikasi fakta ini dengan cara tertinggal, misalnya dengan memberikan pertanyaan kepada siswa :

1. Coba kamu hitung berapa jumlah murid inferior yang hadir perian ini! 2. Siapakah nama Pemimpin Sekolah kita?

3. Cak semau berapa ruangan belajar yang dimiliki sekolah ini?

4. Coba perhatikan keadaan cuaca di luar, bagaimana keadaannya? 5. Apakah tugas beliau dirumah?

6. Dan seterusnya.

Jawaban-jawaban petatar itu merupakan fakta. Misalnya, berikut ini : 1. Murid yang hadir sekarang ini ada 31 orang.

(12)

– 7 –

5. Tugas saya di kondominium adalah kontributif ibu, antara tidak membersihkan rumah, menyapu halaman.

Anak-anak mengingat-ingat bahwa fakta itu amat banyak, tak terhitung jumlahnya. Terserah factor berupa data – data, misalnya situasi penduduk di sebuah desa, suka-suka fakta yang tampak seperti keadaannya, misalnya kondisi jalan, kondisi bangunan, dan sebagainya. Ada juga fakta misal hasil pengamatan secara lebih khusus, misalnya mengenai pendapatan rata-rata penduduk sebuah kampung, mata pencaharian desa Ialah dan seterusnya.

Namun demikian, perlu disadari bahwa fakta bukan tujuan akhir dari pengajaran IPS. Pengumuman yang saja bertumpu kepada fakta akan suntuk terbatas sebab:

1. Kemampuan kita bakal menghafal sangat sedikit;

2. Fakta itu dapat berubah lega berpadanan perian, misalnya adapun perubahan iklim satu kota, pergantian rang pemerintahan dan sebagainya;

3. Fakta saja berkenaan dengan situasi khusus.

D.
KONSEP

Konsep adalah suatu istilah, pengungkapan khayali nan digunakan bagi intensi mengklasifikasikan ataupun mengkategorikan satu gerombolan dari suatu (benda), gagasan atau hal. Misalnya, kita katakana binatang klasifikasi berasal keberagaman-tipe makhluk yang disebutkan di atas. Jika kita sebutkan kata “anak bini” maka ke dalam konsep keluarga itu tercatat bapak, ibu, anak-anak asuh, saudara, dan sebagainya.

(13)

– 8 –

yang semakin abstrak sifatnya atau figuratif. Misalnya, mereka belajar akan halnya konsep tanggungan. Di kelas tataran mungkin menggunakan diagram, dengan menggunakan bermacam symbol bagi mempolakan keluarga dalam kaitan yang lebih luas.

Sudah dikemukakan di atas bahwa mewujudkan konsep pada diri anak tidaklah mudah. Kejadian itu disebabkan bahwa untuk menjejak maksud tersebut diperlukan kemampuan memilih gerombolan yang diobservasi berlandaskan satu ataupun makin karakteristik masyarakat, kiranya boleh mengabstraksikan dan membuat generalisasi. Dengan singkat dapat disimpulkan bahwa konseptualisasi adalah proses mengkategorisasikan, dan memberi nama pada sekelompok alamat.

E.
Generalisasi

Dan rancangan nikah antar kejadian, fakta, konsep dan generalisasi dapat disimpulkan, bahwa konsep menambat fakta-fakta, dan generalisasi menghubungkan bilang konsep. Dengan gayutan itu terbentuklah arketipe pertautan yang punya makna, yang melukiskan hasil pemikiran nan lebih tinggi. Hasil pemikiran tersebut bisa yakni kemungkinan yang akan terjadi ataupun kepastian.

Kita boleh menjumut beberapa penali tentang generalisasi seandainya diperbandingkan dengan konsep, yaitu berikut ini:

1. Penyamarataan yakni prinsip-prinsip alias rules (aturan) nan dinyatakan dalam kalimat enggak di dalam kalimat yang sempurna;

2. Generalisasi punya dalil, konsep bukan;

3. Generalisasi adalah objektif dan impersonal, sedangkan konsep subjektif dan personal (berbeda antara seseorang dan lainnya);

(14)

– 9 –

Seperti mutakadim dia pahami setiap disiplin ilmu memiliki fakta, konsep dan generalisasi nan menggunakan pendekatan multidisipliner dan memanfaatkan konsep-konsep disiplin lainnya dalam ilmu sosial.

Perlu anda ketahui pula bahwa denotasi rampatan dalam sejarah farik dengan generalisasi n domestik kepatuhan mantra social lainnya. Maka itu karena sifatnya yang singularis yang menunjukkan bawah peristiwa sejarah itu tidak terulang lagi
(einmahlig) maka generalisasi dalam rekaman suka-suka juga kebolehjadian

kelewahan, kerumahtanggaan arti bahwa yang iteratif itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan kamil perilaku basyar yang mendatangi skor, system social, kebutuhan ekonomi, tendensi psikologis, dan selanjutnya (Rochiati 2006:6).

Makara, nan terjadi adalah kecenderungan terjadi “perulangan” tersebut maka dapatlah dikemukakan semacam penyamarataan privat sejarah. Dengan mengacu kepada Jarolimec (1986:29) Rochiati mengedepankan adanya catur spesies generalisasi yang diperlukan dalam kajian sejarah privat IPS, yaitu generalisasi deskripsi, sebab akibat, sempurna nilai dan prinsip mondial.

Contohnya adalah berikut ini:

a. Pada umumnya muslihat-pusat kerajaan terwalak di tepi sungai (generalisasi deskriptif);

b. Di internal distribusi, apabila golongan ekstrem bertelur merebut kekuasaan maka akan berlanjut pementahan terror (generalisasi sebab akibat); c. Kanjeng sultan adil raja disembah, emir lalim raja disanggah (pukul rata paradigma biji).; d. Produktivitas sebuah bangsa lakukan memodelisasikan diri tergantung lega potensi

sumber daya alamnya, kualitas manusianya dan orientasi nilai para pelaku sejarahnya (generalisasi mandu mendunia).

(15)

– 10 –

Kita telah menggunjingkan penjelasan tentang signifikansi peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi serta perkariban antara keempatnya. Diharapkan kognisi dia semakin makin luas sehingga memperoleh pengertian yang kian jelas. Di atas juga telah dikemukakan beberapa transendental adapun situasi, fakta, konsep dan genetalisasi yang berdasarkan konsep dasar tersebut.

Seperti mana sudah lalu dikemukakan diatas, tugas hawa adalah berekspansi pengertian konsep dan abstraksi ini bersamaan dengan itu juga meluaskan kemampuannya untuk mengenal konsep-konsep esensial dan konsep-konsep lainnya danjuga untuk berekspansi kemampuan merumuskan generalisasi sesuai dengan kemampuan berpikir pesuluh.

Marilah kita mencoba mengidentifikasi situasi, fakta, konsep dan penyamarataan aji-aji-ilmu social internal kurikulum IPS SD 2006 untuk kelas bawah 4,5 dan 6. Sudah lalu produk tentu tidak mungkin semua fakta, konsep dan generalisasi nan terkandung dalam kurikulum tersebut diungkapkan disini. Peristiwa, fakta, konsep dan rampatan dimaksud amat banyak jumlahnya.

Kembali lega pertanyaan kita di atas bahwa pijakan terdepan kegiatan belajar mengajar adalah Kurikulum IPS SD 2006 maka seyogianyalah kita perlu mengidentifikasi berbagai situasi dan fakta-fakta ini dalam peranakan kurikulum tersebut.

Bagaimanakah kita memilih situasi dan fakta?

Memang sulit menentukan kriteria esensial-nya sebuah peristiwa dan fakta. Mana hal dan fakta nan paling menurut siswa barangkali berbeda dengan pandangan temperatur maupun lebih lagi pandangan ahlinya. Bagi guru mungkin pertimbangan psikologis maupun logika mengenai pentingnya sebuah peristiwa dan fakta dapat diterima.

(16)

– 11 –

pemahaman yang komprehensif tentang rencana berfikir IPS, sebaiknya kita memilih kaidah yang teratur untuk menerjemahkan apa yang terjadi di dunia kita ini, di n domestik vitalitas manusia ini.

Dengan pemahaman tersebut kita dapat memaklumi bagaimana basyar berinteraksi secara social, ekonomi, politik dan sesamanya. Bagaimana orang berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Tujuan akademisnya berkenaan dengan kenaikan pemahaman kita akan halnya dunia kita.

Demikianlah, konsep diciptakan manusia untuk memenuhi keperluan-keperluan dalam hidupnya internal menyodorkan apa yang dipikirkannya. Oleh sebab itu, dan lingkungan umur. Bagi lebih menjelaskan pengertian mengenai konsep, berikut ini dikemukakan sejumlah sifatnya:

1. Konsep itu bersifat abstrak. Ia merupakan gambaran mental tentang benda, peristiwa atau kegiatan, misalnya kita mendengarkan kata “kelompok”, kita bisa mengandaikan barang apa kelompok itu, bukan?

2. Konsep itu adalah “kumpulan” dari benda-benda nan mempunyai karakteristik atau kualitas secara umum.

3. Konsep itu berkepribadian personal, pemahaman orang tentang konsep “kelompok”, misalnya barangkali berbeda dengan kognisi orang lain.

4. Konsep dipelajari melalui pengalaman, dengan belajar.Konsep bukan persoalan maslahat kata, sebagaimana di dalam kamus. Kamus mempunyai makna tak yang bertambah luas.

Dalam konsep ada makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif berkenaan kurnia kata, sama dengan plong kamus, misalnya arti kata arus adalah peralihan cepat dalam hal prosedur, adat, gambar dan seterusnuya. Revolusi sekali lagi mempunyai makna konotatif, antara lain berikut ini:

 Makna revolusi merangkum makna denotatif.

 Revolusi tidak seperti sambutan, melainkan situasi yang penting yang telah direncanakan dan diatur secara betapa-sungguh.

(17)

– 12 –

 Distribusi pula berjasa menumpu segala sesuatu, apakah itu makhluk rangka, lebih lanjut enggak hanya condong hanya sekali lagi melawan dengan kekuatan.

Inilah arti revolusi kerumahtanggaan denotasi konsep. Siswa harus memahami makna konsep ini. Internal perkembangan lebih lanjut para siswa akan punya kesadaran yang benar tentang arti konsep dalam revolusi
republic, cabinet
dan seterusnya.

Sekiranya mereka lain memperoleh amanat yang bermartabat tentang makna yang terkandung di dalam konsep – konsep tersebut, mereka akan menjatah arti secara menggelikkan. Teoretis lain, misalnya konsep
Perang Dingin apakah perang itu

perang di daerah Padanan Utara? (Womarck 1970 : 32).

Pencekokan pendoktrinan konsep di sekolah sesungguhnya dalam rang memahami makna konotatif karena itu pencekokan pendoktrinan konsep harus:

 Diberikan dalam sesuatu konteks tidak diterangkan tanpa ada gancu dengan sesuatu, sama dengan kita menjelaskan arti dan sesuatu istilah atau pembukaan.

 Siswa harus diberi kesempatan bagi sampai kepada pengertiannya seorang tentang sesuatu konsep, tentunya dengan bimbingan guru. Misalnya, guru menyuruh mereka mendekripsikan sendiri.

 Siswa harus membacanya sendiri, mendengarkan penjelasan dan segera menuliskan makna konsep setelah diperkenalkan.

Puas siswa papan bawah 4,5 dan 6, biasanya mereka sudah dapat menentukan klasifikasi berdasarkan pemikiran makul. Misalnya, turunan yang berpakaian seragam baru adalah tentara, yang tidak berseragam seperti itu enggak tentara.

Kemampuan mengelompokkan sesuatu dari anak-anak SD puas umumnya berkembang bertahap perumpamaan berikut:

a. Mereka bisa mengklasifikasikan benda beralaskan pengalaman langsung (operasi normal).

(18)

– 13 –

c. Pada perkembangan berikutnya mereka sudah bisa mengerjakan klasifikasi, dan menyadari bahwa sesuatu itu bisa diklasifikasikan pada kelompok yang berbeda.

Internal sparing konsep selain
Klasifikasi, cak semau tahap asimilasi dan

fasilitas. Siswa akan menjalin makna sesuatu konsep kalau di dalam dirinya mutakadim ada “mental map” sehingga sesuatu konsep (nan dianggap sebagai sesuatu yang baru) dapat ditangkap maknanya dan ini merupakan tahap asimilasi. Adakalanya siswa menghadapi sesuatu konsep, darurat puas dirinya belum ada “mental map” tersebut. Seakan akan pada dirinya belum ada “kapstok” bakal “menyangkutkan” konsep baru tersebut, inilah tahap akomodasi. Tahap inilah nan berguna internal berlatih konsep.

Perlu disadari pula bahwa internal kenyataannya, tahap pemilikan respirasi siswa tidaklah setinggi. Pernapasan plong seseorang belum tentu juga asimilasi bagi nan lainnya. Hal inilah yang teristiadat diketahui guru, berlandaskan pengetahuannya itu guru dapat mengasihkan pengertian konsep tersebut kepada seluruh petatar.

Demikianlah bilang tambahan amanat tentang konsep. Bagaimanakah halnya dengan generalisasi?

Rampatan diantaranya berikut ini:

1. Plural hubungan antara negara terjadi karena adanya hubungan jual beli, pelayanan, dan gagasan – gagasan;

2. Kondisi alamiah tentu cenderung membuat kerumunan terisolasi sampai adanya pengembangan teknologi yang bisa memecahkan barrier itu.

Demikianlah bilang peristiwa, fakta, konsep serta rampatan nan dapat diungkapkan disini dari topic-topik tersebut diatas, pengungkapan itu hanya sebagai abstrak latihan, lakukan seterusnya harus dikembangkan oleh anda sendiri sesuai dengan tugas anda di alun-alun.

Untuk memperdalam kognisi dia mengenai materi diatas, kerjakanlah pelajaran berikut:

(19)

– 14 –

 Anda membentuk keramaian menjadi 6 kelompok

 Tugas kelompok

Mengembangkan pokok-pokok materi untuk tiap topic dalam kurikulum IPS SD 2006 khususnya kelas 4,5 dan 6 nan tersebar dalam tiap semester, sebagai berikut dengan pendekatan struktur kejadian-fakta-konsep rampatan sehingga tercermin kaitannya:

Kelompok 1 : Semester 1 Kelas 4 Kelompok 2 : Semester 2 Papan bawah 4 Kelompok 3 : Semester 1 Kelas 5 Kelompok 4 : Semester 2 Inferior 5 Kerumunan 5 : Semester 1 Kelas 6 Kelompok 6 : Semester 2 Papan bawah 6

1. Diharapkan Peristiwa, fakta, konsep-konsep yang anda kembangkan adalah hasil pemikiran engkau dengan mengacu kepada buku sumber serta sumber-sumber lainnya.

(20)

– 15 –

BAB II.

ISU – ISU DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA DALAM PENGAJARAN

IPS SD

Sreg pintu ini akan dibahas hal-hal yang berkenaan dengan isu dan masalah sosial budaya dalam pengajaran IPS. Didalamnya akan dibicarakan secara distingtif adapun Trend Globalisasi, masalah-penyakit sosial yang timbul berpokok pluralitas budaya terhadap penerimaan IPS, juga akan dibahas situasi-kejadian yang berkenaan dengan problem-kelainan lingkungan, hukum, keterkaitan, kesadaran huk`um dan pendidikan pemahaman hukum warga negara.

Dengan mempelajari isi gerbang ini diharapkan sira memiliki kemampuan dapat:

1. Menjelaskan

trend globalisasi beserta pengaruhnya terhadap pendedahan

IPS;

2. Mengidentifikasi ki aib-komplikasi sosial yang ketimbul bermula heterogenitas budaya;

3. Mengidentifikasi komplikasi-masalah lingkungan dan pendidikan lingkungan 4. Mengidentifikasi penyakit-keburukan hukum dan ketertiban;

5. Mengidentifikasi masalah-masalah kesadaran syariat dan pendidikan kesadaran hukum.

Kemampuan tersebut sangat terdepan dimiliki oleh seorang guru dalam menyajikan pendidikan IPS di kelas bawah. Hendaknya Dia akan tampil kian percaya diri dengan dilandasi kemampuan nan mendukungnya.

Murid-pelajar Anda akan lebih merasa pada belajar dalam bimbingan Anda sehingga Anda dapat mengantarkan suasana belajar di kelas intern korespondensi interaksi antara Dia dengan petatar-petatar Anda lebih baik lagi. Suasana inferior akan lebih hayat dan menyenangkan.

(21)

– 16 –

A.
Globalisasi

Globalisasi inti katanya adalah
global, yang artinya bumi atau dunia.




Globalisasi

artinya suatu hal maupun kondisi dimana isu dan

masalah-masalah yang suka-suka menyangkut berbagai rupa bangsa dan negara alias bahkan seluruh mayapada. Pengertian lain boleh berusul dari kata global nan bermakna keseluruhan.

Menurut Tye dalam bukunya
Global Education Form Thought to

Action, pemahaman terhadap globalisasi merupakan proses berlatih mengenai

masalah-masalah dan isu-isu yang melintasi senggat-batas negara (nation) dan akan halnya sistem keterhubungan dalam lingkungan, budaya, ekonomi, garis haluan, dan teknologi. Di samping itu, bakal dapat memahami lebih mendalam diperlukan plural perspektif atau sudut pandang dan pendekatan terhadap kenyataan bahwa tentatif para orang dan kelompok-kelompok memiliki pandangan hidup yang berbeda, tetapi mereka juga memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan yang setinggi (Skeel, 1995:136).

Kelainan-masalah dan isu-isu tak selalu menjadi pikulan jawab suatu bangsa bagaikan dampak berpangkal adanya perpautan saling kecanduan, tetapi menjadi pikulan jawab bersama sebagai individu penghuni planet yang sama, yaitu Bumi. Setiap khalayak berpokok segala apa nasion harus dapat bertanggung jawab atas keberlangsungan roh di muka bumi ini.
Anderson

mengatakan bahwa tidak ada satu pun negara di dunia yang fertil memerosokkan bahkan menghindari globalisasi, tidak cak semau pilihan lain, kecuali mengimbangkan diri dengan langkah mengerjakan perubahan.

(22)

– 17 –

Kognisi terhadap kesejagatan merupakan suatu proses pendirian memandang dunia dengan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Pemahaman tersebut menurut King dan kongsi-kawan harus mengandung hal-hal berikut:

1. Denotasi terhadap marcapada beserta manusia sebagai bagian dari jaringan nan memiliki keterkaitan;

2. Kepedulian bahwa terdapat pilihan-pilihan nan bersifat individu, kebangsaan atau universal. Namun demikian, keputusan nan diambil haruslah demi tatanan dunia yang kian baik di perian mendatang;

3. Mengamini bahwa bangsa-nasion bukan memiliki pandangan-rukyat yang berbeda dan mungkin makin senang pada pilihan-pilihan nan enggak.

Pendidikan universal adalah pelecok satu alat angkut agar siswa mengerti bahwa mereka adalah adegan berasal masyarakat bumi, sekalipun demikian enggak bermanfaat harus mengubah dirinya sebagai pemukim dari sebuah bangsa. Demikian pula sebaliknya, sebagai warga negara nan baik seharusnya boleh menjadi warga dunia yang baik.

Pendidikan global mengepas kian banyak mengangkat persamaan tinimbang perbedaan-perbedaan yang dimiliki maka dari itu berbagai bangsa. Di samping itu, berusaha menerimakan pendalaman untuk berpikir dalam-dalam adapun kesetiaan kepada manjapada tempat kita semua hidup dan enggak hanya berpikir adapun negerinya sendiri, terutama berkenaan dengan masalah-masalah dan isu-isu nan berpunya melangkaui sempadan-takat negara.

B.
KERAGAMAN BUDAYA

(23)

– 18 –

suatu masyarakat memiliki lebih dari satu instrumen gagasan, tindakan, dan hasil karya. (Koentjaraningrat 1980).

Triandis,


dikutip


maka itu Skeel, membedakan antara objek budaya dan

subjek budaya. Sasaran budaya

meliputi hal-hal yang dapat dilihat oleh mata, sebagaimana makanan, upacara (peralatannya), tentatif subjek budaya menghampari gagasan, tindakan, nilai-ponten sikap, rasam, dan asisten dimana semuanya hanya bisa diketahui keberadaannya dengan menggunakan rasa dan pikiran.

Dalam masyarakat nan memiliki keanekaragaman budaya ketimbul berbagai masalah dan isu di antaranya adalah
difusi, prasangka dan

etnocentrism
(berputra kesenioran dan inferioritas).Dua hal yang terakhir sepantasnya bertambah bersifat putaran yang tak terpisahkan dari proses pembauran (pernapasan).

Menurut Koentjaraningrat pembauran ialah proses sosial nan keluih apabila terserah hal-keadaan berikut ini:

1. Golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda;

2. Ganti berbual mesra secara intensif untuk waktu yang lama;

3. Kebudayaan- kebudayaan golongan tadi saban berubah sifatnya yan unik dan juga unsur-unsurnya berubah wujud menjadi unsur-molekul kebudayaan senyawa.



Biasanya golongan-golongan nan tersangkut dalam proses asimilasi merupakan suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Privat peristiwa ini, golongan minoritas itulah yang meniadakan sifat yang spesial dari unsur-unsur kebudayannya, dan menyesuaikannya dengan peradaban berpokok golongan mayoritas sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kepribadian budayanya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.

Faktor-faktor yang menghambat proses pembauran,antara bukan berikut ini: 1. Terbatas pengetahuan terhadap peradaban nan dihadapi;

(24)

– 19 –

3. Memandang terlalu janjang terhadap kebudayaan sendiri dan memandang rendah terhadap kebudayaan tidak atau superioritas.

Sebagai akibat berpunca berkembangnya kendala-hambatan tersebut privat proses difusi maka selalu timbul kecurigaan dan ketidakpercayaan diantara individu-sosok partisan peradaban tersebut. Akibat lainnya ialah sulit ki memasukkan sikap toleransi

C.
GLOBALISASI DAN Keragaman BUDAYA DI INDONESIA

Indonesia sebagai episode berpokok publik dunia merasakan glombang globalisasi yang semakin lama semakin terasa menerpa segala apa segi hayat mahajana, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, ketatanegaraan, sosial, dan budaya.

Berkembangnya khuluk global dari teknologi masalah lingkungan, keuangan, telekomunikasi, dan media menyebabkan lahirnya umpan mengot budaya yang yunior, kebijakan suatu pemerintah, teragendakan pemerintah Indonesia, menjadi perhatian bagi negara lain. Implikasinya merupakan lain ada negara manapun di dunia yang dengan sendirinya bisa menyimpan ataupun membentangi fakta dari negara lainnya.

Indonesia tampaknya lain namun strategis pecah segi geografis dan irit, cuma pun privat sumber daya sosok dan telekomunikasi. Indonesia makin habis menyadari pentingnya telekomunikasi privat membina persatuan dan ahadiat bangsa. Luas Indonesia yang demikian, mampu dan jaraknya diperpendek dengan teknologi komunikasi satelit. Dalam dekade waktu 70-an Indonesia adalah amung negara Asia Tenggara yang mempercayakan sistem komunikasinya dengan menggunakan jasa satelit dengan menggunakan satelit Palapa, bahkan berlanjut sampai dasawarsa tahun 80-an dan Indonesia tak menggunakan jasa planet negara lain, tetapi kepunyaan sendiri.

(25)

– 20 –

2007 sudah lebih bersumber 9 stasiun televisi, sebagai syahadat bahwa bangsa Indonesia sudah lalu waktunya mengakui kenyataan nan makin banyak sehingga tidak terbelakang dari nasion-nasion lain, dalam keadaan pesiaran adapun peristiwa-peristiwa di belahan bumi lain dalam masa yang bersamaan.

Alvin Toffler menulis bahwa sarana televisi, radio dan komputer akan menciptakan menjadikan dunia menjadi homogen. Media perian memiliki efek homogenisasi yang minimal kuat jikalau terdapat bilang serokan dan sedikit seleksian yang dapat dilakukan khalayak.

Trend kesejagatan terakhir yang melanda Indonesia adalah eksploitasi

jarinngan Internet dalam telekomunikasi. Individu yang menjadi anggota atau mempunyai akal masuk dalam jaringan tersebut enggak lagi mengenal batas negara, budaya lebih lagi tidak mengenal batas kebutuhan atau kepentingan. Individu Indonesia dapat mengetahui apa pula.akan halnya negara dan bangsa lain, sebaliknya bangsa lainpun bisa memperoleh informasi yang berkaitan dengan Indonesia.

Ki alat mondial sudah banyak memberikan manfaat kerjakan Indonesia langsung dampak negatifnya, terutama dikalangan generasi mulai dewasa. Bersumber apa dampak negatif yang bisa dilihat, antara lain meningkatnya penggunaan obat terlarang dikalangan muda di kota-kota. Akhir-akhir ini tenar digunakan penawar jenis palsu
Ecstasy, sedangkan plong masa sebelumnya publik digunakan

macam narkotika.

Dengan mematamatai keuntungan dan kerugian yang diakibatkan maka itu gencarnya peredaran globalisasi, rasanya kita sepakat bahwa kita mewaspadai jalan makin lanjut demi kelangsungan generasi muda kita masa mendatang. Kita enggak akan mampu menolak arus globalisasi. Dengan cara makin memahaminya agar dapat diperkenalkan kepada siswa kita, berjenis-jenis kemungkinan yang akan ditemukan internal fungsinya kelak sebagai warga negara yang baik sekaligus menjadi warga negara marcapada yang efektif.

Pembentukan seumpama warga negara nan baik boleh, dilakukan melewati, antara enggak pendidikan formal, pendidikan nan mampu menghasilkan siswa yang memuliakan dan menghargai keragaman budaya. Bahkan perbedaan budaya harus dianggap sebagai satu modal untuk memperkaya budaya itu

(26)

– 21 –

D.
PEMBELAJARAN IPS N domestik ERA Globalisasi DAN

KERAGAMAN BUDAYA.

Sepintas antara globalisasi dengan kebinekaan budaya tampak terserah ketidaktetapan. Kesejagatan di satu arah menggugah kita akan adanya kufu internal kehidupan anak adam di muka bumi ini, ada kesamaan kebutuhan dan kerinduan, sementara di arah lainnya keanekaragaman budaya mengajarkan kepada kita semua bahwa cak semau perbedaan diantara manusia sebagai pendukung kebudayaannya.

Khasiat pengajaran IPS, antara lain membantu para petatar kerjakan melebarkan kemampuan kognisi terhadap diri pribadinya, menolong mereka untuk mampu memafhumi dan menghargai mahajana global dengan kebinekaan budayanya, memopulerkan proses sosialisasi, menerimakan denotasi tentang pentingnya merenungkan perian suntuk dan kontemporer dalam mengambil keputusan untuk masa menclok; berekspansi keterampilan menganalisis dan menuntaskan masalah serta membimbing pertumbuhan dan pengembangan, berpartisipasi dalam aktivitas di mahajana (Steel, 1995: 11).

Dari uraian diatas jelas bahwa pelajaran IPS dalam proses pembelajarannya harus mampu mengembangkan sikap hormat dan menghargai akan tanggungjawab sebagai warga negara sekaligus menerima keanekaragaman budaya di dalamnya. Sekalipun dua ki aib tersebut tidak sahaja menjadi kepedulian IPS, namun kursus IPS diberi posisi yang cukup penting.





Pengajaran keanekaragaman dalam IPS haruslah mengandung tujuan

antara lain:

1. Congah mentransformasikan bahwa “sekolah” akan memberikan camar duka dan kesempatan yang sepadan kepada semua siswa baik putra alias putri sekalipun mereka memiliki perbedaan, budaya, sosial, ras, dan kerubungan etnik;

(27)

– 22 –

3. Mendorong murid buat tidak makara kelompok nan dirugikan, dengan mandu memasrahkan kelincahan internal mengambil keputusan dan berekspansi sikap-sikap sosial;

4. Membimbing para petatar mengembangkan kemampuan mengarifi saling keterhubungan dan ketergantungan budaya dan mampu melihatnya berpunca pandangan yang berbeda-cedera.

Sementara
pengajaran globalisasi dalam IPS harus mengandung

tujuan, sebagai berikut:

a. Produktif ki memasukkan pngertian bahwa sekali mereka berbeda, sekadar misal hamba allah memiliki kesamaan-kesamaan;

b. Mendukung para siswa untuk mengembangkan kemampuan pemahaman bahwa manjapada dihuni oleh sosok yang punya saling dependensi dan bertambah banyak memiliki kesamaan budaya daripada perbedaannya;

c. Membantu para siswa mengetahui kenyataan bahwa suka-suka masalah-komplikasi nan dihadapi bersama, ialah masalah kekuatan penduduk bumi, polusi air dan udara, kelaparan dan penyakit-kelainan global lainnya; d. Membantu para pesuluh berekspansi kemampuan berfikir kritis terhadap

ki kesulitan-masalah dunia dan keterampilan menganalisis informasi yang diterimanya.

Dari tujuan-tujuan nan telah dirumuskan di atas jelas bahwa melangkahi indoktrinasi IPS diharapkan akan lahir generasi muda yang penuh signifikasi akan keragaman budaya dan turut bertanggung jawab dan peduli terhadap komplikasi dan isu global sesuai dengan tingkat pendidikan dan kematangan atma.

(28)

– 23 –

yang dinamis” ternyata tak koteng, terserah Malyasia, negara-negara Timur perdua apalagi Amerika Serikat pun menghadapi masalah golongan Yahudi ibarat
minoritas nan dinamis.

(29)

– 24 –

LATIHAN

Bakal memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut;

Kerjakan pengamatan terhadap perilaku para pendatang disekitar lingkungan tempat tinggl Anda, dalam usahanya menyamakan diri. Pendatang adalah bagian dari masyarakat, artinya mereka memang bertempat tinggal di sekitar Anda. Objek pengamatan bisa orang Cina, Arab dan India maupun kalau Sira mengalami kesulitan menemukan ketiganya di lingkungan Anda. Korban pengamatan bisa orang Cina, Arab, dan India maupun kalau Anda mengalami kesulitan menemukan ketiganya di lingkungan Kamu, bisa lagi para musafir mulai sejak kaki lain di Indonesia nan memiliki minimal perbedaan bahasa ibu.

Pengamatan berlangsung sejauh tiga minggu, tersurat penyusunan laporan. Hasil pengamatan, kemudian didiskusikan di dalam kelas ataupun dalam kelompok belajar dengan bimbingan dosen. Tiap kelompok terdiri atas empat orang.

Keadaan-peristiwa yang harus diamati, antara tidak:

1. Terbit mana sumber akar mereka atau termuat kedaerahan segala?

2. Bahasa barang apa yang dipergunakan internal berkomunikasi dengan keluarganya dan kembali dengan masyarakat sekitarnya.?

3. Bagaimana sikap para pengelana itu terhadap masyarakat sekelilingnya? 4. Bagaimana sikap masyarakat terhadap para pendatang?

5. Apakah cak semau kegiatan bersama yang biasa dilakukan makanya kelompok pendatang dengan masyarakat, dimana mereka silam?

6. Berapa lama mereka ssudah menjadi anggota masyarakat di palagan yang yunior?

(30)

– 25 –

Gerbang III.

PENDEKATAN -PENDEKATAN DALAM Penerimaan IPS SD

A.
PENDEKAKATAN Serebral

Kurikulum Pendidikan sumber akar perian 2006, mutakadim merumuskan bahwa rnata pelajaran Mantra kemampuan dan sikap rasional tentang gejala – gejala. sosial serta kemampuan tentang jalan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia di masa lampau dan musim sekarang. Ilmu Takrif Sosial (IPS) rnempelajari berbagai amanat sosial intern kehidupan sehari – musim yang bersumber dari Ilmu Bumi, Ekonomi, Sejarah, Antropologi, Ilmu masyarakat, dan Tata Negara (Depdikbud : 1994). Berpunca kutipan diatas bisa ditafsirkan ibarat berikut:

 Materi netra pelajaran WS diramu dari materi majemuk bidang IPS ataupun apabila kita meminjam hipotetis pikir Wesley (1968) merupakan simplifikasi maupun penyederhanaan ilmu – ilmu sosial kerjakan tujuan pendidikan.

 Materi tersebut diseleksi dan diorganisasikan buat mengembangkan kemampuan dan sikap rasional atau apabila kita meminjam lengkap pikir Banks (1977) ialah melebarkan kemampuan mengambil keputusan nan rasional sebagai bekal untuk boleh mengikutsertakan diri dalam mahajana secara inteligent alias secara cerdas/nalar.

(31)

– 26 –

Dalam kegiatan belajar ini anda akan mencoba mengkaji berbagai pendekatan yang berorientasi terutama pada pengembangan kepintaran logis. Menurut Banks (1996) pendekatan yang khas privat IPS yang potensial bisa mengembangkan kecendekiaan sensibel yaitu Sosial Science Inquiry atau Penelitian Ilmu Sosial. Pendekatan ini memiliki karakteristik sebagai berikut. (Banks, 1977: 41- 70).

I.
Tujuan

Tujuan terdahulu pendekatan penelitian sosial adalah membangun teori ataupun secara umum membangun mualamat. Kerjakan membangun pengetahuan atau teori diperlukan fakta konsep dan generalisasi. Pendekatan penelitian sosial untuk murid SD tentunya harus disesuaikan tingkat urut-urutan psikologis anak semangat kelas 4, 5 dan 6 karena rnata pelajaran IPS diajarkan di kelas – inferior itu. Menurut teori Piaget (Bell GradYer : 1989) pada hayat kelas 4, 5, 6., yakni duga – terka atma 8 – 1.2 tahun berada kerumahtanggaan tahap operasi positif dan operasi formal. Oleh karena itu, tujuan pendekatan penelitian sosial di SD yaitu memperkSenalkan dan melatih anak cara bergikir sosial yang bisa dibangun tentu saja belum sampai pada teori pengetahuan sosial, cuma aktual penetahuan sosial dengan rencana keilmuan sederhana.

II.
Proses Penelitian

Menurut Banks (1977: 43) Guna-guna Pengetahuan ialah proses dan produk berupatubuh pengetahuan teaoitis (body of theoretical Knowledge). Maka itu karena itu, proporsisi (pernyataan) dan generalisasi (kesimpulan) selalu membengang bikin direvisi (diperbaiki, disempurnakan). Proses dan produk aji-aji deklarasi demap berperilaku interaktif. Metode ilmiah memungkinkan para cendekiawan merevisi dan menyempurnakan teorinya.

(32)

– 27 –

menggunakan kaca mata atau kaidah kerja aji-aji sosial, Barr, Barth, dan Shermis (1978) memberi tera proses ini sebagai pengajaran sosial ibarat ilmu sosial (social studies thought as social science).

III.
Model -Model Pendalaman Sosial

Banks (1977 – 57), rnemperkenalkan model, seperti tulangtulangan 5.1. model Banks (1977) tersebut sreg dasarnya merupakan pengembangan lebih lanjut bermula komplet dasar penelitian sebagaimana Anda pelajari dalarn modul 12 rnata kuliah Strategi Belajar Mengajar, yaitu Sempurna Penelaahan di kelas bawah Tangga. Tentunya Anda dapat membayangkan modelnya dan bentuknya sebagai berikut.

Kebobrokan Hipotesis Data Konklusi.

Maka itu karena itu, perekam memodifikasi model Banks (1977) tersebut dengan meninggi kotak garis kudung untuk langkah – langkah nan n kepunyaan hubungan yang lalu erat. Dengan demikian, model tersebut tampak lebih sederhana dan sejadi untuk diterapkan dengan mudah di Sekolah Dasar.

1.
Kebobrokan

Masalah ada dalam manah terkaitan dengan gejala yang terpandang atau dapat

ditangkap oleh panca indra kita. Misalnya, suatu waktu terjadi hujan lebat sehingga air sungai melimpah ke asing berusul badan sungai dan turut ke kawasan seputar perputaran batang air. Bisa persawahan, bisa perkampungan atau perkotaan yang dilanda air ampuh tersebut.

Apa – apa yang diamati yaitu.fenomena atau gejala alam. Apabila air bah itu

banyak rumah penghuni yang kemungkus, mal hilang, terjadi wabah penyakit, terjadi pengungsian, ketimbul kampanye sumbangan bencana pan-ji-panji dan lain – bukan, muncul
gejala sosial,
apabila dengan melihat fenomena itu timbul soal privat diri kita mengapa banjir?

(33)

– 28 –

a. Piutang/debit air besar badan sungai sempit dan dangkar air meluap timbul air bah

b. Debit air besar badan sungai tidak tahan sehingga bobol air melembak timbul banjir

c. Dan seterusnya.

Bertolak bermula probabilitas kaitan antara hal tersebut, kita dapat menyusun penyakit bagaikan berikut:

a. Sempit dan dangkalnya badan batang air tidak dapat menampar volume debit air sungai yang raksasa;

b. Awak batang air nan tidak resistan bisa bobol dan air sungai akan meluap ke asing;

c. Dan seterusnya.

Masalah boleh kembali dirumuskan n domestik tulangtulangan tanya, seperti berikut ini: 1) Apakah sebab – sebab banjir?

2) Segala apa saja akibat air ampuh? 3) Bagaimana mengatasi air sebak?

Komplikasi sreg dasarnya muncul semenjak
rasa ingin sempat

terhadap, satu gejala yang tertangkap pancaindra. Sahaja demikian, tidak serrtua hal yang kita amati ukan dirasakan sebagai kelainan. Hal ini tergantung plong
apakah terserah

pertentangan antara apa nan kita
amati dengan konsep – konsep nan ada

intern manah.
Ingatlah bahwa menurut Piaget (Bell – Qrudler : 1986) proses berpikir terjadi bila ada prases asimilasi (nikah sasaran dengan pikiran) dan keterkaitan konsep – konsep dalam pikiran dengan infortnasi tentang bahan yang disebut proses
fasilitas. Oleh karena itu, sesuatu yang menjadi masalah bikin

seseorang belum tentu menjadi masalah lakukan insan lain. Searang mantri bertambah peka terhadap gejala penyakit, padahal koteng insinyur akan kian responsif terhadap gejala keteknikan, misalnya gedung, mesin.

(34)

– 29 –

dihadapkan kepada murid cak bagi diamati dan selanjutnya dikaitkan dengan konsep yang ada dalam manah peserta. Guru, seyogianya membimbing dengan memberi
soal – pertanyaan pencari
misalnya coba kenapa bisa semacam itu ya?

Mutakadim dibahas, masalah pada dasarnya ada intern manah. Jadi, berperilaku individual. Sebelum behadapan dengan situasi bermasalah dalam diri kita pasti sudah ada skemata yang berbentuk konsep atau teori dan nilai. Misalnya dalam kasus air bah Anda boleh mengaitkan dengan konsep hujan angin, erosi atau pengikisan petak oleh air, pendangkalan wai, limbah dan prinsip bahwa air akan berputar dari panggung yang tinggi ke satah yang rendah. Dengan kata lain, satu keburukan yang dirumuskan lega dasarnya hasil rekayasa pikiran berkenaan dengan fenomena dan teori dan nilai nan ada internal pikiran kita.

2.
Presumsi

Hipotesis berasal dari bahasa latin hypo dan thesis. Hypo artinya sekepal, Thesis artinya kesimpulan. jadi, hypothesis alias diterjemahkan mejadi hipotesis dapat diartikan bak suatu kesimpulan yang rnasih semantara alias sepenggal etis dan masih memerlukan pengujian dan testimoni. Apabila hipotesis itu diuji secara empiris dengan munggunakan data nan tersedia maka hipotesis ini akan menjadi tesis ataupun kesimpulan.

Suatu hipotesis seyogianya dirumuskan berdasarkan hipotesis (assumtion), padahal yang dimaksud dengan asumsi ialah pernyataan mengenai keadaan – kejadian yang berhubungan dengan anasir — unsur yang dipermasalahkan yang diterima laksana keabsahan tanpa bukii – bukti. Pernyataan kebenaran ini sangatlah bermanfaat moga kita bisa berkomunikasi dengan yang lain.
Hipotesis ini sering juga

disebut hipotesis. (Banks, 1977: 58). Kita renggut contoh kasus air bah.

Kebobrokan : Cak kenapa air sebak?

(35)

– 30 –

Hipotesis :

a. Pengikisan petak atau erosi di seputar distribusi sungai menimbulkan pendangkalan dan pengecilan badan kali besar

b. Penggundulan daerah di hulu dan aliran sungai menirnbulkan terbatasnya resapan air sehingga sebagian besar air hujan tersepak ke wai

c. Penggundulan kawasan dan erosi di hulu dan persebaran sungai menimbulkan banjir. Apabila asumsinya berubah hipotesis pun akan berubah, Misalnya, asumsinya diubah menjadi kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi mileu berkaitan erat dengan gejala banjir.

Sebagai les coba anda rumuskan hipotesis keburukan banjir tersebut. Diskusikan dan rumuskan hipotesis itu secara berapatan.

Hipotesis adalah dasar metodologis penumpukan data. Agar data yang dikumpulkan benar – moralistis sesuai dengan arah hipotesis, teradat sekali kita memberikan batasan dan debit air nan ada n domestik rumusan hipotesis itu. Marilah kita lihat kembali contoh hipotesis l. Di situ terdapat istilah – istilah pengikisan lahan atau abrasi, sirkulasi bengawan, pendangkalan, dan penyempitan sungai. Semua istilah tersebut harus kita beri batasan signifikasi

Misalnya;

a. Pengikisan tanah yaitu penurunan rataan tanah oleh air hujan angin b. Aliran sungai adalah kawasan yang berada di sekitar sirkuit batang air itu

c. Pendangkalan dan penyempitan sungai ialah proses berkurangnva badan sungai andai akibat endapan lunau dan sisi kiri – kanan sungai.

(36)

– 31 –

3.
Pengumpulan dan Analisis Data

Data berasal “dari bahasa latin datum yang artinya suatu informasi petunjuk. Apabila informasi itu lebih berpokok satu maka disebut data.
makara, datum

bersifat tunggal, sedangkan data bertabiat
jamak. Oleh karena itu, apabila Anda menjuluki data – data, cukup data tetapi. Data bisa berbentuk kenyataan yang boleh ditangkap oleh panca indra (dilihat, didengar, dirasa, dicium, diraba). Apa yang ditangkap pancaindra menurut barang apa adanya, ini disebut
fakta.

Data pula dapat berbentuk siaran hasil pengukuran alias perhitungan, misalnya pangkat ancala, panjang jalan, luas petak, jumlah pemukim. Selain itu, dapat pun riil informasi hasil penggodokan, misalnya persentase (10%, 50%) atau nisbah (2: 4 : 1 : 10).

Data diperlukan untuk menguji premis, misalnya apakah benar erosi menimbulkan banjir. Anda harus mengamati keadaan kawasan hulu dan aliran kali besar, dan perputaran sungai, situasi jasad sungai dan kejadian kawasan yang bosor makan dilanda banjir. Data yang dikumpulkan dari surnber pertama, disebut data primer. Apabila data tersebut dikumpulkan berbunga sumur data pengamatan manusia lain disebut data sekunder. Data primer dinilai lebih terpercaya daripada data sekunder karena masih relatif tulus belum banyak tercampur dengan pemikiran.

(37)

– 32 –

Apabila memang suka-suka, boleh menunggangi alat yang teiah ada dan diakui absah, contoh timbangan maupun dinilai baku, sebagai halnya tes inteligensia (Tes Stanford’s Binetsimon Revised Test). 1’es Potensial Akademik (TPA), TOEFL. Namun, bikin kepentingan pembelajaran kita boleh berekspansi alat yang sederhana, misalnya Pol Hobi Pelajar, makanan yang disukai, catatan harian amnesti dan yang paling kecil penting bisa memperoleh sejumlah data yang memang kita perlukan untuk menguji hipotesis.

4.
Kesimpulan

Penali adalah presumsi yang diuji dan dibuktikan kebenarannya. Misalnya, asumsi 1 di muka telah diuji rumusannya dapat dibuat laksana berikut:

Erosi di hulu dan sekitar rotasi sungai ciliwung menimbulkan pendangkalan dan . penyempitan badan bengawan di wilayah jakarta. Keadaan ini tidak bisa enggak telah menimbulkan air ampuh dibeberapa kewedanan permukiman disekitar Jakarta terutama di sekitar aliran dan muara sungai. Inferensi ini dapat disebut bak
tesis.
Tesis selalu moralistis di atas asumsi yang melandasinya. Apabila asumsinya diubah deduksi tersebut menjadi tidak tepat pun.

Apabila konklusi – kesimpulan tersebut terus di uji dan dibangun secara kait – mengkait dalam satu bidang akan lahir dari kesimpulan tersebut suatu teori. Teori pada dasarnya merupakan pernyataan hubungan antar hal yang sudah lalu dites kebenaranya dan berlaku umum. Oleh karena itu, teori dapat digunakan untuk meramalkan atau mengumpamakan situasi dimasa yang akan cak bertengger. Misalnya, banjir bekaitan erat dengan gejala duaja dan perilaku manusia.
Teori merupakan bentuk pengetahuan yang paling panjang dan

merupakan isi pokok mantra pengetahuan.

(38)

– 33 –

macam, seperti
inquery, discovery, kelainan solving, critical thinking, reflective

thinking; induction,
Jan
investigation
(Jarolimek, 1971 : 11). Semua istilah tersebut walaupun tidak mengandung pengertian yang ekuivalen persis, sreg dasarnya punya karakteristik yang sebabat yakni :

a. Menitis beratkan pada proses berpikir yang berkaitan dengan pemecahan ki kesulitan;

b. Menyertakan murid privat proses belajar;

c. Merupakan altematif lain nan bersifat inovatif nan lebih maju dari pada penyampai kenyataan secara eksposito.

Demikian sebagaimana ditegaskan makanya Jarolimek (1971: 11). Tren lain dalam pendekatan kognitif merupakan pendekatan lengkap
(conceptual Approach).

Jarolimek (1971) menamakan sebagai
ide ;antered

acara
maupun
acara pemhelajaran yang mendatangi lega ide ataupun gagasan.

Gagasan yang dimaksud adalah konsep, generalisasi, konstruk, ide dasar, ide pokok, atau denotasi umum.

IV.
Konsep

Konsep yaitu suatu kata atu penyataan mujarad nan berharga bakal mengelompokkan benda, ide atau kejadian (Banks, 1977: 85). Paradigma konsep ialah pantai, silsilah, keluarga, norma, pemerintah., pasar, dan organisasi. Tentunya, Anda dapat menyebutkan komplet lainya privat berbagai bidang, suatu konsep dipelajari elalui proses pembentukan konsep atau concept formation atau concept attainment menurut Bruner (1966). Proses pernbentukan konsep atau proses konseptualisasi puas dasarnya adalah proses mengelompokkan dan memberi nama konsep serta merumuskan konotasi konsep itu. Misalnya, semua daratan nan menjorok ke laut disebut ujung atau tanjung. Ujung atau jazirah yaitu sebuah konsep.

(39)

– 34 –

Apabila dilihat berasal sifatnya, ada beberapa tipe konsep, yakni konsep teramati atau obseved concept, konsep tersimpul atau inferred concept, konsep relasional maupun relational concept, dan konsep komplet maupun ideal type concept. (Fenton : 1966, Jarolimek : 1971, Banks : 1977). Konsep teramati yaitu konsep nan contohnya dapat ditangkap pancaindra, sepetti sosok, rumah kronologi raya, bising, manis, merdu. Konsep tersimpul yakni konsep yang contohnya harus disimpulkan pecah beberapa hasil pengamatan alias beberapa peristiwa umpama penanda. Misalnya, bersusila, tertib, pahlawan, congah, dan adat.

Konsep relational adalah konsep yang melibatkan jarak dan waktu. Misalnya, abad, dasawarsa, mile, lintang, bujur, isobar, isotherm, kawasan, dan limbung – preen.

Konsep ideal adalah konsep tersimpul yang makin niskala dan merupakan konsep yang memerlukan pengumpulan indeks nan lebih luas. Misalnya, keadilan, pancasilais, takwa, nyaman, patriotik, anugerah sayang, kejujuran, dan kesejahteraan.

V.
Generalisasi

Sekarang silakan kita mengkaji segala dan mengapa serta bagaimana generalisasi. Banks (1977 : 97) merumuskan bahwa pukul rata merupakan pernyataan mengenai keterkaitan dua konsep atau lebih. Contohnya, perilaku guru dimuka kelas yakni barang interaktif antara konpetensi mengajar guru dengan lingkungan membiasakan. Apabila dianalisis, dalam generalisasi tersebut terdapat 3 konsep, yaitu perilaku guru, kompetensi mengajar, dan lingkunagan belajar. Keterkaitan antara ke tiga konsep, boleh di gambarkan bagaikan berikut:

Rancangan 5.2

Kompetensi Mengajar

Perilaku

Guru

(40)

– 35 –

Coba rumuskan generalisasi

dari konsep-konsep tersebut. Tidak

wajib semua konsep dipaksakan

masuk ke dalam suatu generalisasi.

Bekerjalah sendiri maupun secara

berpasangan.

satu buah lakukan aras strata, sedang dan abnormal.

Pernyataan susunan antar konsep, biasanya menunggangi kata – kata : merupakan hasil dari, disebabkan oleh, berhasil pada bertambah besar oleh, melandai karena di pengaruhi maka dari itu, bertelur pada, yakni buah berpokok, berkaitan dengan, berkorelasi dengan, menghasilkan, menimbulkan, dan sebagainya.

Setiap generalisasi selalu mempunyai cakupan keberlakuan pernyataannya. Luasnya cakupan suatu penyamarataan akan mengilustrasikan aras (level) berpokok rampatan itu. Secara publik abstraksi dapat digolongka menjadi tiga aras (Banks, 1977: 99- 100).

1. Generalisasi aras hierarki. 2. Generalisasi aras sedang. 3. Penyamarataan aras rendah.

Abstraksi aras hierarki, bermain secara universal, artinya pernyataan itu berlaku,

dimana sahaja, kapan saja, dan bagi siapa saja. Contohnya, interaksi antara manusia dengan lingkungannya mempengaruhi mandu pelepasan kebutuhan. (Banks, 1977 : 99).

Generalisasi aras medium berlaku terbatas pada suatu wilayah budaya atau kurun waktu tertentu. Contohnya, puas periode penjajahan Belanda kesempatan pendidikan cak bagi rakyat Indonesia lampau terbatas. Contohnya, lainnya ASEAN berfungsi memperkuas solidaritas dan kerja sama Ekonomi antar negara di daerah Asia Tenggara.

Generalisasi aras abnormal bermain lebih terbatas lagi pada lingkup yang lebih sempit. Contohnya, plong hari kilangangin kincir barat penghasilan nelayan tradisional di Pelabuhan Emir menurun karena terbatasnya frekuensi dan jarak tangkapan lauk.

(41)

– 36 –

VI.
Teori / Konstruk

Teori ataupun Konstruk adalah rangka pengetahuan tertinggi yang dapat digunakan untuk menjernihkan dan memperkirakan perilaku manusia (Banks, 1977 : 103). Teori dibangun makanya pukul rata aras strata nan memenuhi syarat – syarat sebagai berikut:

1. Menggambarkan nikah antar konsep ataupun plastis nan didefenisikan secara jernih;

2. Mengandung sistem dedukasi yang secara rasional ajeg maupun tetap;

3. Merupakan sumber pecah hipotesis yang sudah diuji kebenarannya (Banks, 1977: 103).

Contohnya, harga ditentukan oleh permohonan dan penawaran (Teori Supply and demand dalam ekonomi). Model lainnya, ialah perilaku manusia dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan (Teori Konverhensi William dan Casta Sterm intern Ilmu jiwa Berlatih) atau contoh lainnya pula, adalah teori Contract Sosial berpokok John Locke dan Rousseau yang menyatakan bahwa negara terbentuk karena adanya perjanjian sosial antara manusia (Djahiri, 1968).

Coba sekarang anda tuliskan contoh teori lainnya

LATIHAN

Untuk memperdalam kognisi anda rnengenai materi diatas kerjakanlah latihanberikut.

(42)

– 37 –

B.
PENDEKATAN SOSIAL, PERSONAL DAN PERILAKU N domestik

Penataran IPS SD

Pendekatan sosial, personal, dan perilaku pada prinsipnya yakni kerangka sentuhan pedagoginya terhadap format sosial dan personal alias dimensi inteligensia emosional atau emotional intelligence menurut Goleman (1996). Apabila kita menganalisis, dimensi maupun aspek sosial dan personal atau emosional ini memiliki aspek – aspek emosi, nilai dan sikap, serta perilaku sosial nan satu sebabat lain memiliki saling keterkaitan.

I.
Emosi

Apabila dilihat secara lurus, Oxford English Dictionary memahamkan emosi (Emotion) umpama setiap kegiatan alias pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap – luap. Bertolak dari denotasi itu Goleman (1996) mengartikan emosi bagaikan suatu pikiran dan pikiran ataupun suatu keadaan biologis dan Kognitif dan serangkaian kecenderungan bagi berperan. Tercakup dalam emosi ini merupakan amarah, kesehatan, rasa samar muka, kenikmatan, cak acap, terkejut, jengkel, dan malu (Goleman, 1996 : 411 – 412) pikiran emosional cenderung berperangai cepat, namun ceroboh maupun tidak teliti. Berbeda dengan pikiran rasional yang menumpu terlampau teliti, namun lambat. Pikiran emosional merupakan dorongan lever bukan galakan kepala. Kedua jenis perasaan ini tukar mengisi satu setara bukan dan potensial ada dalam diri kita. Peristiwa yang lalu diperlukan merupakan penyelarasan dan penyeimbangan pikiran emosional dan manah rasional.

Buat menyelaraskan dan menyeimbangkan kedua aspek pikiran itu perlu pendidikan emosi nan harmonis dengan pendidikan perimbangan.

Menurut W. Horizon. Grand Consortiums, intern Golem (1996 : 426 – 427) keterampilan sentimental mencakup keadaan – hal berikut:

(43)

– 38 –

3. Membiji kesungguhan perasaan.

4. Ikutikutan perasaan. 5. Mendorong pelepasan.

6. Tanggulang dorongan lever. 7. Mengurangi stres.

8. Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.

II.
Skor Dan Sikap

1.
Biji

Menurut Doley dan Copaldi (1965 : 32) alas kata Value yang diterjemahkan menjadi skor memiliki dua arah, adalah sebagai prolog benda dan kata kerja. Sebagai alas kata benda nilai mempunyai dua pengertian. Mula-mula, sebagai objek sesuatu dianggap suatu nilai, apabila n kepunyaan kualitas arti alias harga (Goodness and worth). Misalnya, gula manis, gadis-cakap, orang alim, udara – sejuk. Manis, cantik, alim, dan sejuk itulah nilai. Kedua, sebagai pengamatan suatu hal dianggap bernilai atau memiliki biji apabila dilihat berpangkal pikiran seseorang laksana mempunyai, kualitas atau harga. Contohnya, gadis itu dianggap cantik apabila dilihat dari rukyat orang lain.

Dengan pengenalan lain, sesuatu dapat dinilai n kepunyaan value atau harga apabila memang keadaan itu punya kualitas kepentingan dan dilihat oleh pengamat sebagai hal nan baik. Dilain pihak, sebagai kata kerja menilai diartikan sebagai perilaku mental bakal memberi maupun mengatakan sesuatu sebagai mempunyai kualitas kebaikan. Misalnya, menilai komoditas yang artinya mengaram apakah barang itu berguna ataupun tidak, baik alias tidak.

(44)

– 39 –

tatanan maupun sistem yang dapat adalah sistem nilai oknum atau kelornpok. Contohnya, setiap insan rnemiliki sistem nilai religi yang terbentuk dari pengetahuan pemahaman pelaksanaan dan komitmen seseorang puas agama yang dipeluknya dengan baik. Negara RI memiliki sistem nilai Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan tatanan poin yang dipahami dan dihayati dalam buram berkehidupan dan berbangsa serta bernegara Indonesia. Sistem ponten ini bisa juga ibarat tatanan maslahat yang diyakini dan dilaksanakan

2.
Sikap

Menurut Adport (1935) dalam winataputra (1989 : 148) sikap yaitu suatu kondisi ketersediaan mental dan syarat yang terbentuk melalui pengalaman yang memancarkan arah atau pengarah yang dinamis terhadap respons atau tanggapan bani adam terhadap target ataupun situasi yang dihadapinya. Dengan rumusan terlambat sikap boleh dipahami bagaikan gaya seseorang untuh mengerjakan berkenaan dengan objek ataupun kejadian. Contohnya, apabila berangkat – tiba kita berhadapan dengan seekor kunyuk galak maka seketika kita kaget dan siap lakukan berteriak atau lari bertepatan berteriak. Berteriak dan lari bukanlah sikap, namun perilaku nan yaitu sikap adalah kesiapan kita bakal berteriak maupun lari.

Sikap dapat berwatak suka maupun tak demen, tegak atau berani, penuh ingatan atau acuh tak acuh, gegares alias benci, dan bertanggung jawab ataupun abolisi tangan. Dilihat dari kadarnya sikap juga boleh bersifat simpleks atau keteter atau dapat pula berkarakter multipleks maupun rumpil. Misalnya, Dia menonon RCTI karena ada acara si Doel tetmasuk sikap,
yang simpleks . Tetapi

apabila suka menonton RCTI karena alasan yang banyak, misalnya acaranya, penyiarnya, jadwalnya kualits siarannya, termasuk sikap yang multipleks. Sikap yang simpleks makin mudah berubah daripada sikap nan multipleks. Keadaan itu karuan boleh dipahami. Coba anda duga apa sebabnya!

(45)

– 40 –

III.
Perilaku Sosial

Perilaku sosial kembali sering disebut keterampilan sosial (Social Skills) atau kecekatan studi sosial (Social Studies Skills) (Marsh dan Print, 1975, Jarolime, 1971). Kelincahan, sama dengan ditegaskan oleh Jarolimek (1971 : 65) mengandung partikel profiency atau kemahiran dan the capability of doing something well atau kemampuan mengerjakan sesuatu dengan baik. Kesigapan ini memiliki dua karakteristik, yaitu developmental atau berantara dan practice ataupun tuntunan. Artinya, keterampilan memerlukan latihan secara bertahap.

Terjadwal kedalam keterampilan sosial, antara bukan berkomunikasi (Krech dkk, 1962), membaca, menggambar, menggunakan kepustakaan, menganalisis, menggunakan peta (Pellison : 1989), Keterampilan sosial puas dasarnya mencakup semua kemampuan operasional yang memungkinkan individu bisa berhubungan dan hidup bersama secara tertib dan teratur dengan bani adam lain Dengan demikian, dapat memerankan dirinya sebagai aktor sosial yang cerdas secara membumi, emosional, dan sosial. Semua itu mencerminkan pola perilaku sosial seseorang.

Setelah membahas apa dan kok emosi, nilai dan sikap, serta perilaku sosial, berikut pembahasan akan halnya bagaimana pengembangan aspek – aspek tersebut dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.

Disekolah dasar aspek emosi, sosial dan kelincahan sosial dapat dikembalikan melalui bermacam ragam kegiatan, antara bukan nan ditawarkan oleh Jarolimek (1971: 67) sebagai berikut.

Kehidupan kelas sahari – hari yang menitik beratkan pada kepedulian pada orang tidak, kebebasan dan persamaan, kemerdekaan nanang, tanggung jawab,dan pujian terhadap harga diri manusia.

1. Mempelajari sejarah dan perkembangan arwah negara terutama mengenai cita – cita dan ideologinya nan memerlukan usaha lakukan terus mewujudkannya.

2. Mernpelajari riwayat hidup toko – toko utama yang menceminkan nilai – nilaidari bangsa dan negara.

Source: https://123dok.com/document/zx5l2gdq-pendidikan-ips-sd-kelas-tinggi.html

Posted by: skycrepers.com