Model Pembelajaran Menulis Di Sd Kelas Tinggi


METODE, MODEL DAN TEKNIK


PEMBELAJARAN MENULIS


A.




METODE

Metode penerimaan menulis adalah prosedur, urutan, awalan-langkah, dan prinsip nan digunakan hawa privat pencapaian harapan pembelajaran mata cak bimbingan Bahasa Indonesia khususnya aspek ketrampilan menulis.


1.





Metode Pemecahan Kelainan (Masalah Solving)







Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah eksploitasi metode privat kegiatan penerimaan dengan jalan melatih siswa menghadapi beragam masalah baik itu keburukan pribadi atau perorangan maupun kebobrokan kelompok untuk dipecahkan sendiri maupun secara serempak.




Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya merupakan pemecahan masalah.



Keunggulan:

a.



Melatih siswa lakukan mendesain satu penemuan.





b.



Nanang dan bertindak kreatif.





c.



Memecahkan masalah yang dihadapi secara utilitarian





d.



Mengidentifikasi dan melakukan penelitian.





e.



Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.





f.



Merangsang jalan kemenangan berfikir petatar kerjakan menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.





g.



Boleh takhlik pendidikan sekolah lebih relevan dengan umur, khususnya bumi kerja.



Kelemahan:




a.




Beberapa kiat bahasan sangat sulit lakukan menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-gawai laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyingkat kejadian maupun konsep tersebut.




b.




Memerlukan alokasi periode yang kian tinggi dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.





2. Picture and Picture



Picture and Picture adalah suatu metode belajar nan menunggangi gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan konsekuen.






Awalan-langkah:



a.



Guru mengemukakan kompetensi nan mau dicapai.





b.



Melayani materi perumpamaan pengantar.





c.



Guru menunjukkan/ memperlihatkan bagan-gambar yang berkaitan dengan materi.





d.



Guru menunjuk/ menegur siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan bagan-susuk menjadi urutan nan logis.





e.



Guru meminang alasan/ bawah pemikiran urutan gambar tersebut.





f.



Dari alasan/ sa-puan susuk tersebut hawa memulai menanamkan konsep/ materi sesuai dengan kompetensi yang mau dicapai.






g.




Kesimpulan/ rangkuman




Keunggulan:

a.



 Hawa makin mengarifi kemampuan masing-masing pelajar.





b.



Melatih berpikir logis dan sistematis.






Kelemahan:


a.




Memakan banyak tahun




b.




Banyak pesuluh yang pasif.




3.





Model Examples Non Examples







Examples non examples yakni metode belajar yang menggunakan contoh-teladan.
Contoh-pola dapat dari kasus/ gambar nan relevan dengan KD.





Persiapan-awalan:



a.



Guru mempersiapkan gambar-kerangka sesuai dengan tujuan pembelajaran.





b.



Guru menempelkan gambar di tiang ataupun ditayangkan lewat OHP.





c.



Hawa memberi petunjuk dan menjatah kesempatan kepada siswa untuk menghakimi/ menganalisa gambar.





d.



Melalui diskusi kerumunan 2-3 orang siswa, hasil diskusi berasal analisa susuk tersebut dicatat puas kertas.





e.



Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.





f.



Mulai dari komentar/ hasil diskusi murid, guru menginjak menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.





g.



Inferensi.






Nama:




a.




Siswa lebih reseptif dalam menganalisa rangka.

b.



Pesuluh mengerti aplikasi bersumber materi berupa contoh gambar.




c.




Siswa diberi kesempatan bagi memajukan pendapatnya


Kelemahan:



a.



Tidak semua materi dapat disajikan dalam gambar tulang beragangan.




b.




Memakan waktu yang lama.


4.




Metode Langsung



Metode pengajaran sinkron dirancang secara khusus bakal melebarkan belajar pesuluh akan halnya pengetahuan prosedural dan laporan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan bisa dipelajari setapak demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa sreg biasanya pengumuman dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan wara-wara prosedural. Deklaratif berarti permakluman mengenai bagaimana melakukan sesuatu.

Langkah-langkah:

a.


Master mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan meres birit pembelajaran serta mempersiapkan pelajar buat mengamini penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan cambuk.

b.


Fase berikutnya ialah fase demontrasi, pembimbingan, pemeriksaan ulang, dan pelatihan lanjutan.

Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik penataran menulis berpokok rancangan ataupun menulis sasaran refleks dan maupun perbandingan bulan-bulanan langsung. Teknik menulis berbunga gambar atau menulis objek bertepatan berujud moga murid dapat batik dengan cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung hal kebakaran sebuah desa, Berasal gambar tersebut murid dapat membuat garitan secara runtut dan logis berdasarkan rang.


5.




Metode Sugesti-Imajinasi

Puas prinsipnya, metode sugesti-imajinasi ialah metode pembelajaran menulis dengan cara memasrahkan sugesti lewat lagu bakal merangsang imajinasi pelajar. Dalam situasi ini, lagu digunakan bak pembuat suasana indikatif, stimulus, dan sekaligus menjadi keretek bagi siswa lakukan membayangkan alias menciptakan cerminan dan kejadian berdasarkan tema lagu. Respons yang diharapkan unjuk dari para murid kasatmata kemampuan melihat gambaran-gambaran keadaan tersebut dengan imajinasi-imajinasi dan logika yang dimiliki lalu mengungkapkan kembali dengan menggunakan tanda baca-bunyi bahasa verbal.

Persiapan-langkah:

a.


Tahap perencanaan (prapembelajaran)




Penelaahan materi penerimaan




Pemilihan lagu bak sarana pembelajaran




penyusunan ancangan penataran.

b.


Tahap kedua (pelaksanaan)

– Pretes: bagi mengukur kemampuan atau permakluman yang dimiliki petatar

–  Penyampaian tujuan pembelajaran

– Apersepsi: menguraikan perpautan antara materi yang telah diajarkan dengan materi nan akan diajarkan.

–  Penjelasan praktik pembelajaran dengan media lagu

–  Praktik pembelajaran

– Pascates: Siswa menggambar sebuah karangan tanpa didahului dengan kegiatan mendengarkan lagu

c. Evaluasi

Keunggulan:

a.


Pemilihan lagu yang berdeklamasi puitis membantu para siswa memperoleh komplet dalam pembelajaran kosakata

b.


Pemberian apersepsi adapun keterampilan mikrobahasa nan dilanjutkan dengan penerimaan batik menggunakan metode sugestiimajinasi dapat diserap dan dipahami dengan kian baik oleh para siswa

c.


Sugesti yang diberikan melalui pemutaran lagu merangsang dan mengkondisikan siswa sedemikian rupa sehingga petatar boleh memberika respons spontan yang bersifat kasatmata. N domestik kejadian ini, respons yang diharapkan muncul dari para pesuluh aktual kemampuan melubangi asam garam hidup maupun mengingat sekali lagi fakta-fakta nan gabungan mereka temui, mengorganisasikannya, dan memberikan tanggapan faktual ide-ide atau konsep-konsep baru mengenai asam garam atau fakta-fakta tertentu

d.


Peningkatan pencaplokan leksikon, kesadaran konsep-konsep dan teknik menulis, serta imajinasi yang terbina baik berkorelasi dengan peningkatan kemampuan siswa internal membuat variasi kalimat.

Kelemahan:

a.


Pemanfaatan metode sugesti-imajinasi tidak sepan efektif buat kelompok siswa dengan tingkat keterampilan menyimak yang adv minim

b.


Metode ini sulit digunakan bila siswa menjurus pasif



B.




Transendental

Pola pembelajaran adalah rangka pendedahan yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas maka dari itu guru di kelas bawah.


1.




Model Penelaahan Menulis dengan Pendekatan Proses


Sempurna penelaahan batik dengan pendekatan proses meliputi lima tahap, merupakan pramenulis, menulis draf, membetulkan, menyunting, dan mempublikasi (Tomkins & Hoskisson, 1995).

a.


Pramenulis merupakan tahap persiapan bikin menulis. Adapun hal-kejadian yang dilakukan siswa kerumahtanggaan tahap ini yakni: 1) memilih topik, 2) memikirkan tujuan, bentuk, dan pembaca, dan 3) memperoleh dan menyusun ide-ide.

b.
Tahap menulis draf, peserta diminta sekadar mengekpresikan ide-ide mereka ke dalam catatan berangasan.

c.


Tahap merevisi, siswa mengoreksi ide-ide mereka kerumahtanggaan karangan. Tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa lega tahap ini adalah: 1) membaca ulang seluruh draf, 2) sharing atau berbagi pengalaman tentang draf kasar gubahan dengan inversi n domestik kelompok,

d.


Merevisi, menafsirkan tulisan dengan memperhatikan reaksi, komentar atau masukan pecah teman atau master.

e.


Menyunting, mengadakan persilihan-perubahan aspek ahli mesin tulisan. Siswa memperbaiki gubahan mereka dengan memperbaiki ejaan maupun kesalahan operator yang lain. Tujuannya adalah bikin menciptakan menjadikan karangan makin mudah dibaca orang tak. Tentang aspek-aspek mekanik nan diperbaiki adalah pemakaian abjad samudra, ejaan, struktur kalimat, segel baca, istilah dan daftar kata serta matra karangan.

f.


Tahap wara-wara, tahap pengunci menulis, pesuluh mengabarkan tulisan mereka dalam bentuk yang sesuai atau berbagi tulisan dengan pembaca yang telah ditentukan.

N domestik proses penelaahan menulis Imajinatif ini  siswa diajarkan menguasai kompetensi menulis/mengarang secara bebas sesuai imajinasinya seorang-koteng. Di sini petatar diberi kebebasan untuk menuangkan segala apa ide/gagasan, pendapat/opini, imajinasi atau rahasia khayal, dsb ke dalam bentuk tulisan/karangan.

Langkah-langkah
:

a.


Temperatur mengklarifikasi tujuan pembelajaran/KD.

b.


Guru mengklarifikasi secara singkat cara takhlik sebuah tulisan/goresan.

c.


Temperatur membagikan kertas kerja beberapa siswa.

d.


Setiap siswa membuat tulisan/tulisan dengan sendi cipta dan kreasinya sendiri.

e.


Setelah selesai, guru menunjuk  riuk satu peserta buat menampilkan/membacakan hasil tulisannya/karangannya.

f.


Setiap satu peserta selesai bersama-sama diberi tepuk tangan. Siswa yang lain diberi kesempatan mengutarakan tanggapan, pendapat, kritik  ataupun saran atas goresan siswa tersebut.

g.


Guru menunjuk siswa lain atau menawarkan pesuluh lain yang menyatakan siap buat mengimlakan karangannya.

h.


Demikian seterusnya hingga seluruh murid tampil membacakan hasil karangannya.

i.


Evaluasi, membentangi isi karangan, kalimat, saringan kata, pendayagunaan ejaan, tanda baca, dsb

j.


Kesimpulan.


C.




TEKNIK

Teknik pembelajaran adalah cara kongkret yang dipakai momen proses pendedahan berlanjut.

Teknik pembelajaran menulis adalah cara mengajarkan (menyuguhkan atau menstabilkan) bahan-alamat kursus mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya aspek ketrampilan menggambar. Berikut ini beberapa teknik penelaahan menulis:


1.




Teknik pancingan introduksi siasat

Riuk satu upaya inovatif dalam mengemas pembelajaran batik puisi yaitu dengan aplikasi teknik pancingan kata resep.

Langkah-langkah:

a.


Guru bermain sebagai pemancing dengan menawarkan kata kunci

b.


Pelajar mencermati kata kunci ideal

c.


Siswa mengembangkan kata kunci privat banjar

d.


Murid mengembangkan kata kunci dalam kuplet

e.


Siswa bisa menggambar syair utuh

Label:

Pesuluh nan sediakala musykil kerjakan menemukan prolog-kata yang cocok bakal dituangkan dalam sajak menjadi makin terselamatkan, karena teknik ini melatih siswa berpokok suatu kata kemudian perlahan-lahan menjadi baris kemudian bait, begitu seterusnya sampai menjadi puisi nan utuh.

Kelemahan:

Pesuluh yang merasa sudah boleh, akan cenderung dibatasi dalam pemilihan katanya. Jadi sebaiknya koteng guru bisa mengarifi kondisi pesuluh.


2.




Teknik 3M

Teknik 3M merupakan singkatan dari mencamkan, ki belajar, dan menambahi. Teknik 3M ini selayaknya bukanlah hal yang sangat yunior. Teknik ini terilhami dari apa yang diajarkan Mardjuki (n domestik Harefa, 2002:31), seorang penulis kreatif yang cukup dikenal oleh para pemberita di Yogyakarta di tahun 80-an, kepada calon-favorit perekam muda, yakni dengan 3N-nya (niteni, norokke, nambahi). Teknik ini biasanya diterapkan dalam menggambar referensi berita.

Awalan-awalan:

a.


Mencamkan


diartikan sebagai kegiatan melihat dengan cermat dan teliti mengenai sebuah incaran. Dalam kaitannya dengan pembelajaran menulis pustaka berita, siswa menghakimi abstrak teks berita yang dimuat privat surat pemberitaan atau nan disediakan master. Hasil yang diharapkan dari kegiatan mencacat merupakan pembelajar menemukan unsur-unsur berita dan pola-sempurna penulisan teks berita.

b.


Mengikuti


dalam konteks pembelajaran enggak diartikan sebagai kegiatan “menjiplak”. Hal yang harus ditiru bukan kata per introduksi, kalimat per kalimat namun zarah-molekul yang harus suka-suka dalam teks berita dan contoh-pola penulisan bacaan berita sehingga petatar dapat menulis bacaan berita n domestik berbagai pola dan diversifikasi.

c.


Menambahi


merupakan kendaraan bagi siswa untuk memberikan dandan eksklusif terhadap tulisannya sehingga berlainan dengan korban tiruannya. Artinya, bila dalam sasaran sintetis ada unsur-anasir berita nan belum termasuk, siswa menambahi sehingga menjadi lebih lengkap partikel-unsur beritanya.

Keunggulan:

Mempermudah siswa untuk mengendalikan kompetensi menulis teks berita. Dengan awalan-langkah berasal menuduh, menirukan, dan menokok siswa diharapkan dapat menulis bacaan berita sesuai dengan unsur-zarah pembangunnya.

Kelemahan:

Murid menumpu menjiplak dari contoh nan sudah ada. Siswa menjadi terpatok untuk menggambar situasi nan sebanding, sehingga kemampuannya kurang berkembang.


3.




Teknik Field Trip


Field trip


adalah teknik sparing mengajar momongan pelihara dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat-panggung tertentu dengan harapan cak bagi berlatih. Kejadian ini lampau sesuai bagi meningkatkan penerimaan menulis deskripsi.

Ancang-ancang:

a.


Guru membuka interaksi dengan siswa bikin membudayakan rencana kegiatan kerumahtanggaan pembelajaran menulis deskripsi.

b.


Guru dan siswa menyepakati trip yang akan dikunjungi dan waktu yang dipilih lakukan pemebelajaran menulis deskripsi.

c.


Siswa dan temperatur bersama-setara mengunjungi tempat yang dituju, contohnya museum.

d.


Guru membimbing siswa cak bagi segera menulis dan mendeskripsikan suatu sasaran yang telah dipilih.

e.


Master merefleksi gubahan yang sudah ditulis oleh peserta.

Keunggulan:

a.


Meningkatnya kualitas pembelajaran menulis siswa,
ditandai dengan timbulnya keaktifan pelajar dalam mengikuti pengajian pengkajian kelincahan menggambar.

b.


Keaktifan peserta intern pembelajaran meliputi aktif menyoal maupun mengasihkan tanggapan, aktif mengerjakan tugas serta menjawab tanya guru.

c.


Memudahkan siswa lakukan mencurahkan ide-ide kedalam tulisan.

d.


Siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari bulan-bulanan yang dilihatnya

e.


Pelajar lebih nyaman dan doyan momen pembelajaran berlangsung.

Kelemahan:

a.


Membutuhkan waktu nan lama.

b.


Membutuhkan biaya yang memadai banyak.

c.


Hawa membutuhkan tenaga ekstra bakal dapat membimbing siswa satu per satu.


4.




Teknik pengandaian 180o berbeda

Teknik ini merupakan teknik nan membantu peserta intern menulis cerita khususnya cerita. Teknik ini dinamakan dengan pengandaian 180o
karena cara yang digunakan yakni membalikkan tokoh cerita yang sudah suka-suka ataupun lazim dimasyarakat. Misalnya cerita Malin Kundang yang menjadi tokoh jahat yaitu Malin. Dengan teknik ini petatar  menulis dengan pentolan jahatnya adalah Ibu Malin.

Langkah-langkah:


a.




Mengingat-ingat yang terpikir



,


yaitu tuliskan sebanyak mungkin kata nan terkenang dalam perhatian setelah mendengar suatu alas kata. Misalnya, ketika dikatakan “sandal jepit”, tuliskan “rimba kaki, murah, toilet, licin, leha-leha, dsb”. Kegiatan ini ialah aktivitas pembuka untuk melepaskan sekat-sekat keraguan serta melatih kreativitas berpikir. Umumnya kendala batik yaitu (a) keraguan kerjakan memulai batik, (b) kewaswasan bakal merangkai perkembangan kisah, dan (c) kesangsian apakah tulisannya bagus maupun lain.

b.




Mendeskripsikan



,


yaitu memberikan gambaran tentang suatu objek, palagan, suasana, tokoh, penokohan, dsb. sehingga pembaca seolah-olah dapat merasakan, meluluk, mendengar, mencium segala apa nan dideskripsikan panitera. Latihan pendeskripsian dilakukan dengan pendirian (a) mendeskripsikan sesuatu nan terbantah, (b) mendeskripsikan sesuatu yang terdengar, (4) mendeskripsikan sesuatu nan tercium, dan (d) mendeskripsikan sesuatu nan teraba. Kursus ini dilakukan suatu masing-masing satu agar pendeskripsian dapat makin terfokus dan mendalam (detail).

c.




Menggunakan pengandaian 180° berbeda


. Les menulis cerita tidak harus dimulai dengan sesuatu yang baru. Tuntunan dapat dimulai dengan sesuatu yang sudah dikenal semua siswa. Hal ini bermaksud hendaknya siswa memiliki gambaran umum tentang apa yang akan dituliskan. Tapi, agar cerita konstan menggandeng, siswa diharuskan menulis kisahan dengan karakteristik pencetus yang berbeda 180°. Misalnya, bila murid hendak menuliskan kembali cerita “Si Kancil”, maka karakteristik Bengkunang nan biasanya lebih banyak akal daripada Buaya, kali ini diubah 180° berbeda sehingga Buaya dibuat kian cerdik.

d.




Menunggangi berbagai tesmak pandang (point of view)


.

Tesmak pandang artinya dari pandangan mana peristiwa-peristiwa dalam cerita dipaparkan, apakah terbit sudut pandang pengarang, tokoh A, atau tokoh B. Di dalam cerita yang utuh, kacamata pandang selalu berubah. Makanya karena itu, perubahan sudut pandang yaitu bagian yang harus dilatihkan agar petatar dapat membuat cerita nan kian variatif dan menarik. Pada cerita Si Kancil (dengan 180° berbeda), purwa-tama pelajar diminta cak bagi menuliskan kisah dengan sudut pandang Si Kancil. Lebih jauh, pelajar diminta untuk membuat kisahan tersebut dengan sudut pandang Buaya.

Merek:

a.


Siswa merasa termotivasi dengan menunggangi teknik yang berbeda dari galibnya dalam menulis,

b.


Suasana menulis kian inovatif dan mendinginkan,

c.


Siswa bisa mengeksplor imajinasinya dalam menulis cerita.

Kelemahan: belum dapat ditemukan dalam penerapan teknik ini.


5.




Teknik kancing gemerincing

Teknik kancing gemerincing adalah teknik yang digunakan kerjakan meningkatkan keterampilan menulis kerumahtanggaan melengkapi cerita rumpang. Teknik ini menggunakan siasat seumpama perlengkapan calo lakukan membantu pembelajaran.

Langkah-langkah:

a.


Siswa dibagi menjadi 5 kelompok, tiap kelompok terdiri mulai sejak 4 anak adam.

b.


Kisahan yang rumpang dibagikan kepada masing-masing pelajar, kemudian murid menelaah dan membaca teks tersebut dengan intensi mengetahui harapan cerita asalnya.

c.


Setiap petatar kerumahtanggaan gerombolan mempunyai tugas dan tanggung jawab nan separas untuk memikirkan kalimat-kalimat yang tepat dan memadukan kalimat dengan kalimat sehingga cerita tersebut menjadi runtut.

d.


Kancing-kancing intern boks dibagikan pada peserta masing-masing beruntung dua buah kancing.

e.


Guru menyerahkan penjelasan teknik melengkapi kisah rumpang dengan berdiskusi menggunakan media muslihat perumpamaan berikut:

ü


Semua anggota keramaian harus menyodorkan pendapatnya yaitu kalimat yang tepat bagi melengkapi cerita rumpang sehingga cerita menjadi padu.

ü


Kalau pelecok satu kebalikan semenjana berfirman mengemukakan pendapatnya, maka siswa yang lain harus mendengarkan pendapat padanan tersebut dan yang telah bertutur mengemukakan pendapatnya harus menyerahkan salah satu kancingnya dan meletakkannya di tengah-paruh gerombolan.

ü


Jika kancing yang dimiliki seorang petatar telah dulu, dia lain boleh berpendapat lagi sebatas rekan-rekannya pun menghabiskan kancing mereka.

ü


Jika daya yang dimiliki oleh siswa intern satu kelompok telah terlampau, sedangkan tugas belum selesai, kelompok dapat menjumut kesempatan bakal membagikan kancing lagi dan prosedur ataupun caranya diulangi pula.

f.


Suhu menugaskan petatar untuk melengkapi kisah rumpang dengan teknik kancing gemerincing yang telah dijelaskan.

g.


Murid melengkapi kisah rumpang dengan arahan suhu.

h.


Temperatur memberikan kesempatan untuk bertanya.

i.


Setelah siswa dalam kelompoknya menyelesaikan tugas melengkapi cerita rumpang, maka kelompok tersebut harus merevisi hasil tulisannya.

j.


Setelah semua kelompok mengedit, maka setiap kerubungan mandapat kesempatan untuk memamerkan hasil kerja pada kelompok tidak dengan teknik keliling kelompok.

k.


Setiap gerombolan berkesempatan membaca hasil batik cerita dari tiap-tiap kelompok, situasi ini dimaksudkan agar dapat mengapresiasi hasil karya basyar bukan.

l.


Guru mengerjakan penilaian terhadap hasil menggambar siswa dalam menggambar melengkapi narasi rumpang dan memonten kelompok nan kerjanya bagus.

m.


Diakhir kegiatan merupakan diskusi kerjakan memberi tanggapan terhadap hasil karya orang lain.

n.


Ki memenungkan hasil kegiatan siswa

udara murni.


Siswa sederum guru mewujudkan kesimpulan

Keunggulan:

a.


Suasana pembelajaran menggambar makin inovatif, sehingga petatar lebih tertarik untuk mau mengikuti pembelajaran.

b.


Memotivasi pesuluh berlomba dengan sehat.

Kelemahan:

Membutuhkan waktu yang terlampau lama dalam proses penataran.

Sumber Wacana:

Haryadi. 2010.
Model Pendedahan. Semarang: Unnes



Perut, Farida. 2007.
Pengajaran Mendaras di Sekolah Pangkal.
Jakarta: Dunia Aksara.

Sapani, Suardi, dkk. 1997.
Teori Pembelajaran Bahasa.
Jakarta: Depdikbud.


Source: http://citraindonesiaku.blogspot.com/2012/02/metode-model-dan-teknik-pembelajaran.html

Posted by: skycrepers.com