Modul 2 Strategi Pembelajaran Di Sd

Intern mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan aplikasi Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Penerimaan Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Dolan Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya kebijakan penataran inkuiri (inquiry).

Strategi Pembelajaran

Di bawah ini akan diuraikan secara singkat mulai sejak masing-masing model pembelajaran tersebut.

A.

Pendedahan Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) ataupun biasa disingkat CTL yakni konsep pembelajaran yang mementingkan puas keterkaitan antara materi pengajian pengkajian dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta bimbing mampu mengikat dan menerapkan kompetensi hasil sparing dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penerimaan kontekstual, tugas guru yaitu memberikan kemudahan membiasakan kepada petatar didik, dengan menyediakan berbagai rupa sarana dan sumber sparing yang memadai. Guru tidak belaka menganjurkan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatak lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa didik belajar.

Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) menyampaikan panca elemen yang harus diperhatikan privat pembelajaran kontekstual, yakni :

  1. Penerimaan harus memperhatikan warta yang sudah dimiliki makanya peserta didik
  2. Penelaahan dimulai semenjak keseluruhan (universal) mendekati bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khas)
  3. Pembelajaran harus ditekankan lega kesadaran, dengan cara: (a) menyusun konsep darurat; (b) mengamalkan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan berusul orang lain; dan (c) merevisi dan melebarkan konsep.
  4. Pendedahan ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung segala apa-apa yang dipelajari.
  5. Adanya refleksi terhadap garis haluan pembelajaran dan ekspansi pengetahuan yang dipelajari.

B.

Bermain Peran (Role Playing)

Dolan peran adalah pelecok suatu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-komplikasi nan berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut nasib peserta didik.

Pengalaman berlatih yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian

Menerobos bermain peran, siswa didik mencoba mengeksplorasi gabungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sederajat para murid didik dapat mengeksplorasi parasaan-perhatian, sikap-sikap, angka-kredit, dan berbagai strategi pemisahan masalah.

Dengan mengutip berusul Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan hierarki pendedahan bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta tuntun; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap urun pendapat dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pemungutan keputusan.

C.

Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)

Penataran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) ialah model pengajian pengkajian dengan menyertakan peserta didik secara aktif kerumahtanggaan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan romantis dan mental pelajar didik; (2) adanya keikhlasan peserta didik cak bagi memberikan kontribusi intern pencapaian harapan; (3) dalam kegiatan membiasakan terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pengembangan penataran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:

  1. Menciptakan suasana nan mendorong peserta didik siap belajar.
  2. Membantu murid tuntun menyusun kerumunan, seharusnya siap belajar dan membelajarkan
  3. Kontributif siswa didik bagi mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
  4. Kontributif peserta tuntun menyusun tujuan belajar.
  5. Kondusif peserta didik merancang pola-konseptual camar duka belajar.
  6. Membantu siswa tuntun melakukan kegiatan belajar.
  7. Membantu pelajar pelihara melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil berlatih.

D.

Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta tuntun mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Seharusnya semua peserta didik memperoleh hasil berlatih secara maksimal, pengajian pengkajian harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin berpokok kebijakan penelaahan nan dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir harapan dan objek belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan pimpinan terhadap peserta jaga yang gagal menyentuh tujuan nan telah ditetapkan. Harapan penerimaan harus diorganisir secara spesifik untuk melicinkan tes hasil belajar, objek wajib dijabarkan menjadi satuan-satuan sparing tertentu,dan penyerobotan bahan yang kamil untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut terbit para pesuluh didik sebelum proses belajar melangkah sreg tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para siswa bimbing menyelesaikan suatu kegiatan membiasakan tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan
(feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh permakluman tentang pencapaian tujuan dan pencaplokan mangsa oleh petatar jaga. Hasil evaluasi digunakan buat menentukan dimana dan dalam keadaan apa para peserta didik teradat memperoleh bimbingan internal mencapai tujuan, sehinga seluruh murid didik dapat mengaras tujuan ,dan menguasai bahan sparing secara maksimal (sparing tuntas).

Strategi membiasakan tuntas dapat dibedakan mulai sejak pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara terkonsolidasi kerjakan memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan misal alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); (2) pelajar didik baru dapat melangkah pada tuntunan berikutnya sesudah ia serius menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap pelajar bimbing yang gagal mencapai taraf pendudukan munjung, menerobos pengajaran remedial (pengajaran korektif).

Strategi berlatih tuntas dikembangkan maka itu Bloom, menutupi tiga bagian, yakni: (1) mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil sparing; dan (3c) implementasi dalam pendedahan klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1)
corrective technique
adalah semacam pencekokan pendoktrinan remedial, yang dilakukan mengasihkan pengajaran terhadap maksud yang gagal dicapai pesuluh jaga, dengan prosedur dan metode nan berbeda dari sebelumnya; dan (2) menyerahkan komplemen waktu kepada murid tuntun yang membutuhkan (sebelum mengamankan bahan secara tuntas).

Di samping implementasi n domestik penerimaan secara klasikal, berlatih tuntas banyak diimplementasikan privat pembelajaran distingtif. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal detik ditunjang maka dari itu bilang ki alat, baik hardware ataupun software, termasuk eksploitasi komputer (internet) bakal mengefektifkan proses belajar.

E. Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)

Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan tertuju untuk digunakan maka itu peserta asuh, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para suhu.

Penelaahan dengan sistem modul punya karakteristik sebagai berikut:

  1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan nan jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa tuntun, bagaimana mengerjakan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
  2. Modul meripakan pendedahan individual, sehingga mengupayakan bakal melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. N domestik setiap modul harus : (1) memungkinkan murid pelihara mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan murid didik mengukur kemajuan belajar nan sudah lalu diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesial dan bisa diukur.
  3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan cak bagi membantu peserta asuh mengaras harapan pembelajaran seefektif dan seefisien mana tahu, serta memungkinkan peserta pelihara untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan bagi bermain peran (role playing), simulasi dan beranggar pena.
  4. Materi pengajian pengkajian disajikan secara masuk akal dan sistematis, sehingga peserta asuh dapat menngetahui kapan anda memulai dan mengakhiri suatu modul, serta lain menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan alias dipelajari.
  5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian pamrih belajar murid bimbing, terutama kerjakan memberikan umpan balik bakal peserta jaga dalam mencapai ketuntasan belajar.

Pada galibnya pengajian pengkajian dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lawe kegiatan petatar ajar; (2) utas kerja; (3) kunci kenur kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) sendi jawaban.

Komponen-komponen tersebut dikemas intern format modul, perumpamaan beriku:

  1. Pendahuluan;
    nan digdaya deskripsi masyarakat, seperti materi nan disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal nan harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
  2. Tujuan Pendedahan; weduk tujuan pembelajaran distingtif yang harus dicapai peserta ajar, sesudah mempelajari modul. Dalam adegan ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencecah intensi.
  3. Testimoni Tadinya; yang digunakan lakukan menjadwalkan posisi pelajar didik dan mengerti kemampuan awalnya, cak bagi menentukan darimana dia harus memulai belajar, dan apakah perlu bagi mempelajari ataupun lain modul tersebut.
  4. Pengalaman Belajar; yang sakti rincian materi kerjakan setiap tujuan pembelajaran khusus, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta tuntun akan halnya pamrih belajar nan dicapainya.
  5. Sumber
    Berlatih; berisi tentang perigi-sendang belajar yang bisa ditelusuri dan digunakan maka itu peserta didik.
  6. Pemeriksaan ulang Akhir; perlengkapan yang digunakan dalam tes akhir seperti mana yang digunakan plong validasi tadinya, sahaja lebih difokuskan pada harapan perhentian setiap modul

Tugas utama guru dalam penerimaan sistem modul yakni mengorganisasikan dan mengeset proses membiasakan, antara tidak : (1) menyiagakan situasi pembelajaran nan kondusif; (2) kontributif pesuluh didik yang mengalami kesulitan n domestik memaklumi isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan studi terhadap setiap siswa jaga.

F.

Penataran Inkuiri

Penelaahan inkuiri adalah kegiatan pembelajaran nan melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa bikin berburu dan menginvestigasi sesuatu (benda, khalayak atau peristiwa) secara berstruktur, kritis, logis, analitis sehingga mereka boleh merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi mahajana yang yaitu syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri untuk pelajar, ialah : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berpusat pada hipotesis nan teradat diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di intern proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, seperti mana lazimnya internal pengujian hipotesis,

Proses inkuiri dilakukan melalui panjang-tingkatan misal berikut:

  1. Menyusun ki kesulitan; kemampuan nan dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b) melihat pentingnya komplikasi dan (c) menyusun masalah.
  2. Meluaskan hipotesis; kemampuan nan dituntut internal mengembangkan premis ini yakni : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara membumi; dan merumuskan presumsi.
  3. Menguji jawaban provisional;
    kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit keadaan, terdiri berasal : mengidentifikasi keadaan yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b) memformulasikan data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, menyadari pertepatan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan harmoni.
  4. Menyeret kesimpulan;
    kemampuan yang dituntut adalah: (a) berburu model dan makna hubungan; dan (b) merumuskan kesimpulan
  5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi

Suhu dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, jodoh yang reaktif dan penyedia. Dia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta menjatah kemudahan bagi kerja kelompok.

Source: https://istiqomahnur.blogspot.com/

Posted by: skycrepers.com