Modul 5 Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Di Sd

PDGK4502 – Peluasan Kur & Pemb di SD


MODUL 4. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


KB 1. KONSEP DASAR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


A.   Implikasi Manajemen Berbasis Sekolah

Tata Berbasis Sekolah (MBS) adalah model pengelolaan yang memberikan kemandirian atau kemandirian kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan sederum semua warga sekolah sesuai dengan patokan yang ditetapkan. MBS bermaksud:

1)

Meningkatkan mutu pendidikan melangkahi kemandirian dan inisiatif sekolah kerumahtanggaan mengelola dan memberdayakan sumber daya yang terhidang;

2)

Meningkatkan kepedulian penghuni sekolah dan masyarakat kerumahtanggaan pengelolaan pendidikan melalui pengutipan keputusan bersama;

3)

Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada ayah bunda, sekolah, dan pemerintah tentang loklok sekolah; serta

4)

Meningkatkan kompetisi segar antar sekolah dalam mencapai mutu pendidikan yang diharapkan.

MBS memasrahkan kesempatan kerjakan sekolah buat mengetahui keefektifan, kelemahan, peluang dan tantangan agar boleh mengunakan sumber daya secara optimal.

Dua asumsi pangkal penerapan MBS:

1)

Sekolah dipandang perumpamaan  suatu lembaga layanan jasa pendidikan yang memosisikan kepala sekolah bagaikan manajer pendidikan dan bertanggung jawab terhadap pertambahan mutu pelayanan dan hasil belajar.

2)

Dapat efektif diterapkan apabila didukung makanya sistem berbagi  kekuasaan antara pemerintah kiat dan distrik dalam manajemen sekolah.

Pendirian umum pelaksanaan MBS:

1)

Profesionalisme, dengan komponen pendidikan yakni pengelola, pekerja, dan profesionalisme dewan sekolah.

2)

Pembagian kewenangan, sesuai keistimewaan dan perannya sendirisendiri.

3)

Pencapaian mutu pendidikan, mempunyai misi dan visi sesuai tingkatan sekolah.

4)

Partisipasi masyarakat, memaksudkan keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak terkait.

5)

Transparansi, berpedoman pada keterbukaan dalam pengelolaan.

6)

Pembentukan Dewan Sekolah, misal institusi penopang dan bertugas mengidentifikasi maksud dan manfaat acara pendidikan serta merencanakan dan melaksanakan program bersama sekolah.


B.   Konotasi Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum dalam signifikansi bertamadun lebih mulai sejak sekedar rencana pelajaran, tetapi sebagai camar duka sparing yang diperoleh murid bermula sekolah. Empat komponen utamanya: tujuan,  materi, politik belajar mengajar, dan sistem evaluasi.  Kurikulum misal pedoman hawa dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kurikulum berubah sesuai urut-urutan hobatan pengetahuan dan teknologi serta aplikasi kebutuhan publik.

Selama tiga puluh empat tahun, Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Tahun 2004, kita menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) nan kemudian dikembangkan  oleh Kurikulum Tingkat Asongan Pendidikan (KTSP) berdasarkan PP no 19/2005 yang menyatakan bahwa penyusunan kurikulum yakni bahara jawab setiap satuan pendidikan. Perundangan bukan nan terkait dengan KTSP adalah:

1)

Permen Diknas RI no. 22/2006 tentang Standar Isi

2)

Permen Diknas RI no. 23/2006 mengenai Standar Kompetensi Lulusan

3)

Permen Diknas RI no. 24/2006 tentang Pelaksanaan Kriteria Isi

Kurikulum 2004 dikenal dengan KBK berisi tolok kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai peserta asuh menerobos materi muslihat dan indicator pencapaian hasil berlatih. Kompetensi pangkal terdiri dari:

1)

Kompetensi Akademik, peserta didik harus memiliki pengetahuan dan kegesitan mengatasi tantangan dan persoalan semangat secara bebas.

2)

Kompetensi Okupasional, peserta tuntun harus memiliki ketersediaan dan berlambak beradaptasi terhadap dunia kerja.

3)

Kompetensi Kultural, peserta ajar harus kreatif meletakkan diri sepenuhnya internal sistem budaya dan tata poin masyarakat yang pluralistik.

4)

Kompetensi Temporal, pelajar didik konstan eksis internal menjalani spirit, mampu memanfaatkan ketiga kemampuan asal nan dimiliki sesuai dengan urut-urutan jaman.

Selain itu sekali lagi dikenal kegesitan alias kecakapan hidup (lifeskill) yang mencakup lima kategori:

1)

Kegesitan mengenal diri seorang/personal

2)

Kegesitan berpikir dalam-dalam rasional

3)

Keterampilan sosial

4)

Keterampilan akademik

5)

Keterampilan vokasional


C.   Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi

Secara umum, karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi yaitu sebagai berikut:

1)

Mengistimewakan plong pencapaian bulan-bulanan kompetensi daripada penyerobotan materi

2)

Mengakomodasi  keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan nan terhidang

3)

Menyerahkan independensi lebih luas kepada penyusun pendidikan di lapangan untuk melebarkan dan melaksanakan program-program pembelajaran sesuai dengan kebutuhuan.

Catur suku cadang terdahulu KBK (Boediono, 2002):

1)

Kurikulum dan Hasil Belajar

2)

Penilaian Berbasis Papan bawah

3)


K

egiatan Belajar Mengajar

4)

Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah


D.  Cara Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Prinsip umum pengembangan kurikulum adalah:

1)

Iman dan Takwa, Nilai, dan Budi Pekerti

2)

Ketahanan dan Integritas Nasion

3)

Keberseimbangan

4)

Mengarah Universal

5)

Berbasis Teknologi Informasi

6)

Memfokus sreg “Kecapakan Hidup”

7)

Berorientasi pada Siswa

8)

Berkesinambungan

9)

Menuju sreg Proses dan Hasil


KB 2. IMPLIKASI PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


A.  Peran Master intern Manajemen Pembelajaran

Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi memerlukan tenaga pengorganisasi pendidikan yang memiliki profesionalisme dan kebajikan tinggi. Kompetensi guru menurut UU no. 14/2005 tentang guru dan dosen, terdiri berbunga: kompetensi pedagogik, budi, sosial, dan profesional.  Guru bermain signifikan dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran. Dalam KBK, temperatur dituntut menaruh perhatian pada keberadaan dan kebutuhan siswa, juga n kepunyaan keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang kondusif dengan cara mengurusi murid dan media pembelajaran dengan baik. Guru harus kaya berinovasi privat hal media pembelajaran yang meningkatkan  aktifitas siswa dan pada akhirnya meningkatkan hasil belajar.

Keterampilan melaksanakan prosedur mengajar:

1.

Kegiatan memulai pelajaran

2.

Kegiatan mengelola pengajian pengkajian

3.

Kegiatan mengorganisasi waktu

4.

Kegiatan melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar

5.

Kegiatan mengakhiri pelajaran

Secara sumir, peran temperatur dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai perencana, pengatur, penilai, dan pengajar.


B.  Implementasi KBK Melalui Pendedahan Terpadu

Faktor mengajar yang perlu diperhatikan agar proses penerimaan efektif:

1)

Kesempatan cak bagi belajar

2)

Pengetahuan sediakala siswa

5)

Keragaman orang

6)

Kemandirian dan kolaborasi

7)

Suasana nan mendukung

8)

Membiasakan bakal kebersamaan

9)

Petatar sebagai pendiri gagasan

12)

Interaksi dan komunikasi

13)

Belajar cara belajar

Pengajian pengkajian terpadu (integrated learning) mengistimewakan lega kesatuan konsep sehingga memberikan kesempatan kepada siswa bagi melebarkan kreatifitas intern menemukan keterkaitan antara mangsa belajar. Pembelajaran terpadu memungkinkan peserta menemukan koteng suatu konsep dan cara secara holistic, bermakna, dan otentik.

Tiga tipe penerimaan terpadu yang terdiri terbit 10 model (Fogarty, 1991:5):

1)

Macam pembelajaran terpadu  internal satu kepatuhan ilmu(fragmented, connected, nested)

2)

Jenis pembelajaran terpadu antardisiplin ilmu(sequenced, shared, webbed, threaded, integrated)

3)

Keberagaman penataran terpadu  berdasarkan faktor pengelaman dan laporan siswa(networked)

Sempurna pendedahan terpadu boleh diterapkan intern pelaksanaan KBK. Konsep pembelajaran terpadu mendukung mengembangkan potensi pelajar didik secara keseluruhan, sesuai dengan darah dan kemampuannya kerjakan tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan boleh dipercaya.

Source: https://eko-sg.blogspot.com/2016/10/resume-pdgk-4502-pengembangan-kurikulum_5.html

Posted by: skycrepers.com