Modul 6 Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Di Sd


RANGKUMAN MATERI: Ekspansi Kurikulum dan Pendedahan di SD Modu…

Ringkasan MATERI: Ekspansi Kurikulum dan Pembelajaran di SD Modu…: MODUL 6 – KURIKULUM TINGKAT Eceran PENDIDIKAN KEGIATAN BELAJAR 1 – Gudi DAN Mandu Pengembangan KTSP A. Pengertian KTSP Menurut BNSP,…


Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD Modul 6

MODUL 6 – KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN KEGIATAN BELAJAR 1 – LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KTSP A. Signifikansi KTSP Menurut BNSP, KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun maka dari itu dan dilaksanakan di sendirisendiri satuan pendidikan. KTSP yakni kurikulum berbasis kompetensi nan disusun oleh dan dilaksanakan di sekolah sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada di negeri buat memenuhi kebutuhan dan jalan siswa. Dengan memperhatikan pengertian KTSP, dapat dikemukakan bahwa setiap sekolah akan n kepunyaan kurikulum nan berbeda satu sama lain. Buat menghindari beragam kualitas proses dan hasil sparing di sekolah BNSP menganjurkan bahwa ekspansi KTSP harus mengacu sreg Standar Nasional Pendidikan (SNP) sehingga pencapaian tujuan pendidikan kewarganegaraan terjamin. SNP tersebut mencangam kriteria isi, tolok proses, kompetensi mantan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, serta penilaian pendidikan. Artinya pengembangan dan pelaksanaan kurikulum disekolah mudahmudahan memenuhi patokan yang tercantum dalam setiap standar yang sudah ditetapkan. B. Galangan Alias Logis KTSP Menurut Bolstad, pengembangan kurikulum berbasis sekolah menyediakan mekanisme bagi sekolah kerjakan: 1. Memenuhi kebutuhan dan minat peserta secara kian baik 2. Mengaitkan belajar disekolah ke dalam butir-butir dan sumber local 3. Peka terhadap ide-ide dan teknologi hijau dalam pendidikan 4. Mengambil keuntungan pecah kesempatan nan disebabkan oleh struktur kurikulum dan asesmen bau kencur Pengembangan kurikulum makanya sekolah diperlukan mudahmudahan sekolah bisa memperikan program pendidikan nan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan belajar siswa, serta memenuhi permohonan perkembangan wilayah dan kebutuhan nasional. Atau dengan alas kata lain, pengembangan KTSP memungkinkan sekolah untuk resposif terhadap kebutuhan dan minat pendidikan para petatar dan masyarakat. Dengan belas kasih kebebasan yang makin samudra siswa dituntut untuk dapat mengembangkan kurikulum secara mandiri, inovatif serta berorientasi pada kebutuhan mutu dan potensi yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan di sekolah. Melalui KTSP sekolah dapat berupaya mengembangkan program kurikuler dan ekstrakurikuler yang sesuai dengan permintaan kenaikan kualitas lulusan yang berjaya (aplikasi nasional dan menyeluruh) dan sesuai dengan kebutuhan daerah (kebutuhan local). Selain itu, profesionalisme guru pun ialah alas an enggak perlunya peluasan KTSP. Seorang temperatur professional dituntut cak bagi bernas mengembangkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum. Kompetensi ekspansi kurikulum merupakan bagian terkonsolidasi berpangkal profesonalisme guru. C. Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP BNSP mengemukakan sapta cara nan perlu diperhatikan dalam ekspansi KTSP. Ketujuh cara tersebut yakni: 1. Berpusat pada Potensi, Perkembangan, Kebutuhan dan Kepentingan Peserta Tuntun dan Lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik mempunyai posisi sentral untuk mengembangkan potensinya mudah-mudahan menjadi manusis yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, rupawan, berlimpah, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Bagi kondusif pencapaian tujuan tersebut ekspansi potensi pelajar didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan keistimewaan peserta didik serta tuntutan mileu. Punya posisi sentral, berarti kegiatan penelaahan berpusat pada pelajar didik. 2. Bermacam-macam dan Terpadu Kurikulum dikembangkan dengan menyerang keragaman karakteristik peserta ajar, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan lain diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, leluri, status social ekonomi, dan gender. Kurikulum meliputi mal onderdil muatan mesti kurikulum, muatan local, ekspansi diri serta secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kontinuitas yang bermanfaat dan tepat antarsubstansi. 3. Peka terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa hobatan pesiaran, teknologi, dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, kehidupan da nisi kurikulum memasrahkan camar duka murid asuh untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 4. Relevan dengan Kebututuhan Semangat Perkembangan kurikulum dilakukan dengan menyertakan pemangku kepentingan (stakeholder) bikin menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, teragendakan didalamnya kehidupan kemasyarakatan, manjapada aksi, dan dunia kerja. Oleh karena itu, peluasan keterampilan pribadi, keterampilan berfikir, kegesitan social, keterampilan akademik, dan kegesitan vokasional merupakan keniscayaan. 5. Menyeluruh dan Berkesinambungan Perbendaharaan kurikulim mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan alat penglihatan pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan. 6. Membiasakan Selama Vitalitas Kurikulum diarahkan kepada potensi pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan pesuluh didik yang berlangsung selama hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara atom-unsur pendidikan lazim, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan aplikasi mileu nan selalu berkembang serta jihat pengembangan manusia seutuhnya. 7. Sekufu antara Kepentingan Nasional dan Kepentingan Negeri Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kemujaraban kebangsaan dan kepntingan provinsi untuk membangun semangat bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan kebangsaan dan arti daerah harus tukar mengisi dan memberdayakan searah dengan moto Bhineka Khusus IKa n domestik kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD

MODUL 4 – KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KEGIATAN Berlatih 1 – KONSEP DASAR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI A. Implikasi Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yakni model pengelolaan nan memberikan otonomi atau kemandirian kepada sekolah dan menunda pemungutan keputusan partisipatif yang mengikutsertakan berbarengan semua penghuni sekolah sesuai dengan standar nan ditetapkan. MBS bertujuan: 1. Meningkatkan mutiara pendidikan melampaui kemandirian dan inisiatif sekolah intern mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia; 2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama; 3. Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada ibu bapak, sekolah, dan pemerintah adapun mutu sekolah; serta 4. Meningkatkan kompetisi sehat antar sekolah intern mencapai mutu pendidikan yang diharapkan. MBS memberikan kesempatan kerjakan sekolah cak bagi mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan kiranya bisa mengunakan perigi pokok secara optimal. Dua asumsi dasar penerapan MBS,: 1. Sekolah dipandang ibarat satu lembaga layanan jasa pendidikan nan memosisikan pemimpin sekolah sebagai manajer pendidikan dan berkewajiban terhadap peningkatan loklok pelayanan dan hasil berlatih. 2. Dapat efektif diterapkan apabila didukung oleh sistem berbagi kekuasaan antara pemerintah sentral dan negeri n domestik pengelolaan sekolah. Mandu umum pelaksanaan MBS: 1. Profesionalisme, dengan onderdil pendidikan yaitu pengelola, pekerja, dan profesionalisme dewan sekolah. 2. Pembagian wewenang, sesuai fungsi dan perannya per. 3. Pencapaian mutu pendidikan, memiliki misi dan visi sesuai tataran sekolah. 4. Partisipasi mahajana, memaui keterlibatan dan bagasi jawab semua pihak terkait. 5. Transparansi, berpijak pada keterbukaan privat pengelolaan. 6. Pembentukan Dewan Sekolah, sebagai institusi penopang dan bertugas mengidentifikasi tujuan dan kemujaraban program pendidikan serta merencanakan dan melaksanakan program bersama sekolah. B. Denotasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum dalam pengertian modern kian dari sekedar rencana tuntunan, tetapi andai pengalaman sparing yang diperoleh pesuluh dari sekolah. Empat komponen utamanya: tujuan, materi, ketatanegaraan belajar mengajar, dan sistem evaluasi. Kurikulum sebagai pedoman suhu dalam proses sparing mengajar di sekolah. Kurikulum berubah sesuai perkembangan mantra pengetahuan dan teknologi serta tuntutan kebutuhan masyarakat. Sejauh tiga puluh catur hari, Indonesia mutakadim mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Periode 2004, kita menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian dikembangkan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan PP no 19/2005 yang menyatakan bahwa penyusunan kurikulum merupakan kewajiban jawab setiap rincih pendidikan. Perundangan lain yang tersapu dengan KTSP adalah: (1) Permen Diknas RI no. 22/2006 akan halnya Standar Isi (2) Permen Diknas RI no. 23/2006 adapun Barometer Kompetensi Lulusan (3) Permen Diknas RI no. 24/2006 akan halnya Pelaksanaan Barometer Isi Kurikulum 2004 dikenal dengan KBK berisi tolok kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai murid didik melalui materi anak kunci dan indicator pencapaian hasil belajar. Kompetensi dasar terdiri dari: 1. Kompetensi Akademik, peserta asuh harus n kepunyaan informasi dan keterampilan mengatasi tantangan dan persoalan semangat secara independen. 2. Kompetensi Okupasional, peserta asuh harus memiliki kesiapan dan mampu beradaptasi terhadap dunia kerja. 3. Kompetensi Kultural, peserta didik harus mampu menempatkan diri secantik-baiknya privat sistem budaya dan pengelolaan kredit publik yang pluralistik. 4. Kompetensi Temporal, peserta didik tetap eksis dalam menjalani nasib, kreatif memanfaatkan ketiga kemampuan dasar nan dimiliki sesuai dengan jalan jaman. Selain itu lagi dikenal kegesitan atau kecakapan hidup (lifeskill) nan mencangam lima kategori: 1. Kegesitan mengenal diri koteng/personal 2. Kelincahan berpikir logis 3. Keterampilan sosial 4. Keterampilan akademik 5. Keterampilan vokasional C. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi Secara mahajana, karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah andai berikut: 1. Menitikberatkan sreg pencapaian bulan-bulanan kompetensi daripada penguasaan materi 2. Mengakomodasi keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan nan tersedia 3. Memberikan independensi lebih luas kepada produsen pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program pembelajaran sesuai dengan kebutuhuan. Empat komponen utama KBK (Boediono, 2002): (1) Kurikulum dan Hasil Belajar (2) Penilaian Berbasis Kelas (3) Kegiatan Belajar Mengajar (4) Penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Sekolah D. Prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendirian umum pengembangan kurikulum adalah: (1) Iman dan Takwa, Nilai, dan Tata krama (2) Toleransi dan Integritas Bangsa (3) Keberseimbangan (4) Berorientasi Mendunia (5) Berbasis Teknologi Pemberitahuan (6) Berorientasi puas “Kecapakan Hidup” (7) Menumpu pada Pesuluh (8) Bersambung-sambung (9) Berorientasi plong Proses dan Hasil KEGIATAN BELAJAR 2 – IMPLIKASI PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI A. Peran Temperatur dalam Penyelenggaraan Pembelajaran Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi memerlukan tenaga pengelola pendidikan yang memiliki profesionalisme dan kebajikan tinggi. Kompetensi guru menurut UU no. 14/2005 tentang suhu dan dosen, terdiri dari: kompetensi pedagogik, budi, sosial, dan profesional. Suhu bertindak penting kerumahtanggaan menentukan total dan kualitas pengajaran. Dalam KBK, guru dituntut menaruh perhatian pada kedatangan dan kebutuhan siswa, juga memiliki keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar nan kondusif dengan cara mengelola siswa dan sarana pembelajaran dengan baik. Guru harus mampu berinovasi dalam keadaan ki alat pembelajaran nan meningkatkan aktifitas siswa dan pada kesudahannya meningkatkan hasil belajar. Keterampilan melaksanakan prosedur mengajar: 1. Kegiatan memulai cak bimbingan 2. Kegiatan mengelola pembelajaran 3. Kegiatan mengorganisasi periode 4. Kegiatan melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar 5. Kegiatan mengakhiri pelajaran Secara singkat, peran guru dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai perencana, pengatur, pengetes, dan penatar. B. Implementasi KBK Melalui Pembelajaran Terpadu Faktor mengajar yang perlu diperhatikan agar proses pengajian pengkajian efektif: 1) Kesempatan bakal belajar 2) Kenyataan sediakala siswa 3) Refleksi 4) Motivasi 5) Keragaman individu 6) Kemandirian dan partisipasi 7) Suasana yang mendukung 8) Sparing kerjakan kekompakan 9) Peserta sebagai pembangun gagasan 10) Rasa kepingin tahu 11) Menyenangkan 12) Interaksi dan komunikasi 13) Belajar cara berlatih Penerimaan terpadu (integrated learning) menekankan pada kesatuan konsep sehingga memberikan kesempatan kepada petatar untuk mengembangkan kreatifitas kerumahtanggaan menemukan keterkaitan antara incaran belajar. Pembelajaran terpadu memungkinkan murid menemukan sendiri satu konsep dan prinsip secara holistic, berharga, dan otentik. Tiga varietas pembelajaran terpadu yang terdiri bersumber 10 lengkap (Fogarty, 1991:5): 1) Tipe pembelajaran terpadu dalam suatu loyalitas ilmu (fragmented, connected, nested) 2) Spesies pembelajaran terpadu antardisiplin hobatan (sequenced, shared, webbed, threaded, integrated) 3) Spesies penelaahan terpadu berdasarkan faktor pengelaman dan warta siswa (networked) Model pengajian pengkajian terpadu boleh diterapkan dalam pelaksanaan KBK. Konsep pengajian pengkajian terpadu membantu mengembangkan potensi peserta didik secara keseluruhan, sesuai dengan bakat dan kemampuannya untuk tumbuh menjadi penghuni negara yang berkewajiban dan bisa dipercaya.

Source: http://sriindriysni76.blogspot.com/

Posted by: skycrepers.com