Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Di Sd Modul 9




Image result for gambar kurikulum


 Mo


dul 1: HAKIKAT KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN





     Kegiatan Belajar 1:


Pengertian, Kemujaraban, dan Komponen Kurikulum

Pengembangan kurikulum ialah bagian yang sangat esensial dalam proses pembelajaran. Ada 4 bagian terdahulu kerumahtanggaan kurikulum membentangi: tujuan, isi/materi, ketatanegaraan pembelajaran, dan evaluasi. Ke-4 putaran/komponen terdahulu kurikulum ini saling berkaitan dan berinteraksi untuk mencapai perilaku yang diinginkan/dicita-citakan oleh tujuan pendidikan kewarganegaraan.
Tujuan yang jelas akan membagi petunjuk yang jelas pula dalam memilih isi/materi nan harus dikuasai, strategi nan akan digunakan serta bentuk dan alat evaluasi nan tepat untuk menakar ketercapaian kurikulum.
Pangkat perumusan harapan kurikulum dimulai semenjak tujuan umum pendidikan, kemudian pamrih institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
Materi/isi kurikulum menurut Saylor dan Alexander adalah fakta-fakta, observasi, data, kecabuhan, penginderaan, pemecahan ki aib yang terbit dari ingatan manusia dan pengalamannya nan diatur dan diorganisasikan dalam bentuk konsep, generalisasi, prinsip, dan pemecahan kelainan.
Kebijakan pembelajaran berkaitan dengan bagaimana mengedepankan isi/materi kurikulum mudah-mudahan maksud tercapai dan komponen evaluasi kurikulum adalah bikin menilai apakah harapan kurikulum telah teraih. Hasil dari evaluasi kurikulum adalah berupa umpan pesong apakah kurikulum ini akan direvisi atau tidak.


     Kegiatan Belajar 2:


Pengembangan Kurikulum

Kurikulum yakni segala apa nan akan diajarkan sedangkan pengajian pengkajian adalah bagaimana menyampaikan barang apa nan diajarkan. Menurut McDonald & Leeper kegiatan kurikulum adalah memproduksi lembaga kegiatan, sementara itu pembelajaran adalah kegiatan melaksanakan buram tersebut. Kurikulum dan pembelajaran pada dasarnya adalah subsistem terbit suatu sistem yang makin osean, ialah sistem persekolahan. Kurikulum dan pendedahan adalah dua sistem yang tukar terkait suatu sama bukan secara membenang dalam suatu siklus.
Menurut Gagne dan Briggs penelaahan yakni suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa nan berisi serangkaian kejadian yang dirancang buat mempengaruhi proses berlatih dalam diri siswa. Menurut Gredler proses perubahan sikap dan tingkah laku siswa sreg dasarnya terjadi intern satu lingkungan buatan dan sangat adv minim bergantung plong situasi alami, ini artinya sepatutnya proses belajar pelajar berlangsung optimal guru perlu menciptakan mileu belajar nan kontributif. Proses menciptakan mileu belajar yang kondusif ini disebut pembelajaran.
Kaidah-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola kegiatan pembelajaran yakni:
1. harus berpusat lega siswa yang belajar
2. belajar dengan melakukan,
3. melebarkan kemampuan sosial,
4. mengembangkan kuriositas,
5. imajinasi dan fitrah momongan
6. melebarkan keterampilan memecahkan masalah
7. mengembangkan daya kreasi petatar,
8. meluaskan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi
9. menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik, dan
10. belajar sepanjang hayat.

Pengembangan kurikulum ialah suatu istilah yang ada kerumahtanggaan penyelidikan kurikulum, yaitu sebagai organ bagi kontributif temperatur berbuat tugasnya menyampaikan penelaahan yang menyedot minat siswa. Kegiatan pengembangan kurikulum ini terbiasa dilakukan untuk menghadapi dan mengantisipasi keadaan berikut, ialah merespons perkembangan guna-guna dan teknologi, perubahan sosial di luar sistem pendidikan, memenuhi kebutuhan siswa dan merespons kemajuan-keberuntungan privat pendidikan.
Masalah nan suka-suka n domestik proses pengembangan kurikulum umumnya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana memilih materi yang diajarkan, apa yang harus dilakukan bila ada rukyah nan bertolak pinggul dengan dam dan bagaimana menerapkan kurikulum secara meyakinkan.

Daftar bacaan


Alberty, Harold B. (1965). Reorganizing the High School Curriculum. New York: The Macmillan Company.

Doll, Ronald C. (1974). Curriculum Improvement: Decision Making and Process, (Third Edition). Boston-London-Sidney: Allyn and Bacon.

Hamalik, O. (1990). Peluasan Kurikulum: Dasar-dasar dan Perkembangannya. Bandung: Mandar Berbudaya.

Hasan, S.H. (1988). Evaluasi Kurikulum. Jakarta: P2LPTK.

Joyce, Bruce and Marsha Weil. (1980). Models of Teaching. New York: Prentice-Hall Inc.

Kaber, A. (1988). Ekspansi Kurikulum. Jakarta: P2LPTK.

Mager, R.F. and K.M. Beach Jr. (1967). Developing Vocational Instruction. Belmont California: David. S. Lake Publisher.

Nasution, S. (1987). Pengembangan Kurikulum. Bandung: Alumni.

Saylor, J. Galen; Alexander, William M.; dan Lewis, Arthur J. (1974). Curriculum Planning for Better Teaching and Learning. New York: Holt Rinehart and Winston.

Sudjana, Falak. (1990). Penilaian Hasil dan Proses Sparing Mengajar. Bandung: Cukup umur Rosdakarya.

Sudjana, Horizon. dan Ibrahim, R. (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Mentah.

Sudjana, N. (1988). Asal-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sorot Yunior.

Sukmadinata, Kaki langit.S. (1988). Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: P2LPTK.

Taba, Hilda (1962). Curriculum Development: Theory and Practice. New York: Harcourt Brace and World, Inc.

Tyler, Ralph W. (1975). Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Zais, Robert S. (1976). Curriculum, Principles and Foundations. New York: Harper and Row Publisher.










Modul 2: Halangan, PRINSIP, DAN PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN



                           KURIKULUM


Landasan Pengembangan Kurikulum

Landasan ekspansi kurikulum pada hakikatnya merupakan faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum kerangka pendidikan, baik di mileu sekolah maupun luar sekolah. Secara masyarakat terdapat tiga aspek pokok yang memedomani pengembangan kurikulum tersebut, yaitu: guri filosofis, landasan kognitif, dan landasan sosiologis.
Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat internal membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu rangka pendidikan. Filsafat ini menjadi landasan terdahulu bagi landasan lainnya. Perumusan tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya bergantung plong pertimbangan-pertimbangan filosofis. Pandangan filosofis nan berlainan akan mempengaruhi dan mendorong permohonan pengembangan kurikulum nan berbeda pula. Berdasarkan kalangan filosofis ini ditentukan tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, intensi meres studi, dan tujuan instruksional.
Limbung psikologis terutama berkaitan dengan psikologi/teori belajar (psychology/theory of learning) dan psikologi perkembangan (developmental psychology). Ilmu jiwa sparing memberikan kontribusi dalam hal bagaimana kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Dengan kata lain, psikologi sparing berkenaan dengan penentuan kebijakan kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang diberikan kepada pesuluh sepatutnya tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa tersebut.
Galengan sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek nan harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum karena pendidikan selalu mengandung nilai atau norma yang berperan dalam masyarakat. Di samping itu, keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi maka dari itu lingkungan kehidupan awam, dengan apa karakteristik dan kekayaan budayanya yang menjadi radiks dan acuan bagi pendidikan/kurikulum. Ilmu pengumuman dan teknologi (iptek) sebagai barang kebudayaan diperlukan internal peluasan kurikulum umpama upaya menyelaraskan isi kurikulum dengan urut-urutan dan kesuksesan nan terjadi privat dunia iptek.


     Kegiatan Belajar 2:


     Prinsip, Pendekatan, dan Langkah-langkah dalam  Pengembangan Kurikulum

Setiap ekspansi kurikulum, selain harus berpedoman pada sejumlah guri, juga harus menerapkan atau menggunakan prinsip-kaidah tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap ekspansi kurikulum diikat oleh kadar atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah nan jelas sesuai dengan mandu yang mutakadim disepakati.
Secara umum prinsip-kaidah pengembangan kurikulum meliputi kaidah relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, serta efisiensi dan efektivitas.
Pendirian relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara suku cadang harapan, isi, strategi, dan evaluasi. Prinsip fleksibilitas berkenaan dengan kedaulatan/keluwesan yang dimiliki master dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan lakukan murid sesuai dengan minat dan bakatnya. Pendirian kontinuitas berkenaan dengan adanya kelanjutan materi tuntunan antarberbagai jenis dan pangkat sekolah serta antartingkatan kelas. Kaidah efisiensi dan efektivitas berkenaan dengan pendayagunaan semua sendang secara optimal untuk mencapai hasil yang optimal.
Sementara itu, cara distingtif nan harus diperhatikan kerumahtanggaan melebarkan kurikulum berbasis kompetensi, antara tidak: prinsip keimanan, poin dan fiil pekerti indah, penguasaan integrasi kewarganegaraan, kesamarataan etika, logika, estetika, dan kinetika, kesetaraan memperoleh kesempatan, abad pengetahuan dan teknologi pesiaran, ekspansi keterampilan hidup, berfokus pada anak, serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Apabila dianalisis secara mendalam bilang kaidah khusus nan diterapkan privat pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, puas dasarnya merupakan penjabaran dari empat prinsip mahajana pengembangan kurikulum.
Ada dua pendekatan dalam pengembangan kurikulum, yakni pendekatan administratif dan akar susu rumput. Pendekatan manajerial adalah suatu pendekatan intern peluasan kurikulum di mana ide atau inisiatif peluasan unjuk dari para pejabat maupun pengembang kebijakan seperti Menteri Pendidikan, Kepala Jawatan dan tak-lain. Sementara itu pendekatan akar rumput, ide pengembangan muncul dari keresahan para guru-master nan mengimplementasikan kurikulum di sekolah di mana mereka menginginkan peralihan alias penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan di sekolah.
Cak semau beberapa persiapan dalam pengembangan kurikulum, yakni analisis dan diagnosis kebutuhan, formulasi tujuan, penyortiran dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian camar duka belajar, dan pengembangan alat evaluasi.
Analisis dan diagnosis kebutuhan dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yakni: kebutuhan siswa, petisi masyarakat/dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah. Tentang caranya dapat dilakukan melampaui survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas.
Langkah pengembangan kurikulum lebih lanjut setelah seperangkat kebutuhan tersusun yaitu perumusan tujuan, penyortiran dan pengerahan materi, pemilihan dan aktivasi pengalaman berlatih, serta peluasan peranti evaluasi.


Daftar pustaka


Doll, R.C. (1974). Curriculum Improvement: Decision Making and Process, (Third Edition), Boston-London-Sidney: Allyn and Bacon, Inc.

Hasan, S.H. (1988). Evaluasi Kurikulum. Jakarta: P2LPTK.

Kaber, A. (1988). Pengembangan Kurikulum. Jakarta: P2LPTK.

Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution S. (1982). Asas-asas Kurikulum. Bandung: Jemmars.

Ornstein, A. C. and Hunkins, F.P., (1988). Curriculum: Foundations, Principles, and Issues. Boston: Allyn and Bacon.

Sudjana, Kaki langit. (1989). Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru.

Sukmadinata, N.S. (1988). Prinsip dan Kalangan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: P2LPTK.

Tyler, R. W. (1975). Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Zais, R.S. (1976). Curriculum: Principles and Foundations. New York: Harper and Row.


          Modul 3: Bentuk Sumber akar KURIKULUM 2004







     Kegiatan Belajar 1:


Limbung, Prinsip Ekspansi dan Pelaksanaan Sistem Persekolahan, dan Patokan Kompetensi

Adanya jalan dan perubahan yang terus-menerus internal kehidupan publik, berbangsa dan bernegara yang dipengaruhi maka dari itu perubahan mendunia, urut-urutan pengumuman dan teknologi, seni dan budaya menuntut perlunya transisi sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum.
Perbaikan sistem pendidikan ini dimaksudkan untuk memperoleh publik nan congah menyeimbangkan diri dengan transisi tersebut secara khusus untuk berekspansi aspek-aspek akhlak, budi pekerti, khuluk pekerti, kabar, dan ketangkasan dari peserta asuh agar nantinya n kepunyaan kompetensi buat bertahan kehidupan dan menyetarafkan diri dengan kemajuan nan ada.
Penyempurnaan kurikulum dilandasi oleh strategi nan suka-suka intern peraturan UU, merupakan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 22 Tahun 1999 mengenai Pemerintah Daerah dan PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi bagaikan Kawasan Otonom.
Prinsip pengembangan kurikulum menutupi peningkatan keimanan dan budi pekerti, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika, pemantapan integritas nasional, perkembangan pengetahuan dan IT, kecakapan usia 4 pilar pendidikan dan berlatih sepanjang spirit.
Prinsip pelaksanaan kurikulum didasarkan pada kesamaan memperoleh kesempatan, berpusat lega anak, pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Jenjang pendidikan terdiri mulai sejak Pendidikan Vitalitas Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tahapan yang diselenggarakan sreg jalur seremonial dan nonformal.
Standar nasional pendidikan menghampari patokan isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidikan, kendaraan dan prasarana pengelolaan dan penilaian.
Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi bawah yang harus dicapai oleh siswa per inferior dan satuan pendidikan. Kriteria ukur kompetensi di tentukan dalam parameter.
Barometer kompetensi lulusan dijabarkan dalam patokan isi nan memuat incaran kegiatan, mata pelajaran, dan kegiatan berlatih aklimatisasi.
Kompetensi lintas kurikulum merupakan kompetensi kecakapan sukma dan membiasakan sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui asam garam berlatih secara berkesinambungan


     Kegiatan Berlatih 2:


Struktur dan Pelaksanaan Kurikulum 2004

1. Struktur kurikulum berisi tiga hal, merupakan bilang alat penglihatan pelajaran, kegiatan belajar pembiasaan, dan alokasi waktu.
2. Kegiatan membiasakan pembiasaan dilakukan secara terus-menerus start berpunca pendidikan ujana kanak-kanak, pendidikan dasar, dan menengah.
3. Taman kanak-kanak dan raudhatul athfal merupakan bentuk pendidikan usia dini sreg jalur pendidikan formal. Struktur kurikulum TK memuat dua bidang pengembangan, ialah pengembangan kegiatan berlatih orientasi dan bentuk-bentuk kemampuan bawah.
4. Penjelasan kegiatan pembiasaan di TK, SD dilakukan dengan pendekatan tematik yang diorganisasikan sekolah.
5. Kurikulum SMA dan MA ada dua diversifikasi, adalah kurikulum program studi dan struktur kurikulum program pilihan. Struktur program riset terdiri atas ilmu standard, hobatan sosial, dan bahasa.
6. Kurikulum program pilihan di SMA dan MA bertujuan bikin memasrahkan kedaulatan kepada peserta asuh lakukan melembarkan mata cak bimbingan sesuai dengan potensi, bakat, dan minat peserta didik.
7. Pelaksanaan kurikulum 2004 menerapkan cara “Kesatuan dalam strategi dan keberagaman privat pelaksanaan”.
8. Tolok nasional ditentukan pusat dan cara pelaksanaannya disesuaikan masing-masing daerah/sekolah. Pelaksanaan kurikulum sekolah ini harus memperhatikan:
a. perencanaan dan pelaksanaan sesuai standar yang telah ditetapkan,
b. perluasan kesempatan berimprovisasi dan berkreasi dalam meningkatkan mutu,
c. menugaskan tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam meningkatkan dur pendidikan,
d. peningkatan pertanggungjawaban kinerja tata pendidikan,
e. menciptakan menjadikan ketentuan dan kepercayaan dalam pengelolaan pendidikan sesuai otoritasnya,
f. perampungan ki kesulitan pendidikan sesuai karakteristik provinsi.
9. Kurikulum dapat didiversifikasi untuk melayani tipe penyelenggaraan kebutuhan dan kemampuan sekolah dan melayani minat peserta didik.
10. Kegiatan kurikuler dikelompokkan menjadi kegiatan intrakurikuler, merupakan kegiatan pengajian pengkajian untuk menguasai kompetensi dan ekstrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran nan diselenggarakan secara kontekstual dengan keadaan dan kebutuhan mileu bakal memenuhi tuntutan penguasaan kompetensi netra pelajaran, pembentukan khuluk, eskalasi kecakapan umur sesuai kebutuhan dan kondisi sekolah.
11. Kegiatan belajar aklimatisasi diselenggarakan secara terus-menerus mulai bermula TK, SD, SMA, mengutamakan kegiatan pembentukan dan pengendalian perilaku yang diwujudkan privat kegiatan rutin, serampak, dan mengenal partikel-zarah terdahulu kehidupan.

DAFTAR Wacana


Asep Herry Hernawan. (2003). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran (PGSD4407), Modul 7. Jakarta: Universitas Longo.

Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004, Lembaga Pangkal. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2006). Pelayanan Profesional Kurikulum. Jakarta: Cipta Jaya.

E. Mulyana. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Rosdakarya.

J. Quicke. (1999). Curriculum for Life, Schools for a Democratic Learning Society. Open.


          Modul 4: TANTANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN DI ABAD 21









     Kegiatan Sparing 1:


Life Skills (Pendidikan Kecakapan Hidup)

Life skills atau pendidikan kecakapan hidup (PKH) adalah interaksi beraneka macam pengetahuan dan kecakapan nan adv amat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dapat membantu siswa belajar bagaimana menernakkan tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, berkomplot secara baik dengan orang enggak, membuat keputusan yang masuk akal, mencagar dirinya sendiri dan hingga ke tujuan dalam hidupnya.
PKH perlu dikenalkan lega pesuluh karena bisa membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan belajar (learning how to learn), karena kecakapan ini diperlukan oleh semua makhluk. Makna kecakapan hidup lebih luas bermula keterampilan lakukan berkarya karena diharapkan dengan kecakapan ini, seseorang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dengan baik.
PKH terdiri dari:
1. GLS

®
kecakapan personal (kecakapan hayat general),
2. GLS,

®
kecakapan sosial
3. SLS (kecakapan kehidupan spesifik),

®
kecakapan akademik
4. SLS.

®
kecakapan vokasional

Keempat pilar pendidikan bermula UNESCO adalah perwujudan mulai sejak pesuluh yang memiliki kecakapan hidup sesuai standar UNESCO. Keempat pilar ini kemudian diwujudkan dalam bineka kompetensi nan ada internal Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Pelaksanaan PKH di sekolah perlu kolaborasi semua pihak yang terkebat kerumahtanggaan kegiatan pendidikan di sekolah, misalnya persetujuan dan uluran tangan ketua sekolah, hawa dan siswanya, guru-guru di kelas bukan atau guru mata latihan lain, guru perpustakaan, orang tua siswa, staf administrasi sekolah dan lainnya. PKH perlu dimasukkan internal kurikulum sekolah.
Kegiatan Belajar 2:
Keterampilan Melek Warta (Information literacy)
Literasi merupakan kemampuan membaca dan menggambar. Sementara itu keterampilan berjaga informasi yakni serangkaian kemampuan lakukan menyadari kebutuhan informasi dan pron bila butir-butir dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang dibutuhkan, memanfaatkan informasi secara tanggap dan etis, kemudian mengkomunikasikannya secara efektif dan efisien. Keterampilan melek informasi kembali berhubungan dengan kemampuan untuk menguasai. Siswa nan mempunyai kesigapan melek butir-butir yakni siswa nan independent dan competent, yang dapat beradaptasi dengan perubahan apapun secara mandiri dan fleksibel.
Manfaat kesigapan arik informasi adalah boleh membiasakan siswa untuk cangap belajar cak bagi meneliti sesuatu dengan menggunakan ketatanegaraan ilmiah, mengajak mereka untuk gelojoh mengaji dan menulis buat meninggi pengetahuan, wawasan, atau kecerdasan pesuluh sebagai bekal menjurus anak adam berkualitas.
Pelaksanaan keterampilan melek pengumuman di kelas dapat menggunakan metode ilmiah. Penilaian kesigapan ini juga terbiasa penilaian menyeluruh yang dapat memonten kemampuan dan hasil kerja peserta.

Daftar pustaka


Andi Haris Prabawa & Siti Zuhriah Ariatmi. (Ed.) (2002). Arketipe Pengembangan Kurukulum Pendidikan Tingkatan Tahun 2000. Surakarta: Penerbit Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Nasib (Life Skills Education). Bandung: Alfabeta.

Carol Koechlin & Sandi Zwaan. (2004). Build Your Own Information Literate School. California: Hi Willow Research & Publishing, San Jose, California.

David V. Loertscher & Blanche Woolls. (2002). Information Literacy: A Review of the Research: A Guide for Practitioners and Researchers, 2nd ed. California: Hi Willow Research & Publishing, San Jose, California.

Dhama Gustiar Baskoro, S.IP. (2005). Big 6 Dan Implementasinya dalam Information Literacy Program Bagi Guru Pustakawan Di Perpustakaan Sekolah K-12. Makalah yang ditulis untuk Perjumpaan Informal Ahli perpustakaan Sekolah 1 pada Agustus 2005, di Jakarta.

Diao Ai Lien & Titi Chandrawati. (2005), Current State Of Information Literacy Awareness And Practices In Indonesian Primary And Secondary Public Schools: Jakarta: Kenyataan hasil penelitian, Jakarta.

Hernowo. (2004). Bu Slim & Pak Bil Ceratai Pendidikan di Kala nanti: Ihwal Life Skills, Porto folio, Konstruktivisme, dan Kompetensi. Bandung: Tula Learning Center (MLC).

Hernowo. (2004). Bu Slim & Pak Bil Memprakarsai Kembali Pendidikan Berbasiskan Pokok. Bandung: Mizan Learning Center (MLC).

Ihad Hatimah & Sadri. (2006). Siasat Materi Pokok: Penerimaan Berwawasan Kemasyarakatan, Modul 7: Muatan Life Skills dalam Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Jakarta: Penerbit Universitas Melangah.

Kompas, 8 Maret 2006. Ingat Karakter Lewat Reka cipta Kultur Sekolah, Pendidikan Watak Harus Terintegrasi, pekarangan 12. Jakarta: Gramedia.

Kompas, 4 April 2006. Membiasakan Mendinginkan Dulu Agenda Pengkajian, jerambah 12. Jakarta: Gramedia.

Kompas, 8 April 2006. Pembelajaran Kreatif, Siswa Didorong Membiasakan Mandiri Lewat Penyelidikan Tertinggal, halaman 12. Jakarta: Gramedia.

Republika, 5 Maret 2006. Tahun Buku Sedunia: Mengoptimalkan Budaya Literacy, Hal. 20.

Victoria Pennell (1997). Information Literacy: An Advocacy Kit for Teacher-Librarians, the Association for Teacher-Librarian in Canada (ATLC). Canada.

_________ . (2003). On Your Own: Guided Steps. Canada: Thomas Valley District School Board.

Tim Broad Based Education Depdiknas. (2003). Contoh Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Spirit. Penerbit SIC bekerja sama dengan LPPM Perguruan tinggi Negeri Surabaya & Swa Bina Qualita Indonesia, Jatim

Yenny Novita, MA., SIP dan Ratna Setyowati Amoi, S.Pd. Ing. (2006). Peran Pustakawan Sekolah Dalam Menunjang Pendidikan di Sekolah—Sharing good Practices from Sekolah Pelita intensi Karawaci and Cikarang. Kertas kerja yang ditulis untuk Persuaan Informal Ahli perpustakaan Sekolah 2 lega copot 25 Februari 2006, di Jakarta.


          Modul 5: MODEL Peluasan RENCANA PEMBELAJARAN DAN



                           PERENCANAAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER








     Kegiatan Berlatih 1


Model Pengembangan Rencana Pembelajaran

Ada banyak teladan pengembangan rencana pembelajaran di antaranya kamil Gagne, model Kemp, model Gerlach & Ely, komplet Dick dan Carey, lengkap Banathy, dan hipotetis PPSI. Masing-masing model memiliki perbedaan dan persamaan. Paralelisme dari transendental tersebut adalah mengandung 3 kegiatan pokok, yaitu: mengidentifikasikan masalah; mengembangkan pemecahannya; dan menilai penceraian, dan mengandung atom bawah yang sama yaitu petatar, tujuan, metode dan kegiatan belajar-mengajar.
Ada 5 barometer lakukan memilih konseptual, yaitu harus primitif, model, dapat diterapkan, luas, dan teruji.
Langkah-langkah ekspansi konseptual Banathy ialah:
1. Merumuskan tujuan membiasakan secara spesifik dan nonblok,
2. Menyusun tes cak bagi mengukur ketercapaian tujuan,
3. Menentukan tugas-tugas yang akan diberikan agar tujuan dicapai, dan
4. Menganalisis sistem yang membentangi analisis keefektifan tentang apa nan akan dilakukan dan bagaimana, kali yang akan melakukannya, membagi fungsi sreg tiap komponen, dan menentukan jadwal pron bila pelaksanaannya dan di mana tempatnya.

Adapun langkah pengembangan model Dick & Carey meliputi:
1. Merumuskan pamrih pembelajaran.
2. Menentukan varietas kegiatan sparing/keterampilan yang memungkinkan tujuan penerimaan tercapai.
3. Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik murid untuk menentukan pola garis haluan pembelajaran.
4. Merumuskan tujuan partikular.
5. Merumuskan embaran pengecekan berdasarkan acuan tolok.
6. Meluaskan strategi pembelajaran, berupa camar duka belajar yang akan dialami siswa.
7. Mengembangkan dan memilih materi/bahan pembelajaran.
8. Mengadakan evaluasi formatif.
9. Mengadakan revisi sistem hasil evaluasi formatif.
10. Mengadakan evaluasi sumatif.

Adapun awalan-langkah melebarkan model Gerlach & Ely adalah:
Pertama: menentukan materi yang akan diajarkan serta merumuskan pamrih penerimaan.
Kedua: menilai perilaku siswa yang membiasakan.
Ketiga: mengerjakan panca peristiwa secara sederum, yaitu: menentukan strategi; mengatur penggolongan siswa; mengalokasikan musim; menentukan tempat atau ruangan mengajar, dan memilih sumur belajar yang akan digunakan.


     Kegiatan Belajar 2:


Perencanaan Kegiatan Ekstrakurikuler

1. Dari beberapa sumber, terletak beberapa kesamaan signifikansi ekstrakurikuler, yaitu mula-mula, kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan nan diprogramkan di luar jam pelajaran sekolah; kedua, kegiatan ekstrakurikuler diarahkan kerjakan membantu ketercapaian programa kurikuler.
2. Perbedaan antara kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan kurikuler bisa ditinjau bermula adat kegiatan, waktu pelaksanaan, tujuan dan sasaran yang kepingin dicapai, teknis pelaksanaan, serta kriteria evaluasi keberhasilan.
3. Terserah bilang intensi nan cak hendak dicapai maka itu kegiatan ekstrakurikuler di antaranya adalah memperluas, memperdalam pengetahuan dan kemampuan/kompetensi yang relevan dengan acara intrakurikuler, memberikan pemahaman terhadap hubungan antarmata latihan, merendam minat dan bakat siswa, mendekatkan amanat yang diperoleh dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat/mileu, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.
4. Kerumahtanggaan upaya mencapai tujuan kegiatan ekstrakurikuler, suka-suka beberapa kegiatan yang boleh diprogramkan di antaranya adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara, pembinaan kedisiplinan dan semangat koheren, pembinaan kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan, pembinaan kegesitan, atma mandiri dan kewiraswastaan, pembinaan roh afiat dan kebugaran jasmani, serta pembinaan penghargaan dan kreasi seni. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan bikin membantu secara langsung program kurikuler sekolah.
5. Keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler, bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya, sumber daya manusia nan cawis seperti kepala sekolah, suhu-master; dana, kendaraan dan prasarana; serta perhatian manusia tua siswa.
6. Perencanaan program kegiatan ekstrakurikuler perlu disusun oleh pengarah sekolah bersama suhu agar memperoleh hasil yang maksimal. Terdapat beberapa komponen yang harus dirumuskan dalam perencanaan kegiatan ekstrakurikuler di antaranya permukaan alias materi kegiatan, keberagaman kegiatan, tujuan atau hasil nan diharapkan, kendaraan penunjang, kendala ataupun obstruksi nan mungkin unjuk, tahun pelaksanaan, dan penanggung jawab. Sedangkan lakukan pelaksanaan kegiatan, perlu diperhatikan beberapa cara di antaranya mendekati plong tujuan, pendirian sosial dan kerja selevel, kaidah motivasi, pendirian pengkoordinasian dan tanggung jawab, serta cara relevansi.

DAFTAR PUSTAKA


Ausubel, D.P. & Robinson, F.G. (1969). School Learning: an Introduction to Educational Psychology. New York: Holt Rinehart and Winston, Inc.

Bruner, J. (1960). The Process of Education. Cambridge: Harvard University Press.

Cohen, L. dan Manon, L. (1984). A Guide to Teaching Practice (Second Edition). New York: Methuen & Co.

Depdikbud. (1998). Kurikulum Pendidikan Dasar 1998.

Galby, M., Greewald and Ruth, W. (Edited) (1983). Curriculum Design. Providen House: Croom Helm.

Jackson, P. W. (Ed) (1992). Handbook of Research on Curriculum. New York: MacMillan.

Joyce, B. & Weil, M. (1980). Models of Teaching. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall.

Kirbi, Cakrawala. (1984). Personal Values in Primary Education. London: Harper & Row.

Klein, M. F. (1989). Curriculum Reform in the Elementary School: Creating your own agenda. Teacher College, Columbia University.

Marsh,C. & Stafford, K. (1988). Curriculum Practices. Sydney: Mc Graw-Hill Book.

Miller, J.P. & Seller,W. (1985). Curriculum Perspectives and Practice. New York & London: Longman.

Zaitun, P. F. (1992). Developing the Curriculum (Third Edition). New York: Harper Collins.
Sukmadinata, Cakrawala. Sy. (1987). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Bandung: Akil balig Rosdakarya.


          Modul 6: PERENCANAAN Pengajian pengkajian







     Kegiatan Belajar 1:


Konsep Pangkal Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran berarti penyusunan langkah-persiapan pelaksanaan satu kegiatan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Suku cadang perencanaan pembelajaran terdiri dari kemampuan mendeskripsikan kompetensi pembelajaran, melembarkan dan menentukan materi, mengorganisasi materi, menentukan metode/politik pendedahan, menentukan perangkat penilaian, menentukan teknik penilaian, dan mengalokasikan waktu. Komponen-suku cadang itu merujuk pada apa yang akan dilakukan guru dan siswa dalam proses penataran cak bagi sampai ke harapan, sebelum kegiatan pembelajaran nan sesungguhnya dilaksanakan.
Manfaat perencanaan penerimaan adalah laksana berikut.
1. bagaikan petunjuk arah kegiatan intern hingga ke tujuan.
2. sebagai model dasar dalam mengatur tugas dan kewenangan bikin setiap unsur yang terlibat intern kegiatan.
3. sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik molekul guru maupun siswanya.
4. bak alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap ketika dapat diketahui presisi dan kelambatan kerjanya.
5. bagaikan bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
6. perencanaan penataran dibuat bikin menghemat waktu, tenaga, perangkat, dan biaya.


     Kegiatan Belajar 2:


Ekspansi Silabus dan Rencana ataupun Eceran Pelajaran

Silabus yaitu garis besar ringkasan, ringkasan, atau pusat-pokok materi pelajaran. Silabus yakni kerangka pembelajaran yang berisi tulang beragangan incaran bimbing mata pelajaran tertentu pada inferior dan jenjang tertentu, sebagai hasil mulai sejak penyortiran, pengelompokan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum, nan dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan kawasan setempat.
KBK ataupun Kurikulum 2004 mengistilahkan silabus bagaikan:
1. Seperangkat bentuk dan pengaturan akan halnya kegiatan penataran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil membiasakan.
2. Onderdil silabus menjawab 1) kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa? 2) bagaimana kaidah mengembang-kannya? 3) bagaimana kaidah memahami bahwa kompetensi sudah dicapai siswa?
3. Tujuan pengembangan silabus adalah membantu hawa dan tenaga kependidikan lainnya dalam menjabarkan kompetensi bawah menjadi perencanaan pengajian pengkajian.
4. Incaran pengembangan silabus ialah hawa, kerubungan master netra tuntunan di sekolah, kelompok kerja guru, dan dinas pendidikan.

Isi silabus minimal harus mencakup unsur:
1. tujuan mata pelajaran,
2. incaran mata pelajaran,
3. keterampilan yang diperlukan agar bisa menguasai ain tuntunan tersebut dengan baik,
4. jabaran topik-topik nan akan diajarkan,
5. aktivitas dan mata air-sendang sparing simpatisan keberhasilan pembelajaran,
6. bervariasi teknik evaluasi nan akan digunakan.

Komponen silabus terdiri dari: 1) bidang investigasi nan akan diajarkan, 2) tingkat sekolah dan semester, 3) pengelompokan standar kompetensi, kompetensi dasar, 4) parameter, 5) materi pokok, 6) strategi pengajian pengkajian, 7) alokasi perian, dan 8) bulan-bulanan/peranti/media. Komponen trik silabus terdiri semenjak: tolok kompetensi, kompetensi bawah, indeks, dan materi pembelajaran.
Kepentingan silabus adalah seumpama pedoman n domestik pengembangan seluruh kegiatan penelaahan.
Mandu ekspansi silabus adalah: ilmiah, mengaibkan perkembangan dan kebutuhan siswa, sistematis, dan relevan.
Proses pengembangan silabus berbasis kompetensi terdiri atas tujuh langkah utama, yaitu: 1) penulisan identitas mata les, 2) perumusan tolok kompetensi, 3) penentuan kompetensi dasar, 4) penentuan materi pokok dan uraiannya, 5) penentuan pengalaman belajar, 6) penentuan alokasi musim, dan 7) penentuan sumber objek.
Rencana mengajar merupakan realisasi dari pengalaman belajar pesuluh yang telah ditetapkan dalam penentuan asam garam belajar. Guru dapat berekspansi kerangka pembelajaran dalam berbagai tulang beragangan.
Perencanaan pembelajaran dapat dibagi menjadi rancangan mingguan dan harian. Rencana harian adalah kerangka pendedahan yang disusun kerjakan saban hari mengajar.
N domestik menyusun rang pembelajaran harian ini temperatur perlu demap berpusat pada peserta, dan semua kegiatan pembelajaran yang bisa melibatkan siswa kerumahtanggaan kegiatan belajar baik secara jasmani maupun mentalnya.
Prinsip-prinsip persiapan mengajar adalah harus terbelakang, dan fleksibel, kegiatan yang dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang sudah lalu ditetapkan, persiapan pembelajaran harus utuh dan menyeluruh serta jelas indikatornya, kemudian, harus cak semau koordinasi antarkomponen pelaksana programa sekolah.

Daftar pustaka


Abdul Majid. (2005). Perencanaan Penerimaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Atwi Suparman. (2001). Desain Instruksional. Jakarta: PAU-PPAI, UT.

Syaiful Sagala. (2005). Konsep dan Makna Penerimaan. Bandung: Alfabeta.


          Modul 7: Telaah KURIKULUM Mata Latihan BAHASA DAN SASTRA



                           INDONESIA







     Kegiatan Belajar 1:


Analisis Komponen Kurikulum

Urut-urutan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, sosial, dan budaya memberikan dampak bagi dunia pendidikan. Kurikulum sebagai pedoman pendidikan harus merespons segala perkembangan tersebut. Kebutuhan siswa, permintaan masyarakat, dan globalisasi menghendaki adanya pergantian kurikulum pendidikan di negara kita.
Kurikulum yang berlaku momen ini adalah kurikulum 2004 ataupun disebut juga kurikulum berbasis kompetensi. Penerimaan Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa bikin berkomunikasi internal bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tercantum serta menimbulkan pujian terhadap hasil cipta sosok Indonesia. Berdasarkan situasi tersebut maka bisa dikatakan bahwa mata les Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan programa buat mengembangkan pengetahuan, kemampuan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
Khasiat mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan: 1. sarana pembinaan kesatuan dan persatuan nasion; 2. media peningkatan pengetahuan dan ketangkasan berbahasa Indonesia privat rangka pelestarian dan pengembangan budaya; 3. alat angkut peningkatan deklarasi dan kesigapan beristiadat Indonesia cak bagi meraih dan mengembangkan hobatan pengetahuan, teknologi, dan seni; 4. sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik bagi berbagai keperluan menyangsang majemuk masalah; 5. ki alat pengembangan penalaran, dan; 6. wahana pemahaman beraneka ragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.
Harapan pengajaran Bahasa Indonesia yaitu; 1. siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara; 2. siswa mengerti bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna dan kemujaraban serta menggunakannya dengan tepat cak bagi bermacam ragam keperluan dan situasi; 3. pesuluh n kepunyaan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan sarjana , kedewasaan emosional dan sosial; 4. Siswa memiliki loyalitas dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menggambar); 5. petatar mampu menikmati, meresapi, memahami dan memanfaatkan karya sastra kerjakan mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; 6. siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Kompetensi yaitu kemampuan yang bisa dilakukan oleh siswa yang mencakup kabar, keterampilan, dan perilaku. Tolok kompetensi adalah kemampuan nan dapat dilakukan maupun ditampilkan lakukan suatu les. Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal yang harus dicapai petatar. Hasil berlatih yaitu hasil yang diperoleh pesuluh setelah proses pembelajaran. Parameter yakni rincian hasil membiasakan dan nan menjawab soal” Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa petatar didik sudah dapat sampai ke hasil pembelajarannya.”


     Kegiatan Belajar 2:


Analisis Kompetensi dan Hasil Membiasakan

Prinsip pembelajaran bahasa Indonesia tidak berniat untuk menyelesaikan butir-butir tentang bahasa, tetapi pelajar mempunyai kemampuan beradat kerjakan pelbagai keperluan komunikasi. Kemampuan berbahasa yang dimaksud adalah kemampuan mendengarkan, berbicara, mendaras, dan menulis. Di dalam kurikulum 2004 baik di SMP ataupun di SMU, kemampuan tersebut dirumuskan dalam standar kompetensi dan kompetensi pangkal Kemampuan tersebut di dalam penerimaan dilaksanakan secara terpadu dan saling menubruk satu dengan yang lainnya. Bermula patokan kompetensi dan kompetensi dasar yang sudah lalu ditetapkan di setiap jenjangnya boleh dilihat hasil sparing yang diharapkan setelah proses pembelajaran. Hasil membiasakan tersebut dirinci kembali menjadi penunjuk-indikator pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA


Alwi, Hasan, dkk. (1998). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta: Balairung Pustaka.

Chaer, Abdul. (2003). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Medium Direktorat Pendidikan Menengah Publik. (2003). Kurikulum 2004 S M A Pedoman Tunggal Pengembangan Silabus dan Penilaian. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Sedang Direktorat Pendidikan Sedang Awam 2004. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Permulaan (SMP) Pedoman Unik Peluasan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Medium Pertama (SMP) Netra Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Tarigan, Guntur Henry. (1993). Bercakap. Bandung: Angkasa.

________. (1993). Menyimak. Bandung: Angkasa.

Yulaelawati, Ella. (2004). Kurikulum dan Penataran Filosofi Teori dan Petisi. Bandung: Pakar Raya.


          Modul 8: INDIKATOR PEMBELAJARAN Privat KURIKULUM Indra penglihatan



                          PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA







      Kegiatan Membiasakan 1:


Analisis Kompetensi Dasar dan Penunjuk Penataran Bahasa dan Sastra Indonesia

Aspek pengajian pengkajian Bahasa dan Sastra Indonesia terdiri atas 1) kemampuan berpendidikan Indonesia merupakan mendengarkan, mengomong, mengaji, dan menulis, 2) bersastra baik sastra lisan maupun sastra catat. Kedua aspek ini (beristiadat dan bersastra) lain memiliki perbedaan di kerumahtanggaan pelaksanaan. Materi yang berupa sastra verbal dipelajari dengan prinsip mengapresiasinya secara lisan yaitu didengarkan dan dibicarakan maupun dibahas secara lisan dan tertulis. Materi nan berupa sastra catat diapresiasi dengan cara dibaca dan dibahas secara terjadwal maupun secara oral. Dengan demikian pada hakikatnya belajar bahasa Indonesia adalah membiasakan berkomunikasi, menyibakkan ide, pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapat secara lisan dan tertulis.
Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) berisi muatan yang mengacu pada perolehan kemampuan siswa di akhir latihan. Jabaran bermula kompetensi berbentuk penunjuk-penunjuk. Perbedaan antara indikator dan kompetensi dasar terletak plong luasnya cakupan isi alias muatan. Cakupan beban indikator lebih sempit dibandingkan dengan kompetensi dasar. Sebab, indikator merupakan rincian berasal kompetensi sumber akar.
Bakal mengukur seberapa jauh siswa boleh mencapai penunjuk materi pembelajaran tertentu digunakan peranti evaluasi. Perangkat evaluasi dapat berupa tes, pemberian tugas, atau ulangan surat kabar. Tes alias tugas dapat berupa pemeriksaan ulang teori atau pula praktek. Dengan adanya pemberuan dalam bidang pendidikan, evaluasi proses sangat baik bakal dilaksanakan. Untuk mengamalkan evaluasi penataran bahasa secara baik, lihat modul-modul akhir mata kuliah Evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia (PBIN4302) dan Pembaharuan privat Pendedahan Bahasa Indonesia (PBIN4405).
Indikator memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Perbuatan atau responsi yang dapat dilakukan petatar bikin menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kompetensi sumber akar tertentu.
2. Rincian hasil berlatih nan kian spesifik.
3. Dikembangkan berlandaskan materi pembelajaran dan kompetensi dasar.
4. Dirumuskan dengan prolog kerja operasional.
5. Petunjuk pencapaian kompetensi bawah.

Beberapa keadaan yang harus diperhatikan dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi bilang indikator merupakan dengan terlebih habis mempelajari kompetensi. Penjabaran indikator harus berfokus pada kompetensi barang apa nan akan dimiliki siswa sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Setelah itu lakukan kegiatan berikut ini.
1. Tentukan berapa lama kompetensi tersebut akan dicapai serta seberapa jauh tingkat kemampuan yang ingin dicapai.
2. Keselarasan antara kompetensi bawah dan indikator teradat diutamakan internal penjabaran ini.
3. Penyusunan penunjuk diawali berasal indeks yang tercecer ke parameter yang lebih jarang.
4. Perbuatan ataupun tindakan nan dijabarkan pada indikator harus jelas terukur. Pernyataan indikator harus konkret.


     Kegiatan Belajar 2:


Ain Les Bahasa dan Sastra Indonesia

Patokan kompetensi, kompetensi dasar, dan penanda kemampuan mutakadim tersedia di dalam kurikulum netra pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis kompetensi baik SMP maupun SMA. Belaka, seyogianya para guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengarifi bahkan mampu mengembangkan indikator-indikator kompetensi alat penglihatan cak bimbingan Bahasa dan Sastra Indonesia sendiri. Kemampuan para guru ini menjadi modal bagi memformulasikan sempurna pengajian pengkajian atau berekspansi desain pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan baik.
Hal yang penting di dalam model penataran adalah camar duka belajar adalah kegiatan-kegiatan membiasakan yang dilakukan siswa di n domestik proses belajar mengajar kerumahtanggaan bentuk mencapai kompetensi atau indikator-indikator kemampuan pesuluh. Pengalaman belajar dikem-bangkan berlandaskan indikator-penanda tersebut.
Berikut ini yaitu tahapan yang dilalui dalam mengembangkan indikator menjadi pengalaman sparing.
1. Langkah awal apa yang harus dilakukan cak bagi mencapai kompetensi indikator 1?
2. Apakah cak semau kegiatan pendukung tak nan boleh digunakan buat menyentuh indikator 1?
3. Jika ada, lakukan!
4. Jika tak ada sekali lagi kegiatan partisan bagi mencapai kemampuan yang suka-suka pada indikator maka lakukanlah kegiatan (sebagai pengalaman belajar) sesuai kata kerja operasional yang ada kerumahtanggaan indikator.
5. Demikian pula dengan indikator-indikator berikutnya.

Menerobos indikator dan pengalaman berlatih yang akan dilakukan peserta itulah arketipe pendedahan Bahasa dan Sastra Indonesia dikembangkan. Jika guru ingin memiliki persiapan mengajar yang lebih rinci, suhu dapat menyusun desain pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan mengacu plong model penataran tersebut.

Daftar bacaan


          Modul 9: Amatan DESAIN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA



                           INDONESIA







      Kegiatan Belajar 1:


Amatan Onderdil-onderdil Penataran Bahasa dan Sastra Indonesia

Kegiatan amatan terhadap desain pengajian pengkajian terlazim kita lakukan kerjakan memahami kelemahan nan terletak di dalam desain yang telah kita susun. Kegiatan ini biasanya dilakukan sesudah desain pembelajaran tersebut kita laksanakan. Justru pun seandainya kita mendapatkan kekurangan atau hasil pembelajaran yang kurang memuaskan. Setelah beberapa kelemahan kita temukan misal hasil analisis, kegiatan berikutnya adalah memperbaiki desain pendedahan tersebut agar proses dan hasil pendedahan yang harapkan mencapai tingkat maksimal dapat dicapai.
Pemahaman terhadap desain pembelajaran Bahasa Indonesia tidak menggunakan signifikasi terhadap istilah yang memiliki arti sempit. Apapun nama atau bagaimanapun bentuknya, sebuah bagan yang akan digunakan dalam kegiatan penelaahan seperti silabus, ketengan pelajaran, maupun tulang beragangan pembelajaran dapat disebut sebagai desain pembelajaran.
Kegiatan analisis desain pengajian pengkajian ini dilakukan dengan mengkaji penerapan 4 suku cadang signifikan yaitu, 1) tujuan ataupun kompetensi pembelajaran n domestik kejadian ini ialah kompetensi pembelajaran Bahasa Indonesia; 2) aspek-aspek pembelajaran Bahasa Indonesia; 3) onderdil-suku cadang pembelajaran Bahasa Indonesia; dan 4) pendirian-cara penelaahan Bahasa Indonesia. Kompetensi pendedahan Bahasa Indonesia dikutip sekaligus dari kurikulum yang kemudian dijabarkan ke dalam penunjuk-parameter. Demikian pula halnya dengan aspek-aspek pengajian pengkajian Bahasa Indonesia, dikutip langsung dari kurikulum. Privat pelaksanaannya aspek-aspek pendedahan ini disajikan secara terpadu. Suku cadang-onderdil penelaahan Bahasa Indonesia memiliki ciri khas pada penggunaan pendekatan, metode/ teknik pembelajaran. Demikian pula halnya dengan evaluasi maupun pelaksanaan penilaian nan lebih menonjolkan pada keterampilan berbahasa dibandingkan dengan pengetahuan akan halnya bahasa. Pendirian-prinsip pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki banyak kemiripan dengan prinsip-prinsip pembelajaran pada umumnya, hanya manah kepada pelajar memiliki ponten kian terutama pada saat kursus menggunakan bahasa intern berkomunikasi atau berajar


      Kegiatan Belajar 2:


Analisis Kegiatan Pembelajaran

Analisis terhadap kegiatan penerimaan meliputi tiga kegiatan yang disusun di dalam desain pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan tersebut adalah kegiatan awal ataupun kegiatan menyingkapkan pembelajaran, kegiatan inti atau kegiatan melaksanakan pengajian pengkajian, dan kegiatan akhir atau kegiatan menutup pembelajaran. Ketiga kegiatan tersebut punya jalinan yang erat yang suatu dengan lainnya enggak dapat dipisahkan. Artinya antara kegiatan melaksanakan pengajian pengkajian yaitu lanjutan berusul kegiatan menyingkapkan pembelajaran sehingga persaudaraan keduanya bukan boleh terputus, demikian juga dengan kegiatan menutup pembelajaran tidak boleh lepas dari kegiatan inti pembelajaran.
Kegiatan pendedahan dilaksanakan dengan tujuan mencapai kompetensi yang diharapkan. Hal ini mempersyaratkan adanya kaitan atau relevansi antara kompetensi, proses pembelajaran, dan evaluasi. Dengan demikian n domestik kegiatan analisis hal utama yang harus diperhatikan yakni relevansi antarkomponen tersebut (kompetensi, kegiatan pembelajaran dan evaluasi).
Pembaruan pembelajaran bahasa Indonesia menuntut digunakannya pendekatan komunikatif, integratif, dan CBSA. Onderdil ini juga harus menjadi perhatian di dalam melakukan kajian desain penataran. Keseleo satunya adalah dalam susunan kegiatan inti pendedahan. Siswa adalah subjek di dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, sebaiknya pengalaman belajar betul-betul menjadi miliki siswa, sehingga kalimat-kalimat yang disusun di dalam kegiatan tersebut membagi penekanan pada siswa, lain sreg guru.
Evaluasi merupakan penggalan terstruktur di internal desain pembelajaran Bahasa Indonesia. Untuk melihat terserah tidaknya integrasi tersebut, sebaiknya alat atau instrumen evaluasi disertakan di dalam desain penerimaan, yaitu pada kegiatan menutup pembelajaran. setelah evaluasi dilaksanakan dan diperoleh hasil alias diketahui pencapaian kompetensi nan diperoleh siswa, hawa memasrahkan umpan putar agar pesuluh memafhumi kekurangannya sehingga boleh memperbaiki kesuntukan tersebut. Setelah umpan putar diberikan, guru juga perlu melakukan stabilitas atas pesiaran yang disampaikannya moga siswa tidak melupakan apa-apa yang telah diperolehnya.
Pengukuhan maupun sanjungan sangat diperlukan oleh setiap manusia untuk meningkatkan prestasinya. Oleh sebab, kegiatan ini perlu dilakukan guru agar para peserta selalu bersemangat di kerumahtanggaan menjalani pengalaman membiasakan bahasa Indonesia setiap saat.

Daftar pustaka


Depdiknas. (2004). Kurikulum 2004 Sekolah Sedang Atas. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2004). Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Depdiknas.

Masitoh. (2004). Perencanaan Pembelajaran privat Strategi Pembelajaran TK (Modul). Jakarta: Universitas Terbuka.

Solchan, T. W., A. Rofiuddin., Budiasih. (1997/1998). Keterampilan Dasar Mengajar Bahasa Indonesia dalam Interaksi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia (Modul). Jakarta: Jamiah Mendelongop.

Wardani, I. G. A. K.. (2002). Pendekatan Sistem dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia n domestik Sistem Pembelajaran Bahasa Indonesia (Modul). Jakarta: Perhimpunan Terbuka.

Source: https://saminigunungkidul.blogspot.com/

Posted by: skycrepers.com