Permasalahan Pembelajaran Bahasa Inggris Di Sd



Dra. Rina Listia, MPd



Sirajuddin kamal, SS.,M.Ed.



Abstract



The Indonesian government has acknowledged the importance of English by putting it into the education system for five decades. English has been integrated to secondary school for a long time. The English language is exerting even stronger influence in the modern world and has become an international language. There are also advantages of introducing a foreign language for young learners. The government of Indonesia has therefore set up the policy to introduce English language in primary schools. This policy is optional. It depends on school and community demands. The government does not provide teachers and curriculum. Schools and community are in charge to provide teachers, curriculum and facilities. Teachers are one of the most important parts in the discourse of education and the process of teaching and learning in schools. It was this that interested to research their perceptions of English language teaching for primary students


Keywords: English for young learners, teachers’ perception, teaching constrainst




Pendahuluan

Pengajaran bahasa Inggris di Indonesia sudah dimulai puas ketika setelah masa Kebebasan Indonesia. Berbagai kurikulum dan metode telah dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan peserta intern mengatasi bahasa Inggris. Biarpun demikian kesannya masih belum dirasakan maksimal n domestik membuat petatar boleh berkomunikasi dengan baik melalui bahasa tersebut. Heterogen keburukan dan faktor nan melatar belakangi mengapa hasil yang dicapai belum sesuai yang diharapkan.



Riuk satu prinsip pemerintah internal meningkatkan kemampuan pelajar dalam berbahasa Inggris yaitu memperkenalkan bahasa Inggris kian dini, yaitu dimulai berpunca Sekolah dasar. Program ini dilaksanakan berdasarkan pada kurikulum 1994 buat Sekolah Dasar. Secara resmi garis haluan tentang menjaringkan tuntunan bahasa Inggris di sekolah dasar sesuai dengan kebijakan Depdikbud RI No. 0487/1992, Gapura VIII, yang menyatakan bahwa sekolah asal boleh menambah mata pelajaran n domestik kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan kebangsaan. Kemudian, politik ini disusul oleh SK Menteri Pendidikan dan Peradaban No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya programa bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal SD, dan bisa dimulai plong kelas 4 SD (Http:www.depdiknas.go.id/selayangpandangpenyelenggaraanpendidikannasional.) Sekolah mempunyai kewenangan mengenai mata pelajaran bahasa Inggris dimasukkan sebagai pelecok suatu bahara lokal yang diajarkan di sekolah dasar berlandaskan pertimbangan dan kebutuhan situasi dan kondisi baik berusul manusia tua atau lingkungan masyarakat itu koteng. Kebijakan ini membawa dampak yang positif baik bagi awam maupun sekolah yang menyelenggarakan program tersebut. Selama kurun waktu beberapa tahun ini, adanya kecendrungan nan meningkat sekolah melaksanakan program pengajaran bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar.

Intern perkembangannya program ini menghadapi problem – ki aib baik dari sekolah maupun bersumber guru. Pelecok satu kendala yang dihadapi adalah tidak tersedianya sillabus singularis mata pelajaran bahasa Inggris. Walaupun umpama alat penglihatan pelajaran muatan lokal akan doang bahasa Inggris haruslah tetap mempunyai sillabus solo. Pemerintah intern hal ini kementrian pendidikan kebangsaan bidang dasar dan menengah tidak menyediakan sillabus mata pelajaran bahasa Inggris. Tugas tersebut diserahkan sepenuhnya kepada masing – masing daerah propinsi bakal membuat sillabus partikular sesuai dengan keadaan dan kondisi di daerah tersebut.

Kelainan yang lain ialah metode dan strategi pengajaran maka itu master yang lain sesuai dengan urut-urutan siswa.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami akan mengaram selain obstruksi yang dihadapi diatas, masalah – masalah apa lagi yang muncul dihadapi oleh guru selama proses indoktrinasi bahasa Inggris di sekolah dasar dan bagaimana mereka melaksanakan pencekokan pendoktrinan bahasa Inggris di sekolah dasar

Metode

Pengkajian ini menggunakan metode kualitatif dengan menguraikan pendapat guru mengenai ki aib yang mereka hadapi kerumahtanggaan pengajaran bahasa Inggris di sekolah bawah. Hasil data yang diperoleh akan diuraikan secara naratif atau deskriptif bagaikan salah satu faktor yang menonjol dari penelitian yang menggunakan metode kualitatif.


Pembahasan


Materi Pengajaran

Hasil data yang diperoleh semenjak responden menunjukkan suatu kesimpulan bahwa materi pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar haruslah berperangai gembira dan interaktif. Oleh sebab itu materi dan metode nan diberikan harus sesuai dengan perkembangan siswa. Para master mengatakan bahwa mereka bisa menunggangi lagu, teka teki, permainan dan gambar yang menyedot selama proses belajar mengajar tersebut. Dunn (1983) mengatakan bahwa pembelajar muda sangat mudah meningkatkan kemampuan berbudi mereka melalui permainan yang tepat bakal usia mereka. Akan cuma tidak semua permainan untuk pesuluh muda sekata kerjakan mereka. Oleh karena itu tugas dan kewajiban guru untuk dapat menyeleksi permainan yang cocok bikin mereka sesuai dengan tingkat kognitif, jasmani, dan emosional anak asuh. Hasil data juga menunjukkan bahwa para guru berketentuan bahwa buku tutorial siswa seharusnya penuh warna moga menjadi menarik perhatian dan motivasi pelajar itu sendiri. Greene dan Petty (1967) sangat mendukung pendapat ini. Mereka mengatakan bahwa gambar nan berwarna dan interaktif membuat siswa menjadi terpikat dan penasaran sehingga menaik motivasi mereka buat mempelajari bahan selanjutnya. Ditambahkan pula bahwa siswa akan lebih mudah lakukan mengingat kosa kata ketika mereka melihat sesuatu yang menarik. Menurut pendapat Frost (1967) bahwa mental pembelajar muda akan sangat terpaut saat mengaram

objek nan sebenarnya. Objek itupun akan adv amat membantu cak bagi mengembangkan imajinasi mereka.

Momen para responden ditanyakan apakah sepanjang proses pembelajaran di kelas bawah mereka menekankan pada pendekatan keahlian bahasa yang terpadu atau saja menekankan pada satu atau beberapa aspek tertentu saja. Hasil data nan diperoleh menunjukkan bahwa mereka sendiri mempunyai pendapat yang berbeda. Saya pikir perbedaan mereka ini dikarenakan keterbatasan incaran pengajaran dan metode dari responden.

Pada umumnya master berpendapat bahwa penekanan target pengajaran haruslah dibatasi hanya bikin aspek tertentu. Hal ini disebabkan waktu yang disediakan silam terbatas dan besaran pelajar habis banyak. Akan tetapi menurut peneliti sendiri dengan menekankan kemampuan pelajar pada aspek tertentu maka hasil yang akan diperolh tidaklah maksimal. Sebagaimana nan dikemukakan oleh Green dan Pretty (1967) bahwa tujuan pembelajaran bahasa haruslah menekankan puas seluruh kemampuan bahasa tersebut. Penerimaan batik, mengaji, berbicara, dan menyimak haruslah
diajarkan secara terpadu.


Tujuan Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa para responden menyatakan bahwa prolog bahasa Inggris di sekolah radiks sangat terdepan. Ada sejumlah alasan yang melatar belakangi programa ini harus terus dilanjutkan. Alasan yang pertama ialah bahasa Inggris adalah satu bahasa nan sangat utama kerumahtanggaan dunia internasional khususnya di era globalisasi sekarang ini. Bahasa Inggris dipergunakan sebagai media komunikasi dengan individu bukan dari berbagai negara. Menurut pendapat Crystal (2003) bahwa bahasa Inggris tersebar dan dipergunakan intim seperempat penduduk dunia dan terus akan berkembang menjadi satu segumpal trilyun pada awal perian 2000 an ini. Alasan kedua ialah dengan menguasai bahasa Inggris maka makhluk akan dengan mudah masuk dan boleh mengakses dunia pengetahuan dan teknologi. Dengan pengenalan bahasa Inggris di sekolah dasar maka siswa akan mengenal dan mengetahui bahasa tersebut kian awal. Maka itu karena itu mereka akan mempunyai mualamat dasar yang lebih baik sebelum melanjutkan ke tingkat pendidikan yang bertambah tinggi.

Menurut pedoman garis osean pendidikan dasar di Indonesia, maksud pendidikan sumber akar di Indonesia ialah mempersiapkan lebih awal siswa pengetahuan dasar sebelum melangkah ke janjang pendidikan yang lebih strata. (Website Kementerian Pendidikan Kewarganegaraan, 2004). Alasan yang bungsu adalah untuk orang tua dan guru bisa memasrahkan bekal untuk murid bahwa dengan membereskan bahasa Inggris maka bisa memberikan kesempatan yang lebih terbuka untuk mengembangkan diri kemustajaban memperoleh kesempatan yang kian baik menghadapi persaingan pelan kerja dan karir di masa yang akan datang. Maka itu karena mngutip pendapat Pennycook (1995:40) bahwa bahasa Inggris telah menjadi suatu alat yang sangat menentukan bagi kelanjutan pendidikan, pekerjaan serta harga diri sosial masyarakat.

Akhirnya inferensi utama alasan pengajaran bahasa Inggris diadakan di sekolah pangkal yakni kerjakan memberikan mualamat penguasaan kosa pembukaan yang banyak sehingga apabila siswa melanjutkan tataran pendidikannya ke tingkat nan lebih tinggi mereka tidak akan mengalami kesulitan . maka itu krena itu fokus terdahulu intern pengajaran bahasa Inggris ini menurut responden merupakan penguasaan kosa kata. Dengan mengatasi kosa introduksi nan banyak maka para siswa dapat dengan mudah menguasai kelincahan bahasa nan bukan.


Keburukan – Masalah Yang dihadapi Temperatur dan Bagaimana Mereka Mengatasinya.




Keahlian Profesi

Dari data yang diperoleh para temperatur menyatakan rasa berkepastian dirinya bahwa mereka layak dan mempunyai keahlian profesi cak bagi mengajarkan bahasa Inggris di sekolah dasar. Pada umumnya responden telah punya kualifikasi pendidikan bahasa Inggris dan melalui pelatihan serta kursus bahasa Inggris. Peristiwa ini penting dan sesuai yang dikemukakan oleh Brook (1967) bahwa seorang master bahasa Inggris di sekolah dasar haruslah n kepunyaan keahlian
dalam bahasa Inggris maupun telah mengikuti pelatihan untuk mengajar pelajar di sekolah dasar. Walaupun demikian saya sendiri berpendapat bahwa mereka masih harus meningkatkan kemampuannya khususnya n domestik hal memahami kebiasaan anak privat berlatih bahasa asing. Oleh karena itu pelatihan alias sanggar kegiatan masih sangatlah mereka butuhkan. Di sebelah yang lain perhatian pemerintah, sekolah dan masyarakat haruslah ditingkatkan khususnya mengenai status hawa honor sehingga acara ini boleh berlangsung dengan baik.



Pelaksanaan Pengajaran di Ruang Kelas

Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa para responden biasanya mempunyai kelainan adapun pelaksanaan pengajaran di papan bawah. Mereka semua memimpikan terjadi suasana nan menghilangkan selama mereka mengajar. Apa nan terjadi jauh dari maksud mereka. Internal pengajaran bahasa kuantitas pesuluh seharusnya dibatasi. Akan namun kenyataannya bahwa di kerumahtanggaan inferior terletak 40 orang maupun makin siswa sehingga tidak menciptakan suasana yang hipotetis. Cuma demikian keadaan tersebut senearnya bisa diatasi dengan membagi siswa menjadi bebarapa kelompok maupun menjatah mereka dengan kerja berpasangan. Johnson (1994:185) mengatakan bahwa ada tiga kekuatan membagi siswa menjadi perkelompok:

  1. Menciptakan suasana interaksi antara siswa dengan siswa
  2. Merubah budaya murid mulai sejak kerja cucu adam menjadi kerja dalam suatu kelompok.
  3. Membentuk suasana yang lebih variatif sehingga membuat siswa bisa menunjukkan kemampuannya secara maksimal.

Ahli lain, Dunn (1983), berpendapat bahwa dalam satu kelas sebaiknya dihuni antara 12 sampai 20 siswa. Bagi petatar sekolah dasar rata-rata memerlukan pikiran yang kian. Siswanya mengharapkan seyogiannya mereka boleh lebih diperhatikan secara orang menghafal sukma mereka nan masih muda.kesiapan buku pelajaran bagi suhu dan siswa juga merupakan faktor penunjang kesuksesan program ini. Data nan diperoleh menunjukkan bahwa semua guru mengaryakan buku pelajaran sebagai penuntun mereka dalam memberikan materi pengajaran. Tetapi beberapa temperatur mengalami masalah karena sedikit tersedianya muslihat latihan cak bagi mereka. Tidak semua pelajar mempunyai buku pelajaran sehingga meeka harus berbagi dengan murid lain. Berusul hasil observasi di sekolah lain ditemukan bahwa ketersediaan sentral cak bimbingan sahaja terletak di sekolah swasta yang kualitasnya lewat bagus. Kebobrokan tersebut di atas juga ditambah dengan master tidak punya pedoman sosi mana nan layak serta memenuhi tolok cak bagi dipergunakan sebagai materi penelaahan di kelas.

Ketidaktersediaan buku pelajaran di sekolah boleh mencegat maupun mengedrop motivasi pelajar dan guru. Slah suatu cara mengurangi masalah tersebut merupakan dengan memberikan materi yang sangat mereka kenali sebelumnya. Sebagai contoh bahan tutorial yang berkaitan dengan kegiatan mereka sehari – tahun, tanggal, biji zakar – buahan, binatang dan benda – benda nan ada di rumah serta sekolah. Salah satu situasi yang mendukung merupakan Ratte (1967:279) yang mengatakan pembelajaran bahasa luar akan lalu berguna apabila bulan-bulanan pencekokan pendoktrinan berkaitan dengan hal – hal kegiatan sehari – tahun, atau nmenggunakan sarana yang sememangnya sehingga meningkatkan rasa ingin senggang siswa serta motivasi belajarnya. Pendapat lain dari Hamalainen (1967) yang mengatakan bahwa prinsip untuk meninkatkan ki dorongan siswa privat berlatih ialah dengan menggunakan kendaraan pengajaran nan tepat misalnya film, usaha tubuh, globe, gambar tape recorder.

Hal lain nan utama diperhatikan ialah keburukan penempatan meja dan kursi di kelas. Pada kelas bawah tradisional pesuluh umumnya duduku di bangku yang berbanjar dan guru menerangkan les di depan kelas. Internal situasi seperti ini hasil nan diharapkan tak maksimal. Oleh karena itu sekolah dan masyarakat saling membantu bagi menyediakan fasilitas kelas yang baik sehingga kegiatan siswa di kelas boleh berlangsung lancar. Dunn (1983) mengatakan penempatan bidang datar dan kursi di kelas harus boleh di atur sedenikian rupa sehingga interaksi siswa dengan guru dan murid dengan siswa dapat berlansung dengan baik.


Partisipasi Sekolah dan Awam

Berusul hasil data yang didapat umumnya responden menyatakan ketidakpuasannya berkaitan dengan kolaborasi sekolah dan masyarakat. Guru rata-rata menyatakan sekolah seharusnya bertanggungjawab pada pelepasan peralatan dan sarana pencekokan pendoktrinan di sekolah. Selain itu sekali lagi ketidakjelasan harga diri guru tersebut di sekolah. Lazimnya responden berstatus guru lain teguh atau guru honor. Sehingga kesejahteraannya agak terbaikan. Mereka harus mengerjakan pegangan lainnya selain mengajar. Berasal pihak guru sendiri mereka boleh berhenti mengajar apaila ada usulan yang kian menjanjikan berbunga pihak lain. Apabila terjadi hal demikian maka kontinuitas acara ini akan menjadi keunggulan tanya.

Kelainan lainnya merupakan kekurangan media pengajaran. Para guru harus mempersiapkan wahana pengajarannya yang secara lain refleks membukit pengeluaran mereka sendiri. Biarpun demikian guru tersebut sangat suka mengajar siswanya. Kewajiban sekolah sebenarnya nan boleh meluangkan suasana pengajaran yang model. Kekurangan lainnya adalah tidak adanya kemudahan makmal bahasa dan perpustakaan nan memenuhi patokan di sekolah.


KESIMPULAN DAN SARAN


Inferensi

Dari data yang diperoleh dan telah dibahas puas penggalan sebelumnya maka dapat didapat empat kesimpulan utama: Mula-mula, para guru yakin bahwa dengan menerimakan materi pengajaran yang baik bisa meningkatkan hasil nan positif terhadap peserta. Mereka berpendapat bahwa siswa akan lebih doyan belajar dan termotivasi apabila materi nan diajarkan mengenai keadaan sehari – periode mereka, musim, masa, benda – benda yang ada di sekolah dan di flat. Apalagi materi tersebut membuat mereka gembiradan interaktif. Hal tersebut didapatkan apabila materinya melalui lagu, teka – teki, permaianan kisahan dan gambar. Kedua, acara pelaksanaan pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar sangat baik sekali sebagai tahap kata bahasa asing sebelum mereka menyinambungkan pendidikan yang lebih tataran. Konklusi yang ketiga ialah akan halnya profesi kependidikan master, para responden menyatakan kelayakan dalam mengajarkan bahasa Inggris di sekolah asal. Namun demikian karena hanya lima responded yang bisa diwawancarai maka peneliti tida dapat memasrahkan rampatan mengenai situasi tersebut. Problem yang lebih banyak terwalak lega bagian pelaksanaan proses belajar mengajar di papan bawah. Suka-suka dua alasan utama penyebab terjadinya penyakit tersebut. Yang pertama ialah kelemahan guru dalam situasi menangani keburukan siswa di inferior. Yang kedua adalah ketersediaan sarana yang tekor dari pihak sekolah. Maka dari itu karena itu guru merasa bahwa keterlibatan pihak sekolah dan masyarakat belum banyak membantu pelaksanaan program ini. Sehingga para guru sangat mengharapkan keterlibatan pihak sekolah dan masyarakat khususnya individu tua bangka internal menyukseskan acara pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar menerobos penyediaan sarana dan fasilitas nan cukup untuk guru dalam mengajarkan mata tuntunan tersebut.

Saran – Saran

Biarpun sepanjang pelaksanaan program ini banyak mengalami obstruksi akan tetapi

masih dipercaya bahwa programa pengajaran bahasa Inggris lakukan petatar di sekolah dasar akan tetap dilanjutkan apabila beberapa hal bisa diperbaiki maupun ditingkatkan. Hal yang pertama yang harus dilakukan ialah meningkatkan pengetahuan dan kepiawaian hawa kerumahtanggaan kejadian menindak kelas dan siswa karena siswanya masih sangat akil balig makanya karena itu mereka harus diperlakukan sebagaimana mestinya walaupun sebagian besar mereka sudah punya kualifikasi yang baik. Selain itu para guru sekali lagi kerumahtanggaan proses belajar mengajarnya harus lebih banyak menggunakan media penelaahan nan tepat bagi siswa sekolah radiks. Oleh karena itu sangat diharapkan partisispasi yang makin banyak dari pihak sekolah dan masyarakat khususnya para orang tua bakal menyediakan sarana pengajaran serta kendaraan penunjang pembelajaran bahasa asing di sekolah. Yang buncit ialah perlu kiranya penelitian ini dilanjutkan ke skala yang lebih luas sehingga kita semua memperoleh paparan yang sebenarnya pencekokan pendoktrinan bahasa Inggris di sekolah radiks khususnya di kewedanan Kalimantan Selatan.

DAFTAR PUSTAKA

Andersson, Theodore. (1967), “The Optimum Age of Beginning the Study of Maju Languages”. In Levenson, S and Kendrick, W (Eds),
Readings in Foreign Languages for the Elementary School,
Blaisdell Publishing Company, the United States of America.

Andersson, Theodore. (1969),
Foreign Languages in the Elementary School; a Struggle Against Mediocrity,
University of Texas Press, San Antonio.

Berg, Bruce Lawrence. (1998),
Qualitative Research Methods for the Social Sciences,
Allyn and Bacon, Boston.

Brooks, Nelson. (1967), “The Meaning of FLES”. In Levenson, S and Kendrick, W (Eds),
Readings in Foreign Languages for the Elementary School,
Blaisdell Publishing Company, the United States of America.

Bryman, Alan. (2001),
Social Research Methods,
Oxford University Press, New York.

Clyne Michael … [et al.]. (1995),
Developing Second Language from Primary School : Models and Outcomes,
National Languages and Literacy Institute of Australia, Deakin

Crystal, David. (1997),
English as a Mendunia Language,
Cambridge University Press, New York.

Cummins, Jim. (1994), “Knowledge, Power, and Identity in Teaching English as a Second Language”. In Genesse Fred (Eds),
Educating Second Language Children: the Whole Child, the Whole Curriculum, the Whole Community,
Cambridge University Press, the United States of America.

Dardjowidjojo, Soenjono. (2002), “Academic and Non-academic Constraints in the Teaching of English in Indonesia”. In Syahid, A., Al-Jauhari, A. (Eds),
Bahasa, Pendidikan, dan Agama, Logos Pustaka Ilmu, Jakarta.

Denzin, Norman K, Lincoln, and Yvonna S. (Eds). (2000),
Handbook of Qualitative Research, (2nd
ed), Sage Publication, California.

Depdiknas, Http:www.depdiknas.go.id/selayangpandangpenyelenggaraanpendidikannasional. “Assessed 3 March 2004”.

Dunn, Opal. (1983),
Beginning English With Young Children,
the Macmillan Press Limited, London.

Dunn, Opal. (1984),
Developing English With Young Learners,
the Macmillan Press Limited, London.

Emmitt, Marie and Pollock, John. (1997),
Language and Learning: an Introduction for Teaching, (2nd
edn), Oxford University Press, Australia.

Jazadi, Iwan. (2004), “ELT in Indonesia in the Context of English as a Menyeluruh Language”. In Cahyono, Y. B and Widiati, Utami (Eds),
The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indonesia, State University of Malang Press, Indonesia.

Kamal, Sirajuddin. (2004),
English Language Teaching in Primary Schools in Indonesia, Unpublished Master’s Thesis, Monash University, Melbourne.

Lancy, David F. (1993). Qualitative Research in Education: an Introduction to the Major Traditions, Longman, New York.

Luciana. (2004), “Teaching and Assessing Young Learners’ English: Bridging the Gap”. In Cahyono, Y. B and Widiati, Utami (Eds),
The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indonesia, State University of Malang Press, Indonesia.

Mantiri, Oktavian. (2004), “Problematic Issues of ELT in Indonesia”. In Cahyono, Y. B and Widiati, Utami (Eds),
The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indonesia, State University of Malang Press, Indonesia.

Maykut, P and Morehouse, R. (1994),
Beginning Qualitative Research: A Philosophic and Practical Guide, Falmer Press, London.

Merriam, Sharan B. (1998),
Qualitative Research and Case Study Applications in Education, Jossey-Bass, San Francisco.

Pennycook, A. 1995, “English in the World/The World in English”. In J. Tollefson (Ed),
Power and Inequality in Language Education,
Cambridge University Press, Cambridge.

Priyono. (2004), “Logical Problems of Teaching English as a Foreign Language in Indonesia”. In Cahyono, Y. B and Widiati, Utami (Eds),
The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indonesia, State University of Malang Press, Indonesia.

Ratte, H. Elizabeth. (1967), “Foreign Language in the Elementary School”. In Harding, W. Lowry (ed),
Guiding Children’s Language Learning, Wm. C. Brown Company, Iowa.

Tough, Joan. (1985),
Talk Two: Children Using English as a Second Language in Primary Schools, Onyx Press, London.

Source: https://pbingfkipunlam.wordpress.com/2008/10/21/kendala-pengajaran-bahasa-inggris-di-sekolah-dasar/

Posted by: skycrepers.com